Work Text:
“rumah impian kamu kayak apa?”
pertanyaan dadakan chan yang datangnya entah dari mana itu, timbulkan tanya di kepala hansol. ia menoleh ke arahnya yang sedang sibuk berjongkok dan memainkan sekumpulan bunga liar yang tumbuh di tanah dekat kakinya berpijak.
sebuah kontras yang unik; figurnya yang penuh pahatan otot hasil latihan militer yang keras, bekas pertarungan yang terpampang pada sebagian kulit yang terekspos, terbalut seragam tentara dengan tactical gear dari kepala sampai kaki, tapi sedang mengagumi kecantikan bunga liar yang tumbuh di tanah antah berantah ini dengan senyum girang.
mirip anak anjing, batin hansol.
“yang ada kebun.” jawab hansol setelah beberapa jeda keheningan, larut dalam pikirannya sendiri. rupanya, ia pun sedikit terdistraksi lantaran terlalu asik mengagumi indahnya sang kekasih.
tawa chan menyembur keluar. “kebun? emang kamu bisa berkebun?”
“bisa nyoba.” sebuah senyum kecil perlahan tunjukkan eksistensinya di wajahnya. “kalau kamu? rumah impian kamu kayak apa?”
chan tidak langsung menjawab, tengah benar-benar memikirkan jawaban dari pertanyaannya yang dilempar balik ke arahnya.
jemarinya berhenti memainkan kelopak putih bunga itu dan ia memilih mendudukkan dirinya di atas tanah. ia menaruh senapannya di sampingnya.
kemudian ia menoleh ke arah hansol, tersenyum sembari agak mengernyit kesilauan sebab hansol tengah berdiri dan kebetulan mentari turut menaunginya dari belakang. hansol suka melihat senyumannya dan kerutan-kerutan manis yang datang bersamaan dengannya.
“yang ada kamu.”
sekarang, lelaki yang sedikit lebih tua itu bersyukur dengan siang yang panasnya cukup terik. dengan begitu, ia jadi punya alasan untuk mengelak kalau chan meledek wajahnya yang merona karena malu.
“kenapa kamu tiba-tiba nanya pertanyaan kayak gini deh, chan…” gumamnya, coba alihkan pembicaraan sembari coba atur irama detak jantungnya yang jadi sedikit kacau.
lelaki itu masih tersenyum, “nggak ada salahnya mulai mikirin masa depan kita, kan?”
hansol mengangguk dengan seulas senyum tipis di bibirnya. “iya.”
sebuah keheningan lagi. cuma ada sepoi angin tipis yang sedikit redakan panas siang ini, dan samar suara cengkerama tentara lain yang tengah berjaga di posnya.
“pensiun, yuk.”
yang itu, buat hansol tengokkan kepalanya cepat ke arahnya. “ya?” ia takut sudah salah dengar.
“iya, kita pensiun aja. habis misi yang ini, maksudnya.”
mereka pernah bicarakan soal itu sebelumnya — soal pensiun, soal pernikahan kecil-kecilan di kapel, lalu soal rencana tinggal berdua di rumah yang cukup untuk keluarga kecil keduanya nanti. tapi, hansol tak pernah menganggapnya terlalu serius atau menaruh banyak harap pada hal tersebut.
kehidupan militer adalah hidup yang dipilih keduanya dengan sukarela, sesuatu yang walau berat, namun pekerjaan yang dicintai keduanya. dicintai chan juga.
jadi omongan chan barusan, jelas jadi hal yang mengejutkan baginya.
“aku pikir, kita udah cukup lama mengabdi di sini, kan? we’re not that young anymore, sol. kayaknya udah pantes disebut om-om, deh…”
“but i thought you love it here? this job? ”
“i do. ” tanpa ragu itu chan akui. “but i love you more. so why not spend the rest of our lives together, damai, tenang, tanpa perlu aku atau kamu pertaruhin nyawa dan khawatir yang lainnya bisa mati kapan aja.”
“hei, omongannya…”
chan cuma tertawa sembari masih menatapnya dengan senyum di bibir. “ya, pokoknya maksudku begitu.”
“kamu…” ia mengerut, coba cari kata-kata yang tepat di tengah semrawut otaknya ketika menerima informasi baru ini. ia mengedip dan termangu menatap chan. “kamu serius?”
ada sesuatu yang terdengar seperti kegirangan terselip di kalimat terakhirnya. seperti harapan juga. nampaknya lelakinya menyadari hal itu, sebab cengirannya melebar dan ia terkekeh. “kapan aku gak serius sama kamu?”
dan kali ini hansol biarkan bibirnya rekahkan senyuman lebar penuh gigi. dentum jantungnya bisa ia rasakan, bergemuruh penuh semangat di balik iganya. ia tak bisa menahan rasa penuh antisipasi dan kebahagiaan yang meluap di dadanya.
“beneran boleh beli rumah yang ada kebunnya gak nih?”
“asal kamu rawat yang bener aja, sol.”
“nanti kamu bantuin nanem juga, ya?”
“lho, kok aku jadi ikutan repot???”
“kan lucu, tau. couple hobbies! kita bisa nanem wortel, kol, cabe, macem-macem. ”
“nggak lucu banget, dua bapak-bapak pensiunan militer alih profesi jadi berkebun.”
chan tergelak, menatapnya lembut dengan binar di netranya yang buatnya terlihat makin menawan. rasanya, hansol makin jatuh cinta dengannya.
“iya deh, iya.” ujar si lebih muda, “nanti kita cari rumah buat kita berdua. yang ada kebun.”
kamu bilang kayak gitu, kan, waktu itu? jadi sekarang kenapa—
“kita kehilangan kontak!”
orang-orang sibuk melangkah ke sana kemari, mengatur strategi, melihat ke arah layar komputer dengan raut tegang.
—kenapa semua jadi begini?
kalimat itu, adalah hal yang tak pernah hansol kira akan ia dengar dalam hidupnya.
kesalahan prediksi mengenai musuh ketika menginfiltrasi, buat timnya harus hadapi serangan yang cukup berat. belakangan diketahui kalau ada kebocoran info dari orang dalam yang buat musuh tahu akan strategi yang akan timnya pakai, membuat semuanya jadi berantakan.
mereka diperintahkan untuk mundur, tentu saja. pilihan untuk bertahan dan hadapi lawan tak akan menjadi pilihan yang cerdas untuk diambil. perintah itu jadi hal terakhir yang mereka semua dengar sebelum seluruh komunikasi terputus tiba-tiba.
waktu itu hansol berlari, sebab cuma itu yang bisa dilakukannya.
berlari, berlari dan berlari .
tembakan di mana-mana, bau mesiu dan amis darah jadi hal yang selanjutnya ia cium. jeritan kawan timnya…sayangnya juga jadi hal yang harus ia dengar.
hansol cuma berharap kalau jeritan selanjutnya yang ia dengar, bukan milik chan.
letusan peledak jebakan musuh membuat timnya terpecah jadi dua, membuat hansol terpaksa berpisah dengan chan dan beberapa rekan timnya. ia khawatir setengah mati, tentunya. komunikasi yang mati hanya memperparah kecemasannya.
tapi ia juga tahu kalau chan adalah tentara yang piawai dalam pekerjaannya, the best the team ever had.
chan banyak melampauinya dalam segala hal, hansol akui itu. jadi ia yakin kalau chan akan baik-baik saja.
chan akan baik-baik saja.
sebab, mereka punya janji dan asa yang hendak diraih berdua, bukan?
jadi ia pasti baik-baik saja. chan pasti kembali.
seharusnya—seharusnya, seperti itu.
hansol dan beberapa rekannya yang selamat, sampai lebih dahulu di markas. netra lelaki itu sibuk melihat ke sana ke mari, mencari sesosok lelaki tinggi dengan surai coklat yang sedikit terbakar matahari dengan senyum lebar yang menyambut kedatangannya. mungkin lelaki itu akan menghampirinya dengan sedikit luka-luka di tubuh, lalu menyambutnya dengan pelukan dan cengengesan seperti biasanya.
tapi tidak ada.
gelengan petugas yang ditanyainya hanya membuat kengeriannya makin nyata. terperangkap di gedung, katanya. bersamaan dengan beberapa orang lainnya, lelakinya terjebak di sana sambil menunggu kedatangan tim evakuasi.
“—do you copy? ” ujar seorang petugas ke saluran komunikasi yang harapannya masih bisa didengar mereka yang tertinggal di sana. “tim evakuasi sudah menuju ke sana. titik penjemputan ada di pintu selatan gedung. semua yang mendengar ini harap menuju ke sana sekarang. over .”
hansol hanya bisa mematung di tempatnya, masih berusaha mencerna fakta kalau chan-nya masih di luar sana tanpa bantuan, mungkin—mungkin sendirian, entahlah.
masih tak ada jawaban dari ujung saluran komunikasi.
tak ingin diam saja, ia berderap ke arah pintu keluar. sebuah tangan menghentikan langkahnya impulsifnya, dan hansol berbalik hanya untuk menemukan atasannya yang menahannya.
dari sorot matanya, nampaknya ia mengerti intensi gila hansol.
pergi kembali dan menyusul chan memang ide yang tidak waras.
“kami melakukan semua yang kami bisa lakukan,” mulainya. ia menghela napasnya dan menggeleng. hansol mencoba sekuat tenaga untuk menghalau sesak yang rambati rongga udaranya. “jangan bertindak gegabah. bersabarlah.”
tapi nyatanya, apa pun itu bila demi chan, takkan ragu hansol lakukan. he’d do whatever it takes in a heartbeat.
ada suara statis di ujung saluran komunikasi yang sita perhatian orang-orang di ruangan. hansol bersumpah beberapa menahan napasnya dengan gugup dan penuh antisipasi seperti dirinya.
“prajurit lee chan di sini,” statis lagi. “i copy.”
udara lolos dari mulutnya, bergetar. lega. itu suara chan, itu lelakinya.
“prajurit, segera menuju pintu selatan gedung bersama prajurit yang lainnya. tim evakuasi sedang dalam perjalanan ke sana—”
“hanya ada saya.” suaranya bergetar di ujung sana. terdengar lelah dan terengah. “tinggal saya sendiri di sini.”
tanpa membuang waktu, ia berjalan mendekat ke arah petugas yang tengah berbicara dengan kekasihnya, berharap untuk mendengarnya lebih dekat. lebih jelas.
“saya ulangi, segera menuju ke pintu selatan.”
ada suara yang terdengar seperti hela napas berat, “mereka di mana-mana. gedung ini penuh dengan mereka, dan saya terkepung, jadi saya tidak—” kalimatnya terpotong, seperti tercekat oleh kata-katanya sendiri.
ada tarikan napas dalam. “tidak bisa.”
“no,” protes hansol. tidak ada yang melarangnya untuk berbicara, jadi, “chan, keluar dari sana.”
ada sebuah jeda sebelum hansol mendapatkan balasan. kekeh tawanya yang begitu ia sukai mengalun dari mesin komunikasi, “oh, thank God kamu gak kenapa-kenapa.” suaranya terdengar lega.
“chan, ini bukan waktunya khawatirin aku. please, keluar dari sana—”
“nggak bisa, hansol.” tuturannya terdengar final, absolut. hansol mengernyit. ia tak mengerti kenapa chan begitu pesimis. toh, bantuan sebentar lagi akan datang, jadi mengapa—
“i got shot.” dan rasanya darahnya berdesir dingin, buatnya kaku, sebab hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. “i’m…bleeding. very badly. buat jalan pun aku udah gak kuat lagi.” lalu ia terkekeh.
“i’m sorry, i–aku gak bisa. nggak bisa.”
“chan — “
“letnan,” panggilnya, sengaja abaikan panggilan hansol. nada bicaranya begitu lemah, seolah menggerakan lidah untuk melafal adalah hal yang sulit untuk dilakukan.
lelaki yang jadi atasannya itu rupanya menyimak sedari tadi dari samping dalam diam, nampak tegang. ia mengangguk walau tahu kalau gesturnya takkan bisa dilihat. “ya, prajurit lee?”
“mohon izin untuk mengaktifkan peledak gedung.”
dan rasanya jantungnya jatuh mendengarnya. ia ingat timnya sempat memasang peledak di titik-titik lemah gedung itu—yang kalau meledak, dijamin akan runtuh dan meratakan seluruh isinya ke tanah. markas musuh dan seluruh isinya akan hancur.
ia juga ingat kalau chan yang memegang detonatornya.
hansol mencengkeram ujung meja dengan frustasi. rahangnya mengeras, menahan kepanikan, kengerian, dan amarah di dada. “kamu gila?! itu — itu bunuh diri namanya!”
“hansol—”
“nggak, chan.” suaranya terdengar serak. takut. tak peduli seberapa keras ia mencoba mengatur diri, emosinya tak terbendung. ia tak ingin mendengar alasan chan, apapun itu. “itu bukan pilihan!”
“pilihan apa lagi yang aku punya? diem dan akhirnya mati karena kehilangan darah? atau diem dan nunggu mereka temuin aku? God knows what they’ll do to me if they do.”
hansol menolak mengakui kebenaran di kata-katanya. chan punya pilihan.
“masih ada waktu, chan. kamu pasti bisa selamat. m-masih ada waktu.” entah siapa yang berusaha ia yakinkan—chan, atau dirinya sendiri?
ada dengusan tawa, nyaris tak tertangkap olehnya sebab begitu halus terhembus.
“kamu tau itu gak bener, hansol. berapa persen kemungkinan aku bertahan dengan luka tembak abdomen sampai tim evakuasi tiba? ketika mereka tiba, aku—i-i’ll be long gone by then.”
chan benar. pemuda itu selalu benar, dan kerap kali menangkan perdebatan konyol keduanya tiap-tiap kalinya. hansol tak pernah keberatan, tak juga ambil pusing.
tapi,
hansol cuma berharap kali ini chan salah.
ia menggeleng, abai dengan tatap penuh simpati yang dilayangkan ke arahnya. melawan sesak yang menjerat paru, ia kembali memohon kepada prianya.
“jangan begini. chan, jangan.”
sebuah batukan di ujung sana. terdengar basah dan memilukan. it’s killing him, knowing he’s out there in pain, scared, and dying alone.
“letnan, apa saya dapat izin? ” ujarnya, mengabaikan pinta hansol.
“chan! ”
“diizinkan.”
tidak. tidak begini—
“no, please.” dengan putus asa ia melirik ke arah sang letnan, separuh merasa terkhianati, separuh lagi mengerti kalau memang tak ada pilihan lain .
“chan, jangan begini. nggak kayak gini, jangan pergi—a-ada waktu! tolonglah.”
ada gemerisik di ujung panggilan. hansol tahu ia tengah meraih detonator yang ia simpan di sakunya.
ia merasa semakin tidak berdaya.
“chan—” parau. putus asa.
hancur tak berdaya.
“maaf,” dan chan memohon maaf untuk banyak hal—yang tak sanggup ia sebutkan, tapi yakin akan dimengerti kekasihnya. di ujung sana, ia makin sandarkan tubuh lemasnya ke dinding yang dingin. tangannya memegang walkie-talkie dengan bergetar, “maafin aku, ya.”
hansol bisa melihat petugas komunikasi yang perlahan melepas headset- nya sebelum melengoskan wajah lantaran tak tega. he didn’t care, yang ia pedulikan hanyalah chan-nya.
“tahu gak? seumur-umur, aku gak nyangka bisa sayang sama seseorang segini banyaknya.” isak tercekat akhirnya lolos dari bibirnya, dan pilu membanjiri dadanya. hansol hanya bisa berdiri di sana, tak berdaya mendengar suara kekasihnya yang sekarat. “makasih ya.”
rasanya ingin marah. tetapi marah kepada siapa, tepatnya?
“nggak adil,” tuturnya dengan bergetar. setitik bulirnya jatuh, lalu satu persatu disusul tetesan lainnya. “kenapa, kenapa… ”
“hansol, kamu sayang aku enggak? ” suaranya terdengar makin halus, makin lemah. pemuda itu tak bisa melihatnya, namun ia berani bertaruh kalau chan tengah tersenyum saat itu. ia bisa merasakannya.
“of course, ” balasnya seolah pertanyaan itu merupakan pertanyaan paling bodoh yang pernah didengarnya. “konyol. jelas aku sayang kamu.”
chan tersenyum, lebih lebar. ia begitu menyayangkan fakta kalau ia tak bisa melihat wajah kekasihnya saat ini. rindu rasanya.
ah, rasanya semuanya jadi sedikit berbayang dan mengabur. samar-samar, chan bisa merasakan sendi juga tungkai-tungkainya yang hampir tak bertenaga, nyaris mati rasa. ia rasa, satu-satunya hal yang buatnya masih cukup terjaga dari tadi hingga sekarang adalah nyeri tajam yang menjalari tubuhnya.
ah, dan hansol-nya juga.
“i’m glad. aku senang dengarnya.” ujar chan ke walkie-talkie sebelum membawanya tepat di atas dadanya, lalu mendekapnya erat-erat. seolah benda itu adalah sang kekasih.
it’s the closest he can get to hansol, after all.
jempolnya meraba ujung tombol detonator, bersiap untuk menekannya. ada isakan pilu di ujung panggilan, dan dirinya kembali meminta maaf pada hansol di dalam hati karena semua harus berakhir seperti ini.
chan tersenyum kecil, pahit. mungkin kita bisa punya rumah itu di lain waktu.
“thank you for loving me, sol.” adalah hal terakhir yang terujar dari ujung panggilan sebelum seluruh komunikasi kembali terputus total.
