Work Text:
Gyuvin baru saja menyelesaikan siarannya tepat setelah Beomgyu mengangkat kedua tangannya membentuk huruf T tanda cukup untuk hari ini. Gyuvin merupakan salah satu murid yang diberi kepercayaan sebagai penyiar di saluran radio sekolah di setiap hari Kamis, dan Beomgyu sebagai kakak kelas yang pernah menjabat posisi sama pun selalu hadir untuk membantu.
Bagi Gyuvin, menjadi pembawa acara di radio itu menyenangkan. Selain bangga oleh sebab suaranya bisa dikenal banyak orang, Gyuvin juga menemukan keseruan ketika dia berinteraksi dengan para pendengarnya (yang mayoritas adalah anak-anak di sekolahnya). Dia juga suka saat begitu banyak orang-orang yang berakhir miliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya meski hanya melalui anonym. Semua hal-hal kecil seperti itu tidak pernah gagal buat Gyuvin bahagia.
“Dua puluh menit lagi bel pulang, Vin. Mau langsung turun apa ke kelas dulu?” Tanya Beomgyu sembari menggulung kabel-kabel di dalam ruang petak tersebut.
“Langsung turun sih, Bang. Udah dibawain tas gue sama si Junhyeon.”
“Oke kalo gitu. Thank you buat hari ini, Vin. Emang gak salah gue milih lo buat gantiin gue, haha.”
“Bisa aja lu, Bang. Yaudah gue duluan ya.”
Gyuvin harus menuruni enam kali sepuluh anak tangga untuk sampai ke lantai dasar gedung sekolahnya. Di sepanjang jalannya dia tidak absen tunjukkan deretan giginya sewaktu beberapa murid menyapanya. Gyuvin adalah anak yang ramah. Dia selalu punya seratus persen energi untuk ulas senyum dan melempar banyolan-banyolan kepada semua orang. Tidak ada satu pun di sekolah ini yang tidak mengenal seorang Kim Gyuvin, mataharinya Broadcasting 2.
“Parah banget masa rekues lagu gue kaga lo puterin, anying!”
Adalah Junhyeon, dengan muka kesal yang sedikit dibuat-buat, melempar asal tas ransel hitam Gyuvin ke empunya. Anak lelaki dengan dasi dan kerah seragam yang acak-acakan itu mencibir ketika yang Gyuvin beri sebagai respon hanya sebuah cengiran lebar sampai kedua matanya nyaris menghilang. Gyuvin lantas merangkul bahu Junhyeon, menuntunnya berjalan melewati gerbang sekolah menuju di mana motor mereka biasa diparkirkan.
“Tadi gak ada PR kan, Jun?” Gyuvin bertanya dengan setengah minat.
“Gak ada tapi catetan sejarah banyak banget, anjir! Liat nih tangan gue,” Junhyeon menjulurkan tangan kanannya, menatapnya dramatis. “Keriting kan? Inilah perjuangan gue hari ini.”
“Gapapa sih, anggep aja latihan nulis biar seenggaknya tulisan lo bisa dibaca dikit.”
“Caranya sangat gak efektif, asal lo tau. Bukannya bagus yang ada malah makin mirip tulisan dokter.” Sungutnya berapi-api, sebelum melepas rangkulan Gyuvin pada bahunya dan berbalik untuk berjalan mundur. “Apa nanti pas kuliah gue ambil kedokteran aja ya? Lumayan nih gue udah modal tulisan jelek.” Sambungnya, yang kemudian mendapat jitakan di kepala.
Keduanya sibuk bercengkrama sambil sesekali meninju satu sama lain dengan main-main sampai tidak begitu menyadari lapangan parkir sudah tinggal beberapa langkah. Tidak lupa Gyuvin menyapa bapak penjaga parkiran dengan senyuman dan pertanyaan basa-basi seperti; “Udah makan siang belum, Pak?” dan berakhir Gyuvin menyelipkan sebungkus roti yang sengaja dibelinya sebelum pulang tadi ke tangan penjaga tersebut.
“Lo mau ke sebelah dulu ya, Bro?” Tanya Junhyeon.
“Heem.”
“Bareng dah kalo gitu. Gue mau jajan seblak di sana soalnya kata orang-orang enak banget gue jadi penasaran.”
“Orang-orangnya tuh Minji doang kan?”
Gyuvin tertawa begitu respon Junhyeon ialah hampir menimpuknya dengan helmetnya. Meledek soal Junhyeon dan cinta monyetnya, Minji, memang menjadi kesenangan tersendiri buat Gyuvin. Junhyeon adalah salah satu teman yang sangat dekat dengannya. Melihat teman yang cuma tertarik dengan gim ponsel dan futsal itu mendadak jadi senang membicarakan tentang perempuan tentu menarik perhatian Gyuvin.
“Udahlah gue pergi sendiri aja. Gak usah ngikutin gue, jangan pernah nyapa atau klaksonin gue di jalan. Mulai detik ini kita gak kenal. Bye!” Junhyeon yang merajuk dan motornya sudah meninggalkan parkiran, meninggalkan Gyuvin yang masih tertawa.
Mesin motornya dinyalakan, Gyuvin baru mau menarik gas pedal sebelum ponselnya bergetar di dalam saku seragamnya. Sebuah panggilan tak terjawab. Gyuvin menarik sudut-sudut bibirnya naik, kemudian benar-benar pergi setelah ponselnya kembali masuk ke dalam saku.
Ricky. Nama yang menggantung di daftar panggilan tak terjawab milik Gyuvin. Nama dari seseorang yang membuat Gyuvin melipirkan motornya berlawanan dengan arah rumahnya berada. Nama dari seseorang yang buat Gyuvin jadi lebih banyak menghabiskan waktu di luar sepulang sekolah alih-alih tidur siang di rumah. Gyuvin tidak keberatan sama sekali. Ricky adalah sahabatnya. Kalau harus diurutkan, Ricky itu nomor satu, dan Junhyeon nomor dua. Gyuvin dan Ricky sudah berteman selama separuh angka umurnya. Seperti latar-latar sinetron di televisi, secara kebetulan, rumah Ricky tepat berada di sebelah rumahnya. Kamar mereka hanya disekat sebuah tembok tipis, pun balkon di kamar keduanya hanya dibatasi segaris pagar besi yang tidak terlalu tinggi.
Hari-hari Gyuvin dipenuhi sapaan selamat pagi dari Ricky tiap kali bocah itu menumpang makan di rumahnya, atau sebuah olok-olok acap kali Gyuvin kalah dari Ricky dalam hal beradu bola basket di lapangan sekolah, atau pekikan kesal Ricky tatkala Gyuvin mencuri sepotong sosis dari piring nasi gorengnya saat mereka makan siang bersama, atau ucapan selamat tidur dari Ricky sebelum mereka berpisah di pagar balkon kamar mereka. Ricky tidak pernah sekalipun absen dari penglihatannya kendati mereka sekarang berbeda sekolah. Gyuvin masih rajin memberi tumpangan kepada si pemilik surai pirang itu kemana pun dia hendak pergi. Selain karena Gyuvin tidak punya pekerjaan lain, dia selalu berhasil menemukan kesenangan tersendiri hanya dengan membuntuti Ricky seharian.
Termasuk, ini.
“Hari Minggu ini gue mau ke exhibition gitu deh, Vin.”
“Yang Van Gogh itu?”
“Itu mah udah waktu itu. Yang ini lain. Katanya mau ada busking-nya juga.” Selorohnya, tidak terganggu dengan gerakan-gerakan kecil yang Gyuvin timbulkan ketika memasangkan helmet di atas kepalanya. “Udah lama gak nonton busking. Terakhir pas gue SD apa ya?”
Gyuvin mengangguk-angguk saja, beri dua kali tepukan di atas helmet yang telah terpasang rapi di kepala Ricky, buahkan satu decakan dari bibir yang lebih tua. Meski selalu melontar protes, tapi Ricky tidak pernah menyuruhnya berhenti melakukan itu, maka Gyuvin pun merasa tidak apa untuk melakukannya lagi dan lagi.
“Mau gue temenin?” Tawaran tersebut tidak serta-merta Ricky tanggapi. Anak itu justru kini menatap Gyuvin sangsi.
“Minggu bukannya lo punya jadwal tetap mabar sama Junhyeon ya?”
“Emangnya lama?”
“Ya lama lah! Gue bisa seharian tau.” Sahutnya seraya mengibaskan tangan. “Udahlah gak usah. Lagian gue juga mau perginya sama Wonyoung.”
“Oke.”
Ricky selalu punya hari-hari yang menarik untuk dilewati, dan Gyuvin tidak pernah tidak merasa tertarik akan itu. Tapi Gyuvin tidak akan mau mengganggu kalau Ricky bilang tidak. Sejujurnya dia kapok. Pernah dulu sekali Ricky mogok bicara padanya karena Gyuvin nekat mengikutinya padahal Ricky sudah bilang tidak boleh. Anak itu kalau sudah marah pasti membutuhkan waktu yang lama untuk luluh, dan Gyuvin yang tidak punya banyak teman ini tentu tidak mau kejadian yang sama terulang kembali.
“Makasih, Mas. Saya udah bayar lewat aplikasi ya.” Ucap Ricky main-main begitu dirinya sudah turun dan menyerahkan helmet yang dipakai kepada Gyuvin. Bocah itu lantas sedikit membungkukkan diri untuk memeriksa penampilan di kaca spion, tangannya telaten menyisir helaian rambut pirangnya meski beberapa kali harus diinterupsi Gyuvin yang ikut memegang rambutnya untuk diacak-acak.
“Tumben gak mampir?” Tanya Gyuvin setelah selesai dengan agenda-menganggu-Ricky-nya.
“Malem aja nanti sekalian mau minta ajarin biologi sama Kak Hanbin.”
Tidak ada percakapan lagi setelah Ricky melambaikan tangan dan menghilang di balik pagar rumahnya. Gyuvin lantas menaruh motornya di dalam bagasi, kemudian melangkah masuk begitu hidungnya mencium wangi masakan yang semerbak dari arah dapur rumahnya. Dengan senyum sama seperti biasa, Gyuvin pun pulang.
***
Gawat! Hari ini Gyuvin telat!
Gyuvin baru bangun setelah alarm yang kelima berbunyi di pukul setengah tujuh pagi setelah semalam hanya bisa tidur selama lima jam. Salahkan saja catatan sejarah yang hampir menyentuh dua puluh halaman buku tulis itu yang harus Gyuvin selesaikan malam itu juga sebab hari ini sudah harus dikumpulkan. Tulisannya bahkan sudah bisa disandingkan dengan milik Junhyeon yang mirip tulisan tangan dokter itu.
Sialnya lagi, Gyuvin terlambat di hari yang sangat krusial alias hari Jumat yang mana seringkali pejabat-pejabat kesiswaan itu membuat gebrakan bernama razia. Gyuvin sudah di tahap pasrah andai mereka menyuruhkan mengumpulkan seluruh sampah di lingkungan sekolah, atau hormat di depan tiang bendera, atau parahnya lagi dia harus membersihkan toilet murid yang tidak terlalu bersih itu. Membayangkannya saja membuat Gyuvin lantas kehilangan nafsu makan.
Naasnya lagi, Gyuvin menemukan seseorang yang paling dia hindari di antara barisan OSIS di depannya ini. Park Gunwook, si ketua organisasi kesiswaan yang katanya galak itu.
Gyuvin sudah banyak mendengar rumor yang mengatakan Gunwook tidak cocok didekati untuk menjalin pertemanan. Sifatnya tegas dan angkuh, dia juga terkenal minim empati. Gyuvin pernah beberapa kali berpapasan dengannya entah itu di koridor atau kantin, dan pada kesempatan itu Gyuvin sama sekali tidak pernah melihat senyum dari bibirnya. Dan itu membuat Gyuvin sedikit banyak percaya dengan segala rumor yang beredar pun memutuskan untuk tidak lagi berusaha berurusan dengannya. Jadi untuk yang ini, Gyuvin tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.
Gunwook duduk dengan bahu tegap di hadapannya, dengan sebuah pena yang tengah berputar dimainkan jari-jarinya. Mereka hanya berdua di dalam perpustakaan seluas dua kali ukuran kamarnya. Tapi, rasa-rasanya ada yang menganjal di sini. Gyuvin diam sebab dia menunggu si ketua OSIS ini mulai memarahinya, namun Gunwook sedari tadi diam dengan sepasang bola mata yang bergerak entah mencari apa. Satu-satunya yang berisik ialah suara pena yang jatuh dari sentuhan jemari yang lebih muda.
“Aduh, maaf ya,”
Dan sekarang, anak itu meminta maaf. Gunwook yang dikenal minim empati itu meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan bukan merupakan kesalahan. Gyuvin sampai harus memastikan lagi penanda nama anak itu barangkali dia salah mengenali orang. Namun dia sungguhan Park Gunwook yang itu.
Gyuvin memperhatikan gerak-gerik Gunwook yang canggung dan berantakan. Dia bahkan berkali-kali tanpa sengaja menjedukkan lututnya ke kaki meja. Gyuvin juga mendapati beberapa kali Gunwook menyelipkan anak rambutnya yang tidak terlalu panjang itu ke belakang telinga. Di titik ini, Gyuvin justru merasa di sini dialah yang tampak seperti akan memberi hukuman alih-alih sebaliknya.
“Gunwook—“
“Iya?”
“—udah bel pelajaran kedua.”
“Oh, iya. Maaf,” anak itu merobek selembar kertas dari buku kecil miliknya, kemudian menulis sesuatu di sana. Dan semua itu masih di bawah pengawasan mata Gyuvin. “Ini. Daftar buku yang harus kamu bawa sebagai hukumannya. Ditunggu sampai hari Senin ya, Gyuvin.”
Ada ragu yang kentara di mata Gyuvin begitu mendengar tentang hukuman yang dia dapat. Bukannya dia tidak bersyukur atau justru mau melakukan hukuman tidak lumrah seperti bayangannya tadi, hanya saja rasanya terlalu mustahil. Dan mungkin keraguan Gyuvin disadari oleh Gunwook sebab tiba-tiba anak itu berdeham lagi.
“Ini kali pertama Gyuvin telat kan?” yang ditanya mengangguk cepat. “Makanya hukumannya cuma itu aja. Tapi kalau udah lebih dari tiga kali baru kena sangsi yang lebih berat.”
Ah, jadi begitu cara kerjanya. Rasanya lega tidak harus berurusan dengan sampah atau hal kotor lainnya dan Gyuvin menyadari ada untungnya juga selama ini dia sukarela memberi tumpangan kepada Ricky dan membuatnya harus datang pagi kalau bisa mendapatkan privilese begini. Gyuvin sempatkan mengucap terimakasih sebelum dia mengangkat bokongnya berencana minggat dari sana, tetapi Gunwook lebih dulu menahannya. Ketika lagi-lagi tatap mata Gyuvin jatuh kepada bagaimana kecanggungan terlihat di sorot matanya, dia semakin mempertanyakan bagaimana bisa rumor tentang Park Gunwook seburuk itu. Karena di matanya sekarang, Gunwook tidak lebih dari seorang anak kucing dengan sepasang mata bundar yang menggemaskan. Park Gunwook yang tengah menggenggam pergelangan tangannya ini tidak terlihat seperti orang angkuh dan minim empati.
“Gyuvin,”
“Aku cuma mau bilang makasih, karena suara kamu pas siaran radio kemarin aku jadi bisa fokus belajar buat ulangan fisikaku, hehe.”
Lalu, seperti adegan-adegan sinetron di televisi yang mana waktu seakan berhenti berputar, Gyuvin temukan dirinya termangu oleh senyum yang baru pertama kali dia lihat dan tawa kecil yang pun baru pertama kali dia dengar.
Gunwook punya senyum yang lebar dan menyegarkan. Ketika dia tersenyum, terlihat deretan gigi putihnya yang rapi dan kedua matanya dalam sekejap menghilang di balik kelopak monoloidnya. Dan suaranya. Gyuvin tidak ingat Gunwook punya suara seringan kicau burung pagi seperti tadi. Atau Gunwook memang selalu bicara dengan intonasi suara seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu masih berputar bahkan ketika kini Gyuvin sudah duduk di depan Junhyeon dengan semangkuk mie ayam yang entah kapan dia membelinya, sepertinya itu ulah Junhyeon. Keduanya berada di kantin setelah Junhyeon mati-matian menarik Gyuvin yang jiwanya seperti tertinggal entah di mana karena sejak dia kembali ke kelas anak itu lebih banyak diamnya.
“Gue jadi percaya kata anak-anak yang bilang lo dikasih hukuman buat bersihin toilet kalo bentukan lo begini, Vin.”
“Hah?”
“Tuhkan. Ya udah sih ntar gue bantuin, santai. Mending sekarang makan dulu daripada nanti pingsan.”
“Lo gak bakal percaya sama apa yang gue alamin hari ini, Jun.”
“Aphwa—“
Gyuvin buru-buru mengoper selembar tisu sebelum semua makanan di dalam mulut Junhyeon berserakan sebab dia bicara.
“Gue cuma disuruh nyari buku buat perpus.” Ucap Gyuvin.
“HAH?” Suara Junhyeon yang agak nyaring lantas buat beberapa murid di sana dengan cepat menoleh, meski secepat itu pula mereka tak acuh setelah tahu Junhyeon lah yang menciptakan kebisingan. Tapi anak itu mana peduli, yang menarik sata ini ialah pernyataan Gyuvin yang terdengar seperti bualan, meski Junhyeon tahu itu tidak karena Gyuvin menyodorkan selembar sobekan kertas berisi tulisan tangan Gunwook dan daftar judul buku yang Junhyeon tidak pernah tahu seperti apa wujudnya.
“Gimana ceritanya sih kok bisa lo dilolosin segampang itu sama si malaikat maut?”
“Well, menurut gue dia gak seserem itu sih.”
“Anjir,” mulut Junhyeon menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Ceritain detailnya ke gue cepet! Ngapain aja lo tadi sama dia?”
Kemudian cerita tentang Gunwook dan semua yang buat Gyuvin diam sejak tadi pun ditumpahkan kepada Junhyeon yang hanya bisa terbengong tak tahu harus berkata apa. Cara Gyuvin mendikte satu per satu kalimatnya, juga kilatan di sepasang matanya ketika nama Gunwook keluar dari bibirnya, Junhyeon dibuat kehabisan kata-kata. Junhyeon berakhir datang dengan satu kesimpulan; Kim Gyuvin telah jatuh cinta.
***
“So, there’s this one guy who catch your attention?”
Ricky menyomot satu keripik singkong dan mengunyahnya setelah mengonfirmasi kesimpulan dari cerita panjang kali lebar yang ditutur Gyuvin sejak satu jam lalu. Dia mengangguk-anggukan kepala, sedikit terkejut sebab ini kali pertama sahabatnya itu menceritakan seseorang selain Junhyeon padanya. Selama mengenal Gyuvin, Ricky tidak pernah sekalipun melihat Gyuvin sebegitu menggebu hanya karena diberi senyum oleh orang lain.
“Heem! Tau gak sih dia tuh di sekolah terkenal sombong banget soalnya gak pernah keliatan senyum. Tapi tadi dia senyumin gue, mana lucu banget lagi.”
“Congrats, deh. Mungkin itu cara dia bilang makasih, kan katanya gara-gara siaran lo dia jadi fokus belajar.”
“Terus tuh, Ki. I don’t how to explain but somehow he looks like you.”
Yang tadinya tidak terlalu menaruh minat, kini Ricky sepenuhnya jatuhkan atensi kepada Gyuvin dengan sepasang mata melotot dan tangan mengepal siap beri tinjuan. Toples keripik singkongnya tidak lagi menarik sampai Ricky membiarkannya jatuh ke atas karpet bulu ruang tamu rumah Gyuvin (iya, mereka memang sedang bersantai di rumah si bocah Kim karena lagi-lagi, Ricky sendirian di rumah.)
"Dengerin dulu. Kalian tuh sama karena dia juga punya mata bulet kayak kucing gitu,"
"Jangan samain gue kayak orang lain, dan stop terobsesi sama teori-teori kekucingan lo itu deh, please?"
Gyuvin tidak terpengaruh. Dia punya alasan kenapa Ricky bisa diasosiasikan dengan kucing. Itu karena Ricky punya sepasang iris berwarna hazel yang akan membesar ketika dia bergairah akan sesuatu. Ricky senang menghias ujung matanya menggunakan pensil hitam yang Gyuvin tidak begitu tahu namanya. Menjadikannya tampak tajam nan tegas, pun tetap terlihat cantik, seperti kucing.
Ricky kembali memungut keripik yang berserakan di karpet, sambil sesekali melirik ke arah Gyuvin yang tengah berbaring di atas sofa dengan kedua lengan terlipat di atas perut. Sekarang Ricky mengerti, agaknya sahabatnya itu sungguhan tertarik kepada anak dengan nama Park Gunwook itu. Ah, dia jadi penasaran seperti apa rupanya.
"Punya fotonya gak? Mau liat dong," tanya Ricky.
Dari sudut matanya bisa dia pastikan sekarang Gyuvin sedang tersenyum lebar di atas ponselnya yang sekejap berubah menjadi media stalking. Diam-diam Ricky taruh minat dan beringsut mendekat untuk mengintip layar ponsel milik yang bermarga Kim. Ibu jari Gyuvin cekatan menggeser-geser layar sedang menampilkan wajah-wajah yang tidak Ricky kenali. Sepertinya itu akun media sosial lembaga kesiswaan di sekolah Gyuvin. Kemudian, di detik selanjutnya, sebuah wajah dengan ekspresi tegas dan sorot mata tajam muncul bersamaan dengan gerakan ibu jari Gyuvin yang berhenti. Ternyata itu dia Park Gunwook.
"Serem banget," celetuk Ricky.
"Heem. Kalo di foto ini emang serem. Di sekolah juga dia selalu pasang ekspresi begini, makanya semua bilang dia sombong. Tapi tadi dia gak begini, Ki. He's so cute I'm not gonna lie."
"Ajak kenalan aja sih,"
"Kita udah kenal tuh."
"Ya udah ajak pacaran."
Gyuvin tersedak liurnya sendiri. Secara dramatis dia menatap Ricky horor, matanya melotot dan mulutnya terbuka tanpa disadari.
"Apa-apaan, Ki—"
"Gue kira lo naksir dia, Vin? Enggak?" sekarang Ricky malah mengajukan pertanyaan lain yang tidak masuk akal menurut Gyuvin.
"Teori dari mana itu?!"
Yang lebih tua beberapa bulan itu mengedikkan bahu, merebut ponsel Gyuvin untuk melihat lebih jelas rupa bocah yang hari ini jadi topik utama obrolan di antara sepasang sahabat itu. Ricky pun akhirnya mengakui bahwa Gunwook Gunwook ini punya sepasang mata bundar yang berbinar bahkan ketika dia cuma bisa melihatnya dari layar pipih. Kemudian Ricky mulai membayangkan skenario di kepalanya soal bagaimana kalau pemilik wajah ini tersenyum seperti apa kata Gyuvin. Mungkin bila suatu saat itu terjadi, Ricky pun pasti akan jatuh hati.
"Udah ayo makan aja. Masak apa nyokap hari ini ya," Ricky terkesiap begitu ponsel di tangannya direbut paksa. Gyuvin sudah beranjak dari sofa menuju dapur dengan langkah yang tergesa. Dan begitu saja, Ricky akhirnya bisa memastikan kembali. Kim Gyuvin benar-benar jatuh cinta.
***
Dalam kurun waktu dua minggu, Ricky diharuskan terbiasa dengan Gunwook yang tiba-tiba sering menjadi bahan obrolannya dengan Gyuvin selain Junhyeon. Gunwook begini, Gunwook begitu. Bagaimana Gunwook yang ternyata punya banyak sekali pesona yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari persona yang selama ini orang-orang tahu. Bagaimana Gunwook dan Gyuvin miliki banyak sekali kesamaan. Pun bagaimana sekarang Gyuvin lebih sering mendapatkan senyum dari bibir yang lebih muda. Semua menjadi tentang Park Gunwook, dan Ricky mencoba untuk terbiasa. Terbiasa untuk membaca pesan Gyuvin yang meminta maaf karena tidak bisa memberi tumpangan ke sekolah seperti sebelumnya. Terbiasa mengalah untuk tidak datang ke rumah Gyuvin acap kali Gunwook sedang mampir ke rumahnya. Terbiasa mendengarkan percakapan Gyuvin dan Gunwook lewat telepon di balkon kamar mereka. Terbiasa mendengar nama Gunwook disebutkan lebih banyak daripada dia mendengar suara kedua orangtuanya.
Bohong kalau Ricky bilang dia telah terbiasa. Maksudnya, selama ini kan dia selalu apa-apa Gyuvin, karena memang Ricky tidak punya begitu banyak teman yang bisa serta merta dimintai bantuan. Untuk beberapa alasan, Ricky lebih banyak bergantung kepada bocah Kim itu, jadi begitu Gyuvin absen dari kesehariannya, Ricky tidak munafik dia merasa kehilangan. Namun, ya apa boleh buat. Selagi Gyuvin merasa senang Ricky bisa apa.
Lagipula itu bukan seperti Gyuvin melupakannya begitu saja. Buktinya hari ini Ricky terbangun dengan notifikasi dari aplikasi pesan singkat yang tertera nama Gyuvin di sana, mengajaknya pergi siang nanti. Sabtu ini menjadi kali pertama Gyuvin punya waktu bermain dengannya (setelah dua Sabtu lalu Gyuvin asyik bersama Gunwook).
Ricky bergegas mandi setelah selesai memilih outfit yang bakal dipakai hari ini. Ricky juga mendadak senang memoles wajahnya dengan bedak tabur yang minggu lalu dibelikan oleh sang mama, padahal biasanya benda itu cuma jadi hiasan di meja belajarnya. Dengan satu polesan di atas bibirnya yang kering, kini Ricky sepenuhnya siap. Lima menit lalu Gyuvin mengirim pesan yang bilang dia sudah selesai mandi.
Sebetulnya bisa saja Ricky langsung menyambangi rumah yang lebih muda, tapi dia terlalu malas untuk beranjak. Atau mungkin Ricky hanya mau lihat usaha Gyuvin mengajaknya main setelah dua minggu menyuekinya.
"Iki!"
Panjang umur. Kepala Gyuvin menyembul di balik pintu kamarnya dengan cengiran lebar, lalu masuk dengan santai seakan kamar Ricky adalah kamarnya sendiri. Bocah itu lantas berdiri di belakang si empu kamar hingga bayangannya yang menjulang turut terpantul di sana. Senyum tidak luput dari bibirnya, malah semakin melebar sewaktu Gyuvin temukan Ricky dengan gaya yang berbeda.
"Widih, cakep bener. Tapi maaf, Ki, gue ngajaknya main ke timezone bukan makan di restoran mahal,"
"Gue cuma mau nyobain bedak yang dikasih mama."
"Iya, cakep kok, Ki."
Ricky mengembang senyum bangga, tidak sia-sia perjuangannya menonton video tutorial make up berjam-jam kalau hasilnya pun mendapat validasi dari Gyuvin. Kalau bertanya pada Ricky mengapa validasi dari Gyuvin itu harus, dia tidak punya jawaban yang pasti. Mungkin karena mereka sudah bersama sejak kecil, jadi pendapat Gyuvin sama penting dengan pendapat orangtuanya. Mungkin juga karena Gyuvin seorang yang jujur; dia tidak akan bilang bagus kalau kenyataan yang ada justru sebaliknya, jadi Ricky bisa merasa lebih tenang setelah dengar opininya. Mungkin juga karena Ricky hanya ingin saja. Dia tidak tahu.
Bahunya dirangkul, Gyuvin menuntun Ricky menuruni anak tangga seraya lontar satu dua cerita soal hari-harinya yang tentu didengarkan dengan baik oleh Ricky meski dia cuma beri respon sebuah dehaman seolah tak punya minat. Tatkala kakinya menapak pada sisa anak tangga terakhir, wajah familiar lantas menyambutnya bersama senyum yang pernah dia terka-terka bagaimana rupanya. Ricky tertegun sepersekian detik sebelum suara Gyuvin lagi-lagi menyerobot gendang telinganya.
"Tada! Waktu itu lo bilang mau ketemu sama Gunwook kan? Nah, ini gue bawa orangnya sekarang biar kita bisa main bertiga. Gimana?"
Waktu itu … kapan? Ricky tidak ingat dia pernah meminta bertemu dengan Park Gunwook—Oh? Tunggu. Jangan bilang omong kosong dan basa-basinya tempo hari (saat Ricky untuk yang kesekian kali, harus menjadi nyamuk di antara percakapan via telepon Gyuvin dan Gunwook), yang berceletuk penasaran dengan rupa Gunwook itu berakhir diseriusi oleh Gyuvin?
Oh Tuhan… Ricky bahkan tak diberi kesempatan meluruskan kesalahpahaman ini sebab Gunwook tengah mengulurkan tangan menanti jabatan tangan dengannya. Dengan modal senyum kikuk dan rencana untuk memukul kepala Gyuvin, Ricky balas genggaman tangannya. Mereka berjabat tangan sambil memperkenalkan diri secara langsung untuk pertama kali di bawah situasi canggung yang tidak terduga.
Dan akhirnya mereka bertiga menghabiskan hari Sabtu bersama. Gyuvin mengusulkan untuk naik bus karena katanya Gunwook ingin mencoba. Mereka berjalan beriringan (meski Ricky harus mengalah satu langkah di belakang sebab lajur trotoar yang agak sempit), didominasi obrolan-obrolan yang tidak terlalu Ricky pedulikan. Melintas hampir sepuluh langkah, mereka sampai di halte yang beruntungnya lumayan sepi itu. Ricky jadi yang pertama mengambil posisi duduk di sisi paling kanan, kemudian Gyuvin di tengah dan menarik tangan Gunwook pelan untuk duduk tepat di sampingnya.
Sepuluh menit menunggu, bus yang ditunggu pun tiba. Mungkin karena hari ini akhir pekan, penumpang saling berdesakan yang membuat mereka bertiga harus terdorong-dorong dan berpisah di dalam bus. Badan Ricky terhimpit oleh dua orang laki-laki dewasa yang hendak berikan kursi prioritas kepada seorang wanita paruh baya, jadi dia sedikit menyingkir ke bagian belakang bus. Namun, karena bus yang mulai berjalan dan Ricky belum menemukan pegangan yang mapan, dia sedikit oleng hampir jatuh kalau saja seseorang tidak menahan pinggangnya. Dan begitu Ricky menoleh demi mencaritahu siapa orang baik yang membantu, Gunwook tersenyum di belakangnya.
"Thanks…"
"Hmm. Berdirinya gini aja, nanti aku pegangin kalo mau jatuh lagi."
Sontak Ricky bungkam. Entah karena ruang gerak yang terbatas atau karena hal lain yang dia terlalu malu mengakuinya, tubuhnya mematung. Kepalan tangan di kedua sisinya semakin mengerat setiap kali bus mulai berhenti atau berjalan; sebab setiap kali itu pula lengan Gunwook di pinggangnya jadi sama eratnya.
***
Park Gunwook sebenarnya tidak punya alasan khusus mengapa dia memilih menyendiri di sekolah. Sejak memasuki masa sekolah dasar, Gunwook tak miliki banyak teman. Usianya yang masih terlalu muda buatnya sedikit terasing sebab kebanyakan anak-anak suka menjadi pemilih dalam segala hal, termasuk lingkar pertemanan. Pun Gunwook yang merasa dia bisa melakukan semua hal sendiri, semakin memperparah keadaan.
Tapi bukan berarti dia tak ingin punya teman. Adakalanya, Gunwook cemburu tatkala adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu membawa beberapa temannya bermain di rumah. Berbeda dengan Gunwook, adiknya justru lebih mudah bersosialisasi. Beberapa kali dia mencoba mengatur ekspresi wajahnya menjadi lebih lunak agar orang-orang tidak menyalahpahaminya, tapi itu sia-sia. Gambaran tentangnya yang angkuh dan tak berempati selalu menang di mata semua orang.
Kemudian, Gyuvin datang. Kehadirannya bagaikan matahari yang bersinar dan semilir angin pantai yang hangat. Eksistensinya serupa bunga dandelion di tengah kekacauan rumput-rumput ilalang. Gyuvin ialah definisi dan kebahagiaan itu sendiri (setidaknya bagi Gunwook dan hampir seluruh murid di sekolah ini). Gunwook sudah mengaguminya semejak bocah Kim itu pertama kali menyisipkan suaranya di siaran radio sekolah yang biasa Gunwook dengarkan. Gyuvin punya suara yang ringan seperti kicauan burung gereja di depan toko buku yang biasa dia sambangi tiap akhir pekan. Gunwook juga seringkali berpapasan dengan Gyuvin hampir di setiap sudut sekolah, hanya saja dia terlalu segan untuk bersikap normal seperti membalas senyum yang Gyuvin ciptakan.
Lalu, hari itu datang seperti sebuah keajaiban. Satu kali Gunwook mencoba berani, satu kali itu pula yang membawanya pada kesempatan ini. Kesempatan berdiri di depan pintu kelas Broadcasting 2 yang selalu ramai dan bukan merupakan tempatnya; tetapi Gunwook tetap di sana. Hanya demi menunggu Kim Gyuvin yang kemudian keluar sembari tersenyum lebar begitu mata itu menangkap presensinya.
“Mau pulang sekarang?” Tanya Gyuvin memecah ragu Gunwook oleh sebab bisik-bisik yang dilontar beberapa anak di sana. Mungkin mereka takjub melihat seorang Park Gunwook sudi menginjakkan kaki di lantai kotor ini. Atau mungkin mereka heran sejak kapan Park Gunwook yang sadis itu menjelma menjadi kucing penurut di hadapan Gyuvin mereka. Yang manapun itu, dia tidak ingin peduli. Hanya dengan satu anggukan, Gunwook tahu Gyuvin akan dengan senang hati membawanya pergi dari rasa tidak nyaman ini.
“Laper gak sih, Nu? Mau mampir beli jajan dulu gak? Aku tau dimana yang jual jajanan enak loh,”
“Gyuvin laper?”
“Heem.”
“Aku ikut kamu aja. Hari ini gak ada jadwal les kok.” Gunwook menyelesaikan kalimatnya dengan seutas cengiran yang mempertontonkan deretan gigi pun menenggelamkan iris matanya.
Dia membiarkan Gyuvin memimpin langkah seraya dengarkan celotehan anak itu tentang bagaimana melelahkannya hari ini. Gyuvin punya seribu emosi yang terpantul pada setiap ekspresi wajahnya ketika berbicara, memudahkan orang lain memahami ceritanya, termasuk dirinya. Gunwook yang hobinya membaca itu mungkin berakhir suka membaca ekspresi wajah Gyuvin pula.
“Pake helm dulu ya, Nu. Bisa gak pakenya?” Tanya Gyuvin.
“Emang anak tujuh belas tahun mana yang gak bisa pake helm, Gyuvinnn,”
“Lah gak tau aja, Ricky gak bisa tau. Sampe detik ini selalu aku yang pakein dia helm.”
“Iya?”
“Heem!”
Ah, ngomong-ngomong soal Ricky, sudah lama sekali rasanya dia melihat anak itu semenjak mereka bermain bersama bulan lalu. Padahal Gunwook sering datang ke rumah Gyuvin yang notaben hanya berjarak kurang dari lima langkah, tetapi Ricky tak pernah kelihatan batang hidungnya. Ricky sungguh meninggalkan impresi baik di matanya, Gunwook tidak bisa menjelaskan sebesar apa dia ingin berteman dengan bocah pemilik surai pirang itu.
“Gyuvin, nanti aku mau main ke rumah kamu, boleh?”
“Kok masih nanya sih? Ya boleh lah!”
Gunwook memekik senang (di dalam hatinya). Bibirnya dilipat demi menahan senyum yang berusaha mengembang oleh ekspektasi akan bertemu Ricky untuk yang kedua kalinya.
Dan entah sebuah kebetulan atau apa, Gunwook tidak perlu menunggu nanti untuk bisa bertemu dengan Ricky karena ternyata tempat jajanan enak yang Gyuvin maksudkan tak lain ialah pedagang kaki lima yang berjualan di depan sekolah Ricky. Di sanalah akhirnya Gunwook dapat melihat sosok yang sejak tadi buatnya menggebu-gebu.
Tidak ada kata sapaan yang bisa keluar dari mulut Gunwook kendati dia sudah merangkai semuanya di kepala. Bahkan Gyuvin sudah mulai menjahilinya dengan mengusak rambut pirangnya main-main, tapi Gunwook masih berdiri tergugu seakan-akan ia patung. Kalau saja Ricky tidak kemudian bersungut-sungut entah sebab apa, mungkin Gunwook akan melamun sepanjang percakapan mereka.
“Gandengan mulu dih emang udah pacaran?”
“Soon to be,”
“HAH?”
“Apa?!”
Gunwook menoleh secepat yang dia bisa, tanpa peduli lehernya bisa saja sakit jika bergerak secepat refleksnya tadi. Dia pikir dia salah dengar, tetapi kini wajah Ricky pun tak berbeda kagetnya. Dia bahkan sampai menganga selama beberapa detik sebelum kemudian berusaha mengatur ekspresinya dan tak lupa beri satu pukulan agak kencang di kepala Gyuvin.
“Kenapa dipukul?”
“Jangan bercanda masalah begituan, Vin.”
“Ada muka gue muka orang bercanda kah,”
“Gyuvin.”
“Iyaaaa,” dia menoleh pada Gunwook yang masih termangu. “Maaf ya, Nu, kalo risih.”
Yang terjadi selanjutnya hanya selingan angin sore yang tidak begitu Gunwook perhatikan. Entah percakapan macam apa yang kedua sahabat itu tukar, sama sekali tidak menarik atensinya. Sekarang yang menjadi masalah ialah, mengapa pipinya memerah dan mengapa banyak sekali kupu-kupu berterbangan di perutnya?
***
Menjadi sempurna berarti menjadi seperti apa yang diharapkan kedua orangtuanya. Gunwook, sampai detik ini, menyimpan prinsip hidup itu dan menanamnya di dalam sel-sel otaknya. Dia tentu tidak keberatan. Selama tujuh belas tahun hidup, orangtuanya tidak pernah salah mengambil keputusan. Mereka sangat bisa diandalkan sampai-sampai Gunwook merasa tidak pantas untuk memberontak. Dan menjadi seperti apa yang diharapkan orangtuanya berarti dia harus menjadi pintar. Separuh dari waktunya dia pakai untuk belajar. Kegiatan di luar sekolah seperti bimbel tidak pernah absen dia ikuti.
Olimpiade-olimpiade yang digaungkan sekolah juga dia selalu berkontribusi. Mungkin karena faktor seperti itu yang membuat Gunwook punya ambisi besar, sehingga dia tidak tahu bagaimana caranya mencari teman. Bersosialisasi sesulit memecah batu besar dengan tangan kosong baginya.
Tapi semua berubah ketika akhirnya Gunwook menyadari bahwa selama ini dia dan Ricky dekat. Sedekat dua ruangan yang dibatasi oleh dinding tipis yang kedap suara. Sedekat sepatu-sepatu mereka yang berjajar rapi di dalam raknya. Karena nyatanya mereka mendatangi tempat bimbel yang sama tanpa disadari.
Ricky jadi yang pertama menyapa di sore yang agak mendung ini. Dengan sepasang mata membola dan senyum yang perlahan menyentuh sudut-sudutnya, Ricky mengaku senang melihat Gunwook di sini. Begitu pun dengannya. Mungkin si surai pirang tak perlu tahu betapa Gunwook merasa seolah keberuntungannya selama sepuluh tahun telah terpakai untuk bisa sedekat ini dengannya.
Mereka duduk berdampingan sembari menukar cerita soal hari yang terlewati. Dan dari sana Gunwook tahu bahwa Ricky sebenarnya terpaksa mengikuti serangkaian bimbel ini. Anak itu lebih suka menghabiskan sore dengan bermain basket di belakang rumahnya bersama dengan Gyuvin. (Kemudian Gunwook mengaku dirinya pun menyukai si bola oranye itu hanya untuk ditukar dengan sorot berbinar dari yang lebih tua).
“Kapan-kapan ayo main basket bareng, Nu!”
“Boleh! Nanti bilang aja ya kamu bisanya kapan, aku ikut.”
“Kamu bukannya sibuk juga ya? Nanti semisal aku bisa tapi kamu gak bisa terus gimana—“
“Aku selalu bisa!” Aku selalu usahain supaya bisa main dan habisin waktu sama kamu kok, Ricky, serunya yang tentu tidak akan Gunwook lantangkan secara terang-terangan lantaran dia terlalu segan mengatakannya. “Maksudnya, yah aku gak sebegitu sibuk kalo cuma buat main basket,” sambungnya, menggaruk belakang leher demi redakan gugup yang tiba-tiba muncul.
Tawa renyah Ricky menguar dan Gunwook lagi-lagi terpesona. Oh mungkin seperti ini penampakan malaikat kalau tengah bahagia, begitu pikirnya. Bahkan ketika tawanya hilang berganti panik mendera begitu hujan menjadi semakin deras, Gunwook tetap mampu temukan kilat bahagia itu di kedua matanya. Mungkin Ricky juga suka hujan sama sepertinya.
“Nu, bawa payung gak?”
“Engga,”
“Yah… Gimana ya kita pulangnya…”
Impulsivitas Gunwook menang sebab kini dirinya telah berdiri seraya mengulurkan tangan menunggu jemari lain menyambutnya. Meski pada awalnya Ricky tidak memiliki ide tentang apa maksud dari juluran tangan tersebut, dia mendapat jawabannya setelah menekuni senyum yang ditawarkan si pemilik marga Park itu. Yang kemudian, tatkala tangannya menggenggam satu tangan yang lain, Ricky mendapatkan kembali tawanya. Lantas mereka terbahak di bawah guyuran hujan di sore hari itu.
***
Ricky terbangun dengan kepala yang memberat dan mata berkunang-kunang. Rungunya bisa mendengar bunyi alarm yang sengaja dia pasang pukul tujuh di akhir pekan itu berdering terus menerus, namun untuk menggapainya saja rasanya dia tidak sanggup. Jadi, dia hanya membiarkan suara berisik itu memenuhi kamarnya mungkin sampai seseorang masuk untuk mematikannya (itupun kalau kedua orangtuanya sudah pulang dari perjalanan dinas mereka.)
Mengingat itu buat Ricky terpaksa mengangkat tubuhnya untuk bangun atau kepalanya akan semakin sakit karena bunyi yang kian berisik. Menjadi anak tunggal dari pasangan penggila pekerjaan buat Ricky mau tidak mau berlatih mandiri. Dalam kondisi sakit sekalipun rasanya tidak mungkin mengirim pesan kepada orang dewasa itu. Mereka akan selalu punya alasan, berakhir dengan Ricky yang harus merawat diri sendiri.
Bukan berarti mereka tidak peduli. Seorang asisten rumah tangga yang dipekerjaan menjadi salah satu buktinya. Tapi, bibi yang merawatnya tengah mengambil cuti sampai tiga hari ke depan, itu sebabnya Ricky hanya sendiri di rumah. Biasanya akan ada Gyuvin yang menginap, tetapi anak itu belakangan ini terlalu sibuk dengan dunianya sendiri seakan eksistensi Ricky sebagai sahabatnya sudah tergantikan.
Atau mungkin, tidak.
Pintu kamar Ricky diketuk tiga kali, dia tebak pelakunya ialah Kim Gyuvin (karena siapa lagi selain orangtuanya dan bibi perawat yang punya akses rumah ini selain bocah itu?)
“Ricky?”
Tapi, tunggu. Apa pusing bisa mempengaruhi kemampuan mendengar seseorang? Mengapa suara Gyuvin sekarang terdengar berbeda, atau apa anak itu sakit juga?
Ricky yang hendak kembali tidur dibuat mendongak ingin memastikan. Nyatanya dia salah besar ketika berpikir yang datang sepagi ini dan menerobos rumahnya adalah Gyuvin; karena yang saat ini berdiri di ambang pintu kamarnya ialah Park Gunwook. Seorang yang benar-benar tidak Ricky duga, pun dia heran bagaimana bisa anak itu ada di sini?
“Iki, your knight prince is comin—Loh, lagi sakit, Ki?”
Sekarang semuanya masuk akal. Park Gunwook ada di sini tentu saja karena Gyuvin juga ada di sini. Yang menjadi pertanyaan itu, kenapa mereka sudah menempel sepagi ini?
“Baru aja mau diajakin jogging bareng. Gunwook semangat banget tuh udah dateng pagi-pagi, padahal gue bilang agak siangan—“
“Siapa yang jogging siang-siang?” tukas Gunwook.
“Hehe,” dia tertawa malu. “Tapi Iki-nya sakit, Nu. Masih mau jogging?”
Ricky bukannya tidak menyadari nada bicara Gyuvin barusan berubah halus seakan dia sedang bicara dengan anak kecil, tapi kini yang jadi atensinya ialah bagaimana wajah Gunwook penuh kecemasan ketika menatapnya. Bocah Park itu bahkan sudah duduk di sisi ranjangnya dan menempelkan punggung tangan ke permukaan dahinya. Bibirnya menekuk sedih, Ricky sampai takut untuk bicara khawatir Gunwook bisa menangis kapan saja.
“Iki sakit karena kemarin kehujanan ya? Maafin aku ya…”
“Gimana?!”
“Hah… Engga kok…”
“Sebentar,” itu Gyuvin yang tengah memposisikan diri atas ketidaktahuannya, turut naik ke ranjang tuan rumah sedikit tergesa-gesa. Melirik dua laki-laki lainnya secara bergantian, dia bertanya dengan sorot matanya. “Apa maksudnya ‘kemarin’? Kalian berdua main gak ngajak gue ya?” selorohnya.
“Gak main, Gyuvinnn. Aku sama Iki ternyata selama ini satu bimbel, tapi baru sadar kemarin. Terus ya udah deh pulang bareng, tapi hujan dan kita gak bawa payung. Makanya aku ngide ke halte busnya nerobos hujan, gak tau Iki bakalan sakit…”
“Bukan gara-gara itu, Nu. Aku sakit karena semalem begadang juga,” Ricky sebenarnya terlalu pusing untuk sekadar menjawab pertanyaan Gyuvin tadi maka dia membiarkan Gunwook yang menjelaskan semua, tetapi begitu Gunwook mulai menyalahkan diri sendiri lagi dia jadi tak bisa diam saja.
“Pinter lagian, udah tau abis kehujanan bukannya langsung keramas terus tidur malah begadang. Ngapain kali,” sungut Gyuvin setelah jatuhkan satu jitakan di kening si surai pirang.
“Udah minum obat belum, Ki? Punya stok obat-obatan gak, aku ambilin ya?”
“Aku aja, Nu. Pesenin makan aja biar si bandel itu sarapan dulu sebelum minum obatnya.”
Gunwook mengangguk setuju, merogoh ponselnya dari saku lalu membuka aplikasi pesan online. Sementara Ricky kembali bergelung dengan selimut tebalnya, membiarkan kedua temannya itu berbuat apa saja. (Namun, diam-diam Ricky tersenyum senang dengan kehadiran mereka berdua di saat seperti ini.)
Butuh sekiranya enam jam sampai demam Ricky sedikit turun dan pusingnya berhenti mengganggu. Pukul satu siang ketika mereka yang tengah bersantai sambil menonton televisi itu lagi-lagi kedatangan tamu tak diundang. Ricky serta-merta sumringah begitu tahu kalau yang datang adalah kak Hanbin, kakaknya Gyuvin, lengkap dengan snelli yang menggantung di lipatan tangan dan sekantung ayam dengan logo dari brand kesukaannya.
“Iki kenapa bisa sakit? Kamu pasti begadang lagi kan?” Tanya kak Hanbin yang cekatan memasang termometer di lubang telinga Ricky. “Oh? Udah turun ternyata demamnya.”
“Itu aku sama Gunwook yang ngerawat dia, Kak. Coba kalo kita gak dateng tadi, dia pasti masih demam sampe sekarang.” Ucap Gyuvin sedikit banyak membanggakan diri.
Ricky sendiri sudah melengos lebih memilih nikmati ayam yang dibawa kak Hanbin daripada mendengar ocehannya.
“Habis makan diminum lagi obatnya ya, Ki. Biar sembuh banget dulu soalnya kan besok harus upacara,” petuah kak Hanbin yang tentu saja akan dituruti Ricky dengan senang hati. “Ini kalian berdua gak mau makan juga kah?”
Gyuvin lantas menarik pelan tangan Gunwook dan mendudukkan anak itu di sofa, sebelum dia sendiri mengambil tempat dengan nyaman di atas karpet berbulu. Melahapnya cepat meski harus melewati derita karena cubitan Ricky tiap dia salah mengambil bagian-bagian yang anak itu sukai. Sementara itu, Gunwook makan dengan tenang, sesekali melerai Gyuvin dan Ricky acap kali keduanya saling melempar tatapan maut yang akan mengundang perang dunia ketiga apabila dibiarkan.
Kemudian, kak Hanbin kembali setelah memenuhi kulkas Ricky dengan berbagai buah-buahan (atas permintaan orangtua Ricky yang sempat menelepon untuk menanyai kondisi putra semata wayangnya). Yang lebih tua memperhatikan interaksi tiga remaja di depannya ini dengan senyum jahil yang terukir di bibirnya.
“Kalian pacaran ya?” Gyuvin mengernyit tak paham atas pertanyaan tiba-tiba sang kakak.
“Siapa sama siapa maksud Kakak?”
“Ya… Kalian bertiga?”
Beruntung refleks Gyuvin bagus dalam mengendalikan keterkejutannya, berbeda dengan Ricky dan Gunwook yang kompak tersedak begitu mendengar pertanyaan tak masuk akal itu. Apa katanya? Pacaran? Bertiga? Gyuvin, Ricky dan Gunwook? Yang benar saja!
“Kalau enggak ya udah, kalian jangan ngeliatin aku horor gitu dong,” Hanbin terkekeh begitu ketiga bocah tersebut buru-buru mengatur tatap matanya.
Canggung mendadak menguasai ruang tengah rumah Ricky, paling tidak sebelum kak Hanbin harus pamit kembali ke rumah sakit untuk operasi darurat. Kakak lelaki Gyuvin itu pergi setelah sempat menempel catatan pukul berapa saja Ricky harus meminum obatnya (padahal Ricky merasa dirinya sudah sembuh.)
“Tapi penasaran gak sih?” pertanyaan Gyuvin memecah keheningan.
“Apa?”
“Rasanya pacaran yang… bertiga.”
“GYUVIN!!!”
Bantal-bantal sofa seketika berhamburan ke arah Gyuvin tanpa aba-aba; ulah Ricky yang sudah kepalang kesal. Masih tidak mengerti dengan pola pikir kakak beradik ini yang tampak sangat mudah bicara tentang hal yang tidak lumrah. (Apakah hal tersebut memang normal atau apakah cuma Ricky yang tidak terbiasa dengan itu?)
Gunwook pun memilih tidak berkomentar. Gyuvin jadi urung, kendati dia tidak berpikir untuk menyerah. Dia suka Gunwook, dia juga merasa tidak bisa hidup tanpa Ricky di sisinya. Gyuvin punya banyak cinta yang bisa dia beri secara cuma-cuma, mengencani keduanya sama sekali bukan masalah besar. Mungkin nanti, nanti, Gyuvin akan beranikan diri untuk membahas ini lagi dengan Ricky dan Gunwook. Semoga saja dia tidak berakhir ditimpuk sepatu oleh mereka berdua.
