Actions

Work Header

Poisoned Apple (With a Love Potion)

Summary:

Hyunjin mengincar warisan Seungmin. Hyunjin mengunjungi penyihir untuk membuat Seungmin binasa. Hyunjin tidak ingin Seungmin binasa. Hyunjin mengincar Seungmin sekarang.

Notes:

Real suck at writing summary, tapi intinya ini percobaan pembunuhan yang gagal dan happy ending! Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

i. Pagi yang Cerah

Oh, untuk memiliki kulit sebening kristal yang berkilau layaknya berlian, pasti tak ada seorang pun di dunia yang tahu rasanya. Tak seorang pun, kecuali Hyunjin. 

Menatap wajah bangun tidur yang sudah secantik guci keramik, Hyunjin bersenandung kecil di depan cermin ajaibnya. 

“Cermin, oh, Cermin! Bisa kau katakan padaku siapa makhluk tercantik di muka bumi ini?”

Dia ada di mana-mana. Si Penghuni Cermin itu ada di mana-maan. Di kaca rias kamar Hyunjin, di cermin besar dekat walk-in closet, di kaca setinggi pintu kamar mandi, di mana-mana. Dia akan muncul di tempat yang sesuai dengan keinginan hati Hyunjin. Yang kali ini, di sebuah cermin megah di meja rias.

“Selamat pagi, Yang Mulia Hyunjin. Tidak ada yang berubah dalam dua puluh satu tahun terakhir. Yang Mulia Hyunjin masih menjadi makhluk tercantik di muka bumi ini.” 

Kalimat yang setiap pagi dia dengar, tapi setiap pagi juga dapat menjadi penentu cuaca hatinya di hari itu. Hari ini cerah merona, tak ada awan sedikit pun. Hanya ada matahari yang akan menerpa kulit cantik selembut sutra. Atau

Tidak.

Hyunjin mendecak keras (bukan untuk dicontoh karena ini perbuatan kurang beradab). Berita apa yang dia dengar barusan? Perihal seorang Pangeran dari negeri seberang yang sedang dalam perjalanan menuju istananya? Untuk meminang dia?

“Perjodohan? Hahah,” tawa Hyunjin. “Apakah aku ini terlihat semenyedihkan itu, Bun–

-da?”

Dunia sedang bercanda. Atau, minimal, ibunya sedang bercanda. 

Iya, 'kan? Haha. Pasti iya. 

Tawa Hyunjin menghilang seiring dengan keseriusan yang semakin nampak pada raut wajah Raja dan Ratu–Ayah dan Ibunya. Ia menghela napas dengan lantang, memastikan seluruh dunia mendengarkan bahwa dia dan jiwanya sedang tidak baik-baik saja. 

 

ii. Pangeran yang Sempurna

Ternyata Kim Seungmin yang dijodohkan dengan Hyunjin dari negeri seberang itu punya paras yang elok (ganteng, tidak cantik karena yang boleh cantik hanya Hyunjin). 

Tutur katanya baik, murah senyum, ramah kepada semua orang, dan juga merupakan pria yang cerdas dan punya wawasan luas (katanya). Seorang pria tanpa celah. Bahkan Hyunjin dengar, negara yang kelak dipimpin Seungmin pun belum punya kekurangan. Hyunjin baru tahu itu semua di pertemuan kedua saat ia berkunjung ke istana Seungmin.

Ah, di pertemuan pertama dia cukup kasar dan ogah-ogahan bicara dengan Seungmin. Pangeran Sempurna itu masih mau tidak, ya, bicara padanya?

Masih.

“Jadi di sini ada perkebunan anggur?” Hyunjin berkata, sambil menyeruput teh khas kerajaan Seungmin. Hamparan kebun labu sedang keduanya pandang dari gazebo kecil yang pilarnya dijalari tumbuhan rambat berbunga warna kuning. 

“Ada. Tiga hektar.” Seungmin tersenyum sambil menjawab Hyunjin. Dia senang melihat calon pasangannya itu membulatkan mata dan menatapnya penuh ketertarikan. Di pertemuan awal di istana Hyunjin, dia tidak begini. Seungmin merasa beruntung jadinya.

“Kalau kebun labu ini? Luasnya?”

“Kurasa hanya satu hektar, mungkin kurang. Dibanding anggur, labu tidak bisa laku dengan baik di sini. Mungkin orang-orang tidak terlalu suka teksturnya. Ah, tapi kalau memang kamu suka berkebun dan merawat tanaman, kamu bisa kok punya kebunmu sendiri nanti.”

Hyunjin ingin menangis detik itu juga. Satu, karena dia sebenarnya tidak mengerti perkebunan. Dua, karena dia akan dinikahkan dengan seorang putra mahkota sempurna tanpa celah yang juga punya perkebunan anggur dan labu, terutama anggur. Anggur sangat laku saat ini. Membayangkan keuntungan yang didapat pengusaha anggur sendiri bisa membuat Hyunjin sesak napas saking senangnya. 

“Kamu suka labu, nggak, Hyunjin?” tanya Seungmin.

Hyunjin mengangguk. “Aku suka uang.”

Uang, uang akan datang padanya. 

Uang akan datang padanya, apalagi jika Seungmin itu nanti sudah tiada. 

 

iii. Kematian yang Tidak Diinginkan

“Seungmin, seberapa besar rasa cintamu padaku?” 

Seungmin, entah kenapa, cepat sekali terbiasa dengan perilaku Hyunjin yang mengundang banyak tanda tanya. Sehari setelah menikah, Hyunjin berkata pada Seungmin bahwa dia biasa bangun jam tiga sore dan meminta Seungmin untuk maklum, yang padahal pagi itu Hyunjin bangun jam delapan pagi–dan sampai sekarang Seungmin belum menyaksikan fenomena bangun sore. 

Pagi sebelumnya, suaminya itu meminta Seungmin untuk memasak bubur agar bisa ia santap; yang padahal koki istana selalu memasak untuk mereka dan Seungmin sama sekali tidak pernah memasak. Jadi, ketika pagi ini dia mendapat pertanyaan yang di luar kebiasaan mereka, dia sudah bisa maklum. 

“Lebih besar daripada kamar milikmu,” jawab Seungmin asal. Dia tidak pernah masuk ke kamar Hyunjin, tapi si laki-laki yang satu lagi sering menyebut kamarnya besar. 

Hyunjin cemberut. “Kenapa tidak lebih besar dari istana milikmu?” Si rambut panjang itu protes dari tempat tidur. 

Dengan cepat, Seungmin menyusul, mendaratkan pantat di sebelah Sang Penanya. “Lebih besar dari negaramu,” kata Seungmin, kemudian merangkul Hyunjin. 

Cermin besar di depan tempat tidur menampilkan sosok mesra sepasang pengantin baru. Seungmin menatap Hyunjin penuh cinta dan mencium pipinya.

Manis.

“Terus kamu, mau nggak mati buat aku?”

Tatapan Seungmin berubah drastis. Pria itu menarik kepalanya menjauh. Dahinya berkerut bingung. “Kenapa mati?” tanya Seungmin.

Hyunjin menoleh. “Nanya aja. Kamu mau, nggak?”

Yang kali ini Seungmin sama sekali tidak mengerti karena tatapan Hyunjin tak cerminkan komedi.

“Nggak.” Seungmin menjawab tegas.

Hyunjin nyengir. “Hehe. Oke–aduh.” Kemudian mengaduh ketika Seungmin mencubit dan menarik pipinya dengan keras. 

“Laki-laki kecil, aneh, manja, ceroboh kayak kamu gini siapa yang jaga kalau aku mati?” omel Seungmin. 

“Aku bakal jadi duda keren, tau. Pasti ada yang mau menikah sama aku,” terang Hyunjin, menepis tuduhan-tuduhan Seungmin yang menurutnya sembarangan, padahal sebenarnya memang benar.

Pipinya ditarik lebih kencang lagi.

“Nggak!” tegas Seungmin sekali lagi. 

“Aduh, iya iya! Ampun! Tapi aku boleh, nggak–”

“Nggak!” tegas Seungmin untuk terakhir kali sebelum dia cium bibir Hyunjin agar laki-laki itu tidak berisik lagi. "Jangan berisik."

*Sial, aku mau minta warisan kenapa malah dicium,* pikir Hyunjin yang kemudian ditelan besarnya perasaan cinta melalui kecupan Seungmin.

 

iv. Mata Harimau yang Tajam

Perasaan Seungmin tidak tenang lantaran perburuan kali ini tidak diawali dengan berpamitan. Sebelum berangkat tadi, dia sudah mencari Hyunjin ke mana-mana dan bertanya kepada setiap pelayan yang ada, tapi nihil. Hyunjin tidak di istana. 

Dengan hati yang gundah, laki-laki itu berangkat saja melakukan rutinitas berburunya. 

“Pangeran, sebaiknya kita tidak berpencar kalau ke hutan yang ini. Beberapa penduduk desa tadi bilang kalau ada harimau yang sedang turun gunung.” Salah seorang rekan berburu Seungmin dari istana memberi tahu Seungmin soal berita yang baru saja dia dapat. 

Namun, Seungmin tidak acuh. “Lakukan saja seperti biasa. Aku sedang tidak punya keinginan untuk memikirkan rencana baru. Itu–” Seungmin menunjuk tas penuh anak panah di pundak rekannya, “pakai saja, jangan mau kalah.”

Seperti yang Seungmin bilang, kemudian mereka berpencar layaknya perburuan biasa. 

Keputusan yang salah. 

Di dekat danau tempat ikan berkerumun, mata Seungmin bertatapan langsung dengan kilatan kehitaman yang lebih dalam daripada lautan. Dia bertatapan dengan sepasang mata harimau. Pangeran itu mengatur napas, sebisa mungkin mengendalikan kudanya agar ikut tenang dan tidak bertindak gegabah--tiba-tiba lari contohnya. Harimau yang dilihatnya masih menatap keduanya tajam saat Seungmin pelan-pelan meraih belati di pinggang belakang. 

"Oke, Popim," bisik Seungmin pada kudanya, "satu langkah ke belakang lalu bertahan, ya." 

Itu adalah saat-saat menegangkan. Seungmin dan si Harimau sama-sama memancarkan aura pemburu yang kental. Udara terasa sesak dan panas, walau dia sudah berusaha tenang.

Aba-aba diberi pada Popim si Kuda dan kuda itu mundur satu langkah ke belakang dengan cepat, membuat harimau melakukan refleks predatornya dan melompat ke arah Seungmin dan Popim. 

Beruntung, Seungmin tidak pernah bolos latihan perburuan dan memang sangat mahir menggunakan belati. Dihunuskan benda tajam itu tepat ke leher si Harimau, kemudian dihempasnya hewan berbobot seratus lima puluh kilo itu ke kanan. 

Menabrak batang pohon, kemudian si Harimau terkapar tak berdaya di tanah. 

Seungmin menghela napas. Bahunya sakit, tapi tidak dihiraukannya. Dia turun dari Popim, kemudian memeriksa si Harimau. Tadinya ingin membawanya pulang, tapi begitu Seungmin kenali tali bermanik yang menyangkut di gigi harimau itu, ia berubah pikiran. 

Berjongkok lah si Pangeran untuk memungut tali tidak asing dari tanah dekat mayat harimau. Begitu yang dilihatnya benar sebuah gelang, seketika keringat dingin mengaliri pelipisnya. 

Tanpa basa-basi, Seungmin kembali naik ke Popim dan membuat kuda itu berlari sekencang mungkin kembali ke istana.

*♛♡♛♡♛♡*

Jantung Seungmin akhirnya diberi waktu istirahat saat dirinya jatuh terduduk di depan pintu klinik istana. 

Hyunjin sedang duduk di tepi ranjang, tertawa dengan suster yang sedang mengobati luka di pergelangan tangannya. Begitu melihat Seungmin terduduk dengan wajah pucat pasi, tentu keduanya langsung panik. 

"Seungmin, kenapa?" Hyunjin berjongkok di depan Seungmin, tak peduli bahwa luka di tangannya belum selesai dibalut. "Kenapa? Ada yang sakit?" Matanya membulat, memperhatikan tubuh Seungmin yang masih utuh tanpa luka. 

Semua terjadi begitu cepat. Yang Hyunjin tahu, dia sudah dipeluk erat. 

"Kaget, kukira kamu ke mana. Aku cari kamu tadi," kata Seungmin pelan sambil memejamkan mata di kehangatan badan Hyunjin. 

Dada Hyunjin berdegup tak karuan. Satu, karena dia kaget Seungmin masih hidup. Dua, karena dia takut Seungmin tahu bahwa dia telah memberikan gelang berbau Seungmin pada si Harimau. 

"Kamu bau keringat," kata Hyunjin. "Sebentar lagi mandi, ya."

Seungmin mengangguk.

 

v. Akibat yang Mencurigakan

"Tangan kamu kenapa?" tanya Seungmin, meraih pergelangan tangan kanan Hyunjin yang diperban. 

"Tadi panen labu, kena ranting-ranting, batu-batu, sama serangga juga. Makanya diperban, hehe." 

Seungmin tidak mengangguk. Dia menatap Hyunjin bingung. "Kenapa dipanen? Kan baru dua minggu? Bukannya baru bisa dipanen setelah satu bulan?" 

Hyunjin menarik tangannya dari genggaman Seungmin kemudian berlari kecil ke tempat tidur, menenggelamkan dirinya di balik selimut. Setelahnya, dia menepuk titik di sampingnya sebagai isyarat agar Seungmin ikut bergabung. "Kamu tadi belum ceritain ada apa di perburuan kamu. Kok bisa kamu kelihatan pucat dan capek gitu?" 

Alih-alih menyusul Hyunjin yang berbaring manis di tempat tidur, Seungmin pergi ke arah meja samping lemari dan mengambil potongan gelang yang diambilnya dari gigi harimau. 

"Punya kamu bukan?" tanya Seungmin. 

Mata Hyunjin membulat sempurna, seakan telah ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang. "Iya, Sayang. Hadiah dari aku buat kamu bulan lalu, kan?" jawabnya penuh keraguan hingga justru muncul pertanyaan.

"Aku menemukan ini tersangkut di gigi harimau. Kamu pikir coba siapa yang nggak kaget setengah mati? Mana sebelum berangkat nggak ketemu kamu." Seungmin meletakkan gelangnya di tangan Hyunjin.

"Kamu ketemu harimaunya? Terus? Kamu nggak apa-apa? Harimaunya? Ke mana?" tanya Hyunjin tak sabar. 

"Aku nggak apa-apa. Aku sama Popim udah biasa ketemu hewan buas di hutan. Harimaunya udah mati aku tusuk belati. Di giginya ada gelangmu, makanya aku takut banget. Mungkin jatuh di deket hutan gitu, ya, terus dia makan?" terang Seungmin sambil bergerak memeluk kepala Hyunjin. "Aku takut kamu kenapa-napa."

"Harimaunya … mati?" ulang Hyunjin, hilang fokus. Entah karena wangi sabun Seungmin yang bercampur dengan bau tubuh dan jadi memabukkan, atau karena Hyunjin memikirkan hal yang lainnya. 

"Sayang, padahal coraknya bagus." Hyunjin bergumam sambil membalas kasih sayang Seungmin dengan memeluk pinggang yang lebih muda.  

 

vi  Putri-putri yang Cantik

"Itu … Siapa?" Hyunjin mengerutkan dahinya lama, hingga tak sadar bahwa itu bisa membentuk kerutan di paras cantiknya–yang dia sama sekali tak inginkan. 

"Cleopatra dan Nyxia." 

Nama yang asing yang tidak pernah Hyunjin dengar sebelumnya. Siapa? Para putri? Kenapa sedang berjalan dengan Seungmin? Kenapa wajah Seungmin sumringah? Kenapa wajah para putri itu muncul di cermin ajaib saat Hyunjin menanyakan paras tercantik?

Kenapa kepala Hyunjin sekarang berputar dan membuatnya mual? 

Enggan mendengar atau pun melihat adegan yang membakar hatinya lebih lama, pangeran cantik itu bersiap-siap dan mengganti bajunya dengan baju jalan-jalan ke desa. 

Kim Seungmin itu rupanya main-main dengannya. Hyunjin bersumpah dia akan memusnahkan pria itu dan merebut tahta beserta seluruh hartanya. 

*♛♡♛♡♛♡*

Dengan percaya diri, Hyunjin menyajikan semangkuk potongan apel untuk suaminya makan sambil melihat langit sore di gazebo di taman. 

"Hyunjin-ku Sayang," panggil Seungmin lembut, "tadi ada Cleo dan Nyx, sepupu-sepupuku dari negeri barat dan timur. Mereka mau kenalan sama kamu, tapi tadi kata pelayan kamu lagi jalan-jalan ke desa." 

Deg. Sepupu

"Ooh …." Hyunjin melirik piring kecil berisi apel yang untungnya belum disentuh Seungmin.

"Terus? Mereka masih di sini?" Pelan-pelan, Hyunjin menarik kembali berisi apel-apel yang sudah ia potong. 

"Sudah pulang," kata Seungmin, "Sayang, aku mau apelnya." Sambil menunjuk piring yang ditarik kembali oleh suaminya. 

Namun alih-alih menyuapkan apel ke mulut si Ganteng, tangan Hyunjin bergerak melempar piring itu seisinya ke halaman. Apel-apelnya jadi tercecer di bawah. Sambil melakukan itu, sambil Hyunjin menatap wajah Seungmin dengan senyum tak berdosa. 

"Hyunjin?!" Seungmin memekik kaget. "Kok buang-buang makanan?" Dia melongok ke apel-apel yang jatuh tak jauh dari gazebo. 

"Hehe." Hyunjin terkekeh, "maaf. hasrat impulsifku menang."

Seungmin hanya bisa menatap tidak percaya. Ia bahkan terlalu bingung untuk mencerna semuanya.

Hyunjin menelan ludah. "Aku ambilin lagi ya, sebentar." Ia berkata kemudian melesat pergi ke meja beberapa meter di belakang gazebo. 

Melihat kembali potongan apel di tanah, Seungmin menyadari sesuatu dan menghela napasnya. 

 

vii  Penyihir yang Kebingungan

Seungmin menghela napas saat dia lihat bekas rumput yang terbakar dan bercak-bercak hitam saat potongan apel yang dilempar Hyunjin mendarat ke tanah. 

Suamiku ini … benar-benar ingin membunuhku, ya?

*♛♡♛♡♛♡*

"Dengan ramuan ini, nanti Pangeran Seungmin akan tersiksa dan sakit selama satu bulan penuh hingga akhirnya meninggal."

Hyunjin menggeleng. "Tidak. Tidak boleh tersiksa dan sakit." 

"Kalau begitu, pakai racun yang warna kuning."

"Warna kuning ini ada sianida, ya? Dia langsung mati tanpa bisa berkata apa-apa sebelumnya? Tidak mau." 

Sang Penyihir yang duduk di depan hyunjin menurunkan bahu yang sebelumnya antusias. "Yang … ketiga? Khasiatnya membuat dia jatuh miskin sehingga–"

"MANA BOLEH BEGITU! DIA TIDAK BOLEH JADI MISKIN."

"Haaah." Penyihir itu membuang napas dengan lelah. "Baik. Karena tadi katanya anda sedang cemburu karena Pangeran bertemu dengan para wanita, ramuan ini akan membuatnya terlihat jelek dan–"

"JANGAN." Baru saja Hyunjin mengulurkan tangan untuk menerima botol hitam, tangannya sudah ditarik lagi. "Aku tidak mau punya suami jelek. Seungmin sudah sangat tampan dan sempurna untuk jadi suamiku." 

"Baik, tolong berikan instruksi yang jelas kalau begitu. Apa yang mau anda lakukan pada suami anda dan apa yang tidak boleh saya berikan?" 

"Aku mau harta seungmin, yang pasti akan lebih banyak jatuh ke tanganku setelah dia mati. Jadi aku ingin dia mati–sebentar."

Hyunjin terdiam. Dia memikirkan apa saja peluang yang bisa terjadi tatkala Seungmin terkena sihir nanti--yang kemungkinan bisa membuatnya rugi.

"Pokoknya dia tidak boleh jatuh miskin, tidak boleh sakit, tidak boleh jadi jelek, tidak boleh menderita. Dia harus bisa beri surat wasiat dan titah agar hartanya jatuh padaku tanpa aku harus jadi raja, jadi dia tidak boleh mati begitu saja." 

Penyihir itu juga bingung kenapa seorang pangeran seperti Hyunjin begini repot-repot datang ke tempatnya, padahal pada dia tahu kalau pangeran itu sebenarnya cinta dengan Sang Suami. Bukan urusannya, bukan urusannya. 

"Potong apel ini jadi tujuh bagian, buang tangkainya, sajikan di piring berwarna putih. Kalau apel ini dimakan sebelum matahari terbenam, Pangeran Seungmin akan demam tinggi dan meracau di malam harinya. Anda tanyakan saja soal warisan dan lain-lain saat itu. Paginya, dia akan mati keracunan. Sudah. tanpa rasa sakit berlebih dan masih ada waktu untuk berbicara juga." 

Wajah hyunjin sumringah. "Ini dia!" Dia bayar jasa si penyihir itu, kemudian melakukan seperti yang disuruh. 

Perkara akhirnya apel itu dia buang, Hyunjin tidak punya alasan lain selain karena dia ternyata suka mendengar nyanyian seungmin di kamar mandi dan senandungnya saat mencoba buat Hyunjin tertidur di malam hari. Kalau tangannya itu sungguh membinasakan Seungmin, muingkin dia akan kesepian.

Dia suka harta seungmin–ya, memang fokus utamanya selama ini. Namun, ternyata dia lebih suka kalau harta itu dia nikmati bersama senandung kecil dari Sang Suami.

 

viii. Akhir yang Tak Terduga

Hyunjin tergopoh dan bergegas di lorong istana. Jalan cepat, tak lama kemudian berlari.

Jam segini, biasanya Seungmin sudah mau berendam di pemandian. Biasanya, Seungmin akan membangunkan Hyunjin dan pergi bersama. Namun, sepertinya hari ini seperti pagi yang kebanyakan di mana Hyunjin susah dibangunkan. 

“Jangan mandi dulu.” 

Begitu melihat sosok Seungmin sudah bertelanjang dada, Hyunjin mencekal tangan si laki-laki. “Jelaskan ini dulu. Ini apa?” Tangan kirinya mengangkat sebuah perkamen kecoklatan yang terukir tulisan dengan tinta berwarna kopi. 

“Oh. Surat cerai?” Seungmin jawab dengan ragu, tapi santai.

“Kenapa ada namaku dan namamu?” tanya Hyunjin lagi. Matanya berkaca-kaca menatap mata Seungmin yang santai. 

“Cari saja orang yang lebih baik,” kata Seungmin.

“... Hah?” 

“Jangan menikah dengan orang yang tidak bisa membuatmu bahagia, Hyunjin,” kata Seungmin lagi. 

“Ini ada apa, sih? Dari kemarin bukankah hubungan kita baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba–”

“Kenapa kamu ingin membunuhku? Kamu ini suruhan siapa?” Seungmin menyela kalimat Hyunjin yang sarat akan pertanyaan.

“Aku …” Lidah Hyunjin kelu. Kenapa Seungmin bisa tahu? namun, itu kan tidak benar-benar jadi dia lakukan.

“Harimau di hutan, anak panah yang ditumpulkan, kereta ke desa yang remnya blong. Itu semua perbuatanmu, kan? Yang terakhir, apel beracun kemarin? Aku ini salah apa, Hyunjin?”

Cekalan di pergelangan tangan berubah menjadi gengaman pada tangan Seungmin. “Maafkan aku.”

Seungmin menghela napas. Dia menarik tangannya, kemudian ambil kemeja yang tersampir di bangku. Dia pakai lagi baju itu, kemudian berkata, “jelaskan di depan keluarga kita.”

Ah, habis sudah Hyunjin. 

*♛♡♛♡♛♡*

Ternyata, tanpa sepengetahuan Hyunjin, Seungmin telah menghubungi orang tua Hyunjin dari istana mereka untuk datang ke tempat Seungmin. Kini di ruang makan, telah berkumpul para orang tua dari sepasang Pangeran itu. Pengawal dan pelayan semua diperintahkan untuk keluar istana. 

“Kami sangat-sangat meminta maaf apabila anak kami telah melakukan hal yang berdosa. Kami siap dengan hukuman yang akan disepakati Pangeran Seungmin dan Raja Kim nantinya.” Ayah Hyunjin mulai membuka suara. 

Raja Kim terbatuk. “Sebelum ke sana, sebenarnya saya ingin mendengar dulu penjelasan dari Hyunjin. Karena pada kejadian yang terakhir, menurut Seungmin, Hyunjin membuang apel-apel beracun yang tadinya digunakan untuk membunuh Seungmin. Kenapa?”

Di antara Seungmin dan ayahnya sendiri, Hyunjin menunduk sedari tadi. “Karena saya takut ditinggal Seungmin.” 

Seungmin mendecak. “Tapi kamu berpikir seperti itu juga tidak waktu melepaskan harimau, waktu menumpulkan anak panahku, waktu merusak rem kereta ke desa? Kamu tahu tidak, kalau tidak hanya aku, tapi banyak orang akan berada dalam bahaya juga, Hyunjin!”

“Maaf!” Hyunjin mengeraskan suaranya. “Aku tidak tahu kalau orang-orang itu akan melakukan hal seberbahaya itu,” katanya. “Aku hanya menyuruh orang.”

“Menyuruh orang untuk apa?” tanya Seungmin.

“Untuk membuatmu meninggal.”

Terdengar pekikan kaget dari para orang tua di sana. Terutama orang tua Hyunjin, alangkah terkejutnya mereka kalau benar telah membesarkan seorang calon pembunuh. 

“Aku sudah bilang pada para orang-orang itu untuk tidak membuatmu sakit, tidak membuatmu miskin, tidak membuatmu jelek, tidak membuatmu mati mendadak, tidak membuatmu menderita–”

Raja Kim menggaruk kepalanya, kemudian menyela. “Kenapa?”

“Harimau yang pertama itu katanya giginya sudah tidak tajam, tapi ada racun sehingga bisa membuatmu sekarat, tapi ternyata si Penyihir suruhanku itu berbohong dan saat aku sadar, harimau itu sudah lari duluan. Terus–”

“Tidak, Hyunjin,” sela Raja Kim lagi. “Kenapa kamu mau melakukan itu pada Seungmin?”

Hyunjin menyedot ingusnya yang memaksa keluar dari hidung karena sedari tadi dia telah menahan tangis. “Karena saya ingin dapat warisan.”

Seungmin ingin menjerit saat itu juga, tapi dia tahan. “Kenapa mau dapat warisan? Bukannya kerajaan kalian baik-baik saja dan pernikahan ini hanya untuk memperluas wilayah kita?”

“I-iya!” Hyunjin berseru. “Aku ingin menguasai semuanya sendiri, tadinya, tapi sekarang … aku sudah menyesalinya.”

“Hyunjin,” panggil Raja Kim. “Seungmin itu pandai berburu dan kamu pandai bernegosiasi. Seungmin bisa saja membuat lebih banyak hutan menjadi tanah yang bisa ditinggali dan kamu juga bisa saja membuat lebih banyak kerajaan berada di pihak kalian,” katanya. 

Hyunjin mendongak dan memperhatikan Raja Kim dengan seksama.

“Kalian bisa menjadi lebih banyak harta kalau bekerja sama, kenapa malah mau jadi duda?”

Kim Seungmin malah tertawa tertahan. “Di kasus pertama si harimau itu, aku temukan gelangmu karena kamu berusaha menghalau dia, tapi gagal, ya?” tanyanya. 

Hyunjin mengangguk. 

“Di kasus anak panah yang sudah kamu tumpulkan itu, kamu sengaja ya berpura-pura menginjak busurku agar aku tidak jadi memanah?”

Hyunjin mengangguk lagi.

“Di kasus kereta rem blong, kamu memaksa meminta jalan kaki padahal jauh dengan alasan kamu ingin piknik. Di apel yang terakhir ini, kamu buang apelnya.”

Hyunjin mengangguk.

Raja dan ratu di sana semua kebingungan. Hyunjin ini apa, ya. Butuh dikurung saja sebenarnya. (Bercanda.)

“Tapi sekarang sudah berhenti, kan?” tanya Seungmin. 

Hyunjin mengangguk berkali-kali. 

"Yakin berhenti?"

Hyunjin terus mengangguk, sampai rambutnya ikut teracak-acak.

“Janji dulu?” Seungmin acungkan kelingkingnya. 

“Janji banget!” seru Hyunjin sambil mengaitkan jarinya. 

Seungmin tersenyum puas sekaligus gemas. Ternyata benar dugaannya, suami yang selama ini dia kira jahat itu ternyata cuma manusia polos yang mau uang. 

Sesungguhnya, perbuatan Seungmin ini memang untuk menghentikan Hyunjin melakukan rencana-rencana jahatnya. Awalnya Seungmin curiga, tapi lama kelamaan Seungmin sadar bahwa di setiap bencana yang dia hadapi tadi, pasti ada luka baru di tubuh Hyunjin. 

Cakaran harimau di pergelangan tangan, jemari yang lecet karena mengumpulkan anak panah, kaki yang bengkak karena berjalan terlalu jauh, dan yang terakhir itu sepertinya Hyunjin hampir ikut memakan si apel beracun itu. 

Kalau sekadar percobaan pembunuhan, Seungmin itu tidak bodoh sampai dia bisa terjebak, tapi kalau sudah menyangkut Hyunjin yang ikutan terluka, Seungmin tentu tidak bisa. 

Jadi begitulah, diskusi berakhir menghasilkan sebuah perjanjian kelingkung dan mereka hidup bahagia selamanya. 


Atau tidak. 

 

xxx. Yang Tak Diragukan Lagi

“Kamu masak ini? Beracun, nggak?” tanya Seungmin. 

“!h! Sudah tiga tahun berlalu dan kamu masih rajin nanya begitu, Kim Seungmin! Satu-satunya yang beracun di istana ini cuma lidahku, tahu!”

Mata Seungmin terbelalak dan wajahnya memerah. “Benar, sih,” akunya. “Kalau habis aku makan, aku bisa nggak keluar kamar sampai dua hari soalnya.”

“Itu mah soalnya kamu brutal! Dan rakus!”

“Tapi aku nggak serakus itu buat mengincar warisan.”

“Dan Aku nggak serakus itu buat makan sosismu lagi nanti malam.”

Aaah, Seungmin mengerang kesal. 

Notes:

Terima kasih sudah baca karya aku! Aku sekali-sekali open commission di twitter @frasamerah, siapa tahu mau pesan atau sekadar berteman. Feel free to hit me up! See you again~ Habe a naiseu day.

Series this work belongs to: