Work Text:
Ada yang sedikit berbeda pada minggu pagi ini. Alih-alih di rumahnya —lebih tepat, rumah orang tuanya, pagi ini Mark sudah sampai di apartemennya. Mark memasuki apartemen yang sering dia kunjungi saat membutuhkan tempat untuk bersemedi maupun menghindari hiruk-pikuk kegaduhan di rumah.
Saat ini, tempat itu masih sunyi. Mark bergegas menuju ke kamarnya dengan senyum jahil yang tercetak jelas menghiasi wajahnya. Dia mencoba memutar gagang pintu dan—
Terkunci.
Tentu saja. Ah, sepertinya Mark harus mulai memikirkan untuk mengganti pintu kamarnya menjadi smart door juga. Tentunya yang bisa terintegrasi dengan pintu depan. Ide jahilnya untuk mengganggu waktu tidur pacarnya gagal.
Iya. Akhir pekan ini, apartemennya sedang dijajah oleh pacarnya —Jaemin, yang Mark yakini 100% masih terlelap sekarang. Memang, Jaemin bukanlah morning person, apalagi jika sebelumnya dia terjaga hingga larut malam. Lagipula, 'minggu tuh jadwal bangun siang, tau!' kalau kata Jaemin.
Saat Mark berjalan menjauhi kamarnya, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah piano yang berada di ruang tengah. Senyum jahil yang sempat hilang itu kembali. Mark mengambil posisi, bersiap-siap mengalunkan sebuah lagu —jika itu bisa dikatakan sebuah lagu. Karena, entahlah. Mark hanya menekan-nekan tuts secara asal. Tak lupa senandung spontan 'bangun, Jaemin ayo bangun~' terdengar mengiringi.
Sementara di dalam kamar, sayup-sayup dentingan piano yang mengalun mulai berhasil mengganggu tidur Jaemin. Dengan terpaksa, Jaemin terbangun. Manik matanya mengerjap, berusaha untuk menerima cahaya yang masuk ke retina sesaat setelah dia menyalakan lampu kamar.
Jaemin terduduk di pinggir tempat tidur selama beberapa saat —mengumpulkan nyawa, sebelum memutuskan untuk beranjak keluar menghampiri sumber masalah di pagi itu. Berniat menghentikan kebisingan yang Mark ciptakan di luar.
Suara pintu dibuka dan rengekan 'Maaarrk' dari Jaemin membuat Mark langsung menoleh. Jaemin melancarkan protes, "Kamu berisik banget. Dikira apartmu ini soundproof apa ya. Dari kamar aja masih kedengeran, loh!"
Mark tertawa kecil mendengar omelan yang Jaemin lontarkan padanya. Sementara itu, Jaemin menghampiri Mark dengan langkah gontai dan bibir yang mengerucut.
"Morning, Sunshine! Kan, sengaja biar kamu bangun." Mark sedikit menghadapkan badannya ke kanan, menyambut Jaemin yang semakin mendekat. Saat Jaemin sudah berada di jangkauannya, lantas salah satu tangannya menggenggam tangan Jaemin. Memberhentikan aktivitas Jaemin yang sedari keluar kamar mengucek-ucek mata. Sementara tangan lainnya, mengusap lembut pipi Jaemin yang sudah menjadi hak miliknya.
"Jaem, udah sadar belum?" tanya Mark sambil sesekali menyugar helaian rambut Jaemin yang mencuat keluar.
Jaemin menggeleng dan kembali mengeluh, "Pagi banget. Ini jam berapa?"
"Sevenish." Mendengar jawaban Mark, Jaemin hanya bisa menghela napas. "Mau dimainin lagu apa, Bayiii?" Mark sedikit memundurkan kursinya, memberi ruang agar Jaemin bisa duduk di pangkuannya. Tangan yang masih saling menggenggam itu seakan menuntun Jaemin untuk duduk.
Berbeda dari yang Mark perkirakan, Jaemin menjatuhkan dirinya ke dekapan Mark. Tidak duduk menyamping, dia malah memposisikan diri seperti koala yang memeluk erat batang pohon. Perlu digaris bawahi, dengan erat.
Mark terkesiap.
Mendengar 'oof!' yang cukup mengejutkan dari Mark, membuat Jaemin dengan polosnya bertanya, "Why are you gasping? Oh maaf, aku beratkah?" Jaemin sedikit melonggarkan lingkaran tangannya di leher Mark agar dapat menunduk dan memberi Mark tatapan bertanya-tanya.
"Enggak, Sayang. Tapi, duduknya boleh agak mundur sedikiiit gak?"
Permintaan yang dilontarkan Mark agaknya membuat Jaemin tersadar. Cara duduknya saat ini bisa dikatakan cukup kontroversial. Salahkan saja nyawanya yang baru setengah terkumpul sehingga perbuatannya menjadi lebih reckless.
Jaemin mengubah posisi duduknya. Sekarang, kepalanya bersandar di pundak Mark. Tangannya tak lagi melingkar di leher Mark. Masih malu untuk kembali memeluk Mark sehingga Jaemin hanya memegang ujung baju Mark.
Merasa bajunya sedikit tertarik karena pergerakan itu, Mark terkikik, "Peluk aja, Babe. Enggak apa-apa," dan membawa tangan Jaemin untuk melingkar di pinggangnya, "nah, begini. Kamu kayak lagi naik ojek aja tadi."
Jaemin hanya dapat menggembungkan pipinya kesal mendengar ledekan Mark.
Tak lama, dentingan piano kembali mengalun. Namun, kali ini Mark memainkannya dengan benar sambil menggumamkan nyanyian yang membuat Jaemin kembali mengantuk.
Jaemin sudah kembali merasa relax dan mencari posisi baru. Kini, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Mark. Sesekali menduselkan hidungnya di sekitar bintik hitam di sana. Menghirup aroma khas fabric softener yang menguar lembut.
Sniffing Mark always feels like home. And seeing the mole again makes him think. He always has the urge to touch it, and in that moment, being so close to it just makes it impossible for him to think straight.
Lagi-lagi, salahkan saja nyawanya yang sudah kembali hilang setengah sehingga perbuatannya menjadi lebih reckless. Jaemin baru saja mengecup salah satu tanda yang terlukis di leher Mark dan—
"Ow! Shi—" seru Mark kaget, tetapi tertahan. Bersamaan dengan suara piano yang menjadi sumbang kehilangan harmoninya. 'Damn. Kalau setengah sadar begini, kelakuannya bahaya juga ya.' batin Mark.
Itu terjadi tidak hanya sekali saja. Jaemin seperti sedang mengabsen moles Mark di leher bahkan di pipinya juga. It makes Mark too conscious about the sensation around his neck: his kiss, his lips, his breath. So he stops.
Mark menangkup kepala Jaemin, membawanya ke hadapannya agar lebih leluasa memandangi wajah Jaemin. "Hey, Babe? Bangun, yuk." Mark berbisik lalu mengecup kening Jaemin.
Hanya gumaman singkat yang Jaemin berikan sebagai jawaban. Matanya masih saja kriyep-kriyep, menahan kantuk.
Menyerah melawan kantuknya, Jaemin memilih menyamankan diri di pangkuan Mark. Kembali ke posisi awal dengan kepala yang bersandar di pundak Mark.
"Sayang, ngantuk banget?" Mark bertanya dengan tangan yang kemudian dikerahkan untuk mengusap punggung Jaemin dengan lembut dan penuh kasih, "kamu kemarin malam nugasnya sampai jam berapa?"
Tak kunjung mendapat jawaban, Mark mengalungkan lengan Jaemin pada lehernya. Tempat duduk di depan piano tidak memiliki sandaran, jadi Mark memutuskan untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Mengambil ancang-ancang untuk berdiri —with Jaemin still in his arms, Markpun berbisik, "Pegangan ya, Babe. Aku mau pindah ke sofa."
Namun, sepertinya Jaemin belum puas membuat Mark kaget pagi ini. Tidak setuju dengan destinasi baru Mark, Jaemin meracau, "Ngantuk. Kamar." sambil menunjuk ke arah kamar tidur di apartemen itu.
Mark masih melanjutkan berjalan menuju sofa dan kembali bertanya, "Kamu mau tidur lagi?"
Yang ditanya mengangguk dan berdehem mengiyakan.
"Terus aku ngapain? Kalau di sini, kamu mau lanjut tidur juga enggak apa-apa, Sayang. Ini juga aku pindah biar posisi kamu lebih nyaman aja. Biar enggak pegel."
Jaemin tetap pada pilihannya, "Kamar aja."
"Terus aku sendirian di ruang tengah? Tega banget." kata Mark sambil mendudukkan diri di sofa, membawa Jaemin kembali ke pangkuannya.
Jaemin berdecak. Dia menjadi rewel ketika mengantuk. Kelakuan Mark sekarang tidak membantu dan malah membuatnya lebih rewel. Maka, Jaemin bangun dari pangkuan Mark, menarik tangannya, dan mulai berjalan ke kamar. Hentakan kakinya seakan ingin menunjukkan kalau dirinya ngambek.
Detak jantung Mark berpacu cepat ketika Jaemin menyuruhnya untuk berbaring, sesaat setelah keduanya sampai di kamar. Tidak akan ada hal aneh yang terjadi, Mark tahu itu.
They aren't on that phase, yet. Mark just can't help it.
Mark tetap menurut walau debaran yang dia rasakan semakin kencang. Sedikit cemas saat melihat Jaemin mulai menyandarkan kepalanya tepat di dadanya. Dapat dia rasakan hampir keseluruhan tubuh Jaemin ditumpukan padanya —a comforting heaviness like a reassuring anchor grounding him in the warmth of the moment.
"Nah, gini kan enak. Di tempat tidur lebih legaaa." ujar Jaemin, sementara Mark masih terdiam. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sofa di apart Mark adalah sofa bed. Menjadikan alasan yang diberikan Jaemin tidak cukup valid, tetapi Mark tidak mendebatnya.
"Kamu capek ya gendong aku, Ay? Deg-degan banget."
Sungguh? Apakah Jaemin tidak memikirkan alasan lain seperti perilakunya yang meresahkan ini?
"Ay~ puk puk lagi." Kali ini, Jaemin berujar sambil menuntun tangan Mark untuk mengelus kepalanya. Walau masih terdiam dan berusaha menetralkan detak jantungnya, tangan Mark bekerja menuruti keinginan Jaemin.
"Wangi kamu enak banget, aku jadi mau begini seharian." Pelukan Jaemin semakin erat, kepalanya terus bergerak mencari posisi ternyaman.
"Ini kamu udah mulai cerewet, sekarang udah beneran bangun, kan?" adalah kalimat pertama yang Mark ucapkan semenjak masuk ke kamar.
"Enggak mau~ masih ngantuk~ kamu dateng pagi banget, Ay. Udah kayak mau berangkat sekolah aja." Gerutuan Jaemin kali ini hanya dibalas tawa oleh Mark.
Hening menyelimuti beberapa saat sampai akhirnya Mark bertanya, "It's unusual of you to be this clingy. Is everything alright, Baby?"
'He knows.'
Mark mengingat-ingat percakapan mereka kemarin malam. Jaemin bisa menyembunyikan masalahnya, tetapi kemarin, Mark dapat merasakan ada yang tidak beres. Hal itu pula yang menjadi alasan Mark untuk mengecek keadaan Jaemin pagi ini —dengan mengusiknya.
Selama mereka menjalin hubungan, Mark ingat setidaknya ada dua keadaan yang dapat menyebabkan pacarnya menjadi bolder and more affectionate. Pertama, saat mengantuk atau setengah sadar seperti kejadian di ruang tengah tadi. Dan yang kedua, saat ada masalah yang mengganggu pikiran Jaemin. Itu sebabnya Mark menanyakan hal tersebut.
Di posisi sekarang, Mark dapat merasakan pergerakan kepala Jaemin, tapi dia tidak tahu apakah Jaemin menggeleng atau menganggukan kepala. Terlalu samar.
"Words, Babe. I can't fully see you right now."
"Nope, it's not okay. But, it will. Eventually. Right?" Jaemin mengangkat kepalanya dari posisi tidurnya untuk menjawab pertanyaan Mark dan menatap tepat di matanya. Meminta afirmasi.
"Sure," Mark tersenyum. Tangannya kembali terangkat untuk menyampirkan rambut Jaemin ke belakang telinga, "My baby will make everything okay in no time. Wanna share the thoughts with me?"
Jaemin menggeleng, lalu kembali menidurkan kepalanya di dada Mark. "Nanti. Sekarang mau begini dulu."
Mereka menghabiskan pagi itu dengan berbagi pelukan hangat, sesekali berganti posisi. Menyelipkan senda gurau di sana sini. Hingga akhirnya, keduanya kembali terlelap.
Sudah hampir jam sembilan. Jaemin terbangun untuk yang kedua kalinya di hari itu. Kali ini, dengan tangan Mark yang melingkar posesif di pinggangnya. Posisinya yang sedang menjadi the little spoon membuatnya dapat merasakan hembusan nafas Mark yang menyapa tengkuknya.
Perlahan, Jaemin mengubah posisinya untuk menghadap Mark. Memandangi wajah laki-laki yang ternyata, hanya dengan kehadirannya di dekatnya sudah dapat membuat dirinya merasa lebih baik.
He had no idea, he didn't expect, that being in love with each other could be this comfortable and beautiful.
"Mark, makasih banyak. Aku sayang banget sama kamu." bisik Jaemin penuh penekanan sambil mengecup singkat hidung Mark.
"Say that again." Mark balas berbisik, masih menutup matanya, tapi bibirnya melengkungkan senyuman dan tangannya mengeratkan pelukan, membawa Jaemin semakin dekat. Nampaknya, pergerakan Jaemin tadi membuatnya bangun.
"I love you, Mark."
Mark membulatkan matanya, kaget. Dia disambut dengan senyum tulus dari Jaemin di hadapannya, kaget pangkat dua.
It's rare.
Tidak biasanya Jaemin akan langsung mengiyakan permintaan Mark tanpa meledeknya terlebih dahulu. So, he tries it once again.
"Kiss me?" Kali ini, kening Mark yang menjadi sasaran kecupan Jaemin. "Nooo." rengek Mark. Tangannya menunjuk-nunjuk bibirnya yang mengerucut, memperjelas keinginannya yang sebenarnya sudah Jaemin mengerti.
"Enggak mau, aku belum sikat gigi." Jaemin menjawab sambil menutup mulutnya. Sedikit menjauh dan melonggarkan pelukannya karena Jaemin ingin bangun dan bersandar di headboard.
Sedikit merajuk, Mark berkata, "Biasanya juga abis makan, abis ngapa-ngapain, enggak pakai acara sikat gigi dulu." Jaemin mendesis mendengar alasan yang Mark berikan.
"Aw, aw, aw, iya ampun, ampun."
Tadi itu suara Mark, akibat Jaemin yang mencubit pinggangnya. "Yaudah, Jaem, kamu siap-siap aja deh. Kita cari sarapan, ini udah siang." Mark bangkit dari tempat tidur. Menyempatkan diri untuk mengusak rambut Jaemin sebelum mulai berjalan keluar kamar.
"On second thought," suara Mark kembali terdengar, membuat Jaemin memandangi Mark yang berhenti di setengah perjalanannya keluar kamar dengan penuh tanya. Mark berbalik menuju tempat tidur lagi dan "—I love you too, Baby." Mark berhasil mencuri satu kecupan singkat di bibir Jaemin dan langsung berlari keluar sebelum Jaemin berhasil melemparinya dengan bantal.
