Actions

Work Header

Under a Flash of Lightning

Summary:

Saat cuaca buruk, sesuatu yang tak terduga datang ke kediaman Juyeon.

Work Text:

Semilir angin dingin adalah hal pertama yang menyapa indra peraba kala daun pintu sepenuhnya dibuka. Juyeon berdiri di ambangnya dengan tangan yang masih menyentuh ujung kenop. Matanya menyipit, alisnya berkerut, mencari tahu siapa sosok yang baru saja mengetuk pintu apartemen. Gelap langit malam dan padamnya listrik menjadi perpaduan pas untuk membuat penglihatannya nyaris terhalang sempurna, jika saja petir tidak menyambar saat itu juga, memberi penerangan sekilas dibalik gelapnya koridor apartemen. 

Sesosok pria asing tengah berdiri di hadapan terekam jelas pada penglihatan Juyeon dibawah kilatan petir yang menghantam. Satu buket mawar merah layu senantiasa sosok itu pegang. Di sekitar sepatu hitam pria itu terlihat butiran air transparan berceceran dimana-mana, praktis membuat Juyeon menilai bahwa dirinya mungkin baru saja menembus derasnya hujan di luar sana.

Petir menyambar kedua kalinya. Kilat cahaya ungu menyilaukan mata membuat wajah sosok misterius itu terungkap. Juyeon justru tersenyum saat melihatnya. Dengan alasan yang tidak diketahui, bulir-bulir kaca bening turun dari sudut mata tanpa diminta. Kakinya lemas nyaris kehilangan pijakan sebelum tangan pria lain membawa tubuhnya ke dalam pelukan tiba-tiba, merelakan bunga itu jatuh dari genggaman tangannya.

Kurva cantik milik Juyeon berubah menjadi segaris lengkungan tipis menyakitkan. Lee Sangyeon. Akhirnya kembali. Nama yang jarang lagi dia sebutkan. Nama yang berhasil merenggut hidupnya dengan tanpa kehadirannya. Nama yang sempat membuatnya berpikir bahwa tak ada lagi kesempatan untuk dapat melihatnya kembali.

Tangis Juyeon pecah di pundaknya. Jemari ramping kini tak lagi menggenggam kenop pintu melainkan membalas dekapan yang tak kalah erat dari pria itu. Juyeon meremat pakaian basahnya dengan sedikit pukulan ringan disana, untuk menyalurkan rasa sakit dengan rasa bahagia secara bersamaan diatas tubuh bidangnya. Tak peduli seberapa banyak air yang merembes melalui pakaiannya sendiri, Juyeon hanya berpikir, jika dia melepaskan, maka dia akan kehilangan.

"Maaf saya datang terlambat," Sangyeon melepas dekapan dengan sedikit paksaan meskipun dia tahu keduanya pasti enggan. Bagaimanapun Sangyeon ingin melihat wajah orang yang dicintainya dengan jarak yang begitu dekat, menatapnya melalui cahaya bulan yang tertutup awan hitam.

"Lee Juyeon," Pipi lembut di tangkup oleh tangan-tangan yang terlihat kokoh. Sangyeon memastikan maniknya menatap manik Juyeon dengan benar. Dia mengusap jejak air matanya yang dirasa tak mau menghilang dari sana.

Dengan nada rendah pria itu berkata lagi, "Terimakasih, telah bertahan dengan baik untukku," Demi menyampaikan segala hal yang gagal terucap melalui kata-katanya, dia mendaratkan ciuman suci dibibir yang lebih muda. Rindu menguar terlalu kuat di dalam dada membuat Juyeon mau tak mau membalas ciuman itu. Dia membalas, sebagai ciuman selamat datang kembali.

Ciuman berjalan dengan tempo lambat, kedua pasang manik terpejam merasakan bagaimana sentuhan itu akhirnya datang sebagai obat kerinduan. Petir menghantam ketiga kalinya terabaikan. Tak terasa, semua hal berlalu begitu saja. Dengan mudah keduanya melupakan rasa sakit yang selama ini telah mereka pendam dalam diam.

 

|The End|