Work Text:
"Kamu kan juga udah selalu aku bilangin, jangan maksain diri!"
Suara Haechan meneriaki suaminya— Mark, menggema di dalam rumah mereka. Terlihat sekali dari intonasinya menandakan bahwa dirinya sedang kesal. Alasan Haechan marah saat ini adalah karena suaminya itu sulit sekali untuk menuruti perkataannya. Terhitung sudah 4 kali dalam seminggu Haechan mendapati Mark pulang sangat larut demi menyelesaikan pekerjaan kantornya sehingga mengharuskan Mark untuk menetap lebih lama di kantor dan berakhir sampai di rumah jam 11 malam.
"Mau gimana lagi sayang...... atasan aku lagi ngasih kerjaan banyak banget. Masa aku nolak?" jawab Mark membela dirinya. Haechan mendelik tidak suka mendengarnya.
"Yaa bilang kamu kerjain besok paginya emang gabisa apa?!" balas Haechan masih dengan nada tinggi. Dirinya sedang kesal saat ini, jadi kata-kata yang keluar jadi terdengar tidak masuk akal. Ia sangat marah! Selain karena khawatir mengingat Mark bekerja dengan menggunakan motor dan pulang malam, Haechan juga kesal karena dirinya jadi tidak banyak mempunyai waktu berdua di malam hari (sebenarnya ini alasan utamanya). Apalagi pagi harinya Mark sudah harus berangkat bekerja lagi. Jadi kapan mereka bisa berduaan, pikir Haechan.
"Sayang.... gabisa beneran. Kalo aku tunda buat besok pasti bakal tambah padet nantinya," Mark membalas dengan memelas. Dirinya lelah karena seharian bekerja dan Haechan malah memberinya omelan walaupun Ia tahu dirinya salah.
Tak terbendung lagi kekesalan Haechan, akhirnya Ia melangkah mendekati Mark. "Yaudah! Kamu pergi dulu deh dari rumah ini sekarang! Bawa semua yang kamu punya terus jangan balik lagi dulu sampe aku ga kesel sama kamuuu!"
Haechan meluapkan kekesalannya terhadap Mark dan melangkah serta menghentakkan kakinya masuk kedalam kamar mereka berdua dan membanting pintunya.
Mark membeo dan mengedip lantaran kaget atas apa yang Haechan ucapkan barusan. Ia pun bergegas membuka pintu yang sebelumnya dibanting oleh suami kecilnya dan memasuki kamar tersebut dengan pelan. Matanya melihat Haechan sedang bergulung dalam selimut seperti anak bayi.
Mark mendekati Haechan dan tanpa aba-apa langsung menggendong Haechan ala pengantin baru lalu berjalan dengan santai menuju pintu rumah mereka untuk keluar. Haechan kaget sekali tentu saja. Dirinya reflek mengalungkan tangannya di leher Mark dan meronta-ronta untuk diturunkan.
"MARKKK apaan sih kamu ngapain!" seru Haechan sambil terus mencoba untuk menurunkan kakinya untuk berpijak namun gagal.
Mark berhenti sebentar di depan pintu rumah mereka dan menatap Haechan dengan seribu sayang dimatanya. Mark tersenyum lembut menatap raut wajah suami kecilnya yang merengut marah (tetapi tetap paling lucu dimata Mark).
"Loh, bukannya tadi kamu nyuruh aku keluar terus bawa semua yang aku punya?" jawab Mark. Haechan menaikkan satu alisnya bingung mendengar jawaban Mark.
"Ini sekarang aku lagi lakuin. Aku lagi mau keluar sambil bawa semua yang aku punya. Kamu. Aku kan cuma punya kamu." lanjut Mark. Haechan terdiam. Mark tersenyum jahil, paham sekali bahwa perkataannya barusan telah meruntuhkan kekesalan Haechan.
Brengsekkk banget mark gue kan lagi marah gini gak lucu kalo senyum-senyum, batin Haechan.
"Apaan sih! Tuh bawa pel-pelan sama oven yang baru aja kamu beli." jawab Haechan dengan pipi yang bersemu.
"Udah ah, turunin akuuu!" Mark akhirnya menurunkan Haechan dari gendongannya dan memeluknya dengan erat sambil mengelus punggung sempit milik suaminya tersebut.
"Maafin aku yaa, sayang. Kamu pasti marah karena khawatir yaa?" kata Mark lembut sambil terus mengelus punggung untuk menenangkan Haechan.
Haechan menaruh kepalanya di perpotongan leher Mark sembari meremat ujung setelan baju kantor Mark. Kepalanya mengangguk pelan di dalam pelukan Mark. "Aku khawatir banget kalo udah malem terus kamu belum di rumah, Mark." jawab Haechan akhirnya melembut.
"Emang kamu kira aku gak takut kamu kena begal apa?" kata Haechan dengan nada sedikit merajuk. Mark terkejut sekaligus tertawa kecil mendengar omongan Haechan.
"Sayang! Kamu doain aku kena begal?" balas Mark.
"IHH bukan gitu! Maksudnya kan ini lagi banyak begal terus aku jadi parno sendiri mikirin Abang." jelas Haechan.
"Iya iya, Abang paham. Maafin Abang ya?" Haechan menghela nafasnya.
"Iya, Abang. Maafin aku juga ya tadi bentak kamu." jawab Haechan.
"Oh, udah balik manggil Abang lagi nih?" goda Mark sambil menatap Haechan yang berada beberapa senti dibawahnya.
Haechan mencubit pinggang Mark dengan pelan, "Lagian tadi Abang nyebelin bangeeet!" jawab Haechan.
Mark tertawa, "Kamu gitu deh kalo kesel pasti langsung manggil aku Mark, Mark, Mark aja. Ilang tuh langsung panggilan Abang nya,"
"Kamu obsesi banget dipanggil Abang sama aku kenapa deh," kata Haechan sambil menyipitkan matanya.
"Suka aja kalo kamu yang manggil," kata Mark sambil mengelus lembut rambut panjang Haechan. "Abang jadi merasa dibutuhin terus geli-geli gitu deh perutnya kayak remaja kasmaran." lanjut Mark.
"Gak jelas banget! Inget tuh umur udah kepala tiga." kata Haechan sambil menjauh dari Mark.
"Salting kamu jelek banget sih, Chan. Dari dulu gak berubah AHAHAHA." kata Mark sambil mengikuti Haechan memasuki kamar mereka.
Biasanya abis berantem gini mereka pelukan sambil Mark ngelus-ngelus Haechan sampe bobo. Ditambah ciuman-ciuman tipis yang Haechan kasih buat Mark soalnya Haechan suka banget cium suaminya yang ganteng banget itu.
