Work Text:
Riou, Dice dan dua ratus lembar lotre di malam hari.
Masing-masing dari mereka memegang senjata. Riou dengan pisau setajam taring tengah menguliti kadal. Di sampingnya, Dice dengan mata setajam elang sedang mencari kesesuaian enam digit kombinasi angka undian. Sama-sama tak boleh lengah. Konsentrasi penuh.
“Aaarrghh!” Dice mengerang sambil mengacak-acak rambut birunya.
Riou melirik sejenak, “Bagaimana?” Dice menggeleng ke arahnya. Wajahnya pucat nyaris putus asa.
“Tidak! Ini bukan waktunya menyerah!” teguh Dice menegakkan badan. Mata dan telunjuknya kembali menyusuri lingkaran angka.
Setelah mengeluarkan dan mencuci perut reptil, Riou segera menusuk lima ekor kadal itu untuk dipanggang. Sebuah kesenangan tersendiri bisa menyajikan makanan lebih dari porsi satu orang. Dalam kunjungan Dice kali ini, Riou hendak menyajikan menu spesial. Kalajengking dan belalang goreng hadir dalam hidangan utama. Riou tak lupa mengambil dua kaleng kacang merah sebagai kudapan sampingan. Kabar baik lainnya sup ular sebentar lagi mendidih. Makan malam yang sempurna.
Riou mengedipkan mata dua kali. Tertegun.
Ada sesuatu yang terlewat, tetapi Riou tidak bisa mengingatnya. Sesuatu yang penting. Tapi, apa?
“Aaargh! Sialan! Cuma beda nomor grup!” erangan kedua Dice melenyapkan rasa penasaran Riou.
Riou pindah lebih dekat untuk mengaduk sup, “Kau adalah orang yang tidak mudah menyerah, Arisugawa. Cocok menjadi seorang prajurit,” pujinya.
“Riou-san, bagaimana kalau aku tidak menang?” Dice bertanya dengan nada lesu, seakan kobaran semangatnya padam tersiram kenyataan. Ia bahkan mengabaikan perkataan Riou sebelumnya.
“Tidak apa. Orang-orang bilang kalau kesempatan hanya datang satu kali, tapi bagiku kesempatan itu datang berkali-kali,” jawab Riou sambil menambahkan bumbu pada sup, “peluangmu masih banyak,” sambungnya menunjuk tumpukan lotre yang belum tersentuh.
“Yah, tenang saja! Bagaimana pun aku tidak akan menyia-nyiakan uangmu, Riou-san!”
Ketika hendak mengambil kertas, seluruh tubuh Dice merinding bersamaan dengan angin yang berembus. Bukan karena dingin, melainkan ada desakan dari bawah tubuhnya.
“Riou-san, aku mau buang air. Di mana eerr… toiletnya?”
Wajah Riou sontak berubah ceria, “Ah, senang kau menanyakannya. Minggu lalu Jyuto dan Samatoki membantuku membangun portable toilet. Jadi mereka memesan—”
“Riou-san~ ini sudah di ujung tanduk!” potong Dice berdiri mengapit selangkangan.
Jari Riou mengarah pada semak-semak tak jauh dari mereka duduk, “Toiletnya ada di sana, dekat sungai,” informasi Riou kembali diabaikan karena Dice sudah tunggang langgang, tak tahan.
Malam ini langit bersih, pantulan sinar bulan mampu menjernihkan penglihatan. Dice memandang langit sejenak sebelum kembali ke camp. Selepas mencuci tangan di sungai, senyumnya mulai mengembang; membayangkan dua hal. Pertama, makan malam gratis tambah sepuasnya. Kedua, lembaran peluang yang menunggu untuk digarap. Dia tahu, pekerjaan lebih ringan kalau perut kenyang.
Saat tangannya menyibak ranting pohon rendah, Dice menemukan Riou yang sudah membawa karung kentang berukuran besar dan sebilah pisau daging. Tubuh atas Riou condong ke depan, dalam mode siaga.
“Ri-Riou-san?” panggil Dice ragu-ragu.
Riou berbisik tapi tegas, “Pelankan suaramu, Arisugawa. Apa kau mendengarnya? Ada yang terjebak di perangkap yang aku buat.”
Dice mengubah langkahnya menjadi mengendap-endap. Pun Riou mulai berjalan menuju perangkap hewan yang berada tepat di balik semak belukar setinggi satu meter, bagian barat tenda. Diam-diam keduanya merasa senang. Mereka menerka-nerka hewan apa yang kelak menjadi menu tambahan. Tupai, kelinci, rusa hingga babi hutan tengah mengitari kepala Dice. Air liurnya terbendung di sudut bibir membayangkan proses memasak daging buruan.
Begitu sampai, mereka mematung bersamaan.
Ternyata tidak ada hewan yang tertangkap.
Seorang –ya, seorang pria dengan kedua kaki yang terjerat tali perangkap tengah berputar di porosnya. Kedua tangannya terkulai ditarik gravitasi, menyebabkan barang bawaan berupa bahan makanan tersebar di tanah.
Seketika bendungan air liur Dice surut, retak dan mengering.
Yap, bukan tupai, kelinci apalagi rusa melainkan seorang pria tampan, tutur Dice ke arah Riou menggunakan telepati.
“KENAPA DIAM SAJA?! CEPAT TURUNKAN AKU!”
Pria tampan yang galak.
“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Aohitsugi Samatoki melirik curiga ke arah Dice.
“Dice hanya berkunjung dan aku memasak untuk makan malam kita,” Riou menjelaskan setelah Dice kembali duduk dan Samatoki membersihkan diri.
Empat urat berbentuk siku-siku muncul di pelipis Samatoki, “Maksudmu makan malam kita,” ralatnya penuh penekanan pada kata kita.
“Oh! Itu dia! Terima kasih sudah mengingatkanku, Samatoki,” kata Riou telah menemukan sesuatu yang terlewat. Akhirnya.
Samatoki lantas meremas kedua bahu Riou kuat-kuat, “Kau melupakan janjimu sendiri?!” tuduhnya marah.
“Tidak sepenuhnya, Samatoki. Aku cuma lupa kalau kau dan Jyuto akan datang. Omong-omong di mana dia?” tanya Riou mencari rekannya di belakang badan Samatoki.
“Ck! Kau memang yang terburuk!” bentak Samatoki mengempaskan Riou menjauh.
“Aku mengirim pesan dua jam yang lalu dan membeli semua ini,” tunjuk Samatoki pada kantong belanjaan putih berisi protein dan bir, “dan kau melupakannya? Begitu saja?”
“Samatoki, aku minta maaf karena sudah melupakan janjiku. Hmm… karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kau ikut makan malam dengan kami?”
“Dalam mimpimu!”
Samatoki menjatuhkan barang bawaan tepat di atas balok kayu. Melihat reaksinya, perlahan Riou mengulurkan tangan, “Aku akan memasak semua yang kaumau, dengan atau tidak memakai bahan tambahan,” bujuknya.
“Itu tidak membuatnya lebih baik,” timpal Samatoki mendengus ke arah lain. Riou sudah menduga respons itu dalam hati. Baiklah, saatnya menyiapkan umpan lagi, seperti memancing.
Di sisi lain tak ada keraguan yang Samatoki tunjukkan saat memutar badan. Ia siap meninggalkan hutan.
“Aku pergi,” ucapnya dingin. Tanpa lambai tangan, apalagi ciuman singkat di pipi seperti biasanya.
“Baiklah. Dengan semua makanan dan bahan tambahan, kami berdua pasti menikmatinya,” umpan pertama dilempar.
Langkah kaki Samatoki terhenti.
“Arisugawa juga bilang mau menginap,” waktunya menunggu umpan di makan, “Kalau begitu hati-hati di jalan, Samatoki.”
Kepala Samatoki tiba-tiba menoleh. Terlihat kilatan merah dari matanya. Dan itu bukan pertanda baik.
“Apa katamu?”
Umpan pun termakan.
Empat puluh lima menit Samatoki dan Dice duduk di kayu panjang depan api unggun. Mangkok beserta sendok besi menumpuk di sisi kiri mereka. Lidah api berayun-ayun mengikuti angin malam yang semakin dingin. Terdengar dari jauh, Riou sedang bersenandung sambil memeriksa persediaan garam untuk mengawetkan daging.
“ASTAGA KENAPA SUSAH SEKALI!” teriakan Dice bergema untuk kesekian kalinya. Ia berguling menuju tenda dan meringkuk dalam.
“BERISIK! BERHENTILAH MENGELUH!” balas Samatoki tak kalah jengkel.
Posisi Dice dari meringkuk berubah telentang seperti bintang laut. Sembari menatap langit-langit tenda ia merapal, “Aku harus menang…aku harus menang…aku harus menang…harus menang…harus…”
Samatoki mulai terusik, ia melirik tumpukan kertas di kayu lain. Sempat mengira sebagai kupon, ia sadar jika kertas itu ternyata lotre.
Pria itu mengambil satu lembar, “Kau membeli semua lotre ini?”
Dice mengangguk, “Satu lembar harganya 600 yen.”
“Heh~ punya nyali juga. Aku tidak menyangka Ramuda memberimu banyak pinjaman,” komentar Samatoki membolak-balikkan lotre.
Dice berangsur duduk, melepas mantel hijaunya santai, “Aku tidak pinjam uang ke Ramuda.”
“Ha?”
“Eh?”
Mereka saling pandang beberapa saat.
“Kalian mau kopi?” suara Riou membuat dua orang itu tersadar.
Detik selanjutnya Samatoki menangkap keganjilan pada sikap Dice. Satu bulir keringat mengalir dari pelipis Dice di tengah dingin malam. Ia gugup. Berangkat dari kecemasan yang tercetak di wajahnya tatkala melihat Riou, Samatoki dengan cepat menyimpulkan. Dan dia tidak mungkin salah.
Gesit, tangan kanan Samatoki menarik kerah jaket militer Riou hingga jarak mata mereka tersisa beberapa senti. Sangat dekat hingga Riou bisa merasakan ancaman di sana.
“Berapa?” pertanyaan Samatoki terdengar tajam.
“Tiga. Untukku, untukmu—”
“Uangnya,” desisnya. Riou bisa melihat rahang Samatoki mengencang. Ia dalam masalah besar.
“Seratus dua puluh ribu,” jawabnya pasrah.
“Cuma buat LOTRE?!” tuntut Samatoki. Emosinya tidak bisa ditahan. Kesabarannya menguap dalam satu malam.
Tangannya naik ke pipi Riou, menariknya keras seakan wajah tegas itu menyimpan jaringan kolagen tersembunyi. Dice sudah duduk bersimpuh, tangannya mengatup; gestur meminta maaf.
Riou—dengan satu mata menyipit kesakitan, “Tidak apa-apa, Samatoki. Aku yakin Arisugawa bisa menang,” tangan Riou menahan tubuh Samatoki yang sudah dalam posisi siap menghajar.
“Aku tidak peduli, berengsek! Akan kuhabisi kalian berdua sekaligus. Ya, pertama adalah kau, Riou!”
Bola mata ungu itu bergerak gelisah ke kanan-kiri. Dia harus segera bertindak sebelum adegan kekerasan terjadi.
“Sepuluh persen!” sergah Dice berhasil meraih bahu Samatoki dengan jemari yang bergetar.
Samatoki menurunkan tinjunya, Riou melonggarkan pegangannya. Setelah menelan ludah, Dice mengulangi perkataannya, “Jika menang, aku akan memberimu 10%.”
“Lepaskan tanganmu atau aku akan membunuhmu,” Dice buru-buru menarik tangannya lagi.
Keheningan sempat tercipta usai tuntutan penjelasan Samatoki. Suasana tegang masih terasa saat Samatoki duduk di bibir tenda, tidak lupa menyulut satu batang rokok. Riou dan Dice diam, mereka tahu Samatoki sedang berpikir.
“Berapa besar hadiahnya?” tanya Samatoki kemudian.
Dice menjawab, “Satu koma dua milyar,” mendengar itu rokok Samatoki hampir melesak ke tenggorokannya. Ia terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian kembali tenang.
“Kalau begitu 80%,” kata Samatoki tanpa ragu.
“Hey, itu pemerasan!”
“Kau beli semua lotre itu bukan dengan uangmu,” ucap Samatoki menautkan alis.
“Bukan dengan uangmu juga,” balasan Dice membuat Samatoki mematung, “Ukh—tetap saja itu adil!” tandasnya membuang muka, sedikit maksa.
“Bagaimana menurutmu Riou-san?” sontak kedua pasang mata mereka tertuju pada Riou.
Mantan tentara itu menaruh punggung tangan di dagu. Ia berpikir sambil menutup mata. Selain lebih fokus, Riou ingin menghindari tatapan penuh harap Dice dan tatapan membunuh Samatoki.
“Menurutku 50-50,” jawabnya singkat.
Sudah bisa ditebak, dua pria di hadapannya tengah bersiap menyanggah. Jadi sebelum itu terjadi, Riou segera pergi ke tenda penyimpanan barang.
“Empat puluh lima, Samatoki. Aku berusaha jadi orang yang baik,” Dice melipat kedua tangannya di dada. Berkata senatural mungkin, menyembunyikan setitik ketakutannya.
“Tidak, 70-30 aku baru setuju.”
“Tidak-tidak, 40-60! Penawaran terakhir!”
“Tch! Memangnya kalau menang uangnya buat apa, sih? Ngotot banget!”
“Ya... buat… cari peruntungan lain,” jawab Dice sempat memberi jeda. Ia berusaha memperhalus kata-kata ‘ya, buat judi lagi’. Samatoki tidak menyahut, hanya memandangi Dice dengan sangsi.
Dice nyengir miris. Sialan, Dice tahu jawabannya kurang kuat. Kalau sudah terpojokkan begini, tak ada pilihan lain. Ia akan bertaruh, meski dalam kehidupan nyata.
“Aku punya jalan tengah,” Dice buka suara, lututnya merangkak menuju Samatoki.
“Kita taruhan. Orang yang pertama kali menemukan nomor hadiah utama adalah pemenangnya. Dengan catatan, nomor grup dan enam nomor undian harus sama persis. Kita abaikan saja hadiah nominal kecilnya. Dengan begitu pemenang berhak untuk menentukan rasio pembagian uang. Bagaimana?”
Perlahan seringai tipis muncul di wajah Samatoki. Ia menjentikkan abu rokok ke tanah sebelum mengembalikannya ke bibir, “Kau terlihat sangat percaya diri.”
Dice memegang lutut kanan Samatoki, wajahnya mendekat, “Tentu saja. Jumlah lotrenya terbatas. Hanya ada 250 dan aku beli lebih dari setengahnya. Kemungkinan kalah sangatlah kecil.”
Nada provokatif pria ini berhasil mendorong Yakuza untuk setuju.
Samatoki mengembuskan asap dari mulutnya, “Baiklah.”
Dice kembali bersemangat, “Aku sudah menggunakan 12 dari 200 lembar lotre. Jadi sisanya kita bagi dua,” katanya mengambil dua tumpuk kertas.
Samatoki berpindah menuju tenda dan mulai bersila,
“Kau harus membuka website-nya dulu.”
“Aku tahu! Mana alamatnya?!”
“Pemenangnya berhak untuk—”
“Cerewet, cepatlah!”
“Iya, iya.”
Hal kedua yang Riou lakukan setelah mempelajari sistem keamanan Chuohku melalui deretan monitor adalah mendatangi Samatoki dan Dice. Malam begitu sunyi, Riou bisa mendengar derap kakinya ketika menginjak rumput. Bara api unggun menghitam, titik-titik merah arang menyebar seperti kunang-kunang. Hati-hati Riou menyibak tenda. Ia menemukan Dice terlelap dalam posisi menyamping, tangan kanannya sebagai bantal. Samatoki tidak ada.
Selang dua detik Riou masuk, mengendap tanpa melepas boots hitam. Ia tersenyum sekilas ketika menyelimuti Dice dengan mantel hijaunya. Astaga, dia seperti seekor kucing yang mencari kehangatan, manis sekali. Riou kemudian merapatkan tenda –supaya ia tak kedinginan sebelum pergi.
Samar-samar telinga Riou menangkap suara dari tenda kedua. Bibir tenda terbuka, sedikit demi sedikit muncullah secercah cahaya lampu. Saat itu juga ia tahu keberadaan Samatoki.
Kakinya terhenti tepat di pintu masuk tenda. Di hadapannya, Samatoki duduk dengan kaki terbuka: tempurung lutut menopang dagu, kaki kirinya selonjor melebar. Ia berhasil mengingatkan Mason jika masih punya cadangan matras cukup besar.
Kedua tangan Samatoki sibuk dengan tugas masing-masing. Tangan kanan menyeleksi lotre, yang kiri memegang ponsel pintar. Pria berambut orange-kecoklatan itu termangu. Dalam kepalanya mempertanyakan alasan Samatoki yang masih bisa bergerak leluasa dengan jeans ketat di badan. Lekukan dari panggul ke bawah terlihat menyatu dengan bahan. Celana itu kerap dipakai saat Samatoki bekerja, bertarung rap hingga sekadar duduk di perut Riou sambil melepas kemeja.
Riou mengangkat kedua alis menyadari Samatoki sudah melepas ikat pinggangnya. Mungkin ia mulai tak nyaman, simpul Riou asal. Berangsur melengak, kini perhatian Riou tertuju pada pinggang ramping pria itu. Sedikit informasi, ia tak pernah lupa dengan betapa lembutnya permukaan kulit Samatoki. Mereka tertutup kemeja putih dan Samatoki selalu membiarkan dua kancing atasnya terbuka. Kadang ia ingin menyalahkan angin karena seenaknya meniup kemeja Samatoki. Hujan tak luput dari tuduhan karena selalu membuat kemeja tiba-tiba menyusut dan memperlihatkan kulit pucat dengan proporsi tubuh ideal.
Ia heran mengapa seseorang menjadi amat menarik dari cara mereka berpakaian.
Riou jadi ingin memeluknya. Saat ini juga. Tanpa aba-aba.
“Kau mau terus berdiri seperti orang tolol atau masuk?” sindir Samatoki tidak melirik Riou.
Samatoki mulai mengikat rambutnya rendah bersamaan dengan langkah Riou. Gesekan fabrik Riou menjadi latar belakang suara dalam tenda, ia sedang mengganti maroon menjadi hitam. Pria itu kemudian membersihkan kaki dari boots yang lembab.
“Belum selesai?” tanya Riou duduk di samping Samatoki.
“Diamlah, aku berusaha mengembalikan harga dirimu,” jawabnya ketus.
Riou tersenyum mendengarnya, “Terima kasih, aku rasa.”
Tangan telanjang Riou ingin mengelus rambut perak itu, tetapi pemiliknya memilih untuk berpaling menjauh. Samatoki menggeser tubuhnya, lutut mereka kini memiliki celah.
“Tanpa kau sadari keramahan itulah yang membuatmu mudah diinjak-injak. Mereka akan membunuhmu perlahan,” ucap Samatoki dengan nada rendah.
“Kau benar, dan mungkin aku akan mati dengan tenang.”
“Ya, tentu saja.”
“Tapi setidaknya keramahan membuat seseorang peduli padaku,” kata Riou mengedikkan bahu.
“Kita putus saja, lalu aku tidak akan memperdulikanmu selamanya.”
“Aku tak pernah menganggap itu lucu.”
“Itu bukan lelucon.”
Mantan tentara itu kembali mendekat tanpa punya rasa takut, “Samatoki, apakah tujuanmu memenangkan lotre ini hanya untuk mengganti uangku?” tanya Riou enggan membahas lebih jauh.
Di luar dugaan, Samatoki malah tertawa meremehkan, “Jangan bercanda, Sersan. Uang sebanyak itu akan aku pakai untuk hal yang lebih menguntungkan seperti membeli persediaan tembakau seumur hidup.”
“Semuanya?”
Samatoki mengangguk mantap, “Iya, kenapa? Waktumu ‘kan terlalu berharga untuk disia-siakan… apalagi hanya untuk bertemu denganku,” jawabnya satir sambil beralih pada layar ponsel lagi, tidak sadar meremas kertas lotre.
Perkataan Samatoki membuat Riou tak langsung bereaksi. Kata-kata itu meresap dalam otaknya begitu cepat. Riou menutup mulutnya, masih menyimak.
“Setidaknya beri tahu aku kalau kau sibuk, dengan begitu aku tidak akan mengganggu,” sambung Samatoki masih mencari nomor, pada kenyataannya matanya sudah mulai mengantuk dan fokusnya mulai tergantikan.
Samatoki pun menutup kedua mata, mengambil satu napas dalam. Lalu pria ini memutar duduknya, bersila di hadapan Riou.
“Dengar, aku tidak punya hak untuk melarangmu bersenang-senang. Persetan dengan lotre ini, aku tidak peduli tapi…,”
Samatoki mendecakkan lidah, “entah kenapa ketika kau mengabaikanku, rasanya sungguh menjengkelkan. Kau membuatku terlihat seperti idiot yang menunggu balasan pesan tidak jelas,”
Perkataan Samatoki berangsur menyusut. Kata-kata penting tersaring indra pendengaran Mason. Gabungan kata kunci itu menghasilkan satu konklusi. Kedua matanya membulat, menatap lurus Samatoki beberapa detik.
“Hentikan itu. Bola matamu bisa copot,” ucap Samatoki mengantisipasi.
“Kalau dilihat dari reaksi dan parameter kemarahanmu…,” gumam Riou berpikir keras, “Ah!” tiba-tiba ia menjentikkan jari, menimbulkan suara cukup keras hingga Samatoki tertegun.
“Kau cemburu pada Arisugawa,” katanya bersungguh-sungguh. Bahu Samatoki menegang seketika.
Samatoki lalu membuang muka, tangannya mengobrak-abrik kertas serampangan, “HA? APA KATAMU?! Nggak ngerti! Kalau ngomong pakai bahasa manusia!”
“Tapi tunggu, kau cemburu karena Arisugawa di sini atau karena aku meminjamkan uang padanya?” tanya Riou tak menghiraukan respons Samatoki. Pernyataan sialan itu melesat kuat bak peluru misil yang mendarat di dada. Membuatnya terpental jauh lalu mati sebagai pecundang besar.
Tepat sasaran. Menohok dalam. Dan Samatoki tak bisa mengelak.
“Khh… sudah aku bilang aku kesal karena kau mengabaikanku, dasar tidak peka!”
“Ah, begitu,” Riou menutup mulutnya dan berpaling, “Pfft—” Apakah Samatoki tidak salah dengar? Mason baru saja tertawa?
Dengan wajah kemerahan Samatoki memberanikan diri menoleh. Benar saja, punggung Riou bergetar menahan suara agar tak keluar.
Samatoki menendang punggung Riou sebagai bentuk kekesalan, “Kau pikir itu lucu?! Kau pikir aku bajingan yang tidak punya perasaan? Ha?!” cercanya.
“Aku tidak menyangka kau punya sisi seperti itu,” komentarnya meredam tawa.
Tangan Riou mengayun menangkap kaki kanan Samatoki, menahan tendangannya. Riou menarik pergelangan kaki itu hingga pemiliknya terjengkang, punggung Samatoki menimpa tumpukan lotre; susunan kertas menjadi berantakan.
“Hey! Lihat apa yang kau lakukan!” protes Samatoki sembari membebaskan diri.
Genggaman itu pun terlepas, Samatoki bisa menarik kakinya kembali. Bergantian, kini Riou mulai merangkak maju hingga berhadapan dengan Samatoki. Tangan kekarnya menyangga beban tubuh, Riou berada di atas Samatoki tetapi tidak sampai menindihnya. Kalung militer yang dingin itu mendarat di cekungan ujung tulang dadanya.
“Apa pun namanya, yang pasti aku senang,” nada Riou melembut, “karena pada akhirnya kau selalu datang, Samatoki,” ucapnya menatap Samatoki lekat-lekat.
“Itu karena kau selalu melakukan hal bodoh,” timpal Samatoki perlahan mendorong bahu Riou, ia ingin bangun.
“Hal bodoh? Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Bagaimana tidak? Maksudku—aku bahkan tidak tahu kegiatanmu setiap hari..,” Samatoki menggantung kalimatnya, “…bukan berarti aku juga harus tahu,” sambungnya mengusap leher dengan kikuk.
Mata sejernih lautan itu berbinar, senyumnya perlahan mengembang.
“Aku mengerti, Samatoki,” Riou mengambil napas, “Jadi, aku bangun pukul 04.00 pagi. Sebelum beraktivitas aku selalu melakukan olahraga ringan, setelah itu menyiapkan sarapan. Biasanya aku hanya menyantap makanan berkalori rendah, sembari sarapan aku akan merakit perangkap ikan. Arus sungai sedang deras, aku yakin besok akan banyak ikan yang tertangkap. Lalu di siang hari—umph—mph,” Samatoki membungkam mulut pacarnya dengan telapak tangan. Dahinya berkerut mendengar betapa antusiasnya penjelasan Riou. Pria bernama panggung Crazy M itu mendadak jadi cerewet.
“Iya! Aku paham! Sudah cukup! Aku tidak mau—tidak perlu tahu semuanya! Aku bukan seorang penguntit!” kata Samatoki sedikit mengeluh.
Tidak bisa, percuma, Samatoki menyerah untuk memaparkan maksud sebenarnya. Dia terlalu bodoh untuk mengerti, pikir Samatoki hilang asa.
Riou membawa telapak tangan Samatoki ke pipinya, “Tenang saja, Samatoki. Aku tidak akan mengabaikan pesanmu lagi,” katanya tersenyum dengan melengkungkan mata.
Samatoki merasakan panas mengalir dari telapak tangan menuju wajahnya. Ia cepat-cepat melepas genggaman Riou, “Menyingkirlah!”
Yakuza itu beranjak dari matras, kemudian meraih jaket militer Riou yang tergantung, “Tidak perlu berjanji, buktikan saja,” katanya mendekap jaket.
“Baiklah,” balas Riou mengangguk, setelah ini ia akan menambahkan beberapa pengingat di ponselnya.
Samatoki membuka tenda, “Soal lotre yang berantakan… pokoknya itu salahmu!” katanya.
“Iya, kubereskan sekarang juga. Kau mau ke mana?”
“Cari tempat buat tidur!” sahutnya ketus. Samatoki keluar dari tenda dengan langkah lebar.
Cemburu, omong kosong macam apa itu, dasar otak udang, gerutu Samatoki dalam hati. Ingin sekali rasanya sekali-kali Samatoki melepas Riou begitu saja. Dan ketika Samatoki tidak menghiraukannya dalam waktu lama, kira-kira ekspresi macam apa yang akan Riou berikan? Apakah dia menyesal atau… kemungkinan paling buruk dia tidak menyadari kalau Samatoki sedang mengacuhkannya?
“Ah, sialan. Aku ingin memukul wajahnya,” lirih Samatoki berjalan mendekati tenda yang sebelumnya menjadi tempat menyeleksi lotre.
Kedua bahu Samatoki melonggar saat melihat Dice yang damai di alam mimpi. Tumpukan lotre tersusun rapi di sisi atas kepalanya.
Setelah melepas sepatu, Samatoki berangsur merebahkan diri di samping Dice.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, Samatoki menarik semua perkataanya di awal.
Dia sadar. Dia tidak bisa mengatur siapa saja yang bisa memasuki hidup Riou. Samatoki pun hanya salah seseorang yang singgah entah sampai kapan. Yang pasti perpisahan tidak akan ada di benaknya, dia tidak mau.
Biarlah pria itu berteman dengan siapa pun, melakukan apa pun, semuanya.
Akan lebih baik jika tidak mengikatnya terlalu erat.
Selama Riou masih menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan –yang jelas tampak sangat berbeda ketika ia menatap orang lain, mendengar ketika ia berbicara, membuatnya senantiasa tidak merasa sendiri, dan… mengisi satu sisi hatinya, Samatoki sudah bahagia.
Namun, ketika Riou berada di tepi jurang yang curam, Samatoki akan menyelamatkannya. Bagaimana pun, seperti kata Riou, dia akan selalu datang. Begitu pula sebaliknya.
Semoga Dice yang menang, begitulah ucapan terakhir Samatoki sebelum langit-langit tenda mulai mengabur…
Lalu menghitam.
Walaupun Samatoki meninggalkannya sendirian di tenda, Riou tetap mempersilakan. Jaket yang dibawa Samatoki cukup membuatnya yakin jika ia akan berpindah ke tempat yang dekat. Dari celah bibir tenda Riou mengamati Samatoki yang perlahan masuk ke tenda sebelumnya. Ia menemani Dice yang sudah lebih dulu tidur.
Wajar saja. Sejak awal Samatoki tidak membenci Dice, tidak membenci siapa pun tanpa alasan. Itu adalah salah satu hal yang Riou sukai dari Samatoki.
Terlebih, reaksi Samatoki ketika mengelak sangat… menakjubkan. Sungguh manis sekaligus menggelikan. Tak bisa dipungkiri kalau Riou ingin sekali mencium Samatoki saat itu juga.
Riou menggelengkan kepala.
Sudahlah, lebih baik ia segera membereskan kekacauan dan tidur.
Riou kemudian merapikan lembaran-lembaran lotre menjadi satu tumpukan.
Di tengah kegiatan, ia menemukan ponsel Samatoki yang tergeletak di matras. Layar ponsel itu menyala, memperlihatkan situs halaman nomor undian.
Jemari Riou tergelitik. Dengan iseng ia meraih satu lembar lotre secara acak, kemudian mengambil ponsel Samatoki.
Di bawah pencahayaan yang tak terlalu terang, Riou mulai mencocokannya satu per satu.
“Tiga… lima….,”
Dia tiba-tiba berhenti. Kelopak mata Riou melebar, badannya sampai menegak saking terkejut.
“Hmm?”
Dewa mana yang sedang memberkatinya malam ini?
“Aku… menang.”
-The End-
