Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-05
Words:
4,462
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
69
Bookmarks:
7
Hits:
1,245

Secret

Summary:

Gojo Satoru, siswa tahun kelima asrama slytherin, hanya tidak menyukai bagaimana tiba-tiba Fushiguro Megumi, siswa tahun ketiga asrama ravenclaw mendadak terkenal.

Notes:

Gojo Satoru 21 y/o
Fushiguro Megumi 19 y/o

Work Text:

“Fushiguro Megumi itu siswa tahun ketiga dari asrama ravenclaw, kan?” Gojo terlihat menaruh minat pada topik pembicaraan yang dibawa temannya; Geto Suguru, pada siang hari selepas kelas ilmu hitam dibawah pohon rindang diluar halaman Hogwarts dan menghadapan langsung ke hutan terlarang kini. Selebihnya terlihat raut kebingungan diwajah Gojo mengenai tumben sekali sang teman membicarakan orang lain dan dibawanya pada obrolan santai mereka. “Kamu kenal Yuuji?” Ah iya, Gojo baru sadar ada siswa tahun ketiga juga yang kini tengah bersama mereka; Itadori Yuuji, kekasih Geto, mungkin itu sedikit alasan kenapa Geto mulai membicarakan orang lain saat ini, namun tetap saja Gojo tidak bisa menganggap ini normal, pasalnya ada hubungan atau keterlibatan apa antara Geto dengan Fushiguro sampai harus menjadi topik pembicaraan diantara mereka seperti ini.

 

“Kenal tapi tidak dekat, Kak Geto tau dia orangnya sedikit menjaga jarak dan seperti membangun dinding tak kasat mata,” Yuuji mengucapkannya dengan raut cemberut khasnya yang mengundang cubitan gemas dari sang kekasih, “Tapi pernah ngobrol?”

 

“Yaa, pernah. Dulu sewaktu tahun pertama masuk aku pernah terlibat kasus dengan Fushiguro, tapi setelah itu kami justru tidak pernah mengobrol, aku ingin tapi Fushiguro selalu menghindar setiap aku datang.” Kali ini Yuuji tidak hanya cemberut namun wajahnya juga menampilkan raut sendu; seakan menyesal, marah ataupun kecewa dalam satu waktu. Gojo menyadari ekspresi Yuuji tersebut walau sang empunya telah berusaha mengontrol dan memperbaiki ekspresinya sesegara mungkin dalam hitungan detik. “Apa itu kasus yang membuatmu menginap di ST Mungo sampai sebulan?”

 

“Eh?”

 

“Oh?”

 

Tidak hanya Yuuji, Getopun terlihat terkejut menyadari Gojo sepertinya tau akan ‘kasus Yuuji dan Fushiguro’ tersebut melebihi dirinya sendiri yang notabenenya adalah kekasih Itadori Yuuji. Oke boleh dikatakan masalah tersebut hadir saat Yuuji dan Fushiguro masih ditahun pertamanya di Hogwarts sehingga wajar jika Geto tidak mengetahui kejadian tersebut, satu alasan sederhananya adalah karena memang ia masih belum mengenal salah satu dari mereka saat itu ataupun mungkin sebenarnya dulu ia pernah mendengarnya tapi tidak dengan menaruh minat pada kejadiannya yang terdengar seperti ‘kenakalan biasa siswa tahun pertama’ tersebut. Karena itu Geto cukup terkejut mengetahui Gojo tau dan ingat akan kejadian tersebut bahkan hingga bagian Yuuji harus menginap di ST Mungo selama sebulan.

 

“Kau tau? Kok bisa? Kenapa aku tidak ingat atau tau sama sekali?” Desak Geto

 

“Hanya tau, apa salahnya dengan itu. Lagian kejadian waktu itu memang sangat heboh sampai dibicarakan sampai satu bulan penuh, kau saja yang pelupa.” Gojo tidak mempedulikan raut penuh selidik Geto yang ditunjukan untuknya, “Tapi masih terdengar aneh kau mempedulikan hal lain selain tentangmu,”

 

“Berhenti curiga padaku, itu hal biasa tau.”

 

“Enggak, tidak! Itu aneh!”

 

Gojo berdecak melihat Geto masih menatapnya penuh selidik, ia melirik kesamping kearah Shoko Ieri wanita satu-satunya diantara mereka yang sedari tadi juga tidak ikut berkomentar atau sekedar membuka suaranya. “Aku ingat kok,” Gojo tersenyum senang mendengar tiga kata yang keluar dari mulut Shoko, dalam hal seperti ini Shoko memang paling bisa diandalkan karena sebenarnya dalam sudut pandang Shoko sendiri wanita itu hanya tidak ingin terus mendengar perdebatan tidak penting antara kedua, terkadang hingga berlebihan dan berisik, ditambah lagi saat ini ia dihadapkan oleh pilihan yang tidak bisa membuatnya melarikan diri seperti biasanya serta keinginan untuk menikmati makan siang buatan Yuuji dengan tenang membuatnya sedikit merasa terpaksa harus membantu memenangkan salah satunya.

 

Gojo menjulurkan lidahnya dan menatap mengejek Geto yang mengundang dengusan tidak suka dari sang rambut panjang, “Shoko kau harus berhenti memanjakannya,” keluhnya, yang dibalas oleh Shoko sendiri dengan mulut penuh sushi, “Aku tidak.”

 

“Lebih dari itu,” Gojo kembali menyuapkan sepotong sushi kedalam mulutnya setelah sebelumnya sempat ia acuhkan, “Kenapa kau tiba-tiba membahas tentang siswa ravenclaw itu?”

 

Geto membuat efek dramatis dengan mulutnya yang menganga, kemudian kepalanya digelengkan pelan; kelewat pelan seakan mendapat efek slow motion tambahan.  “Apa kubilang Satoru tidak mungkin repot-repot mempedulikan hal lain, topik tentang Fushiguro Megumi yang mendadak menjadi primadona Hogwarts dan dibicarakan sepanjang lorong bahkan hantu sekalipun saja dia tidak tau.” Geto menuding Gojo dengan sumpit, “Dulu kau sempat tertarik dengan Yuuji, ya?!”

 

Gojo sweetdrop mendengar tuduhan Geto, mulutnya ikut menganga dengan raut wajah tidak terima, “Enak aja! Lebih menarik Megumi-ku daripada Yuuji ya!”

 

Perempatan imajiner muncul dipelipis Geto mendengar perkataan Gojo yang sedikit menjelekan kekasihnya— jika dapat dikatakan demikian. “Apa maksudmu, Yuuji itu menggemaskan ya!” Itadori yang duduk diantara mereka terlihat panik, menyadari siswa lain yang berlalu-lalang mulai melirik kearah mereka sedangkan Shoko yang duduk didepannya hanya terlihat menghela nafas pasrah; karena sedikitnya ia tau akan ada teriakan susulan bersumber dari Geto, “Bentar- wait, -ku? Megumi-ku? APA MAKSUDNYA MEGUMI-KU GOJO SATORU!” kan.

 


 

“Fushiguro mau ikut ke perpustakaan?” Pemuda yang dipanggil Fushiguro itu menoleh, wajahnya menampilkan ketertarikan namun segera ia telan bulat-bulat niat tersebut ketika sudut matanya menangkap sosok pemuda lain yang begitu ia kenal— bahkan hidungnya dapat mengenali sosok tersebut hanya dengan mencium parfumnya, tengah memperhatikannya. “Maaf Kugisaki aku tidak ikut untuk hari ini.”

 

Kugisaki Nobara satu-satunya teman Fushiguro hanya mengangguk mengerti, walaupun sedikitnya ada rasa penasaran perihal alasan kenapa pemuda dengan bulu mata yang panjang serta lentik dan bola mata sewarna dalamnya samudera tersebut menolak ajakannya untuk berkunjung ke perpustakaan, terlebih mengetahui kegemaran Fushiguro sendiri adalah membaca buku, “Kau punya acara?”

 

“Bisa dibilang.”

 

Kugisaki membawa tumpukan buku pelajarannya, merapihkan sedikit seragamnya ia beralih pergi meninggalkan Fushiguro sendiri, “Have fun!” Lambaian tangan Kugisaki dibalas serupa oleh Fushiguro.

 

Setelah memastikan sosok Kugisaki tidak lagi terlihat oleh indra pengelihatannya Fushiguro beralih menatap sosok pemuda berambut putih dengan bulu mata lentik dan alis berwarna senada yang juga tengah menatapnya teduh disertai senyuman lembut menghiasi wajah. Ia bisa melihat beberapa siswa menatap kagum dan memuja sosok pemuda tersebut karena senyumannya. Fushiguro sering lupa bahwa fakta pemudanya emang sepopuler itu.

 

Fushiguro tersenyum singkat sebagai balasannya, mulutnya terbuka mengeja setiap kata tanpa suara yang langsung dipahami pula oleh sosok diseberang sana terbukti dari sosoknya yang mulai melangkah menjauh menuju kastil.

 

Fushiguro tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri bahkan ketika sang pemuda bersurai putih tidak lagi terlihat oleh indra pengelihatannya, tangannya menyentuh bagian dadanya yang berdebar hebat layaknya selepas lari marathon. Fushiguro sering melihat ataupun bahkan mendapatkan senyum tersebut tapi tetap saja efek yang diterimanya selalu sama, dadanya berdebar hebat dengan wajah yang memerah hingga telinga.

 

“Fushiguro Megumi, kan?” Seakan ditarik kembali kekenyataan, Fushiguro dikejutkan dengan seseorang yang memanggilnya dari belakang. Siswa dengan jubah berlogo hitam-kuning menyapa indra pengelihatan Fushiguro, dilihatnya ia tengah menunduk dengan tangan saling bertaut dan sepucuk surat. “Ya?”

 

Sebuah surat disodorkan tepat dihadapan Fushiguro, seakan mengerti tatapan bertanya Fushiguro pemuda dihadapannya segera menjelaskan tanpa diminta, “Aku- aku menyuka- kumohon terima suratku!” Fushiguro sedikit terdorong kebelakang karena pemuda tersebut menyerahkan dan meminta Fushiguro menerima paksa suratnya. Tepat setelah suratnya berpindah tangan pemuda tersebut berlari dan menghilang dari pandangan Fushiguro dalam hitungan detik.

 

Meninggalkan pertanyaan besar dikepala Fushiguro, “Itu tadi apa?” Tanyanya tidak mengerti, sikap pemuda tadi terlihat sangat malu-malu, menyuka —apa? Fushiguro melihat sepucuk surat ditangannya, “Ini maksudnya aku dapat surat— cinta? Iyakan? Surat cinta yang itu?” Fushiguro shock setelah mengintip sedikit isinya.

 


 

“Megumi kamu lama banget.” Rengekan bernada manja memenuhi indra pendengaran Fushiguro atau kerap dipanggil Megumi oleh pemuda yang kini tengah tiduran diatas sofa, begitu ia memasuki ruang kebutuhan yang telah berubah sedemikian rupa sebagai tempat istirahat, wajah sang pemuda cemberut menatap Megumi, bibirnya maju beberapa centi. “Kak Satoru yang aneh, tumben banget minta ketemu dijam makan siang begini kamu masih ada kelas satwa gaib habis ini, kan?”

 

Satoru— atau Gojo Satoru; pemuda bersurai putih dengan bulu mata lentik dan alis berwarna senada dengan surainya, seorang pemuda yang kerap membuat Megumi terus merasakan efek debaran halus dan hebat sekalipun serta wajahnya yang senantiasa akan memerah setiap menerima semua perhatiannya.

 

Gojo Satoru siswa tahun kelima dari asrama slytherin yang merupakan kekasih seorang Fushiguro Megumi siswa tahun ketiga dari asrama ravenclaw.

 

Megumi membawa tubuhnya untuk duduk disofa seberang dari yang Satoru tempati, setahun berpacaran dirinya masih terkejut atau lebih tepatnya takjub mengetahui Satoru selalu bisa keluar masuk ruang kebutuhan hanya untuk menjadikannya sebagai ruang pribadi sekaligus tempat mereka menghabiskan waktu berdua sebagai sepasang kekasih; padahal dirasa Megumi baik dirinya ataupun Satoru tidak benar-benar membutuhkan ruangan ini. Ditambah interior dalam ruangan yang selalu berubah sesuai keinganan membuat Megumi semakin takjub, seperti sekarang ini, ruangannya ini berganti menjadi ruang santai penuh sofa dengan kasur besar ditengah serta perapian disudut yang lain layaknya berada di kamar dan ruang rekreasi, benar-benar cocok untuk beristirahat.

 

Tidak banyak yang tau tentang keberadaan ruang kebutuhan ini— termasuk Megumi awalnya, jika adapun seseorang yang mengetahuinya ruangan ini tetap akan muncul apabila ia benar-benar dibutuhkan bukan layaknya ruangan kelas yang bisa keluar-masuk seenaknya.

 

Tapi kita membicarakan Gojo Satoru, ia adalah satu dari seperkian persen seseorang yang bukan berasal dari asrama ravenclaw namun dapat memecahkan teka-taki asrama ravenclaw dengan mudahnya; bahkan professor McGonagall sendiri cukup kesulitan, jadi Megumi tidak lagi terkejut mengetahui ruang kebutuhan ini benar-benar dijadikan ruang pribadi oleh Satoru dengan mudahnya, sekaligus— ekhem— tempat mereka memadu kasih dan menghabiskan hari berdua saja.

 

Megumi mulai menikmati waktu istirahatnya dengan membuka halaman buku yang ia pinjam dari perpustakaan dalam diam, membaca kata demi kata dalam diam pula sebelum sesuatu yang terasa berat menimpa pahanya, Megumi menunduk untuk mendapati kepala Satoru terbaring disana, sebuah tangan juga ia rasakan melingkar pada pinggangnya dan ia bisa merasakan wajah Satoru menempel pada perutnya.

 

Megumi tidak merasakan pergerakan Satoru ketika berpindah dari sofa tempatnya berbaring menuju sofa yang Megumi tempati, ia sudah pasti menggunakan teknik teleportasinya. “Jangan menggunakan teknik teleportasimu sembarangan.” Megumi mencubit hidung Satoru yang dibalas keluhan oleh sang empunya, “Aku cuman gunakan kalau mau teleportasi ketempat Megumi, karena cuman kamu yang aku tandain.” Satoru  membalasnya dengan cengiran khas andalannya yang dibalas dengan jentikan jari oleh Megumi pada dahinya. “Tidak dijarak yang bisa kamu tempuh dengan dua langkah!” Satoru semakin merengut, wajahnya semakin ia tenggelamkan pada perut Megumi begitupula pelukan pada pinggangnya yang semakin mengerat.

 

Menutup bukunya Megumi beralih memainkan helain rambut yang jatuh tepat menutupi dahi sang pujaan hati, membuat pola menggunting karena merasa helain rambutnya sudah begitu panjang menusuk mata, membentuk pola love diatas dahi Satoru menggunakan rambutnya yang kemudian membuat Megumi terkekeh kecil ketika melihat hasilnya.

 

“Kayaknya aku jatuh cinta lagi,” Megumi mengalihkan fokusnya hingga kini menatap tepat pada bola mata Satoru, “Your smile make me falling in love again.” Satoru tersenyum teduh menatap Megumi, tangan Megumi yang masih memainkan helaian rambutnya tersebut dengan pelan ia bawa untuk digenggam dan kemudian ia cium, sembari matanya masih fokus menatap tepat pada bola mata Megumi, tidak beralih barang sedetikpun.

 

Sontak membuat Megumi salah tingkah dengan wajahnya yang kembali memerah sempurna hingga telinga.

 

“Jangan- jangan menatapku begitu!” Megumi kembali mencubit hidung Satoru dengan keras; tanpa aba-aba, menimbulkan pekikan dari sang empunya. “Ada yang salah dari caraku menatapmu?” Tanya Satoru.

 

“Tidak ada! Cuman— jangan menatapku begitu!”

 

“Emangnya aku menatap Megumi seperti apa?” Satoru beralih dari acara tidurannya menjadi duduk dengan kedua tangannya memegang kedua pipi Megumi, memaksa yang lebih muda untuk tidak mengalihkan wajah dan tetap menatap wajahnya. “Seperti ini, hm?” Wajahnya Megumi tidak ada bedanya dengan kepiting rebus, merah total hingga bahkan rasanya ada asap imajiner diatas kepalanya karena sangking merahnya belum lagi debaran pada dadanya yang semakin cepat hingga membuatnya merasa sesak ditambah butterfly effect pada perutnya yang membuatnya seakan baru mengalami apa itu jatuh cinta, atau tepatnya ia jatuh cinta lagi.

 

“Kamu salah tingkah aku tatap penuh cinta dan memuja seperti ini, Megumi?” Ah kekasih kecilnya ini manis sekali, lucu, menggemaskan, bagaimana bola mata yang terus bergulir kesamping, pipi yang memerah, belahan bibir bawahnya yang ia gigit, membuat Satoru ingin terus dan lagi serta selamanya memiliki semua yang ada pada kekasih kecilnya tersebut.

 

“Kamu menggemaskan, manis, lucu, cantik.” Satoru melontarkan pujian pada kekasih kecilnya yang dibalas rengekan manja yang jarang sekali dan hanya keluar ketika sang empunya bersama Satoru seorang, “Kak Toruuu.”

 

Satoru tertawa, memang benar menggoda Megumi adalah kegiatan yang paling ia suka dan akan selamanya menjadi favoritnya.

 

“Apa salahnya, sih? Toh aku kan memang sangat-sangat mencintai Megumi.”

 

Megumi beralih menunduk, jemarinya saling bertaut, “Aku juga.” Balasnya lirih sontak membuat Satoru kegirangan bak orang baru saja memenangkan lotre, “Aku tau, ah, kamu lucu banget sih aku mau tidur sambil peluk Megumi kayak gini sampai besok pagi.” Satoru membawa tubuh Megumi untuk ikut berbaring bersamanya diatas sofa, berdesak, memeluk erat yang lebih kecil hingga dirasa badan Megumi tenggelam dan menjadi satu pada tubuh Satoru yang mempunyai porsi tinggi menjulang sekaligus berotot.

 

Yang lebih kecil memberontak; bukan karena ia tidak suka akan ide Satoru untuk berpelukan dengan ruang sempit, berdesakan hingga esok pagi, Megumi suka kok— walau tidak akan pernah mengatakannya secara langsung, tapi ia benar-benar suka berbagi pelukan sekaligus kehangatan dengan Satoru, Satoru memberikan rasa aman dan nyaman membuat semua beban yang hinggap di pundak dan pikiran Megumi terasa hilang, membuatnya merasa lebih ringan dan dengan berani akan menghadapi dunia sekejam apapun itu; karena Satoru berada disisinya.

 

“Kamu ada kelas habis ini kak!” Megumi masih berusaha melepaskan pelukan Satoru pada pinggangnya yang dirasa justru semakin erat, wajahnya kini ia tenggelamkan pada perpotongan leher Megumi membuat sang empunya sesekali bergidik geli, sensitif karena bibir Satoru turut aktif mencium daerah lehernya.

 

“Aku mau bolos.” Jawab Satoru ringan tanpa beban.

 

“Kak Satoru!” Megumi jelas tidak terima, kini tangannya ikut andil dengan mencubit pergelangan tangan Satoru menimbulkan erangan tidak suka dari sang korban, “I’m not in good mood to join any class, Megumi. Just please be quiet and stay with me here.” Ucap Satoru dalam dan penuh penekanan, menyiratkan Megumi untuk diam saja, tidak perlu memprotes dan mengikuti apa kata maunya. Tapi bukan Megumi namanya kalau dia diam saja dan menurut, walaupun sebagian besar ia selalu mengalah terhadap keputusan atau demi kebahagiaan orang lain tapi ia juga bisa sedikitnya bersikap egois dan tidak mau kalah ketika itu berkaitan dengan kekasih dan sifat buruknya— yang suka muncul kala sang pujaan hati tengah dalam suasana yang buruk.

 

“Kamu nggak bisa bolos gitu aja cuman karena moodmu lagi jelek kak, ini soal kewajiban.” Satoru berdecak mendengar omelan Megumi. Megumi awalnya yang sudah berhasil duduk dan melepaskan diri dari pelukan Satoru ia bawa kembali kedalam pelukannya, menarik yang lebih muda untuk berbaring diatasnya, melingkarkan kembali pergelangan tangan pada pinggang rampingnya dan menatap dalam pada bola mata Megumi yang sewarna dalamnya lautan.

 

Megumi sendiri tidak banyak bereaksi, ia sedikit terkejut ketika tubuhnya ditarik kembali dan dibawa untuk menimpa tubuh Satoru, tatapan dalam penuh cinta dari Satoru membuatnya kembali salah tingkah dan ia hanya bisa meremat pundak Satoru pelan dengan kedua tangannya yang bebas. Otaknya seakan berhenti bekerja.

 

“Aku malas diserbu oleh Suguru dan Shoko.” Satoru mengutarakan alasan kenapa ia ingin membolos. “Mereka tau aku berpacaran denganmu atau tidak juga sih, aku hanya keceplosan bilang ‘Megumi-ku’ dan mereka langsung membom-bardir kepalaku dengan beribu pertanyaan, aku malas jadinya.” Satoru mencibir, ia menjulurkan lidah dan memutar bola matanya kesal.

 

Is that reason why you feel badmood now?”

 

Hm, probably but not just that.”

 

“Sekesal itu kamu kalau hubungan kita ketauan, Kak?”

 

“Hah?” Satoru menatap Megumi bingung, raut yang lebih muda memancarkan kesedihan dan dengan segera menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Satoru ketika yang lebih tua kembali memfokuskan diri padanya; seakan tidak ingin Satoru tau raut wajah sedihnya sekarang.

 

That’s not what i mean, Megumi sini tatap aku dulu.” Satoru mengusap pelan kepala Megumi memberinya isyarat untuk menenggakan kepala lagi sehingga mereka bisa saling menatap, “No,” jawab Megumi pelan; suaranya terendam karena wajahnya masih ia sembunyikan pada dada Satoru.

 

“Megumi sayang aku bukan kesal dibagian hubungan kita ketahuan tapi dibagian kamu mendadak jadi terkenal, primadona hogwarts selama dua minggu belakang ini.” Jelas Satoru sebelum kekasih kecilnya semakin salah paham. Emang awalnya hubungan backstreet ini dijalankan atas permintaan Satoru bukan tanpa sebab Satoru hanya tidak ingin eksistensi Megumi disadari banyak orang karena ia tidak rela apabila membagi kecantikan Megumi-nya kepada orang lain.

 

Kenapa bisa begitu? Katakan Satoru narsis; memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ia sadar dirinya seterkenal itu baik dikalangan siswa, professor atau hantu sekalipun —dan itu benar adanya. Dimanapun dirinya berada eksistensi Satoru akan selalu menjadi pusat perhatian, Ia mempunyai wajah yang rupawan; tidak berlebihan jika mengatakan siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, Ia juga dibekali kecerdasan dan kemampuan sihirnya yang diatas rata-rata pemuda seusianya jadi tidak mengherankan Satoru dapat seterkenal itu dan begitu dielu-elukan.

 

Oleh karena itu teman-teman sekitar Satoru terkadang ikut terkena imbasnya —tidak terkecuali dan karena hal itu pula Satoru seakan tau apa yang akan terjadi bila dia memberitahu atau mengumbar hubungan asramanya dengan Megumi, bukan karena dia malu namun Megumi itu tidak kalah rupawannya; wajahnya pun kelewat cantik untuk ukuran seorang pria, Satoru tidak ingin begitu semua orang tau Ia telah memiliki kekasih dan orang beruntung itu adalah Fushiguro Megumi karena mereka akan mencari tau siapa dan yang mana Fushiguro Megumi itu, mereka akan tau eksistensi seorang Fushiguro Megumi, terakhir mereka akan sadar betapa menawannya seorang Fushiguro Megumi.

 

Sudah dikatakan dari awal Satoru tidak ingin berbagi, kan.

 

Kalaupun bisa Satoru pasti sudah mengantongi kekasih kecilnya itu karena Ia benar-benar tidak ingin berbagi Megumi bahkan dengan dunia sekalipun.

 

“Maksudnya?” Megumi menegakan kepalanya menatap Satoru tidak mengerti.

 

Satoru berdecak lagi, terlihat suasana hatinya kembali memburuk mengingat hal yang didengarnya sepanjang lorong kastil tadi. “Kamu mendadak terkenal Bear, sepanjang lorong pada bicarin gimana cantiknya Fushiguro Megumi bahkan Suguru aja sampai ngomongin kamu. Aku males, gak suka, gak mau bagi-bagi Gumi Bear-ku yang lucu, cantik dan menggemaskan ini.” Satoru menggulirkan Megumi kesamping guna kembali menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Megumi. “Pokoknya aku gak mau Megumi-ku dilirik orang lain!”

 

Astaga ternyata hanya itu. Megumi menghela nafas lelah mengetahui alasan konyol Satoru mendadak memiliki suasana hati yang buruk.

 

“Aku pikir kenapa ternyata cuman itu,” Satoru menatap sebal dengan bibir mengerucut kearah Megumi. “Itu bukan cuman!” Balasnya tidak terima kecemburuannya dianggap hal sepele.

 

“Terus aku harus gimana? Aku gak bisa kontrol apa yang mereka lihat, dengar dan bicarakan,” Bela Megumi karena emang dia tidak salah.

 

Satoru semakin sebal mengetahui fakta tersebut, dirinya semakin menggelamkan diri dan memeluk erat Megumi, sifat bayi-nya keluar dan Megumi hanya bisa pasrah berakhir dipeluk sepanjang hari untuk sekarang. “Deal with it Kak, ini yang aku rasain waktu dengar semua orang ngomongin Kak Satoru dilorong.”

 

Satoru seketika merasa tidak enak hati mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Megumi barusan, “Kamu ngerasa gitu?”

 

“Mmm.” Megumi hanya bergumam.

 

“Maaf aku enggak tau.”

 

Not your fault, like what i said kita enggak bisa kontrol apa yang mereka lakukan.” Megumi tersenyum melihat tatapan sendu Satoru, “I’m fine,” Ucapnya meyakinan yang lebih tua, “Ya walau ada cemburu sedikit sih, Kak Satoru itu punyaku tau,” sambungnya pelan, pelan sekali hingga Satoru yakin jika bukan karena didukung oleh kesunyian ruangan kebutuhan saat ini ia tidak akan bisa mendengarnya.

 

Satoru tertawa melihat wajah memerah Megumi hadir kembali, “Betul! Gojo Satoru cuman punya Megumi dan Fushiguro Megumi cuman punya Gojo Satoru,” Megumi mengerang malu mendengar kalimat Satoru barusan alhasil kini dirinya yang memilih menyembunyikan wajah pada dada bidang Satoru.

 

You’re so adorable.” Satoru tidak tahan untuk tidak menciumi wajah kekasih kecilnya.

 

Should we tell them we’re love each other and had been dating for three years?” Satoru memberikan saran, lebih tepatnya ia sendiri yang tiba-tiba merasa kepanasan karena mengingat surat yang diterima Megumi selepas kelas tadi dan masih ada pada Megumi pula karena ia melihat wujudnya didalam jubah sang kekasih, “Surat dari anak hufflepuff itu buang aja atau bakar kalau perlu, kenapa masih disimpan sih didalam jubah begitu lagi.” Megumi lagi-lagi terkekeh mengetahui kekasihnya cemburu karena dirinya yang mendadak terkenal hingga mendapatkan surat cinta, “Gak mauu, baru kali ini aku dapat surat cinta tau, my first! Aku mau simpan.”

 

Satoru termakan godaan Megumi, bibirnya mengerucut kembali dan mulai merengek, “Buang suratnyaaaa, gak perlu my first my first segala nanti aku kasih kamu surat cinta tiap hari! Ish, anak hufflepuff itu harus tau siapa kekasih Megumi, besok harus aku datangin orangnya!”

 

Megumi tertawa puas karena berhasil menggoda Satoru, membuat Satoru terpana dan dalam sekejap mengubah posisi mereka; Megumi menjadi dibawahnya dengan Satoru menatapnya intens dari atas.

 

“Megumi kamu jangan tertawa kayak gitu sama orang lain, ya? Tawa itu juga punyaku doang.”

 

Megumi mengalunkan tangannya dipundak Satoru, “I’ll not, at the first you’re the reasons i smile and laugh jadi kalau bukan Kak Satoru aku enggak bakalan ketawa dan senyum gini.”

 

Oh my god,” Satoru mengusap wajahnya salah tingkah, Meguminya terlalu menggemaskan Ia tidak tahan lagi, “Megumi i want to embrace you so bad, god.”

 

Megumi tersenyum kalem, menarik wajah yang lebih tua mendekat dan mengecup singkat bibirnya, berbisik tepat di depan bibir sang kekasih, “Embrace me then.”

 


 

Suasana hati Satoru terlihat seperti tidak juga kunjung membaik bahkan setelah semalaman penuh membagi kasih dengan Megumi, wajahnya masam dan aura hitam seakan mengelilingi tubuhnya menutupi citra pemuda periang dan jahil yang selalu melekat pada dirinya. Menimbulkan tanda tanya besar bahkan oleh sang sahabat.

 

“Tidur dimana kau semalam? Dan apa-apan wajah masam itu.” Suguru tidak dapat menahan rasa penasarannya begitu melihat Satoru bergabung pada rombongan siswa slytherin menuju hall. Tidak kunjung mendapat jawaban Suguru memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut, berpikir sahabatnya ini pasti benar-benar dalam suasana yang buruk dan sedang tidak ingin diganggu.

 

“Satoru terlihat lebih seran daripada para hantu.”

 

Suguru mengangguk setuju mendengar ucapan Shoko, “I know right.”

 

“Ada liat rombongan ravenclaw?” Suguru dan Shoko sontak dengan serempak menoleh kearah Satoru karena pertanyaan yang sangat bukan Satoru sekali terlontar darinya sebelum akhirnya mereka mengingat dimana sehari sebelumnya mereka juga dikejutkan oleh Satoru yang memanggil Fushiguro Megumi; siswa tahun ketiga dari asrama Ravenclaw, dengan kepunyaan.

 

“Kau lari dari kami kemarin dan sekarang menanyakan rombongan ravenclaw, Megumi benar-benar pacarmu?” Suguru tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya Ia mulai kembali membom-bardir Satoru dengan pertanyaan, “Melihat wajahmu apa terjadi sesuatu? Kalian bertengkar?” Satoru masih tetap diam, sebenarnya alasan apa yang membuat dia kembali dalam kondisi suasana hati yang buruk— sangat buruk malahan, sekarang ini.

 

Talk about that, tuh.” Suara Shoko mengalihkan atensi Satoru dan Suguru, melihat kearah yang ditunjuk Shoko mereka mendapati rombongan siswa ravenclaw pada arah yang berlawanan tengah berjalan menuju tujuan yang sama dengan mereka.

 

“Oi Satoru!” Satoru tidak mempedulikan teriakan Suguru ataupun tatapan bertanya siswa ravenclaw ketika sang empunya secara tiba-tiba menghampiri rombongan mereka, tidak sulit baginya untuk menemukan sosok kekasihnya diantara ratusan siswa ravenclaw saat ini— selain karena rambut Megumi-nya yang identik Satoru seakan mempunyai radar sendiri yang dapat selalu mengetahui keberadaan kekasihnya; dimanapun itu. Hal ini sama halnya dengan bagaimana dia bisa selalu teleportasi ketempat Megumi dengan mudah tanpa harus repot-repot menunggu diberitahu oleh sang empunya mengenai keberadaannya dahulu.

 

Aneh tapi emang begitu, sampai sekarang saja Megumi merasa kemampuan Satoru ini tidak nyata.

 

Mengesampingkan itu Satoru berjalan dengan gusar menghampiri Megumi, masih tidak mempedulikan pandangan bingung siswa ravenclaw yang sekarang siswa slytherin pun ikut sama bingungnya, Ia memegang kedua pundak Megumi; menelusuri tubuh Megumi dari atas hingga bawah dengan cemberut menunjuk dasi yang kini Megumi gunakan.

 

“Ada apa?” Tanya Megumi bingung, sedikitnya merasa risih karena tindakan Satoru kini mengundang perhatian siswa lainnya— tidak hanya slytherin dan ravenclaw, kini siswa hufflepuff dan gryffindor ikut menyaksikan drama dadakan dihari jum’at pagi yang cerah ini.

 

“Kenapa dasi kita tidak tertukar?!”

 

Hah. Megumi menganga tanpa aba-aba mendengar seruan Satoru, “Kenapa tiba-tiba harus tertukar?” Tanyanya bingung, total bingung tidak mengerti sama sekali maksud pemuda dihadapan ini.

 

“Kan aku mau ngasih tau keorang-orang kalau kita pacaran harusnya dasi kita tertukar biar mereka mendadak bingung dan kaget ‘Kenapa Gojo Satoru siswa slytherin mengenakan dasi asrama ravenclaw dan kenapa Fushiguro Megumi mengenakan sebaliknya,’ apalagi semalam pas banget kita emang habis bercinta. Kanapa kamu pakai dasimu?!” Jelas Satoru menggebu-gebu membuat Megumi sweetdrop dan malu bukan main karena Satoru menjelaskannya dengan suara yang kelewat lantang.

 

“Kalau kayak gini enggak jadi heboh pengumuman kita pacarannya.” Satoru kamu itu emang tidak sadar atau pura-pura tidak sadar? Pening melanda Megumi seketika, Satoru memang dari lahir sudah aneh tapi kali ini anehnya sudah kelewat aneh— maksudnya sangking anehnya, tuh. “Kamu yang bener aja Kak! Orang kalau tau kita udah pacaran selama tiga tahun juga udah bikin heboh kenapa harus punya ide kayak gituan segala sih!” Bukan maksud untuk sombong tapi apa yang dikatakan Megumi cukup benar juga, siapa sih yang tidak heboh kalau Gojo Satoru yang itu ternyata sudah punya kekasih sudah terjalin selama tiga tahun pula dan yang menjadi kekasihnya Fushiguro Megumi yang itu; siswa ravenclaw yang menawan dan pintar itu.

 

“Biar seru tau, Gumy gak asik, ah!” Bela Satoru, perdebatan mereka menimbulkan reaksi yang lain dari para pengematnya yang kurang lebih sama; terkejut akan fakta mereka telah berpacaran selama tiga tahun, kalau ditelaah lebih jauh berarti dari sejak Megumi masuk Hogwarts. Baik Suguru ataupun Shoko tidak kalah terkejutnya— seperti siswa lain mengetahui fakta tersebut, keduanya bermain dengan sangat baik bahkan status mereka sebagai sahabat sang manusia albino tidak cukup untuk keduanya dapat mengetahuinya.

 

“Ada dua tipe orang bodoh emang.” Ucap Shoko tiba-tiba.

 

“Yang satu jadinya kelewat pintar satunya malah kelewat bodoh, ya.” Timpal Suguru setuju dengan ucapan Shoko.

 

“Yaudah sih, pakai cara yang normal aja Kak atau kamu nggak sadar dengan kita berdebat ditengah jalan gini udah bikin heboh?” Sontak Satoru menoleh kesekelilingnya dan benar ratusan siswa dari berbagai asrama tengah memperhatikan mereka dengan satu ekspresi yang sama.

 

“Aku mau sarapan mending kamu juga masuk terus sarapan.” Megumi sudah malu bukan main hingga ia tidak tau harus menyembunyikan diri seperti apa setelah ini— yang ia inginkan hanya segera sarapan, memasuki kelas, kemudian bersembunyi; dimana saja asal intinya harus sembunyi dan menjauhi orang, namun terlihat sang kekasih tidak berpikiran demikian Ia justru terlihat seakan baru saja mendapatkan ide yang cemerlang. Terlihat wajahnya yang entah mengapa sangat antusias.

 

Satoru menahan pergelangan tangan Megumi yang mulai beranjak berlalu meninggalkan dirinya, tangannya menarik pinggang Megumi mendekat, memeluknya erat hingga tubuh keduanya menempel sempurna tidak ada jarak— seakan menyatu, “Kak!” Megumi panik akan tindakan tiba-tiba Satoru, sepertinya ini adalah maksud dari ide cemerlang dan wajah antusias mendadak Satoru tadi.

 

Megumi meremat pundak Satoru erat sedangkan tangan Satoru sendiri yang semula menggengam pergelangan tangan Megumi beralih memegang pipinya dengan ibu jarinya, menyentuh permukaan bibir Megumi lembut, “I love you Megumi.”

 

“Eh—“ belum sempat bereaksi lebih Megumi kembali dikejutkan oleh sesuatu yang lembut menempel pada bibirnya disusul lumatan kecil pada bibir bagian bawahnya dan hisapan kuat sebagai penutupnya, Satoru menciumnya, masih ditengah lorong menuju hall, didepan umum.

 

Tidak ada hal yang lebih memalukan lagi dari yang telah Megumi alami selama 19 tahun hidupnya selain Satoru menciumnya ditengah umum sekarang ini, dirasa juga tidak ada warna merah yang dapat semerah wajah Megumi sekarang ini.

 

Baiklah hal ini sudah melewati jauh— cukup jauh, batas kemungkinan tindakan aneh yang akan Satoru lakukan mengenai ide cemerlangnya. Walau seharusnya Megumi dapat memikirkannya karena mengingat ide apa yang digunakan Satoru awal sekali.

 

Tapi siapa yang akan menyangkan kalau Satoru akan melakukan hal mesum didepan umum, sih?

 

Oh my god your face Megumi, so cuteeee like what the hell! should i kiss you again?” Megumi menggeram, tangannya mengepal disamping tubuh hingga satu teriakan menggelegar membelah lorong, “KAK SATORU!”

 

Berakhir Satoru harus mengeluarkan semua siput dari mulutnya selama sehari penuh di ST Mungo. Tanpa Megumi, karena Megumi tidak sudi menemaninya karena kejadian tadi pagi, biarkan saja karma untuk si bodoh, begitu ucapnya.

 

Poor Satoru. Lain kali berpikir sebelum bertindak ya.