Work Text:
Fang mendesah lelah usai memasang masker. Tadi dia bersama BoBoiBoy ditugaskan Komander Koko Ci menjalankan misi bersama-sama di sebuah planet asing tanpa nama.
Hanya ada informasi bahwa planetnya setipe dengan Bumi. Tanpa Yaya dan Ying, beserta Gopal dan Qually yang punya misi lain. Menurut Komander Koko Ci, tidak ada penghuni alien di sana, tapi ada OksiBot, power sphera yang dapat mengeluarkan oksigen.
Komander Koko Ci tidak berkata apapun setelah itu, tapi BoBoiBoy maupun Fang sepakat akan menyelamatkan power sphera tersebut. Sesuai dengan misi utama TAPOPS sebagai penyelamat galaxy, salah satunya power sphera.
Sekitar pukul delapan pagi di waktu Bumi, mereka turun ke planet. BoBoiBoy yang berpikir positif, berkata akan lebih baik kalau mereka berpencar agar memudahkan pencarian power sphera. Tapi Fang tidak merasa itu ide bagus, sayangnya BoBoiBoy yang sudah bertukar menjadi Taufan melesat terbang pergi.
Bagaimana perasaannya tidak enak kalau.... Ketika kapal angkasa mendarat di tanah lapang tanpa tanaman itu, Fang merasakan ada hawa gelap. Seperti ada kabut yang pekat. Membuat Fang sampai terbatuk-batuk. Jangan-jangan.....
"Masker bayang!" Karena tak tahan, Fang memutuskan memakai masker. Ternyata benar firasat buruknya. Udaranya bukan kabut, tapi mengandung polusi!
Lima jam berlalu, Fang tidak menemukan OksiBot, tapi malah tempat yang sepertinya disebut pabrik, tapi tidak ada penghuni, anehnya tetap terus-menerus mengeluarkan asap yang dia rasa adalah sumber polusinya. Fang mencoba memperbaiki tangki besar di dalam pabrik dengan kunci-kunci, tapi dia tidak cukup kuat. Dia yakin kalau masalahnya dari tangki yang mengeluarkan aroma menyengat, seperti bahan bakar di Bumi.....
"Uhuk! Uhuk!" Fang kembali terbatuk-batuk, merasa dadanya sesak di dalam pabrik, memutuskan keluar. Rasa lapar mulai menyerang. Tapi dia tidak membawa perbekalan dan sepanjang perjalanan nihil tanaman yang tumbuh subur. Dia juga merasa kalau tanah yang dipijaknya tercemar, bercampur bau sampah. Sampai membuatnya merasa mual. Benar-benar yang terburuk.
Merasa penat luar biasa, Fang tidak sadarkan diri setelah memuntahkan isi perutnya. Dia terbangun saat langit gelap. Tidak yakin sudah berlalu berapa jam, tapi ia merasakan penat luar biasa. Fang memutuskan bangkit lagi melanjutkan pencarian. Tidak boleh membuang-buang waktu lebih lama.
Kali ini ia berjalan tanpa arah dengan tenaga melemah, menemukan dirinya berada di sebuah tempat arena. Dari depan terlihat seperti bangunan arena olahraga, tapi ketika Fang memasukinya, dia menemukan puluhan— tidak, mungkin sampai ratusan— kendaraan yang terus bergerak mengitari arena. Beragam kendaraan yang pernah Fang lihat, dari yang berbentuk kapal angkasa kecil, mobil balap, bahkan ada yang serupa dengan motor di Bumi. Semua kendaraannya mengeluarkan polusi udara.
"Jari jemari bayang!" Seru Fang, mencoba menggunakan kekuatannya untuk menghentikan satu mobil. Mengerahkan sekuat tenaga untuk mendekatkan mobil itu padanya sampai akhirnya berhasil berhenti. Sekali lagi, tidak ada pengendaranya. Tapi Fang juga yakin, ada yang salah dari ini. Dia sekali lagi terbatuk-batuk karenanya.
Jenisnya mobil berbahan bakar batu bara, sungguh teknologi yang terbelakang dibandingkan kendaraan alien yang ia tahu kalau belakangan ini bisa dengan mengandalkan cahaya. Dia juga menemukan beberapa koran di bawah joknya yang lapuk termakan waktu.
'Percobaan Pabrik Kendaraan Untuk Masa Depan Yang Cemerlang!' menjadi judul pertama artikel koran tersebut. Enggan membuang waktu, Fang hanya fokus membaca satu paragraf yang ditebalkan. Di sana tertulis kalau korban jiwanya sampai 8.100 jiwa, dengan sisa 200-an alien yang mengungsi ke planet lain.
Halaman selanjutnya dari koran tersebut Fang menemukan judul artikel lain, 'Penghapusan Nama Planet: Tempat Ini Adalah Kegagalan'. Fang menatapnya tajam. Matanya sendiri masih mencari nama 'OksiBot'.
Dicobanya menghubungi BoBoiBoy, namun kawannya tidak menjawab. Ia menendang lampu belakang mobilnya dengan jengkel. Tepat saat itu, datang komunikasi hologram dari Komander Koko Ci. "Fang! Syukurlah kamu masih menjawab. BoBoiBoy ada bersamamu?"
"Tidak ada." Jawab Fang lugas.
"Untuk misi ini kamu boleh saja mundur. Saya sudah tidak mewajibkan kamu menemukan OksiBot karena sinyal keberadaannya sudah hilang. Terlebih kamu maupun BoBoiBoy sudah tiga hari tidak menjawab panggilan!" Perkataan Komander Koko Ci cukup mengejutkannya. Berarti selama tiga hari pula dia pingsan.
Komunikasi dari hologram diputuskan. Fang terdiam memandang seluruh kendaraan yang masing tetap memutar arena, terkecuali satu mobil. Pabrik-pabrik. Tidak ada tanaman. Berita korban di koran. Komander Koko Ci tidak melarangnya maju, hanya membolehkannya mundur.
Kali ini..... Dia ingin melakukan sesuatu untuk planet ini. Melihat jumlah korban membuat perasaannya pedih. Firasatnya juga buruk tentang BoBoiBoy, merasa harus mendapatkan OksiBot. Dengan tekad kuat, Fang kembali berbalik, kali ini pergi ke arah pintu keluar.
Dia tidak sengaja menangkap adanya alien yang terbaring lemah, perawakannya seorang pria mirip manusia seperti dirinya, namun berambut putih, kulitnya amat pucat. Diputuskannya untuk mendekati alien tersebut. Alien pertama yang ditemukannya di planet ini.
Fang mengernyitkan dahi. Menemukan ada kacamata bulat bening yang tergeletak di sebelahnya.... Tidak, bukan kacamata biasa, tapi kacamata yang fungsinya seperti mikroskop. Benda yang terkenal di kalangan alien ilmuwan, sempat membuat BoBoiBoy dengan wujud Solar itu tertarik.
Dengan hati-hati, Fang meletakkan visor miliknya di saku, memungut kacamata mikroskop itu, memakainya. Dia tidak sempat bangkit berdiri, terkejut dan gemetar melihat kandungan udara yang tersebar. Bahan-bahan kimia yang Fang pernah kenal dari Bumi. Nitrat, sulfat, logam berat. Partikel-partikel yang bagi manusia atau bahkan dirinya yang menyerupai manusia..... tidak dapat disaring dengan benar dalam tubuhnya....
"BoBoiBoy!" Fang yang diserang rasa panik, mencoba menghubungi kawan dekatnya melalui jam kuasa. Nahasnya lagi-lagi tidak terjawab. Fang mendesah terduduk lelah di tanah. Pandangannya kosong ke atas langit.
Alasan Fang tidak tahu kalau ia sudah tiga hari di sini.... karena planet ini terlihat kelam akibat polusi udara yang tersebar.... Dan semakin kelam saat malam.
Alien yang berjarak sekitar kurang dari satu meter darinya itu terbangun. Fang meringis, mengembalikan kacamata tersebut, sesaat setelahnya merasa perih di mata seperti diserang oleh partikel udara, buru-buru memakai visornya.
Tidak ada kata yang terucap, tapi alien tersebut menunjuk ke arah langit. Berkali-kali. Fang menengadah, mengikuti maksud yang ditunjuk olehnya. Didekatinya si alien dengan hati-hati, mencoba membuatkan masker dari kuasa bayang untuknya.
"Nak, kekuatanmu mirip udara ini. Lalu kamu perlu pergi ke langit dengan kakimu sendiri, tanpa kapal angkasamu itu. Terima kasih, tapi aku sudah nggak perlu masker." Ucap si alien dengan suara serak. Baru saja Fang hendak angkat bicara, tapi alien bersurai putih itu menghembuskan napas terakhirnya.
Fang meremas tangan kanannya kuat-kuat. Dia akan mengubur alien ini dengan layak setelah menyelesaikan tugas misi sebagai rasa terima kasih. Nah, sekarang..... Fang harus menyelesaikan misi pencarian power sphera oksigen— OksiBot— di planet penuh polusi bersama BoBoiBoy.
Fang mendengus dingin. Dia sudah mencari OksiBot di daratan tapi sekarang harus ditemukan di atas langit. Fang merebahkan diri ke tanah, menghilangkan masker bayangnya, merasa lelah membuatnya.
Dia benar-benar ingin menyelesaikan misi ini..... Demi BoBoiBoy.... Lalu..... Demi menjaga senyum Ibunya.... Orang tuanya yang telah tiada....
-0o0-
BoBoiBoy memilih bertukar menjadi Taufan untuk meringankan perasaannya. Sebenarnya dia sendiri sudah merasakan firasat buruk yang kuat semenjak menginjak planet itu. Dan dilihatnya Fang juga merasakan hal yang sama. Dia merasa seperti.....
..... planet ini adalah planet terakhir yang dilihatnya dengan mata sendiri. Maka, BoBoiBoy menyarankan mereka agar berpisah karena tidak mau Fang menyaksikannya menderita.
Taufan mencoba mengeluarkan kuasa pusarannya untuk menghalau udara yang terasa kotor, tapi sayangnya dia tidak berhasil. Malah udara sekitarnya semakin memburuk.
"Uhuk! Uhuk!" Ia terbatuk-batuk, langsung merasa pening. Nyaris oleng dari skateboard, Taufan segera menyeimbangkan tubuhnya. Merasa harus segera menyelesaikan misi penyelamatan power sphera, Taufan bertukar menjadi Duri.
"Biar aku tanam sesuatu di tanah!" Seru Duri cerah, mengeluarkan sulur berduri pada tanah. Sayangnya kekuatannya tidak berhasil di tanah, seketika layu. Duri termenung murung melihat tanahnya yang kotor. Tapi emosinya kembali ceria, lima menit setelahnya, mengubah dirinya menjadi elemen ketiga.
"Tumbukan Gempa!" Seru Gempa. Sayangnya sekali lagi kekuatannya tidak terlalu bagus, campuran udara kotor dan tanah yang sudah semakin hancur, ikut menghancurkan tumbukannya. Rasanya sekitarnya juga kering sekali. Seperti butuh unsur air.
"BoBoiBoy Ice! Ice pembeku!" Ucap sang elemen Ice, mengarahkan pada sekitarnya. Yang memilukan, kekuatan itu segera menguap ke udara dan mencair dari tangannya. Ice tertunduk syok, menatap nanar kedua tangannya.
Kali ini ia memutuskan bertukar menjadi tiga kuasa yang dirasanya paling cocok bertahan, yakni Halilintar, Blaze dan Solar. Dan pilihan kali ini tidak salah. Ketiganya mulai melangkah sembari memerhatikan sekitar, kalau-kalau menemukan OksiBot.
"Planet ini berpolusi udara tinggi." Sahut Solar dengan nada serius. "Kandungan udara di sini bukan sekedar udara biasa, tapi ada 'particulate matter', singkatnya PM. Tepatnya diameter dua koma lima, partikel yang sangat kecil."
"Bagaimana kamu bisa langsung tahu, Solar?" Tanya Blaze antusias dengan penjelasannya. Sementara Halilintar acuh tak acuh, menyuruh mereka untuk tidak membuang-buang waktu dengan bercakap-cakap.
"Halilintar, yang kubicarakan ini penting. Bagaimana aku bisa tahu? Kalian lihat bangunan di sana?" Solar menunjuk ke arah sekitar 500 km dari tempat mereka ke arah selatan. Blaze maupun Halilintar yang dirangkul Solar, mengikuti arah pandangannya. Tidak terlalu terlihat jelas karena sekitar mereka yang udaranya kotor, tapi.....
..... Rasanya ada bangunan di planet yang menurut Komander Koko Ci tidak berpenghuni ini. "Berarti seharusnya ada penghuni." Halilintar menyimpulkan.
Solar menggeleng. "Enggak, informasi dari Komander Koko Ci sudah benar. Tempat itu adalah pabrik, dan dilihat dari udara yang mengepul dari cerobongnya, kemungkinan pabrik batu bara. Tapi sudah nggak berpenghuni dan nggak boleh mendekatinya."
Blaze menatap bangunan itu tajam. "Jadi planet ini ditinggalkan orang-orang karena terlalu banyak polusi! Dilihat dari sekitar kita juga tanahnya bahkan tercemar!"
"Tepat! Jadi tempat ini cocok disebut....." Solar berpikir keras, hendak membuatkan nama baru, tapi soal pembuatan nama bukan keahliannya.
"'Planet Polusi'!" Sambar Blaze riang, merasa telah mendapat ide terbaik. Solar mencebik, merasa jengkel dengan berpikir kalau ide Blaze kali ini terdengar cukup bagus di telinganya. Halilintar menatap keduanya dengan raut serius. Mereka malah membuang waktu!
"Sudahlah, biar aku saja yang keliling." Halilintar sudah menyikut Solar, tak butuh waktu dia segera pergi dengan gerakan kilat. Solar bersedekap melihatnya. Dia berpikir kalau Halilintar punya tekad kuat yang hebat, tapi menurutnya itu salah langkah jika langsung pergi tanpa memerhatikan lingkungan sekitar.
Blaze merangkulnya akrab. "Solar, kamu ada pemikiran tentang keberadaan OksiBot? Supaya kita nggak perlu pergi ke tempat yang bodoh." Pertanyaan dari Blaze membuat senyum Solar mengembang lagi. Merasa senang bisa sepaham dengan Blaze.
Tentu saja ia punya hipotesis. Sepanjang Solar memerhatikan planet ini, OksiBot memang belum terlihat, tapi ada tempat yang bisa jadi kemungkinan letaknya. "Di dekat kapal angkasa Fang."
"APA?!" Seru Blaze tak percaya. Sudah jauh-jauh pergi ke tempat ini, tapi OksiBot ditemukan di sana?!
"Lelucon saja." Solar menyeringai, terkekeh-kekeh sementara Blaze kini menatapnya dengan emosi kuat berkobar-kobar. Tapi Solar juga tidak mengatakan tanpa berdasar. "Tapi aku juga sungguh-sungguh. Enggak ada satupun dari kita yang berusaha mencarinya di sekitar sana, bahkan Fang juga. Bisa itu di sisi depan, samping, atau belakang. Hanya itu tempat yang terpikir di kepalaku."
Dan tak butuh lima menit, Blaze sudah berlari ke arah yang berlawanan, berkata kalau dirinya akan segera pergi mengecek tempat itu. Tepat setelah kepergian Blaze, Halilintar datang mendekatinya. "Aku menemukan koran di sebuah bangunan lain. Tapi masih nihil tentang OksiBot."
Solar menerima koran tersebut dan fokus membacanya. "Bangunan apa itu?"
"Semacam arena kendaraan, anehnya semuanya terus-menerus bergerak dan semua kendaraannya mengeluarkan asap." Jawab Halilintar, terduduk lelah di tanah.
Artikel-artikel tentang pembuatan pabrik tertulis di sana. Sesuai hipotesis Solar, ada pabrik batu bara. Tidak hanya itu, ada pabrik kendaraan, pabrik pembangkit listrik.... "Planet Polusi juga cocok disebut Planet Pabrik..." Gumam Solar.
"Kamu serius menyebutnya 'Planet Polusi'." Halilintar mengerutkan kening menatapnya. Solar tidak menjawab, masih fokus membaca. Tertulis berbagai macam penyakit pernapasan di koran itu. Mirip seperti penyakit-penyakit di Bumi.
Dia menyentuh dadanya dengan tangan kiri. Keringat dinginnya bercucuran. Diliriknya Halilintar yang masih sibuk mengatur napas. Planet ini membuat Solar merasa melemah. Makanya ia tidak seberusaha keras seperti Halilintar atau Blaze yang mengeluarkan tenaga, sebagai gantinya, otaknya yang berpikir keras.
"Banyak warga alien planet ini yang pergi ke Negeri Langit." Ucap Solar lirih, membaca tulisan artikel terakhir. Di sana tertulis kalau OksiBot datang terlambat, itu pun pasokan oksigennya hanya keluar setelah lima ratus tahun mengisi dayanya sendiri. Kapan terakhir OksiBot digunakan?
Blaze datang sekitar empat puluh menit setelahnya, dengan tubuh penuh peluh. Memeluk sebuah power sphera berwarna putih polos. "Solar, hipotesismu benar! Aku menemukan OksiBot di belakang kapal angkasa Fang, tapi kondisinya sangat kotor sekali, jadi aku membersihkan dulu di dalam kapal angkasa."
Mengapa kamu sampai melakukan hal bodoh begitu? Namun Solar menelan pertanyaannya bulat-bulat, fokus pada OksiBot yang diberikan Blaze. Telinganya tidak sengaja menangkap pernapasan Blaze yang terdengar bunyinya. Ah.... Tidak hanya Blaze, tapi juga.... Halilintar maupun dirinya.
"Alasan aku mencoba membersihkannya karena dadaku sesak mencium debu pekat di OksiBot," kata Blaze meringis seolah tahu apa yang dipikirkannya, menggaruk tengkuknya. Solar ikut terduduk lesu. Jangan-jangan....
Diperhatikannya OksiBot yang masih tidak mau menyala setelah ditekan tombol 'start'. Ada warna merah yang bertulis angka '1603', yang Solar berpikir itu sebuah angka tahun. Berarti tepat empat ratus tahun yang lalu. Napasnya kembali tercekat tak beraturan. Lebih-lebih saat Blaze angkat bicara lagi, "Aku nggak bisa menghubungi Fang! Sudah empat kali nggak terjawab!"
Halilintar yang merasa gelagat Solar dan Blaze terlihat aneh, memutuskan untuk kembali bergabung semula. BoBoiBoy terduduk lemas membungkuk, merasakan kesesakan kuat di dada. Topinya sampai terjatuh ke tanah.
"Aku..... juga akan pergi ke Negeri Langit..." Gumamnya berkali-kali pada diri sendiri. Meraih OksiBot dengan tangan gemetar, menekan tombol yang sejak tadi berkedip-kedip hijau. Dia merasa kalau tombol itu adalah tombol tentang pemberitahuan sinyal keberadaannya. Kalau begini, cukup menjadi pesan pada Komander Koko Ci bahwa OksiBot telah ditemukannya.
Dia akan pergi ke tempat tujuan selayaknya kuasa anginnya. Dalam hati berharap Fang masih baik-baik saja. Dan BoBoiBoy akan senantiasa menunggunya di Negeri Langit, di depan pintu pembuka.
-0o0-
"Polusi udara di planet ini bisa dibentuk seperti bayang." Gumam Fang lirih pada diri sendiri. Dua puluh menit setelah beristirahat kembali bangkit berdiri dengan perasaan lebih ringan.
Kedua tangan Fang menjangkau langit hampa, memikirkan kalau dia memerlukan kendaraan yang bisa terbang.... Dia tidak boleh memilih sembarangan. Fang jadi tidak bisa memercayai ini.
"Awan terbang!" Serunya. Kendaraan aneh, tapi pasti berhasil terwujud oleh udara ini. BoBoiBoy dengan wujud Taufan juga pasti sudah terbang memilih mengangkasa, jadi dia tidak boleh membuang lebih banyak waktu lagi.
Dalam sekejap, terbentuk sebuah awan abu kehitaman di hadapannya. Fang berdecak kesal melihat kepekatannya awannya, namun dia tetap naik ke benda langit itu, memilih berdiri sembari bersedekap. Membiarkannya terbang, menembus udara sekitar yang semakin gelap dan pekat.
Di atas langit, Fang terhenyak kaget. Pemandangannya berbeda dari kapal angkasa yang hanya awan biasa. Tapi.... Ini seolah seperti ada negeri di atas awan dengan matanya sendiri. Planet ini terbagi dua tempat!
"Fang, kamu lama sekali!" Terdengar suara BoBoiBoy dari balik punggungnya, Fang mengikuti sumber suara. Kali ini BoBoiBoy dengan wujud Duri, melambaikan tangan sembari terkekeh geli melihatnya.
Fang mendekatinya, menginjak negeri di atas awan. Dia menatap pemandangan di depannya. Rasanya.... Seperti melihat tempat yang jauh berbeda dibanding sebelumnya.
Duri meringis, menggaruk pipinya dengan tangan kanan. Mendekatinya, berbisik, "Tadi aku nggak bisa menghubungimu, kita nggak boleh sampai terpisah lagi, ya?"
Fang mencebik. "Kamu yang sudah memisah lebih dulu," katanya, lalu Duri merangkulnya erat sambil tertawa. Mengatakan kalau mereka tidak boleh terpisah lagi. Tangannya sampai terasa gemetar. Fang terdiam melihatnya. "Kamu sudah menemukan OksiBot?"
"Belum, terus katanya mereka— para alien di Negeri Langit, di tempat ini— sudah membuang OksiBot di Negeri Daratan! Tempat kita mendarat tadi!" Celoteh Duri.
"Tapi misi tetap harus dilanjutkan di sini." Fang mengangkat alisnya, menatapnya tajam.
"....Mereka juga bilang aku nggak bisa bertemu denganmu lagi." Ucap Duri agak keras, bola matanya terlihat gelap tanpa cahaya dan tanpa senyumnya. Fang sesaat tertegun. Dia jarang melihat elemen BoBoiBoy yang periang tampak se-muram ini. "Kita lihat-lihat dulu saja Negeri Langit ini! Ayo Fang, aku sudah nggak sabar melihatnya bersamamu!"
Dia pikir misi ini main-main! Fang sudah memprotes, tapi Duri menariknya ke Negeri Langit. Melewati beberapa rumah penduduk yang indah.... Fang akui hal itu. Setiap rumah tidak sama, punya gaya yang berbeda-beda— mentereng yang terpandang olehnya.
Memang ada yang berbentuk rumah biasa seperti di Bumi, tapi mata Fang tak dipungkiri terpikat pada rumah yang daya tariknya kuat. Bangunan yang atapnya runcing, dindingnya gelap seperti ciri khas dirinya, punya corak-corak aneka bentuk hewan warna ungu di dindingnya.
"Tunggu, aku mau makan." BoBoiBoy yang rupanya bertukar menjadi Ice, berhenti di depan sebuah kios makanan yang menjual roti bakar. Fang mendelik tajam. Yah, tapi dia juga jadi ingin melihat-lihat Negeri Langit lebih jauh. Mungkin ada sesuatu yang bisa dibelinya.
Dia melirik ke arah kios yang letaknya dua bangunan dari kios makanan itu. Ada kios yang menjual donat lobak merah! Tanpa ragu, Fang mampir ke sana. Alien pemilik kiosnya berwajah ramah, berperawakan seperti manusia..... Mirip Ibunya. Fang menggeleng. Tidak mungkin dia bertemu Ibunya yang sudah tiada.
"Ah, saya nggak ada uang—" Fang tersentak, baru menyadari sesuatu yang terlupa. Ibu si pemilik kios tersenyum simpul, mengisyaratkan membuat sesuatu di langit. Fang terkesima, mengangguk mengerti.
Memikirkan wujud uang koin, dan terciptalah uang tersebut. Diserahkannya uang, lalu menerima donat lobak merahnya dengan mata berbinar.
"Terima kasih ya, Nak Prebet Pang."
Memang Fang pernah menyebut namanya? Terlebih nama aslinya! Baru saja Fang bertanya, Ibu pemilik kios menunjuk bajunya. Pakaiannya berubah.... Ini mengingatkannya pada pakaian saat dirinya masih kecil.
"Saya juga dari Planet Gogobugi." Balas si pemilik kios ramah. Fang terperangah sesaat. Hendak berbicara lagi, namun...
....bau donat lobak merah sudah menggiurnya, lantas membuat Fang langsung melahapnya. Bersamaan dengan BoBoiBoy menghampiri, kali ini berwujud Blaze. "Fang, ayo kita ke pasar malam! Tadi pemilik kios cerita kalau ada pasar malam sebentar lagi dibuka!"
Fang lantas mengangguk. Bagaimanapun, dia tidak pernah ke pasar malam di Bumi, mungkin akan menarik. Dan sepanjang perjalanan, dia bisa sambil mencari OksiBot.
Di pasar malam, Blaze mengajaknya bermain rollercoaster. Cukup membuatnya kesal saat Blaze menariknya ke sana, berpikir kalau wahananya mengerikan, tapi perasaannya ringan. Selesai bermain rollercoaster, Fang yang mulai merasa senang, menanti permainan mereka selanjutnya.
Selanjutnya giliran Taufan yang menarik Fang ke odong-odong. Dia sempat merasa malu untuk bermain ke tempat anak kecil, tapi Taufan sudah merengek. Pada akhirnya Fang akui kalau permainannya cukup bagus untuk mengusir kebosanannya mencari OksiBot.
"Istirahat saja dulu." BoBoiBoy yang bertukar jadi Halilintar, merasa tidak tertarik bermain. Fang terdiam, mengangguk mengiyakan. Mereka memilih tempat duduk yang tak jauh berada di pasar malam.
"Tapi aku nggak lelah." Sahut Fang ketika mereka duduk, memandang orang-orang yang berlalu lalang. Ada banyak sekali orang yang ditemuinya sejak tadi. Matanya juga masih tetap mencari-cari OksiBot di sekelilingnya.
"Aku juga." Balas Halilintar pendek. Fang menatapnya kesal. Lalu kenapa mengajak beristirahat?
"Aku mau mengajakmu bicara.... Bagaimana dengan teman-teman kita yang nggak ikut pergi ke tempat ini? Aku agak memikirkan tentang itu." Perkataan Halilintar seperti dapat menggelitiknya lembut.
Kalau hal itu.... Fang juga sudah memikirkannya. Sejak awal menjejakkan Negeri Langit. Yaya dan Ying disibukkan misi lain. Gopal dan Qually yang sudah menciut takut begitu mendengar tentang planet tanpa informasi ini, pada akhirnya mengikuti misi Yaya dan Ying. Komander Koko Ci juga tidak bisa ikut. "Mereka pasti merasa iri, lihat saja tempat se-indah ini. Suatu saat mereka bisa pergi ke sini."
Tidak, malah Fang jadi merasa yakin kalau mereka akan melakukan itu. Kenapa ya? Tempat ini membuatnya sentimental. Dibandingkan di Negeri Daratan yang penuh udara polusi, di Negeri Langit jauh bebas polusi, bahkan seluruh bagian tubuhnya yang kotor sudah tersapu bersih. Tidak perlu memakai masker bayangnya lagi. Ia benar-benar seratus persen serius.
"Kalau misi gagal? Apa kamu akan merasa menyesal sudah menjejakkan kaki di Planet Polusi?" Itu pertanyaan yang meluncur dari mulut Solar.
Gagal, ya..... Fang tidak pernah menyukai konsep gagal sepanjang hidupnya. Itu perasaan yang amat menjengkelkan, memilukan dan menyakitkan. Tapi.... Kali ini dia telah berjuang keras untuk itu, jadi dia tidak gagal.
"Enggak menyesal. Sekarang, di Negeri Langit, semua emosiku bisa lebih baik. Rasanya.... Aku kembali pada hal yang kurindukan...." Jawab Fang pada awang-awang, senyumnya terulas lembut.
"Begitu ya. Fang, kamu sungguh hebat." Ucap BoBoiBoy dengan wujud elemen Gempa, tersenyum simpul padanya. Memeluknya erat sekali, Fang balas mendekapnya. Dalam kedekatan itu, dia tidak merasakan denyut di dada Gempa..... Dan dirinya sendiri.....
Gempa mengajaknya untuk pergi dari pasar malam, ke tempat lain yang berada di sebelah utara dari sana. Sebuah bangunan yang tampak familier di matanya. Bangunan yang membuatnya terpikat di awal tadi! Bukankah mereka yang berada di depan bangunan itu..... Dua orang yang dirindukannya.... Ibunya... Kedua orang tuanya!
Lalu di sebelah mereka ada alien yang sama seperti telah ditemuinya di Negeri Daratan, dengan ekspresi wajah lebih hangat, tidak sepucat sebelumnya.... Ah... Sekarang Fang mengerti. Dilihatnya BoBoiBoy di sisi kanannya yang tersenyum cerah mengamit tangannya, kali ini bukan elemennya. Tanpa jam kuasa. Tidak hanya itu, dia sendiri juga tidak memakai jam kuasa. Sudah sejak awal ia pergi ke tempat ini dengan kakinya seorang diri saja.
Planet Polusi ini sudah menjadi tempat berharga baginya, meskipun Fang sampai merasa menderita, dia tetap menganggapnya berharga.... karena dapat mengantarnya pada hal-hal yang dirindukannya.
Hanya ia dan BoBoiBoy yang harus ke Negeri Langit, dengan kondisi 'spesial', sebagai anggota TAPOPS yang telah memukau dan pemberani. Untuk misi pencarian OksiBot sudah tidak perlu dilakukan, dan.... Senyum Fang telah terpatri cahaya lembut, cukup melepas kegelapan yang selama ini melekatnya.
"Fang, mulai sekarang kita akan tinggal di Negeri Langit bersama-sama. Untuk selamanya!"
-0o0-
(End)
