Actions

Work Header

AS SWEET AS YOUR BIRTHDAY CAKE

Summary:

Namjoon menghapus air matanya. Tak satupun dari kedua rencananya berjalan dengan lancar. Tak ada dirinya yang memegang kue buatannya dengan dua lilin di atasnya ketika Jungkook baru memasuki pintu apartemen mereka. Tak ada teriakan penuh semangat dan nyanyian selamat ulang tahun yang heboh. Tak ada adegan dramatis di mana Namjoon akan berbisik bahwa Jungkook akan menjadi seorang ayah tepat setelah yang bersangkutan menyuarakan keinginannya dan meniup lilin. Semuanya telak gagal dalam satu kedipan mata walau Namjoon sudah merencanakan dan menyusunnya sedemikian rupa.

Dan di atas itu semua, tak ada peluk dan ciuman pelepas rindu padahal keduanya sudah cukup lama tak bertemu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Namjoon berguling ke sisi sebelah kanan tempat tidur ketika panggilan videonya bersama Jungkook berakhir. Menatap langit-langit kamar sembari mengetuk-ngetukkan telunjuk pada layar ponsel, Namjoon teringat kembali akan ucapan suaminya kurang lebih lima menit yang lalu.

“Aku tadi nonton film terus mereka lagi makan oreo cake. Jadi pengen makan oreo cake juga.”

“Duh keinget oreo cake terus.”

“Kak, nanti aku pulang kita ke cafe favorit kamu itu ya. Kapan hari aku liat ada oreo cake kayanya di sana. Mau nyobain.”

“Duuuh pengen banget. Kayanya aku mau beli oreonya dulu aja deh. Kuenya nanti-nanti aja.”

Dalam waktu kurang dari lima menit, Jungkook menyuarakan dengan jelas keinginannya. Secara berulang. Membuat akal cerdik Namjoon sontak berjalan dan bekerja dengan sempurna.

“Tiga hari lagi,” bisik Namjoon setelah mengintip tanggal di ponselnya.

Tiga hari lagi, Jungkook akan kembali dari perjalanan bisnisnya dan hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Let’s give him a surprise,” ucap Namjoon semangat sembari menarik selimut. Senyum percaya diri mengembang pasti di wajahnya.

 

===

 

H-2 kepulangan Jungkook.

Namjoon kembali menyamankan tubuhnya di atas sofa setelah satu mangkuk penuh sereal ia tandaskan. Matanya kembali menatap lekat layar televisi yang tengah memutar kartun. Entah kartun apa, Namjoon tak tahu, namun cocok sekali melengkapi paginya kali ini.

“Halo, Ma.” Namjoon mengangkat ponselnya yang baru saja sebentar berdering.

“Hai. Di mana kamu? Udah makan”

“Di rumah ini, baru aja selesai makan.”

“Nggak kerja?”

“Lagi off, Ma. Besok baru masuk.”

“Ohh kirain kerja, mau Mama ingetin makan terus soalnya. Kamu kan suka lupa makan kalo udah kerja.”

“Hehe sebisa mungkin enggaklah, Ma. Kupasangin alarm nih kalo perlu buat ngingetin tiga kali makan.”

“Iya. Malah makin bagus kalo begitu. Oiya, kamunya udah ngasih tau Jungkook belum?”

“Belum, Ma.”

“Kenapa belum? Harusnya dari yang kemaren itu langsung kamu kasih tau aja. Jangan didiamin lama-lama tau, Nam. Kalo ada apa-apa gimana? Jungkook harusnya udah tau ini.”

“Hehehe sengaja, Ma. Kalo langsung dibilangin nanti takutnya dia nggak fokus kerja di sana, malah buru-buru langsung gerak pulang. Aku mau bilang nanti pas dia pulang. Pas ulang tahunnya juga. Jadi ntar kejutannya jadi double gitu.”

“Emang kapan Jungkook pulang?”

“Jumat. Dua hari lagi.”

“Lama lagi itu, Nam. Aduh Mama yang gemes ini, kasih tau sekarang aja kenapa sih? Kalaupun dia nanti langsung pulang kan berarti kerjaannya emang udah bisa ditinggal. Kamu nggak khawatir kalo nanti—”

“Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, Ma. Udah ah Ma, Mama parnoan gini aku jadinya ikut takut. Biar aku aja nanti yang ngasih tau langsung. Mama jangan bocorin ini dulu pokoknya, ya.”

“Nam,”

“Nanti aku telepon lagi ya, Ma. Aku mau beres-beres rumah dulu. Mama jangan lupa makan. Bye, Ma….”

Telepon terputus dan Namjoon meletakkan ponselnya dengan bibir sedikit meruncing. Mamanya ini, memang ahlinya mengkhawatirkan segala sesuatunya bahkan dari hal terkecil sekalipun. Namun tentu saja, itu semua ada alasannya.

Namjoon menyibak baju kaosnya, lantas menatap perut ratanya sembari tersenyum. Di dalam sana, di dalam perut ratanya sana, ada janin yang sedang berkembang. Hal ini baru diketahui sekitar tiga hari yang lalu ketika Namjoon tiba-tiba meminta sang Mama untuk memasakkannya ayam pedas namun jatuh pingsan tepat ketika yang bersangkutan baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu Mamanya.

“Kalo dipikir-pikir, masuk akal juga sih kalo Mama khawatir,” gumam Namjoon seorang diri sembari menganggukkan kepala. “Ah tapi kan biar surprise juga. Bentar lagi kok.”

Namjoon menjauhkan ponselnya. Kakinya ia selonjorkan demi mendapatkan posisi duduk yang lebih nyaman. Meletakkan bantal di atas perut, Namjoon lantas melipat tangannya setelah sebelumnya menepuk permukaan bantal lembut.

“Jumat bentar lagi.”

===

 

H-1 kepulangan Jungkook.

Namjoon mematikan laptopnya ketika jam di dinding menunjukkan pukul lima tepat. Sejujurnya pekerjaannya sudah selesai sedari tadi, namun ia enggan bergerak untuk pulang terlebih dahulu. Setelah laporannya selesai dan ia menutup lembar kerjanya tadi, Namjoon menonton dan mencari tahu resep membuat cake oreo.

Benar.

Namjoon sudah bertekad untuk membuat sendiri kue ulang tahun suaminya setelah panggilan telepon mereka berakhir malam itu. Dan Namjoon sudah mendapat cukup banyak referensi berkat menyelam di sana selama kurang lebih dua jam lamanya. Dan syukurlah, kebanyakan resep yang Namjoon temui cukup mudah dan praktis. Tak butuh kompor apalagi tetek bengek lainnya yang memerlukan aliran listrik.

Bukannya apa, Namjoon cukup tahu diri bahwa dirinya tak cakap jika sudah berhubungan dengan dapur dan memasak.

“Mau balik?” tanya Jimin dari kubikel sebelah. Matanya masih fokus menatap layar dan jemarinya menari lincah di atas keyboard.

“Iya. Mau ke supermarket dulu.” Namjoon mengulum senyum lantas berjalan mendekati Jimin untuk kemudian menunduk hingga kepala keduanya sejajar. “Besok laki gue balik.”

“Wohoooooo,” Jimin menghentikan aktivitasnya untuk menghadap rekan kerjanya tersebut. “Pantes sumringah banget lo satu hari ini ya. Ternyata, yang ditunggu-tunggu pulang juga.”

“Hehe. Oiya, gue ijin ya besok. Udah ngomong ke Kak Yoongi juga tadi.”

“Besar banget nih kayanya yang dikangenin sampe bela-belain ijin. Mau sekalian party apa?”

“Besok ulang tahun Jungkook.”

“AH REALLY?”

Namjoon mengangguk. “Makanya ini nyinggah ke supermarket dulu buat beli beli persiapan besok.”

I see I see. Enak banget yang mau prepare kejutan ultah. Gue jangankan punya suami, pacar aja tak jelas di mana rimbanya.”

“Lo mau tau gimana caranya dapat pacar?”

“Gimana?”

Namjoon melihat sekitar, menunduk lagi, kemudian berbisik pada Jimin. “Masuk ke ruangan Kak Yoongi, terus nyatain perasaan lo. Dijamin keluar dari sana lo nggak jomblo lagi.”

“NAMJOON ISH,” jawab Jimin dengan wajah merona malu. Tangannya hendak memukul bahu Namjoon namun yang bersangkutan segera menghindar.

“Hahaha lo nggak bakal tau kalo belum nyoba udah dibilangin. Gue balik dulu ya. Byee ….”

“Sana sana pulang. Hati-hati di jalan.”

 

 

Namjoon melihat sekali lagi isi trolinya ketika ia sudah memasuki barisan antrian di depan kasir.

“Oreo udah, baking powder udah, cokelat batang udah, lilin juga udah. Udah semua sih harusnya.”

Namjoon tersenyum lagi. Jujur dirinya gugup karena untuk pertama kalinya akan berkreasi sendiri namun di saat yang bersamaan sedikit tak sabar untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya dan menyaksikan langsung reaksi kesayangannya tersebut. Hampir dua minggu ditinggal oleh Jungkook membuat Namjoon begitu merindukan lelakinya tersebut. Biasanya selepas bekerja ia akan langsung menuju dapur dan memeluk Jungkook dari belakang yang seperti biasa, tengah mempersiapkan makan malam untuk mereka. Biasanya selepas makan malam, mereka akan bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing selama kurang lebih setengah jam lamanya sebelum bergerak mencuci piring. Biasanya selepas mencuci peralatan makan, keduanya akan beringsut ke ruang tengah untuk menonton televisi. Entah Namjoon yang duduk bersandar pada dada Jungkook, atau mungkin sebaliknya. Mereka akan menonton bersama,menonton acara apa saja, mereka tak peduli karena selalunya akan berakhir dengan sesi berciuman atau berpelukan.

Ah, berbicara soal berciuman dan berpelukan, Namjoon jadi semakin merindukan suaminya itu. Mungkin nanti dia akan menelepon Jungkook begitu sampai di—

Drrt drrt drrt

Ponselnya bergetar.

Oh, itu Jungkook.

“Hai,” ucap Namjoon tak kuasa menahan senyum. Di saat-saat seperti ini, Namjoon selalu merasa bahwa kontak batinnya dengan Jungkook bekerja dengan sangat baik.

“Halo, Kak. Kedengarannya happy banget nih. How was your day, sayang?”

Great! Even better karena besok kamu balik.”

“You miss me that much, huh?”

Of course I am! Emang kamu enggak?”

“Kangen lah. Yang bener aja. Kamu liat aja tuh aku berapa kali nelpon kamu dalam sehari.”

Namjoon tersenyum lagi, lantas mengucapkan terima kasih tanpa suara ketika kantong belanjanya diserahkan oleh kasir di depannya. “I know it. Oiya, kamu besok flight jam 10 kan?”

“Iya. Nggak usah jemput ke bandara ya, Kak. Kamu nunggu di apart aja. Aku bisa naik taksi.”

“Iya, sayang.”

“Tumben nurut. Lagi apa kamu Kak?”

“Ini lagi jalan ke apart. Abis dari supermarket depan.”

“Sendirian?”

“Sama siapa lagi, Kook? Tetangga sebelah?”

“Oh, kirain Mama lagi di apart tadi. Jangan ke mana-mana dong kamu tuh, tunggu aku pulang dulu aja baru ke mana-mana lagi.”

“Supermarket doang kok ke mana-mana. Kamu tuh kalo udah kaya gini kedengarannya kaya cowok-cowok posesif gitu tau nggak.”

“Karena aku khawatir. And I miss you so bad. SOOOO BAD. Huhh wish I can fly right away.”

“Besok pagi kan terbang buat pulang hehe. I’ve been missing you so much too. Jangan kaget besok ngeliat tempat tidur banyak baju kamu, ya.”

“Hahaha aren’t you the cutest? I’d love to see that, my love. Kamu selalu gini Kak dari kita pacaran.”

“Soalnya kamu ngangenin.”

“Oh look who is speaking.”

Your husband, baby. Ah Kook, call you later? Aku baru nyampe apart. Mau bersih-bersih dulu sebelum masuk kamar.”

Okay, Kak. Aku juga mau turun dulu nih sama Taehyung, mau makan.”

Okay. Makan yang banyak, husband. I love you.”

I love you more, sayang.”

 

===

 

Hari H kepulangan Jungkook.

Namjoon menggeliat di balik selimut tebalnya dan mengintip jam dinding dengan mata setengah terbuka.

Pukul 09.10.

Penerbangan Jungkook sekitar jam sepuluh pagi ini. Kalau dihitung-hitung, butuh waktu sekitar empat jam hingga Jungkook tiba di apartemen. Itu berarti, Jungkook akan sampai pukul dua siang.

“Waktunya persiapan,” ucap Namjoon sembari menampar-nampar pipinya pelan, berusaha mengusir kantuk yang masih melekat sidikit.

Meregangkan badan untuk kemudian duduk tegak, Namjoon kemudian meraih ponselnya di atas nakas dan mendapati dua panggilan tak terjawab dari Jungkook dua jam yang lalu.

“Cepat banget bangunnya. Apa udah siap-siap mau ke airport?” tanya Namjoon kepada diri sendiri. Dengan segera ia menelepon kembali suaminya tersebut namun panggilannya tidak terhubung karena ponsel yang bersangkutan sedang tak aktif.

“Huh?” dengung Namjoon bingung. Jemarinya bergerak cepat ke laman percakapan mereka, hendak meninggalkan pesan namun baru dua kata yang berhasil ia ketik, ponselnya tiba-tiba mati karena kehabisan daya. Mendengus pelan, Namjoon segera beranjak meraih kabel untuk mengisi daya ponselnya lantas bergegas keluar kamar untuk mempersiapkan rencananya.

“Semoga berhasil ya.”

 

 

Berbekal ingatannya kemarin, Namjoon dengan percaya diri memulai segala sesuatunya tanpa panduan ponsel. Ia membuka dua bungkus oreo yang sudah ia beli, kemudian mulai memisahkan krim putihnya.

“Dimasukin ke plastik, terus dihancur-hancurin,” ucapnya ketika sudah memasukkan keping-keping biskuit tanpa krim ke dalam kantongan bening. Matanya bergerak menelusuri rak piring untuk mencari penghancur biskuit yang ideal, namun tak menemukannya. Masih terus mencari, Namjoon akhirnya membuka kulkas dan menemukan botol wine Jungkook di sana. Dengan mata membola dan mulut sedikit terbuka, Namjoon meraih botol tersebut diiringi kekehan girang.

Namjoon mulai fokus dengan kepingan biskuit hitam di hadapannya tersebut. Mengetuk-ngetuk, mengguling-gulingkan botol, semuanya Namjoon lakukan dengan sabar hingga tekstur pecahan biskuitnya serupa dengan apa yang dia lihat di video resep kemarin.

“Oh cokelatnya belum.” Namjoon kembali berbalik menuju kulkas dan mengambil cokelat batangan dari sana. Ia memotongnya menjadi tiga bagian, memasukkannya ke dalam panci tempat Jungkook biasa memasak ramen, kemudian ia letakkan di atas kompor agar sentuhan akhir di kue ulang tahun Jungkook itu dapat meleleh dengan sempurna.

Namjoon beralih lagi pada kepingan biskuitnya. Ia berikan lima ketukan terakhir sebelum akhirnya membuka ikatan plastik bening tersebut dan memindahkan isinya ke dalam wadah baru. Masih mengandalkan ingatan tajamnya, Namjoon selanjutnya meraih baking powder dan menuangkan sebanyak satu sendok teh bersama kepingan biskuit oreo yang sudah hancur.

Okay. Diaduk, susunya udah masuk, terus terakhir masukin krim isiannya tadi.” Namjoon mengaduk semua bahan yang sudah ia campurkan dengan perasaan bahagia. Satu tahap lagi dan kue ulang tahun Jungkook akan selesai. “Bentar, ini pake telor apa enggak deh kemaren?” Gerakan Namjoon yang sedang memindahkan adonannya ke wadah silikon terhenti ketika rasa ragunya tiba-tiba menyapa. Dirinya diam sejenak. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, berusaha keras mengingat sesuatu.

“Ah dasar pelupa.” Namjoon meletakkan adonnnya dan bergegas ke dalam kamar, hendak mengambil ponselnya yang tadi sempat mati dan menonton kembali video resepnya.

Notifikasi penggilan tak terjawab dan pesan beruntun berebut masuk tepat ketika ponsel Namjoon sudah hidup dengan sempurna. Namun yang terpenting sekarang adalah resepnya. Pesan Jungkook akan Namjoon jawab nanti ketika adonannya sudah dimasukkan ke dalam microwave.

 

 

“Oh, nggak pake,” guman Namjoon setelah usai menonton ulang video referensinya. Ia kembali bergegas menuju dapur dan mengulang video tersebut sekali lagi. “Tinggal dipindahin loyang, terus masukin ke microwa—“

“KAK NAMJOON!”

Namjoon terkejut setengah mati hingga ponselnya nyaris terjatuh. Matanya sontak tertuju ke sumber suara, dan di sana ia dapati Jungkook dengan tas punggungnya, berjalan tergesa mematikan kompor yang sudah mengeluarkan asap.

Oh. Cokelat batangannya tadi.

“Kook? Kok udah balik?” Namjoon menyentuh ponselnya untuk melihat jam. “Bukannya flight kamu jam 10 dari sana?”

“Kamu ngapain sih Kak? Dari pagi nggak bisa dihubungi kamu ke mana aja? Is it that hard to leave a text?

“Aku tadi udah mau—“

“Terus ini ngapain? Ini kamu masak apa sampe hitam sampe banyak asap begini? I told you already kalo mau nyoba masak jangan sampe ninggalin dapur! You can burn this house!” Suara Jungkook meninggi. Yang bersangkutan jelas emosi.

Dan jujur saja, itu membuat nyali Namjoon ciut.

Really … what are you trying to do?

“Aku, aku mau itu—“ omongan Namjoon terputus ketika Jungkook berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam. Demi tuhan mengapa Jungkook menakutkan sekali?

“Aku cuma tidur 3 jam dari semalam. I can’t stop thinking about you remembering you sleep alone this past two weeks. I miss you so much, I can’t help sampe aku nemuin atasanku dan nanya apa bisa penerbanganku di reschedule. Dia mau tukar jadwalku dan sebagai gantinya aku harus meriksain satu satu laporan bagian accounting yang harusnya diperiksa sama dia. Can you imagine? Minta tiket pesawat maju 3 jam aja tapi aku sampe nggak dapat jadwal tenang mau tidur. And look what I got here,” ucap Jungkook penuh penekanan sembari terus menatap Namjoon, menuntut akan jawaban. “Menurut kamu apa yang bakal terjadi kalo aku nggak pulang tadi? Will you always on your phone dan nggak memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitar?”

I’m not always on my phone,” cicit Namjoon pelan.

 “That’s so dangerous, Kak. Too dangerous. Do you even realize that you are actually with a baby?

Mata Namjoon membola kaget. Jungkook sudah tahu? Bagaimana bisa? Namjoon bahkan belum mengatakan apa-apa.

“Kok … kamu, kamu tau dari mana?“

“Dari Mama. Mama semalam nelepon aku karena gemas kamu nggak ngomong-ngomong. Kenapa? Kamu nunggu apa? Do you even think this is good idea?

“Kook, aku—”

“Udah dulu deh, Kak. Biar aku tenangin diri dulu, nanti kita ngobrol lagi. Aku takut bakal ngomong yang enggak-enggak kalo kita tetap lanjut,” final Jungkook dan berlalu menuju kamar melewati Namjoon yang masih mematung. Debaman pintu yang sedikit kuat menjadi suara terakhir yang Namjoon dengar sebelum air matanya jatuh.

Ini adalah kali pertama Jungkook diselimuti amarah di hari ulang tahunnya.

Ini adalah kemarahan Jungkook yang paling besar selama mereka berpacaran juga menikah.

Namjoon melangkah gontai menghampiri sisa-sisa kegiatannya tadi. Matanya menatap nanar adonan yang tadi ia persiapkan dengan sepenuh hati. Kecuali cokelat batangan  yang berada di dalam panci, Namjoon tak mengerti apa yang salah dari yang tengah ia lakukan. Katakanlah dirinya memang ceroboh karena tak memperhatikan keadaan sekitar sebelum meninggalkan dapur, namun haruskah ia diteriaki seperti tadi? Tentu dirinya juga akan bergerak cepat mematikan kompor jika ia yang pertama mendapati panci cokelatnya sudah mengeluarkan asap banyak.

Haruskah ia diteriaki seperti tadi?

Apakah dirinya memang terlalu payah dalam menggunakan perkakas dapur sampai Jungkook jadi semarah itu?

Namjoon menghapus air matanya. Tak satupun dari kedua rencananya berjalan dengan lancar. Tak ada dirinya yang memegang kue buatannya dengan dua lilin di atasnya ketika Jungkook baru memasuki pintu apartemen mereka. Tak ada teriakan penuh semangat dan nyanyian selamat ulang tahun yang heboh. Tak ada adegan dramatis di mana Namjoon akan berbisik bahwa Jungkook akan menjadi seorang ayah tepat setelah yang bersangkutan menyuarakan keinginannya dan meniup lilin. Semuanya telak gagal dalam satu kedipan mata walau Namjoon sudah merencanakan dan menyusunnya sedemikian rupa.

Dan di atas itu semua, tak ada peluk dan ciuman pelepas rindu padahal keduanya sudah cukup lama tak bertemu.

Bukan begini.

Bukan keadaan seperi ini yang Namjoon inginkan.

Suara isak pelan terdengar sedetik kemudian. Namjoon dengan cepat mengambil segelas air dan meneguknya habis untuk meredakan tangisnya, namun air matanya mengalir semakin deras. Ia merindukan Jungkook. Sangat. Ingin rasanya ia berlari dan menghampiri Jungkook di dalam kamar, namun perasaanya masih terlalu sakit. Suara penuh penekanan Jungkook dan cara memandangnya tadi masih terus terputar di dalam kepala layaknya film keluaran terbaru.

Apakah salah Namjoon jika Jungkook hanya tidur tiga jam tadi malam?

Apakah salah Namjoon tak menghubungi Jungkook kembali yang ternyata berangkat lebih awal tanpa memberitahunya?

Apakah salah Namjoon jika ia ingin memeluk suaminya sekarang juga?

 

 

Jungkook tersentak dan sontak duduk di pinggir ranjang. Karena lelah dan rasa kantuk yang sudah di ubun-ubun, Jungkook tertidur setelah ia memasuki kamar tadi. Hangatnya suasana kamar dan tempat tidur yang beraroma dirinya membuat Jungkook bergegas ke alam mimpi dalam hitungan detik.

Tempat tidur beraroma dirinya…

Jungkook berbalik dan baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Namjoon kemarin benar adanya. Sekitar lima, ah tujuh potong baju kaus dan hoodienya berserakan di atas ranjang, lengkap dengan parfum favoritnya di atas nakas.

Namjoon pasti menyemprot ulang baju-bajunya hingga aromanya menempel seperti ini.

Namjoon merindukan dirinya, sama seperti dirinya merindukan Namjoon sampai bekerja kesetanan demi bertemu kesayangannya itu lebih cepat tak jadi masalah.

Jungkook menggigit bibir bawahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Teringat kembali akan wajah terkejut Namjoon dan bicaranya yang sempat terbata.

Mengapa dia seperti itu tadi?

Haruskah ia keluar sekarang?

Apa yang ia katakan kepada Namjoon nanti?

“Enggak enggak. Nggak bisa,” racau Jungkook kemudian bangkit berdiri. “Nggak bisa kaya gini.” Jungkook berjalan cepat meninggalkan kamar dan mencari keberadaan Namjoon.

“Kak. Kak Namjoon,” panggilnya dengan intonasi suara yang sudah lebih normal lantas segera berlari ketika ia mendapati Namjoon tengah berdiri menghadap konter dapur. “Kak ….”

Namjoon mengangkat pandangannya, lalu menatap Jungkook tanpa ekspresi.

“Kak, aku minta maaf. I’m so sorry I shouldn’t talk to you that way. Maaf kesan pulang aku kali ini kaya gini. I miss you so much. Aku sadar aku nggak seharusnya kaya gini.”

Tanpa diduga, Namjoon kembali terisak dan menangis. Membuat Jungkook yang terkejut sontak menarik yang bersangkutan ke dalam pelukan dan merapalkan kata maaf berulang-ulang.

“Sayang, aku minta maaf. Marahin aja aku lagi nggak apa-apa. Jangan nangis, please. Kak, please, my heart hurt.”

I just … aku cuma mau nyiapin surprise buat kamu, Kook. You told me that you are craving for oreo cake, dan aku udah milih resep yang paling simple yang bisa kukerjain. I really tried my best you don’t have to yell at me kaya tadi. I just trying to make your birthday cake, Kook.”

Tangan Jungkook meremat baju Namjoon kuat dan rengkuhannya pada tubuh yang bersangkutan semakin erat. “No.”

“Kamu tanya kenapa aku nggak langsung ngomong about the baby? Karena aku nunggu moment ini, Kook. You don’t have any idea gimana gelisah dan nggak sabarnya aku mau cepat-cepat ngasih tau tapi aku tahan banget. Kenapa? Karena aku bener-bener nungguin moment ini. Aku pengen liat ekspresi kamu langsung, how you will react and how you will hug me. Aku pengen liat ekspresi kamu pertama kalinya gimana. Will you just standing there saking kagetnya, atau kamu langsung naikin bajuku buat ngeliat perutku yang masih rata dan buat suara-suara lucu?! Aku pengen, aku pengen,”

No no no, Kak, please … I’m so sorry. Aku, aku keburu kebawa emosi karena pikiranku lagi penuh banget. Aku nggak buat pembelaan buat diriku sendiri. Aku salah, aku sadar. Aku cuma ngerasa being left out karena taunya dari Mama dan bukan dari kamu langsung. Kak,” Jungkook mengusakkan kepalanya semakin dalam ke ceruk leher Namjoon, “aku bahkan nggak ingat hari ini ulang tahunku. So sorry for ruining your plan.”

Stupid!

I know.”

“Apa kerjaan kamu lebih penting?”

“Kalo itu bisa buat aku lebih cepat ketemu kamu, then yes.”

I hate you.

I’m sorry.

You … kamu tuh, you’re such a—”

I know, my love. I’m sorry. It must be hard right? Do you love my clothes that much you wear them everyday when you are home? Hm?”

Shut up.” Namjoon akhirnya menenggelamkan hidungnya pada baju Jungkook. Menghirup aromanya dalam-dalam, kemudian balas memeluk erat lelaki kesayangannya itu. “Ini yang aku mau dari tadi. I miss you so, Kook-ah.”

You don’t have any idea gimana kacaunya kangenku ke kamu, Kak.” Jungkook menegakkan badannya, memegangi kedua sisi wajah Namjoon, kemudian membawa yang bersangkutan ke dalam ciuman dalam. Lidahnya ia lesakkan satu detik kemudian, menginvasi dengan pasti setiap sudut mulut makhluk yang begitu ia cintai itu. Tangan Namjoon ia bawa untuk melingkari lehernya, lalu perlahan membawa jalan keduanya ke sofa terdekat.

Jungkook mendudukkan dirinya terlebih dahulu di atas sofa, lantas mengarahkan Namjoon dengan begitu lembut untuk duduk di atas pangkuannya, masih dengan ciuman yang belum terlepas. Tangannya bergerak pelan dan intens, menyentuh seluruh bagian tubuh Namjoon yang bisa ia sentuh, dan berakhir pada perut yang lebih tua setelah Jungkook menyelipkan tangannya masuk tadi.

There is a baby inside,” bisik Jungkook di depan bibir Namjoon setelah memutus ciuman. “Our baby.”

Our baby.” Namjoon menghisap bibir bawah Jungkook lantas mengecupnya. “You’re gonna be a father.”

“Kita bakal jadi orang tua.” Jungkook tersenyum, menikmati keindahan wajah Namjoon yang juga sedang tersenyum di atasnya. “Kiss me, please ….”

Namjoon tertawa, lantas menunduk untuk mencium seluruh bagian dari wajah wajah Jungkook lengkap dengan suara kecupannya.

Kegiatan hangat dua insan itu diiringi oleh tawa riang keduanya.

We should go out,” ucap Namjoon setelah menghujani seluruh wajah Jungkook dengan ciuman gemasnya.

“Kenapa?”

“Beli kue, lunchie, celebrate your birthday.”

“Nggg.” Jungkook memeluk Namjoon dan menenggelamkan wajahnya pada dada yang bersangkutan.

“Kamu mau di rumah aja?”

Jungkook mengangguk. Tangannya menyelinap masuk ke baju belakang Namjoon, mengelus kulit pinggang belakangnya dengan lembut.

“Oh ya udah kita order aja kalo gitu sekalian sama makan siang. Let me see … the cake ohh are you still craving for the oreo cake?

Yes.

You want one, sweetheart?

Yes please, honey.”

Okay pretty oreo cake for my love one is on the way.” Namjoon melemparkan ponselnya ke sofa dan kembali mengalungkan kedua tangannya pada leher Jungkook. Dipandanginya paras indah suaminya tersebut dari tempat ia duduk. Indah. Menawan sekali. Dan betapa Namjoon mencintai dirinya. Bertahun-tahun bersama, membuat Namjoon tersadar bahwa masalah seperti apapun tak pernah membuat mereka berdua ribut atau mendiamkan satu sama lain berlama-lama. Namjoon mencintai Jungkook, begitu juga sebaliknya. Dan selama mereka berdua bersama, rintangan seperti apapun mampu mereka hadapi.

Why is it?” Jungkook tersenyum, menikmati sentuhan jemari suaminya yang kini menyusuri garis rahangnya.

It’s just … funny. Tadi suasananya rumit banget, but look at us now. Kaki kamu nggak pegal?”

“Enggak. I love this.” Jungkook tersenyum lantas mengecup telapak tangan Namjoon. “Kalo diingat-ingat lagi, kita selau berakhir kaya gini nggak sih? Berantam, diam, abis itu peluk-pelukan. Bukan berarti aku suka loh kita kaya gini. It’s just, yeah indeed funny. Kaya—”

“Nggak bisa jauh lama-lama, kan?”

“Iya. Maaf aku udah teriak sama kamu tadi. I’m not in my right mind. Aku khawatir soalnya dari pagi nggak dapat kabar kamu. Aku buru-buru turun dari pesawat, buru-buru nyari taksi, ah, aku juga ngotot nyuruh supirnya ngebut tadi. Aku khawatir.”

“HPku mati, tadi malam lupa ngecas. Sebenarnya tadi aku udah ngechat kamu, tapi hpnya langsung mati. Aku baru aktifin lagi pas kamu nyampe tadi. You were so scary.”

I’m sorry.”

But you have the reason though. Kondisi kita aja yang emang nabrak banget tadi.”

“Harusnya aku kasih tau aja ya semalam kalo penerbanganku jadi lebih awal. Kaya gini ceritanya kita sama-sama mau buat kejutan tapi kita berdua yang kaget.”

Idiot.”

You are my cute idiot husband.”

 

===

 

Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, dear husband, happy birthday to you.”

“Wah cantik banget kuenya.”

“Ayo make a wish.”

Jungkook menutup matanya dan mulai berdoa dalam hati. Setelahnya ia meniup lilin diikuti dengan suara tepuk tangan dan tawa Namjoon.

“Yeayy selamat ulang tahun ya, Kook. You know I always wish all the best for you. Semoga kamu bahagia terus, ya.”

“Makasih, Kak.” Jungkook meraih tangan Namjoon, meremat jemari mereka, lantas mengecup punggung tangan Namjoon. “Semoga kita bahagia terus.”

“Dimakan dong kuenya.”

“Oh iya,” jawab Jungkook melepaskan tangan Namjoon untuk meraih pisau. Dengan telaten ia memotong kue berbentuk bulat itu menjadi potongan lebih kecil. Ia kemudian mengambil sendok dan mengarahkan suapan pertama pada Namjoon.

“Kok aku duluan?”

“Spesial buat sayangku.”

Namjoon tertawa lantas membuka mulutnya, menerima suapan kue. “Bisa gitu, ya.”

And,” Jungkook mengambil kue lagi dengan sendoknya dan mengarahkannya sekali lagi pada Namjoon, “this is for my baby.”

Namjoon mengulum senyum hingga lesung pipinya tercetak jelas. Dengan wajah merona ia kembali membuka mulutnya.

“Kamu blushing.”

Shut up, I’m shy.”

You are with a baby. You have my baby inside this beautiful belly of yours, Kak.”

“Jungkook, shut up,” jawab Namjoon malu kemudian merampas sendok dari tangan Jungkook. Ia mengambil kue dan balas menyuapkannya pada Jungkook dengan gerakan cepat.

“Manis, Kak. Kaya kamu.”

“Haish mulutmu. Gimana Jepang?”

“Biasa aja.” Jungkook menggeser Namjoon hingga membelakanginya, lantas menarik yang bersangkutan untuk duduk bersandar padanya. Tangannya secara otomatis menelusup ke dalam baju Namjoon dan mengelus-elus lembut perutnya. “Capek banget sebenarnya, Kak. Nggak di ruang meeting, nggak di kamar hotel, selalu aja megang kerjaan. Aku full makan di hotel sampe balik kemarin saking nggak bisanya ke mana-mana.”

“Uuuh kasian. 2 minggu di sana pasti nggak ada yang pijitin kamu, kan?”

“Nggak ada lah. Nggak mungkin minta pijit ke Taehyung, kan? Dia aja sama kaya aku, tiap hari kaya pengemis cinta terus-terusan nelpon suami masing-masing.”

“Hahaha pengemis cinta nggak tuh?”

“Ih kamu nggak liat aja kita di sana. Udah kaya zombie yang butuh belaian suami.”

Namjoon menaikkan tangannya dan memegangi pipi Jungkook yang bersandar manja pada bahunya. “You did great, sayang. Mau kupijit nggak nanti malam?”

“Maunya dipijit yang lain.”

Namjoon berbalik dengan gerakan cepat. Entah Jungkook salah melihat, namun kilat nafsu sekilas tampak pada manik Namjoon dan tatapannya berubah serius.

“Kamu mau?”

“Kak, aku … becanda.”

“Nggak apa-apa kalo kamu mau. Bisa kok. Kemaren aku udah sekalian tanya sama dokternya,” jelas Namjoon dengan mata membulat besar.

“Enggak, Kak. Aku beneran cuma becanda.”

“Jadi kamu nggak mau?” Tatapan Namjoon berubah sedih. Membuat Jungkook langsung merasa bersalah.

“Kak, nggak gitu. Bukan gitu. Aku takut. Kamu emang udah nanya dokter, tapi itu kan dari sisi kamunya. Sedangkan aku sama sekali belum ada pergi ke dokter bareng kamu untuk ngecek baby.”

Bibir Namjoon meruncing, lantas membelakangi Jungkook dengan tangan dilipat di depan dada.

“Gini aja deh, kapan rencana mau cek baby lagi?”

“Minggu depan.”

Okay, minggu depan kita pergi bareng, aku juga tanya-tanya semuanya ke dokter. Kalau memang udah pasti aman, we do it then, okay?”

“Huh.”

“Sayang, aku juga perlu paham,” jawab Jungkook dengan suara pelan nan rendahnya. Membuat Namjoon total runtuh dengan pertahanannya dan kembali menyandarkan tubuh pasrah pada Jungkook.

“Ya udah.”

“Cium aku lagi?”

“Cium yang banyak?”

“Hu um.”

“Sebanyak apa?”

“Sampe mulut pegel.”

You kissing monster.”

You love it though.” Jungkook menarik Namjoon bangkit berdiri dan menggendong yang bersangkutan dengan posisi menghadap dirinya. Kedua tangan kokohnya menahan pasti pipi pantat Namjoon.

“Mau ke mana?”

“Kamar. Biar lebih seru,” jawab Jungkook sembari tersenyum miring. Jarak keduanya ia pangkas dengan cepat kemudian meraup bibir Namjoon ganas.

I love you,” ucap Namjoon susah payah dengan napas tersengal.

You know I love you more,” balas Jungkook. Bersama suaminya di dalam rengkuhan, sepasang kaki Jungkook berjalan pelan tapi pasti menuju kamar tempat keduanya paling banyak memadu kasih dari semua tempat di rumah ini.

Thank you for this precious man, universe. Thank you for blessing me by his presence on my birthday. I love him so much, ucap Jungkook dalam hati sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan kaki kanannya.

-

Notes:

Happy birthday, our #1 joon's admirer

Series this work belongs to: