Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-06
Words:
404
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
16
Hits:
119

Sudah Cukup

Summary:

Sungguh, Minho tidak perlu berbicara banyak untuk menunjukkan kepeduliannya.

Notes:

nervous sudah lama nggak menulis 2min dan ini total self-indulgent

Work Text:

“... aku minta maaf.”

Lee Taemin berhenti berusaha mengurai simpul tali sepatunya, yang di bawah koordinasi tangan setengah mabuknya justru mengikat semakin erat. Dia menyipitkan mata, mencoba fokus memandang Choi Minho yang berdiri canggung di depan pintu.

"Untuk apa?"

"Karena tidak bisa menunjukkan betapa kau penting bagiku … betapa kau selalu penting bagiku."

Kata-kata itu mengalir kental ke dalam telinga Taemin, diteguk pelan-pelan karena kejujuran adalah hal terakhir yang diharapkannya dari seorang Choi Minho, dalam kondisi mabuk atau tidak. Namun, dari cara lelaki berkulit kecokelatan itu menggosok kedua telapak tangan dan menolak menatap mata Taemin, tampaknya ini adalah satu hari langka tersebut.

Taemin mendengus kecil, merasa geli. Siapa yang menyangka cerocosan mabuk Kibum dapat menjadi siraman air dingin untuk Minho. Sudah lama Kibum dianggap sebagai pengganggu oleh Minho, kata-katanya bagaikan dengung nyamuk yang memantul-mantul di luar tempurung kepala. Taemin tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kekasihnya; Kibum memang terkadang kelewatan dalam hal menggerecoki hubungan mereka. 

"Jika ini soal yang dibicarakan Kibum," kata Taemin, mengulurkan kedua tangan ke atas sehingga Minho dapat meraihnya dan membantunya kembali berdiri, "tidak perlu khawatir. Aku tahu kau punya cara tersendiri untuk menunjukkan kau peduli padaku."

Dari jarak dekat, Taemin bisa melihat kilas rasa bersalah di balik iris gelap Minho, mungkin bahkan penyesalan. Dia tidak ingat apa yang sudah diteriakkan Kibum tadi; memori seakan melebur menjadi satu setiap kali dia minum terlalu banyak. Lucu rasanya bagaimana dalam kondisi biasa, dialah si peka, sedangkan Minho mengambil peran sebagai batu cadas. Setetes alkohol dan kondisi mereka dibalik seratus delapan puluh derajat.

Minho mengedip, mengalihkan tatapan dari Taemin. Menunjukkan perasaan tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah bagi Minho, terlebih lagi kelemahan. Suatu ketika lelaki itu mengaku sedang mencoba memperbaiki tendensi tersebut, dan Taemin—terlepas dari apa pun yang sudah dikatakan Kibum—mempercayainya. 

"Tetap saja," Minho memulai, suaranya lemah, "aku tidak pernah memberitahumu bahwa aku peduli, dan itu jahat sekali."

Rasa cinta Taemin kepada Minho seakan-akan meleleh, tumpah ruah dari hatinya dan menyebar dalam kehangatan ke seluruh pembuluh darahnya. Dia benar-benar mencintai lelaki ini, terkadang sulit mempercayainya.

"Itu sudah cukup," bisiknya. "Kalimatmu tadi. Sudah lebih dari cukup untuk memberitahuku bahwa kau peduli."

Minho berpadu pandang dengannya. "Sungguh?"

Taemin menjawab pertanyaan Minho dengan berjinjit dan mencium singkat ujung bibirnya. Sekali lagi mereka bertatapan tanpa seorang pun berniat menjauhkan jarak.

"Sepatumu," bisik Minho. "Jangan bergerak, nanti kau tersandung."

Taemin tersenyum lebar ketika Minho berjongkok di depannya untuk membuka simpul tali sepatu. Sungguh, Minho tidak perlu berbicara banyak untuk menunjukkan kepeduliannya.