Chapter Text
Putra mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya. Dia lempar tas ke sebelah meja belajar. Sudah itu, dia berbaring di kasur dan meringis. Dia kesakitan lantaran bantalnya mengenai luka bacok yang masih segar di bahu kiri.
Barulah dia mengangkat panggilan itu.
“Apaan sih, anjing,” umpatnya emosi. “Gue nelepon dari tadi, baru muncul sekarang! Udah gue bilang, Maestro Renaldie Yang Terhormat, kalau minum tuh jangan sampe goblok!!”
“Sorry Put, tadi gue tepar dulu, baru bangun,” sahut Renaldie sang kawan yang menghubungi. “Lu kenapa nelepon gue?”
“Gue ketemu begal, anjing.”
“Hah?!”
“Besok aja gue ceritain,” kata Putra sambil menguap lebar. “TLDR, gue hampir mati. Too bad, mereka kurang sakti.”
“Terus tadi lu nelepon gue- “
“ -soalnya mau nginep di tempat lu karena kosan gue udah tutup, tapi ternyata, ada yang bantuin gue masuk.”
Renaldie terdiam sejenak. Putra memejamkan mata.
“Aduh, sorry ya … tapi lu … gimana sekarang, Put? Aman?”
“Haha, pake nanya lagi!” sahut Putra tertawa senang. “Puas gue! Udah lama banget gue nggak nonjokin orang. Next time kalau badan gue udah baikan, dan kalau gue udah punya motor baru, gue bakal lewat situ lagi biar dibegal lagi.”
Setelah membukakan pintu masuk buat Putra si tetangga kos, Galang kembali ke kamarnya sendiri. Dia duduk di sisi kasur, melepas atribut orientasi kampus sambil menguap. Samar-samar dia dengar Putra bersenandung, membuka pintu kamar sebelah, dan masuk. Pintu berdebam menutup.
Ternyata orang itu, batin Galang agak menyesal sudah menolong. Bagaimana mungkin Galang lupa dengan suara rendah Putra yang pecah serak kalau dia berteriak. Dialah tetangga sial yang dulu sering berisik di gazebo depan bersama kawan-kawannya sebelum ditegur Tante Kos. Mereka mengobrol sampai larut malam, menyanyi diiringi gitar pada dini hari, menonton bola sampai pagi. Padahal, Galang butuh ketenangan demi mengerjakan tugas.
Sambil bersiap mandi, Galang menggerutu. Tahu begini, dia takkan mengizinkan Putra masuk. Seharusnya memang begitu, sesuai dengan aturan yang dibuat oleh sang pemilik kos, yaitu tantenya sendiri. Tentulah dia diberikan keringanan karena sedang mengikuti kegiatan masa orientasi kampus untuk mahasiswa baru. Usai sebal karena telah membantu seorang pengganggu, kini dia khawatir tantenya marah kalau tahu dia membolehkan Putra masuk. Kurang ajar benar, sudah menumpang, malah seenaknya …
Kalau sekali mungkin nggak apa-apa, ‘kan, batin Galang. Dia berencana bakal menjelaskan kalau Putra luka berat sehabis diserang pembegal motor. Dia juga akan berjanji takkan mengizinkan Putra melanggar aturan jam malam lagi.
Sesaat, dia lupa sama sekali dengan kejadian itu.
Galang berharap itu adalah kali pertama dan terakhir dia membukakan pintu buat Putra. Akan tetapi, hal itu malah terjadi lagi beberapa hari kemudian. Putra meminta tolong buat dibukakan pintu via chat. Begitu Galang ke pintu depan, dia melihat sosok itu tampak kesal di kursi.
“Lama banget sih!” bentaknya ketika Galang menghampiri. “Tadi lu tidur, ya?! Atau udah nggak mau bukain pintu lagi?”
Nada bicara Putra membuat Galang takut. Dia jadi diam sebelum menjawab. Tangannya ikut diam sejenak.
“Lagi belajar, Kak,” jawab Galang akhirnya. Pada saat itu juga dia memutar kunci pintu, dan membukakannya buat Putra. Dia minggir sambil menunduk, tak mau bertatap mata.
Setelah Putra masuk, dia kembali mengunci pintu.
“Ngapain dah belajar jam segini,” komentar Putra tidak niat. Tetap saja, terselip nada kesal dalam kata-katanya. Galang jadi berpikir kalau dia tidak perlu menjawab. Dia pun diam.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar masing-masing. Sungguh Galang bersyukur bakal berpisah dengan Putra. Namun ternyata ketika dia sampai di depan pintunya sendiri, Putra malah ikut dengannya, mendekati.
Putra memberikan seplastik roti bakar warkop kepadanya.
“Buat nemenin belajar,” katanya. “Nggak alergi coklat, ‘kan?”
Galang tertegun. Dia bingung menatap plastik itu, lalu Putra. Dia lihat Putra menggerakkan plastik itu ke arahnya.
Sampai di sana pertemuan mereka pada pukul dua pagi itu.
Masuk ke kamar, Galang meletakkan seplastik roti di meja belajar. Dia masih bingung. Dalam rangka apa nih gue dikasih ini, batinnya sambil mengernyit. Akan tetapi ketika dia lanjut mengerjakan tugas Matematika Dasar 1 yang tadi ditinggal, untuk sesaat, dia lupa dengan roti dari Putra.
Dia baru menyentuh roti itu setelah tugasnya selesai.
Roti itu dia pandangi agak lama. Baru sekarang dia mendapatkannya dari orang lain. Dulu, dia mesti menabung berhari-hari buat membeli sepotong roti bakar coklat, itu pun mesti dibagi empat untuk adik-adiknya juga. Sebagai kakak pertama, tentu dia mengalah —dengan memakan potongan roti yang gosong atau berselai paling sedikit.
Seusai melahap potongan roti pertama, Galang terdiam.
Selainya kok beda sama yang dulu gue makan, pikir dia kaget. Rasanya jauh lebih manis. Aromanya pun lebih kuat. Dia jadi tak mau cepat-cepat menghabiskan roti itu.
Di tengah makan, Galang mendapat chat dari seseorang. Sekali lagi, dia terkejut sampai mendiamkannya. Itu Putra.
Masih belajar?
Teringat nada bicara Putra sebelumnya, Galang segera mengetik jawaban sambil mengunyah, tetapi sebelum dia sempat mengirim, Putra telah mengirim chat baru.
Gue bikinin lu kopi, ya.
