Work Text:
perubahan dalam hidup mark adalah hal biasa yang ia rasakan sejak dirinya kecil. semua dimulai ketika ayahnya pindah dinas ke suatu kota lebih kecil dari kota kelahirannya, ketika dirinya sudah mulai mempunyai sahabat akrab di kelasnya, ketika dirinya sudah dibolehkan menggunakan pensil mekanik di kelasnya.
pindah ke sekolah baru membuat mark kembali menjadi anak yang pendiam. ternyata, pindah sekolah saat bukan waktu kenaikan kelas lebih buruk dari yang ia pikirkan. namun, yang membuatnya lebih susah beradaptasi adalah ketika sekolah barunya bukanlah sekolah swasta internasional melainkan sekolah negeri.
pindah ke kota kecil membuat fasilitas yang biasa ia dapatkan di ibu kota dengan mudah tidak semena-mena tersedia disini. bahkan, sekolah negeri yang kata mami-nya merupakan sekolah dasar terbaik di kota ini masih tidak sebanding dengan sekolahnya dulu.
makanya, ketika ia pertama kali masuk ke kelas 2A dirinya sedikit tercengang.
semuanya dari kayu.
pintu, jendela, meja, kursi, papan tulis bahkan rak bukunya. semuanya coklat. terlalu gelap untuk mata mark yang terbiasa dengan warna terang di kelasnya dulu.
mark mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, menatap wajah-wajah teman barunya yang juga memandangnya dengan pandangan takjub—mark menganggapnya tatapan merendahkan, karena dirinya menyadari bahwa ia cukup berbeda.
“ayo, mark. kenalin diri dulu yaa..,” suruh wali kelasnya, bu ira, tersenyum ramah ke arahnya, membuat mark menjadi sedikit lebih tenang.
“umm,” suara mark pecah, dirinya kembali tegang ketika melihat ada satu orang tertawa, “hi guys.. nama saya mark. saya pindahan dari jakarta.”
tawa itu kembali bergema di telinga mark ketika dirinya selesai memperkenalkan diri.
“mwork! kamu bule ya?” pertanyaan yang entah tujuannya mengejek atau benar-benar karena adanya rasa penasaran dari anak itu malah memancing tawa seluruh kelas. mark mengencangkan pegangannya pada tali tasnya.
“hush! ecan tidak baik menggoda temannya seperti itu!” tegur bu ira yang dibalas iya maaf ibuuu! dari mulut ecan.
mark memandang laki-laki yang kini menatapnya dengan senyuman lebarnya. rambutnya keriting, hampir memenuhi kepalanya yang kecil. tapi mark yakin, anak laki-laki itu pasti yang paling nakal di kelas ini. makanya, mark berjanji akan menghindari laki-laki tersebut. daripada dirinya nanti di-bully oleh ecan.
“ya sudah, anak-anak, ibu minta kalian berkenalan dengan mark ya nanti. diajak belajar dan bermain bersama yaa. setuju?” permintaan bu ira disambut sorakan setuju buuuu! dari satu kelas yang membuat senyum mark kembali muncul.
semoga aku bisa punya teman dekat, pikir mark kembali mengedarkan pandangannya ke wajah teman-teman barunya.
“mark, kalau begitu kamu duduk di samping ecan ya..,”
seketika rasa berani yang sedari tadi mark jaga agar tidak hilang, tiba-tiba runtuh. matanya memanas, dirinya tidak berani berkedip karena tau air matanya akan jatuh.
dorongan pelan dari bu ira membuatnya melangkah ragu ke arah ecan yang kini sibuk merapikan buku-bukunya. semakin dekat dirinya ke meja ecan—meja mereka berdua, semakin tidak kuat mark menahan air matanya.
mark sudah membayangkan kehidupan sekolah dasarnya yang penuh dengan ejekan. ia rindu teman-temannya di jakarta.
“mwork!” panggil ecan, laki-laki itu menepuk kursi kayu di sampingnya. mark masih berdiri, belum berani untuk duduk di samping ecan yang kelewat ceria setelah membuat seisi kelas menertawainya.
“mwooork! ayo duduk! ecan mau kasih mwork sesuatu!”
mark akhirnya menghela nafas panjang sebelum akhirnya menduduki kursi kayu yang akan ia tempati selama kelas 2 ini. ia melepas tasnya dan mengeluarkan buku tulis serta tempat pensilnya. mark dapat merasakan tatapan ecan yang setia menunggunya untuk berbalik badan menghadap ke arahnya.
tapi mark masih enggan. mark malas berhubungan dengan anak nakal.
“mwork sudah selesai mengeluarkan bukunya?” tanya ecan pada akhirnya, yang membuat mark mau tidak mau menatap ecan yang masih menatapnya dengan senyuman lebarnya.
“sudah.”
“oke! sebentar ecan kasih sesuatu!”
ecan mengobrak-abrik tempat pensilnya yang cukup besar itu. semua peralatan tulisnya ia keluarkan sampai akhirnya anak laki-laki itu menemukan benda yang ia cari untuk mark.
“karena mwork jadi teman baru ecan, ecan mau kasih sesuatu!” ecan menarik tangan kanan mark dan menekan sesuatu pada punggung tangannya, yang membuat mark mengaduh kesakitan karena ecan menekan tangannya cukup kuat.
“awww! it hurts!” tanpa sadar mark mengaduh menggunakan bahasa inggris, tangan kirinya hendak mengusap punggung tangan kanannya sebelum ecan menahannya.
“eh! jangan dipegang dulu mwork! belum kering!”
mark mengernyit heran, buru-buru ia liat tangannya yang ditekan oleh ecan tadi. kedua matanya membulat melihat kini ada gambar merah yang melekat pada kulitnya. mark mendekatkan tangannya ke matanya, baru menyadari bahwa sesuatu di tangannya ini adalah sebuah tinta dengan gambar beruang bertuliskan ‘punya haechan’.
“ini apa?” tanya mark, menyodorkan tangannya ke wajah ecan. haechan. mark bahkan tidak tau nama teman sebangkunya ini siapa.
“se-tem-pel!” ecan mengucap stempel dengan cukup jelas hingga lidah laki-laki itu menjulur keluar. mark menatap kesal ecan.
“kata mama, kalau ecan punya sesuatu yang baru, harus dicap sama ini biar tidak hilang!”
“tapi aku bukan punya kamu,”
“mwork kan temen ecan sekarang! jadi ecan kasih cap biar tidak hilang!”
mark ingin membalas dengan kalimat tapi aku tidak mau berteman dengan anak nakal sebelum ia ingat pesan maminya untuk tidak menjadi anak jahat. mark sudah besar, sudah mengerti mana kalimat jahat dan kalimat baik.
makanya mark hanya bisa mendengus panjang. menatap haechan yang masih menatapnya sambil tersenyum.
“mark.” ujarnya tiba-tiba.
“hmm?” ecan memiringkan kepalanya, menatap mark bingung.
“namaku mark. bukan mwork.” “iya ecan tau. tadi ecan dengerin mwork ngenalin diri di depan!”
“mark! bukan mwork!”
“euuum.. mwo..rk?”
“maaa—rk!”
“maaalke?”
”marrrrrk!”
“aduh maaf maaake! ecan susah nyebutnya.. nanti ecan latian dulu sama mama ya!”
“ya sudah terserah kamu saja ecan,” ujar mark pada akhirnya. menyerah karena ecan tidak bisa dengan benar menyebut namanya. mark memakluminya. namanya juga anak kecil.
“eh tapi mwork.. sebenernya nama ecan bukan ecan loh!”
“haechan kan?”
haechan terkesiap kaget, kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga—seolah-olah apa yang diucapkan mark adalah sebuah rahasia besar.
“mwork tau dari mana? jangan-jangan mwork yang minta bu ira biar duduk sampingan ecan ya?”
mark hanya menggeleng pelan sambil menunjukkan tangannya yang ada cap bertuliskan ‘punya haechan’ ke arah laki-laki itu. menyadari maksud mark, haechan tersipu malu.
“hihi, mwork sudah punya buku paket belum? kalau belum ini bagi dua sama ecan saja!” ujarnya sambil menarik buku tebal itu ke tengah meja mereka. mark memandang wajah haechan yang selalu sama sejak pertama kali dirinya mengenalkan diri di depan kelas.
haechan yang ceria dan penuh tawa.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
ternyata asumsi mark mengenai haechan salah besar. haechan bukanlah anak nakal seperti yang ia pikirkan. malah, haechan salah satu temannya di kelas yang diperhatikan oleh guru-gurunya selain wali kelas mereka. teman-teman sekelas pun selalu mengerubungi meja haechan. entah itu bertanya mengenai pekerjaan rumah—ternyata haechan ranking 1 saat kelas 1, berbagi bekal saat jam istirahat atau sekedar tukar-tukaran stiker lucu dan kertas binder harvest yang mahal.
menjadi teman sebangku haechan dari kelas dua bahkan hingga kini kelas enam, membuat mark mendapatkan hak istimewa yang tidak didapatkan teman-temannya yang lain. mark tidak perlu mengantri untuk bergantian bertanya mengenai pelajaran matematika pada haechan, mark juga tidak perlu menawarkan haechan stiker lucu agar dirinya bisa tukaran stiker dengan laki-laki itu.
karena haechan yang akan selalu memandang dirinya dengan senyumnya yang tidak berubah dari kelas dua sambil bertanya mark ajarin aku bahasa inggris dong! nanti gantian aku bantu mengerjakan pr matematika!
mark lupa tepatnya kapan haechan sudah bisa memanggil namanya dengan benar—mark, bukan mwork ataupun malke, tapi mark akan selalu ingat ketika kenaikan kelas tiga haechan meraih tangannya dan berbisik pelan,
“mark, kelas tiga nanti kita duduk sampingan lagi yaa? tapi jangan bilang siapa-siapa dulu karena sudah banyak yang mengajak ecan untuk duduk sampingan.”
mark tersenyum lebar ketika mendengarkan permintaan haechan. perasaan takutnya selama beberapa minggu ini langsung hilang. ternyata haechan suka duduk dengannya. karena mark juga suka duduk dengan haechan.
kedekatan haechan dan mark tidak luput atas hubungan kedua ibu mereka. tante hina, mama-nya haechan, dan mami-nya juga dekat. mereka berdua teman arisan kelas. mark dan haechan sering diajak ikut arisan bersama beberapa teman lainnya yang ibu mereka juga tergabung dalam arisan kelas tersebut.
mark sih senang-senang aja diajak. selama ada haechan tentunya.
“mwark,” haechan memanggil namanya dengan mulutnya yang penuh dengan bakso, “aku ceritain sesuatu deh!”
“kunyah dulu ah can,”
haechan mengangguk tapi tetap saja melanjutkan ceritanya. lelaki itu mendekatkan badannya ke mark, tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh yang lainnya.
“mark, masa tadi mamanya yuda bilang gini ke aku ‘haechan nanti pas udah besar sama anak tante ya!’ gitu.. terus mama ketawa. itu maksudnya gimana sih mark?”
mark menatap pipi haechan yang membulat karena kebiasaan laki-laki itu menyimpan makanannya di pipinya sebelum ditelan. mark tau maksud dari perkataan mama-nya yuda tapi malas menjelaskannya kepada haechan karena takut haechan malah naksir balik sama yuda.
iya. yuda, teman sekelas mark dan haechan, yang sudah naksir sama haechan semenjak kelas lima.
bagaimana mark tau? karena yuda selalu mengusili haechan. bukannya itu tanda orang naksir ya?
“mungkin mama yuda mau kalian satu smp bareng kali,” jelas mark bohong. haechan ber-ooooh ria, “kalo gitu kamu juga sama aku ya mark pas gede nanti! kita smp sampe kuliah barengan!”
“iya, nanti aku bilang mami aku biar kita bisa satu sekolah terus. kamu juga ya can bilang mama kamu kalo kita harus bareng-bareng terus.”
“aku udah bilang kok! makanya mama masukin aku ke les bareng kamu kan mark..,”
mark tersenyum. gantian dirinya yang perlu bilang ke maminya agar dirinya bisa satu sekolah lagi dengan haechan.
dan juga memastikan ke maminya untuk bilang ke mama haechan bahwa haechan akan bersama dirinya kalau sudah besar nanti. bukan dengan yuda. ataupun dengan temannya yang lain.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗*
seperti janji kedua anak laki-laki itu, mark dan haechan berhasil masuk ke smp yang sama—meskipun mereka tidak satu kelas. mark di kelas 7A dan haechan 7E. hingga kini mereka kelas 9A dan 9E.
kelas yang berbeda tidak membuat mark dan haechan semakin jauh, malah mereka berdua seperti perangko—menempel, lengket, selalu berdua. bahkan di satu saat, ada teman sekelas haechan yang bertanya pada mark “kalian pacaran?” yang hanya dibalas senyuman oleh mark karena dirinya tau orang itu naksir haechan.
popularitas haechan di smp tidak jauh berbeda saat dirinya di sd. jika haechan kecil terkenal karena kelucuannya dan sifatnya yang supel, saat di smp haechan yang sudah puber menjadi semakin disukai banyak orang.
mark kerap kali melihat teman perempuan haechan sengaja menunggu di kantin tiap jam kosong karena itu kebiasaan haechan—yang akan nongkrong di kantin sambil sibuk mengirim pesan ke mark karena dirinya bosan.
ecieee
aku dikasih bakwan gratis masa sama karina
mark
hah
karina???
ecieee
iyaa
aku lagi makan soto
terus karina ngasih aku bakwan
kata dia
masa makan soto gak pake bakwan sih can
mark
bener tuh karina
masa kamu makan soto ga pake bakwan
ecieee
duit jajan aku udah abis :(
mark
bocil pertumbuhan makannya banyak sih
makanya duitnya cepet abis
ecieee
engga ya!!!
tapi mark
kata renjun karina naksir aku
ya kali
mark
kenapa renjun mikir gitu
ecieee
gatauu
katanya karena aku dibeliin bakwan hehe
mark
hmmm
berarti kalo aku beliin kamu susu
renjun mikir aku naksir kamu gitu?
ecieee
emang kamu mau beliin aku susu?
mark
ntar pulang sekolah mau ke kedai milkymom ga?
ecieee
mauuuuuu!!!!!!
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
kedai milkymom, sebuah cafe dengan menu spesialisasi berbagai rasa susu, merupakan salah satu tempat nongkrong favorit mark dan haechan tiap mereka pulang sekolah sambil menunggu waktu jam les di jam tiga sore.
keduanya kini sedang menunggu pesanan mereka sambil bercerita tentang ulangan harian dadakan biologi hari ini—yang kebetulan kelas mark dan haechan memiliki jadwal biologi di hari yang sama dengan guru yang sama pula.
“yaudah can, nanti minta bahas di les aja,” ujar mark menenangkan haechan yang curhat dirinya sama sekali tidak bisa mengerjakan soal ulangan tadi.
“oh iya mark, aku mau curhat lagi,”
“ya udah curhat mumpung gratis,” jawab mark iseng yang langsung dapat cubitan kecil di lengannya.
“kata kamu karina naksir sama aku ga mark?”
“lah kok malah nanya aku?”
“maaaark, aku serius nih!” haechan merengek sebal ketika mark malah balik bertanya.
“yaa, aku ga tau can. aku ga pernah merhatiin karina. jadi ga tau dia naksir kamu apa engga,”
“ihhh, terus yang kamu perhatiin siapa marrkkkkk?”
“kamu,” jawaban mark membuat laki-laki itu digaplok sama haechan.
“mark serius ih!”
“lah, aku serius! aku aja gak sekelas sama karina. kelas karina juga jauh sama kelasku jadi aku ga merhatiin dia. harusnya kamu lah yang ngerti dia naksir kamu apa engga,” ucap mark bertepatan dengan pesanan mereka yang datang.
mark menukar posisi gelas mereka yang tertukar penempatannya sambil membukakan kertas sedotan haechan.
“karina beberapa kali nonton aku futsal pas class meeting sih mark, tapi kan yang lain juga!” kata haechan yang diikuti anggukan mark.
“aku juga nonton kamu can.”
“tuh kan! kamu juga beliin aku susu. bukan berarti kamu naksir aku kan?”
mark tidak menjawab. mengabaikan pertanyaan haechan dan lebih memilih memakan roti bakar yang ia pesan untuk bagi dua dengan haechan.
entah sejak kapan dirinya menyadari bahwa perasaannya pada haechan bukan lagi hanya sekadar rasa sayang kepada teman. mungkin sejak kelas 8 mark mulai menerima bahwa dirinya ingin berpacaran dengan haechan.
“mark!”
“apaaa?”
mark kini menatap wajah haechan yang telah menatapnya dengan mulut manyun. mark tidak kuat untuk tidak mencubit pipi temannya itu.
“aduuuh! kok kamu masih hobi nyubitin pipiku sih mark?!” omel haechan yang hanya disambut kekehan dari mark.
“kamu tadi mau ngomong apa can?”
“ga tau! udah lupa!”
“jangan ngambek dong caaaan!” mark lagi-lagi ingin mencubit pipi haechan namun dirinya langsung sadar dan menarik tangannya yang membuat haechan melotot sebal.
“mark,”
“iya ecan?”
“mark, misal… misal nih.. karina beneran naksir aku, terus aku deketin karina gimana?”
bukan sekali dua kali haechan bercerita tentang temannya yang terlihat naksir sama dirinya. bahkan ketika haechan tidak menyadari bahwa temannya sedang pdkt ke dirinya. namun, baru kali ini haechan melontarkan pertanyaan ini. membuat mark sedikit panik, yang mana membuat mark tidak bisa mem-filter mulutnya dan malah menjawab, “yang penting sih kamu jadi tidak bolos les aja can. kan kita mau ujian nasional.”
haechan menatap wajah mark lama sebelum akhirnya bertanya lirih, “jadi kalo aku deketin orang kamu gapapa? ato kalo aku dideketin orang gapapa?”
mark mengangguk ragu ketika melihat ekspresi haechan yang malah murung. mark sadar jawabannya cukup berpengaruh sama keputusan haechan makanya dirinya lagi-lagi hanya bisa menjawab, “kalau kamu juga suka sama orang itu, go for it.”
“dasar bule!”
mark menghela nafas lega ketika haechan sudah dapat tersenyum lagi. his guts told him that he said something wrong. tapi mark mengabaikannya. toh, selama haechan selalu bersama dirinya, mark tidak perlu takut kehilangan waktu bersama haechan.
karena seperti kata teman-temannya saat pertama kali mereka masuk smp, kalian berdua tuh kayak perangko ya! kalo ada mark pasti ada haechan yang ngintilin. kalo haechan gak ada, mark pasti juga ikutan ilang.
mark tersenyum geli mengingat ucapannya temannya tersebut. tangannya menyodorkan potongan terakhir roti bakar ke mulut haechan, well haechan will always be with him anyway.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
ambisi mereka berdua selama kelas sembilan akhirnya berbuah manis. mengikuti les privat dan bimbingan sejak kelas sembilan, membuat mark dan haechan akhirnya lagi-lagi dapat berada di satu sma. lucunya lagi kini mereka kembali menjadi teman sekelas.
ketika pengumuman pembagian di aula selepas mos hari terakhir selesai, haechan tidak kuasa untuk tidak melonjak senang saat nama mark dipanggil pada list kelasnya. teman-teman baru mark dan haechan sampai menatap kaget mereka berdua yang tidak malu berpelukan erat.
“kalian pacaran ya?”
lagi-lagi, pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh teman baru mereka tiap kali mereka melihat interaksi mark dan haechan.
haechan melepas pelukannya dan merangkul mark. matanya melirik tanda pengenal yang masih menggantung di leher temannya itu, lee jeno.
haechan mengulurkan tangannya, “halo jeno! gue haechan. salam kenal ya!”
jeno memandang haechan dan mark bergantian sebelum akhirnya tersenyum dan membalas jabat tangan haechan, “gue jeno! kalo lo?”
“mark. nice to meet you bro!”
haechan menyikut perut mark yang membuat lelaki itu mengaduh, “dasar bule! lo jangan kaget ya jen kalo mark kadang sering nyeplos ngomong inggris. dia lahir di kanada tau!”
mulut jeno membulat, “wow! sorry bro tapi gue ga jago bahasa inggris,”
haechan terkikik ketika ekspresi mark menahan malu, “eh santai! gue jarang kok ngomong inggris. ecan aja yang lebay.”
“ecan?”
kini gantian haechan yang menahan malu, pasalnya panggilan ecan sekarang hanya digunakan oleh keluarganya dan mark.
“haechan. panggil gue haechan, okay?” jeno menatap bingung haechan sebelum akhirnya dia mengangguk. meskipun pertanyaan awal yang ia lontarkan belum terjawab.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
masa sma mark dan haechan bisa dibilang menyenangkan. jika sebelumnya mark termasuk siswa yang pendiam, kini dirinya mulai menjadi lebih aktif—dengan mengikuti klub debat bahasa inggris. berbeda dengan mark, yang masih berfokus pada kegiatan akademik untuk ekstrakulikulernya, haechan bergabung di tim teater sekolahnya.
seperti layaknya pemeran utama di novel teenlit, nama mark dan haechan dikenal di berbagai angkatan. dari adik kelas, teman seangkatan, kakak kelas bahkan tukang kebun dan satpam sekolah. mark yang mulai dilirik karena kharismanya yang berhasil membawa nama sekolah ke kancah internasional untuk pertama kalinya, yang sering disuruh sebagai perwakilan kelas untuk menjadi mc di tiap acara.
mark juga tergabung sebagai anggota osis. yang sering mendatangi tiap kelas untuk sosialisasi program terbaru osis atau sekedar mengumpulkan uang duka. beranjak remaja, penampilan mark mulai terlihat upgrade—kata haechan!, padahal dia cuma memotong rambutnya dan mengganti frame kacamatanya menjadi yang lebih tipis.
tapi ternyata perubahan kecil itu memberi dampak yang cukup besar bagi kehidupan percintaan mark. mark menyadari popularitasnya di sma. dari lirikan dan kekehan malu adik kelasnya tiap dia lewat di depan lorong kelas mereka, senyuman manis dan ajakan main dari kakak kelasnya dan pertanyaan basa basi mark, gue gak paham soal yang dibahas tadi deh. habis sekolah mau kerkom ga? dari teman sekelasnya.
tapi namanya mark lee, dia hanya menanggapi itu semua dengan senyuman tipis dan tawa malu—yang malah membuat lawan bicaranya semakin salting. seperti sore ini, ketika mark sudah selesai dengan latihan mingguan klub debatnya dan menunggu haechan yang masih latihan teater, yeri—teman osis mark, menghampiri dirinya.
“lah yer? belom pulang?”
“belom nih. baru selese rapat. lo kenapa belom balik? tadi gue liat ruang debat udah kosong deh,” tanya yeri.
“oh iya udah selese kok. gue lagi nungguin haechan,”
mark menyadari perubahan raut yeri yang awalnya ceria tiba-tiba meredup. dirinya menyenggol pelan bahu yeri, “kenapa tiba-tiba cemberut gitu?”
salah satu hal yang tidak mark sadari sejak dirinya menjadi anak sma adalah sikap friendly-nya yang kelewat flirty—salah satu faktor yang banyak membuat orang-orang kebawa perasaan sama sikap mark.
tidak terkecuali yeri.
yeri menggigit bibir bawahnya. mempertimbangkan apakah dia akan tetap melakukan niat pertamanya menghampiri mark atau tidak jadi. namun, senggolan bahu mark yang konsisten pada dirinya membuat yeri sedikit berharap.
“mark,”
“hmmm?”
yeri menghela nafasnya panjang sebelum kembali berucap, “mark gue mau ngomong sesuatu.”
mark menghentikan goyangan badannya, kini sepenuhnya berfokus pada yeri, “i’m all ears.”
yeri menatap wajah mark. degup jantungnya berdetak cepat, yeri tidak bisa menyangkal kalau mark sangatlah tampan. meskipun tidak ada keturunan bule, muka lelaki itu tetap seperti blasteran yang tidak bosan untuk dipandangi.
yeri jatuh hati.
“mark, gue suka sama lo.”
mulut mark terbuka. tidak menyangka apa yang ingin diomongkan yeri adalah sebuah kalimat pengakuan rasa. lidahnya serasa kelu, bingung hendak merespon seperti apa.
bukan, bukan bingung atas perasaannya terhadap yeri. karena bahkan sebelum otaknya merespon, hatinya sudah langsung bereaksi.
bahwa dirinya tidak pernah menyimpan perasaan yang sama pada yeri. atau pada orang lain. selain—
“markeuriiiii!!”
suara lantang haechan memenuhi lorong tempat keduanya terduduk kaku. mark melihat haechan yang mendekat ke arahnya sambil menenteng seragam osisnya sedangkan yeri memalingkan wajahnya.
mark bingung. bingung bagaimana untuk menolak yeri dengan kalimat sebaik dan sehalus mungkin.
“heyyy, loh ada yeri. belom pulang yer?” posisi yeri yang membelakangi haechan membuat lelaki itu belum melihat wajah sedih yeri. namun, ketika haechan kini berdiri di antara keduanya, barulah haechan menyadari atmosfer keduanya yang cukup canggung.
“eh, kalian masih ngobrol yaa?” haechan melirik mark yang kini memandang yeri yang masih memalingkan wajahnya.
haechan dapat mengira-ngira apa yang sedang terjadi di antara keduanya. dirinya menelan ludah susah, perasaan aneh tiba-tiba menjalar dari perut ke dadanya.
“umm.. gue tunggu di parkiran aja kali ya mark?” tanya haechan ragu.
mark mengangguk, bahkan tidak melirik ke arahnya. haechan langsung buru-buru beranjak pergi. semakin jauh dari mark dan yeri. berharap perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya menghilang.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
mungkin hanya sekitar sepuluh menit haechan duduk di motor mark hingga sang empu datang menghampirinya.
raut wajah mark tidak senang dan juga tidak sedih—yang membuat haechan sedikit bingung.
bukannya kalau orang habis jadian itu mukanya berseri-seri ya?
“sorry lama can,” ujar mark. haechan meloncat turun dari motor mark, membiarkan lelaki itu memundurkan motornya.
“jaket kamu mana?” mark melihat haechan yang hanya mengenakan kaos putih, bahkan seragam osisnya tidak kembali ia kenakan.
“ketinggalan di aula,”
“duh, udah mau malem loh.” mark berdecak sebal, kebiasaan jelek haechan yang selalu menggampangkan angin malam.
“yaudah sih, gue juga udah gede juga.” mark menangkap nada jengkel yang tidak biasanya haechan tujukan padanya. alisnya menyatu, menatap bingung haechan.
“can,” haechan mengabaikan panggilan mark dan meraih helm yang tergantung di spion motor mark. entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi kesal pada mark.
mungkin kesal, mark yang selama ini selalu mengelak dirinya tidak sedang dekat dengan siapapun tiap kali haechan bertanya namun tiba-tiba jadian.
atau mungkin dirinya kesal, karena hari sudah mulai gelap dan dirinya masih berada di sekolah.
kekesalan haechan membuat pria itu kesusahan mengaitkan kaitan helm-nya.
“anjir susah banget sih!”
“sini aku bantu,” mark langsung meraih kaitan helm haechan dan dengan sekali percobaan, suara klik terdengar di parkiran yang sudah sepi tersebut.
“kamu kenapa sih?” tanya mark yang melihat bibir haechan yang manyun—tanda lelaki itu ngambek.
“ecan…,” mark kembali memanggil haechan yang tak kunjung menjawabnya, namun kali ini lebih lembut.
haechan mengalah. tatapannya berubah menjadi sendu. menatap wajah mark, wajah teman dekatnya sejak bangku sekolah dasar hingga kini mereka sudah menjadi remaja. mark, yang entah sejak kapan haechan selalu ingin bersama. mark, yang ternyata membuatnya sama seperti teman-temannya yang lain.
jatuh pada pesona karisma mark.
haechan menelan ludahnya kasar. realisasi perasaannya atas mark yang tidak tepat waktu membuatnya ingin menangis. baru kali ini dia berani mengakui perasaannya pada mark bukan hanya sekedar teman.
tapi kenapa dirinya telat menyadari setelah mark sudah jadian dengan yeri?
“mark, kamu ga balik sama yeri?”
“hah?” mark menatap bingung haechan.
“tadi… kalian barusan jadian kan?”
“HAH?” kedua mata mark mengerjap cepat, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“kamu ngomong apa sih can?”
haechan terdiam. merasa bodoh atas dirinya sendiri, “tadi tuh kamu bukan lagi nembak yeri?”
kedua tangan mark yang sedari tadi masih memegangi tali helm haechan kini ia manfaatkan untuk menekan kedua sisi helm tersebut, yang membuat pipi haechan tertekan dan lelaki itu mengaduh kesakitan.
“aduuuh! lepasin mworrrk!”
“kok kamu mikir gitu sih?” mark bertanya, sedikit kesal atas asumsi haechan meskipun lelaki itu tidak sepenuhnya salah.
“habis tadi kalian keliatan serius gitu sih,”
mark melepaskan kedua tangannya, “jadi kamu ngambek gegara itu?”
“engga anjir!”
“can,”
haechan menghela nafas panjang, malu untuk mengakui namun ingin menyampaikan perasaannya.
“mark, kamu kalo punya pacar bilang ke aku ya. biar aku bisa nyiapin diri,”
keduanya terpaku atas kalimat haechan. haechan menyadari bahwa ucapannya tersebut dapat diartikan yang berbeda oleh mark, makanya buru-buru ia meralat perkataannya.
“maksudnya! maksudnya tuh biar aku juga bisa kasih space ke kamu gitu lhooo. terus juga aku bisa nebeng jeno atau naik ojol biar ga sama kamu gitu!”
penjelasan haechan membuat mark tersenyum kecut. ia kira haechan memiliki perasaan yang sama dengannya.
mark melepas jaketnya, lalu menyampirkannya ke badan haechan, “dah buruan dipake jaketnya terus balik.”
“markkkkk, aku serius!” rengek haechan sambil meraih lengan mark yang mau naik ke motornya.
mark mengangkat sebelah alisnya, “can, kamu ga perlu khawatir karena aku ga ada niat punya pacar. harusnya kamu nih,” mark menoel hidung haechan, “kamu yang sering cerita ke aku kalo ditaksir orang.”
“tapi kan aku ga pernah naksir balik,” bela haechan.
“ya kamu sih ga pernah mau nyoba,”
“jadi kamu gapapa kalo semisal aku dideketin orang lain?”
pertanyaan haechan serasa dejavu bagi mark. mark tersenyum tipis memandang wajah manis haechan yang hampir tertutup karena helm kebesaran miliknya, “selama orangnya baik, why not?”
kini, gantian haechan yang tersenyum ke arah mark. senyumannya yang kontras dengan perasaan sakit di dadanya ketika haechan menyadari bahwa dirinya akan selalu dianggap teman oleh mark.
karena bahkan setelah banyak orang yang datang dan pergi, dan setiap itu pula haechan meminta pendapat mark, jawaban lelaki itu akan selalu sama.
yang membuat haechan menyadari bahwa mark doesn’t see him as his potential lover. not now or later.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
kehidupan perkuliahan mark dan haechan mungkin bisa dibilang salah satu fase kehidupan yang menjadi peak mereka dalam segala bidang. bahkan semenjak mereka berdua masuk kuliah, nama mereka sudah terkenal.
lagi-lagi, just like a fate, mark dan haechan berkuliah di satu fakultas dan satu jurusan.
mark melihat bagaimana haechan digandrungi teman baru seangkatan mereka bahkan hingga kakak tingkat yang menjadi panitia ospek.
saat itu, ketika semua mahasiswa baru dijemur di pelataran fakultas untuk mendapatkan materi yang cukup membosankan, haechan yang sedari tadi duduk di sampingnya mencuri kesempatan untuk sesekali menyenderkan kepalanya sambil mengeluh, mark panas banget tau.
mark tidak mengelak karena memang saat itu cuaca sedang terik-teriknya. para maba yang hanya diberikan alas terpal untuk duduk dan kipas besar di pojok pelataran tidak membantu mereka merasa nyaman. mark bisa melihat haechan sesekali merubah posisi duduknya karena pantatnya kepanasan.
“can,” mark menyenggol lengan haechan, melirik panitia komdis yang tengah memperhatikan para maba yang ketiduran, “almetku buat alas duduk kamu aja nih.”
haechan menggeleng, takut jika malah mark yang kena semprot panitia komdis yang cukup strict mengenai aturan ospek.
“udah gapapa, tuh liat yang lain ada yang dudukin almet juga kok,” desak mark ketika lelaki di sampingnya ini tidak kunjung menurutinya. haechan yang awalnya ragu akhirnya mengambil almet mark dan berusaha sepelan mungkin bergerak untuk menaruhnya di bawah pantatnya.
haechan sedikit kesusahan, pasalnya almetnya sendiri ia jadikan penutup kepalanya dan posisi mereka berdua yang di baris pertama membuat haechan takut jika pergerakan kecilnya dapat langsung terlihat oleh panitia komdis.
benar seperti apa yang ia takutkan, kehati-hatiannya untuk menaruh almet mark sebagai alas duduk, malah membuatnya terjengkang dari posisi jongkoknya dan mengaduh cukup kuat.
mark panik. teman-teman di samping dan belakangnya ikutan panik. haechan apalagi.
lelaki itu buru-buru duduk ketika menyadari ada panitia yang mendekatinya. pandangannya lurus ke depan, tidak berani menatap katingnya yang kini jongkok di hadapannya persis.
haechan samar dapat mendengar suara kaget teman-temannya dan beberapa panitia lain yang juga ikut memperhatikan dirinya.
“ngapain?”
“maaf kak!”
“ditanya ngapain kenapa minta maaf?”
haechan melirik wajah kakak tingkatnya tersebut sekilas sebelum kembali memandang lurus ke depan, “maaf kak. tadi saya mau membenarkan posisi duduk saya terus tidak sengaja terjatuh.”
entah haechan salah dengar atau apa, tapi kating di hadapannya ini tertawa pelan. tiba-tiba, ia dapat merasakan sesuatu menekan kepalanya—sebuah topi kini terpasang nyaman di kepalanya.
“lain kali kalo kepanasan lapor ke panitia. jangan sampe lo pingsan dan malah ngerepotin temen se-tim lo. paham?”
haechan buru-buru mengangguk. masih cukup shock karena dirinya tiba-tiba dipakaikan topi milik si kating yang sampai saat ini ia belum tau namanya.
“nama lo siapa?”
haechan akhirnya memberanikan diri untuk melihat katingnya yang masih setia berjongkok di hadapannya, “lee haechan kak.”
kating itu—yang bagi haechan mukanya di atas rata-rata, tersenyum menampilkan kedua lesung pipitnya.
“oke haechan. nanti habis materi ini selese, lo ke medis dulu ya. pipi lo udah merah. takutnya kepanasan beneran,” perintah kating itu sambil kembali menekan kepala haechan pelan sebelum beranjak ke posisi awalnya.
haechan melirik mark, yang sedari tadi sudah memandangnya khawatir. “mark, kamu tau tadi siapa?”
mark menatap wajah haechan yang entah kenapa bukan menunjukkan ekspresi takut. ada rasa ragu memberi tau siapa kakak tingkat yang baru saja menghampiri haechan sebelum temannya itu menyenggol lengannya—menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan itu.
“tau. kak jaehyun.”
“hah? siapa itu? ”
mark membuang wajahnya, kembali memandang pemateri yang sebentar lagi menyelesaikan sesi tanya jawabnya, “ketua divisi komdis can. yang kemarin teriak-teriak.”
jawaban mark membuat haechan ternganga. seketika ingatan mengenai panitia songong dan yang membuatnya sedikit ketakutan memenuhi otaknya.
masa itu kak jaehyun yang sama sih?
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
semenjak kejadian ospek fakultas itu, haechan jadi dekat dengan jaehyun. tidak mau mengelak, haechan sebenarnya tau tujuan jaehyun baik kepadanya sejak ospek—usaha klise seorang kating yang melakukan pendekatan pada mahasiswa baru.
yang bikin lucu, jaehyun yang ketampanannya di atas rata-rata, sebenarnya salah satu kating yang susah didekati. bukan dalam konteks susah didekati karena sombong, tapi lelaki itu secara jelas selalu memberikan sinyal yang jelas tiap ada orang yang ingin mendekatinya.
haechan, yang bisa dibilang jadi primadona angkatannya karena sifat supelnya dan tingkah lucunya sudah menarik banyak perhatian dan ketertarikan oleh teman-teman seangkatannya. lelaki itu selalu menjadi pusat perhatian dengan celetukan lucunya yang membuat suasana semakin akrab. belum lagi cara berbicaranya yang mulutnya seperti bebek—kata salah satu kating pembimbing ospek mereka, yang membuat lelaki itu semakin terlihat menggemaskan.
teman-temannya juga menyadari bahwa haechan selalu menerima semua usaha pertemanan terselubung dari mereka yang naksir sama haechan namun semua itu seolah-olah tidak akan tembus hingga tahap selanjutnya karena seorang mark lee yang selalu berada di samping haechan.
makanya, haechan menjadi perbincangan tidak hanya pada angkatannya namun juga pada angkatan jaehyun ketika mereka tahu bahwa kedua pria tersebut sedang dalam masa pdkt.
bahkan, ada rumor haechan selingkuh dari mark ketika ada seseorang yang memergoki haechan pulang bersama jaehyun hingga mark sendiri yang harus mengklarifikasi—dengan tawa khasnya, bahwa dirinya dan haechan tidak memiliki hubungan yang lebih dari teman.
“serius mark?” tanya jaemin—teman sejurusannya, tidak percaya.
“yeah? gue sama haechan udah sering dikira pacaran. we’re not tho,” jelas mark.
jaemin memicingkan matanya, “kok gue menangkap nada-nada kecewa dari kalimat lo yaa..,”
mark tertawa getir. well…
dirinya jadi teringat dengan percakapannya tempo lalu bersama haechan. mungkin salah satu waktu semenjak perkuliahan ini akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu berdua—selain jaehyun, jadwal kelas mereka yang cukup berbeda.
“mark,” haechan menyeruput teh manis pesanannya, “eww panas banget!”
mark buru-buru membuka botol mineral dan menyodorkannya ke haechan. tangannya sibuk mengelap dagu haechan yang ketumpahan teh dengan tisu, “pelan-pelan kali can.”
“sebel aku jadi lupa deh mau cerita apa!” haechan mengambil tisu dari tangan mark, mengelap dagunya sendiri, sebelum akhirnya tersenyum senang, “eh udah inget!”
mark ikutan tersenyum melihat tingkah haechan, “mau cerita apaaa?”
“kak jaehyun!”
senyuman mark hilang sedikit. not him again please.
“kenapa sama dia?”
haechan tertawa sambil menutup wajahnya, menyembunyikan raut malunya dari mark.
“kamu tau kan aku lagi deket sama dia?”
of course, you always called me first after your date with him, “semua orang tau deh can kayaknya.” jawab mark akhirnya yang dibalas tendangan oleh haechan.
“kemarin tuh aku diajak muterin kota. sambil cerita-cerita aja sebenernya,” haechan menggantung ceritanya, menunggu respon mark.
mark akhirnya mengalah pada perasaannya—tidak kuasa untuk tidak ikutan excited ketika lelaki di hadapannya ini terlihat bahagia, “terus?”
“ga tau tapi aku ngerasa lucu aja. image kak jae yang aku tau sebelum kenal dia tuh yang galak, dingin, red flag! tapi kamu tau gak sih mark?” no, he doesn’t know, “kak jae tuh garing abis! kayak bapak-bapak! ga bercandaannya, ga ketawanya, ga bersinnya! aku aja sampe nangis ngetawain dia kemarin bersin!”
haechan tertawa, mengingat memorinya semalam bersama jaehyun. mark bingung apa yang lucu dari cerita haechan, namun dirinya ikutan tertawa.
maybe mark’s in love. karena dengan hanya melihat haechan tertawa membuatnya ikutan senang.
fuck, mark menatap haechan yang masih asik bercerita tentang jaehyun, fuck maybe haechan’s in love too. but not with him.
realisasinya membuat dirinya seperti menelan pecahan gelas.
mark rasanya ingin meninggalkan haechan, berlari ke masa lalunya, mengguncang kuat bahu dirinya di masa lalu ketika pertama kali menyadari perasaannya pada haechan bukan hanya sekedar teman dan berteriak just confess to him!!!
tapi ikatan pertemanan selalu menahan mark mengungkapkan perasaannya.
mark doesn’t want to ruin his friendship with haechan by confessing. as simple as that. as cliche as that.
“kata kamu gimana mark?”
“hm? sorry tadi aku ngelamun bentar,”
haechan cemberut, “iiiih! jadi kamu ga dengerin ceritaku?”
“dengeriiin, cuma tadi tiba-tiba kepikiran ppt buat besok can.”
alis haechan bertaut, “eh sorry. aku malah asik cerita. mau balik aja?”
“nope! tadi kamu nanya apa can?”
haechan mendesah panjang, malah ragu untuk mengulang pertanyaannya. “kata kamu, kalo aku ngasih kesempatan kak jae buat jadi cowo aku gimana?”
haechan menatap wajah mark yang juga tengah memandangnya dengan serius. pertanyaannya sesungguhnya retoris karena di dalam hatinya sendiri ia sudah menemukan jawabannya. perlakuan manis jaehyun sudah berhasil membuatnya luluh.
namun,
namun entah kenapa, masih ada celah kecil yang sengaja ia biarkan, yang sengaja terbuka untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar sudah bebas dari perasaannya pada mark.
makanya pertanyaannya malam ini, yang mungkin sudah berkali-kali ia lontarkan kepada mark tiap kali dirinya sedang didekati orang, akan menjadi gong penentu apakah celah di hatinya ini akan tertutup sepenuhnya atau malah kembali terbuka lebar menerima perasaannya pada mark yang sudah ia timbun bertahun-tahun lamanya.
mark menatap wajah berharap haechan, menimbang jawaban yang akan ia berikan karena jujur mark takut menjawabnya dengan kalimat yang selalu ia berikan, if you like them, why not?
namun apa daya, mark is a coward, a coward who wants haechan to be happy dan dirinya dapat melihat jaehyun dapat memperlakukan haechan dengan baik,
“he’s a nice person can,” mark tersenyum, entah senyum ke berapa yang ia berikan pada haechan malam ini, “i’ll be happy knowing you safe and happy with him,”
jawaban mark entah kenapa membuat semua suara di otaknya tiba-tiba berhenti. rasa-rasanya seperti diguyur air dingin di tengah terik matahari.
maybe he and mark will never be an us, haechan tersenyum, maybe this is the best scenario for them both.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
jaehyun adalah segalanya yang mark harapkan ada pada dirinya.
makanya tak heran jika pada akhirnya haechan jatuh hati pada lelaki itu. mark bahkan tidak bisa berharap agar haechan segera putus dengan lelaki itu karena…. karena kini dia bahkan berteman akrab dengan jaehyun.
jaehyun yang bahkan tidak pernah menaruh cemburu padanya yang masih dekat dengan haechan ketika orang-orang di sekitarnya mempertanyakan hubungannya dengan haechan. jaehyun yang rela langsung ke luar kota mengantar haechan ketika ibu kekasihnya itu tiba-tiba masuk rumah sakit. jaehyun yang memperlakukan haechan sungguh manis hingga mark tidak bisa mengelak bahwa dirinya mungkin tidak bisa memperlakukan haechan sebaik itu.
mark mengingat jelas saat dirinya datang menyusul ke rumah sakit dan melihat haechan yang masih sesenggukan di samping jaehyun yang sedang sibuk mengurus administrasi pembayaran rumah sakit sambil sesekali mengusap lengan haechan—menenangkan kekasihnya itu.
“it’s okay,” bisik jaehyun, mengecup pelan kening haechan, “mama udah ditangani dokter. she’s gonna be okay sayang. you have me, i’ll stay..,” jaehyun membawa tubuh haechan ke dalam pelukannya. membisikkan kalimat penenang—begitu intim, mark harus pergi menjauh dari keduanya.
is it his fault? sering kali mark bertanya, entah pada siapa, is it his fault that he didn’t take the many chances that were given to him?
but thing happened. choices were made.
and mark can’t do anything when faith already said so—that he and haechan can’t be together. not in this lifetime, at least.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
it’s been months. mark sudah tidak pernah menghitung lagi.
mark mengabaikan celotehan jeno di sampingnya, sibuk menghabiskan es tehnya sambil sesekali memperhatikan haechan yang sedang berbicara serius dengan jaehyun di pojok kantin fakultas ilmu bahasa.
“ya elah gue kira lo serius merhatiin gue taunya,” ujar jeno pada akhirnya ketika menyadari lawan bicaranya ini tidak menimpali celotehannya, “lo masih naksir haechan mark?”
jeno, teman sma mark dan haechan, yang mungkin paling tahu mengenai perasaan mark pada haechan.
“gue udah jauh-jauh dari teknik anjir nemuin lo malah dianggurin,” decak jeno kesal.
mark terkekeh pelan, “gue gak maksa lo kesini juga,”
“wah kurang ajar ni bocah!” jeno membekap mark dengan lengannya, yang membuat mark tertawa, “lepasin bego!”
“lo tuh mark!’ jeno melepaskan cengkramannya, “serius amat sih ngeliatin orang pacaran?” kini jeno ikutan melihat haechan dan jaehyun.
“udah berapa lama deh mereka pacaran?”
“ga tau,”
“bohong, lo pasti tau tanggal jadian mereka!”
mark tidak bisa mengelak, karena dia memang ingat jelas kapan.
“mark, kalo mereka putus, lo mau deketin haechan gak?”
“ga tau,”
“bohong lagi!”
mark memutar bola matanya kesal, meskipun entah kenapa tingkah jeno membuatnya tersenyum.
“kata gue ya mark, kalo habis ini lo dikasih kesempatan lagi sama semesta biar bisa sama haechan, kata gue gassss aja sih!”
mark mengabaikan jeno dan kembali menatap pasangan itu dari jauh, memperhatikan ekspresi haechan—yang mark sangat hapal, mau menangis. alisnya bertaut, bertanya-tanya percakapan apa yang mereka bicarakan hingga membuat haechan seperti itu. dan sedetik kemudian pertanyaannya terjawab, dirinya ikutan berdiri ketika temannya itu beranjak dari kursi dan meninggalkan jaehyun yang masih terduduk.
samar-samar dirinya dapat mendengar kalimat haechan, aku gak bisa kak sebelum lelaki itu pergi.
huh, is this a sign from the universe that i should take the chance?
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
kesempatan yang diberikan semesta tidak datang begitu saja—unfortunately.
mark menyaksikan sendiri bagaimana haechan datang kepadanya, hanya diam menatapnya sendu sebelum lelaki yang ia sayangi itu menangis pilu dipelukannya.
butuh waktu sebulan hingga mark mengetahui alasan haechan putus dengan jaehyun.
“kak jae habis double degree di belanda mau sekalian lanjut ambil master mark,” jelas haechan, menatap kosong jalanan di depannya. mark memandang haechan sedikit kaget.
“rencana kak jae… rencana kita…,” suara haechan tercekat, “aku bisa nunggu dia ambil double degree tapi kalo sama master..,”
mark meraih tangan haechan, menggenggamnya.
“egois gak sih aku?”
mark tidak bisa menjawabnya. makanya dirinya hanya bisa membawa haechan ke pelukannya ketika haechan kembali menangis. it’s okay, i’ll stay bisik mark.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
butuh waktu tiga bulan hingga akhirnya haechan bisa kembali berinteraksi dengan jaehyun, yang akhirnya juga membuat mark kembali bisa menyapa lelaki itu.
“udah di cek semua belum kak? ada yang ketinggalan gak?” tanya haechan sambil melihat kerdus kecil yang terisi penuh dengan buku serta beberapa jaket kepanitiaan milik jaehyun.
mereka berdua sedang membantu jaehyun mengosongkan loker di sekre himpunan, membantu jaehyun sebelum lelaki itu flight minggu depan.
“kayaknya almetku malah belum masuk deh chi,”
“duuuh! kebiasaan banget deh! bentar aku cek dulu di dalem!” omel haechan yang buru-buru masuk ke sekre meninggalkan jaehyun dan mark.
mark mengangkat kedua alisnya, memberikan kepalan tangannya ke jahyun, “gimana bro?”
jaehyun tertawa lalu duduk bersila di samping mark, “yaah gitu deh bro. takut inggris gue ga lancar, harusnya gue sering-sering ngomong inggris ya sama lu bro?”
mark memutar matanya, “jujur gue sedih bro. gak ada temen basket lagi.”
jaehyun tersenyum tipis, menampilkan kedua lesung pipitnya, “ajak haechan lah main.”
“lo kan tau itu bocah takut sama bola!”
“iya sih..,”
keduanya tertawa, masing-masing memiliki memori lucu mengenai haechan yang ketakutan atas bola basket. hening menyapa mereka sebelum helaan nafas panjang jaehyun terdengar jelas, “mark.”
“hmm?”
jaehyun memandang wajah mark, dirinya terkekeh pelan. ia tepuk berkali-kali bahu adik tingkatnya itu.
“no it’s just..,” jaehyun menjeda kalimatnya, meremas bahu mark, “sekarang gantian lo mark.”
awalnya mark bingung dengan maksud jaehyun sebelum pada akhirnya mengerti maksud dari kalimat lelaki itu. oh.
mark mengangguk pelan, of course he won’t miss another chance. again.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
butuh waktu tujuh bulan hingga akhirnya mark berhasil memantapkan hatinya, hingga akhirnya dirinya berhasil mengabaikan segala what-ifs yang bersahutan di kepalanya.
mark menatap haechan yang sudah terlihat kekenyangan menghabiskan indomie telur di warung langganan mereka berdua. lelaki di hadapannya ini bahkan sampai mengelus perutnya.
“kapan ya mark judul skripsi kita di acc?” tanya haechan sambil memejamkan mata. angka di tangannya menunjukkan pukul sebelas, cukup malah untuk mark melakukan rencana yang sudah ia niatkan dari seminggu yang lalu.
mark meraih tangan haechan yang tidak sibuk mengelus perutnya, menariknya agar haechan duduk dengan benar.
“can, kamu tau gak sih hari ini tanggal berapa?”
haechan menatap bingung mark yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan tidak penting itu, “tanggal 29 gak sih?”
mark mengangguk, menahan senyumnya. “can, 14 taun yang lalu aku jadi temen sebangku kamu tau.”
pernyataan mark membuat haechan akhirnya duduk tegak. matanya membulat sempurna, “bohong?!”
“beneran. ga nyangka ya udah selama itu kita temenan?” mark merogoh sesuatu di kantong celananya sambil menunggu respon haechan.
“iiiih mwooork!” goda haechan, mengingat lelaki itu sebal jika dipanggil mwork saat masih kecil. kali ini bukan ekspresi kesal yang didapati haechan, melainkan tawa bahagia yang diberikan mark pada dirinya.
“tapi ya mark, beneran ga kerasa tau! kok bisa sih kamu mau sama aku selama itu?”
“iya ya, aku juga heran. padahal kamu tuh manja, sering sakit karena ga nurut kalo dikasih tau, suka nodong minta traktir, tiba-tiba minta jemput tengah malem!”
haechan terkekeh malu sambil menendang kaki mark. dirinya tidak bisa mengelak karena memang benar dia selalu merepotkan mark, “ah tapi kamu juga mau-mau aja aku suruh gitu,”
mark menggigit bibir bawahnya, malu mengetahui bahwa haechan menyadari perlakuannya pada pria itu.
“kamu inget gak pas awal kita ngobrol kamu ngapain aku?”
haechan memiringkan kepalanya, berusaha mengingat-ingat memorinya jaman sd. matanya mengikuti pergerakan tangan mark yang kini meraih tangan kanannya. tiba-tiba haechan merasakan sesuat menekan punggung tangannya itu, sedikit kuat hingga membuatnya mengaduh.
“aduuuh! mark kamu ngapain sih?”
mark buru-buru menahan tangan haechan yang hendak lelaki itu tarik, “bentar belom kering!”
ucapan mark akhirnya membuat haechan menyadari apa yang dilakukan temannya itu. ia langsung melihat punggung tangannya, ternganga ketika melihat ada tinta merah yang tercetak dengan gambar cheetah dan tulisan punya mark!
pipi haechan memanas, dirinya tidak berani melihat wajah mark.
“can,”
“apa!”
“galak banget sih,”
haechan akhirnya mengangkat wajahnya, “apa niiih maksudnya?” haechan mengarahkan punggung tangannya ke mark, menggoda lelaki itu—agar bukan hanya dirinya yang salting sendiri.
“masa perlu aku jelasin?”
“ya dong! punya mark? siapa yang punya mark?” goda haechan, dengan semburat merah di pipinya.
mark memutar kedua bola matanya, namun dengan senyum yang tidak bisa ia tahan lagi.
“caaaan, masa kamu ga paham sih?”
haechan terkikik gemas, “jelasiiin!”
mark hanya bisa tertawa. rasanya dirinya balik menjadi siswa sd saat pertama kali dirinya bertemu haechan. ternyata perasaannya masih sama. selalu sama.
“caaan, udahan ah!” mark merajuk, yang membuat haechan semakin tertawa lepas. mengabaikan pengunjung lain yang ada di warung itu.
“udahan gimana? jadian aja belom!” kerlingan bahagia di mata haechan membuat mark rasanya ingin langsung berlutut di hadapan lelaki itu.
mark menghela nafas panjang, meraih tangan haechan yang sudah ia stempel sebelum akhirnya melontarkan kalimat yang sudah lama ingin ia ucapkan,
“give me a chance to make you happy as a man, can.”
bibir haechan bergetar. tidak kuasa menahan senyumnya yang mengembang lebar. dirinya merasakan perutnya bergejolak ribut. kini seluruh badannya memanas. haechan membalas genggaman tangan mark dan mengangguk pelan.
“dasar bule!”
mark melirik jam tangannya, 11.20. 29 april.
he thinks it’s worth to wait, years and counting. to be by his side. from kid to adult. from friends to lovers.
˗ˏˋ✩ˎˊ˗
“ortu kita dimana sih mark?” haechan membenarkan toganya yang hampir jatuh dari kepalanya. mark mengambil ijazah haechan dari tangannya agar memudahkan lelaki itu, “udah di depan lobby can. yuk, fotografernya udah disana juga ternyata.”
mark mengapit ijazah mereka berdua, memegang tangan haechan agar tidak terpisah dengannya dari lautan orang yang baru saja selesai wisuda sambil sibuk memegang handphone menghubungi orang tuanya.
“panas bangeeeet, mwooorkkkk!”
mark tersenyum mendengarkan rengekan haechan. tidak ada kombinasi yang lebih menyebalkan dari baju batik dan toga kelulusan. gerah.
“sabar caaan, bentar lagi sampe lobby! deketan aku sini, ntar ilang tau rasa!”
haechan berdecak lalu malah menggelayuti lengan mark.
it’s been months. kali ini mark tidak berhenti menghitung.
sudah tujuh bulan sejak haechan putus dengan jaehyun yang kini sedang melanjutkan studinya di luar negeri dan sudah tiga bulan mark kini bisa memanggil haechan dengan,
“sayang,” haechan mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia sandarkan di bahu mark.
“nanti habis foto kita makan di mall aja kali ya? sekalian ngadem.”
haechan tersenyum tipis lalu melempar pandangannya ke kerumunan orang-orang. sekilas dirinya dapat melihat kedua orangtuanya dan mark yang sedang mengobrol menunggu mereka berdua.
haechan meraih tangan mark, menggenggamnya erat. ia ayunkan kedua tangan mereka sambil memanggil mamanya.
“maaa! panas banget!” haechan berlari ke pelukan mamanya, sedangkan mark bersaliman kepada kedua orang tuanya dan juga ayah haechan.
“lepas dulu ih kamu ga malu diliat mark! udah buruan foto sana habis itu kita cari makan!” mama haechan menegur anak semata wayangnya itu dan mendorongnya ke arah mark.
“loh ga bareng-bareng?” tanya haechan bingung ketika fotografer mulai menyuruh mark dan haechan berpose.
mark menarik tangan haechan agar lelaki itu mendekat ke arahnya. ia rapikan toga haechan yang miring dan memberikan kembali ijazahnya yang sedari tadi ia bawa, “nanti aja foto keluarganya di studio.” bisik mark.
entah kenapa, haechan jadi malu. dirinya belum terbiasa.
belum terbiasa menjadi kekasih mark.
“mas mark! pacarnya boleh dirangkul!” si fotografer berteriak di tengah keramaian. mark meraih pinggang haechan, membuat kekasihnya itu semakin menempel padanya.
haechan dapat mendengar teriakan aba-aba samar si fotografer di tengah keramaian arak-arakan wisuda, di tengah degup jantungnya yang berdebar kencang dan di tengah bisikan mark yang membuatnya melayang,
“happy graduation my love,”
