Work Text:
Satu hal yang membuat Taerae tetap bertahan di tengah perjalanan hidupnya yang tidak selalu berjalan dengan baik adalah: ia percaya bahwa dirinya tidak sendirian di dunia ini. Bukan karena mereka semua yang hadir sebagai pemeran tambahan di dalam kisah hidupnya yang kebanyakan ber-genre komedi ini, tetapi tentang satu kenyataan bahwa jauh di antah-berantah sana, belahan jiwanya hadir dan sedang menunggu untuk dipertemukan seperti apa yang selama ini ia lakukan.
Sudah lebih dari dua tahun lamanya sejak pertama kali Taerae mendapatkan tanda khusus pada pergelangan tangannya itu. Sejak saat ia diberitahu oleh orang-orang di sekitarnya bahwa semua orang akan mendapatkan tanda yang sama dengan belahan jiwa mereka ketika mereka menginjak usia delapan belas tahun, Taerae selalu menanti hari itu datang karena sama seperti kebanyakan orang, ia juga penasaran tentang siapakah seseorang yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi jantung hatinya.
Namun dua tahun sudah berlalu dan ia masih belum juga bertemu dengan sang kasih. Membuat Taerae terus bertanya-tanya kiranya alasan apa yang membuat belahan jiwanya itu belum juga dipertemukan dengan dirinya.
“Perlu berapa kali gue kasih tau, sih? Cuma ada dua kemungkinan buat jawaban dari pertanyaan lo itu, Rae,” ucap Matthew, salah satu teman dekat Taerae, dengan nada penuh penuh frustrasi karena sepertinya ia juga sudah muak mendengar keluhan si pemuda Cancer tentang hal serupa selama dua tahun terakhir ini. “Antara soulmate lo itu emang belum delapan belas atau takdir belum bawa lo berdua buat ketemu aja. Lo harus lebih banyak sabar deh kalau gini.”
“Gue gak bisa sabar lebih lama lagi deh kayaknya, Mae. Gue beneran butuh ketemu dia supaya gue gak cepet gila kayak sekarang!”
Taerae dan sikap berlebihannya yang selalu berhasil membuat Matthew menghela napas berat. Sudah bukan hal yang mengejutkan sebenarnya melihat Taerae seperti ini. Makanya, Matthew cuma bisa mengabaikan laki-laki itu dan kembali fokus dengan lembar tugasnya daripada meladeni Taerae yang sedang tidak waras.
“Tapi, Mae, kalau emang soulmate gue belum delapan belas, berarti gue sama brondong, dong?!” tanya Taerae heboh, tangannya bergerak menggoyangkan tubuh Matthew sampai-sampai lelaki itu menghempas bolpoin di tangannya.
“Demi Tuhan, Kim Taerae!” seru Matthew lantang. “Lo daripada berisikin soal soulmate mulu mending kerjain tugas lo buruan! Tadi katanya jam dua lo ada meeting sama orang agensi, gimana sih?”
“Shit! Iya lagi!” ujar Taerae panik ketika ia baru mengingat bahwa dirinya masih mempunyai jadwal penting hari ini, dan jam dua siang yang Matthew sebutkan barusan hanya tinggal dua puluh menit lagi.
Selain berstatus sebagai mahasiswa semester lima seperti teman-teman seangkatannya yang lain, salah satu yang membedakan Taerae dari mereka adalah namanya yang dikenal oleh lebih banyak orang di dalam negeri ini. Semua itu karena terkenalnya lagu-lagu yang sudah ia rilis sejak tiga tahun lalu ia memulai debutnya sebagai seorang penyanyi solo.
Orang-orang hanya tidak tahu saja, bahwa di balik suara indah, senyum manis, serta sikap lembut yang menjadi ciri khas seorang Kim Taerae di depan publik itu tidaklah lebih dari sekadar imej yang ia buat sendiri. Karena nyatanya, siapa lagi yang bisa melihat dirinya tantrum hanya karena tidak tahan ingin segera bertemu sang belahan jiwa selain orang-orang terdekat seperti Matthew?
Mungkin karena selama ini Taerae selalu dituntut untuk menciptakan lagu dengan tema cinta yang digadang-gadang selalu terasa ‘nyata’ dengan apa yang kebanyakan orang alami. Entah itu perasaan bahagia ketika sedang jatuh cinta atau bahkan patah hati yang teramat dalam ketika cinta memilih untuk menyakiti.
Siapa yang pernah menyangka bahwa semua emosi yang dirinya tumpahkan ke dalam setiap lirik yang ditulisnya itu hanyalah hasil dari riset yang selalu ia lakukan melalui film yang ia tonton atau buku yang dibacanya alih-alih dari pengalaman pribadi seperti bagaimana para penggemar terkadang berasumsi?
Karena bagaimana mungkin Taerae bisa mengambil inspirasi dari kisah nyatanya sendiri di saat dirinya bahkan belum pernah merasakan semua hal itu selama dua puluh tahun ia hidup di dunia.
Meskipun tidak sedikit orang menyuruh Taerae untuk jatuh cinta dengan siapa pun yang ia anggap menarik selagi dirinya menunggu kepastian tentang siapakah soulmate-nya yang ia tunggu-tunggu itu, Taerae selalu menolak dengan alasan ia ingin setia dengan seseorang yang sudah ditakdirkan Tuhan untuknya.
Ya … meskipun itu berarti semua orang terdekatnya harus siap kalau-kalau Taerae kembali mengeluhkan hal yang sama secara berulang-ulang, sih.
“Udah selesai. Gue pergi duluan ya, Mae! Titip tugasnya!”
Taerae langsung berlari pergi dari gazebo kampus tempat mereka mengerjakan tugas tadi tanpa mengindahkan Matthew yang sudah memberi ancang-ancang untuk protes. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel guna menelepon sang manajer untuk segera menjemputnya—yang ternyata dirinya telat karena seseorang yang dihubunginya itu mengatakan ia sudah berada di parkiran fakultasnya sejak lima menit yang lalu.
Begitu tiba di dalam mobil yang sudah menunggunya itu, Taerae lantas menarik napas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang akibat berlari cukup jauh. Dahyun, sang manajer yang duduk di kursi sebelahnya, lantas memberikan satu botol air mineral mini yang langsung ditenggak habis olehnya.
“Kamu pasti lupa lagi, ya, kalau ada meeting hari ini?” tanya Dahyun nyaris membuat Taerae menyemburkan minumnya.
Pemuda bulan Juli itu lantas meringis setelah mulutnya kembali kosong. “Sorry, Mbak. Tadi beres kelas aku langsung ngerjain tugas sama Matthew, jadi lupa deh,” jawab Taerae beralasan meskipun tidak sepenuhnya salah. “Hari ini meeting ngapain sih, Mbak? Kemarin bukannya udah selesai semua ya jadwal rekaman? Tinggal bahas shooting MV, ‘kan?”
“Iya, buat itu,” jawab Dahyun. “Harusnya kan meeting-nya lusa, tapi ternyata pihak aktornya minta dipercepat. Terus karena agensi taunya kamu gak ada jadwal apa-apa hari ini, jadinya dipindah sekarang deh.”
Kemarin malam, ketika Dahyun tiba-tiba menghubungi Taerae kalau besok (alias hari ini) akan ada meeting dadakan di kantor agensi mereka, Taerae tidak ambil pusing karena sebenarnya hal seperti ini pun sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Tapi, mendengar alasan sebenarnya tentang kenapa jadwalnya tiba-tiba berubah, Taerae kok malah jadi sebal, ya?
“Idih, seenaknya banget tuh minta dipercepat padahal udah fix lusa? Sepenting apa sih jadwal itu orang sampe-sampe harus ngorbanin waktu luang aku kayak begini?” protes Taerae kesal, kedua alisnya semakin bertaut tanda kalau dirinya benar-benar kepalang heran.
“Kamu lupa, ya, kalau aktor yang mau kerja sama jadi model di video klip lagu baru kamu ini THE Kim Jiwoong?” Dahyun tertawa pelan setelah melontarkan pertanyaan retorisnya.
Oh. Oh. Benar juga. Tidak seharusnya Taerae melupakan satu fakta bahwa Kim Jiwoong yang dimaksud Dahyun barusan itu merupakan seorang artis papan atas ibu kota. Bahkan sejak dirinya belum terjun ke dunia hiburan sekalipun, Taerae sudah sering sekali mendengar namanya disebut-sebut kemana pun kakinya melangkah. Jadi, seharusnya Taerae tidak perlu heran lagi tentang jadwal orang penting sepertinya, ‘kan?
Taerae pun lantas mendengus sebal sembari menelan pahit fakta tersebut. “Bener juga, sih. I have nothing compared to him, right?”
Perjalanan menuju kantor agensinya siang itu memakan waktu nyaris setengah jam karena jalanan yang cukup padat, beruntung jarak dari kampusnya tidak begitu jauh sehingga Taerae beserta sang manajer berhasil datang tepat waktu.
Setelah tiba di kantornya yang terletak di salah satu lantai gedung pencakar langit itu, keduanya pun segera memasuki ruang meeting karena pihak dari aktor yang akan bekerjasama dengannya ternyata sudah tiba lebih awal. Taerae jelas tahu mana yang merupakan seorang artis besar di dalam ruangan itu ketika ia melangkahkan kakinya masuk; aura yang dipancarkan oleh Kim Jiwoong benar-benar membuatnya ciut seketika.
Meeting siang itu dibuka dengan perkenalan basa-basi antara dua pihak yang akan bekerjasama. Taerae juga sempat bersalaman dengan Jiwoong yang hari itu tetap terlihat mengagumkan meskipun hanya hadir dalam balutan kasual, saling memperkenalkan diri dengan formal setelah sebelumnya hanya mengetahui nama satu sama lain.
Satu setengah jam berlalu dan Taerae keluar dari ruang meeting dengan emosi yang menggebu. Seharusnya ia tahu sejak awal bahwa bekerjasama dengan seseorang yang tingkatnya lebih tinggi dari dirinya berarti ia harus bisa menurunkan ego sendiri; dan ia seharusnya paham bahwa tidak semua orang bisa mengerti dengan Taerae dan sifat tempramentalnya yang sangat ajaib.
Dahyun saja terkadang masih suka kewalahan acap kali Taerae sudah mulai emosi ketika suatu hal berjalan tidak sesuai dengan prinsipnya, apalagi dengan Jiwoong serta orang-orangnya yang notabenenya adalah pihak asing? Pecahlah sudah ruangan persegi yang dijadikan ruang pertemuan siang itu.
“Bego! Taerae bego!” Tidak ada yang bisa Taerae lakukan selain melampiaskan amarahnya terhadap dirinya sendiri. Meskipun ia tahu kalau egonya itu sangat tinggi, tetapi untuk yang satu ini ia berani mengakui kalau memang dirinyalah yang salah. “Ngapain cari masalah sama artis gede sih, anjing!”
Taerae berakhir mendekam di salah satu bilik kamar mandi guna menetralkan emosinya yang masih memuncak. Beberapa menit berlalu dan ketika dirinya merasa otaknya sudah kembali jernih, ia akhirnya keluar dari sana hanya untuk menemukan Jiwoong yang sedang bersandar pada dinding kamar mandi; menatapnya intens dengan kedua tangan terlipat di dada.
Oh, tolong ingat kalau ekspresi istirahat yang dimiliki pria itu sendiri sudah terlihat sangat menyeramkan, apalagi kini ketika suasana di antara keduanya memang sedang tidak baik; Taerae nyaris menabrak dinding kayu toilet saat dirinya terlonjak setelah menyadari keberadaan Jiwoong yang tiba-tiba itu.
“L-lo … ngapain di sini?” tanya Taerae terbata, takut-takut salah bicara meskipun sebelumnya Jiwoong sendiri yang mengatakan untuk menghapus formalitas di antara mereka.
Jiwoong terlihat melemaskan posturnya yang sebelumnya bersandar, kini ia beranjak melangkahkan kaki ke arah wastafel guna mematut dirinya di depan kaca.
“Just wanted to make sure you really took your time to clear your mind. Sama takutnya lo kabur juga, meeting kita belum selesai kalau lo lupa.” Jiwoong kembali menatap Taerae melalui pantulan kaca besar di depannya, kali ini diikuti seulas seringai yang semakin membuat Taerae menelan ludahnya kasar.
Yang lebih muda terlihat menghela napas sebelum memberanikan diri untuk mendekat, berdiri dengan sedikit banyak jarak dari tempat Jiwoong berada.
“Sorry, Kak. Gue kebiasaan suka kelepasan apalagi kalau lagi discuss tapi gak dikasih kesempatan buat ngomong kayak tadi. Apa gunanya ada diskusi kalau gitu?” ujar Taerae berusaha tenang, diam-diam berharap semoga Jiwoong pun memahaminya.
Dan ia bisa merasakan dirinya mengembuskan napas lega ketika Jiwoong menganggukkan kepalanya penuh paham.
“Gue juga minta maaf atas nama manajer gue tadi, ya. Coba sekarang lo ngomong sama gue, lo maunya gimana buat project ini? Biar sama-sama enak aja kita.”
Taerae mematikan keran air yang barusan ia gunakan untuk mencuci mukanya, lalu ia menatap Jiwoong skeptis; tidak bisa sepenuhnya percaya kalau pria itu mempunyai niat yang baik.
Namun, pada akhirnya, Taerae tetap menyuarakan opininya terlepas dari apa pun. “Ide yang dikasih sama pihak lo tuh kurang cocok sama isi dari lagu gue, Kak. Oke gue tau yang aktor di sini itu lo, lo lebih punya kuasa daripada gue. Tapi, kan ini lagu gue, Kak. Seharusnya kalian gak, sih, yang nyesuain sama maunya gue? Jangan malah sebaliknya?”
Tanpa Taerae sadari, selama dirinya mengoceh panjang lebar mengenai apa yang ada di pikirannya di hadapan Jiwoong yang tadi memintanya untuk melakukan hal demikian, ada seulas senyum yang perlahan tertarik kian lebar. Juga tatapan matanya yang silih berganti memandangi wajah Taerae dari samping serta tangannya yang tidak bisa diam seiring dirinya berbicara; seolah ada sesuatu yang diam-diam mendistraksinya dari sana.
Dan Jiwoong merasa yakin akan satu hal melalui obrolan singkatnya dengan Taerae di dalam kamar mandi siang hari itu.
Mendapatkan hari libur di akhir pekan merupakan sebuah anugerah paling dinanti oleh Taerae yang biasanya selalu sibuk selama tujuh hari dalam seminggu. Maka ketika Minggu ini jadwalnya kebetulan kosong, Taerae sudah berniat untuk menghabiskan harinya dengan tidur seharian penuh. Ia bahkan dengan sengaja mematikan daya ponselnya supaya tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu.
Namun, memang dasarnya ia memiliki teman yang tidak tahu diri, pintu kamarnya sudah dihujani ketukan tidak beraturan sejak lima menit yang lalu diiringi panggilan namanya yang mulai terdengar memekakkan telinga.
Taerae pun akhirnya pasrah. Ia buang sembarangan bantal yang tadi digunakannya untuk menutupi kepala dengan harap suara bising itu bisa segera hilang meskipun berakhir mustahil juga.
Ketika dirinya memutar kunci dan membuka knop pintu dari dalam, Taerae sudah mengambil ancang-ancang untuk mengamuk di depan Matthew yang ternyata datang bersama Gaeul pagi itu. Tetapi niatnya lebih dulu digagalkan karena Gaeul yang tiba-tiba mendorong tubuhnya kembali masuk ke kamarnya, lalu berakhir jatuh di atas kasurnya sendiri dengan posisi yang tidak mengenakkan. Sementara Matthew masuk belakangan setelah dirinya kembali mengunci pintu.
Tingkah dua sahabatnya itu jelas membuat Taerae kebingungan. Apalagi dirinya masih dibalut kantuk—emosi pun terasa semakin membludak.
“Pada ngapain sih, anjing! Ganggu hari libur gue aja lo berdua!” amuk Taerae setelah berhasil kembali bangkit sehingga kini ia terduduk di atas kasurnya, sementara Matthew dan Gaeul sama-sama berdiri di samping kasur dengan kedua tangan yang beristirahat di pinggang.
“Ini bukan waktunya lo tidur, Taerae! Ada hal yang lebih penting yang perlu lo tau!” ujar Gaeul, lalu ia menoleh ke arah Matthew dan memberi gestur pada lelaki itu untuk melakukan sesuatu—membuat Taerae semakin kebingungan dibuatnya.
Lalu Matthew tiba-tiba mengeluarkan ponsel dari kantong celana yang dipakainya, menggulir layar mencari entah apa pun itu yang tidak Taerae ketahui. “Lo masih pengen tau soulmate lo siapa, ‘kan, Rae?”
Mendengar topik tersebut kembali dibawa setelah nyaris satu bulan terakhir ini Taerae tidak lagi memikirkannya karena ia sibuk mengurusi syuting video musik serta perilisan lagu barunya itu, raut wajahnya perlahan melunak. Diam-diam berharap datangnya dua orang di hadapannya ini membawa kabar yang baik.
“Masih, lah. Lo berdua kan yang paling tau se-desperate apa gue selama ini.”
“Nah, makanya!” Gaeul tiba-tiba memosisikkan dirinya duduk di samping Taerae, lalu ia menarik tangan kiri lelaki itu yang memiliki tanda khusus pada pergelangannya. “Ini tanda lo gambar apa, sih? Bunga mawar, ‘kan?”
Taerae mengikuti arah pandang Gaeul, memperhatikan tanda khusus yang berada di pergelangan tangannya itu dengan seksama, lalu menganggukkan kepalanya. “Iya, mawar.”
Setelahnya, Matthew menyodorkan ponselnya ke hadapan Taerae. Di layar persegi panjang itu terdapat sebuah foto seseorang yang wajahnya sudah tidak lagi asing di mata Taerae karena mereka banyak bertatap muka selama sebulan terakhir. Dan Taerae hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung, silih berganti menatap Gaeul dan Matthew guna meminta penjelasan.
“Lo liat itu fotonya Jiwoong. Baru banget diambil tadi pagi sama wartawan, tapi orang-orang malah pada salah fokus sama tanda di pergelangan tangannya,” jelas Gaeul, ia mengambil alih ponsel di tangan Matthew supaya mereka berdua bisa melihat foto tersebut secara lebih jelas.
“Selama ini fans-nya si Jiwoong itu selalu penasaran siapa soulmate dia, soalnya Jiwoong gak pernah ngebiarin pergelangan tangannya diekspos. Dia pasti selalu pake jam tangan di sana buat nutupin. Kayaknya sih gara-gara selama ini kan dia diberitainnya pacaran sama Sakura ya, yang aktris itu, jadi mereka berusaha nutupin kalau mereka bukan soulmate satu sama lain yang sebenernya.”
Taerae tidak paham apa saja yang dikatakan oleh teman-temannya setelah itu, karena kini fokusnya hanya tertuju pada foto seorang Kim Jiwoong yang dengan terang-terangan mengangkat lengannya yang tidak ditutupi apa pun setengah tinggi ke arah kamera sehingga gambar bunga mawar yang tercetak di pergelangannya terekspos dengan sempurna.
Ia tidak mau seenaknya mengambil kesimpulan, bisa jadi tanda mereka berbeda meskipun sama-sama berbentuk bunga mawar. Tetapi bahkan setelah berkali-kali ia bergantian memandangi milik Jiwoong serta miliknya sendiri yang tercetak di tempat yang sama persis, Taerae tidak bisa menemukan perbedaan apa pun dari kedua gambar tersebut.
“Gak mungkin, anjir!” ujar Taerae masih belum mau memercayainya. “Gak mungkin gak sih kalau soulmate gue si Jiwoong Jiwoong ini?”
“Gak ada yang gak mungkin lah, Rae! Mau soulmate lo aslinya ada di belahan benua lain juga bisa aja, tau.”
Taerae mengacak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar kebingungan harus bereaksi seperti apa terhadap kenyataan yang baru terungkap ini. Apakah semuanya akan menjadi seperti apa yang selama ini selalu ia harapkan jika ternyata belahan jiwanya yang selalu ia nanti kehadirannya adalah seorang Kim Jiwoong?
“Beberapa orang juga gue liat-liat udah mulai bawa-bawa lo tuh, soalnya kan lo dari dulu udah sering ekspos sign lo di depan publik, ya? Jadinya mereka langsung pada cocoklogi dah—kayak gue sama Matthew.”
“Lo berdua ketemu deh menurut gue, Rae. Omongin soal ini bareng-bareng,” saran Matthew yang disetujui oleh Gaeul.
Dan Taerae butuh waktu nyaris satu minggu untuk akhirnya memberanikan diri menghubungi Jiwoong tanpa melalui perantara manajemen masing-masing.
Sebuah restoran mewah yang terletak di salah satu hotel ternama ibu kota adalah destinasi yang Taerae dan Jiwoong setujui sebagai tempat pertemuan mereka pada akhirnya.
Meskipun keduanya sepakat untuk tidak membawa nama manajemen ke dalam pertemuan ini, tetapi ternyata pihak dari Jiwoong diam-diam ikut turun tangan dalam mengosongkan tempat sehingga kini hanya ada mereka berdua di sana, duduk berhadapan sementara para pelayan silih berganti menaruh hidangan makan malam di atas meja.
Belum ada yang membuka suara setelah keduanya saling menyapa pada pertemuan di awal beberapa menit yang lalu. Jiwoong lebih dulu menyuruh Taerae untuk menyantap hidangan malam itu alih-alih memulai percakapan meskipun sejak tadi yang lebih muda sudah melempar kode melalui tatapannya.
Ya sudahlah. Taerae juga kebetulan sedang merasa lapar, ada baiknya mereka memang makan terlebih dahulu, ‘kan?
Nyaris dua puluh menit berlalu dengan keduanya yang hanya menghabiskan menu utama masing-masing sembari sesekali membicarakan tentang kesibukan satu sama lain yang tidak jauh berbeda. Taerae yang sudah mulai sibuk mempromosikan lagu barunya dari satu panggung ke panggung lain sementara Jiwoong dengan proses syuting film baru yang diperankannya.
Keduanya sama-sama sibuk, tetapi mereka jelas saling menginginkan pertemuan malam ini untuk terjadi.
“Just like what I told you, Kak Jiwoong, ada yang mau gue omongin sama lo,” ujar Taerae setelah ia selesai menghabiskan makanannya—sedikit lebih lambat daripada Jiwoong yang sudah lebih dahulu menyelesaikan miliknya.
Jiwoong sendiri menganggukkan kepalanya paham, lalu ia mendistraksi sejenak guna memanggil pelayan untuk membereskan meja mereka serta membawa hidangan penutup sebagai teman obrolan setelahnya.
“About our matching sign, right?” tanya Jiwoong tepat pada sasaran. Kedua matanya lurus menatap Taerae yang seketika gugup.
“Jadi … lo udah tau, ya?”
Jiwoong terkekeh pelan sembari membawa punggungnya bersandar pada kursi, tetapi kedua matanya tetap lurus menatap Taerae. “Gue udah notis dari awal kita ngobrol berdua di kamar mandi waktu itu, sebenernya. Tapi karena gue pengen kita kerja secara profesional tanpa bawa-bawa urusan pribadi, so I kept my mouth shut without telling you anything about it.”
Katakanlah Taerae memang memiliki nilai minus dalam hal memberi respon yang baik, karena yang ia berikan pada Jiwoong setelahnya justru sebuah helaan napas yang terdengar berat sampai-sampai Jiwoong kembali tertawa pelan.
“Is it that disappointing to find out that your soulmate is me, Taerae?”
Nyaris tersedak karena ludah yang tengah berusaha ia telan sendiri, Taerae seketika menggoyangkan kedua tangannya cepat—berusaha menunjukkan gestur bahwa apa yang Jiwoong asumsikan barusan tidaklah benar.
“Nggak, lah! Nggak gitu, Kak Jiwoong. I was just … surprised. And still can’t believe it, actually,” jawab Taerae dengan suara yang mencicit di akhir. “Nggak percaya aja kalau soulmate gue ternyata orang yang selama ini selalu gue liat mukanya di TV.”
Taerae benar-benar bingung apakah ada hal yang lucu dari semua ini atau bagaimana karena sejak tadi Jiwoong selalu merespon setiap perkataan maupun tingkahnya dengan tawa kecil. Tetapi beruntungnya ia paham, bahwa kekehan yang diloloskan dari mulut si bulan Desember itu bukan merupakan tawa yang mengejek.
“Kayak lo sendiri aja nggak pernah muncul di TV, sih.”
“Ck, gak gitu maksud gue! You are like … celebrities’ celebrity tau gak sih, Kak? Beda jauh banget deh levelnya sama gue.” Taerae menundukkan kepalanya dan berusaha fokus dengan puding coklat yang ada di atas meja. Tangannya terus menggerakkan sendok kecil di sana tetapi tidak berniat untuk menyantapnya sama sekali.
Hal tersebut jelas membuat Jiwoong merasa khawatir.
“Hey,” panggil Jiwoong pelan. Ia memajukan tubuhnya kembali bertumpu pada meja, membuat tatapan keduanya kembali bertemu dalam jarak yang cukup dekat. “Kok malah insecure gitu, sih?”
Embusan napas kasar sekali lagi lolos dari hidung Taerae, ia hanya mampu membalas tatapan Jiwoong selama beberapa menit sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menyuarakan isi pikirannya.
“Jujur gue takut sama realita ini, Kak. I used to have a lot of imaginations with my soulmate in my head. Selama ini gue selalu pengen cepet-cepet ketemu soulmate gue supaya bisa merealisasikan semua imajinasi gue itu. Tapi, setelah tau kalau soulmate gue ternyata lo, gue jadi gak berani buat berharap apa pun lagi.
“Bukan karena lo itu lo, tapi karena kenyataan kalau hidup kita berdua sekarang nih gak cuma punya diri kita sendiri. Gue yakin pasti bakalan ada banyak banget pro kontra soal kita berdua kedepannya, and that’s what scares me the most.”
Ada hening yang menyelimuti atmosfer di dalam ruangan luas itu setelahnya. Baik Jiwoong maupun Taerae sama-sama telah memutus kontak mata, kini keduanya sibuk menatap ke arah mana pun selain manik satu sama lain.
Jiwoong diam-diam setuju dengan kekhawatiran yang tengah Taerae rasakan, tetapi ia berani bersumpah dirinya masih mempunyai rasa percaya diri untuk dibagi dengan sang belahan jiwa—hanya saja ia terlalu bingung harus menyuarakannya dengan cara apa.
“But after all,” ucap Taerae tiba-tiba, kembali berhasil menarik perhatian Jiwoong. “Gue gak kecewa sama sekali kok, Kak, waktu tau kalau soulmate gue itu ternyata lo—seorang Kim Jiwoong yang dipuja sana-sini. Seharusnya gue bangga, ‘kan?”
Kedua sudut bibir Jiwoong perlahan terangkat meskipun senyumnya tidak sampai mata. Namun melihat Taerae yang berusaha bersikap santai di tengah pikirannya yang sedang berkecamuk tentu membuat Jiwoong mau tidak mau harus bisa melakukan hal yang sama.
“Gue juga seneng waktu sadar kalau soulmate gue ternyata lo. Asal lo tau aja, I’ve been adoring you since the first time I listened to your song. Seharusnya gue bisa lebih banyak merhatiin lo sejak awal, ya, supaya nyadarnya juga lebih cepet?”
Kedua mata Taerae sedikit terbelalak setelah mendengar penuturan Jiwoong yang satu itu. “Boong ya? Masa sih, you’ve been adoring me?”
“I’m a fan, Taerae,” balas Jiwoong berusaha meyakinkan. “Menurut lo aja kenapa gue mau terima project buat jadi model di MV lo if it’s not you we’re talking about.”
Dan Taerae tidak bisa menahan tawanya. “Pantesan aja! Gue heran waktu pihak manajemen bilang kalau lo setuju buat main bareng kita. Secara, ‘kan, nama gue aja masih kecil. Tapi ternyata semuanya gara-gara lo diem-diem suka juga ya, sama gue?”
Jiwoong tersenyum geli mendengar pertanyaan terakhir dari Taerae—yang ia yakini lelaki itu tidak sadar kalau dirinya baru saja melemparkan pertanyaan yang bersifat ambigu. Namun, Jiwoong justru memilih untuk menjawabnya dengan pasti,
“Iya. Karena gue suka sama lo.”
And that was the moment Taerae realized he just asked something stupid a moment ago. Namun ia lebih memilih untuk diam dan perlahan menyunggingkan senyum lebar di wajahnya alih-alih berusaha mengoreksi ucapannya.
Mungkin memang tidak ada salahnya dengan mengakui bahwa belahan jiwa yang selama ini ia tunggu-tunggu ternyata seseorang yang kehadirannya diakui oleh begitu banyak orang di dalam negeri ini.
Seharusnya Taerae memang merasa bangga, ‘kan?
“Taerae,” panggil Jiwoong yang langsung dibalas dehaman santai oleh Taerae. Kedua pandangan mereka masih terkunci sejak tadi, tetapi kini jelas tercetak ada sesuatu yang berbeda dalam sorot hangat yang ditujukan untuk satu sama lain. “Kita coba pelan-pelan buat kenal satu sama lain secara lebih dalam, ya? Let’s put aside the fact that we’re actual soulmates, jauh sebelum ini pun gue udah sadar kalau gue emang mau kenal sama lo secara personal. Do you want to try it with me too?”
Satu hal yang paling Taerae takuti ketika ia pertama kali menyadari bahwa seorang Kim Jiwoong merupakan belahan jiwanya yang selama ini selalu ia tunggu-tunggu adalah reaksi dari pria tersebut mengenai semua ini.
Ia takut kalau ternyata Jiwoong tidak menyukai fakta tentang mereka berdua yang ditakdirkan untuk bersama. Taerae terlalu takut kalau dirinya tidak bisa memenuhi ekspektasi Jiwoong mengenai seseorang yang akan menjalani sisa hidupnya bersama—karena kalau boleh jujur sekali lagi, mendapati Jiwoong sebagai belahan jiwanya sudah melampaui ekspektasi yang Taerae punya sendiri.
Namun, setelah keduanya bertemu hari ini dan membicarakan perihal tersebut secara empat mata serta mendengar langsung sebuah proposal ala-ala dari yang bersangkutan, Taerae jelas tidak mempunyai alasan apa pun lagi untuk meragu.
Maka ia beri satu anggukkan pasti untuk ajakan serta pertanyaan yang Jiwoong lontarkan barusan, diiringi senyumnya yang kian melebar—menunjukkan lesung dalam pada pipinya yang menambah kesan menarik di mata Jiwoong.
“Gue mau kok, Kak, nyoba sama lo. I believe it will worth it.”
Two months later.
Dalam Liputan Khusus: Aktor Ternama Kim Jiwoong Akhirnya Mengungkapkan Sosok Soulmate yang Dipertanyakan
Dua bulan berlalu sejak pertama kali Kim Jiwoong memublikasikan tanda khusus pada pergelangan tangannya setelah sekian lama berusaha disembunyikan; para penggemar telah berspekulasi banyak mengenai siapakah jodoh dari idola mereka itu.
Dari sekian banyaknya nama yang disandingkan dengan Jiwoong selama ini, sang aktor sendiri akhirnya mengungkapkan sosok yang selama ini dipertanyakan melalui unggahan terbaru di akun Instagram pribadinya.
Terdapat sebuah foto yang diambil secara candid, di mana dua orang yang wajahnya sudah familiar di kalangan para Woongdongies, terpampang dengan jelas dalam unggahan tersebut.
Iya, benar, ternyata sosok soulmate dari Kim Jiwoong adalah Kim Taerae, seorang penyanyi solo yang baru saja merilis lagu terbaru dengan Jiwoong sebagai model dalam musik video klipnya. Sepertinya takdir memang bekerja untuk mereka berdua, bukan?
“It’s a recognition of the serendipitous alignment of two souls, and the profound joy that comes with knowing that you have a partner whom you can share life’s joys and challenges with, a companion who understands you deeply, and a love that feels as boundless as the sky,” tulis Jiwoong dalam unggahan tersebut, membuat para penggemar langsung paham bahwa dirinya tengah memberitahu seisi dunia bahwa ia merasa bahagia karena telah bertemu dengan soulmate-nya.
“Ngeri banget, deh. Perasaan belum ada satu jam kamu post fotonya tadi, Kak,” ujar Taerae diiringi kekehan kecil dari Jiwoong setelahnya.
Kini mereka berdua sedang menghabiskan waktu berdua di dalam ruang apartemen pribadi milik Jiwoong dengan Taerae yang menyandarkan tubuhnya santai pada yang lebih tua. Mereka sedang mengamati layar ponsel di genggaman Taerae sembari membaca berita serta respon orang-orang tentang unggahan Jiwoong beberapa menit yang lalu melalui akun Instagram-nya.
Dua bulan sudah berlalu sejak pertama kali mereka saling mengetahui fakta bahwa mereka adalah soulmate untuk satu sama lain, dan selama itu juga Jiwoong dan Taerae mulai menjalani hari sembari berusaha mengenal satu sama lain secara lebih mendalam.
Dan sudah nyaris selama sebulan terakhir ini pula akhirnya mereka berdua menjadi lebih intens serta memutuskan untuk memberi label serius pada hubungan yang tengah dijalani.
Meskipun mereka memiliki waktu dua bulan lamanya, tetapi baru kali ini keduanya secara resmi mengumumkan tentang hubungan mereka ke hadapan publik. Dan Taerae akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat respon orang-orang yang lebih banyak memberi dukungan positif daripada mengatakan hal buruk tentang keduanya.
“Sekarang kamu gak perlu takut lagi sama pendapat orang lain, banyak yang sayang sama kamu meskipun gak sebesar rasa sayangku ke kamu,” ujar Jiwoong serius, tetapi Taerae menganggapnya sebagai lelucon yang perlu dibalas tawa.
Jiwoong semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Taerae yang lebih kecil. Ia juga tidak lupa membubuhi kecupan-kecupan singkat pada pucuk kepala lelaki itu dengan penuh kasih sayang.
Meskipun bagi sebagian orang dua bulan bisa dibilang terlalu singkat, tetapi tidak bagi Jiwoong. Ia merasa selama ini sudah sangat cukup untuk dapat membeberkan seluruh alasan mengapa ia bisa menjatuhkan hatinya pada Taerae secara instan bahkan tanpa Taerae perlu berusaha keras untuk menarik perhatiannya.
Taerae memiliki segalanya untuk dicintai dan Jiwoong jelas akan dengan senang hati memberi seluruh dari dirinya untuk dapat mencintai setiap bagian dari diri Taerae yang tidak pernah orang lain ketahui sekalipun.
“I’m glad that my other half is you, Taerae.”
Taerae memutar kepalanya demi dapat bertemu dengan kedua mata Jiwoong yang selalu dipenuhi oleh gemerlap setiap kali dirinya menatap Taerae. Tatapan penuh cinta yang selalu berhasil membuat Taerae luluh dan lututnya terasa lemas.
“And I couldn’t be more grateful to know that my person is you, Kak Jiwoong.”
Lalu Jiwoong memajukan kepalanya supaya bisa meraih bibir manis Taerae dengan miliknya, mengecup lembut di sana selama beberapa saat sebelum mulai menciumnya penuh cinta.
The feeling of gratitude for having found a soulmate is like getting a warm embrace from the universe; a reminder that amidst life’s complexities and its cruelty, there exists a profound and unconditional love for those who deserve it.
And in this case, Jiwoong and Taerae have found each other to fill the void within their lives and emerged two halves as a whole one.
