Work Text:
Setelah berjalan-jalan mencari jajanan, kini Sanji dan Zoro berjalan di pinggir sungai. Zoro mengikuti Sanji dari belakang sementara Sanji terus mengoceh ke sana kemari sembari melahap es krimnya. Seperti seorang bocah.
"Lu tahu gak sih kalo kucing tuh tidurnya 13-16 jam sehari? Andai gue hidup jadi kucing aja. Tidur makan main, ulang lagi," celotehnya.
"Eh duduk dulu yok, capek jalan gue," ajak Sanji. Zoro menaikkan salah satu alisnya jahil. "Masa gitu doang capek?"
"Yaudah sih?" Sanji menjawab seraya duduk di sempadan sungai. Zoro pun akhirnya ikut duduk di sebelah Sanji.
Keduanya terdiam sejenak menikmati malam waktu itu. Jauh dari rentetan orang yang juga menikmati indahnya sungai malam itu. Sanji pun mulai buka suara, "Bulannya mantul, lihat."
Tangannya menunjuk ke arah bayangan purnama yang memantul di atas permukaan sungai. Zoro ikut tersenyum. "Iya ya. Cantik."
Tapi begitu mengucap kata 'cantik' matanya melirik untuk menatap Sanji. Untung saja Sanji masih fokus dengan sungai. Tapi sedetik setelahnya Sanji menoleh ke arahnya dengan kekehan malu. "Ada hiu nggak ya sungainya?"
"Nggak adalah," Zoro menggeleng terkekeh.
Hening kembali menghiasi suasana di antara mereka. Sanji memainkan jemarinya sementara Zoro memerhatikan sekitar. Lagi-lagi, Sanji mulai bicara, "Zoro."
"Iya?" Zoro menoleh.
"Gue lega bisa temenan sama lo," Sanji berucap tanpa menatap Zoro sama sekali. Kalau dilihat sekilas—walau remang-remang—ujung telinga Sanji seperti memerah merona.
"Lo baik banget sama gue." Sanji memuji. "Kenapa?"
Zoro mendeguk. "Ya baik aja. Bersyukur deh."
"Gue bersyukur banget kok." Sanji mengangguk. Kini akhirnya mau menatap Zoro tepat di mata. Sanji membuka mulut untuk bicara, tapi ia menahan diri sejenak. Kemudian kembali berbicara, "Lo bikin gue ngerasa bersyukur banget gue memutuskan buat lanjut hidup sampe sekarang."
Zoro semakin dibuat mendeguk kaku. Ada gelenyar aneh yang menjalar di dadanya. Ia takut. Tapi melihat Sanji tersenyum seraya menepuk pundaknya membuat hatinya lega.
"Gue pengen hidup gara-gara lo, waktu itu—pas terakhir kita berantem, lo inget? Pas kita masih SMP dulu." Sanji bercerita. "Waktu lo bilang—gue harus bangun? Tapi—bukan berarti lo penyebab insomnia gue gara-gara itu nggak! Gue cuma, ya—setelah kabur dari orang bedebah itu gue masih agak takut buat tidur."
"Tapi sekarang gue udah lebih bisa tidur, gara-gara lo suka nemenin gue, hehe." Sanji menunjukkan cengirannya. Zoro tersenyum tipis.
"Makasih ya, Zoro." Sanji bersandar pada pundak Zoro.
Zoro langsung mengalihkan pandangannya kaget. Tapi tidak berjengit sama sekali. Hanya saja, jantungnya berdebar super duper kencang. Dia hanya bisa merapalkan doa-doa. Semoga Sanji tidak mendengar debar jantungnya yang kencang.
"Maaf ya," Sanji mengimbuh.
"Kenapa minta maaf?" tanya Zoro, kini ia mulai berani untuk menatap Sanji balik. Tapi Sanji tidak menatapnya.
"Mental gue nggak stabil, gue selalu aja ngerasa nggak siap. Lo ... siap nunggu berapa lama?" tanya Sanji.
Mendengar pertanyaan Sanji itu membuat Zoro memutar memorinya di tahun lalu. Zoro sempat berani untuk menyatakan perasaannya pada Sanji. Tapi respon Sanji saat itu berupa keterkejutan dan kebingungan yang luar biasa.
Insomnia, dan mental Sanji tahun lalu lebih parah daripada sekarang. Zoro merasa bodoh kalau harus mengingat memori waktu itu. Ia mengungkapkan cintanya disaat Sanji sedang kebingungan setengah mati dengan dirinya sendiri. Belum pulih dari traumanya terhadap Bapak kandungnya yang suka memukulinya dulu, lalu menerima fakta bahwa Ibunya baru saja meninggal. Kini Sanji hanya punya Ayah angkat serta Kakaknya. Entah Zoro harus mengucap terima kasih sebanyak apa karena Sanji masih mau menerimanya sampai sekarang.
"Harusnya gue yang minta maaf karena confess waktu itu. Gue bahkan gak nyangka lo, masih mau nerima gue," jawab Zoro.
"Kenapa nggak?" Sanji menegakkan duduknya dan menatap Zoro tidak percaya. "Lo—gue mau lo—"
"Gue mau sama lo, Zoro."
Mendengar pernyataan Sanji membuat seolah dunia berhenti berputar sejenak. Ya, dunia Zoro berhenti berputar dan otaknya tidak bekerja dengan benar. Ada suara meletup-letup layaknya kembang api di dalam pikirannya. Wajah Zoro di dalam remang cahaya pinggir sungai itu semakin terlihat jelas merahnya.
Tapi senyum miris Sanji itu membuat Zoro mengernyit tipis kebingungan.
"Tapi kalo lo sama gue yang sekarang, ga ada yang bakal bahagia." Sanji menggeleng. Ia menggenggam tangan Zoro. "Gue gak mau itu."
"Walaupun sakit ini ga bakalan sembuh—" Sanji menarik napas. "Tapi gue yakin mental gue akan stabil suatu hari nanti."
"Sampai hari itu tiba, sampai gue yakin gue siap, tunggu gue ya?" Sanji meminta pada Zoro. Itu membuat hati Zoro menghangat. Zoro mengangkat kedua tangan Sanji yang tengah menggenggam kedua tangannya. Lalu membawanya ke dalam kecupannya. "Sampai kapanpun bakal gue tunggu."
Zoro melepas satu genggamannya dan beralih mengusap pipi Sanji, "Lo cantik banget. Gue bangga sama lo."
"Keadaan lo sekarang bukan salah lo, gue mau lo terus nerima itu dan berdamai sama situasi lo, kayak sekarang." Zoro mengimbuh, "Lo hebat banget."
Mendengar pujian dari Zoro membuat hati Sanji terasa mencelos. Ia mendeguk, susah payah menahan air mata tapi pada akhirnya menetes juga. Melihat itu membuat Zoro panik. Tapi Sanji berkata, "Lo baik banget sama gue...."
"Gue seneng lo ada di hidup gue...." sedu Sanji.
Zoro tersenyum.
Sanji, dia cantik bagai rembulan dan pantulannya malam ini. Zoro tidak akan pernah bosan mengatakannya. Zoro juga tidak akan pernah bosan menunggunya.
