Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-08
Words:
417
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
8
Hits:
115

memori.

Summary:

yoriichi selalu manis pada dirinya, tapi uta selalu tersipu malu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"yori! yori! kamu kok bisa bikin kelincinya ke kamu semua 'sih?" yoriichi sendiri, tak pernah berpikir mengapa. mungkin karena..

 

karena apa, ya?

 

yoriichi berakhir tak menjawab, hanya menatap kekosongan dengan pikirannya masih mencari jawab. uta, sudah berganti topik.

 

"eh! nanti waktu ke hutan ambil pinus yuk! aku denger-denger kalo pinus enak, 'lho!" yoriichi mengangguk, masih mengelus bulu lembut dari kelinci putih di pangkuannya. "lucu deh, kelincinya anteng banget sama kamu! aku juga pengen!"

 

uta; walaupun berkata ingin—tak berekspetasi bahwa yoriichi akan mengangkat kelinci itu dan menaruhnya di kedua tangannya. hal itu membuat senyumnya mengembang, dengan semangat menoel-noel hewan lembut itu.

 

yang uta tak ketahui—yoriichi tersenyum tipis. ya, walaupun ketidaktahuan uta tak lama bertahan, sih.

 

"eh! yori—kamu tersenyum! lucu banget!!" uta berteriak senang, membuat kelinci putih itu melompat pergi. namun uta terlihat tak peduli, langsung pergi ke hadapan yoriichi.

 

yoriichi, yang terkejut, hanya menatap uta kosong. mungkin dia bingung, bahkan kakaknya tak berkata apa-apa ketika pertama kali ia mengembangkan senyum di wajahnya. mengapa uta sangat antusias?

 

"lucu banget kalo senyum! yori, kamu harus lebih sering senyum!" ucap uta bahagia, masih (terlalu) antusias dengan munculnya senyum di wajah lelaki yang menariknya pergi dari sedih. memeluknya manis ketika malam, malam dimana uta akan teringat keluarganya yang sirna ditangan makhluk kejam—uta tak tau apa nama mereka, namun mereka sangat mengerikan.

 

memori manis itu membawa senyum pada yoriichi, yang sudah dewasa—dengan uta yang dengan semangat menyiapkan teh hangat.

 

"kamu kenapa senyum-senyum, yori?" yang dibalas dengan gelengan pelan, tapi senyum itu tak ikut sirna. uta makin penasaran, ditatapnya netra sang suami yang terlihat bahagia. tapi juga terasa jauh, apa yang dipikirkan suaminya sore itu? uta tetap tak tau walaupun sudah bertanya lima kali.

 

uta terkejut bukan main; ketika merasakan tangan hangat yoriichi menyentuh miliknya. bukan, yoriichi sering lakukan hal itu—hanya uta tak memerhatikan gerak-geriknya sebab sibuk bercerita tentang nenek yang suka berjalan sendirian di hutan; membawa rumor demi rumor di telinga orang-orang.

 

"yori?" uta langsung tersipu malu, ketika yoriichi membawa tangannya menemui bibir pria itu. yoriichi selalu berhasil membuatnya merona—dengan berbagai afeksi manis setiap harinya; dari bunga yang dibawanya pulang, yoriichi berkata, "ini mengingatkanku padamu, mereka cantik." atau satu ketika uta pergi keluar sebentar, pulang-pulang menemukan yoriichi telah memasak untuknya.

 

yang paling sering dilakukan yoriichi, adalah mencium tangannya.

 

senyum itu kembali mengembang, senyum yang selalu membawa uta ke langit ketujuh; dimana bahagianya terletak.

 

dalam sunyi, uta bisa rasakan yoriichi bertanya di antara tatapan lembutnya—"aku mencintaimu, tetaplah bersamaku." yang dibalasnya dengan anggukan, dan senyum tersipu, "pasti."

Notes:

Siapa yang kangen yoriiuta?