Work Text:
Tentang Pat dan Pran, yang di semesta mana pun pasti selalu bertemu. Dengan cara apa pun.
Jam delapan malam, seperti biasanya, Pran duduk di gerbong ketiga kereta bawah tanah ini. Bangkok masih lumayan panas pada pukul delapan malam. Untungnya Pran hari ini mengenakan kemeja yang tipis, dan seperti yang lalu-lalu, jaketnya ia sampirkan di bahu. Keringatnya yang tadi mengucur lumayan deras langsung disambut dengan sejuknya pendingin ruangan di kereta. Di stasiun ini penumpang belum banyak yang memasuki kereta, Pran punya waktu sekitar sepuluh menit untuk duduk dan membaca komik di layar ponselnya. Dia berharap bisa tertawa sebentar setelah hari yang melelahkan di kantornya.
Satu stasiun berikutnya, penumpang mulai banyak naik dan memenuhi gerbong ketiga ini. Pran memutuskan untuk berdiri, memberi tempat kepada seorang wanita muda dan anaknya yang masih kecil.
“Terima kasih,” ujar wanita itu.
Pran hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tidak keberatan berdiri walaupun sudah seharian ini dia mondar-mandir dari ruang kerjanya ke ruang rapat. Toh sebentar lagi yang dia cari biasanya muncul.
Kereta sampai di stasiun berikutnya, Pran otomatis melongokkan kepalanya ke arah pintu, mencari sosok yang sudah satu minggu ini mencuri perhatiannya.
“Nah, itu dia!”
Yang Pran tunggu adalah lelaki tegap, tingginya tidak terlalu berbeda darinya. Lengan kemejanya selalu digulung sampai ke siku, rambutnya yang cukup panjang mencuat berantakan. Usianya pun Pran perkirakan tidak jauh darinya. Wajahnya tegas, namun Pran pernah (tidak sengaja) melihat, senyumnya cerah. Menurut Pran, wajahnya lumayan juga.
Sudah satu minggu ini, setiap sekitar jam delapan malam, pria itu selalu masuk ke gerbong ketiga, sama seperti Pran, dan turun di stasiun terakhir, sama seperti Pran. Mereka tidak pernah duduk bersebelahan, atau berdiri berdampingan. Tetapi Pran selalu berhasil menemukan sosoknya di antara orang-orang yang memenuhi kereta. Bagaimana tidak? Kalau menurut Pran, itu karena perawakan pria itu cukup mencolok. Tawanya pun renyah, Pran pernah mendengarnya ketika dia sibuk mengobrol dengan seorang anak kecil perempuan seperti mereka teman dekat saja.
Hari ini pun penampilannya tidak terlalu berbeda. Rambutnya menempel di dahi, terkena keringat. Tasnya tersampir di pundaknya yang lebar. Alisnya berkerut, matanya tajam ke arah Pran. Tunggu. Ke arah Pran?
Oh, Pran ketahuan.
Buru-buru dipalingkan wajahnya, berpura-pura tertarik dengan sesuatu di ponselnya.
“Sialan, sialan, sialan,” rapal Pran di dalam hati.
Pran tidak melihat, pria itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sekitar jam delapan malam, Pat berlari ke arah peron kereta, berharap semoga tidak tertinggal jadwalnya yang seperti biasa. Sudah satu minggu ini dia terpaksa menggunakan kereta bawah tanah karena mobilnya memutuskan untuk rehat di bengkel. Apartemennya tidak jauh dari stasiun, dan jujur saja, dengan kemacetan kota Bangkok yang terkadang membuatnya lebih lelah empat kali lipat, Pat rasa ini justru lebih baik.
Selain itu…
Sejak minggu lalu naik ke gerbong yang sama, ada seseorang yang membuatnya tertarik. Seorang pria dengan jaket yang selalu disampirkan di bahu. Pat terkadang merasa pandangan pria itu terarah kepadanya ketika Pat memasuki kereta. Entah benar atau tidak, tetapi Pat sama sekali tidak keberatan karena dia pun melakukan hal yang sama ketika si Jaket di Bahu tidak melihatnya.
Terkadang si Jaket di Bahu terlihat menahan tawa saat membaca sesuatu di layar ponselnya. Terkadang dia melamun melihat ke arah jendela. Terkadang Pat ingin dapat kesempatan untuk duduk di sampingnya dan berkenalan dengannya. Nanti, pasti akan ada saatnya.
Kereta tiba, dan Pat sudah berdiri di tempat biasanya, di depan gerbong ketiga. Tas di bahunya dia pegang lebih erat. Keringatnya mulai muncul. Kepada jantungnya dia berbisik, “ Jangan berulah dulu. ” Harapannya dia paksa untuk diam sebentar. Tentu saja ada sebagian yang berontak dan berteriak, “Mana si Jaket di Bahu? Mana?!”
Pintu gerbong terbuka dan seperti dua kutub magnet, mata mereka beradu. Seperti ada radar tertanam di kepala mereka sampai-sampai pandangan mereka langsung bertemu.
Pat tentu saja tersenyum kecil ketika si Jaket di Bahu memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk membaca sesuatu di ponselnya.
Pat berdiri cukup jauh dari si Jaket di Bahu, agak kecewa, tetapi Pat merasa cukup. Dia melirik pantulanya di jendela kereta. Cukup berantakan, masuk akal karena dia berkegiatan sejak pagi. Kalau yang seperti ini, apa masih boleh berkenalan dengan si Jaket di Bahu yang selalu terlihat rapi itu?
Mereka hampir sampai di stasiun selanjutnya, yang biasanya selalu diserbu oleh penumpang. Dan benar saja, puluhan penumpang menyerbu gerbong ketiga ini, membuat Pran yang awalnya sudah mendapatkan tempat duduk harus beranjak berdiri, memberikan tempatnya untuk seorang wanita yang menggandeng anaknya. Makin terdesak hingga akhirnya Pran berdiri bersebelahan dengan pria yang selama ini diam-diam dia perhatikan. Mereka saling melempar senyum, dengan bahu yang tak berjarak.
“Ups, maaf,” kata Pran saat tak sengaja bahu mereka bertabrakan cukup keras.
Pria itu mengangguk, “Nggak apa. Mau geser ke sini? Sepertinya di sebelah kamu agak penuh.”
Pran bergeser, masih tertunduk kepalanya, takut raut wajahnya terbaca. Namun beruntunglah dia, ada kartu identitas milik pria itu terlihat dalam pandangan matanya.
Napat J.
Senyum kecil bermain di wajah Pran, “Akhirnya.”
Kereta makin penuh dan mereka merelakan pegangan tangannya diambil alih oleh orang lain. Jumat malam, semua orang berebut untuk pulang lebih cepat dan melanjutkan agenda mereka menyambut akhir pekan. Sangat dapat dimaklumi.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di stasiun tujuan yang sama. Keduanya saling menganggukkan kepala dan tersenyum saat keluar dari kereta.
Pran menundukkan kepalanya untuk memesan taksi motor dari ponselnya, dan mereka pun terpisah.
“Hari Senin cepatlah datang,” batin Pran dalam hati.
Jadi, sudah dua minggu sejak Pran tidak sengaja tahu nama pria yang membuatnya bersemangat setiap pulang kantor. Sudah dua minggu Pran menunggu Napat datang, dan tidak pernah sekalipun Napat mengecewakannya. Dia selalu muncul di tempat yang sama, dan menyunggingkan senyum yang sama.
Namun yang berbeda, di suatu hari Rabu, Pran dibuat kalang kabut karena Napat memilih untuk duduk tepat di sampingnya. Sangat jarang ada tempat duduk tersisa di hari Rabu malam seperti ini, tetapi mungkin kali ini dewa-dewi berhasil mengabulkan keinginan Pran untuk dekat dengan Napat – dan senyum lebarnya.
Manis, batin Pran. Dia cuma berhasil menengok ke arahnya selama empat detik, dia takut wajah merahnya ketahuan.
Dia tidak melihat bagaimana Napat menunggu Pran melihat ke arahnya untuk mengucapkan, “Hai, ketemu lagi kita.”
Untuk pertama kalinya, Pran mendengar suara Napat secara langsung.
Akan kurayakan hari ini dengan makan mi pangsit!
Buru-buru Pran menjawab, “Oh, hai. Iya, ketemu lagi.”
Seharusnya Pran ikut kelas “cara berbasa-basi dengan orang asing yang memikat hati” sesaat sebelum menaiki kereta, karena kini dia tidak tahu harus bicara apa.
Astaga, ini canggung sekali. Bagaimana kalau orang lain mendengar basa-basi mereka dan tertawa sedikit?
Napat berdeham dan menyilangkan kaki panjangnya, dia masih memperhatikan Pran.
“Kamu turun di stasiun biasanya nanti?”
Oh, rupanya Napat tahu di stasiun mana dia turun. Tidak heran, sudah cukup lama mereka berinteraksi dalam diam, kalau Pran boleh berharap.
“Iya, di stasiun biasanya. Kamu juga?” Tanya Pran yang kini duduk menghadap ke arah Napat, keberaniannya mulai terkumpul.
“Iya,” katanya.
Mereka sampai di stasiun berikutnya, dan penumpang berebut masuk. Pran dan Napat memilih untuk berdiri, memberikan kursi mereka bagi wajah-wajah yang terlihat jauh lebih lelah. Lengan mereka saling menempel, tanpa sadar Napat setengah bersandar pada Pran, dan bukannya merasa risih, Pran justru menegakkan diri, membiarkan lengannya jadi penopang.
Ah, tiba juga mereka di stasiun tujuan. Mereka harus berenang di antara manusia-manusia pekerja keras ini, dan yang Pran inginkan cuma mandi sesampainya di rumah. Setelah memastikan Napat ada tepat di belakangnya, mereka berhasil turun dan seperti biasa, Pran langsung membuka ponselnya, mengetikkan alamatnya di aplikasi, menunggu untuk dijemput.
Ting.
Dapat juga akhirnya.
“Hei, aku duluan ya,” katanya kepada Napat yang masih ada di belakangnya.
“Hati-hati. Sampai jumpa besok?”
Pran menghela napas, seakan sebal kenapa semudah ini hatinya berdegup kencang karena janji bertemu yang mungkin hanya basa-basi bagi si Manis ini. Tetapi tentu saja dia menjawab, “Sampai jumpa besok.”
Di hari Kamis malam itu, Pat sudah sampai di stasiun lebih awal dari biasanya. Lengan kemejanya kembali dia gulung, rambutnya dia sisir dengan jari, berharap tampak sedikit lebih rapi. Dia keluarkan ponselnya, membuka kamera depannya dan bercermin.
Yah, lumayan juga. Walau tidak serapi si Jaket di Bahu yang manis itu. Bagaimana bisa dia selalu terlihat menarik di saat orang lain sudah terlihat kelelahan? Bahkan wanginya sopan bermain di hidungku!
Kereta yang dia tunggu pun tiba, dia buru-buru masuk, berharap si Manis ada, dan kalau keberuntungan memang jadi haknya hari ini, dia ingin duduk di sampingnya lagi.
Sepertinya keberuntungan bilang, lain kali saja ya.
Karena kenyataannya, hari itu penumpang cukup banyak, dan Pat terbawa arus berdiri di dekat pintu. Lehernya dia naikkan, mencari sosok yang selalu mengalungkan jaketnya di bahu. Apakah hari ini keberuntungannya sudah habis gara-gara siang tadi dia dapat makan siang gratis?
Lima menit kemudian, barulah Pat melihat orang yang dia cari sejak tadi, sudah tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan sudah lama menunggu Pat melihat ke arahnya.
“Hai,” kata Pat tanpa suara.
Yang di sana hanya melambaikan kecil tangannya.
Ketika kereta sudah sampai di tujuan mereka, Pat sengaja melambatkan jalannya, menunggu si Manis keluar dari kereta, dan berharap bisa sengaja tapi tidak sengaja berjalan bersamanya keluar dari stasiun.
Ada daftar kecil di kepala Pat soal si Manis. Hari ini, Pat harus dapat namanya.
Masih bersama puluhan orang lainnya, mereka berjalan menuju pintu keluar. Si Manis masih ada di jarak pandangnya, dan Pat belum menemukan celah untuk mendekatinya.
Hampir sampai pintu keluar, dan sedikit lagi Pat bisa menepuk pundak Si Manis. Tapi..
“Sialan, hujan,” dia bisa mendengar si Manis menggerutu. Teleponnya dia simpan lagi ke dalam tas, sepertinya dia tidak jadi memesan taksi motor seperti biasanya.
“Hai lagi,” kata Pat malu-malu.
“Hujan,” kata si Manis. Jaket di bahunya dia lepas dan dia kenakan, mungkin dia mulai kedinginan.
“Iya, hujan. Jadi nggak bisa pulang ya?” jawab Pat.
Si Manis melipat tangannya di dada, melihat ke arah hujan yang makin deras saja.
Pat berpikir, sepertinya ini saat yang tepat untuk makin kenal dengan si Manis, tetapi pintu stasiun yang penuh dengan orang bukanlah tempat yang sesuai. Dia menengok ke arah luar stasiun, seingatnya ada kedai kopi di samping kanan.
Pat menyentuh lengan si Manis, “Di sebelah sana ada kedai kopi. Aku mau ke sana, kamu mau ikut?”
Beberapa detik berlalu, dia terlihat menimbang-nimbang.
“Biasanya bakalan susah pesan kendaraan waktu hujan begini,” tambah Pat berusaha meyakinkan.
“Tapi hujannya deras,” balasnya.
“Lewat samping, bakal kehujanan juga sih, tapi sedikit aja.”
Pat belum boleh menyerah.
Si Manis terlihat bingung menatap Pat, seperti berusaha membaca sesuatu. Pat tersenyum maklum, bagaimanapun juga, mereka tetaplah orang asing, bukan? Ini usaha Pat untuk membuat mereka menjadi tidak asing lagi.
“Oke,” jawab si Manis akhirnya.
Kedai kopi itu belum tutup, masih banyak pengunjung yang mungkin hanya berteduh dari hujan atau memang betulan butuh kopi di malam yang cukup dingin ini. Pat dan si Manis kini berdiri bersebelahan menunggu pesanan mereka datang.
Es matcha latte dan es Americano. Memang hujan di luar, tapi lembapnya cuaca malam ini hanya bisa dikalahkan dengan es.
“Pesanan atas nama Pat?” kata barista lain, menyerahkan dua gelas minuman kepada mereka.
Ah, sekarang dia tahu namaku.
Pat berjalan ke luar kedai, ada satu meja kosong di sana, Pran mengekornya sambil memegang gelas esnya sendiri. Ada lima meja, empat sudah diisi hingga berdesakan, sepertinya mereka menghindari hujan, hanya ada satu atau dua gelas minuman di setiap mejanya. Kebetulan, meja di ujung kosong, mungkin karena tempatnya lebih redup dari meja lain.
Meja bundar dari besi berwarna hitam, dengan kursi yang senada. Pat meringis ketika tangannya tak sengaja menyentuh meja besi itu. Dingin! Besinya sangat dingin sampai Pat terkejut. Si Manis tentu saja menahan tawanya.
“Hai, Pat?” kata si Manis, pertama kali nama Pat disebut dari mulutnya, penuh hati-hati, seperti takut salah.
“Hai. Sekarang kamu tahu namaku,” Pat tertawa kecil.
“Udah lama aku tahu,” balasnya.
Pat melotot. Untung saja matcha latte yang sedang dalam perjalanan masuk ke mulutnya tidak dia sembur begitu saja.
Si Manis menunjuk dadanya, pandangan Pat ikut mengarah ke sana.
Oh.
“Kupikir nama kamu Napat,” katanya lagi.
“Memang iya, tapi panggil aja Pat.”
Si Manis mengangguk.
“Pran.”
Pat mengernyitkan dahinya.
“Aku Pran. Parakul. Biasa dipanggil Pran.”
Berhasil.
Pat kini tahu nama si Manis dengan Jaket di Bahu.
Giliran Pat yang mencoba mengucapkannya, “Pran.”
Dia hampir saja berkomentar “Boleh aku ucapkan berulang kali?” tapi dia takut Pran akan keberatan, dia baru tahu nama Pran lima detik lalu!
Kini tangan Pran disandarkan di meja, duduknya mulai maju, seakan tertarik ingin bicara lebih jauh. Sebelumnya, dia melipat tisu yang mereka dapat dari si barista, dan menjadikannya alas untuk gelasnya yang mengembun.
Manis.
“Kamu selalu pulang jam segini, Pran?” tanya Pat kemudian.
Pran melirik jam tangan hitamnya, jam sembilan malam.
“Iya, karena nggak seramai kalau pulang sore. Kalau kamu?”
Baru saja Pat mau membuka mulut, Pran menghentikannya.
“Sori, sebentar,” ucapnya lalu menyelipkan lipatan tisu lain ke bawah gelas es milik Pat.
Ekstra manis.
Dia terlihat puas dengan air yang kini tertahan oleh lipatan tisu, dan bukan di meja, yang kalau dibiarkan bisa mengalir hingga menetesi celana Pat.
“Oke, silakan lanjutkan.”
“Terima kasih,” bibirnya terkembang melihat tingkah Pran.
“Aku baru sebulan naik kereta, karena mobilku di bengkel dan belum tahu sampai kapan.”
Malam makin larut, mereka sudah membicarakan soal banyak hal. Tentang Pran yang kerja di firma arsitektur ternama, tentang Pat yang baru saja diangkat menjadi konsultan senior di perusahaan konstruksi. Tentang pekerjaan mereka yang bisa saja bersinggungan. Tentang Pat yang tidak bisa makan pedas. Tentang Pran yang sempat punya cita-cita ingin menjadi penyanyi. Tentang tempat tinggal mereka yang ternyata hanya berbatas satu supermarket saja. Rasanya mereka sudah begitu akrab. Mungkin di kehidupan yang lain mereka adalah teman baik.
Tidak terasa hampir tengah malam, dan para pegawai kedai mulai membereskan kursi. Minuman sudah habis sejak tadi, hujan pun sudah reda.
“Udah hampir tutup kedainya. Mau pulang?” tawar Pat.
Pran menyalahkan tawa Pat yang membuat mereka jadi lupa waktu. Dia mengangguk.
Keduanya lalu membuka ponsel, mengetik alamat mereka masing-masing, memesan kendaraan untuk pulang.
“Sepertinya kendaraanku sudah datang, Pran. Aku tunggu sampai punyamu datang, ya,” tawar Pat.
“Nggak usah, sebentar lagi juga datang kok.” Pran menunjukkan aplikasi di ponselnya.
“Duluan aja, Pat,” tambahnya.
“Oke, kita ketemu besok, ‘kan?”
Pran senang sekaligus gemas.
Manis. Pat manis. Percaya dirinya manis.
“Nggak, ah,” kata Pran ingin menggodanya.
“Praaan.”
Pran jadi tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan pria dewasa di depannya ini.
“Jelek,” kata Pran singkat. Tangannya menutupi mulutnya sendiri, biar berhenti tertawa.
“Nggak apa-apa jelek. Yang penting besok kita ketemu, ya?” katanya setengah merajuk.
“Coba lihat sini telepon kamu,” Pran mengulurkan tangannya, meminta ponsel yang sedang Pat pegang.
Dengan raut muka bingung Pat menyerahkan ponselnya, Pran mengetikkan sesuatu di sana, lalu mengembalikannya kepada Pat.
“Nih. Kasih tahu dulu kamu ada di stasiun jam berapa besok,” ucapnya.
Pat melongo.
Pran memasukkan nomornya ke ponsel Pat. Begitu saja.
“Ini… beneran nomor kamu?” tanyanya tidak percaya.
“Nggak tau, deh,” Pran mengangkat bahunya.
Seru juga menggodai Napat ini.
“Udah, sana pulang. Itu udah ditunggu,” lanjutnya.
Pat menengok ke arah jalan dan benar saja, si pengemudi sudah melambai-lambaikan tangannya.
“Nanti aku telepon!” teriak Pat sambil berlari.
Pran menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
Satu bulan berlalu begitu saja, mereka masih bertemu setiap malamnya, di kereta. Terkadang berujung dengan makan malam bersama, terkadang cuma sempat saling curi pandang di kereta.
Pran tahu dirinya tertarik, Pat juga tidak malu-malu menunjukkan kalau dia bersedia untuk lebih dari sekadar berteman.
Sentuhan kecil dan ucapan manis di sana-sini jadi buktinya.
Pran sebenarnya tidak sabar, tetapi dia masih bisa menahan diri. Nomor kamarnya pun belum pernah dia berikan kepada Pat. Nanti, jika sudah yakin, jika sudah terucap kalau mereka mau jadi punya satu sama lain.
Pat pernah bertanya sepintas lalu, tapi Pran memilih untuk tidak menjawabnya, dan Pat tidak pernah mengungkapnya lagi.
“Hei, Pran,” sapa Pat di suatu malam di kereta yang belum begitu penuh.
Pran menggeser duduknya, memberikan tempat untuk Pat duduk.
“Hai. Gimana hari ini?” Pran bertanya penasaran, hari ini Pat tidak banyak mengirim pesan.
“Seru, ada klien baru, dia bawa keluarganya ke kantor hari ini, anaknya masih kecil, Pran! Lucu! Tapi lalu dia cerita banyak, seperti nggak mau kalah dengan orang tuanya. Jadi aku seharian ngobrol banyak sama mereka sampai nggak sempat gangguin kamu,” jawab Pat bersemangat.
“Oh, pantes hari ini aku bisa kerja dengan tenang,” Pran menjawab enteng.
“Kamu nungguin aku ganggu ternyata?” Pat menaikkan alisnya.
Sialan. Iya, sih.
“Nggak, kata siapa?” Pran menolak mengatakan yang sebenarnya.
Pat menahan diri agar tidak mengacak gemas rambut Pran di tengah kereta.
Malam ini cukup sejuk, setelah keluar dari stasiun, mereka memutuskan berjalan kaki ke restoran pinggir jalan favorit Pran, kedai mie pangsit yang sangat laris.
Sudah beberapa kali mereka ke sini, dan Pat sudah hapal pesanan Pran. Maka setelah memesan, dia mendekati Pran yang berhasil mendapatkan meja. Rasanya nyaman, melihat Pran duduk di sana, seperti sudah seharusnya.
Sial, Pat mau lebih, Pat mau ini setiap malam. Dia mau ada Pran di setiap malamnya, dan untuk itu, Pat masih bersedia menunggu.
"Terima kasih, Pran," katanya.
Pran melihatnya bingung, "Loh, aku yang terima kasih, kan kamu yang jalan dan pesan ke sana."
"Nggak, maksudku, terima kasih sudah mau makan sama aku," jawabnya sambil duduk di depan Pran.
Kaki mereka saling menyentuh dan Pat awalnya ingin menarik lurus kakinya, takut Pran keberatan.
Tapi Pran tetap di sana.
Dia justru tersenyum dan berkata, "Sama-sama."
Manis.
"Pran.." panggilnya.
"Hmm?" Jawab Pran sambil mengelap alat makan mereka dengan tisu.
Makanan mereka sudah datang. Sumpit dan sendok diletakkan di atas mangkok mie milik Pat setelah memasukkannya ke mangkoknya sendiri.
Ekstra manis.
"Kalau mulai Senin depan kita nggak ketemu, gimana?"
Sendok berisi kuah yang hampir sampai mulutnya terhenti di tengah jalan.
Pran letakkan kembali, memandang Pat sebentar, namun hangatnya berkurang.
"Boleh tahu kenapa?" susulnya kemudian.
"Udah capek ?" Tanyanya lagi ketika Pat masih terdiam.
Pat tahu maksud capek dari bibir Pran. Capek menunggu kepastian dari Pran. Yang tentu saja tidak. Pran layak diperjuangkan. Dan kalau Pran memang butuh waktu lebih banyak lagi agar mereka saling kenal, maka terjadilah. Pat tidak pernah keberatan. Dan seharusnya Pran tahu itu.
"Bukan!" Serunya sambil dengan berani memegang tangan Pran di meja.
Pat memandangi mata Pran. Manis, aku jelaskan dulu.
"Mulai hari Senin aku harus ada di lokasi proyek. Sepertinya bakalan jarang pulang biar lebih cepat juga. Mobilku juga sudah selesai direparasi, jadi.."
Pran terlihat jelas menghela napas lega.
"Sialan."
Giliran Pat yang bingung. "Hah?"
"Aku pikir kamu capek."
Pat menepuk pelan pipi Pran, katanya, "Mana bisa."
Pran akhirnya bisa mengunyah pangsitnya dengan tenang.
"Oke. Sampai kapan kamu di lokasi proyek?"
Dengan mulut penuh, Pat menjawab tidak jelas.
Pran protes, "Nggak usah buru-buru. Kunyah dulu. Aku nggak ke mana-mana."
Oh.
Makanan di mulut sudah tertelan, saatnya menjawab pertanyaan Pran. "Satu sampai dua minggu, Pran."
"Jangan kangen!" katanya sebelum Pran sempat membuka mulut.
Pran mengangkat bahunya tak acuh, "Paling kamu yang ribut kangen minta ketemu."
Pat tertawa. Baru kali ini mereka terang-terangan berbagi kata kangen .
"Mau taruhan?" tanyanya dengan bersemangat.
Pran mengulurkan tangannya, menerima tantangan itu.
"Yang pertama bilang kangen kalah?"
Pat menganggukkan kepala, senyumnya tersungging penuh keyakinan.
"Sepakat," jawabnya.
Nyatanya, Pran kangen.
Baru tiga hari tidak ada Pat di kereta malamnya, Pran kehilangan.
Tapi jelas saja dia tidak mau bilang, dia hanya membalas pesan Pat seperti biasa.
Yang berbeda hanya.. Pat lebih sering meneleponnya. Hampir setiap malam, setelah Pran sampai di kamarnya.
Pran kadang ingin menyerah dan memilih jujur, ya, dia mau Pat.
Pran kadang ingin menyerah dan berkata, Ayolah Pat, cepat ke sini. Cepat temui aku lagi. Perjalananku sepi.
Pran berjanji, nanti ketika Pat sudah datang, tidak akan lagi dia tahan semua perasaannya.
Sayangnya, dua minggu berubah jadi tiga minggu.
"Pran, ada masalah di lokasi. Masih mau tunggu kan?"
Pran menjawab singkat "oke" yang membuat Pat sedikit kecewa.
Kecewa yang hanya selama satu jam karena setelahnya ada kiriman empat lusin donat ke lokasi proyeknya, 'Untuk Napat yang manis. Kutunggu selalu, P.'
Jelas siapa pengirimnya, Pat tertawa terbahak-bahak, hatinya penuh dan hangat. Dia membagikan donat itu dengan rekan satu timnya, dengan bangga berkata, “Pacarku yang kirim.”
Dia bisa bayangkan Pran akan melotot dan protes kalau tahu Pat menyebutnya pacar.
Gawat, jadi ekstra kangen.
Pat menelepon Pran malamnya, menggodanya tanpa henti.
Dan besoknya giliran Pran yang dapat kiriman makan siang, di atas kotak ayam goreng itu ada tulisan 'jangan terlalu manis, dong, Manis, nanti aku kalah. P."
Seisi ruangan membaca pesannya dan bersorak riuh, seriuh hatinya yang jadi berdebar keras.
"Sabtu kita ketemu ya? Aku bisa pulang di hari Jumat malam."
Pran masih di kereta ketika dia membaca pesan dari Pat.
Pipinya terasa hangat, membayangkan si Manis akan kembali. Segera dia balas dengan "Oke, sampai ketemu."
Entah ada yang sadar atau tidak, tapi dia terus tersenyum sepanjang perjalanan.
Dua hari lagi.
Ada panggilan masuk di telepon Pran di hari Jumat malam itu.
Pat.
Dia mengecek jam, 23.00. Sudah larut.
"Hai," kata Pran.
"Hai. Belum tidur?"
"Belum. Kenapa?"
"Jadi, aku kekunci di luar kamar."
Pran bangun dari rebahnya.
“Kok bisa sih?”
Ada suara tawa sebelum Pat menjawab, “Tadi ke minimarket di bawah buat beli mie instan. Begitu balik ke kamar, pintunya nggak bisa aku buka, Pran.”
"Astaga. Sekarang kamu di mana?"
"Aku masih di lobi apartemen, aku udah hubungi manajer gedung, tapi dia bilang baru bisa datang besok pagi. Mau makan sama aku di tempat biasanya nggak Pran? Aku lapar."
Kantuk Pran hilang, diganti rasa berdebar karena Pat mengajaknya bertemu lebih cepat dari rencana mereka.
"Oke, tunggu di sana, ya. Aku ambil jaket dulu."
Pran disambut senyum lebar Pat sepuluh menit kemudian.
Dia mejanya sudah ada dua mangkok yang panasnya masih mengepul, uapnya terlihat dari cukup jauh, sepertinya baru saja datang.
Malam ini kedai mie pangsit sudah cukup sepi, hanya ada beberapa meja terisi. Jelas saja, jam makan malam sudah lewat sejak tadi.
“Cepet banget, keburu kangen?” goda Pat.
Pat tidak tahu kalau Pran setengah berlari agar bisa segera sampai.
“Keburu lapar,” sahut Pran.
Kangen. Kangen banget.
Aneh, Pat tidak membalas ucapannya lagi. Dia justru memandangi Pran sambil menyangga dagunya.
Seperti biasa, Pran mengelap dua set sumpit dan sendok, dan diletakkan di atas mangkok mereka masing-masing.
“Apa sih?” tanyanya ketika sadar Pat masih memperhatikannya.
“Manis,” jawab Pat sambil tersenyum, kepalanya dimiringkan ke kanan.
Pran memutar bola matanya mendengar Pat memujinya, tapi senyumnya pun tidak dapat dia sembunyikan.
“Cari cermin, Pat,” katanya kemudian sambil menyuap pangsit ke mulutnya.
Pat mengernyitkan dahinya bingung.
Pran menelan makanannya, lalu santai berkata, “Soalnya dari yang aku lihat sih jelas lebih manis kamu.”
Suara Pat yang batuk tersedak membuat si penjual panik ingin menelepon ambulans.
Pran mengatupkan tangannya seakan meminta maaf kepada beberapa orang di sekitar mereka.
"Tega kamu, Pran." Bibirnya mengerucut, mukanya merah dan berkeringat.
"Maaf, maaf," Pran masih tertawa sambil menyodorkan air minumnya kepada Pat.
Pat rela dibuat batuk terus-terusan kalau artinya dia bisa melihat Pran menggodanya lalu tertawa lepas seperti ini.
“Coba cerita kok bisa kekunci di kamar sendiri?” Pran ingin tahu.
Maka berceritalah Pat, dibumbui dengan adegan dramatis seakan dia adalah tokoh utama film dan Pran penonton satu-satunya.
Besar, ramai, tapi tetap manis.
Makanan sudah tandas, cerita sudah selesai, dan kedai sudah tutup, jadi mereka berpindah, berjalan kaki ke minimarket yang buka 24 jam, Pran ingin minuman manis, dan Pat ingin Pran minum minuman manis.
Dan Pat masih memandangi Pran dengan tatapan yang sama sejak tadi. Sejak kapan Pat melihatnya dengan mata seteduh ini?
Pran mengajak Pat duduk di bangku panjang di depan minimarket itu.
“Sejak kapan?” maka Pran bertanya, tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
“Sejak kapan apa?” ucap Pat yang ada di samping Pran, tangan kanannya disandarkan di belakang kursi Pran.
Pran mengalihkan pandangannya, seakan tidak sanggup melihat Pat, “Sejak kapan tertarik?”
Di kulit putih Pran, pipinya yang menghangat jadi tanda munculnya rona merah. Itu alasannya dia kemudian menunduk mengatur perasaan dan detak jantungnya yang menunggu jawaban Pat.
“Hari pertama aku naik kereta. Dengan jaketmu yang selalu tersampir di bahu. Kamu manis,” jawabnya tanpa jeda. Seakan selalu siap dengan jawaban itu.
“Kalau kamu, Pran?”
Pran menghela napas dan menengadahkan kepalanya, dia mencoba mengingat-ingat. Tangan Pat yang tadinya ada di balik kursi, naik ke punggungnya. Diam di sana.
Hangat.
“Hmm, mungkin waktu kamu ngobrol sama anak kecil? Kayaknya kalian seru banget waktu itu, aku jadi penasaran.”
“Oh! Dia cerita soal bagaimana pesawat bisa terbang! Aku ingat!”
“Iya, itu. Kalian berdua manis. Habis itu, mana mungkin aku bisa lupa?”
Sudah hampir pukul dua pagi dan tawa renyahnya masih di sana. Pran suka.
“Kamu mau pulang aja, Pran? Udah larut banget, pasti capek ‘kan?”
Pran menguap, seperti diingatkan kalau dia mengantuk. “Sori,” katanya malu.
“Tidur, Pran. Besok juga kita ketemu lagi, ‘kan? Aku jemput jam 10 pagi?”
“Lalu kamu gimana? Kamu sendiri di bangku ini sampai pagi? Dingin, Pat.”
Mungkin sudah saatnya Pran menyerah, mungkin sudah saatnya dia menjawab pertanyaan Pat dari beberapa minggu lalu, mungkin sudah saatnya dia berhenti berpikir bahwa mereka belum cukup saling mengenal, karena nyatanya, semudah itu Pat menebak Pran.
“Aku tunggu di sini aja, baterai teleponku masih cukup, aku bisa pesan kopi, bisa ngobrol sama kasir di dalam,” katanya menunjuk kasir yang juga terlihat mengantuk.
“Biar dia nggak ngantuk,” tambahnya lagi setelah melihat si kasir menguap lebar.
Pran menggelengkan kepalanya.
“Yuk?” ajak Pran setelah berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Pat.
“Kamu butuh istirahat juga. Hari ini kamu udah kerja keras. Tidur di tempat aku aja kalau kamu mau..”
Pat membelalak kaget.
“Maksudnya, ada sofa nyaman, kamu bisa tidur di sana. Itu kalau kamu mau,” tambah Pran panik.
Pat menerima tangan Pran, mengelusnya singkat, “Kamu yakin?”
Pran mengangguk dan mengeratkan genggamannya.
Oh, begini rasanya tangan si Manis.
Keduanya berjalan dalam diam, ada telapak tangan Pat yang mulai berkeringat, ada jantung Pran yang berdegup kencang, ada senyum yang belum juga luntur dari keduanya.
Pran menengok ke arah Pat, menunggu Pat tersadar dan melihatnya.
Beruntung, Pran selalu ada di radar Pat.
“Aku kalah, Pat,” kata Pran saat Pat balas menatapnya.
Dia menghela napas, lalu menatap Pat sambil dengan yakin berkata, “Aku kangen. Banget.”
Saat pintu lift terbuka, Pat langsung merengkuh Pran, tanpa Pran sempat menekan angka lantai kamarnya.
Pelukannya seperti yang Pran bayangkan selama beberapa minggu ini, dan seperti yang selalu ada di kepala Pran belakangan ini, dia pun balas memeluknya lebih hangat.
“Baru kali ini aku kalah dan rasanya senang,” kata Pran terkekeh di pundak Pat.
Dia menjauhkan diri sebentar, yang tentu saja sempat dilawan oleh Pat, lalu menekan tombol lantai kamarnya.
“Aku boleh minta hadiah apa?” tanya Pat ceria.
Pran mengalungkan tangannya ke pinggang Pat, menyandarkan kepalanya dan berkata, “Aku jadi hadiahnya, cukup?”
Pat dengan lembut meraih dagu Pran, dan Pran langsung menutup matanya, bersiap merasakan bibir Pat yang biasanya sibuk merayunya.
Cup.
Ternyata hidung Pran yang jadi sasarannya. Saat Pran membuka mata, ada Pat yang dahinya masih menempel padanya.
“Lebih dari cukup.”
Epilog:
Lima bulan kemudian.
“Ups, sori,” kata Pat yang tidak sengaja menyenggol pria yang berdiri di sebelahnya, di dalam kereta yang mulai penuh.
Yang disenggol hanya tersenyum kecil, mau bagaimana lagi, namanya juga berdiri di kereta penuh.
Saat stasiun tujuannya tiba, Pat merasakan tangannya digenggam.
“Yuk,” si pria manis tadi mengajaknya, menuntunnya hingga keluar dari stasiun, mencari celah keluar di antara puluhan orang yang berebut turun.
Pat menikmatinya, dia terus memperhatikan kedua tangan mereka yang bergandengan itu.
“Kasihan mobil kamu, kalau kamu naik kereta terus begini,” katanya setelah sampai di pintu keluar.
Pat menjawab, tangannya masih belum dilepaskan, “Pacarku nggak mau aku antar jemput naik mobil.”
Pria manis tertawa, jaketnya yang tadinya ada di bahu dia pakai dengan benar.
“Macet, Sayang. Kamu kejauhan kalau jemput aku di kantor dulu,” jawabnya.
“Aku lebih suka ada kamu di jalan,” kata sambil Pat merapikan lengan bajunya yang tadinya tergulung serampangan, terus menikmati wajah kekasihnya yang tak pernah terlihat tak menarik.
“Pran, kita makan dulu sebelum pulang ke rumah?”
Pran menganggukkan kepalanya, keduanya berjalan bersebelahan, jarinya tertaut dengan erat.
-selesai.
