Work Text:
Tali dengan ujung yang terikat sebagai tali mati dan menyisakan lubang yang sangat pas pada leher Athanasia adalah apa yang ada di depannya sekarang. Kaki dan tangan Athanasia diborgol, rambut pirang cerah turunan ibunya digerai cantik, pakaian putih bersih sepanjang lutut, dan mata biru bak berlian yang berair, mengalir deras dalam kesunyian.
Ia dihukum mati—sekali lagi—oleh satu-satunya ayah yang ia miliki; Claude de Alger Obelia. Kematiannya akan disaksikan secara langsung, di depan mata—dengan tatapan murka, tajam, benci, oleh Yang Mulia Raja dari Kerajaan Obelia.
Hukuman mati ini membuat Athanasia berpikir sekali lagi, menggali memorinya selama ia hidup 18 tahun ini.
Mengapa aku lahir?
Mengapa permintaannya begitu menyakitkan?
Mengapa aku berpikir bahwa takdir akan berbeda?
Mengapa aku bukanlah apa-apa?
Mengapa aku harus berakhir?
“Permisi,” ujar prajurit yang dipercayakan untuk mengalungkan tali tersebut ke leher Athanasia. Suaranya dingin, tegas, walaupun pelantunannya sopan. Athanasia pasrah dengan semuanya sekarang. Ia akan mati, dan mengulangi kehidupannya lagi—entah menjadi seseorang yang lain atau menjalani kehidupan Athanasia lagi.
Mungkin ini akan menjadi pikiran terakhir Athanasia sebelum ia benar-benar mati.
Lucas, ia belum kembali ke Kerajaan. Apakah dia baik-baik saja?
10
9
Apakah dia akan kembali?
8
Ah, entahlah. Toh, Lucas sudah banyak membantuku di kehidupan yang sekarang.
7
6
5
Tapi, apakah ia benar-benar tidak akan kembali? Apakah ia tidak akan mencariku nantinya? Apakah ia tidak mau menjemputku?
4
3
Ah, baiklah, terima kasih untuk selama ini, Lucas…
2
1—
Kayu yang dipijak Athanasia terbelah dua, ia akan segera mati dalam hitungan milidetik karena dirinya yang tergantung bebas oleh tali sialan itu.
Ia terjatuh,
Ah, tidak, ia masih berada di udara.
Surai hitam yang panjang terlihat buram pada manik biru berlian Athanasia yang terisi oleh air matanya. Pita merah yang terikat pada rambut orang itu ikut menari-nari bersama surainya.
“Lucas?”
Bunyi borgol yang dipotong habis-habisan dan tali yang sekarang hanyalah benang-benang tak berbentuk meninggalkan seluruh warga Kerajaan hening dan terkaget-kaget. Termasuk Yang Mulia Raja Claude dari Kerajaan Obelia. Ia melotot tidak percaya, api dalam dirinya semakin membara melihat Athanasia masih bergerak dengan terbata-bata.
Lucas kembali.
Ia menjemputku.
Ia baik-baik saja.
Ia membantuku lagi.
Ia menyelamatkanku lagi untuk yang kesekian kalinya.
Lucas, terima kasih karena sudah berada di pihakku selama ini.
Aku hanya ingin kau berjanji satu hal. Jika aku mati, jika aku tak lagi mengingatmu, tolong jemput aku. Dimanapun aku berada, tolong jemput aku. Aku adalah Putri dari Kerajaan Obelia yang pernah menjadi teman masa kecilmu, yang pernah kau temani tiap harinya. Dan tolong temani aku selalu kedepannya.
Pria itu kerap menyungginggkan senyuman manisnya. Dan Athanasia masih meneteskan bulir-bulir air matanya. Sedangkan Claude dari kejauhan menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Athanasia seharusnya sudah mati. Ia melihat penyihir terbaik Kerajaan Obelia menyelamatkan orang yang seharusnya mati saat itu juga.
Seketika maniknya menjadi semakin marah melihat Lucas menggendong Athanasia.
Ia seperti melihat dirinya pada saat Athanasia melakukan debutnya dan berdansa dengan Claude sebagai pasangan berdansa—dan sebagai ayahnya.
“Minggir sekarang juga atau kauikut mati!” seru prajurit yang berada di atas kayu yang sama dengan Lucas sambil menodongkan pedang tajamnya.
Lucas menatapnya tak kalah tajam.
Dalam sekejap, jari-jari prajurit itu tak lagi memegang pedangnya. Darah tersebar ke permukaan dasar.
Jari-jarinya hilang.
Ia menjerit kesakitan. Warga yang berada di sana tak kalah panik, mereka ikut ramai berteriak karena kejadian yang baru saja mereka lihat.
Tatapan Lucas beralih pada para warga yang berada di sana, seakan ia akan melakukan hal yang sama pada mereka.
“Kita akan pergi sekarang, Yang Mulia Putri Athanasia.”
Sang Putri mengangguk sambil menutup matanya.
Mereka hilang dalam sekejap, meninggalkan semua kejadian buruk di Kerajaan, dan tali serta borgol bekas Athanasia yang sudah hancur berkeping-keping.
Mereka menghilang, dan mungkin tak akan pernah kembali pada Kerajaan Obelia.
[OMAKE]
“Yang Mulia Raja! Banyak warga dan prajurit yang terluka!”
Claude masih menatap tajam tepat di mana Lucas dan Athanasia menghilang dari tatapannya.
Semua memori tentang Athanasia dari ia pertama bertemu hingga hari ini mendadak berputar tanpa henti dalam pikirannya. Senyum manisnya, tatapan matanya, rambut ikalnya, suara lembutnya, dan segala hal tentang Athanasia mengingatkannya pada mendiang istrinya, Diana.
Ia benci ketika mengingat semua itu, ia benci ketika ia melihat senyum Athanasia, ia benci ketika melihat wajah Athanasia, rambut Athanasia, dan kata-kata Athansia yang begitu mirip dengan mendiang istrinya.
Tetapi ia menyukainya. Ia pernah menyukainya dan entah sejak kapan ia mulai membencinya.
Athanasia bukanlah anaknya. Athanasia bukanlah penerus Kerajaan Obelia. Athanasia bukanlah bagian dari dirinya.
Aku ingin kau melindunginya, Claude.
Angin pagi itu berdesir cukup kencang di belakang telinga Claude.
Ia mendecih kesal.
“TEMUKAN MEREKA DULU!”
