Work Text:
Zoro dan Sanji hari ini sudah bertengkar saja. Bahkan sibuk bicara berdua seperti dua orang yang berpacaran di antara pertemanan berdelapan mereka. Kalau enam teman mereka berhenti melangkah, sepertinya dua sejoli itu tidak akan menyadarinya sekali. Entahlah, dari cacian dan makian itu lama kelamaan terdengar seperti pujian. Atau bertanya "Kamu sudah makan belum? Kalau belum ayo sini aku suapin." atau "Aku takut berlebihan waktu sparring nanti kamu kesakitan aku pukul." dan sebagainya.
Apa terlalu berlebihan? Tidak ah.
Sekarang, Sanji dan Zoro sudah berbelok ke jembatan untuk bertanding di area kosong samping sungai yang agak miring. Kata Zoro, menambah skill. Oke, Sanji terima. Awalnya teman-temannya semua sempat memerhatikan mereka sejenak, tapi Nami sebagai awalan mulai berbicara, "Robin, temenin aku karaoke yuk."
"Ide bagus, aku juga pengen nyanyi deh," Robin mengangguk setuju. Ia pun mengusap puncak kepala Chopper. "Chopper ikut ya? Aku beliin permen kapas,"
"Okeyy!!" seru Chopper bahagia. Karena, apa yang tidak demi permen kapasnya. Luffy yang mendengar seruan permen kapas itu pun langsung mengalihkan perhatiannya dari Zoro dan Sanji menuju Robin. Ia langsung nyaris meneteskan air liurnya. "Ah, Robin ... aku juga mau daging...."
"Yaudah yuk, Luffy ikut juga," ujar Robin ramah. Nami menghela, "Coba bayar sendiri sih Luf."
"Hng... nggak punya uang...." Luffy mengeluh sedih. Nami mengangguk dan menepuk punggung Luffy. "Aku tahu kamu nggak punya uang."
Sementara Franky dan Usopp sempat terdiam sejenak memerhatikan Sanji dan Zoro yang sudah mulai bertarung. Tidak ada yang memulai percakapan di antara mereka, hingga Usopp akhirnya berkata, "Hari ini aku mau coba desain lagi mesin kembang apinya."
"AAAAAWWWWW! AKU MAU LIHAT!" seru Franky bersemangat. Usopp langsung tersenyum lebar dan berhenti bersandar pada pagar pembatas jalan dan sungai. Usopp dengan nada bersemangatnya mulai bercerita seraya berjalan pulang bersama Franky, "Itu mesin udah sempet berhasil loh minggu lalu! Tapi entah apa yang salah dari itu gak mau jalan setelah tembakan ke-5!"
"Mungkin bahan bakarrrnya harus kola SUUPPPERRR!" seru Franky.
Kita kembali ke dua sejoli yang tak ada berhentinya bertengkar itu. Dua sejoli bodoh yang tidak sadar bahwa satu-satunya cara komunikasi mereka adalah lewat pertengkaran. Lewat caci maki. Lewat ledekan. Lewat tendangan dan tinju. Mereka tidak pernah menyadari betapa klopnya mereka sebenarnya. Betapa serasinya mereka. Betapa mudahnya bagi mereka untuk memahami satu sama lain tanpa harus berkomunikasi dengan benar.
Teman-teman mereka paling tidak sanggup memahami mereka ketika mereka hanya sekedar mendelik atau mendehum kepada satu sama lain. Tapi yang terjadi adalah seolah-olah percakapan tengah berjalan dengan lancar di antara mereka berdua. Sekedar memanggil nama-atau nickname khusus yang mereka punya untuk satu sama lain saja cukup bagi mereka untuk menjalani percakapan. Salah satu dari mereka tidak akan hanya menyahut, tapi juga berkata 'Iya, aku tahu'. Entah apa yang mereka tahu
"Strategimu mau menjatuhkan kita ke sungai kah koki bodoh?" tanya Zoro selama menangkis tendangan Sanji. Sanji hanya membalas dengan kekehan. "Kenapa? Takut basah ya? Takut masuk angin? Iya?"
"Nggak pernah bilang begitu tuh!" Zoro ikut mendengus jenaka sebelum melancarkan serangan pada Sanji lagi. Pertarungan kembali berlanjut tanpa adanya percakapan. Tapi seiring berjalannya waktu, Sanji terus merubah posisi mereka jadi semakin dekat pada sungai. Itu membuat Zoro berusaha untuk menjauh, tapi Sanji berhasil meraihnya hingga mereka jatuh ke sungai pada akhirnya.
Zoro yang kaget dengan keadaannya benar-benar basah karena dibawa Sanji untuk tercebur bersama ke dalam sungai yang dangkal itu. Tapi karena mereka sama-sama jatuh dengan posisi yang berbaring atau tengkurap, akhirnya mereka berakhir basah kuyup bersama. Zoro bangkit dari posisi tengkurapnya dengan cepat. Ia menyisir rambut pendeknya dan berbalik ke arah Sanji yang ada beberapa centi di belakangnya. "Woi! Jadi beneran basah ini tot!"
Sanji mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengerjap kaget sebelum tertawa kencang-kencang. "Ih! Cocok, marimo ditaruh di air, HAHAHAHAHAHA!"
Selanjutnya, Sanji tetap tertawa dengan kedua tangan yang menahan perutnya. "Yaudah sih! Basah sama-sama! Jangan marah gitu dong?"
Sore itu, sungai yang mengarah menuju matahari yang tengah terbenam di ujung sungai membuat rambut pirang sanji bersinar selayaknya emas mengkilap. Lalu, cahaya senja itu menembus helai rambut Sanji yang basah dan membuat kedua mata birunya jadi terlihat cantik. Sanji yang tertawa dan tersenyum lebar sore itu terlihat sangat, sangat, sangat cantik. Zoro terpaku hebat. Jantungnya berdegup kencang.
Apa-apaan ini?
Zoro berdiri secara reflek. "Aku mau pulang."
Sanji berhenti tertawa seketika. Ia menoleh ke arah Zoro yang berjalan menuju pinggir sungai dan merapikan barang-barangnya. Ia pun ikut berdiri dengan kebingungan. "Apaan sih? Gitu doang marah? Biasa kali."
"Nggak marah." Zoro menjawab tanpa menoleh. Tapi ia memang benar-benar tidak marah. Bahkan sama sekali tidak marah dari tindakan Sanji yang membuatnya jadi basah kuyup sore itu. Tapi Sanji menahan lengannya. Ia jadi terpaksa menoleh untuk melihat wajah cantik yang membelakang matahari itu lagi. "Zoro, kenapa sih?"
Zoro sempat terdiam sejenak tapi ia akhirnya menggeleng untuk menyadarkan dirinya sendiri dan lanjut memasukkan sepatunya ke dalam tasnya. Sanji pun ikut membereskan barang-barangnya walau masih dengan perasaan penuh kebingungan. Sembari mengikuti Zoro dari belakang itu, Sanji menggerutu, "Iya. Iya. Aku yang salah, gak basah-basahan lagi deh lain kali."
"Bukan gara-gara basah," sahut Zoro singkat. Sanji pun mempercepat langkahnya untuk mengejar Zoro. "Terus karena apa dong? Nggak usah kayak cewek pms gitu ah!"
Lagi-lagi Sanji menahan lengannya dan membawanya berputar agar mau menatap Sanji. Sanji mengernyit tidak suka. "Bilang aja ada apa sih? Bicara yang jelas dong!"
Zoro mendeguk dengan kedua matanya yang menelusuri wajah Sanji. Mulai dari alis melingkarnya, poninya yang ia sibak ke belakang karena sudah basah, mata biru yang menatapnya tepat di mata, kumis tipisnya, semuanya. Aneh sekali, Sanji kelihatan benar-benar cantik. Berbeda dari biasanya. Apa belakangan ini Sanji memang cantik ya?
Tapi Sanji mulai membulatkan kedua matanya ketika melihat rona yang di ujung telinga Zoro mulai merambat ke kedua pipi sawo matang milik Zoro. Pipi putih Sanji yang awalnya agak pucat karena basah kini pun ikut merona kala masuknya banyak imajinasi yang berjalan di kepalanya melihat rona pipi Zoro yang mungkin tak Zoro sadari itu. Sanji perlahan melepas cekalannya dan mengalihkan pandangannya.
"Masih tetap mau dengar aku bicara?" tanya Zoro. Sanji menahan Zoro dengan mengangkat tangannya sebagai tanda 'tahan'. "Bentar."
"Tahan dulu. Jangan pulang. Kita udah besar. Kita bicara di sini?" tawar Sanji. Maka Zoro mengangguk setuju sebagai jawaban.
