Work Text:
Rasanya keriput di dahiku akan bertambah setelah berkali-kali dikecewakan oleh perona bibir yang kubeli. Kali ini bekas bibir sewarna bunga mallow tercetak nyata di mulut cangkir. Padahal klaim dari produknya sih tak bakal pindah dari bibir sebelum kiamat. Sungguh pembohong ulung!
Gwiboon eonni bilang jika perona bibir yang daya tahannya seperti dosa manusia, biasanya bakal membuat bibir kering. Milikku, yang seperti gurun Sahara ini seharusnya pakai yang ringan-ringan saja. Namun aku si pemalas, tentu saja memilih untuk pakai sekali sapuan awet hingga kiamat agar tak perlu polas-poles seperti gadis cantik di depan cermin.
Kalau eonni sih pantas-pantas saja berlama-lama di depan cermin memilih gincu mana yang akan dipakai. Atau mungkin saat memoles ulang setelah warnanya hilang dipakai makan. Uuuu melihatnya begitu aku betah sekali.
Kadang saat eonni berhias, aku bakal menunggui di sebelahnya seperti menonton video pemengaruh kecantikan. Mulai dari membikin alis dan semacamnya (hal yang tidak pernah dilakukan orang sepertiku) sampai membuat bayangan di wajah agar menjadi lebih sempurna dengan riasan. Lalu bagian favoritku adalah saat eonni memilih pakai perona bibir apa hari ini.
Sesungguhnya bibir eonni memang sudah cantik dari sananya. Pakai pelembab bibir yang ada warnanya saja sudah bagus, apalagi diberi warna macam-macam. Mana eonni adalah orang yang telaten kalau masalah riasan bibir. Mau gaya ombre atau tiga dimensi yang membuat bibir seperti dibikin ulang pun disikatnya.
Namun hari ini penonton kecewa. Pasalnya eonni memilih pakai perona bibir punyaku (kubeli entah kapan pokoknya mengecewakan) yang seperti stempel kering. Warna seadanya tapi mudah menempel dimana-mana.
Sedih sekali rasanya seperti kepengen makan kue beras di salah satu warung tapi bibinya sedang libur. Bisa sih bikin sendiri tapi kan mau rasanya si bibi! Kurang lebih seperti itu perasaanku. Mau menangis kok ya tidak separah itu untuk ditangisi tapi tetap saja rasanya mau gelundungan meraung-raung.
"Kesayanganku kenapa mukanya melorot begitu?"
" Eonni pakai gincu jelek," kutekuk mukaku hingga delapan. "Itu gincu paling tidak punya pendirian yang pernah kubeli dan dipakai eonni sungguh menyakiti hatiku."
Eonni terkekeh sambil mencubit ujung hidungku, "Kalau begitu coba pilihkan satu buatku."
Kuambil yang warnanya merah muda semu jingga, cocok sekali untuk kencan piknik hari ini. Kupikir eonni mengambil tisu di sampingku namun tangannya malah meraih pipiku.
Yaa selanjutnya kami batal kencan piknik di pinggir sungai sih, ehe.
