Work Text:
Early fall
bxb chibi!chan x chibi!ren
Lee Haechan x Huang Renjun
-let's start-
“Bu guru, Renjun ijin ke kamar kecil!”
Kepala dengan helai legam itu menoleh ke sana kemari, sedikit heran mengapa sepi sekali. Sepanjang iris kelam itu menyusur, tak ada satu eksistensi pun yang tertangkap retinanya. Letak toilet yang berada di ujung lorong membuat bocah delapan tahun itu sedikit ketakutan.
Baam! Debum nyaring terdengar memekakkan telinga.
Renjun terlonjak kaget. Teriakan terkejut, mengalun dari bibir mungil bocah itu. Beruntung refleksnya cukup bagus, kakinya segera mengayun langkah kembali menuju kelas sembari berharap matanya menemukan seseorang yang dikenalnya.
Kelerengnya menyapu apa-apa yang ia lewati. Kelas-kelas kosong membuat suara hentak kakinya menggema nyaring sepanjang koridor. Genangan mulai terbit di sudut matanya, raut wajah ingin menangis dibarengi isakan lirih terus saja ia gumamkan.
Brak!
Kaki kecilnya berhenti melangkah. Maniknya fokus pada lorong kecil menuju gudang. Chenle bilang gudangnya berhantu, jadi jangan dekat-dekat.
“Jangan dekat-dekat! Jangan dekat-dekat!” Ia merapal.
Segera ia meneruskan tujuannya kembali ke kelas, tapi kemudian isak samar terdengar oleh gendang telinga. Dengan takut-takut, ia berjalan pelan mendekati gudang. Matanya memandang pintu yang tersemat gembok di rantainya, menyentuhnya perlahan.
Deng!
“Hwaa!” Renjun terlonjak mundur, tubuhnya gemetar ketakutan. Kelerengnya menatap aneh tangannya yang bahkan belum menyentuh gembok dan pintu gudang bergantian.
“Kena kau Renjun!” Mata anak laki-laki itu beredar. Lantas bibirnya mengerucut sebal mendapati Haechan terkikik di belakangnya.
“Haechan jahat! Kupukul kamu!” Dengan langkah menghentak, ia menghampiri temannya yang belum berhenti tertawa.
“Aduh! Sudah! Ampun! Janji gak ngagetin Renjun lagi!” Tangan-tangan kecilnya berusaha keras menghalau kepal tangan Renjun yang bernafsu menghantamnya.
“Dari mana saja sih? Kita jadi gak pulang-pulang karena mencarimu tau!” Alisnya menukik, masih kesal rupanya dengan teman sekelasnya itu
“Aku? Ya sembunyi lah!” Dagunya didongakkan, tak lupa telapak tangannya menepuk dada bangga seolah berhasil untuk tidak ditemukan.
“Tapi permainan kita sudah berhenti dari tadi!”
“Eh? Benarkah?” Matanya melebar, raut bingung yang menggemaskan terlukis jelas di wajah anak lelaki yang bertubuh lebih besar.
“Iya! Dan semua orang mencari Haechani karena takut Haechani diculik paman jahat seperti yang sering nenek lihat di teve.” Genangan yang terbentuk di sudut mata lebarnya mulai turun menganak sungai.
“Bahkan.. bahkan ibu Haechan datang mencari, juga... Jisung menangis karena Haechan hilang hiks.”
Anak laki-laki itu mendekati temannya yang sudah berurai air mata. Memeluknya, menepuk punggung sebayanya yang malah tersedu semakin nyaring.
“Aku kan tidak mau jaga, jadi harus bersembunyi.” Belanya.
Renjun meraih jari kawannya, menggosoknya dengan sepuluh miliknya. Meniup-niupnya pelan.
“Tapi ini jauh sekali dari kelas. Dan.. dan tangan Haechan dingin sekali hiks.” Suara isakannya sudah tak sekeras tadi, pun juga air mata yang mulai mengering. Tapi sembap dan wajah merahnya masih sangat kentara.
“Jangan menangis lagi, Renjun jadi seperti Jisung jika menangis seperti ini. Cengeng.” Mengusap sisa basah di pipi tembam teman sekelasnya.
“Tidak sama seperti Jisung! Renjun gak cengeng.” Mengusap kasar matanya. Melayanglah tatap nyalang pada Haechan yang haha-hehe.
“Iya deh iya. Yang cengeng Jisung.” Haechan tertawa senang, merasa berhasil membuat temannya berhenti menangis.
“Ayo pulang, aku lapar.” Mengusap perutnya yang sudah berontak minta diisi, ia meraih telapak teman sekelasnya itu. Rona yang kentara menyebar di wajah anak laki-laki berkulit pucat itu, lantas membalas genggam jemari anak laki-laki yang duduk di bangku belakangnya itu.
“Tau gak?”
“Tidak.” Sebuah pukulan mendarat pelan di lengan Renjun.
“Sakit tau!” Mengerucutkan bibir sambil menggosok lengannya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
“Jangan berlebihan.” Haechan memutar matanya malas. Lebay sekali temannya ini!
Renjun abai saja. Melangkah maju meninggalkan Haechan yang masih berdiri di tempatnya.
“Renjun tunggu!”
“Jangan teriak-teriak!” Keduanya saling melempar tatapan kesal. Jika ini manga, maka sudah ada kilatan petir yang menyambar keluar dari pasang mata menggemaskan mereka.
“Sudahlah, aku ingin pulang dan makan sosis.” Memutuskan untuk bertindak lebih dewasa -sesuatu yang sangat jarang ia lakukan- Haechan melajukan tungkainya melewati temannya yang kini mengerutkan dahi bingung.
“Lee Haechan! Sini kamu anak nakal!?” Terjangan ibunya dari arah kelas membuat anak laki-laki delapan tahun itu segera tenggelam dalam pelukan. Ibunya menepuk-nepuk pantatnya gemas. Anak ini memang ada saja ulahnya.
“Aku cuma main petak umpat dan sembunyi di sana.” Haechan merengut, telunjuknya mengarah ke lorong gudang.
“Lain kali jangan bersembunyi terlalu jauh mengerti?” Ini guru Kim, tersenyum lembut seraya mengusap helai legam Haechan. Anak itu hanya mengangguk pelan mengiakan. Lalu ibu guru menghampiri Renjun, berjongkok di depan anak itu.
“Renjuni dari mana hm?”
“Dari kamar kecil. Lalu bertemu Haechan di sana.” Tunjuknya ke arah yang sama dengan teman sekelasnya.
“Jadi, Renjuni yang menemukan Haechani ya?” Tanya ibu Haechan menimpali. Anggukan cepat membuat surai hitamnya bergerak-gerak lucu.
“Terima kasih ya sayang. Kamu hebat sekali bisa menemukan anak nakal ini.” Ibu Haechan mendekat, memeluk anak laki-laki bertubuh kecil itu.
“Ayo Haechan bilang terima kasih sama temannya.” Sang ibu mengangsurkan tangan berbalut kulit karamel bungsunya pada Renjun.
“Terima kasih Junie.” Ia tersenyum lebar pamerkan deretan giginya yang bolong satu. Tangannya meraih jemari Renjun, menjabatnya erat.
“Lain kali kita main lagi ya!”
Renjun mengangguk.
“Yasudah ayo pulang!” Sang ibu meraih jemari Haechan, menggenggam jari-jari mungil itu.
“Terima kasih guru Kim, maafkan Haechan sudah merepotkan.” Membungkuk sekilas, lalu berbalik menuju ruang parkir.
Tiba-tiba Haechan berhenti melangkah, membuat ibunya ikut menahan laju kaki jenjangnya. Dengan cepat anak laki-laki itu berbalik arah, berlari mendekati teman sekelasnya yang melempar pandang bingung.
Cup.
Tak ada satu detik belah bibir anak laki-laki itu menempel di pipi lembut temannya. Memperpekat merah yang masih betah bersarang di wajah manis Renjun.
“Sampai bertemu besok Injuni!”
Dan langkah mundur lengkap dengan senyum lebar serta lambai tangan menutup perjumpaan dua anak laki-laki sebaya hari itu.
