Actions

Work Header

Di Kamar Asrama

Summary:

Megumi mengatakannya ; kalimat singkat yang selama ini ia simpan hanya untuk diri sendiri. Kemudian kala hatinya meletup karena damba dan tangannya tremor karena putus asa, Megumi lepaskan semua— karena Yuuji memang pantas mendengarnya, pantas merasa paling dicinta.

Notes:

hello, sebelum membaca aku mau bilang kalo fic ini repost dari akun lamaku. dulu nulisnya di writeas tapi sekarang kepikiran post juga di sini untuk arsip dan kenang-kenangan juga soalnya akun twitter sama writeas lama aku gabisa diakses :(( anyway jangan lupa tinggalkan jejak! kudos dan komen sangat diapresiasi. selamat membaca ^^

Work Text:

Hangat kulitnya terasa terlalu ringkas lewat di sentuhan.

Namun, justru yang singkat tersebut yang Megumi butuhkan; karena itu saja sudah cukup. Ia tak punya keberanian untuk maju lebih jauh, tenggelam lebih dalam atau tahu lebih banyak. Ia hanya butuh seperlunya.

Wajah lelaki di hadapannya begitu damai. Lelap tidurnya kendurkan setiap kerut di wajah yang selalu hadir tiap ia kerjakan soal yang menurutnya sukar. Lucu, Megumi pikir. Tentu saja gagasan tersebut hanya akan Megumi simpan diam-diam, ia tak akan bilang hal tersebut keras-keras apalagi di hadapan pemuda Itadori tersebut.

Sebelah pipinya menekan bantal, satu tangannya mengepal dekatk dengan dada sementara tangan yang lain terbuka menghadap langit-langit. Iseng, Megumi sentuhkan kedua kelingking mereka berdua. Sedikit. Hanya sentuhan kupu-kupu. Tapi berhasil bikin perutnya beriak antusias. Kasmaran. Demi Tuhan, Megumi kerap bertemu dan pukul main-main sahabatnya yang satu ini tapi kenapa justru dekatkan kelingking buatnya jadi salah tingkah?

Sinting. Megumi cintai dia begitu sinting. Bukan hanya sikapnya yang hangat dan perangainya yang seperti mentari, bukan hanya tubuhnya yang kekar dan tenaganya yang kuat. Yang lain. Yang Yuuji lakukan hanya untuk Megumi seorang dan buat Megumi melayang karena merasa berarti untuk seseorang.

Megumi mencintai pria di hadapannya.

Seakan dipanggil, Yuuji seketika membuka mata dan bangun dari tidur telungkupnya. Ranjang bunker yang mereka tempati berderit akibat gerakan tiba-tiba penumpangnya. Secepat Yuuji bangun, secepat itulah Megumi menarik kelingkingnya kembali– menatap kaget kawan satu kamar asramanya.

“Tadi ngomong apa?” Tanyanya, nyaris menyentak. Megumi yang sama bingungnya mengerutkan kening, berpikir mungkin dia terbentur sesuatu sebelum tidur tadi atau malah mimpi sesuatu sampai melindur begini.

“Ngomong apa?”

Kerutkan kening, Yuuji betulkan posisi duduk sehingga kini sepenuhnya menghadap Megumi. Beri dia perhatian penuh. “Tadi loh lo ngomong sesuatu, gue cuma tidur-tidur ayam jadi denger.”

“Ya guenya ngomong apa dulu kan gak tau.”

“Bohong,” ujarnya, nyaris putus asa. Pandangan memelas dan suara merajuk buat Megumi lantas bangkit dari posisi berbaringnya ; menghadap Yuuji lebih dekat.

“Lo denger apa emang?”

Namun, pemuda tersebut tak menyahut apapun. Menunduk, tampak mengecil di hadapan Megumi buat pemuda berambut raven tersebut merasa bersalah. Apakah dia mengatakannya, kalimat yang terasa sudah di ujung lidah tapi tak juga ia ucapkan?

“Lo bilang…” Yuuji memulai, mengangkat wajahnya sehingga kini mata mereka bertemu. Manik karamelnya begitu melankolis untuk alasan yang Megumi tak bisa pastikan. “I love you.”

Yuuji yang mengatakannya, Yuuji yang menebak. Maka benar bahwa barusan Megumi loloskan kalimat tersebut tanpa sadar, tanpa kendali.

“I love you too.”

...mengatakannya bukan hanya membalas ucapan Yuuji tapi juga untuk memberitahu dirinya sendiri. Untuk membebaskan hatinya sendiri dalam kendalinya.

Suara tarikan nafas tajam berasal dari Yuuji, pun pupil yang membesar juga milik Yuuji. Butuh beberapa saat Megumi memproses bahwa Yuuji kini benturkan kening pada bahunya, buat punggung Megumi jatuh di atas linen sprei; turut undang deritan ranjang akibat pergerakan tuannya.

Megumi tertawa. Yuuji peluk pinggangnya begitu erat dan tindih dirinya tanpa peduli bahwa ia lebih kekar dan lebih berat dari Megumi. Namun begitu, Megumi tak keberatan. Ia balas pelukan sahabatnya sambil satu tangan usap rambut merah muda; elus setiap helainya dengan begitu telaten.

“Bilang sekali lagi,” pinta Yuuji, suaranya sedikit terbungkam dada Megumi.

“Bilang apa?”

“Yang tadi.”

“Yang mana?”

Yuuji bangun, lepaskan pelukan mereka. Hadapi wajah Megumi yang bibirnya berkedut berusaha menahan senyum.

“Pura-pura gak tau lagi, gue gelitik sampe mampus.”

“Sok aja toh gue juga– A-AMPUN YUUJI!”

Suara tawa menggema di seluruh penjuru kamar. Dalam kondisi biasa mungkin sekarang akan ada dua atau tiga orang menggebrak pintu mereka menyuruh mereka untuk diam. Namun, sekarang akhir pekan dan orang-orang pulang menuju rumah orang tua mereka atau sekadar pergi mencari angin di luar asrama. Baik Yuuji dan Megumi tak punya orang tua untuk dijenguk pulang dan mereka enggan keluar.

“Bilang, gak? Bilang!” Yuuji tanpa ampun gelitik kedua sisi pinggang Megumi. Dan, tentu saja, Megumi melawan. Namun jangan salahkan Megumi jika tenaganya kalah dengan Yuuji yang setara dua ekor gorila.

“IYA HAHAH IYA IYBILANG....UDAHAH… UDAHAN!”

Sore itu tak pernah Megumi nyana akan jujur perihal perasaannya pada Yuuji. Serius, ia bukan tipikal orang yang membagi apa yang ia pikirkan kepada orang lain. Tapi Yuuji... Yuuji yang membuatnya belajar untuk berterus terang, Yuuji membuatnya berpikir bahwa tak apa minta tolong ketika butuh bantuan, Yuuji membuatnya berpikir kalau selalu ada Yuuji di sampingnya ketika Megumi merasa bahwa ia sendirian.

Yuuji.

“Gue sayang sama lo.”

Bahkan nafas mereka masih compang-camping bekas perang gelitik barusan. Di atas ranjang teratas bunker asrama dengan keduanya sama-sama barusan mengeluh kelaparan tapi tak ada satupun yang ingin bergerak, Megumi mengatakannya; menyelipkan setiap melankolia yang ia punya ke dalam setiap kata-katanya.

I love you

I love you

I love you.

 

[FIN]