Work Text:
Pesawat penerbangan Vancouver-Seoul baru saja mendarat, seorang pria yang memangku putranya tampak begitu khawatir. Tapi siapa sangka kalau anak kecil berusia 5 tahun itu tidak ketakutan sama sekali padahal ini adalah penerbangan pertamanya setelah dia bisa bicara dan jalan dengan lancar.
"Dad! I want to go downstairs!" Serunya saat mereka berjalan keluar pesawat dan melihat keluar kaca.
"No, Yujin-ie. Step carefully, we can't go down on the runway. It's dangerous."
"Oh..." Pipi gempalnya terpaksa mengatup karena sang ayah tidak memperbolehkannya turun ke landasan pesawat.
"Come on, you want to be carried by me?" Karena anaknya susah berjalan dan melihat ke bawah terus, dia susah membawa keluar anaknya itu.
"No, Dad. I'm just so interested in planes and all about the airport."
Akhirnya sang ayah tersenyum dan mengusap kepala anaknya, "Then, someday you must be a pilot."
"What it's pilot?"
"People who can drive the plane. Would you like to?"
"Yes! I must be a pilot! I will drive the plane and carry you everywhere you want to go!"
"It's great baby!" Tak habis-habisnya dia gemas dengan sang buah hati.
"Come on, Yujin-ie. You must be strong enough to be a pilot, let's eat delicious food!"
"Can i get porridge, Dad?" Tanya bocah kecil yang akhirnya mengikuti sang ayah sambil menggandeng tangannya.
"Porridge or mandu?"
"Both please..."
"Hahaha okeyy, you can have it all."
"Yeyy thank you! I love you, Daddy!"
"Love you toooo..."
Selesai mengambil dua koper, mereka kembali berjalan ke tempat makan. Benar-benar tidak ada lelahnya padahal mereka 17 jam penerbangan dan perbedaan waktu juga tapi Yujin sangat mudah saat disuruh tidur dan bangun dengan segar. Di pesawat juga Yujin tidak ada bosannya sama sekali karena sang Daddy membawakan puzzle dan lego untuk mereka mainkan bersama.
"Gyuvin!!" Mendengar namanya dipanggil langkah Gyuvin langsung berhenti dan beramaan dengan Yujin yang mendongak menatap ayahnya.
Senyum Gyuvin mengembang melihat sepupunya yang berlari sambil tersenyum menghampirinya, dibelakangnya juga ada perempuan cantik yang di yakini adalah calon istri sepupunya ini. Kepulangan Gyuvin ke Korea memang untuk menghadiri pernikahan mereka.
"Dad, who is that?" Yujin bertanya seperti itu saat melihat Jeongwoo dan calon istrinya berlari menghampiri mereka.
"They're your uncle and auntie, greet them politely by saying annyeonghaseyeo." Gyuvin tersenyum menatap wajah lucu anaknya yang bingung, hal ini membuat kesannya kembali ke Korea lebih baik dari yang dia bayangkan.
"Beri salam, Yujin-ie." Gyuvin sebenarnya mengunakan dua bahasa di rumah tapi Yujin tidak terlalu mengerti saat Gyuvin bicara Korea, hanya terkadang dia tahu tapi tidak bisa membalasnya.
"Annyeonghaseyeo~" Dengan lucu Yujin membungkuk memberi salam. Membuat sepupu Gyuvin itu ikut kegemasan dan langsung mengusap kepala Yujin.
"Jeongwoo-ya..." Mata Gyuvin berkaca-kaca, dia terharu sekali karena Jeongwoo keluarganya satu-satunya yang masih menghubunginya dan mengundangnya langsung untuk datang kepernikahannya minggu depan.
Gyuvin menanggapi pelukan Jeongwoo sesaat melepaskan gandengannya dari Yujin.
"Kenalkan, ini kekasihku Minji." Jeongwoo memperkenalkan wanita cantik yang asik melambaikan tangan pada Yujin dengan lucunya lalu membungkuk pada Gyuvin menyapanya.
"Apa kau sangat asing denganku?" Tanya Minji seperti menandakan mereka pernah bertemu, kemudian Gyuvin pun jadi berkedip pelan mencoba mengingatnya.
"Minji dan kita satu sekolah, dia anak multimedia." Jeongwoo memberitahunya dan Gyuvin mengangkat kepalanya excited, tidak menyangka kalau mereka ternyata pernah bertemu tapi Gyuvin dan Jeongwoo SMA biasa sedangkan Minji mengambil kejuruan.
"Tak heran sih kau kan sangat terkenal, apa lagi kau berpacaran dengan ketua osis itu." Minji mengingat masa lalunya yang satu sekolah tidak ada yang tidak tahu Gyuvin dan mantan kekasihnya.
Gyuvin tertawa pelan, "Bukan aku yang terkenal, tapi dia. Jadi yaa aku ikut di kenal deh."
Jeongwoo sedikit lega melihat Gyuvin yang tersenyum dan sangat sehat seperti sekarang ini. Dia juga senang bertemu dengan Yujin dan sangat menyayangkan kenapa orang tua Gyuvin tidak menerima mereka dengan baik.
"Ah sini biar aku bantu bawa kopermu." Jeongwoo langsung mengambil alih koper Gyuvin yang tidak menolak untuk dibawakan.
Obat yang terbaik adalah memaafkan, sekalipun bukan berarti dirinya tidak bersalah. Tapi berdamai dengan diri sendiri membuat Gyuvin bisa sampai di titik ini, membuat Gyuvin bahagia dengan hidup yang dia jalani bersama Yujin di Toronto.
----#----
Pagi yang cerah Gyuvin bangun sangat pagi untuk membuat sarapan. Dia berencana menetap disini selama seminggu lebih jadi dia memilih menyewa apartement. Dia duduk sarapan sambil membuka laptopnya, selama ini dia bekerja remote jadi dia punya banyak waktu bersama Yujin dan hampir tidak pernah meninggalkan anaknya setelah dia lulus kuliah tahun lalu.
Sebenarnya Gyuvin sedang mengambil cuti dari dua pekerjaannya, tapi rasanya dia tidak bisa benar-benar meninggalkan semua ini karena sudah menjadi kegiatannya setiap hari. Beralih dari gambar-gambar grafik di hadapannya, Gyuvin menoleh saat ponselnya berdering mendapati panggilan dari 'Matthew Hyung', senyumnya mengembang dan tanpa pikir panjang langsung mengangkatnya.
"Halo Hyung!!" Seruannya sangat lantang, dia rindu sekali hyungnya satu ini, bahkan saat dia ke Vancouver sebelum berangkan kesini dia mampir ke rumah keluarga Matthew, tapi pria itu sedang ke Los Angeles karena pekerjaannya.
[Kenapa kau tidak bilang padaku, kau sungguh pergi ke Korea?!] Bukan bentakan, hanya sedikit nada keheranan yang tidak dia sangka. Sebagaimana dia mengerti Gyuvin walaupun tidak ada ikatan keluarga, tapi dialah yang menolong Gyuvin dari segala rasa traumanya dan membantunya mengurus Yujin sampai sebesar ini.
"Jeongwoo minggu depan mau menikah, aku pernah bilang kan dia menghubungiku dan ingin sekali aku datang." Gyuvin juga tidak enak karena Jeongwoo adalah saudara yang juga menjadi temannya karena mereka satu sekolah saat SMA.
[Kau akan bertemu keluargamu? Kenapa kau tidak bilang padaku, aku atau Jiwoong Hyung kan bisa menemanimu kesana.] Semuanya sangat mendadak untuk Matthew, tapi tidak untuk Gyuvin yang sudah memikirkan banyak hal sampai dia memutuskan dia benar-benar akan ke Korea lagi.
"Aku baik-baik saja Hyung. Tidak perlu khawatir. Aku sangat mengenal Korea kok." Balasannya malah bercanda, padahal Matthew pun merasakan berapa besar tekanan batin Gyuvin saat memutuskan untuk pergi kesana.
[Kau pergi ke pernikahan Jeongwoo sama siapa? Aku khawatir padamu dan Yujin.]
"Hmm..." Gyuvin tidak berpikir dia berangkat dengan siapa selain dengan anaknya tapi ya kemungkinan besar dia dengan temannya, "... Gunwook?"
Pria di beda benua itu terdiam sesaat dan kemudian melirih, [Gyuvin...]
"Ah dia belum tahu aku kesini. Tapi dia kan juga teman Jeongwoo. Dia pasti juga diundang." Tak ada tanggapan dari lirihan berbeda arti itu, Gyuvin menyesap kopi panasnya dengan santai karena di telah berdamai untuk segala hal yang menyakitkan.
[Baiklah, nanti aku hubungin Gunwook dan menjagamu dan anak kal—]
"Tidak usah Hyung, biar aku saja. Aku ingin melihatnya terkejut karena tiba-tiba aku dan Yujin disini." Gyuvin tersenyum sambil melihat keluar, sudah membayangkan betapa senangnya Gunwook karena sebelumnya dia perlu izin yang lama dan perjalanan panjang untukk bertemu Yujin.
Obrolan mereka berakhir saat Yujin sudah bangun dan Gyuvin harus mengurusnya terlebih dahulu. Yujin anak penurut yang selalu mendengarkannya, sehingga tidak sulit bagi Gyuvin yang tinggal berdua saja dengan anaknya selama dua tahun ini. Semua ini berkat orang tua Matthew yang mengurusnya bagai cucu sendiri dan Gyuvin juga sudah di anggap seperti anak sendiri.
Kemudian saat jam menunjukan 11 siang, Gyuvin kedatangan tamu yaitu teman-teman dekatnya saat sekolah.
"Gyuvin-ahhh!!"
"AAA AKU SANGAT MERINDUKANMU!"
"Hiks... Hiks... Gyuvin..."
Pertemuan mengharukan ini membuat derai air mata tidak tertahan apa lagi Gyuvin dan Jaehyun yang gampang menangis. Taesan dan Sohee sebenarnya juga ingin menangis tapi mereka selalu menahannya saat dua yang lain sudah menangis seperti ini.
Gyuvin memeluk Jaehyun lebih erat dari yang lainnya, dia benar-benar sesayang itu dan minta maaf karena dia baru berani kembali pada mereka setahun yang lalu. Gyuvin serasa menghilang di telan bumi saat dia pindah ke Kanada, hingga tahun lalu dia sendiri yang memberanikan membuka kembali social medianya dan menghubungi mereka duluan. Walaupun masih sulit menceritakan kenapa dia seperti ini bertahun-tahun tapi Gyuvin tidak menutupi bahwa dia sekarang sudah memiliki seorang putra.
"What makes you cry, Dad?" Yujin yang duduk dipangkuan Gyuvin menghapus air mata ayahnya dan dibalas senyuman serta kecupan sayang pada keningnya.
"Wahh, pergi bertahun-tahun tanpa kabar kau sudah punya anak." Jaehyun yang masih menghapus air matanya masih bisa mengoceh karena memang ya mereka semua terkejut dengan kenyataan itu.
"Tapi kenapa wajahnya tidak western? Pasanganmu juga orang Asia?"
"Ya begitulah. Your family name is what?" Gyuvin tersenyum sambil berbicara pada Yujin.
"Park! I'm Yujin Park. The Park name is Appa's name right?"
"Correct!"
"Ah bisakah kalian berhenti bicara bahasa inggris. Aku tidak mengerti." Taesan memasang tampang datar begitu juga dengan beberapa teman lainnya.
"Bisa-bisanya putus dari Park Gunwook kau dengan Park lainnya?" Jaehyun menggeleng pelan.
"Bahkan sampai Kanada kau mendapatkan Park lagi." Taesan seperti meledek dan Gyuvin hanya tertawa pelan.
"Dad, did your friend mention Appa's name?"
Gyuvin menatap Yujin sambil menggeleng pelan, "It's not like that, many people have a family named Park, especially in Korea."
"Then they are part of my family?"
"No, it's hard to understand that situation. Even though someone has the name Park doesn't mean there is a family relationship between you." Gyuvin sudah terbiasa menghadapi pertanyaan anaknya yang baru 5 tahun 5 bulan tapi sudah banyak bertanya.
"Heiii sudah sudahhhh." Sohee memegangi kepalanya yang pusing karena tidak mengerti Gyuvin bilang apa.
"Yujin, ayo bicara dalam bahasa Korea saja. Kamu orang Korea asli, ayo bisa." Sohee bicara cepat sekali sampai membuat Yujin menoleh karena dipanggil tapi bingung harus balas apa.
"Nanti Yujin belajar Bahasa Korea ya." Gyuvin mengelus kepala Yujin yang bersender padanya.
Mereka pun kembali mengobrol banyak hal, tentang masa lalu mereka dan apa yang mereka lakukan sekarang. Walaupun lama tak bertemu tapi mereka tidak berubah, hanya saja mereka sekarang menjadi lebih dewasa menanggapi sesuatu.
"Aku tidak menikah." Gyuvin akhirnya berkata sejujurnya saat teman-temannya beberapa kali bertanya menikah dengan siapa dia hingga memiliki Yujin.
"B-Bukannya kau tinggal dengan orang tuamu disana?" Tanya Taesan sedikit bingung apa Gyuvin dibiarkan begitu saja saat dia tidak menikah tapi memiliki anak.
"Aku tinggal di Toronto bersama Yujin dan orang tuaku tetap di Korea. Banyak hal yang terjadi hingga aku tidak bisa tinggal disini lagi." Gyuvin ini menjadi terbuka seperti itu, ingin sedekat dulu lagi jadi sedikit-sedikit dia ingin membuka diri lagi karena dia Kanada dia tidak menemukan teman seperti mereka bertiga.
"Sebentar, usia Yujin sudah 5 tahun 5 bulan katamu. Kau sepertinya belum pergi selama itu, kau mengandungnya saat masih di Korea?" Sohee tiba-tiba menatapnya dengan binar mata tersentuh dan bersalah, begitu juga dengan yang lainnya karena baru menyadari gak itu
"Yujin.... Bukan anaknya Park Gunwook kan?" Tiba-tiba pertanyaan Taesan membuat semuanya terdiam menatap Yujin yang asik main di bawah.
"Menurutmu itu masuk akal? Gunwook dan Gyuvin sudah berpisah dari sebelum ujian akhir, lagian Gunwook anak perdana menteri mana mungkin berbuat seperti itu." Oceh Jaehyun tanpa dia sadari itu bisa saja berkata bahwa Gyuvin buruk tapi Gyuvin mengerti sekali karakter temannya ini.
"Hmmm tapi kenapa... Mirip?" Sohee ikut menatap Yujin dengan bingung.
"Orang-orang di Kanada selalu bilang Yujin 100% mirip denganku." Gyuvin bahkan sengaja memanjangkan rambutnya sepertinya saat balita.
Ting! Tong!
"Eh itu pasti makanan!" Jaehyun langsung berdiri karena dari tadi mereka sedang menunggu makanan.
"Yujin, leave your toys. We'll eat now."
"Ok, Dad. I'll take care of this first." Yujin langsung berhenti main mobil-mobilan dan berlari ke kamar unttuk menaruh mainannya di kotak mainan yang dibawa oleh Gyuvin.
----#----
Gyuvin dan Yujin sudah di Seoul selama 5 hari sedangkan acara pernikahan Jeongwoo masih besok lusa, mereka memang sengaja datang lebih awal untuk jalan-jalan dan setelah pernikahan itu dia akan mengajak Yujin main ke Jeju sebelum kembali ke Toronto.
Waktu yang mereka habiskan di Seoul benar-benar menyenangkan, hanya satu hari mereka diam di rumah karena teman-teman Gyuvin datang. Selebihnya mereka selalu pergi keluar dan terkadang bersama Jeongwoo juga saat sepupunya itu tidak sibuk. Tapi kini mereka hanya berdua, menghabiskan waktu dengan jajan di Myeongdong dan ke cafe anjing yang punya es krim enak sekali.
Malamnya, mereka ke restoran mewah untuk makan steak. Memilih tempat di rooftop karena Yujin suka pemandangan malam dan melihat bintang. Mereka duduk bersebelahan dengan kursi bayi yang diduduki Yujin Park.
"Is there mandu in here?"
"Nope, Yujin-ie. It's French restaurant, we'll eat lot of meat and pasta. Are you like it?" Gyuvin membuka menu setelah menoleh pada anaknya yang kemanapun akan mencari mandu rebus.
"I like it! As long as it's delicious, I can eat anything!" Yujin sangat bersemangat walaupun sudah malam.
"Good boy! You want to eat crepe for an appetizer?"
"Yes I want~"
Setelah memesan Gyuvin memotret Yujin yang terlihat menikmati pemandangan dan angin yang tidak terlalu besar ini. Tapi bagaimanapun Gyuvin takut Yujin sakit jadi dia memakaikan syal pada leher anaknya dan tak lama appetizernya datang, dia menyuapi Yujin yang selalu bersemangat kecuali sayuran.
"Yujin, how do you feel about Seoul?"
"It's great. The mandu they make is similar to the one you made yourself." Masih tentang Mandu, karena dibeli dimana saja itu rasanya lebih enak dari mandu instan yang terkadang Gyuvin beli kalau tidak sempat buat.
"What is your favorite thing about Seoul besides mandu?" Gyuvin sendiri suka sekali mengajak bicara anaknya hingga anak itu sebawel ini.
"So much food in Seoul is so delicious. I love the weather while I eat that. I'm having a great time living in Seoul." Jawabannya membuat Gyuvin tersenyum senang.
"How about we live here??"
"We leave our home then move here?"
"Right, what do you think?"
Yujin mengangguk cepat, "It's amazing, Dad! I want to live here."
"How do you feel about living with your Appa in the same county and city??m" Pertanyaan itu langsung membuat Yujin membelakan mata kaget.
"My Appa is here? Why... Why didn't gift me anything, Dad?"
"Hmmm, would you like to receive his gift or meet him?" Gyuvin seolah menggoda Yujin yang berhenti makan dan menatap ayahnya dengan serius.
"I want him. I want to meet him right now, huh i miss him so much." Sekarang mata itu berkaca-kaca karena selama ini ayahnya hanya memberi kado saja setiap bulannya dan Gyuvin baru sekali memberikan kesempatan mereka untuk bertemu.
Kemudian Gyuvin tersenyum sambil menoleh pada pintu rooftop. Seperti datang tepat waktu, dari sana seorang pria dengan kemeja hitam dan wajah risau itu terburu-buru melangkah keluar sebelum akhirnya melihat Gyuvin bersama Yujin disana.
"Appa!" Seruan itu membawa rasa haru bagi seorang ayah yang selama ini selalu bersabar untuk bisa menemui anaknya.
"Gunwook-ie!" Gyuvin melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar, dia berdiri dan menyambut Gunwook yang baru tadi sore dia hubungi. Pria itu tadinya sedang berada di Pohang dan langsung mengambil penerbangan saat itu juga untuk kembali ke Seoul.
Langkah Gunwook lemas, wajah terkejutnya tidak bisa dia sembunyikan. Jantungnya terasa ingin jatuh saat Gyuvin tadi sore menghubunginya lebih dulu, seperti sesuatu yang tak pernah terjadi selama enam tahun ini, matanya juga berkaca-kaca karena dia bisa melihat Gyuvin dan Yujin lagi.
"Dad, can I get up from the chair now?" Yujin yang melihat sang Appa seperti akan menangis itu ingin menghampirinya.
"No, Yujin-ie. Don't worry, Dad will bring your Appa." Gyuvin menghampiri Gunwook dengan cepat dan tanpa ragu meraih tangannya untuk membawa pria itu para Yujin yang sudah sangat bersemangat.
"Appa~" Kedua tangan anak mungil itu terangkat, Gunwook melepas genggaman Gyuvin dan segera mengangkat putranya ke dalam gendongannya.
Keduanya berpelukan, Gunwook memeluk anaknya begitu erat sambil mengelus kepalanya, persis seperti pertama kali dia bertemu dengan Yujin dua tahun lalu. Tanpa disangka kali ini Yujin juga ikut menangis, itu membuat hati Gyuvin terasa sangat rapuh, Yujin begitu menyayangi Gunwook sejak awal mengetahui orang tuanya lengkap.
Gyuvin yang biasanya menangis, kini menhana diri mati-matian. Dia mengelus punggung Yujin yang terisak dan sebelah tangannya juga mengusap air mata Gunwook yang jatuh. Dalam hati dia berucap maaf, karenanya dia membuat anaknya sulit di temui Appanya sendiri.
Memaksa dirinya untuk memaafkan segala hal yang menyikitinya itu tidak mudah. Sekalipun dia merasa sudah melewati itu tapi nyatanya rasa takut masih ada. Walaupun kini dia melihat betapa senang anaknya dipangku Gunwook dan dihibur sampai tersenyum lagi, Gyuvin pun ikut tersenyum dan merasa nyaman.
"Ayo makan lagi." Karena main course sudah datang, Gyuvin menyuapi Yujin yang tidak mau duduk sendiri dan Gunwook juga senantiasa memangkunya karena rindunya yang masih sangat besar.
"You're eating well!" Gunwook menjawil hidung kecil anaknya dengan gemas.
Yujin langsung kesenangan dan berkata, "Daddy always gives me a good meal."
"But it's the mandu you've always been looking for." Saat Gyuvin meledeknya Yujin malah terkekeh dan tidak berani membantah. Gunwook ikut tersenyum dan dia tahu itu makannya setiap dia ke Toronto, dia selalu membawa mandu dari Korea dan Gyuvin selalu berkata ini dari Appa saat memasaknya untuk Yujin.
"Apa Yujin masih susah makan sayur?" Tanya Gunwook menatap Gyuvin yang masih menyuapi Yujin.
"Yah begitulah, di atidak mau sayuran hijau kecuali dihalusin dan mencampurnya dalam nasi." Gyuvin mengusap bibir Yujin membersihkannya dari saus pasta.
"Beberapa bulan ini aku sedang mengembangkan mandu sayur, nanti kalau sudah diperdagangkan aku akan bawa banyak sekali untuk Yujin." Gunwook tersenyum senang, dia terinspirasi dari anaknya yang susah makan sayur tapi sangat menyukai mandu.
"Benar kah?" Gyuvin bergitu tertarik dan Gunwook mengangguk cepat sambil mengusap kepala Yujin dan mengecupnya.
"Yujin-ie pasti sangat senang punya Appa sepertimu." Perkataan bangga itu membuat hati Gunwook tersentuh sekalipun dia tahu tidak bisa berharap lebih dari perkataan itu.
Setelah Yujin selesai makan, baru mereka berdua bisa makan juga dan membicarakan rencana Gyuvin yang ingin datang ke pernikahan Jeongwoo.
"Denganku?" Gunwook sebenarnya sudah hampir menggubungi Jeongwoo minta maaf tidak bisa datang karena project mandunya ini sedang di kejar finishing dan dia sebagai ahli dibidangnya ingin memantau sampai targetnya tercapai.
"Kau sedang sibuk ya?" Gyuvin tidak memaksa, dia hanya ingin seperti itu karena Yujin pasti akan senang.
Gunwook menggeleng cepat, "Tidak, aku bisa kok. Kalian menginap dimana? Beritahu aku biar aku jemput." Mendengar itu Gyuvin pun tersenyum lagi dan setiap senyuman itu Gunwook selalu mendapat perasaan yang tidak pernah berubah selalu meletup-letup.
Setelah dinner selesai, mereka berjalan-jalan di sekitar sambil mencari es krim karena Yujin ingin makan es. Tapi baru berjalan sebentar, Yujin yang berada di gendongan Gunwook sudah tertidur pulas sehingga malah Gunwook dan Gyuvin lah yang minum kopi di malam hari. Mereka duduk di taman kota yang sepi karena bukan hari libur dan sesekali melihat Yujin yang tertidur pulas tidak mau berganti posisi dari kepalanya di pundak Gunwook.
"Kau tidak apa-apa minum kopi di malam hari?" Tanya Gunwook sambil menerima kopi yang di sodorkan Gyuvin padanya, karena kedua tangannya menggendong Yujin yang tertidur pulas.
"Di Toronto sekarang pagi, aku akan bekerja sampai agak larut disini baru tidur. Kalau kau?" Gyuvin tidak merasa dia mengenal Gunwook yang sudah lebih dewasa dari terakhir mereka bersama.
"Aku akan kembali ke lab setelah ini." Kemudian Gyuvin kembali menyodorkannya lagi dan Gunwook menyedot americano itu sedikit banyak.
"Omong-omong, saat pernikahan Jeongwoo nanti... Apa ada ayah ibumu disana?" Gyuvin tahu, pasti Gunwook akan menanyakan hal ini.
"Kalau ada pun, kau tidak perlu bicara apa-apa padanya." Tatapan Gyuvin seperti peringatan, karena sebelumnya Gunwook juga hampir pergi menemui orang tua Gyuvin untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Aku mengerti, aku hanya khawatir bagaimana perasaanmu nanti." Gunwook menatapnya khawatir, dia tahu Gyuvin tidak ingin orang tuanya tahu yang membuatnya seperti ini adalah Gunwook.
"Aku sudah bilang, aku tidak lagi memikirkannya. Aku juga benci kau khawatirkan seperti ini." Keadaan tiba-tiba menjadi sentimental saat mereka membahas tentang orang tua Gyuvin.
"Tapi apa kau pernah memikirkanku? Apa kau tahu aku juga mengalami banyak—"
Gyuvin menoleh guna menghentikan perkataan Gunwook, "Kita tenang hidup seperti ini. Kau tidak menyukainya?"
"Tidak." Jawaban itu di sertai tatapan mendalam dari Gunwook.
Kepalanya kembali mengingat kejadian dimana dia meniduri mantan kekasihnya karena sama-sama mabuk di hari terakhir mereka sekolah. Tidak ada yang berpikir itu akan menjadi rasa sakit di masa depan, keduanya bahkan berpikir ingin kembali setelah kejadian malam itu.
Tapi lima minggu berlalu tanpa komunikasi, Gyuvin positif hamil dan orang tuanya marah besar. Gyuvin tidak mau mengaku siapa yang melakukannya dan mereka pun tahu anaknya sudah lama putus dengan Gunwook, tidak akan ada yang berpikir anak teladan, putra bungsu penjabat negara itu menghamili anaknya. Gyuvin di usir dari rumah jika dia tidak mau mengugurkannya atau memberi tahu siapa yang sudah melakukan ini padanya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal?" Gunwook prustasi, dia kehilangan Gyuvin sangat lama sampai Matthew menghubunginya saat Gyuvin mengalami baby blues, depresi dan hampir membunuh dirinya sendiri.
Tapi Gyuvin yang mengalami itu sendirian tidak pernah lupa bagaimana dia sangat menyayangi Gunwook yang baru saja merayakan keberhasilannya masuk Universitas Seoul yang sangat diimipikannya. Gyuvin juga tidak berpikir ini semua salah Gunwook, dia juga salah, dia yang masih memiliki perasaan cinta dan juga menginginkan Gunwook malam itu. Rasa cinta yang begitu besar membawa keputusannya berakhir ke Kanada dan tidak ingin membawa efek buruk pada Gunwook.
Gyuvin pergi bersama Matthew yang merupakan guru Bahasa Inggrisnya di bimbingan belajar. Saat itu Matthew kira Gyuvin hanya ikut dengannya untuk liburan tapi saat sampai di Kanada ternyata Gyuvin sudah mengurus kepindahannya tanpa tahu harus tinggal dimana. Matthew marah karena dibohongi tapi Gyuvin menceritakan yang sesungguhnya dan dia tidak ingin menguguran Yujin yang kala itu masih berusia empat bulan.
"Maaf..." Gyuvin menunduk sedih, dia ingin membuat Gunwook tidak khawatir dengannya dan Yujin, tapi tiga bulan setelah dia melahirkan Gunwook sudah mengetahui semuanya.
Gyuvin yang kedatangan Gunwook di Vancouver semakin kacau dan ketakutan dia akan menghancurkan masa depan Gunwook. Dia melarang keras Gunwook bertemu dengan Yujin, dia seperti orang gila saat itu dan memohon berlutut pada Matthew. Kedatangan Gunwook saat itu bahkan tidak bertemu Gyuvin juga, dia hanya mendengarkan cerita Matthew dan akhirnya Yujin di urus orang tua Matthew dulu sampai Gyuvin selesai masa penyembuhan.
Gyuvin selalu memaksa Gunwook hidup seperti biasa tanpa memikirkan dia dan Yujin, tapi sedetikpun Gunwook tidak bisa seperti itu. Dia tidak pernah menyerah datang ke Vancouver dan selalu meminta persetujuan untuk bertemu Gyuvin dan Yujin, jika Gyuvin tidak mengizinkannya maka dia tidak akan memaksa dan hanya menulis surat saja. Sampai akhirnya saat Gyuvin mulai sembuh dan lulus kuliah, dia pindah ke Toronto melatih dirinya sendiri sebagai orang tua tunggal Yujin, dia menjadi lebih baik dan kedatangan Gunwook pertama kali ke Toronto sudah langsung mempertemukan mereka, kedua kalinya baru Gunwook bisa bertemu dengan Yujin.
Kini Gunwook beralih merangkul Gyuvin dan membawa pria yang sudah menangis itu ke dalam rengkuhannya. Gyuvin menaruh kepala pada pundak kanan Gunwook sama seperti Yujin yang kini tertidur di pundak kiri sang Appa. Bukan sekali dua kali Gunwook membujuk Gyuvin untuk memperbaiki semuanya, mengaku pada orang tua mereka dan melihat tanggapan mereka seperti apa dengan keadaan mereka yang sudah sama-sama dewasa seperti ini, jika itu baik mereka bisa menikah dan menjadi keluarga yang ideal.
"Gyuvin-ie, aku ingin kau tau ini." Gunwook mengelus kepala Gyuvin yang masih berada pundak kanannya.
"Kehadiranmu dan Yujin bukan bencana bagi hidupku. Kehancuran dalam diriku hanya akan terjadi jika kau dan Yujin pergi. Aku menyayangimu Gyuvin, perasaanku tidak pernah berubah, aku mungkin akan gila jika Matthew Hyung tidak menghubungiku kala itu, aku bersedia hidup seperti apapun asal bersamamu dan Yujin." Gunwook tidak pernah memaksakan kehendaknya karena tahu Gyuvin yang mudah tersakiti dengan perbedaan paham. Namun di dalam pikiran mereka sebenarnya sama, tidak ingin menghancurkan dan menyakiti satu sama lain.
Gunwook bahkan mencoba memutar pemikirannya dengan kenyataan bahwa, kedua orang yang saling mencintai dan punya anak tidak harus menikah. Dia mencoba memahami Gyuvin yang sembuh dengan kebiasaan orang Eropa yang banyak menormalisasi segala hal yang jika dipihal banyak juga hal positif yang membuat mental Gyuvin lebih baik. Walaupun dia harus mengubur dalam-dalam impiannya menikahi Gyuvin, untuknya yang terpenting adalah kebahagiaan Gyuvin dan Yujin.
Saat Gyuvin mulai mengangkat kepala dan menghapus air matanya, Gunwook menatapnya dengan sendu dan membantunya menghilangkan air mata itu. Gunwook mendekatkan kepalanya dan memberikan kecupan penenang pada bibir Gyuvin sebelum dia kembali mengusap pelan pipi lembut itu.
Gyuvin mengangguk dan mengenggam tangan Gunwook yang mengusap pipinya, tatapannya seolah berubah menjadi tatapan meyakinkan. Dia teringat dengan obrolannya bersama Yujin yang ingin tinggal di Korea.
"Aku mungkin akan menjalaninya dengan penuh rasa takut, tapi... aku percaya padamu." Gyuvin seperti menyerahkan hidupnya pada Gunwook, membuat pria yang menggendong anak mereka itu menatapnya lekat menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Gunwook, ayo kita menikah."
Fin.
