Work Text:
Akhir pekan yang basah. Dingin. Pagi itu hujan hadir menyingkirkan sang mentari hingga semburat hangat hanya mampu ia pancarkan dengan malu-malu. Di sebuah kediaman sederhana yang tak jauh dari bangunan akademiya, sang empunya berkemul di balik selimut, masih terlelap dibuai rintik hujan.
Alhaitham, sang panitera akademiya menikmati akhir pekannya dengan menyembunyikan kesadarannya di balik alam mimpi. Alam yang telah sekian tahun tak ditemui manusia dewasa Sumeru. Lima hari dalam sepekan telah ia korbankan waktunya untuk membaca paragraf demi paragraf pengajuan riset yang tak pernah melampaui batas standar kelayakan. Maka biarlah di dua hari ini ia benamkan kesadarannya, dibuai di alam lain sembari sesekali terjaga ditemani sosok favoritnya.
Pagi itu kesadarannya dipaksa untuk menyembul oleh suara mesin pengering rambut. Namun ia tak membenci hal itu, ini aneh tapi ia menyukainya. Meski kelopak matanya ia buka dengan energi yang nyaris tak ada, melihat rambut legam bergelombang yang melambai diselingi helai berwarna emas membuat hangat merambat dalam dadanya. Ia kembali berkemul, namun kelopak mata yang tadinya berat untuk terbuka kini berat untuk tertutup.
“eh maaf tham, kamu jadi kebangun”
Sang panitera tak menjawab, namun sudut bibirnya terangkat sekian nano meter tanda ia tak masalah kesadarannya dipaksa muncul. Ia tahu wanita di hadapannya mampu menangkap garis lengkung di wajahnya.
“Dehya ...” haitham memanggil nama sosok wanita di hadapannya tanpa beranjak dari balik selimut. Ia melirik jarum jam yang masih menunjuk angka 6.
“hmm..?” sahut sang wanita membalikkan badannya, tampak jemari jenjangnya menyela helai rambut yang masih setengah basah.
“Mau kemana udah siap sepagi ini?”
“ehh kan semalem aku udah bilang kalo hari ini ada janji sama klien”
“oh kerjaan baru lagi?”
“yup”
“baru juga semalem kamu sampe kota dan nginep sini”
Wanita itu tertawa sebelum melanjutkan “gak langsung start kok tham kerjaannya. Hari ini brief meeting dulu, bahas timeline sama hal-hal yang perlu aku sama tim siapin”
Tanpa sedikit pun Haitham sadari, sudut bibirnya kembali terangkat lebih lebar dari sebelumnya. Lelaki itu selalu suka melihat sosok favoritnya lincah menyibukkan diri, mengerjakan pekerjaannya, bergerak bebas melakukan hal yang ia kuasai dan senangi. Ya, Haitham menyukai itu, tapi alunan rintik hujan yang menari di gendang telinganya mengajak kehendak di sisi lain hatinya untuk hadir.
“Dehya...”
“hmm..?”
“Dehya...”
“hmm..?”
“Dehya...”
“pfftt- Apa sih tham”
Al-haitham -masih di balik selimut- bergeser dan memberi isyarat agar wanita di hadapannya berpindah dari kursi meja rias menuju dipan tempatnya berbaring “di sini aja ngeringin rambutnya”
“Eh....”
“please” sambung Haitham
Dehya bangkit sejenak, menuruti keinginan lelakinya untuk berpindah. Detik pertama wanita itu terduduk ia kembali fokus dengan rambut panjangnya.
“jam berapa meetingnya?” tanya Haitham sambil melingkarkan lengannya di pinggang Dehya.
“sama klien sih 7.30, tapi janjian sama anak-anak buat kumpul di tavern jam 7”
“Eh sepagi itu? Ini hari minggu lho”
“heh- kerjaan aku kan gak kenal weekend atau weekday tham” jawab Dehya masih sambil mengeringkan rambutnya.
“gak usah pergi, undur aja meetingnya”
“hmm ..” Dehya tak menjawab.
“masih pagi, hujan”
Dehya kembali tertawa dan menyambung “bukannya kamu sendiri yang bilang paling suka liat aku kerja?”
“yes. You shine the brightest when you do your own thing” Haitham menjawab dengan kesadaran yang sudah setengah meninggalkan raganya. “tapi ...” sambungnya dengan lengan yang masih melingkar pada pinggang Dehya, ‘hangat’, batinnya. Tak lama kemudian kelopak matanya kembali terasa berat, mengatup, mengawali pemandangan yang asing namun di saat bersamaan terasa familier.
***
“al-Haitham” seorang wanita di usia senjanya memanggil lelaki kecil yang tenggelam dalam bacaannya. Mata toska sang bocah mengerling, berbinar, mencoba mencerna tiap kata yang tergores di buku dengan lebar hampir malampaui sikunya. Haitham kecil masih terduduk di hadapan bukunya, tak mengindahkan panggilan empunya suara.
Semburat lembayung matahari menelisik masuk di balik tirai yang tertiup angin, menandakan tugasnya hampir usai. Lantai kayu di kediaman Haitham kecil berdenyit diiringi suara langkah tergesa.
“Makan dulu nak, kamu belum makan dari tadi siang” ucap sang nenek membawakan mangkuk berisi semur yang dituang di atas nasi.
“iya nek”
“kamu gak keluar kamar dari tadi?”
“tadi Haitham sempat ke dapur nek, tapi makan semur gak bisa sambil baca buku, jadi haitham balik ke kamar”
Sang nenek tertawa melihat cucunya yang masih tertunduk, sesekali mengernyitkan dahi, tak hendak lepas dari buku di hadapannya. “ya sudah sini nenek suapi”
“ehmm... ahhmm” Haitham kembali dipaksa membawa kesadarannya ke alam raga saat jemari Dehya menjepit hidungnya. Matanya terbuka disambut pemandangan sosok favoritnya sudah tampak rapi, lengkap dengan riasan yang sukses memberikan penegasan pada fitur wajah indahnya.
“aku berangkat ya, paling telat siang nanti aku udah balik” ucap Dehya disusul kecup di dahi Haitham. Kembali hangat merambat di dada lelaki yang masih terbaring itu. Rintik hujan masih terdengar jelas, namun kini ditemani nuansa yang tak biasa. Hangat.
