Actions

Work Header

The Scarred Prince

Summary:

Gojo tidak mau menakuti anaknya dengan bekas-bekas luka yang dia dapat dari pertarungannya di Shinjuku

Notes:

Kurang tau apakah genre hurt/comfort dan angst bisa ada dlm satu cerita, jd aku tambahin saja dua2nya di tags

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sepasang mata biru langit itu menelusuri sekitar saat si empunya berjalan pulang ke rumahnya. Perumahan itu sepi. Hanya suara jangkrik yang mengisi keheningan. Suasananya gelap, hanya diterangi lampu jalan yang jumlahnya tidak sampai sepuluh.

Wajar saja kalau perumahan itu terlihat seperti kota mati, karena hari sudah mencapai malamnya dan sudah sangat larut. Bahkan salah satu toko di sana yang terkenal buka sampai larut malam sudah menutup pintunya.

Gojo sampai di rumahnya setelah beberapa menit berjalan kaki. Dia berdiri di depan pintu lalu menurunkan gagangnya perlahan. Dia terkejut mendapati pintu itu tidak terkunci. Perasaannya jadi tidak enak dan hatinya mulai berprasangka buruk. Timbul curiga kalau jauh sebelum kedatangannya, ada penyusup yang masuk ke rumahnya.

Namun, Gojo menyangkal dugaan itu cepat-cepat. Dia tidak mau merepotkan diri dengan masalah baru sekarang. Saat ini, fisiknya terlalu lelah untuk bahkan mencengkeram leher seseorang. Dia tidak mau kalau sekiranya dugaannya benar, dia harus berhadapan dengan penyusup ataupun pelaku kejahatan lain malam ini. Jadi, Gojo jernihkan pikirannya, berpikir positif. Bisa jadi, alasan pintu rumahnya tidak terkunci adalah karena seseorang ingin menyambut kepulangannya.

Orang itu adalah anak gadisnya. Anak satu-satunya.

Gojo masuk ke dalam rumah, berjalan pelan-pelan agar langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Matanya menelusuri sekitar. Rumah itu sepi dan gelap, sama seperti suasana di luar. Biasanya rumah itu ramai dengan suara tawa dan celoteh anaknya, tapi kali ini suara-suara itu tidak terdengar. Matanya lalu menangkap jam dinding yang tergantung beberapa jengkal dari kepalanya. Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam.

Anaknya kemungkinan besar sudah tidur.

Gojo berhati-hati menaiki tangga yang menjadi jalan menuju kamarnya di lantai dua. Pandangannya fokus mengawasi pintu kamar sampai langkah kakinya berhenti pada tujuan. Dia sampai di depan kamarnya tanpa membuat pintu itu terbuka karena kedatangannya.

Gojo masuk ke kamar perlahan, lalu bersandar di pintu. Matanya tertuju ke kasur dan mendapati anak gadisnya tertidur nyenyak di balik selimut. Benarlah dugaannya tadi kalau anaknya sudah tidur. Sekarang sudah jam 12 malam. Anaknya memang biasa tidur di waktu segitu. Dia mengelus dada, menghela napas lega karena berhasil masuk rumah tanpa membangunkan anaknya.

Gojo kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menghadap cermin, membuka celana putih dan kaos hitamnya, menyisakan dirinya bertelanjang dada. Dia tertegun melihat refleksi dirinya di cermin oval besar di depannya. Tangannya lalu dia angkat untuk mengelus permukaan kulit badannya.

Bekas-bekas luka itu terasa kasar.

Beberapa jam lalu di Shinjuku, Gojo bertarung melawan entitas kuat yang tahun ini bangkit setelah 1000 tahun terlelap dalam mumifikasinya. Dia adalah Ryomen Sukuna, makhluk yang dijuluki oleh manusia zaman dulu sebagai Raja Kutukan. Julukan itu tidak diberikan secara semerta-merta, karena bahkan dia dengan teknik kutukannya yang diklaim sebagai teknik terkuat di era modern pun kesulitan mengimbangi makhluk tersebut. Kekuatannya yang dapat menghancurkan dan memutilasi satu kota dengan satu kali pengaktifan domain hanya dalam waktu kurang dari semenit, ditambah dengan teknik-teknik kuatnya yang lain serta keganasannya, mengesahkan julukan “Raja Kutukan”nya.

Gojo menjadi satu dari segelintir orang yang selamat dari serangan Sukuna, dan menjadi satu-satunya yang berhasil mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu. Kemenangannya semakin mengokohkan gelar penyihir terkuat yang terpancang pada dirinya sejak lama. Meskipun begitu, kemenangannya meninggalkan bekas-bekas luka yang parah pada sekujur badannya. Sayat-sayatan itu memenuhi wajahnya hingga kedua kakinya. Beberapa di antaranya adalah sayatan dalam dan sayatan yang masih basah akan darah. Penampilannya tampak mengerikan dari refleksi cermin.

Dia mengelus wajahnya, lalu perlahan bergeser ke bagian leher. Desisan keluar dari lisannya saat tangannya menyentuh sayatan lebar yang masih berdarah di sana. Rasa perihnya menyebalkan, sedikit menurunkan niatnya untuk membersihkan diri malam ini. Dia tidak mengerti kenapa dia tidak bisa menyembuhkan luka-luka itu dengan teknik pembalik. Mungkin karena luka-luka itu timbul dari teknik tebasan Sukuna. Jadi sekarang dia harus mengobati luka-luka itu secara "manual" dan berharap semoga bisa sembuh. Yang membuatnya kepikiran adalah dia harus sembunyi dari anaknya tanpa kepastian sampai kapan.

Dia tidak ingin menakuti anaknya dengan semua bekas luka itu. Ini menjadi alasannya kenapa dia pulang larut malam. Agar harapnya anaknya sudah tidur ketika dia datang. Karena ini juga dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Agar anaknya tidak terbangun dengan suara langkah kakinya dan melihat dirinya penuh luka saat datang menyambutnya.

Beberapa menit setelah mandi dan melapisi tubuhnya dengan perban, Gojo membaringkan diri di atas kasur, mendekatkan diri dengan anaknya. Dia menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua. Dalam hati dia bersyukur anaknya tidak bangun karena pergerakan dirinya. Entah apa yang dilakukannya hari ini sampai dia nyenyak sekali tidurnya.

Mata biru yang setengah terpejam karena kantuk menyorot si gadis kecil yang tengah terkapar pulas. Senyum tipis terukir pada wajah empunyanya.

Dia mengelus lembut helai-helai putih panjang gadis itu dengan tangan besarnya, menumbuhkan rasa aman dalam hati. Rasa rindu kepada sang anak yang telah dipendam sejak pertarungan maut siang tadi terbayarkan sudah.

“Maaf, ya. Papa pulangnya telat lagi.”

Hari ini begitu melelahkan bagi Gojo. Baik itu energi fisiknya maupun energi kutukannya, semuanya terkuras. Dia sudah tidak bisa lagi memaksa dirinya untuk tetap terjaga. Kantuknya yang berat terus mendorongnya ke alam bawah sadar.

Tapi sebelum tertidur, Gojo membalikkan badan dan membuat sedikit jarak antara dia dan anaknya sampai lengan atasnya menyentuh pinggir ranjang. Dia baru saja terpikir akan satu pertanyaan. Bagaimana jika pagi nanti, anaknya terbangun dan hal pertama yang dia lihat adalah wajahnya yang rusak? Tidakkah itu bertentangan dengan tujuan awalnya pulang pada larut malam? Akhirnya, dia menjauhkan diri dari anaknya, meskipun sebenarnya dia masih ingin mendekatkan diri dan mengelus rambut gadis kecil itu.

Gejolak batin yang dirasakannya saat ini entah bagaimana mengantarkannya ke memori masa lalu dimana dia bermain menjadi tokoh dunia fantasi bersama anaknya. Kegiatan itu lumayan sering dilakukan kalau dia lagi libur dari aktivitas sekolah atau misi. Permainannya sederhana. Dia berperan menjadi seorang pangeran dan anaknya berperan menjadi seorang putri. Sang pangeran nantinya akan menjadi sosok heroik bagi sang putri; menolongnya ketika ada serangan monster.

Dalam imajinasi anaknya, sang pangeran adalah pahlawan berkuda dari suatu kerajaan yang datang untuk menyelamatkan rakyatnya dari bahaya. Dia digambarkan sebagai sosok yang pemberani, kuat, dan tampan. Gambaran dalam khayalan gadis kecil itu terbentuk dari figur asli dalam dunia nyatanya, yaitu ayahnya.

Seorang pangeran yang berwajah tampan.

Gojo mengelus wajahnya lagi, merasakan permukaannya yang kasar. Dia menarik napas panjang. Wajahnya yang sekarang akan menghancurkan imajinasi anaknya. Gundah pada hatinya membengkak, terus membuat pikirannya gelisah karena kedutannya. Dia lalu menenggelamkan dirinya ke dalam selimut, memeluk erat guling untuk menenangkan diri dan menyembunyikan wajahnya di baliknya.

Kalau anakku bangun dan melihat wajahku yang rusak ini, apakah dia masih akan menerimaku sebagai pangerannya? batinnya sebelum akhirnya dia kalah oleh kantuknya.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi. Gojo bangun dan bersiap pergi ke SMK Jujutsu. Dia mandi dan berpakaian, lalu turun ke lantai dasar untuk membuat sarapan; menanak nasi dan membuat tamagoyaki.

Di tengah ketekunannya mengolah telur, Gojo menelengkan kepala ke arah tangga. "Belum bangun, ya?" gumamnya. Dia ingin mengecek apakah anaknya sudah bangun atau belum. "Sepertinya belum," lanjutnya menjawab pertanyaan sendiri.

Sarapan pun jadi. Gojo lalu menyiapkan meja makan; meletakkan dua mangkok berisikan nasi dan satu piring dengan tamagoyaki yang dibagi enam di atasnya.

"Yah...baguslah. Setidaknya dia tidak perlu menemuiku sampai aku pergi ke sekolah."

Gojo sengaja bangun lebih cepat karena merencanakan untuk pergi sebelum anaknya bangun. Alasannya supaya anaknya tidak melihat penampilan barunya, sama dengan alasannya pulang larut malam. Tapi karena tanggung jawab sebagai orang tua, dia memasak untuknya terlebih dahulu. Setelah itu sisanya diserahkan ke anaknya yang sudah dia bekali pengetahuan hidup mandiri jikalau sewaktu-waktu dia tidak membersamainya.

Rasa ketidakpercayaan diri membuatnya merasa telah menjadi ayah yang buruk. Pulang dan pergi tanpa sepengetahuan anaknya. Salam dan pamit bahkan tidak disampaikan. Di sisi lain dia menjustifikasi perbuatannya. Menurutnya tidak salah juga menyembunyikan diri dengan tujuan anaknya tidak takut dan khawatir akan kondisinya.

Dia membulatkan keputusan, tak menyisakan sedikit pun ragu dalam hatinya untuk menghambatnya pergi tanpa sepengetahuan anaknya. Toh anaknya juga bisa dipercaya. Dia akan terus bersembunyi seperti ini sampai semua lukanya kering dan pudar bekasnya.

Gojo duduk menghadap satu kursi kosong di sisi lain meja makan, menyatukan kedua telapak tangan lalu menyantap sarapan. Saat menjepit satu potong tamagoyaki dengan sumpit, Dia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Matanya membelalak. Buru-buru dia menaruh sumpitnya di atas mangkok lalu beranjak dari meja makan, berjalan ke wastafel.

Anaknya sudah bangun.

Suara langkah kakinya terdengar semakin dekat hingga Gojo bisa merasakan kehadiran di dekatnya. Dia sebenarnya panik, tapi dia sudah mengantisipasi hal ini dengan menggunakan setelan panjang untuk menyembunyikan kedua lengan dan kakinya, jadi dia bisa lebih tenang. Sisa wajahnya yang masih terbuka dia akali dengan membelakangi anaknya sambil menyibukkan diri dengan mencuci teflon dan spatula yang dia pakai memasak tadi.

“Papa? Papa!” Gadis kecil itu memanggil ayahnya.

“Ah, iya, sayang. Ada apa manggil-manggil?”

“Papa kapan pulangnya? Papa kok gak bilang-bilang kalo udah pulang?”

“Papa pulangnya malem. Waktu Papa pulang, kamu udah tidur,” jawab Gojo.

“Tadi malam aku mau nyambut Papa pulang, tapi Papa lama banget datangnya, jadi aku tidur aja karena udah ngantuk banget.”

“Ya ampun, maafin Papa, ya, udah bikin kamu nunggu lama.” Gojo menaikkan alis. Dia akhirnya tahu penyebab pintu rumah tidak terkunci tadi malam.

Gadis kecil itu lalu berlari memeluk kedua kaki Gojo. Gojo menghentikan aktivitas cuci piringnya, terkejut dengan tindakan tiba-tiba anaknya. “Aku kangen Papa,” ucap gadis kecil itu sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya Gojo, “Papa hari ini ada waktu kosong, gak? Aku mau main dengan Papa lagi.”

Gojo terkekeh. “Oh, kangen nih ceritanya?”

Seketika Gojo terdiam. Ekspresinya berubah muram dalam sekejap. Mendengar perkataan anaknya membuatnya kepikiran. Wajar saja rasa rindu itu ada. Mereka tidak selalu bertemu. Kesibukan di sekolah menyita waktu kosongnya untuk menemani anaknya. Gadis kecil itu melihat ada kesempatan karena melihatnya berada di rumah, jadi dia menanyakan apakah ada waktu kosong untuk dia bisa menghabiskan waktu bersama sebelum ayahnya pergi kerja lagi.

Rasa rindu itu juga dirasakan Gojo. Jika bukan karena bekas luka yang melumuri badannya, dia tidak akan pulang larut malam. Dia tidak akan bersembunyi. Mengetahui fakta bahwa anaknya ingin menyambut kedatangannya membangkitkan kesal pada dirinya sendiri. Kalau saja dia pulang lebih awal, dia bisa melihat wajah ceria anaknya. Dia bisa memeluknya. Dia bisa bercengkrama dengannya. Dia sejatinya ingin sekali melakukan itu semua. Tapi menuruti perasaannya saat ini berarti menunjukkan wajahnya ke anaknya. Bagaimana jika sekarang dia berbalik, menunjukkan penampilan barunya, dan malah membuat anaknya ketakutan? Tidakkah itu tindakan egois?

Gojo merasakan pelukan pada kakinya mengerat. Dua tangan kecil itu mencengkeram celananya.

“Papa, temenin aku sebelum Papa pergi lagi. Di rumah sepi," kata gadis kecil itu.

Perkataan anaknya menyesakkan dada. Gojo merasa bersalah. Baru kali ini dia merasa demikian setelah berkali-kali meninggalkan anaknya karena pikirnya semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya selama ini anaknya sedih dan kesepian. Eratnya pelukan yang diberikan adalah bukti. Dia tidak bisa membayangkan akan seterpukul apa anaknya kalau dia mati di pertarungannya dengan Sukuna kemarin. Rasa kasihan mengikis keraguan dan ketidakpercayaan dirinya yang sejak malam melengket di hati.

Gojo membalikkan badan, menghadap anaknya, memandang si gadis kecil yang berseragam sekolah dengan tas ransel di punggungnya. Hatinya luruh dan luruhannya menuntun lututnya menyentuh lantai kayu. Dia menyejajarkan diri dengan anaknya, lalu menampilkan senyum dari wajah rusaknya yang tertampang jelas.

"Maafin Papa udah ninggalin kamu sendirian. Kamu pasti kesepian di rumah," katanya lembut.

Dia sudah tidak peduli dengan kemungkinan anaknya akan takut melihatnya. Yang penting baginya sekarang adalah keinginan keduanya yang ingin bertemu satu sama lain terkabul.

Hening sejenak. Si gadis kecil terdiam memandangi wajah ayahnya. Banyak bekas luka sayatan memenuhi permukaan kulitnya. Gojo kebingungan dengan wajah datar anaknya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Apakah dia ngeri? Atau mungkin dia tidak bisa mengenalinya?

Tiba-tiba si gadis kecil menangis. Gojo panik. Dia mencoba menenangkan anaknya sambil menerka-nerka penyebab tangisannya, berharap bukan karena ketakutan melihat wajahnya.

"Papa kenapa? Kenapa muka Papa luka-luka begitu?" Kalimat gadis kecil itu putus-putus karena tangisnya. "Papa gapapa, kan? Sakit, gak?"

Gojo tercengang.

Dia benar-benar tidak menyangka respon anaknya akan seperti itu. Gadis kecil itu sama sekali tidak ketakutan melihat wajahnya. Malah, dia mengkhawatirkannya. Benar-benar tidak sesuai asumsi yang sudah berputar-putar di kepalanya sejak malam tadi.

Ketika anaknya menyentuh wajahnya dengan tangan kecil nya, Gojo tidak bereaksi apa-apa selain menangis. Dia terharu melihat anaknya ternyata masih berani mendekatinya dan peduli terhadap kondisinya. Dia melingkarkan lengannya ke tubuh gadis kecil itu, menariknya ke dalam pelukannya, memanfaatkan momen itu untuk melepas rindu yang terpendam.

"Papa, Papa kenapa kemarin? Kenapa Papa luka-luka?" tanya si gadis kecil yang tangisannya sudah mereda.

Gojo mengusap sisa air mata di wajah anaknya. "Papa abis lawan penjahat."

"Yang menang siapa?"

"Papa, dong. Papa kan kuat." Gojo tersenyum. Dia lalu berdiri dan menggendong anaknya untuk menghiburnya.

"Papa, ini sakit, gak?" tanya gadis kecil itu sambil menyentuh beberapa bekas luka di wajahnya Gojo.

"Engga, gak sakit. Tenang aja." Gojo menggenggam tangan anaknya. "Eh, omong-omong, Papa mau tanya kamu satu hal."

"Apa itu?"

Gojo menunjuk wajahnya. "Kamu...gak ngeri lihat mukanya Papa? Kamu beneran gak takut?" Dia heran dengan anaknya yang tenang-tenang saja berhadapan dengannya, padahal dia sendiri ngeri melihat bekas-bekas lukanya di cermin.

Gadis kecil itu menggelengkan kepala sebagai jawaban "tidak".

"Jadi kamu gapapa kalo muka Papa luka-luka begini? Maksud Papa…" Gojo memberi jeda pada kalimatnya. "...Papa udah gak ganteng lagi kayak si pangeran." Gojo mengungkit kenangan dimana dia dan anaknya bermain menjadi tokoh pangeran dan putri untuk mengetahui pandangan anaknya soal dirinya yang sekarang. Apakah benar imajinasinya soal sang pangeran yang tampan hancur?

Si gadis kecil mengangguk. "Gapapa. Papa masih jadi pangeran buat aku. Papa berhasil ngalahin penjahat kemarin. Papa kuat dan pemberani. Sama seperti Tuan Pangeran."

Mata Gojo berkaca-kaca mendengar jawaban anaknya. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya.

"Papa nangis lagi?" tanya gadis kecil itu.

Gojo tidak menjawab. Dia hanya mengelus kepala anaknya lembut. Kepalanya dibenamkan ke ceruk leher anaknya untuk menyembunyikan tangisannya. Dia berterima kasih dalam hati karena masih diterima sebagai sosok pangeran dalam imajinasi anaknya walaupun kini fisiknya tidak sempurna.

Beberapa saat kemudian, Gojo mengantar anaknya ke sekolah. Si gadis kecil sangat senang karena ini pertama kalinya setelah sekian lama ayahnya menemaninya ke sekolah. Gojo melakukannya sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah sering meninggalkan gadis kecil itu bekerja. Sebelumnya dia sudah izin ke Yaga untuk datang terlambat agar dia tidak diganggu saat menikmati momen bersama anaknya.

Notes:

Aku sebenarnya sengaja tidak masukin karakter cewe untuk jadi figur ibu karena aku pengen fokus ke Gojo dan anaknya saja, tapi kalo kalian mau ngayal jadi istrinya Gojo boleh kok (angkat tangan siapa yang mau jadi istrinya Gojo)

Thanks for reading!