Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-08-23
Words:
1,034
Chapters:
1/1
Kudos:
30
Bookmarks:
1
Hits:
923

Honesty

Summary:

“Wah, sayang sekali, sepertinya kita tidak bisa melihat bintang bersinar untuk malam ini.”

Freminet mengekori arah pandang Lyney yang memandangi langit malam yang berawan seperti akan segera hujan, padahal tidak ada persidangan hari ini. Apa yang menjadi penyebab Naga Hydro bersedih hati kali ini? Lyney sendiri tahu bahwa Freminet masih suka mempercayai cerita dongeng dan legenda, tapi dia merahasiakannya dari orang lain supaya tidak dimarahi olehnya, membuat adiknya marah menjadi pilihan terakhirnya meskipun hal itu sedikit menggugah rasa penasarannya.

Notes:

FremiNey brainrot hasil gabut

Work Text:

 

                                   

    Sudah bukan rahasia lagi kalau Lyney; sang pesulap terbaik di Tevyat itu juga pandai merangkai kata-kata puitis, dia selalu tahu cara mengundang senyuman dan mencuri hati setiap orang yang menyaksikannya di panggung opera. Karena jika hanya mengandalkan trik yang sama setiap harinya, pastinya semua orang akan mudah bosan, maka karena itu; Lyney tidak pernah bisa merasa puas begitu saja. Dia juga merasa harus bekerja keras demi adik-adiknya, tidak dipungkiri kewajibannya sebagai penerus ‘Father’ juga sempat mengusik pikiran pribadi yang dikenal periang dan supel itu. Apalagi semenjak sidang hari itu, dia ingin mengembalikkan kepercayaan warga Fontaine pada mereka.

Hanya sebagian orang-orang terdekat dan terpercaya yang mengetahui watak aslinya, tentu bukan sebatas teman, namun saudaranya sendiri. Lyney memang selalu punya cara untuk mendekatkan diri dengan yang lain, tapi tidak tahu kapan dia harus jujur pada dirinya sendiri. Dia selalu ingin bisa diandalkan, dan tidak ingin membuat siapapun bersedih. Sudah menjadi tugas adik-adiknya untuk selalu memperhatikannya.

    “Lyney...”

    “Ya, Freminet?”

    “Kamu kelihatan senang sekali.”

Lyney membalas dengan tertawa kecil sebelum mengusap sayang rambut pirang pucat milik adiknya yang bungsu, dan akhirnya menuai reaksi spontan upaya menarik diri karena belum terbiasa dengan afeksi yang diberikannya. Memaklumi sifatnya yang pemalu, dia pun tak segan sesekali menggodanya. 

    “Tentu saja aku sangat senang malam ini, karena adik kebanggaanku sedang merindukanku sampai-sampai datang menyaksikan pertunjukkanku!” ungkapnya dengan rasa puas tersendiri melihat kemajuan Freminet menghadapi kerumunan di deretan bangku penontonㅡselain biasanya menjadi relawan di tengah pertunjukannya, dia juga puas membuat wajah adiknya bersemu kemerahan. Kalau tidak menahan diri, dia sudah menerjangnya dalam pelukannya dan akhirnya menuai protes sebab pemandangan yang begitu sulit dilewatkan itu.

Lyney menyudahi gurauannya, dan beralih menatap Freminet dengan penasaran sekaligus penuh harap, “Tapi sungguhan, Freminet. Tumben kamu datang tanpa memberitahuku maupun Lynette. Apa ada sesuatu yang membuatmu berbuat demikian?”

Freminet sedikit menundukkan kepalanya dan berlagak canggung untuk menutupi kebenaran yang tersimpan di dalam benaknya sebelum menanggapi dengan suara pelan, “...Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin datang saja.”

Senyuman Lyney yang menggelitik hatinya belum juga pudar, seperti sudah tahu kalau dia terkesan menutupi alasannya yang sulit diutarakan terus terang. Di sisi yang lain, Freminet merasakan debaran jantungnya tak wajar setiap kali Lyney begitu dekat dengannya, atau saat Lyney memujinya. Dia berpikir karena dia sangat mengagumi sosok saudara angkatnya yang selalu tampil cemerlang dan mempesona itu, tapi dia juga merasakan perasaan tak nyaman saat melihat Lyney sering bersama menghabiskan waktu dengan teman barunya yang lebih akrab. Terlalu akrab, bisa dibilang. 

Apa dia merasakan yang namanya cemburu? Tapi Freminet tidak pernah merasa keberatan dengan kesendiriannya selama ini, lantas kenapa dia bisa merasa demikian? Entah apapun alasan yang mendasari kecemburuannya, selama Lyney masih memperlakukannya seperti biasanya, baginya sudah cukup untuk menjadi obatnya.

    “Wah, sayang sekali, sepertinya kita tidak bisa melihat bintang bersinar untuk malam ini.”

Freminet mengekori arah pandang Lyney yang memandangi langit malam yang berawan seperti akan segera hujan, padahal tidak ada persidangan hari ini. Apa yang menjadi penyebab Naga Hydro bersedih hati kali ini? Lyney sendiri tahu bahwa Freminet masih suka mempercayai cerita dongeng dan legenda, tapi dia merahasiakannya dari orang lain supaya tidak dimarahi olehnya, membuat adiknya marah menjadi pilihan terakhirnya meskipun hal itu sedikit menggugah rasa penasarannya.

    “Tadaaa!” Lyney lantas memunculkan sebuah payung dari topinya yang besarnya cukup untuk melindungi mereka dari tetesan hujan nantinya selama di perjalanan pulang.

    “Bagaimana, Freminet? Apa aku juga perlu memunculkan bintang-bintang? Tapi yah, dipikir-pikir itu tidak perlu, sih. Karena…” Lyney memberi jeda saat dia mengusap dagunya dan menatap lurus Freminet yang terkesiap mengambil jarak mundur karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat ditambah faktor tinggi badan mereka yang tidak jauh berbeda. Dia pun refleks menahan nafas dengan kedua mata terbuka lebar, rasanya jantungnya mau lompat keluar.

    “...Karena bintangnya sudah ada tepat di hadapanku dan terlihat bersinar sangat terang dari bintang-bintang yang pernah ada.” ucapnya sembari menatap kedua matanya lekat dan tersenyum penuh makna, lalu tidak lama terkekeh melihat Freminet yang mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, kesulitan untuk mengutarakan kata-kata. 

Daripada ingin menepis ungkapannya itu, Freminet justru terdiam cukup lama seperti membeku. Gelagatnya sontak membuat Lyney kebingungan dan khawatir, biasanya Freminet akan protes seraya tersipu malu atau setidaknya berkomentar tentang rayuannya yang murahan itu.

    “Fremiㅡ”

    “Kamu habis ngomong apa, sih?”

Lyney terbelalak mendengar pertanyaannya, semakin dibuat bingung dengan perkataan Freminet yang kemudian terlihat menghela nafas sebelum menatapnya kembali. Apa dia tidak sengaja membuatnya marah? 

    “Daripada aku, kamulah bintang yang bersinar lebih terang dari bintangㅡtidak, bahkan lebih terang dari sinar matahari, banyak yang kemudian datang dan pergi saat mendekatimu. Tapi aku… tetap disini.”

Setelah mendengar itu, Lyney bukan main terkejutnya. Freminet adalah tipe yang selalu jujur mengungkapkan perasaannya, dan ucapannya barusan bukan terdengar seperti sekedar ingin membalas rayuannya. Sekarang giliran Lyney yang kehabisan kata-kata, terperangkap dalam jebakannya sendiri. Rona di kedua ruas pipinya menunjukkan bahwa belum pernah ada yang berhasil mencuri hatinya. 

    “Oh.” Freminet yang baru saja menyadari ucapannya terlontar begitu saja dari mulutnya, dalam batin merutuki dirinya sendiri dengan panik, dan langsung berniat menceburkan dirinya ke dalam laut dan tidak pernah ingin muncul lagi di permukaan. 

Memalukan. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Lyney lagi, dia pun segera memutar badannya dan hendak kabur.

    “Aku pamit.”

    “Tunggu dulu, Freminet!”

Lyney menarik pergelangan tangan Freminet sebelum terlanjur pergi sendirian hujan-hujanan karena malu padanya, dia beralih menggandeng tangannya erat di tiap sela jemarinya. Freminet menoleh kembali hanya untuk mendapati Lyney… lagi-lagi tidak luput memperlihatkan senyumannya itu, tapi kali ini terasa berbeda. Mungkin dia sendiri yang kini merasa pandangannya berbeda, terutama karena sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Perasaan yang lebih dari sekedar kekaguman sebagai saudara, dan untuk pertama kali dia mengakui bahwa dia jatuh cinta. Jatuh terlalu dalam sampai rasanya tidak akan ada yang bisa menolongnya lagi.

    “Lyney…” panggilnya dengan nada ragu-ragu.

   “Ya, Freminet?” balasnya sambil memiringkan kepalanya, sedikit mengharapkan Freminet akan mengungkapkan perasaannya langsung padanya.

    “...Dimana Lynette?” 

    “Disini.”

Rasa penasarannya kemudian terjawab begitu Lynette muncul dari arah belakang panggung, sedari tadi menyaksikan keduanya dan memastikan setiap momennya tanpa adanya interupsi, sengaja membiarkan kakaknya menikmati momen berdua. Lyney melambaikan tangan ke arahnya, untuk mengajaknya pulang bersama. Ketiganya pun pulang bersama, dan Freminet masih menolak kenyataan, dan menganggap semua yang terjadi malam ini adalah mimpi sampai sesampainya di rumah; Lyney mengusik tidurnya dengan memaksa ingin tidur di sebelahnya.

Freminet akhirnya menghabiskan sisa malam hari memandangi wajahnya.

 

                                     fin.