Work Text:
Ketukan high heels penuh amarah menggema di koridor. Para siswa yang sedang menikmati waktu istirahat mereka buru-buru menyingkir untuk memberi jalan kepada Kadenokouji-sensei, kecuali dua orang siswa yang saling menarik kerah baju satu sama lain sambil meneriakkan kata-kata kasar di salah satu meja kantin.
"ICHIRO YAMADA! SAMATOKI AOHITSUGI!"
Kedua siswa yang namanya diteriakkan lantas menghentikan perkelahian mereka sementara siswa lain yang menonton perkelahian mereka sebagai hiburan istirahat makan siang menghilangkan diri dengan cepat dari pandangan Kadenokouji-sensei, takut ikut terseret masalah yang akan datang tak lama lagi.
Kadenokouji-sensei berdiri tepat di hadapan mereka. Dia benar-benar marah. Seisi kantin menahan napas, mengantisipasi apa yang akan dilakukan beliau selanjutnya.
"Saya sudah muak mendengar laporan tentang kalian berdua selama ini. Dilarang berkelahi di lingkungan sekolah! Sesulit itukah bagi otak kosong kalian untuk memahaminya?"
Ichiro dan Samatoki hanya mengalihkan pandangannya. Mereka sama sekali tidak terintimidasi dengan amarah wanita itu, namun mereka tahu tidak ada gunanya membantah omongan guru paling galak di sekolah ini. Diam-diam keduanya mengirimkan tatapan menantang kepada satu sama lain. Pesannya jelas : urusan kita belum selesai.
Kadenokouji-sensei sepertinya tidak menyadarinya.
"Ikut saya. Akan saya berikan hukuman yang pantas untuk kalian."
Kedua anak itu mengekor di belakang Kadenokouji-sensei meninggalkan kantin. Suasana kantin kembali seperti semula setelah mereka pergi, tentu dengan ketiga orang tersebut sebagai topik hangat yang dibicarakan di satu meja dan meja lainnya.
Untuk seorang Kadenokouji-sensei, hukuman yang dia berikan ternyata tidak seburuk itu. Terima kasih kepada Amayado-sensei yang mengganggu sesi omelan Kadenokouji-sensei hingga Samatoki tak perlu berlama-lama membiarkan wanita itu puas menumpahkan amarahnya pada mereka.
Dengan alat bersih-bersih seadanya yang ia minta dari tukang kebun sekolah, Samatoki berdiri di depan ruangan kecil yang terpisah dari gedung utama. Hukumannya adalah membersihkan ruangan ini, gudang olahraga lama yang sudah tidak digunakan lagi. Dilihat dari luar, gudang ini hanya seluas setengah dari ruang kelas biasa. Isinya pun hanya peralatan olahraga tua yang sudah tidak pernah digunakan lagi karena sekolah sudah memiliki alat-alat olahraga baru. Padahal seharusnya benda-benda itu langsung dibuang saja.
Bukan hukuman yang sulit, juga jauh lebih baik daripada hukuman Ichiro yang kedapatan membersihkan toilet lantai 2 sekolah yang paling sering digunakan semua orang.
"Cepat selesaikan ini lalu pulang." gumamnya pada diri sendiri. Tanpa berlama-lama lagi, Samatoki segera membuka pintu gudang itu untuk segera berlindung dari sengatan matahari sore yang masih menggigit.
Hawa dingin dan alat-alat olahraga tua penuh debu menyambut kedatangan Samatoki. Pemuda berambut putih itu segera mengenakan masker. Tempat ini agak gelap. Samatoki menekan tombol lampu beberapa kali tanpa hasil, lalu merutuk pelan saat menyadari bahwa tidak ada lampu yang terpasang di gudang ini.
“Samatoki?”
Jantung Samatoki hampir melompat keluar dari dadanya saat suara yang akrab di telinga itu memanggil namanya. Beberapa saat kemudian, sosok tinggi berambut jingga pemilik suara itu menghampiri Samatoki, “Jyuto bilang kamu dihukum, ya?”
Namanya Riou, pacar Samatoki. Baru jadian seminggu yang lalu (ceritanya panjang, melibatkan adu jotos dan teriakan kata kasar di rumah Samatoki), dan Samatoki masih belum terbiasa dengan perhatian yang hanya untuknya ini.
“Lihat sendiri, ‘kan? Gara-gara Ichiro bangsat cari masalah malah aku yang kena hukum.” Samatoki mendengkus kesal. Ia menemukan sapu di pojok ruangan lalu mulai memukul-mukul vaulting box terdekat dengan sapu itu untuk menghalau debu.
“Biar saya bantu. Lebih cepat selesai lebih baik.” Riou menawarkan diri, menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu mengambil kanebo dari bawaan Samatoki.
“Bukannya kamu ada latihan basket?” tanya Samatoki setelah terpesona sepersekian detik pada pemandangan Riou yang menggulung lengan baju.
“Hari ini libur.”
“Bukannya kamu bilang ekskul baket libur tiap hari Se-”
“Saya mau menemani Samatoki dihukum.”
“Oi!”
Riou mengabaikan protes Samatoki dengan sibuk mengelap bola voli kempes yang berceceran di lantai. Samatoki menghela napas.
"Ya sudah, kamu bersihkan yang sebelah sana. Aku bersihkan sebelah sini," Samatoki melempar selembar masker kepada lelaki itu, "biar nggak bersin-bersin."
Riou menurut, mengenakan masker itu sebelum lanjut membersihkan bola voli berikutnya. Suara barang-barang tua digeser dan gesekan sapu dengan lantai menemani keduanya untuk beberapa waktu. Riou berhenti mengelap bola sesaat untuk memerhatikan Samatoki yang mencoba membersihkan celah antara vaulting box dengan tembok.
Melihat pacarnya menjalani hukuman dengan baik, Riou tersenyum tipis. Ini bukan pertama kalinya Samatoki dihukum, tetapi ini pertama kalinya Riou menemaninya dihukum. Ia berpikir, bagaimana cara membuat momen ini terasa spesial dan dapat menghilangkan beban hukuman yang dirasakan Samatoki.
Riou sudah menyukai Samatoki sejak lama. Cinta pada pandangan pertama, kalau Riou boleh sedikit mendramatisir. Seperti cerita dari komik romansa yang terkadang diceritakan Ichiro padanya saat sedang istirahat latihan basket, Riou pertama kali bertemu Samatoki saat lelaki berambut putih itu terjun dari atas pohon dengan kucing berkalung di pelukannya. Selanjutnya yang Riou sadar, keduanya terlambat masuk sekolah dan itulah pertama kalinya Riou bolos sekolah.
Pada momen itulah Riou tahu namanya. Samatoki dari kelas 1-3, sementara Riou sendiri dari kelas 2-4. Samatoki membelikannya minuman dari vending machine sebagai permintaan maaf telah membuat Riou tidak bisa masuk sekolah. Sebagai gantinya, Riou membantu Samatoki menemukan pemilik kucing itu. Mereka berkeliling kota hingga matahari terbenam sebelum akhirnya menemukan pemiliknya, seorang pekerja kantoran yang tampak lelah. Samatoki mengomeli orang itu sampai dia membungkuk meminta maaf berkali-kali saat menerima kucingnya. Meihat bagaimana Samatoki menjaga kucing itu sepanjang perjalanan dan berkata akan merawat kucingnya jika pemiliknya tak kunjung mencarinya, Riou jadi tahu bahwa Samatoki sebernarnya sangat peduli. Tetapi melihat pekerja kantoran itu hampir menangis, mau tak mau Riou harus menghentikan omelan Samatoki dan pergi dari sana.
Bukan salah Riou kalau ia ingin semakin mengenal adik kelasnya lebih dekat sejak kejadian itu.
Hari itu kali pertama dan terakhir Riou bolos sekolah dengan sengaja. Ditemani oleh seorang fallen angel , bolos sesekali terasa tidak buruk bagi Riou.
Jika Riou tahu bahwa malaikat akan jatuh tepat di depan matanya, ia akan maju lima langkah ke depan lagi agar sang malaikat bisa jatuh dalam pelukannya. Tapi tidak apa-apa, setelah satu tahun saling mengenal dan masih terus berusaha memahami satu sama lain hingga sekarang, Riou berhasil memenangkan hati malaikatnya.
Musim seminya baru saja dimulai. Riou ingin membuat memori sebanyak mungkin.
Sambil berpikir, tak terasa Riou telah membersihkan semua bola yang ada. Ia hendak bertanya kepada Samatoki apa yang bisa dia lakukan selanjutnya sebelum dikagetkan dengan suara sapu yang bergesekan dengan lantai berubah menjadi suara sapu yang dipukul-pukul ke lantai.
"Ada apa, Samatoki?" Riou mencoba menghampiri, tapi Samatoki mendesis menyuruhnya diam.
"Aku bisa, kamu diam disitu," bisiknya kencang. Ia kembali memukuli lantai. Samatoki mendecih, sepertinya apapun yang ia pukul tidak tepat sasaran. Riou yang penasaran akhirnya tetap mendekatinya.
"Kubilang diam disana!" desis Samatoki begitu menyadari Riou berjalan ke arahnya, "nanti kecoanya ter– BANGSAT ANJING GOBLOK BENERAN TERBANG!!"
Sapu terlepas dari tangan, Samatoki terlompat kaget dan refleks bersembunyi di balik punggung Riou. Seekor kecoa besar terbang melewati mereka, sekitar lima puluh sentimeter dari bahu Riou. Kedua lengan atas Riou dicengkram Samatoki erat-erat sambil melontarkan serangkaian sumpah serapah tak layak diperdengarkan pada khalayak umum.
Tunggu, jangan bilang...
"Samatoki takut kecoa?"
"Aku BENCI kecoa!"
Samatoki mempererat cengkramannya hingga Riou mulai merasa nyeri. Samatoki seakan ingin mencabut tangan Riou dari tempatnya. Riou tak bergeming sedikitpun, sibuk mencari dimana kira-kira kecoa itu mendarat.
“Itu! Itu dia!”
Samatoki memutar badan Riou kesana kemari untuk menunjukkan posisi makhluk terkutuk itu, tetapi kecoa itu tidak ada dimanapun Samatoki menunjuknya. Lengan Riou terasa hampir patah, tapi ia tak sampai hati untuk memberitahu sang pujaan hati yang sedang tersulut emosi.
Riou tidak pernah tahu kalau Samatoki benci kecoa. Memang, ia sering bertemu dengan orang-orang yang takut kecoa, tetapi alih-alih takut, Samatoki tampak sangat marah .
Menggemaskan.
“Samatoki, kelihatannya kecoanya sudah pergi sendiri.” akhirnya Riou bisa buka suara. Samatoki melepas cengkramannya dari kedua lengan Riou. Ia membuka maskernya dan menghela napas.
“Berarti bukan tidak mungkin masih ada kawanannya disini.” ujarnya, “Untung bagianku sudah selesai. Ayo pulang.”
“Oh sebentar, saya rapikan bolanya一”
Kata-kata Riou terhenti. Ia setengah berlari menghampiri Samatoki lalu memeluknya dari belakang.
Dipeluk tiba-tiba, Samatoki hampir menjatuhkan alat-alat bebersihnya.
“A-apa-apaan?” ia tergagap, sama sekali tak berontak dalam pelukannya.
“Samatoki.” Riou menghembuskan namanya tepat di telinga Samatoki.
Sang pemilik nama bergidik. Kakinya mendadak terasa lemas.
Riou kembali berbisik, “Terima kasih atas kerja kerasnya.”
Jantung Samatoki makin tak karuan detaknya.
“Satu lagi…” bisik Riou sebelum melepas pelukannya. Samatoki berbalik, tak sabar menunggu lanjutan ucapan sang pacar.
“Kecoa yang tadi ternyata hinggap di paha Samatoki, jadi saya menangkapnya.”
Dengan senyum tanpa dosa, Riou menunjukkan kecoa yang meronta-ronta ke depan mata Samatoki, “lihat, besar sekali ya.”
Momen romantis itu hilang begitu saja dengan teriakan sumpah serapah Samatoki.
“BUNUH! BUNUH MAKHLUK TERKUTUK ITU SEKARANG JUGA! DAN JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN ITU!!”
Setelah menginjak kecoa hingga mati dan mencuci tangan berkali-kali, Riou akhirnya bisa pulang bersama Samatoki.
“Urgh, bisa-bisanya kecoak sialan itu hinggap di badanku. Aku harus buang seragam ini secepatnya.” gerutu Samatoki
“Jangan, harga seragam kita mahal,” Riou tersenyum tipis, “Samatoki sebenci itu dengan kecoa, ya?”
“SANGAT.” tegasnya, “bukan hanya makhluk menjijikan itu. Aku benci semua serangga.”
Riou terkekeh. Otaknya pasti sudah tidak beres karena menganggap Samatoki, preman terkuat di wilayah ini, menggemaskan.
Tapi mau bagaimana lagi. Bagaimanapun Riou melihatnya, pujaan hatinya ini memang menggemaskan. Riou bersyukur hanya dirinya yang bisa melihat sisi lucu Samatoki seperti ini.
“Saya akan mengusir semua serangga yang mengganggumu.” ucap Riou sungguh-sungguh.
“Pft, memangnya kamu petugas pengusir serangga?” tukas Samatoki.
“Untuk Samatoki, saya bersedia menjadi pengusir serangga.”
“Wow, kukira kamu bisa gombal yang lebih bagus lagi.”
“ If I did, I’m afraid I’ll end up make you want more of me.”
“Hah?”
“Omong-omong, apa Samatoki lapar? Sebagai permintaan maaf karena sudah mengagetkanmu dengan kecoa, saya akan buatkan daging beruang asam manis yang saya buru akhir pekan lalu.”
“Oi, tadi apa maksud– daging beruang?”
“Rasanya enak, lho. Ayo, ke rumah saya.”
“Riou, aku janji makan malam dengan Nemu–”
“Tidak mau, ya?”
Aah, ini dia puppy eyes yang tidak bisa Samatoki lawan dalam keadaan apapun.
“... oke, aku makan di rumahmu.”
Riou tersenyum lebar. Tangan Samatoki digandeng erat. Samatoki mengalihkan pandangannya dari senyum menyilaukan itu. Terlepas dari segala tingkah ajaib dan masakannya yang tak kalah ajaib, Samatoki tak ingin melepas Riou darinya.
Keduanya tidak sabar untuk mengetahui lebih banyak hal tentang satu sama lain.
