Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-08-31
Updated:
2024-02-26
Words:
5,789
Chapters:
4/?
Comments:
7
Kudos:
56
Bookmarks:
4
Hits:
1,332

CRUSH

Summary:

Renjun selalu memegang teguh prinsip "Usaha tidak akan mengkhianati hasil".

Tapi setelah melihat crushnya tatap-tatapan mesra dengan perempuan cantik di depan gerbang sekolah seolah dunia milik mereka berdua, prinsip yang sudah dipegang lama oleh Renjun, terancam goyah.

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Datang lagi tuh!”

Satu kalimat informasi itu membuat semua orang yang berada di tengah lapangan melihat kearah seseorang yang baru saja datang memasuki lapangan tempat mereka berada. Mereka hanya tersenyum simpul, sudah tak terkejut lagi dengan pemandangan tersebut.

Seorang lelaki berhoodie putih, sambil menenteng satu box kotak berisi minuman dengan kesusahan. Box itu cukup besar dan terlihat berat dibandingkan orang yang menenteng box itu yang terlihat mungil.

“Mau dibantu gak, Njun?”

Salah satu anggota basket yang sedang berlatih, Yuta, yang cukup pengertian datang menghampiri lelaki mungil berhoodie putih tersebut.

“Gak papa, gak papa. Ini mah aku udah biasa”

Lelaki itu tak mengindahkan tawaran baik Yuta. Ia melanjutkan perjalanannya dengan box minuman tersebut dan kini ia telah sampai di hadapan gerombolan anak basket lainnya yang baru siap melakukan latihan sesi pertama mereka.

“Pas banget deh, Njun. Langsung aja ya. Udah pada haus banget ini.”

Lelaki paling tinggi di antara yang lainnya, Johny, langsung menghampiri box yang telah diletakkan Renjun di lantai. Tetapi langsung dicegat oleh si pemilik box.

“Tunggu dulu, Hyung. Ingat, ada urutannya.” Renjun berucap seolah mengingatkan.

Anggota lain hanya cekikikan mendengar hal tersebut.

“Ampun deh nih bocah. Masih belum nyerah ya ternyata.” Johnny hanya bisa mendumel sambil terkekeh.

“Jaehyun Hyung~~~~”

Renjun memanggil nama salah satu anggota yang sedari tadi tampak tidak tertarik akan kehadiran Renjun, dan masih saja sibuk dengan memasukkan bola ke dalam ring.

Mendengar namanya dipanggil, ia hanya menoleh sebentar sambil masih terus memasukkan bola ke dalam ring.

“Hyung, cepetan! Kami semua sudah haus ini!”

Lelaki tinggi lainnya yang berwajah soft lembut tampan bagai pangeran, Jungwoo, mengambil bola basket dalam genggaman Jaehyun agar lelaki berkulit putih pucat itu menghentikan kesibukannya.

Jaehyun menghela nafas, matanya menatap malas ke arah Renjun yang menantikannya untuk segera menghampirinya.

Jaehyun mendekat hingga kini sudah berada di hadapan Renjun. Sangat terlihat jelas wajah Renjun yang menjadi memerah walau topi di kepalanya sedikit menghambat penglihatannya untuk melihat wajah lelaki itu.

“Ini, untuk Hyung.” Renjun menyerahkan satu botol kaleng minuman rasa peach ke hadapan Jaehyun.

Jaehyun menatap minuman itu sebentar, lalu mengambil minuman tersebut dengan cepat.

“Thanks.” Jaehyun berujar singkat dan pergi meninggalkan lapangan.

Harusnya suasana menjadi canggung, tapi ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Jadi, semua anggota sudah terbiasa akan pemandangan ini.

“Udah dicuekin gitu jugak, kok masih suka sih?”

Johny berucap sambil mengambil mandiri minuman dari dalam box yang dibawa oleh Renjun. Kali ini bukan minuman kaleng rasa peach. Tapi minuman energi biasa.

Yah, Renjun hanya memberikan satu minuman berbeda untuk Jaehyun seorang. Sementara untuk anggota lainnya, dia memberikan minuman rasa lain.

“Aku juga mau loh yang rasa peach. Aku udah bilang kan kalau aku juga suka rasa peach?!” Anggota lainnya yang dengan sangat jelas melontarkan kata ‘Peach’ dengan pengucapan yang begitu bagus, Mark, datang dengan wajah merajuk.

“Protes aja. Udah dikasih gratis, malah ngomel.” Renjun ikut-ikutan merajuk setelahnya.

Yang akhirnya hanya menjadi olok-olokan para anggota lainnya.

“Kenapa sih, harus naksir sama Jaehyun? Mending naksir yang lain aja. Kami semua disini mau kok ditaksir kamu.”

Itu adalah Taeil, anggota tertua dan paling pendek diantara yang lainnya. Orangnya jenaka dan suka meledek Renjun yang hingga saat ini kisah kasihnya tak kunjung sampai.

“Memangnya perasaan bisa di setting? Kalo bisa juga aku pasti gak usah naksir siapa-siapa.” Lirih Renjun tak bersemangat, tapi tetap memberikan minuman kepada Taeil dan yang lainnya.

“Jangan didengerin, Njun. Kamu udah usaha. Usaha tak pernah mengkhianati hasil kok.” Yuta berujar niat hati untuk menyemangati.

“Tapi udah enam bulan loh. Masih gini-gini aja.”

Semua anggota basket termasuk Renjun menatap Taeil yang dengan wajah tak berdosanya melontarkan kalimat tersebut.

Taeil hanya nyengir dan bilang ‘Sorry’ lalu lanjut meminum minuman yang dibawakan oleh Renjun dan berangsur pergi untuk duduk beristirahat.

“Baru enam bulan. Namanya juga perasaan. Gak bisa disetting kan? Harus sabar ya Njun kalo bener-bener suka. Semangat!”

Yuta yang kesehariannya memiliki tatapan seperti hendak menikam orang itu, surprisingly selalu menjadi orang yang memberikan Renjun kata-kata menenangkan agar lelaki mungil tersebut tidak goyah dan tetap semangat.

“Terima kasih, Hyung.”

Renjun selalu terharu dengan kebaikan Yuta. Yuta tersenyum dan mengelus pelan kepala Renjun yang tertutupi topi.

“Terima kasih juga minumannya.” Yuta membalas dengan tersenyum manis.

Ahh… andai Renjun menyukai Yuta saja. Pasti semuanya akan jauh lebih mudah.

.

.

.

.

Dingin. Itulah kesan pertama yang didapatkan Renjun saat pertama kali melihat Jaehyun.

Saat itu, Renjun dan puluhan teman seangkatannya menatap kagum pada Jaehyun yang sangat tampan dan elegan memberikan sepatah dua patah kata untuk anak baru di sekolah mereka di atas podium. Semua diam menyimak kata-kata yang dilontarkan oleh lelaki putih pucat tersebut.

Lelaki itu minim ekspresi, tapi tetap mampu membuat para gadis di belakang Renjun cekikikan pelan. Wajar sih, Renjun yang laki-laki saja terkesima. Jaehyun mengakhiri sepatah dua patah katanya, dan disambut dengan sorakan bersemangat. Renjun pun ikut bertepuk tangan seperti yang lain.

Saat itu, entah mengapa, Renjun dan Jaehyun bertemu tatap. Dan bagai terhipnotis, Renjun terpaku untuk beberapa saat dengan tatapan terkunci pada kakak kelasnya yang tampan bagai pangeran itu. Tak lama Jaehyun membuang muka.

Dan kini meninggalkan Renjun yang kini wajahnya bersemu merah.

Yup.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Renjun merasakan jatuh cinta.

.

.

.

.

“Klasik bener deh kamu, Njun. Naksir cuman karna tatap-tatapan seperkian detik, terus sama lelaki paling tampan satu sekolah pulak!”

Itu Yeri, sahabat Renjun dari kecil. Karna sudah lama berteman, mulutnya suka gitu. Ceplas ceplos aja gak mikir lagi.

“Karna sama lelaki paling tampan itulah, makanya cuman butuh satu alasan sederhana itu aja untuk bisa naksir sama dia.”

Renjun ngedumel sambil mengeluarkan buku mata pelajarannya.

“Njun. Yang suka sama dia tuh hampir satu sekolah. Gak cewek, gak cowok. Belum lagi dari sekolah lain. Belom lagi kakak-kakak di kantin, belum lagi tante-tante di tempat karaoke, belum lagi…”

“YA!!!”

Renjun meneriaki sahabatnya itu sebelum ngelantur semakin jauh.

“Intinya tuh, ada banyak yang naksir sama cowok tampan sedingin kulkasmu itu. Dan mereka semua juga effort untuk bisa di notice. Gak cuman kamu loh, Njun.”

“Tapi kan intesitas usahaku lebih banyak daripada yang lain. Enam bulan berturut-turut setiap hari aku antar minuman tiap dia selesai latihan. Emang ada yang kayak aku?”

“Ya iya. Kamu juga udah di notice kok. Terus sekarang mau mengharap apa lagi?”

Yeri bertanya seakan-akan tidak tahu saja.

“Ya aku mau diterima cintanya lah.” Jawab Renjun dengan wajah kesal.

“Kenal aja enggak dia sama kamu. Dia taunya kamu itu cuman salah satu dari banyak orang yang naksir dia dan effort tiap hari. Udah, itu aja. Dia bahkan gak ada ketertarikan sama sekali sampai sekarang sama kamu untuk lanjut berkenalan lebih.”

Renjun hanya menyimak pernyataan-pernyataan fakta itu dalam diam.

“Emangnya walau masih dicuekin gitu, kamu masih suka ya?”

Yeri bertanya kini dengan nada lembut.

“.…..Iya….” Lirih Renjun meratapi nasib.

“Yaudah. Tetap usaha lagi ya. Kalau perlu, coba dinaikin intesitas usahanya. Jangan cuman antar minum aja.” Yeri berujar santai memberi saran.

Jadi menambah fikiran Renjun saja.

“Aku harus apa lagi ya? Jaehyun Hyung selalu terlihat gak nyaman sama kehadiran aku. Sebenarnya aku sempat berniat untuk berhenti antar minuman setiap hari, dan hanya menyukai dalam diam saja. Tapi, walau terus-terusan dicuekin, dia selalu menerima minuman yang kuberikan.”

“Hmm…….” Yeri diam dengan pose berfikirnya yang menurut Renjun sangat tidak guna.

Anak itu hanya pura-pura berfikir saja.

“Untuk sementara, tetap saja dengan cara memberikan minuman itu dulu ya. Aku tidak punya ide.” ucap Yeri sambil nyengir santai.

“Sialan..”

.

.

.

 

Seperti biasa, hari itu Renjun kembali dengan box minuman yang dia tenteng. Namun kali ini lapangan terlihat sepi. Hanya ada Yuta dan Mark disana.

“Gak latihan, Hyung?” Renjun bertanya sambil meletakkan box yang ia bawa ke lantai.

“Hari ini pada banyak yang gak bisa. Jadi gak dulu.” Jawab Yuta.

Renjun hanya membuka mulutnya kecil sambil berguman ‘ohhhh’ sambil tatapannya menatap sekeliling. Tentu saja untuk mencari satu orang itu. Orang yang selalu menjadi tujuannya setiap hari itu.

“Jaehyun Hyung gk ada. Ada acara ya?”

Yuta dan Mark hanya diam tak menjawab. Mereka terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Renjun atau tidak.

“Emm… itu….” Mark gelagapan.

Renjun mencium bau-bau tidak menyenangkan disini.

“Gilaaaa!!! Cantik banget lohhh!!!”

Tiba-tiba Taeil masuk ke dalam lapangan basket dengan berteriak heboh tanpa menyadari kehadiran Renjun.

“Kalian udah pada lihat kan??”

kini Taeil bertanya pada Yuta dan Mark. Yuta dan Mark hanya senyum canggung mengangguk pelan dengan tatapan tidak enak kearah Renjun.

“Eh, ada Renjun ternyata.” Taeil akhirnya menyadari kehadiran lelaki mungil dengan hoodie putihnya itu.

“Lagi ngomongin siapa sih, Hyung?” Renjun kini bertanya pada Taeil.

“Ohh itu….”

Taeil hendak menjawab, tetapi Yuta dan Mark seperti memberi kode untuk tidak mengatakan apa-apa.

Tapi apalah daya. Kadang Hyung mereka yang satu itu tidak terlalu peka.

“Jaehyun dijemput cewek. Cantik bangettt!!!”

Mendengar itu, dunia Renjun bagai hancur berkeping-keping.

Matanya melotot tak percaya. Jantungnya berdetak cepat dan itu terasa tidak nyaman.

“Me-mereka sudah pergi?”

Renjun mencoba untuk mengeluarkan suaranya, dan yang keluar sangatlah lirih.

“Sampai tadi aku kesini sih, sepertinya belum. Mereka masih ngobrol di depan… HEY INJUNN!!!”

Renjun kini berlari keluar dari lapangan basket. Taeil kaget dengan Renjun yang tiba-tiba saja berlari kencang. Begitupula dengan Yuta dan Mark.

“Kenapa harus dibilang sih Hyung???” Yuta kini bertanya tidak percaya dengan tangan mengusak-usak kepala, tak habis fikir bagaimana mungkin Taeil bisa dengan santainya berkata seperti itu di hadapan Renjun.

“Aduh, iya lagi. Habis aku masih exited banget karna barusan ketemu sama cewek secantik itu.”

Mark dan yuta hanya dapat menghela nafas pelan.

.

.

.

 

Renjun berlari kencang menuju pintu gerbang depan sekolah.

Perempuan cantik mana yang bisa datang dan menjemput Jaehyun yang terkenal tidak dekat dengan siapa-siapa itu?

Renjun sangat penasaran.

Terutama dengan hubungan apa yang ada diantara mereka.

Renjun sampai di depan gerbang. Ada segerombolan siswa siswi yang sepertinya sedang menyaksikan sesuatu.

Renjun langsung masuk ke dalam gerombolan itu hingga kini ia sudah berada paling depan, melihat jelas dua objek manusia yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.

Seorang perempuan berkulit putih, badannya kurus dan tinggi, sangat proporsional. Rambutnya dikuncir satu dengan sederhana.

Wajahnya cantik, tidak terlihat adanya polesan apapun. Bagaimana mungkin bisa ada perempuan secantik itu?

Dan kini dihadapannya, ada Jaehyun, lelaki paling tampan dan populer satu sekolah.

Anak basket, dan siswa berprestasi. Selalu dingin, dan tak pernah tersenyum, tapi tak pernah menolak pemberian para penggemarnya.

Kini lelaki tampan itu berdiri dihadapan perempuan cantik yang entah siapa itu. Mereka terlihat sangat serasi.

Renjun turut sedih untuk mengakui hal itu.

“Daebak! Jaehyun tersenyum????!!!!”

Renjun kembali memusatkan perhatiannya terhadap kedua orang tersebut.

Dan ya. Untuk yang pertama kalinya setelah enam bulan naksir dengan Jaehyun. Ia melihat lelaki itu tersenyum.

Senyumnya amat sangat indah dan menawan. Lesung pipinya terlihat mencuat dan itu memberi kesan manis dan tulus pada senyumnya.

Renjun sekali lagi untuk yang keberapa kalinya, kembali terpesona. Jantungnya berdetak hebat.

Namun saat ia melihat tangan besar lelaki itu membawa tangan mungil perempuan cantik itu pada genggamannya, jantung Renjun berdetak semakin kencang, dan terasa amat sakit.

Semua orang disekitar Renjun berteriak, entah berteriak karna sedih, atau karna girang, atau mungkin keduanya menjadi satu. Tapi Renjun hanya dapat terpaku.

Menatap tangan yang saling bergandengan itu, senyum tulus yang kedua orang itu lontarkan satu untuk sama lain, serasa dunia milik berdua tanpa peduli orang lain disekitar mereka, dan langkah mereka yang kini perlahan menjauh.

Enam bulan sudah Renjun memiliki rasa ini.

Enam bulan sudah ia berusaha untuk memperlihatkan bahwa dia dengan sangat jelas suka pada lelaki tampan itu.

Enam bulan sudah.

Tapi kenapa, lelaki itu kini menggandeng orang yang entah siapa, yang apakah sudah berusaha seperti Renjun dan yang lainnya sudah lakukan hinggat saat ini?

Untuk pertama kalinya, Renjun mengalami patah hati. Dan tanpa sadar, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.

.

.

.

.

TBC

Notes:

Well Hi!

I finally wrote something about Jaeren!!! Kapal rare momentsku, tapi super duper gemesin ini!!!

Semoga tulisan sederhana ini bisa cukup menghibur yaa.

Aku udah lama gak nulis, dan perdana bgt nulis disini. Masih super canggung banget. Jadi ya, semoga dimaklumi huehe

See ya!!!