Chapter Text
I. AWAL
Bukan hanya mata Fourth yang teralihkan dengan mudah dari kertas soal yang sudah dilihat selama satu setengah jam penuh, tetapi nyaris seisi kelas kini mengubah atensi mereka dari deretan angka-angka yang ada pada kertas di hadapan mereka ke daun pintu yang mendadak menjadi sorotan utama. Di sana berdiri seorang siswa laki-laki dengan penampilan serampangan dan wajah mengantuk, pakaiannya tampak dipasang tidak begitu benar dengan kancing yang tak terpasang rapi.
“Norawit!?” panggil pengawas ujian setengah memekik. Tetapi yang dipanggil tidak terlalu peduli sembari mengatupkan telapak tangan, memberikan salam. “Apa yang kau lakukan di sana? Sekedar pindah tempat tidur?”
Sindiran itu tampaknya tidak begitu kuat untuk menyindir karena kini sang empunya nama hanya tercengir lebar sembari menggaruk kepala. Fourth dari bangkunya hanya tergelak kecil, jarinya mengetuk riang dan memilih untuk kembali fokus pada lima soal terakhir yang belum sempat ia kerjakan. Waktu ujian masih tersisa setengah jam lagi dan Fourth cukup percaya diri dengan hasilnya, terlebih melihat teman sekelasnya kini baru memulai ujiannya setelah diberi ceramah singkat karena tidak tepat waktu.
“Kali ini saya membiarkan karena kamu mempunyai surat pengantar, tetapi ini tidak akan dijadikan pembenaran lain kali. Dengar itu, Norawit?”
Yang dari tadi dipanggil Norawit Norawit kali ini meminta maaf dengan tulus dari bangkunya yang berada tepat di samping Fourth, Fourth meliriknya sekilas dengan senyum remeh, mengundang kilat tak suka dari lelaki itu.
“Semoga enam puluh soal eksakta itu cukup membuat jarimu keriting dalam waktu setengah jam,” celetuk Fourth bersiul rendah. Kalimat itu dapat diingat Fourth dengan jelas dibalas dengan dengusan ringan oleh Norawit, atau lebih dikenal sebagai Gemini, rival abadinya.
-
Fourth selalu menjadi kebanggaan oleh sang ayah sejak kecil. Anak penurut yang juga cerdas dan berbudi pekerti, siapa yang tidak akan bangga mempunyai anak selayak Fourth. Sopan dengan yang lebih tua, juga penyayang terhadap yang lebih muda. Karakternya yang bersahabat juga disenangi oleh kawan sebaya. Di dalam hal apa pun, Fourth tidak pernah ingin kalah. Jika ia kalah, maka akan ia pikirkan seribu cara agar ia bisa kembali menjadi nomor satu dan mewujudkannya. Maka tak heran, sejak dulu Fourth menganggap bahwa ia adalah tokoh utama di mana pun ia berada.
Rasa bangga dan percaya dirinya mulai memudar ketika hasil ujian seleksi masuk sekolah menengah ia terima. Nilai yang ia anggap sudah melejit setinggi langit nyaris tak tergapai ternyata bisa kalah berhadapan dengan nilai sempurna tanpa cela. Norawit Titicharoenrak, adalah nama yang berada tepat di atas namanya kala itu.
Awalnya ia bisa mengabaikan hal itu, hanya tes ujian masuk, pikirnya. Lagi pula dengan menjadi nomor dua tidak akan membuatnya gagal untuk masuk ke sekolah menengah terbaik di negaranya. Ayahnya juga sudah cukup bangga dengan pencapaian itu dan dengan itu pula, ia sudah senang.
Ayahnya selalu bilang, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika ia berusaha keras, ia bisa mengalahkan orang jenius sekali pun. Fourth tahu, dia bukan anak yang jenius. Maka dari itu, ia selalu mengeluarkan usaha yang besar untuk mencapai apa pun yang ia inginkan. Termasuk mengalahkan seorang Norawit. Tak lama setelah ia berhasil masuk ke sekolah tersebut, deklarasi peperangan keduanya seakan berkibar tanpa kata-kata.
“Tidak masuk akal! Kau melihatnya kemarin mengisi kertas dengan asal, kan?”
“Aku juga tidak menyangka!”
“Memang gila anak itu!”
Kening Fourth mengernyit mendengar percakapan itu. Kejadian yang cukup familiar dengan apa yang terjadi di ruang ujiannya dan ia tidak bisa untuk tidak penasaran walau tadinya ia sudah setengah jalan menuju kantin untuk makan siang.
“Hei, maksud kalian apa?” tanyanya tanpa basa-basi setelah menghentikan dua orang teman sekelasnya. Ekspresi keduanya kini berubah menjadi iba melihat kepada Fourth. Fourth tidak suka situasi ini pun tidak suka dengan raut penuh belas kasihan di hadapannya itu.
“Kau pasti belum melihat pengumuman,” tuding salah satunya. Fourth hanya dapat mengangguk karena memang benar adanya, ia belum sempat untuk singgah ke papan pengumuman yang ada di utara sekolah karena dari awal waktu istirahat ia sudah sibuk mencari beberapa referensi buku yang bisa ia gunakan untuk menyelesaikan tugas sastra.
Namun setelah menunggu cukup lama, Fourth tak kunjung mendapatkan jawaban dari keduanya yang kini malah saling melempar tatap untuk melepas tanggung jawab dalam menjelaskan situasi yang mereka ketahui kepada Fourth. Alis Fourth naik sebelah, tanda sedang kebingungan.
“Apa?” tanyanya lagi lebih lugas.
“A—Eh… Itu… Gemini!”
Penjelasan dari kawannya yang tergagu itu tentu tidak memuaskan Fourth. Jantungnya berdegup kencang takut kalau dugaannya benar. “Gemini kenapa?”
“Memuncaki hasil ujian tengah semester ini—“ ucap mereka akhirnya. “Lagi.”
Fourth menahan napasnya. Ada banyak pergulatan di dalam batinnya tentang apa yang tengah terjadi padanya. Entah itu bagaimana ia menyesali usahanya yang barang kali kurang maksimal, entah itu memikirkan pada soal apa yang menyebabkan ia ceroboh dan kehilangan poin, entah itu rasa ragu dan takabur akan kemampuan yang sudah ia miliki dan meremehkan eksistensi seorang Gemini. Wajahnya menampilkan banyak ekspresi sehingga kedua teman yang ada di hadapannya tidak dapat menerka apa yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh Fourth.
“Oke, terima kasih banyak.”
Ia memutar arah. Melupakan niat awalnya untuk berjalan menuju kantin dan malah berganti arah ke bagian utara sekolah, menuju papan pengumuman. Sepanjang ia berjalan dengan langkah besar-besar, ia mendengus kasar. Merapalkan banyak kalimat ‘bagaimana bisa’ berkali-kali sambil melupakan bahwa kini perutnya juga mulai meronta-ronta karena sejak pagi belum diisi. Rasa kesalnya begitu mendidih hingga meluap ke ubun-ubun, tangannya terkepal kuat dengan wajah yang merah padam. Ia sekali lagi menghirup napasnya dalam sebelum membelah kerumunan orang yang ada di depan papan pengumuman.
- Norawit Titicharoenrak (5-1) – 100 100 100 100
- Nattawat Jirochtikul (5-1) – 99 98 96 97
Matanya nanar menatap empat deretan angka nilai mata pelajaran utama yang sudah diujikan pekan lalu, dan hasilnya selalu begini. Sebelumnya, ia bisa memaklumi bahwa mungkin dirinya masih jauh dari seorang jenius Gemini dan harus kalah dengan nilai sempurnanya dari waktu ke waktu. Tetapi tidak untuk yang kali ini. Tidak ketika Gemini baru memasuki ruang ujian setengah jam sebelum waktu ujian berakhir, tidak ketika Gemini mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan di luar nalar itu dalam keadaan setengah mengantuk, tidak—menurutnya ini tidak bisa masuk ke akal dan nalarnya.
Ia adalah saksi hidup yang berada di samping Gemini selama lelaki itu mengerjakan soal ujian dengan ogah-ogahan. Gemini hanya melirik sekilas pada soalnya dan menghitamkan jawaban tanpa minat, seakan ia hanya melakukan itu sebagai formalitas dan menuliskan jawabannya dengan asal. Jadi tidak mungkin. Fourth memiliki kepercayaan terakhirnya bahwa Gemini tidak akan sejenius dan seberuntung itu.
Maka dari itu, kini ia malah berlari ke sana ke mari dengan wajah yang pucat—benar, melupakan fakta bahwa ia seharusnya memerhatikan dirinya sendiri dulu daripada memikirkan keberadaan Gemini yang entah di mana di dalam teritorial sekolahnya yang luas.
Ia akhirnya menemukan Gemini di ruang musik tengah berbaring bersama gitar di atas perutnya, menyenandungkan lagu dengan asal yang entah apa judulnya. Gebrakan pintu dari Fourth membuat atensinya teralihkan sekejap, tetapi ia hanya melirik malas ke arah Fourth lalu melanjutkan permainan gitar serampangannya lagi sementara Fourth sudah terbakar emosi.
“Kau!” pekiknya mengawali pertikaian mereka hari ini.
Gemini menghela napas malas, “Ayolah, Fourth. Ini masih pagi.”
“Pukul dua belas lewat tiga puluh tujuh, pagi dari mana!”
Fourth tidak mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan Gemini saat ini. Waktu istirahat memang akan berakhir sebentar lagi dan ia pun kini bingung bagaimana memanfaatkan waktu yang sudah sempit untuk dapat mengutarakan segala resahnya kepada Gemini yang kini membuatnya semakin emosi.
“Kau curang, ya!?” tudingnya langsung. Matanya menyipit dengan deru napas yang saling memburu, cukup lelah karena baru saja mengitari satu sekolah untuk menemukan Gemini.
“Kau sudah mengatakan itu lebih dari sepuluh kali pada semester ini. Jadi kali ini soal apa?”
Fourth menatap Gemini tak percaya, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah lelaki yang kini mulai duduk dan meletakkan gitar ke sisi tubuhnya. Mata Gemini sedikit melebar ketika sudah saling tatap dengan Fourth yang sedang berusaha menata kata.
“Kau … Kau! Semua orang tahu kalau kau tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan soal ujian,” ucap Fourth mengawali argumennya.
Mata Gemini berotasi sebelum menjawab dengan singkat, “Waktunya lebih dari cukup untukku.”
“Jangan sombong!” sahut Fourth marah. Tubuhnya mulai limbung ketika ia berjalan mendekat ke arah Gemini yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat ia mengerti, Fourth pikir memang sombong sekali si Norawit ini. “Aku juga melihatmu menjawab soal tanpa jeda! Ka—kau… sudah punya kunci… Kunci jawabannya, kan!?”
“Fourth, kau kelihatan buruk. Akan aku jelaskan nanti tapi—“
“Tidak! Apa maksudmu? Jawab sekarang, Gemini!”
Gemini sudah kehilangan hitungan berapa kali ia menghela napas selama menghadapi Fourth yang mengamuk seperti ini. Tetapi kini ia murni khawatir melihat wajah Fourth yang mulai kehilangan warna, fokus matanya juga sudah tidak lurus sehingga kini ia memilih untuk berdiri tegak menghampiri lelaki itu. “Fourth, kau sedang tidak baik-baik saja. Kita ke ruang kesehatan, bagaimana?”
“Tidak!” tolak Fourth tegas. Tangannya menghempas rematan halus tangan Gemini pada lengannya.
“Fourth?”
“Gemini… Kau—tidak boleh sesempurna ini… Kalau tidak—”
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang bisa Fourth ingat ia keluarkan sebelum pandangannya kabur dan ia tidak tahu entah siapa yang menangkapnya hingga ia tidak merasakan kerasnya lantai ruang musik ketika ia jatuh pingsan.
-
Ini adalah kali pertama Gemini melihat Fourth selemah ini. Selama ini Fourth terlihat tangguh dan kuat, tidak ada yang bisa membuatnya jatuh meski itu adalah ribuan anak panah yang menyerbunya secara bersamaan. Gemini tidak pernah melihat Fourth jatuh, kecuali untuk hari ini.
Sudah lebih dari satu jam perawat sekolah mengatakan padanya bahwa Fourth butuh istirahat dan menunggu ia sadar dari tidurnya. Tetapi Gemini semakin khawatir karena Fourth tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.
Napas anak laki-laki yang lebih pendek darinya tiga senti itu terdengar lebih teratur ketika ia tertidur tenang seperti ini. Bibirnya masih tampak pucat karena perawat juga menduga Fourth tidak sempat makan hingga kini.
“Kecil sekali,” desisnya ketika ia mencoba melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Fourth.
Gemini menghela napasnya, membayangkan entah berapa kali Fourth melewatkan waktu makannya, entah berapa malam yang Fourth lewatkan tanpa tidur, entah berapa kali ajakan bermain yang ia tolak agar dirinya bisa belajar beberapa jam lebih lama dari orang lain. Orang lain, termasuk dirinya.
Telah ada banyak cara yang terpikir mengenai jalan apa yang bisa ia ambil agar semua pihak tidak merasa dirugikan, tetapi Gemini tidak dapat menemukannya barang sedikit. Karena sejatinya ia juga bertanya-tanya mengenai apa yang ia inginkan. Mengalah kepada Fourth, tentu bukan salah satu opsi terbaik yang dia miliki. Setidaknya itu pikirannya sampai kejadian hari ini menimpa teman sekelasnya itu.
Apa seharusnya ia mengalah dan membiarkan Fourth menjadi nomor satu?
“Kau bisa kembali ke kelas saja, Nak.”
Suara dari perawat klinik sekolah membuyarkan lamunannya, seketika menoleh dan perlahan melepas genggamannya dari tangan Fourth dengan hati-hati, takut ia terbangun. Gemini mengangguk, memberikan salam lalu keluar dari sana, menyadari bahwa di perkarangan sekolah sudah tidak ditemukan lagi riuh siswa-siswi karena nyaris seluruhnya sudah memasuki ruang kelas.
Untuk saat ini, Gemini akan percaya lebih lama pada kekuatan yang dimiliki Fourth. Bukan saat yang tepat pula untuk menunjukkan diri. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke kelas, sama seperti yang dilakukan murid lain sekarang ini.
-
Seketika Fourth membuka mata, hal pertama yang ia sadari adalah kepalanya yang terasa berat dan ruangan yang asing ada di sekelilingnya. Bau obat yang sedikit menyengat dan khas, serta selimut tipis yang menutupi sebagian tubuhnya rapat-rapat adalah hal kedua yang ia sadari. Ketika ia mencoba mengingat-ingat, hanya pening hebat yang ia rasa menghantam seluruh bagian kepalanya.
Ia tidak mau repot-repot memikirkan siapa yang membawanya atau bagaimana pertikaiannya dengan Gemini berakhir beberapa jam lalu. Karena ketika ia melirik pada jam dinding yang berada tidak jauh dari tempatnya berbaring, jarum jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah. Pantas saja dari luar sudah terdengar ramai dengan suara derap kaki dan obrolan ringan anak-anak SMA.
“Aku nyaris ingin membawamu ke rumah sakit jika keadaanmu tak kunjung membaik,” ujar perawat sekolah padanya seketika ia muncul dari balik tirai. Fourth tersenyum sopan ketika ia mencoba untuk duduk, pening di kepalanya berangsur hilang.
“Maaf, aku pasti merepotkanmu karena tidur terlalu lama,” ucap Fourth pula sedikit menyesal. Ia beringsut bersiap meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke kelas untuk mengambil barang-barangnya.
“Tidak apa-apa, memang sudah tugasku,” balas wanita itu dengan ramah. Tangannya memegang sekantong plastik putih kecil yang Fourth yakini isinya beberapa tablet obat. “Kau bisa membawa ini dan meminumnya di rumah agar merasa lebih baik.”
Fourth mengangguk sopan, “Terima kasih banyak, aku akan segera pulang.”
Ketika Fourth hendak berjalan menuju ambang pintu, panggilan ia terima kembali dari balik tubuhnya, membuat ia mengurungkan niat keluar dari klinik sekolah dan kembali berhadapan dengan perawat sekolah yang sudah berumur separuh baya.
“Selain itu berterima kasihlah kepada temanmu, dia menjagamu cukup lama dan bahkan sampai membelikan resep yang kutulis dari luar sekolah,” ucapnya pelan-pelan. Perawat itu juga memberi jeda pada kalimatnya sembari memerhatikan reaksi tenang yang ditunjukkan oleh Fourth sebelum ia melanjutkan kembali kalimatnya. “Ia juga tampak kesusahan menggendongmu dari ruang musik yang ada di lantai tiga dan membawamu ke sini.”
Fourth tercenung di tempat ia berpijak, masih memproses perkataan sang perawat sekolah dengan kepala yang berat sebelum ia mengangguk pasti, “Baiklah.”
Perawat sekolah itu tersenyum padanya kala mengantarkan Fourth hingga ia hilang dari koridor. Sementara Fourth masih tidak bisa berhenti berpikir mengenai apa tujuan dari perlakuan Gemini yang ia dengar dari mulut orang lain.
Tidak mungkin. Ia yakin ia masih membenci Gemini dengan amat sangat.
-
