Actions

Work Header

safely kept memories in your jet-black strands

Summary:

Tiga kali Satoru bertanya hanya untuk jawaban Suguru yang nihil penjelasan dan satu kali pertanyaan Satoru terpotong hanya untuk melihat ekspresi Suguru yang menikam jiwanya.

Atau

Satoru berhasil berbicara empat mata serta hati ke hati dengan Suguru perihal isi kepalanya yang terus bersulur ke dalam jurang setelah kematian Riko Amanai.

Notes:

selamat membaca ^_^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

i.

Satoru ingat mimpi tadi malam ketika nyawanya hampir direnggut oleh seseorang. Serangan kilat dan hebatnya dalam waktu singkat hampir membuat dirinya tak mampu untuk menghembus napas di dunia. Lebih buruknya, mimpi Satoru ternyata bukan merupakan suatu ilusi semata dalam lelapnya, namun sebuah kecelakaan tragis yang telah lewat selang beberapa hari lalu. Digerayangi oleh peristiwa berdarah penuh trauma tersebut, muncul pertanyaan; apakah kesehatan mentalnya tidak terguncang?

 

Namun bukan di situ poinnya.

 

Satoru bukannya tidak prihatin akan kesehatan mentalnya. Ia tidak dituntut sejak keluar dari rahim Ibunya untuk berlarut-larut tenggelam dalam masalah. Masih banyak hal yang ia perlu kejar pada waktu berikutnya. Tidak peduli mau sebesar apapun masalah, kalau semuanya sudah dapat teratasi dan terlewati, melihat ke depan menjadi satu-satunya opsi. Mentalnya yang terus ditempa karena tekanan akan hausnya ambisi dari rumah membuatnya seolah ia tidak prihatin. Tidak peduli. Lantas bagaimana dia mengatasi semuanya?

 

Bahkan setelah kematian tragis Amanai Riko yang terkadang juga masih menghantuinya di malam hari, nyatanya tidak semena-mena merenggut kewarasan Satoru— yang sejak awal memang sudah tidak ada ketika kamu memutuskan untuk jadi penyihir. Menjalankan misi tanpa cacat serta terus menyeimbangkan kemampuannya terhadap gelar yang sudah diwarisinya sejak ia lahir. Menjadi terkuat.

 

Hari-hari Satoru pasca kejadian itu berjalan seperti biasanya. Merasa cukup ketika ia masih bisa bertukar candaan sarkasme dengan Shoko. Menjalankan misi berdua dengan Suguru. Apalagi yang harus ia butuhkan saat itu ketika Satoru telah merasa cukup dari sekitarnya?

 

Paginya seolah Satoru tidak habis dihantui mimpi itu lagi, ia dengan santai menghampiri Suguru yang sudah terduduk di kelas. Kabar bercerita kalau Shoko tengah ada urusan lain sehingga ia tinggal berdua dengan Suguru. Mengawali hari membahas rentetan misi yang diimbali gaji. Satoru menangkap ada suasana yang belum berubah dari Suguru, mengusik dirinya untuk teliti.

 

"Suguru?"

 

Setelah  Masamichi Yaga keluar dari kelas, dua insan tersebut juga langsung melangkahkan kaki-kaki mereka dari kelas untuk sekedar menyapa sejuk. Ruang kelas yang menurut Satoru terlalu lembap itu membuatnya agak sesak jika terus berdiam disana lebih lama lagi. Si pemilik nama hanya bergumam ketika kini langkahnya sudah sejajar dengan Satoru. "Hm?"

 

Satoru tahu kalau manusia itu punya menanggulangi masalahnya dengan cara yang berbeda-beda. Ia tak punya hak untuk menghakimi karena emosi kesedihan yang tumpah tidak selalu sama untuk tiap individu. Ada yang tumpah sedikit demi sedikit layaknya rintik hujan, perlahan namun pasti seperti air sungai, maupun deras bak banjir rob yang bisa menyapu apapun dihadapannya. Satoru tidak sok tahu tapi ia sangat tahu bahwa Suguru masih menyimpannya— soal malangnya nasib Amanai yang ia saksikan dengan bola matanya sendiri— sampai saat ini. Ekspresi di wajahnya tidak berubah banyak tapi Satoru tahu kenangan buruk itu masih tertinggal dan tersimpan rapi disana. Sesekali mungkin dibuka dan diratapi oleh Suguru ketika sedang tidak ada siapa-siapa.

 

"Kamu nggak apa-apa?"

 

Pertanyaannya klise.

 

Namun maksud Satoru lebih dari itu. Ia ingin memastikan kalau Suguru sungguh tidak apa-apa. Meyakinkan ketika kejadian itu bukan salah siapa-siapa apalagi dirinya. Meminta izin apabila Suguru ingin, Satoru mau agar ia sama-sama tahu apa yang Suguru masih simpan dengan rapat.

 

Ada seukir senyum yang Suguru cetak sebagai indikator bahwa dirinya tengah baik-baik saja. Mungkin Suguru takut bila Satoru tiba-tiba memergokinya tengah dalam keadaan kacau. "Aku nggak apa-apa, Satoru."

 

Salahkan Satoru kalau dia layak mendapatkan jawaban yang klise pula. Toh, dirinya cukup segan untuk meminta penjelasan lebih jauh. Padahal ia tahu kalau Suguru jauh sedang ada apa-apanya. Paham betul ketika senyuman tulus Suguru ada terciprat noda di dalamnya. Mungkin Suguru masih ingin menyimpan rapat-rapat sendiri semuanya. Mungkin Satoru tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Suguru tiba-tiba menyuruh membukanya. Mungkin Suguru masih mau meratapi dukanya tanpa ada yang ganggu dahulu. Mungkin Satoru bisa menemaninya kalau Suguru butuh untuk ditemani.

 

Sederhananya Satoru hanya berharap kalau Suguru bosan sendirian, ia bisa membuka lebar apa yang disembunyikannya agar Satoru bisa ikut masuk ke dalamnya. Walaupun itu kenangan buruk sekalipun.

 

ii.

Satoru adalah contoh perwujudan dari buku-buku yang Suguru suka sekali membacanya. Dirinya terbuka, berisi barisan banyak paragraf yang menggoda untuk ditelisik lebih jauh walaupun tersemat beberapa kalimat yang Suguru harus baca berulang dan ia proses agar mampu memahaminya. Namun, mungkin saat itu Suguru tengah bosan membaca buku.

 

Tidak ada yang berubah dari kegiatan mereka di Akademi Menengah Atas Jujutsu. Shoko menghabiskan banyak waktu untuk memfokuskan dirinya menjadi dokter kelak. Satoru diberi sekian misi untuk melenyapkan ancaman kutukan yang sering kali membahayakan masyarakat maupun dirinya, begitu juga dengan Suguru. Menumpas sepersekian ketidakseimbangan yang mengganggu agar tidak lagi berkeliaran bebas di luar sana. Mimpi buruk yang kemarin sering berlangganan datang pun sudah tak lagi berkunjung.

 

Berminggu-minggu mengulang kegiatan yang hampir sama, Satoru mulai merasa dirinya membaik. Pun begitu, ia juga mulai perlahan menerima untuk berdampingan dengan bayang-bayang kematian Amanai dengan selalu hidup di belakang kepalanya bersama-sama. Mustahil untuk lupa kecuali kepalanya memang sengaja dihancurkan bersama memori tersebut.

 

Dia seharusnya juga sudah lebih baik sekarang. Harap Satoru agak naif, berpikiran bahwa Suguru mungkin juga merasakan yang sama.

 

Celotehan lawak— yang seringkali Shoko dan Suguru pikir tidak lucu— betulan terasa hambar saat reaksi Suguru bukan mencemooh hingga keduanya adu mulut, tapi malah terkekeh hampir dipaksakan lalu berpaling untuk melihat ke arah manapun selain wajahnya. Entah karena celotehan Satoru betulan lucu atau Suguru yang memang sedang tidak beres.

 

Mata biru lautnya menangkap sebuah toko buku yang biasa Suguru dan dirinya kunjungi sehabis usai melaksanakan misi. Langkah kaki Satoru melambat tidak seimbang terhadap langkah Suguru yang konstan. Tertinggal sebentar demi menilik tulisan "diskon 20%" di pamflet lalu bergantian memandang Suguru yang sudah beberapa langkah di depannya. Satoru yang tak ingin tertinggal kembali menyamakan langkahnya dengan Suguru.

 

Mungkin memang benar, saat itu Suguru tengah bosan membaca buku.

 

"Tumben," celetuk Satoru untuk memecahkan atensi Suguru yang daritadi hanya ia curahkan untuk jalanan di depan.

 

Alis Suguru naik; bingung. "Tumben apanya?"

 

Satoru hanya menggerakan bola matanya ke arah toko buku yang belum jauh mereka lewati tadi. Bibirnya juga refleks ikut maju mengikuti arah bola matanya untuk mengisyaratkan agar Suguru lihat ke arah apa yang dia lihat. Kekehnya keluar ketika mendapati wajah Satoru yang terlihat konyol di matanya.

 

Ada sesuatu hangat yang menjalar pelan-pelan dari dalam raganya. Oh, Satoru bahkan sampai hampir lupa bagaimana tawanya Suguru mengalun di telingnya.

 

Mungkin benar Satoru ada sedikit rindu dengan tawa renyah milik Suguru.

 

"Kamu nggak mau mampir dulu?" tanya Satoru yang ia pun langsung tahu jawabannya ketika Suguru kembali mengajaknya untuk semakin menjaga jarak dari toko buku.

 

"Lagi nggak merasa mau lihat-lihat... kayanya,"

 

"Kok kayanya?"

 

Untuk sesaat Satoru tidak langsung mendapat jawabannya. Ia lagi-lagi melangkahkan kaki jenjangnya agar bersanding dengan Suguru. Helaian rambut Suguru yang terjuntai di dahinya menari bebas ketika tertiup angin. Mungkin Satoru tidak terlalu paham bagaimana mendeskripsikan perasaannya, tapi ia ingin sekali menggapai helaian tersebut lalu menyampirkannya di telinga Suguru, sehingga ia bisa dengan jelas melihat wajahnya tanpa terhalang sesuatu.

 

"Suguru, kamu beneran nggak apa-apa?" tembak Satoru lagi ketika Suguru malah kembali tenggelam dalam keheningan. "Beneran nggak ada yang pengen kamu omongin? atau apa gitu?"

 

Senyuman milik Suguru boleh Satoru katakan secara gamblang, jujur, fakta, memang indah. Tapi ia berharap Suguru bisa memberinya jawaban lebih dari sekedar senyumannya. Ada sesuatu yang lebih Satoru inginkan agar perasaannya lega.

 

"Nggak ada yang perlu diomongin, Satoru. Aku baik-baik aja, kok."

 

Terkadang, mirisnya yang dirasakan Satoru kalau dari lahir sudah dibekali kekuatan yang pada masanya tidak dimiliki oleh siapapun itu, menjadikannya peka berlebihan pada sekitar.

 

Satoru berharap kalau kebosanan Suguru akan cepat hilang sehingga ia bisa membaca buku-bukunya kembali lalu menumpahkan semua fakta maupun teori menarik dari kesimpulannya yang Satoru rela untuk mendengarnya berjam-jam.

 

iii.

"Suguru, aku baru sadar kalo kamu kelihatan kurusan. Kamu baik-baik aja?"

 

"Oh? Mungkin kayanya aku cuma kena stres musim panas? Tahukan cuaca akhir-akhir ini nyengat banget. Aku nggak apa-apa, Satoru."

 

Bohong kalau Satoru percaya begitu saja atas jawaban Suguru mengenai keadaannya. Sudah satu tahun semenjak sebuah tragedi yang menjadi pelatuk banyak perubahan dalam kehidupan Satoru berlalu. Perubahan tentang kacamatanya dalam melihat terhadap dunia Jujutsu. Tentang pengertian atas teknik tak terhingganya. Tentang merah. Tentang biru. Tentang semua inti kekuatannya yang melampaui batas. Tentang persepsinya dalam menggunakan kekuatannya untuk menyelematkan siapa-siapa saja yang mau untuk diselamatkan ketika dunia dan rasa aman dirasa mulai berjauhan.

 

Tanpa perlu ditanya, Suguru tentu menjadi nama di urutan paling pertama orang yang berada dalam daftar penyelamatan milik Satoru.

 

Bunyi antara logam pedang dan hunusnya memecah keheningan di ruang senjata khusus Akademi Jujutsu. Jadwalnya pada hari itu kebetulan Satoru dan Suguru mendapat piket untuk mengecek keadaan ruang khusus tersebut. Tidak ada yang bersuara untuk melepas sunyi saat keduanya lebih memilih untik mendengarkan bunyi gerincing antar cambuk rantai yang Suguru pakai untuk latihan bela diri bersamanya.

 

Keheningannya terasa mencekik leher Satoru ketika Suguru bahkan terlihat seperti tidak ingin diganggu. Bahkan ketika pekerjaannya selesai, Suguru langsung merangsek masuk ke kamarnya. Satu hal yang pasti selain lelah, Satoru tahu Suguru tengah butuh waktu untuk dirinya sendiri.

 

Satoru mengklaim bahwa dirinya merupakan pembelajar yang cepat. Tapi tidak untuk memahami sudah seberapa jauh Suguru tenggelam dalam jebakan bayangan setahun yang lalu. Satoru pikir ia sudah belajar mengenai Suguru sampai keseluk-beluknya.

 

Namun Suguru lebih kompleks daripada itu.

 

Dan Satoru belum bisa memecahkannya untuk saat ini.

 

+i.

Satoru mimpi buruk lagi untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama.

 

Kali ini di dalamnya Suguru pergi meninggalkannya untuk suatu tujuan dan dengan bodohnya Satoru tidak mampu mencegahnya.

 

Mimpinya cukup mengganggu kesehariannya. Bahkan saat ia menjalankan misi. Membuat Satoru ingin langsung melesat pulang ke Akademi Jujutsu secepat yang ia mampu. Ada banyak pertanyaan bagaimana di kepalanya yang terus berlarian dan akan berakhir dengan jawaban buruk kalau Satoru tidak segera pergi menemui Suguru.

 

Sepatu pantofelnya beradu pada lantai kayu tanpa jeda. Menutupi rasa kalut di kepalanya yang berisik. Satoru refleks berlari ketika gerbang Akademi Jujutsu menyapa pandangannya.

 

Satoru hampir menyerah dan bisa-bisa saja ia ledakan paviliun asrama Akademi Jujutsu saat itu juga ketika ia tidak menemukan Suguru di kamarnya.

 

Di kelas.

 

Di laboratorium.

 

Di lapangan.

 

Di mimpinya tadi malam.

 

Sial, sial, sial.

 

Satoru tidak pernah percaya akan kenyataan suatu mimpi saat ia menaruh lelap. Baginya mimpi hanya sebuah projeksi acak antar alam bawah sadar yang berbenturan dengan kehidupan sehari-harinya lalu membentuk suatu tayangan layaknya film fiksi di otaknya. Satoru tidak pernah percaya kalau mimpi saat tidur akan menjadi nyata.

 

Sampai Suguru hadir menjadi bintang tamu di sana dan menyandang peran utama sebagai sebab kekacauan di hidup Satoru.

 

Langkahnya terpaku ketika sudut matanya tak disangka menemui seseorang di lorong dekat mesin penjual minuman otomatis; seseorang yang sepanjang hari tidak absen dari kepalanya. Tanpa pikir panjang Satoru langsung menghampiri Suguru untuk memastikan bahwa lelaki tersebut masih dalam keadaan aman sentosa sesuai harapannya.

 

Suguru tidak menggunakan jaket seragamnya, rambut panjangnya ia biarkan jatuh menuruti gravitasi, hingga yang paling spesifik Satoru dapati ia melihat area kantung mata Suguru yang mulai menghitam. Apa ia tidak tidur semalaman? 

 

Harapan Satoru tidak sepenuhnya meleset; ia mendapati Suguru yang berada dalam keadaan aman, namun sesuatu pasti telah terjadi pada lelaki itu.

 

Mulutnya tercekat ketika ia hendak bertanya sesuatu pada Suguru. Ia ingat tiap-tiap rasa khawatirnya selalu diafirmasi begitu saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Mempercayai Suguru bahwa selama ini ia benar baik-baik saja. Satoru percaya kalau Suguru akan selalu berbicara jujur padanya.

 

Katanya baik-baik saja.

 

Tapi kenapa keadaan Suguru di depannya saat ini malah berbanding terbalik?

 

Suguru tidak benar baik-baik saja.

 

Sejak kapan? 

 

Sejak kapan? Apakah karena Suguru yang tidak tidur sejak semalaman? Sejak keduanya sudah tak pernah lagi membagi bersama tiap misi yang ditugaskan? Sejak Suguru yang diam-diam selalu kembali lebih awal ke kamarnya daripada mengajaknya bermain basket? Sejak buku-buku di kamar Suguru selalu tersimpan rapi di raknya? Sejak satu tahun lalu saat Suguru melarangnya untuk menghabisi hampir semua orang yang dengan kurang ajarnya bertepuk tangan riuh begitu bangga ketika jasad Amanai berada dalam genggamannya seolah mereka baru menang hadiah besar?

 

Satoru tidak tahu sejak kapan Suguru sebenarnya sudah tidak baik-baik saja.

 

Ada banyak pertanyaan dari kepala Satoru. Mungkin kali ini ia akan mendapatkan penjelasan yang sama lagi. Tidak apa-apa, Satoru.

 

Pun kalau Suguru akan menjawab demikian, mungkin ini pertama kalinya Satoru mencap Suguru sebagai pembohong handal.

 

"Suguru,"

 

Langkah Suguru nyatanya lebih cepat sampai beberapa jengkal tepat di hadapan Satoru, lebih cepat daripada pertanyaan Satoru yang sudah diujung lidah hendak ia lontarkan. Suguru tanpa aba-aba membawa raganya untuk ia biarkan tenggelam pada raganya. Butuh kurang dari sepersekian detik keramaian dalam kepala Satoru hilang ketika di bahunya mulai terasa ada beban yang menumpu.

 

Sirna sudah semuanya hingga yang mampu Satoru lakukan adalah mendaratkan telapak tangannya dengan hati-hati membelah hitamnya rambut Suguru.

 

Ia terdiam untuk membiarkan Suguru disana. Lidahnya kelu, menurut untuk diperintah batinnya agar ia tak dahulu bersuara hingga apapun yang Suguru cari dari sana tidak terhenti; sampai sebuah isak merisak masuk ke telinga Satoru.

 

Tangganya bergerak untuk mempererat rengkuhannya pada Suguru.

 

Satoru biarkan Suguru menangis dalam keheningan. Ia biarkan bajunya yang semula kering mulai basah karena air mata Suguru jatuh bebas disana. Ia biarkan Suguru mau pinjam bahunya selama apapun yang ia mau. Kalau ini bisa mengangkat rasa kalut Suguru, pun Satoru rela untuk membiarkan lelaki itu bersandar padanya selama yang ia mau.

 

Entah berapa lama waktu terlewati, ia enggan menghitung berapa lama Suguru sudah menumpahkan semuanya disana. Satoru tak lagi mendengar isaknya, namun Suguru masih berdiam. Mengumpulkan sisa keberanian yang ia punya untuk menghadap Satoru dengan keadaan yang sangat bukan dirinya.

 

Suguru melepas pelukannya. Ada sebagiannya yang terasa kosong ketika tubuhnya tidak lagi dapat merasakan hangat tubuh Satoru dalam jangkauannya.

 

"Aku kelihatan bodoh banget pasti sekarang." Suguru bersua untuk yang pertama kalinya saat itu, diiringi oleh tawanya yang getir, sesekali sembari menyeka sisa air matanya yang masih lewat— padahal ia sudah sekuat tenaga menahan agar tak sembarang jatuh lagi.

 

Pada dasarnya Suguru adalah orang yang selalu kuat. Ada alasan mengapa ia yang selalu lebih berpikir rasional diantara mereka berdua juga diimbangi dengan sentimen yang pas. Ia pintar untuk mengatur emosinya walaupun Satoru tahu kalau Suguru juga yang paling mudah berempati pada apapun disekelilingnya. Suguru bagaikan hembusan angin lembut yang selalu dirindukan di musim panas, juga disaat yang bersamaan ia bisa menjadi badai angin di situasi yang membutuhkannya. Suguru adalah orang yang selalu kuat tetapi juga lembut, tenang, dan tidak membuat siapapun merasa terintimidasi berlebihan— seperti penyihir Jujutsu kebanyakan— akan kehadirannya.

 

Oleh karena itu, runtuhnya Suguru dihadapan Satoru sekarang menikam jiwanya bagai belati. Menyaksikan fakta bahwa Suguru juga bisa jadi selemah ini dihadapannya tanpa ia pernah ketahui sebelumnya. Ada sekelebat sesuatu yang ia lupakan, bahwa Suguru juga masih sepenuhnya manusia— ia tentunya bisa kapan pun jatuh.

 

Satoru mengutuk dirinya karena ia terlalu egois, terlalu acuh, terlalu buta untuk tidak menyadari ada yang mengerogoti pikiran Suguru tiap harinya. Membiarkan Suguru mengonsumsi semuanya sendirian.

 

Kalau saja Satoru bisa membinasakan semua hal yang menjadi sumber kekalutan Suguru, detik itu juga ia akan lakukan. Termasuk dirinya sendiri.

 

Satoru mengepalkan tangannya erat, tak peduli ketika kukunya mencoba untuk menembus hingga ke dalam kulitnya. Ia marah pada dunia, pada dirinya sendiri. Pada apapun yang membuat Suguru tidak bahagia.

 

Suguru tidak kelihatan bodoh, sebaliknya ialah yang patut dicap bodoh.

 

Tangannya meraih tangan Suguru yang menjuntai lemas, membawanya untuk ia pegang dengan erat. Seakan takut kalau ia tak lagi bisa memegangnya esok hari.

 

"Satoru...?"

 

"Maaf, harusnya aku yang bodoh disini. Suguru, maaf karena aku yang nggak pernah sadar."

 

Suguru membiarkan tangannya dibawa oleh Satoru. Terduduk di bangku panjang kosong yang sedari tadi menjadi saksi bisu atas dua orang yang tengah menyimpan banyak emosi dan kebingungan.

 

"Maaf kalo aku egois banget. Maaf—"

 

Suguru terkekeh, ada sedikit beban yang terangkat ketika melihat ekspresi Satoru yang penuh penyesalan itu jadi pemandangannya, tapi bukan hanya itu; bibirnya juga ikut mengerucut seakan-akan ia anak kecil yang tertangkap basah sehabis melakukan kesalahan.

 

Mungkin Suguru ada sedikit rindu dengan wajah cemberut Satoru seperti saat ia gagal mengalahkan level sulit di permainan ponselnya. Berbulan-bulan sudah tak lagi ditugaskan bersama dengan Satoru, pun intensitas mereka bertemu juga semakin berkurang tiap harinya. Suguru baru sadar ada sedikit perubahan pada wajah Satoru, kantung mata yang semakin kentara tak bisa menutupi bahwa lelaki itu juga sama lelahnya.

 

"Kok kamu malah cengengesan, sih. Aku serius, Suguru."

 

Suguru tersenyum ketika nada Satoru terdengar benar-benar lebih serius kali ini. "Ceritanya panjang, Satoru."

 

"Dan aku punya banyak waktu buat dengerin semua itu."

 

Mungkin kali ini Suguru akan mengalah dan melawan gejolak batinnya untuk menyerahkan diri pada Satoru

.

.

.

"Aku rasanya hampir gila setelah aku sadar kalo aku sempet punya pemikiran kaya gitu, Satoru."

 

"... aku bahkan nggak layak untuk kamu jadiin kompas moral lagi di detik pertama aku ngebiarin pemikiran aku berkembang buat perlahan menghasut aku."

 

"Menghabiskan seluruh kalangan bukan penyihir supaya aku bisa menggapai tujuanku? Satoru kamu harusnya bahkan ngehabisin aku sekarang juga."

 

"... rasanya muak, Satoru. Untuk selalu ngalah ditambah nggak ada apresiasi yang setimpal untuk kita." 

 

Satoru masih mengulang-ulang tiap kalimat yang Suguru curahkan dengan seksama. Bagai kaset rusak hingga ia hafal seluruh liriknya.

 

Di saat yang bersamaan, ia tak tahu bagaimana cara memproses semua pemikiran Suguru, sekaligus ia paham betul mengapa Suguru sampai punya ide sejauh itu hanya untuk...

 

"Satoru, kalau aku boleh justifikasi kegilaan aku, aku cuma mau kalau kita terutama kamu nggak dibebanin lagi sama mereka semua yang bahkan nggak tahu terima kasih."

 

... para penyihir Jujutsu tidak lagi kehilangan para seperkawanannya bila mereka gugur dalam misi.

 

Terutama untuk Satoru.

 

Suguru, ayo hidup lebih lama lagi.

 

Kamu nggak perlu mengotori tanganmu sendirian kalau masih ada aku.

Lamunan Satoru buyar ketika ia mendengar suara pintu kamar Suguru terbuka, menampilkan si pemilik kamar yang terlihat lebih segar sehabis mandi. Merasa lega karena Suguru sudah jauh terlihat lebih baik sekarang.

 

"Satoru? Aku pikir kamu balik ke kamarmu."

 

Satoru menggeleng sembari matanya mengikuti kemana Suguru pergi. Melepas sandal, menginjakkan kakinya ke keset agar lantai kamarnya tak basah, menuju lemari, memilih kaos polos berwarna biru, lalu bercermin sebentar.

 

Dari cermin, Satoru yang sedang terduduk dapat melihat gores luka yang membentang lebar di dada mencumbui kulit Suguru; bahkan goresnya bisa jauh lebih tahu bagaimana isi hati Suguru daripada Satoru.

 

Ia meringis ketika ingatan bagaimana Suguru mendapatkan luka itu berputar di kepalanya.

 

Suguru, mungkin kamu memang benar.

 

"Suguru, boleh kamu duduk disini terus aku pinjam handuknya?"

 

Suguru mengernyit sebelum turut mengikuti permintaan Satoru. Tanpa banyak bertanya, ia terduduk di sebelahnya dan memberikan handuknya kepada Satoru.

 

Satoru kemudian berpindah untuk mengambil kursi di balik belajar, menempatkannya tepat di belakang tubuh Suguru yang begitu harum sabun. Terduduk tenang sebelum tangannya menggapai rambut hitam panjang Suguru yang masih cukup basah.

 

Suguru sempat ingin menolak ketika Satoru ternyata mencoba untuk membantu mengeringkan rambutnya. Namun, ketika tangan lihai Satoru mulai menggerilya di kepalanya, Suguru tak lagi merasakan apapun selain rasa rileks di sana. Tiap jemari Satoru membelah rambutnya, seakan ia juga membelah beban yang diembannya menjadi kepingan kecil dan hilang begitu saja; ajaib. Entah sejak kapan rasanya semenyenangkan ini untuk bersama Satoru tanpa harus memikirkan hal lain.

 

Dengan hati-hati Satoru mencoba untuk mengeringkan tiap sisi rambut Suguru tanpa membuatnya terganggu.

 

Satoru jadi ingat soal impresi pertamanya terhadap Suguru saat keduanya tak sengaja bertemu di area taman Akademi Jujutsu. Impresinya sangat receh ketika yang mencolok dari Suguru saat itu adalah poninya yang menjuntai tak diikat menutupi sisi bagian kiri wajahnya.

 

Impresi keduanya adalah rambut hitam Suguru yang kelewat cantik saat ia melihatnya tergerai tak sengaja ditengah-tengah latihan bela diri pertama kalinya untuk berdua. Satoru ingat Suguru sampai menyentil dahinya ketika ia kepalang melamun mendapati bagaimana penampilan Suguru pertama kali tanpa ikat rambutnya.

 

Satoru tidak bisa mendeskripsikannya tetapi sesuatu di balik tulang rusuknya bergetar hebat waktu itu.

 

Ia juga ingat ketika dirinya dan Suguru mulai akrab, dengan penuh keingintahuan Satoru bertanya perihal mengapa Suguru lebih suka untuk membiarkan rambutnya panjang.

 

"Nggak ada alasan khusus, sih. Aku cuma lebih percaya diri kalo rambutku kaya gini. Selain itu, aku menganggap kalo rambut yang aku jaga ini sebagai lembaran memori layaknya buku diari. Satoru kamu tahu nggak? Waktu kecil ibu bilang kalau laki-laki lebih baik memotong rambutnya. Beliau bilang bisa aja kehadiran rambut aku yang menjuntai malah akan mempersulit ketika aku melakukan sesuatu,"

 

"Saat itu aku mikirnya, gak masuk akal banget. Padahal ada yang namanya kunciran, aneh nggak sih kalo kunciran itu diciptain tapi nggak untuk dipake? Selain itu juga, aku pernah baca buku fiksi yang karakternya berpendapat kalau ia nggak akan pernah memotong rambutnya sampai mati kalo melakukan hal itu sama aja dengan melupakan seluruh memori yang ada di kepalanya,"

 

"Jadi ya gitu. Aku setuju kalau mungkin rambut adalah bagian dari tempat penyimpanan memori selain otak kita. Mungkin aku juga akan kaya karakter itu, Satoru. Untuk selalu ngejaga rambut aku supaya memorinya nggak akan pernah hilang, baik kenangan pahit atau menyenangkan. Aku selalu apresiasi apapun kenangan yang terjadi untuk aku bisa selalu jadiin pelajaran ke depannya."

 

Kesimpulannya bahwa Suguru adalah orang yang cenderung sentimen belum pernah terbantahkan hingga saat ini. Rambut panjangnya selalu menyimpan banyak memori yang mungkin Satoru sedikit berharap kalau setiap kenangan bersamanya juga Suguru simpan rapat-rapat dengan aman.

 

"Aku tadi malem mimpi buruk soal kamu."

 

Tangan Satoru masih telaten mengeringkan rambut Suguru yang beberapa sisinya mulai kering. Suguru menanggapi dengan lembut saat mendengar suara Satoru yang seketika menegang soal mimpi buruknya.

 

"Kamu mau cerita?"

 

Tidak ada alasan untuk Satoru menyembunyikannya. Ia dengan jujur menceritakannya secara runut pada Suguru. Mulai dari hubungan mereka yang mulai rapuh— akan kurangnya intensitas mereka bertemu karena menjalankan misi yang terpisah— sampai bagaimana Suguru cukup akan semuanya ia meninggalkan Satoru di suatu tempat yang terasa familiar, tapi sayangnya ia tak ingat di mana tempat kejadiannya.

 

"Tapi nyatanya aku masih di sini kan, Satoru?"

 

Belaian tangan Satoru di kepala Suguru terhenti. Ia berpindah untuk menghadap Suguru yang tatapannya tak lepas dari sana. Berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Suguru yang tengah terduduk, Satoru pun meraih tangan Suguru yang terasa sejuk sisa-sisa terkena dinginnya air. Genggamannya semakin erat sebelum Satoru mulai berbicara.

 

"Aku punya ide." ujarnya serius.

 

Suguru dengan khidmat mendengarkan. Tanpa sadar ia juga mengeratkan gengamannya pada Satoru. Terakhir kali tiap Satoru berbicara serius, suatu kejadian besar akan terjadi setelahnya. Seakan ucapannya bukan hanya bohong belaka.

 

"Tadinya aku berpikir buat musnahin siapapun yang udah ngebebanin kita dengan misi-misi yang gapernah ada habisnya,"

 

Suguru membelalakan matanya.

 

"Tapi, kalo kaya gitu bakalan jadi pekerjaan yang berat, sih. Aku juga belom mikir mateng-mateng langkah apa selanjutnya. Mungkin gimana kalo kita lebih baik pergi aja dari Jepang?"

 

 


 

 

"Shoko!"

 

"Mau ikut nggak?"

 

"... kalian mau ngelakuin apa lagi?"

 

"Kita mikir buat ngajak kamu kabur juga. Aku sama Suguru mutusin kayanya kita bakal ke Thailand. Aku banyak riset kalo disana pantainya bagus."

 

"Kalian berdua sudah gila, ya?"

Notes:

terima kasih atas kunjungannya! :D