Work Text:
Kalau bukan karena Dream, kira-kira dimana dan gimana kamu bakal ketemu sama member di sampingmu?
"Gak bakal pernah ketemu!" Jaemin menjawab tanpa jeda, dua tangan disilangkan di depan dada membentuk tanda 'X' besar-besar. Senyumnya lebar dan jenaka.
Jaemin yang ceria seperti ini selalu berhasil membuat Donghyuck tanpa sadar ikut menyeringai senang. Jadi itu yang dia lakukan sekarang, bersamaan dengan gelak tawanya anggota Dream lain, berusaha tidak memikirkan betapa benar jawaban Jaemin.
"Dari selera dan hobi sudah beda sekali." Jaemin menjelaskan lebih lanjut, kakinya disilangkan di lutut, rileks tapi semangat untuk menjawab. "Kebetulan sekali saya dan Haechan ada di 'angkatan' yang sama saat trainee. Walaupun kadang saya sendiri bingung itu artinya saya beruntung atau malah sebaliknya," gurau Jaemin main-main.
Donghyuck, tahu peran seperti apa yang harus dia lakoni di situasi seperti ini, mengerucutkan bibir dan bilang ke kamera, "Padahal yang sering kena apes sejak bertemu Jaemin itu saya," disambut cekikikan anggota yang lain.
Pertanyaan dan fokus wawancara berpindah secepat mereka datang. Donghyuck manggut-manggut sunyi di kursi saat kamera tidak lagi menyorotnya. Telapak Jaemin yang diparkir di atas pahanya terasa membakar.
Donghyuck merenung di kursi super empuk Jaemin, menatap kosong lalu lintas di luar jendela. Pasti ada satu-dua jalan dia bisa bertemu Jaemin tanpa perlu masuk SM, kan? Walaupun kampung halaman mereka berjauhan, selalu ada kemungkinan mereka liburan ke satu tempat yang sama saat libur semester yang sama, kan? Mereka sama-sama suka ke pantai, terakhir kali Donghyuck ajak Jaemin bertemu orang tuanya, dia komentar soal mau kembali lagi ke pantainya Jeju. Atau mungkin Donghyuck yang lanjut sekolah ke Seoul. Bisa saja dia dapat beasiswa, walaupun kalau ditanya beasiswa apa dia juga bingung. Tidak excellent soal olahraga, tapi kalau bicara sains juga dia pusing.
Atau- oh! Misalnya tidak di SM kan bukan berarti dia dan Jaemin tidak ambil pilihan karir di musik! Bisa saja mereka bertemu di sekolah seni! Kalau ini Donghyuck percaya diri dia bisa dapat beasiswa. Walaupun... kalau diingat-ingat, Jaemin pernah bilang dia bakal pilih ilmu medis kalau tidak jadi penyanyi.
Apapun itu, Donghyuck percaya ada banyak jalan menuju Jaemin.
Pokoknya Donghyuck tidak rela mengakui fakta kalau kejadian dia bertemu Jaemin; berteman dengannya; debut satu grup bersamanya; jadi pacarnya, bergantung semata-mata pada keputusan 'lolos/tidak' sembarang juri audisi SM.
Tidak mau akui kalau dia dan Jaemin jadian itu semata-mata karena-
"...kebetulan," gumamnya tanpa sadar.
"Kebetulan apa?"
Donghyuck menoleh cepat, kaget. Jaemin berdiri di ambang pintu kamar dengan dua gelas es teh di kedua tangan. Baru kembali dari dapur dorm Dream karena Donghyuck merengek kehausan lima menit lalu.
"Kamu ngapain bengong di depan jendela?" tanya Jaemin lagi. Nadanya menyindir, lengkap dengan seringai yang separuh terbentuk. Satu alisnya terangkat. Rambutnya masih acak-acakan karena belum mandi. Bibirnya pucat tapi lembab karena dipaksa Donghyuck pakai lip mask tiap mau tidur. Kaos oblongnya yang kebesaran menggantung effortlessly di badan kokohnya, sedikit lebih ketat di bagian dada, longgar sekali di pinggang. Bekas isapannya Donghyuck yang berubah agak gelap sejak semalam mengintip malu-malu dari balik leher kaos.
Masa, sih, makhluk seelok ini datang ke pelukan Donghyuck hanya karena Donghyuck hoki?
"Nih." Jaemin menyodorkan salah satu gelas, terlihat agak bingung karena Donghyuck tidak merespon ejekannya.
Saat mengambil gelas dari tangan Jaemin pun, dia melakukannya tanpa banyak polah. Padahal biasanya heboh minta tukar gelas, minta sedotan, minta tambah es, minta cium. Tehnya diminum dalam diam.
"Sayang?" tanya Jaemin lagi, mulai khawatir sungguhan. "Kamu kenapa? Aku cuma tinggal lima menit kamu sudah berubah pendiam gini."
"Aku tuh, ya, Jaemin," jawab Donghyuck sambil meletakkan gelas di langkan jendela. "Kayanya satu-dua hidup yang lalu pernah jadi pahlawan dunia, deh."
"Mmh? Gak yakin," balas Jaemin jahil tapi Donghyuck tidak indahkan.
"Aneh banget ya kita bisa pacaran begini?"
"Bicaramu yang aneh, Haechan." Jaemin mengernyit bingung sambil mendudukkan diri di pinggir ranjang. Sudah biasa menanggapi racauan random pacarnya tapi kali ini wajahnya Donghyuck bilang kalau ini bukan sebatas lamunan iseng.
"Maksudku, uhm... dari sekian banyak orang? Dari segini banyak," Donghyuck melemparkan kedua lengan ke depan dada, merujuk ke dunia di luar jendela, "kemungkinan buat kamu dapat pasangan, kok bisa sampainya di aku."
"Ya karena aku sukanya kamu."
Cara Jaemin mengucapkannya sederhana sekali, seperti itu pengetahuan umum; mutlak; tidak bisa diganggu-gugat bahkan jika surga ganti penguasa. Keyakinan di suara Jaemin membuat muka Donghyuck merah sampai leher.
"Sepertinya gak bakal ada timeline lain dimana aku gak jungkir-balik jatuh hati sama kamu," tambah Jaemin lagi, lebih ke diri sendiri.
Donghyuck membuang muka, matanya memilih mengikuti tetes embun di sisi gelas teh jatuh dan berdiam di langkan jendela, karena kalau dipaksa melihat wajah pacarnya saat dia bicara tulus begini bisa buat Donghyuck gila saking sukanya. "Oke, Penggombal." Kemudian, karena satu sudut di hatinya masih terasa mengganjal, "Tapi tetap saja, kalau bukan karena kita gak sengaja sama-sama diterima di SM, ketemu pun gak akan pernah, kan? Kalau kita gak ketemu, gimana bisa kita saling suka. Kalau gak saling suka, mana mungkin kita pacara—"
"Haechan, hei," Jaemin merangsek maju, berlutut di depan Donghyuck sambil menangkupkan kedua telapaknya di lutut sang pacar. Mendongak dari posisinya di lantai, dia tanya, kali ini tanpa nada mengejek, "kamu sudah sering mikir soal ini, ya?"
Donghyuck meringis kecut sebagai balasan. "I'm just saying- Jaemin- Maksudku," satu tarikan napas. "Kalau kita bertemunya karena kebetulan, gimana kalau nanti kita juga kebetulan pisah? Kebetulan putus? Kebetulan gak saling suka lagi?"
Jaemin merenung serius. Matanya tidak lepas dari wajah Donghyuck. "Aku gak yakin itu hal yang bisa kebetulan terjadi, Baby."
Donghyuck memanyunkan bibir. Tahu kalau kekhawatirannya ini agak tidak rasional. Dia dan Jaemin disini berdua; sama-sama. Mereka punya komitmen, punya sistem komunikasi, punya harapan buat masa depan berdua. Seharusnya yang terjadi lalu-lalu tidak berpengaruh sebesar ini ke Donghyuck. Memangnya apa pentingnya meributkan soal bagaimana mereka pertama bertemu? Yang penting kan Donghyuck punya Jaemin sekarang. Yang penting mereka fokus dengan yang mereka punya sekarang.
Tapi, tetap saja, takut seperti ini mana bisa dicegah.
Donghyuck tahu kekhawatirannya tidak rasional, Jaemin juga kemungkinan berpikir sama, tapi dia tetap disini memperlakukan Donghyuck seperti seluruh racauan otaknya valid; seperti dia siap mendengar dan mengobati satu-satu pikiran negatif Donghyuck seberapa pun tidak masuk akal.
Donghyuck menunduk, menatap balik Jaemin lekat-lekat. Cowok itu masih berlutut di lantai, ibu jarinya mengelus tempurung lutut Donghyuck lembut. Bulu matanya menyapu kulit atas pipi tiap kali berkedip. Satu bagian dada Donghyuck ngilu tiap disadarkan ulang seberapa cantik orang di hadapannya ini.
Meraih dagu Jaemin dengan telunjuk, Donghyuck memajukan badan, mengecup Jaemin agak serakah. Bibir keduanya dingin setelah dipakai minum air es, tapi afeksi yang tersalurkan lewat ciuman itu buat seluruh bagian badan Donghyuck yang lain hangat.
Hangatnya berubah panas saat Jaemin meninggikan badan. Satu tangannya ditumpukan di pegangan kursi, sukses mengurung Donghyuck dalam satu gerakan luwes. Satunya lagi dipakai untuk menahan dagu pacarnya agar kepalanya tetap di tempat. Donghyuck tanpa sadar mengerang kecil saat Jaemin menautkan lidah mereka, selalu senang dicium dalam-dalam.
Otak Donghyuck kelabakan tidak bisa berpikir. Hanya bisa menyuplai satu-satu kata sifat patah-patah. Panas. Basah. Tidak bisa bernapas.
Tinjunya Donghyuck dipukul-pukulkan setengah hati ke lengan atas Jaemin, separuh masih ingin dicium separuh tidak mau mati konyol. Jaemin melepaskan pagutannya segera. Masih mengungkung Donghyuck dengan lengan, Jaemin amati pacarnya itu ambil napas dalam-dalam sambil berusaha mengatur napasnya sendiri.
"Ini masih pagi?!" protes Donghyuck pura-pura, walaupun satu tangannya sudah menarik kaos Jaemin untuk membawa cowok itu kembali mendekat, beri satu, dua, tiga kecupan, empat, lima, enam jilatan di tulang selangka, tepat di atas bekas isapan yang dia tinggalkan disana.
"Makanya jangan cantik pagi-pagi," balas Jaemin tanpa jeda, tanpa rasa malu atau bersalah.
Donghyuck terkekeh senang, membiarkan dirinya disirami pujian dan tatapan kagum Jaemin.
"Aku mencintaimu dengan sengaja, Donghyuck-ah," bisik Jaemin, napasnya hangat di pucuk hidung Donghyuck. "Mungkin kita bertemunya karena kebetulan, tapi semua yang terjadi setelah titik itu, semua... uhm. Semua yang aku lakukan setelah itu, kalau menyangkut kamu, I put efforts into them. Cari perhatianmu; belajar tentang kesukaanmu dan kegaksukaanmu; bangun keberanian buat minta kamu jadi punyaku, semuanya gak ada yang kebetulan. Semuanya sengaja. Aku ada di hubungan ini sama kamu karena aku mau. Dan kedepannya, aku juga bakal tetap sengaja berikan waktu dan usahaku buat kamu. Kamu gak akan pernah nemu aku kebetulan punya waktu untukmu, I'll purposely make time for you."
Gelagapan karena Jaemin tanpa tedeng aling-aling pakai kata 'cinta', Donghyuck diam saja. Separuh berat kepalanya dia sandarkan ke telapak Jaemin yang entah sejak kapan beralih dari mencengkeram dagu jadi menangkup pipi.
"I tried- I'm trying to do my best here," bisik Jaemin lagi.
"Aku tahu, Jaemin," Donghyuck menoleh sedikit, menempelkan bibirnya ke telapak Jaemin beberapa lama. "I can see that. Makasih banyak."
Jaemin tersenyum kecil, tapi lama-lama makin lebar walaupun sudah coba ditahan.
"Maaf, aku gak bermaksud mengecilkan hubungan kita."
"Mmm," Jaemin menciumnya lagi sebagai jawaban.
Donghyuck baru saja akan menggantungkan kedua lengannya ke leher sang pacar saat Jaemin memisahkan diri.
"Yang ini aku juga sengaja," kata Jaemin sambil memundurkan diri, kembali duduk di pinggir ranjang, pahanya direnggangkan barang sedikit, beri ruang untuk Donghyuck kalau dia mau naik. "Bukan kebetulan kecium bibirmu."
"Geez," Donghyuck memutar mata, menerima undangan Jaemin, meraih gelas teh untuk diteguk sisa isinya, kemudian bangkit dari kursi, naik ke pangkuan Jaemin dan membiarkan pinggangnya dirangkul sepasang lengan kokoh.
