Actions

Work Header

EUREKA

Summary:

Ricky pertama kali bertemu Gyuvin di dalam ruangan yang dingin. Gyuvin bertemu lagi dengan Ricky di depan pagar rumahnya. Ricky kemudian menemukan Gyuvin di setiap hari-harinya. Gyuvin membisikkan kalimat 'you are my favorite person in the whole world' di telinganya, Ricky menyimpan janji itu tepat di jantung hatinya.

Dan ini, adalah usaha mereka untuk membuat jalan ceritanya agar tetap seperti itu.

Notes:

movie reference: La La Land (2016)

song reference: Taylor Swift - Right Where You Left Me

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

PHASE I: today was a fairytale.

 

Ruang tunggu itu suhunya kelewat dingin. Di dalamnya ada satu meja resepsionis yang digardadepankan oleh seorang wanita berbusana semi formal, rambutnya hitam legam dan dikonde sederhana. Selain dingin, disana juga hening bukan main. Mungkin penyebabnya adalah salah satu panitia berwajah sangar yang sedari awal sudah menginfokan bahwa mengganggu jalannya audisi adalah hal yang dilarang. Sebagai remaja berusia tiga belas tahun, Ricky hanya bisa mematuhi.

Dia mungkin bisa patuh namun beberapa orang tua peserta yang ikut menunggu disana masih diam-diam mengobrol dalam bisik, merubah ekspresi wajah dalam berbagai macam spektrum. Sepasang ibu dan anak di serong kirinya tengah terlibat cekcok kecil akibat meses yang berjatuhan mengotori baju dari roti tawar kupas yang digigitnya, dan sebagai gantinya turtleneck berwarna coklat gading itu kini sudah tidak lagi sesempurna sebelumnya.

Ricky diam-diam melirik pakaian yang tengah dia kenakan: sepasang seragam SMP berwarna putih dan biru tua yang terpaksa beralih fungsi karena sang mama lupa membawa baju ganti ketika menjemputnya di sekolah pada jam makan siang tadi. Absennya beliau kemudian dikarenakan mama yang masih harus kembali ke kantor sebelum nantinya menjemput Ricky disini. Bisa dibilang, melirik dan mencuri dengar si bocah meses yang tak henti diberi nasihat sedari tadi sedikit membuatnya merasakan iri.

Terkadang dia hanya ingin keuangan keluarganya stabil supaya papa dan mama punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan di rumah. Supaya juga mungkin, alih-alih terlihat kecil di antara lautan orang asing dan jantung yang berdegup kencang ketika menunggu giliran casting jemari sang mama akan bisa bertautan dengan jarinya.

Ada beberapa tahapan realisasi yang Ricky temukan ketika tengah mengamati bocah meses dan mamanya: pertama adalah perdebatan yang terlihat begitu natural dari caranya membela diri, wanita paruh baya di sampingnya yang kemudian menjawab segalanya dengan gerlingan mata seakan hanya itulah satu-satunya cara untuk membungkam sang anak.

 

“Ini mesesnya jatoh gara-gara mama olesin menteganya terlalu sedikit! Aku kan sukanya mentega banyak. Kalau menteganya banyak pasti mesesnya gak akan jatuhan kayak begini.”

“Mesesnya udah mama banyakin, itu kamu aja yang pegangnya gak bener. Coba deh pas gigit tuh tempat makannya dideketin juga ke mulut. Nih, begini nih.”

 

Kotak makan dengan corak kartun Frozen itu kini menjadi korban tarik menarik antara menuju atas atau tetap aman di pangkuan. Bocah meses punya tangan yang cukup besar dan genggaman yang cukup kuat, Ricky tanpa sadar berandai-andai apa rasanya jika membandingkan ukuran telapak tangannya dengan dia. Ketika perdebatan semakin sengit, bocah meses mengambil strategi lain dengan menolehkan kepalanya ke belakang dan bertemu pandang dengan Ricky. Dirinya yang pada saat itu setengah hanyut dalam opera sabun di depannya tersentak kaget ketika dua bola mata bulat itu menembak tepat di netra.

Lalu dalam tindakan yang sepenuhnya didasari oleh impulsivitas, sang bocah meses bertanya, “Mau roti gak?”

Ricky dan insting preventifnya menyempatkan memindai ke kanan dan kiri, berandai-andai siapa tahu dia hanya kegeeran. Sayangnya peserta audisi lain duduk berjarak cukup jauh dari mereka.

Mungkin juga Ricky dan hesitasinya terlalu bertele-tele untuk si bocah meses yang tak sabaran, karena pertanyaan selanjutnya muncul ketika dia masih menimbang-nimbang respon pertanyaan sebelumnya. “Udah makan siang?”

Dalam situasi sekolahnya yang jauh dari gedung ini, macetnya kota Jakarta, dan mamanya yang harus segera kembali ke kantor? “Belum.”

“Ini mau? Masih banyak.”

“Mau.” Jawabnya tanpa basa-basi, entah karena ia benar-benar merasa lapar dan belum siap menanggung malu seumpama perutnya bunyi atau percakapannya dengan si bocah meses tanpa sadar membuatnya perlahan melupakan rasa gugupnya.

Bocah meses kemudian dengan santainya mengoper tempat makan ke atas pangkuan Ricky. Olaf dan senyum lebarnya seakan ambil andil dalam mencairkan suasana. “Kalau yang sebelah kiri itu meses, yang sebelah kanan itu selai strawberry.”

Dia serta merta membulatkan mata bersama seluruh binar yang ada.

Bocah meses punya keahlian untuk membaca keadaan dengan begitu mudah. “Suka selai strawberry ya?”

“Iya.” Angguknya.

“Oke.” Bocah meses ikut mengangguk sebelum kembali memandang ke arah depan, meninggalkan Ricky dan kunyahan-kunyahan kecilnya.

Panitia berwajah sangar tadi ternyata bisa juga merubah personalitas dalam sekali kedip. Atau mungkin perlakuan khusus itu hanya dituju- kan kepada bocah meses dan mamanya, karena siapapun dapat dengan mudah menebak mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Masih dengan kunyahan yang sebisa mungkin ia lakukan dalam diam, Ricky kembali mengamati.

“Tahu info audisi iklannya dari mana?”

Pertanyaan sang bocah meses yang kembali datang dengan tiba-tiba masih membuatnya tersentak namun tidak separah tadi. Kepalanya digelengkan pelan sebelum menambahkan, “Dari guru BK.”

“Hah?” Dahi sang bocah meses berkerut keheranan. Alis tebalnya yang mencolok punya magnetnya sendiri untuk dapat membuat Ricky pada sepersekon tenggelam dalam pengamatan lebih jauh.

“Tim agensi casting nya datang ke sekolah, terus tanya siapa kira-kira siswa dari sekolahku yang berminat jadi bintang iklan.”

“Terus kamu nawarin diri?”

Ricky menggeleng pelan. “Engga.”

“Terus…?”

“Gak tahu, kata bu Hani anak-anak yang lain ngerekomendasiin aku.”

Pun sekelebat, Ricky dapat melihat percikan rasa penasaran yang muncul di sudut mata bocah meses. “Berarti kamu terkenal di sekolah? Sebelumnya udah pernah syuting iklan atau main film apa?”

Gelengan kepalanya yang kali ini lebih pelan dan ragu-ragu, seakan tengah bersiap jika jawabannya akan merubah pandangan bocah meses tentang dirinya. Padahal sebelum ini dia masih tidak tahu menahu mengapa semua teman dan bahkan mamanya sendiri meyakinkannya untuk mencoba, dan sekarang Ricky malahan menciut pada kenyataan bahwa dia memang sepenuhnya amatiran. “Ini pertama kali.”

Mata sang bocah meses yang besar dan bulat itu melebar menjadi dua kali lipat. Hasil observasi Ricky mengatakan bahwa dia adalah sosok yang ekspresif dalam sehari-harinya, yang kemudian juga membawa Ricky pada tahapan realisasi keduanya siang hari itu: wajah sang bocah meses, tidak sepenuhnya asing. Tetapi sebelum dia sempat menggali lebih dalam, bocah meses sudah terlanjur dipanggil ke dalam karena giliran audisinya tiba.

Kesan dan pesan pertamanya ketika gilirannya juga tiba adalah bahwa sebuah proses audisi berakting artinya akan ada juri di depan sana yang akan berekspektasi tinggi pada air mata yang akan turun dari kelopak matanya segera setelah mereka mengatakan action. Ricky bersyukur perintah itu bukan dimaksudkan untuk dirinya, karena jika iya mungkin dia hanya akan mengangguk lesu seraya meminta maaf sebelum meninggalkan ruangan. Ricky selalu punya harga diri tinggi dan perspektif yang terbentuk di dalam kepalanya bahwa menangis di depan orang lain adalah aib besar-besaran dan segalanya tentang dunia akting ini terasa begitu baru dan asing.

Untungnya materi iklan yang akan dibintanginya bertemakan tentang snack dan minuman ringan, dan Ricky hanya perlu bertingkah natural acap kali manisnya rasa strawberry menuruni tenggorokannya. Pun tahu kemungkinan bahwa aktingnya adalah yang terburuk diantara semua peserta hari itu, dirinya bersyukur karena audisi tadi dilakukan secara individu dan bocah meses tak dapat melihatnya di dalam sana.

Mereka bertemu kembali di lobi setelah diperbolehkan untuk pulang. Tak ada pertukaran pembicaraan apapun lagi yang terjadi di antara mereka, namun mamanya dan juga mama sang bocah meses berhasil bertukar nomor entah untuk apa. Yang jelas Ricky mendengar bahwa ada janji untuk kapan-kapan makan siang yang terjadi, dan sedetik setelahnya dia harus pergi karena mobil yang menjemput sudah tiba

 

Beberapa hari berlalu, Ricky mendapat kabar dari sang mama bahwa peserta yang mendapatkan peran iklan tempo hari adalah si bocah meses. Satu bulan kemudian, iklan tersebut muncul di televisi ketika Ricky tengah menemani papa menonton berita pagi.

 

Bocah meses itu ternyata bernama Kim Gyuvin. Dia itu bukannya kurang terkenal, tapi Ricky saja yang tidak pernah benar-benar ambil pusing ketika menemukan project yang menyangkut dia entah di baliho jalan, majalah, televisi, atau layar bioskop. Ricky juga menyimpulkan bahwa aura Gyuvin bisa berubah tergantung pada styling rambut dan peran yang dimainkannya. Tebakan bahwa Gyuvin adalah sosok yang ekspresif ternyata tak sepenuhnya salah sasaran.

Shen Ricky yang tadinya punya relasi pasif agresif terhadap dunia akting, dalam semalam berhasil duduk manis dan menggali diskografi seorang Kim Gyuvin.

Gyuvin–walaupun bukan fakta yang begitu mengejutkan–ternyata sudah malang melintang di dunia entertainment semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar. Peran yang dimainkannya sejauh ini adalah versi anak-anak dari sang pemeran utama, dan bahkan Ricky yang notabene punya pengetahuan minim tentang dunia selebritis terkagum dengan koneksi yang dipunya sang bocah meses. Kalau dipikir-pikir lagi, pantas saja si panitia bermuka sangar bisa punya perlakuan yang berbeda antara dia dan peserta lain.

Ada satu film yang diperankan Gyuvin dan cukup terkenal di kalangan teman-temannya. Cerita dari film tersebut berpusat pada lima anak sekolah dasar yang tersesat di hutan ketika tengah mengikuti kegiatan Jambore, dan mereka harus menemukan jalan pulang kembali ke perkemahan bersama dengan rintangan yang ditemui sepanjang jalan. Sangking tenggelam dalam mengevaluasi Kim Gyuvin di dalam film tersebut hari itu Ricky melewatkan waktu makan malamnya.

Janji makan siang antara orang tua mereka yang dulu pernah dijanjikan terjadi dua bulan kemudian. Tanggal merah yang jatuh dua hari berturut-turut dan disambung dengan akhir pekan itu membuat sang mama punya lebih banyak waktu untuk bersantai dan pada akhirnya berinisiatif untuk mengatur janji. Lalu dalam satu kedipan mata, Ricky menemukan dirinya berdiri di depan pagar rumah Kim Gyuvin.

Rumah yang ditempati keluarga Gyuvin ternyata tak sesuai dengan stereotipe yang Ricky bentuk tentang seorang artis terkenal. Di dalam kepalanya Ricky membayangkan sekali lagi menciut ketakutan akan fakta bahwa mungkin dia dan juga Gyuvin punya perbedaan bahkan dalam hal sekecil ukuran rumah, namun pada kenyataanya tempat tinggal sederhana yang Gyuvin tempati berakhir dengan Ricky yang kembali mempertanyakan hipotesisnya kembali:

Apakah… menjadi artis cilik artinya tidak ekuivalen dengan bayaran yang berlimpah?

Namun ternyata Ricky tak merasa perlu repot-repot untuk menemukan jawaban atau ambil pusing. Karena segera setelah pintu rumah itu terbuka lalu Gyuvin bersama beberapa helai rambut yang mencuat ke berbagai arah yang berbeda dan senyum sumringahnya muncul dari balik pintu, Ricky tahu dia hanya menginginkan satu hal: pertemanan.

 

Dan semenjak hari itu dan juga seterusnya, ada Kim Gyuvin di dalam hidup Shen Ricky.

 

Orang-orang yang tidak begitu kenal deket dengan mereka mungkin akan membuat asumsi bahwa Gyuvin dan Ricky itu klop banget, tapi yang sebenarnya terjadi adalah ada perbedaan selera diantara mereka yang rasionya benar-benar besar. Gyuvin yang notabene lebih senior dan lebih terkenal dari Ricky lebih suka mengenakan baju kasual bahkan untuk pergi ke acara resmi, dan Ricky yang baru mencetak satu peran minor pada film layar lebar dan beberapa iklan harus selalu overthinking terhadap caranya berpakaian.

Atau Gyuvin dan respect tingginya terhadap film produksi tanah air dan Ricky yang lebih banyak mengasah kemampuan akting lewat film barat, Gyuvin yang mudah tersentuh melankolia dan Ricky bersama otaknya yang diputar untuk memahami teori konspirasi, Gyuvin yang gemar mengambil inisiatif dalam membantu teman-temannya bahkan diluar batas kemampuan dan Ricky bersama kepercayaan minimnya dalam mengandalkan orang lain, lalu perbedaan paling remeh namun signifikan seperti Gyuvin is a one hundred percent football person and Ricky is a very much basketball person.

“Lo kan tinggi Vin, gak ada masalah sama sekali dong kalau mau coba main basket juga?”

“Gue gak pernah bilang kalau gue gak suka basket, Iki. Ya gue emang lebih suka futsalan aja. Gimana dong?”

Ricky yang pada saat itu pasrah ketika pergelangan tangannya ditarik pelan memasuki salah satu lapangan indoor diam-diam memutar bola matanya malas. “Tapi lo jadi gak pernah nepatin janji buat main basket bareng gue. Dan ini nih, selalu kayak gini. Gue nemenin lo futsal sedangkan lo gak pernah nemenin gue main basket.”

Gyuvin yang berjalan beberapa langkah di depannya sekilas menoleh ke belakang, dan Ricky buru-buru merubah ekspresi merajuk menjadi marah. Yah, pun dia tahu temannya gak akan ambil pusing soal itu. Gyuvin gak pernah takut menghadapi mood swing Ricky karena dia punya kunci rahasianya sendiri untuk merubahnya kembali ke semula.

Anehnya, kali ini Gyuvin menyempatkan untuk memberhentikan mereka di tempat dan Ricky mau tak mau ikut menunggu dengan was-was. Lalu diucapkan dengan nada penuh penghakiman, “Lo kan biasanya basketan sama mamas.”

Ricky dan kelopak matanya mengedip kebingungan. Omong-omong, mamas itu maksudnya kakaknya Gyuvin. Hari dimana Ricky pertama kali berkunjung ke rumahnya adalah hari pertama kali dia bertemu Jiwoong. Jarak umur mereka cukup jauh karena pada saat itu mamas bahkan sudah duduk di bangku kuliah. Dulu sewaktu mereka masih berstatus anak SMP, mamas sering mewakili orang tua mereka untuk menemani ke mall, taman hiburan, konser musik, atau bahkan urusan pekerjaan seperti lokasi syuting. Selain punya teman baru, Ricky juga tiba-tiba punya seorang kakak baru dalam semalam.

Lucunya kegiatan antar-jemput ini kemudian menjadi kebiasaan dan mamas masih tetap akan mengantarkan mereka kemanapun dengan mobil Avanza kepunyaanya yang kadang ACnya rusak itu walaupun mereka sudah mengenakan seragam putih abu-abu.

“Ya karena mamas selalu bisa setiap gue ajak. Terus perginya pasti bertiga sama Mae.”

“Salah siapa lo ajaknya setiap lagi gak bisa? Lagian gue hari ini gak ikutan main, cuma mantau junior aja.”

Ricky membuka mulut, menutupnya, membuka lagi, melirik jemari Gyuvin yang masih melingkar pada pergelangan tangannya, sebelum kembali menutupnya sebagai keputusan final. Dan pertanyaan terus kenapa gue diajak kesini yang menggantung di ujung lidah kembali masuk dan ia telan diam-diam.

Berargumentasi dengan Gyuvin selalu menguras tenaganya, tetapi mau diapakan juga dia tetap adalah manusia favorit Ricky di muka bumi ini untuk alasan yang sulit dijabarkan.

“Oke, gini deh.” Gyuvin menggaruk belakang kepalanya, entah karena memang gatal atau sebagai bentuk kefrustasian. “Habis dinner ultah Mae kita obrolin lagi soal basket.”

Omong-omong lagi, Mae itu tunangannya mamas. Pria malang itu ditunjuk menjadi babysitter tidak resmi setiap mamas berhalangan. Hari ini Matthew berulang tahun, dan keluarga Gyuvin (ditambah Ricky) akan makan malam di restoran Seafood dekat pantai. Awalnya kedua orang tua Gyuvin sempat khawatir dan menawarkan diri untuk tak ikut berpartisipasi untuk meminimalisir biaya, tapi mamas bilang insentifnya bulan ini dimaksudkan untuk perayaan ulang tahun Mae.

(Ricky juga menawarkan hal yang sama kepada Gyuvin dengan berkata Vin kayaknya gue mending gak usah ikut aja deh… itu kan acara keluarga? yang kemudian membuat Gyuvin memandang Ricky dengan skeptis seakan-akan kepalanya tumbuh menjadi dua)

“Ky? Gimana?”

“Yaudah deh.”

Gyuvin sempat ragu-ragu antara merangkum persetujuan itu sebagai kesepakatan atau dia masih harus merayu, namun sebelum pemuda itu sempat bertindak salah satu temannya menghampiri mereka di pinggir lapangan. “Pin, main gak nih?”

Dia dapat merasakan cengkraman jemari Gyuvin pada pergelangan tangannya yang mengeras sebelum perlahan kembali melonggar. Ricky dan insting preventifnya otomatis berpura-pura menunduk, sampai akhirnya Gyuvin sedikit berjongkok agar bisa bertemu pandang dengannya dari bawah sana. “Ky?”

“Hm?”

“Gue boleh main gak?”

“Ya… main aja. Terserah.” Ricky tahu pertanyaan itu muncul karena Gyuvin–tak sesuai dengan janjinya–akan meninggalkan Ricky sendiri di bangku penonton sana. Yang dia tidak sangka adalah bahwa Gyuvin akan memohon izin itu tepat di depan teman-temannya. Dehaman palsu itu Ricky keluarkan untuk mencegah pipinya memerah.

“Bener nih?”

“Beneran. Buruan sana jangan sampai gue berubah pikiran.”

“Oke siap.” Gyuvin dengan telapak tangan besarnya menangkup kedua pipi Ricky seraya mendorong dan membuatnya terduduk di salah satu bangku. Setelah Ricky duduk Gyuvin mulai melepas jaket denimnya dan menaruhnya di atas pangkuan Ricky. “Titip ya bos.”

Yang dititipi, dengan suara mencicit dan tubuh membeku menjawab tak acuh. “Bawel.”

“Pin, itu Ricky sekalian ikutan main aja kalau mau daripada bengong nungguin doang disini.”

“Ricky?” Gyuvin balik bertanya kepada temannya seraya jemarinya yang sibuk melepas jam tangan. Lalu setelah benda itu terlepas dan diserahkan kepada Ricky, dia mendengus santai. “Jangan dia mah.”

Ricky bisa saja masuk ke dalam dinamika yang biasa mereka mainkan dimana Gyuvin dengan kata-kata usilnya akan dia tanggapi lewat pukulan di lengan dan lemparan sarkasme. Tapi kalau boleh jujur, yang tadi itu sebetulnya cukup menyinggung. Namun menjadi tersinggung karena seorang Gyuvin juga adalah sebuah hal yang konyol untuk dilakukan, apalagi setelah kedua telapak tangan besarnya kembali menangkup pipi Ricky erat dan meremasnya dengan gemas.

Dan di sepanjang sesi Kim Gyuvin bersama sepakbolanya sore itu, Ricky tidak sekalipun merasa ditinggalkan karena pandangannya yang akan selalu berhasil menemukan Ricky di pinggir lapangan.

Ricky tengah membalas salah satu pesan di handphone ketika pipinya (yang entah sudah keberapa kali menjadi korban hari itu) ditempeli botol minuman dingin dan membuatnya tersentak di tempat.

“Hoi.” Dia mengadah, mamas tersenyum. “Gak ikutan main kamu?”

Kedua bahunya diangkat santai. “Gak boleh kata Gyuvin.”

Mamas memberikannya sebuah dengusan. “Panggil gih anaknya, biar bisa langsung jalan. Takutnya kesorean nanti macet.”

Gyuvin di tengah lapangan sana akhirnya memandang ke arah mereka dan menemukan Ricky yang tengah mengobrol bersama sang kakak sebelum berlari kecil menghampiri. Napasnya terengah, dan tubuhnya membungkuk dengan tangan yang beristirahat di atas lutut. “Oy! Sekarang nih mas?”

“Yuk.”

“Oke.” Gyuvin berdiri dengan tegak, menyisir rambut dengan jemari, dan menggelendot di lengan Ricky. “Yuk.”

Yang digelendotin hanya mampu menarik napas sebelum kembali menghempaskannya. “Bisa jangan deket-deket gak? Baju lo basah keringetan jadi gue duduk di depan sampai nanti ada Mae.”

“Loh kok gitu? Ky? Ky!”

 

Ricky berpura-pura melepas kaitan jemari Gyuvin dan berjalan dua kali lebih cepat untuk menggandeng Jiwoong. Bibirnya diam-diam menyunggingkan sebuah senyum ketika di belakang sana Gyuvin terus merengek memanggil. Dan ini adalah versi satu kosongnya.

 

Perayaan ulang tahun Matthew berakhir dengan Gyuvin yang dimarahi karena impulsivitasnya ketika memesan banyak makanan namun pada akhirnya tak mampu menghabisi. Jiwoong mencoba menghentikan pertengkaran dengan mengatakan hal tersebut sama sekali tidak jadi soal, tante yang dilerai oleh om ketika hendak menjewer kuping sang anak bontot, Matthew yang susah payah mencoba membantu Gyuvin menghabiskan sisanya, dan Ricky yang mengamati situasi itu dengan senyum dan gelengan kepala.

Setelah huru-hara makanan (yang akhirnya disepakati lewat jalan tengah dengan membungkus pulang sisanya) Gyuvin menarik Ricky ke pinggir pantai dengan dalih membakar kalori . Rasa-rasanya selain duduk diantara keluarga besar pemuda itu dan menjadi saksi setiap perdebatan yang terjadi disana, berjalan beberapa langkah di belakang Gyuvin ketika pemuda itu menariknya sudah menjadi pemandangan yang begitu familiar untuknya.

Ada undakan tembok tinggi yang membentang antara pasir di bawah sana dengan jalanan aspal. Ricky mendudukan dirinya di sana seraya mengamati Gyuvin yang berlarian kesana kemari mendekati ombak di pesisir sebelum pada akhirnya kembali menghampiri Ricky. Tangan pemuda itu refleks membetulkan kalung yang sedang Ricky kenakan, dan dirinya berdeham ketika Gyuvin mengambil waktu terlalu lama untuk menatap bibirnya.

"Minggu depan gue ada casting, Ky." Kalimat pertama Gyuvin setelah kini memandang Ricky dengan seksama.

"Oh ya? Meranin apa?"

"Meranin... cowok playboy."

Ada jeda antara kelopak matanya yang mengedip ketika mengamati garis wajah Gyuvin dan suara ombak di kejauhan. Lalu ketika sadar bahwa tak ada indikasi gurauan dalam pernyataanya barusan, Ricky menyadari bahwa Gyuvin tengah berkata serius. "Oke...?"

"Lo gak percaya gue bisa?"

"No, silly. I believe you."

Pada suatu hari di bulan Agustus, Gyuvin pernah mengurung Ricky di kamar untuk menonton sebuah dokumenter seni berakting dan produksi film. Semangatnya dalam menggali metode-metode yang digunakan banyak sutradara dari berbagai belahan dunia untuk menggarap sebuah produksi film dengan menggebu-gebu namun sabar dia jabarkan kepada Ricky. Kalau ada suatu hal di dunia yang tidak akan Ricky lakukan, adalah tidak mempercayai Kim Gyuvin dengan kemampuan dan kesungguhannya pada apa yang dia lakukan.

“Tapi…?”

"Tapi gue cuma gak mau yang waktu itu keulang lagi, Vin."

Ricky ingat dengan jelas peristiwanya; audisi pertama Gyuvin dalam menantang dirinya untuk mengambil posisi pemeran utama. Dia gagal, sesuatu yang mungkin pada saat itu baru pertama kali dirasakannya. Satu bulan penuh merupakan waktu yang dibutuhkan Gyuvin untuk menyembuhkan diri, dan dalam jangka tiga puluh hari itu dia tidak menjadi Gyuvin yang Ricky kenal. Dan Ricky benci itu.

Namun hal-hal yang menyangkut dunia hiburan sifatnya memang tidak selalu konstan. Terkadang, akan ada gebrakan yang tidak pernah siapa pun sangka sebelumnya akan ada yang terjadi dalam satu kedipan mata. Dan di dalam seluruh ketidakpastian itu, semakin dirinya dan Gyuvin beranjak dewasa kesempatan yang mereka punya tak selalu semulus dulu.

Kalau di masa lampau banyak orang mengenal Kim Gyuvin kecuali Shen Ricky, sekarang situasinya menjadi Shen Ricky yang lebih mengenal Kim Gyuvin disaat seluruh dunia perlahan-lahan melupakan. Dan ditambah lagi mereka yang kini harus fokus untuk mengejar Ujian Nasional. Sebersemangat apapun mereka dalam merangkak naik pada skala prioritas yang lebih besar dalam dunia berakting dari yang sudah mereka punyai saat ini, pendidikan tetap harus didahulukan.

Gyuvin mungkin melihat seluruh kekhawatiran itu melebur menjadi satu di dalam mata Ricky dan mustahil hal itu bisa lolos dari pandangannya. Maka bergeraklah Gyuvin selangkah lagi lebih dekat dengannya, membuka kedua sisi kaki Ricky agar dia bisa masuk diantaranya. "Engga Ky, waktu itu gue emang lagi labil aja. Lagian yang kali ini bener-bener nothing to lose. Kalau gak dapat malah yaudah, jadi bisa lebih fokus ngurusin buat kuliah."

Ricky jelas tidak mempercayai satu pun defense mechanism yang barusan Gyuvin ucapkan, namun cara kerja untuk menghadapi seorang Kim Gyuvin adalah bukan dengan nasihat panjang lebar. "So ... jadi playboy?"

Gak ada, barang satu pun hal di dunia ini yang bisa menilai harga dari senyuman lebar yang tengah terpancar pada wajah pemuda di depannya. "Iya jadi playboy. Karakternya bakalan dapet karma sih di akhir, tapi... ya... bakalan banyak adegan dimana dia flirting sana-sini. Dan salah satu adegannya ada gue yang harus dansa."

"Dansa?" Alis Ricky menukik naik. "Like waltz or something? "

"Ya gak waltz juga, slow dance biasa aja. Mau bantuin latihan gak?"

Yang ditanya seketika menunjukan keterkejutan di wajah. "Sekarang? Disini?"

Gyuvin mengangguk mantap. "Sekarang, disini."

Pun dengan gerakan kikuk dan ragu-ragu Ricky melirik jemari Gyuvin yang perlahan menggerayangi lekuk pinggangnya, lembut namun kokoh. Dan mau tak mau Ricky segera menaruh genggaman tangannya pada kedua sisi pundak Gyuvin sebelum ditarik perlahan agar lebih dekat dengan tepi pantai. Temannya itu punya ekspresi di wajah yang akan dia tampilkan acap kali tak percaya sudah berhasil membuat Ricky menyetujui ide absurdnya pada percobaan pertama.

Ricky juga merasa jantungnya akan segera meledak jika keheningan di antara mereka terus menerus ada. Jadi bersama dehaman palsu lainnya dia mengais validasi. “Like this? Easy peasy.

"Oke siap bang jago."

Ricky memutar bola matanya malas. He can’t never take this guy seriously. "Vin."

"Oy?"

"Emang di mata lo gue sepayah itu ya main futsal?

"Kenapa mikir gitu?"

"Ya tadi lo bilang ke temen lo waktu ngajakin gue ikutan main. Kata lo, kalau Ricky jangan."

Gyuvin berpikir, berpikir, dan berpikir, sebelum tertawa lepas. "Oooh! Itu sih gara-gara gue tau Seungeon sama Yunseo kalau main kelewat kasar. Nanti lo capek, terus luka."

Cengkraman tangannya pada kedua sisi pundak Gyuvin seketika mengencang. "Oh."

"Gue bikin lo tersinggung ya?"

"Sedikit." Jawabnya seraya menunduk. Menjadi jujur di hadapan Gyuvin sebetulnya tidak pernah adalah hal yang sulit, namun rasanya selalu seperti tengah menelanjangi diri sendiri. "Tapi sekarang udah engga karena lo udah jelasin."

"Oke... Maaf ya, Ky."

Kepalanya menggeleng pelan. "No it's okay."

It's not... really okay. Bukan, bukan karena permintaan maaf tadi yang dianggapnya gak tulus. Alasan yang sebenar-benarnya lebih kepada perilaku protektif Gyuvin yang membuatnya jadi tak enak hati. Bahkan kalau dipikir-pikir, Ricky ada disini karena Gyuvin menebak dia akan berakhir makan malam sendirian di rumah karena orang tuanya yang lembur. Kadang Ricky suka kepikiran kalau seharusnya Gyuvin gak perlu tahu masalah keluarganya sampai sedetail ini supaya dia gak nambah-nambahin beban temannya yang satu itu.

Karena sejujurnya, semua perhatian yang Gyuvin berikan membuat Ricky berakhir dengan rasa ketergantungan yang tinggi. But sometimes Gyuvin doesn’t know the power he holds over Ricky and it’s always embarrassing to say it out loud.

Ketika Ricky membuka kelopak matanya yang tanpa sadar tertutup itu ada Gyuvin dan kening serta alisnya yang berkerut penuh dengan rasa penasaran. Keduanya sama-sama menunggu untuk entah apa, tapi kalau ada satu hal yang mahir Ricky lakukan adalah menangkap sinyal yang salah dari perilaku Gyuvin yang juga ambigu. Jadi ketika si dia di depannya mengambil satu langkah maju terakhir dan memiringkan sudut kepalanya, Ricky mengerucutkan bibir ragu-ragu. Dan dalam pandangan yang kembali menggelap ketika matanya sekali lagi menutup, hal selanjutnya yang terjadi hanyalah suara Gyuvin yang cekikikan seraya mengusap puncak kepala Ricky.

“Mikir apa?” Said the guy with his stupid grin and stupid giggles and stupid white teeth and stupid tall body. Ricky hates him so much it’s mortifying (he is not).

“Gak mikir apa-apa.” Sanggahnya terbata-bata. “Kelilipan.”

“Oke.” Balas Gyuvin dengan suara yang diturunkan satu oktaf lebih berat. Jemarinya turun dan melingkar di pergelangan tangan Ricky seraya berdeham, “Balik ke restoran?”

Ricky mengangguk dengan seluruh aliran darah yang masih memaksa untuk terpompa ke atas kepala. “Oke.”

Jiwoong malam itu menurunkannya tepat di depan pagar sebelum memboyong yang lain pulang ke rumah. Adiknya yang susah diatur itu ikut turun tanpa basa-basi, namun familiaritas membuat tak ada satu pun dari keluarganya yang mempertanyakan hal tersebut.

 

"Ma, Gyuvin nginep sini ya."

"Kamu jangan nyusahin tante Shen ya, Vin!”

"Iya, engga!"

 

Adalah hal yang magis bagaimana Gyuvin dengan mode otomatisasi akan ikut masuk ke kamarnya dengan begitu natural, mengambil kaos dan celana pendek di lemari seakan memetakan tiap posisinya di luar kepala, menjatuhkan diri ke atas tempat tidur seakan telah melakukan itu seumur hidupnya, dan berada di balik selimut bersebelahan dengan Ricky seakan itu adalah hal yang wajar.

Mungkin Gyuvin memang diciptakan untuk hadir di hidupnya untuk hal-hal seperti ini. Yang setiap kontaknya gak perlu terlalu banyak diberi tanda tanya, yang eksistensinya sunyi namun mengisi.

Malam itu bukannya kata-kata selamat tidur yang mereka ucapkan sebelum memejamkan mata, melainkan Ricky yang berbisik goodluck audisinya Vin sebelum membalikan tubuh dan memunggunginya sebagai sebuah tindakan preventif agar pemuda itu tidak dapat memecahkan misteri dibalik telinganya yang memerah dan dadanya yang berdegup kencang.



***



Kalau ditanya tentang rekomendasi tontonan, Ricky mungkin bisa mengelaborasi salah satu contoh seperti misalnya film-film garapan Christopher Nolan: walaupun approach yang berusaha filmmaker itu suguhkan gak selalu mudah untuk dimengerti semua orang, tetapi Ricky mengapresiasi total tiga jam yang dihabiskannya dalam satu kali duduk dari awal hingga akhir film. Namun jika boleh menyebutkan sebuah tontonan yang telah mengalir di dalam darahnya, kesempatan itu akan dipersembahkan pada sebuah TV series berjudul Fleebag.

Pemeran utama wanita di dalam series itu punya cara yang unik dalam menarasikan sudut pandangnya: di tengah-tengah pembicaraan dengan lawan bicara akan ada jeda imajinasi yang terjadi dalam dunianya dimana dia akan menatap langsung ke arah kamera dan berbicara kepada audiens tentang hal penuh sarkasme yang tidak dapat dirinya sampaikan secara langsung sebelumnya.

Ricky kerap berdelusi mampu melakukan hal tersebut karena mengaku kepada dirinya sendiri bahwa ada seseorang yang dia sukai kemudian menulisnya di buku harian berbeda dengan mengaku kepada dunia bahwa ada seseorang yang dia sukai dan diharuskan untuk bertemu orang itu setiap harinya dan bertingkah seakan tidak ada apa-apa.

Namun lagi-lagi berada bersama Kim Gyuvin adalah sebuah hal yang mudah, karena membawa rasa sukanya kemana-mana artinya hanya butuh meminimalisir debar jantung agar menjadi pengetahuannya seorang. Dan sisanya, Ricky hanya pelu dengan natural menjadi diri sendiri yang setiap satu jam sekali mengalami sakit kepala karena harus melakukan perdebatan tidak penting yang muncul akibat Gyuvin dan kepala batunya.

IPK Gyuvin turun drastis semenjak pemuda itu setuju untuk mengikuti sebuah sinetron stripping dengan jumlah episode dan plot cerita diluar nalar. Banyak protes yang sejujurnya ada di ujung lidah dan ingin Ricky tumpahkan, namun melihat wajah Gyuvin yang akhir-akhir ini stressnya bukan main saja Ricky sudah tidak tega.

Gyuvin itu, punya kebiasaan akan baik kepada semua orang yang hadir dan lewat di hidupnya. Baiknya itu bukan main, sampai terkadang dia akan mengorbankan waktu dan tenaga ketika dimintai tolong. Entah ini adalah bentukan perspektif belaka yang dia bentuk sendiri, namun baiknya Gyuvin kepada Ricky itu ada dalam skala yang berbeda. Seperti misalnya Gyuvin akan bilang kepada salah satu temannya oke gue bisa nemenin lo nih tapi jam segini gue ada janji sama Ricky jadi abis itu gue harus cabut, gimana? tepat di depan semua orang yang hadir disana, dan bohong kalau Ricky bilang dirinya tidak merasakan sesuatu ketika pandangan teman-temannya berpindah dari Gyuvin lalu menatap kepada Ricky dengan rasa penasaran.

Namun diantara usahanya untuk menghadiri kelas, mengerjakan tugas, datang ke lokasi syuting, dan menjadi teman yang baik, Ricky tahu Gyuvin sedang babak belur. Puncaknya ketika Ricky mengetahui apa yang akhir-akhir ini sering Gyuvin lakukan, dan itu menyangkut seorang adik tingkat bernama Han Yujin. Ricky ingat bagaimana pada suatu malam di kedai nasi goreng kaki lima Gyuvin bercerita tentang Yujin dan ayahnya yang gemar memukuli tubuhnya hingga lebam jika pemuda malang itu tidak menyetorkan uang untuk sang ayah membeli rokok serta alkohol, namun diantara cerita malang itu dan satu titik air mata yang tiba-tiba jatuh dari kelopak mata sahabatnya disaat bahkan Gyuvin baru mengenal sang adik tingkat dalam kurun waktu enam bulan, Ricky akhirnya menyadari bahwa Gyuvin punya hati yang terlalu lembut untuk dunia yang kejam.

"Lo mau berantem sama gue?" Pertanyaan itu dilayangkan Ricky bersamaan dengan kepal tangannya yang meninju Gyuvin keras tepat di lengan atas. Tinju itu kemudian berpindah ke bagian perut, kali ini sedikit lebih pelan karena bagaimanapun Ricky masih membutuhkan Gyuvin dalam wujud yang utuh.

"Ky–”

"Vin, gue paham lo peduli banget sama Yujin dan gue juga kasihan sama dia. Tapi bisa gak lo pertama kasihani diri lo sendiri dulu?"

Gyuvin, masih dengan napas yang terengah-engah itu menaruh satu tangannya di pundak Ricky dan satu lagi di lututnya. "Gue cuma capek habis lari dari fakultas sebelah kesini, Ky."

"Lo capek habis jadi pahlawan kesiangan, Vin."

Sahabatnya mengabaikan sindiran tadi dengan topik pembicaraan yang diganti dengan cepat. "Udah pesen? Masih mau gue temenin makan? Apa mau pulang aja?"

"Pulang, udah gak mood."

Ricky tahu seharusnya nada ketus barusan tidak perlu dideklarasikan sebegitunya, namun kesabarannya yang sudah diluar batas itu mungkin sama lelahnya dengan tubuh Gyuvin saat ini. Jadi jika kemarahannya somehow akan berhasil membuat Gyuvin mengambil waktu untuk beristirahat, maka menjadi jahat adalah apa yang akan dia lakukan.

"Ky, maaf. Gue tahu tadi gue udah janji–”

"Tapi terus lo dateng satu jam setelahnya."

"Ky–”

"Lo semalem pulang syuting jam berapa, Vin?"

"...Jam tiga pagi. Ky–”

"Terus ini lo habis ngapain? Sempat masuk kelas gak?”

"Gak, gak sempet masuk kelas. Yujin orang tuanya berantem lagi. Gue tadi jemput dia–” Oke, disclaimer: pun 89 dari 100 orang selalu bilang bahwa Ricky pelit dalam berekspresi, he’s not a rude person. Dia paham betul basis tata krama selayaknya orang beradab lainnya, dan hubunganya (apapun bentuk hubungan itu) dan Gyuvin selalu berjalan dengan pengertian dari kedua belah pihak. Namun kalau boleh jujur, kalimat yang akan gunakan sebagai senjatanya dalam membela itu sudah Ricky hapal betul di luar kepala.

Jadi dengan berat hati sebelum Gyuvin bahkan sempat menyelesaikan kalimatnya Ricky berjalan meninggalkan sahabatnya bersama rahang yang masih menggantung di udara beserta tatapan merananya yang menyaksikan kepergian Ricky. Toh, dia selalu tahu Gyuvin akan berakhir dengan mengejarnya. Jadi dengan langkah gontai dan Kim Gyuvin yang dalam diam mengikutinya tepat di belakang bersama jemarinya yang melingkar pada tali tas selempang Ricky seakan hidupnya bergantung disana, mereka perlahan melangkah pulang.

Pada tahun terakhir mereka di SMA sewaktu dulu tidak pernah ada pembicaraan spesifik tentang kemana mereka nantinya akan mendaftar dan apa yang terjadi jika keduanya akan dipisahkan oleh jarak. Gyuvin terlalu cuek untuk memikirkan hal remeh seperti universitas unggulan, dan Ricky harus terus memaksanya berpikir realistis bahwa sebesar apa pun keinginannya untuk langsung mencari pekerjaan setelah lulus dan fokus pada karir berakting pendidikan tetap sebuah hal yang penting. Jadi ketika Gyuvin dengan segala usaha akhirnya mengejar sebuah universitas, Ricky diam-diam mengikutinya lewat nilai jalur rapor yang cukup memadai.

Keputusan untuk menyewa kamar kost awalnya adalah ide Gyuvin. Selain mengikis biaya transportasi dan memperkecil peluang untuknya agar tidak telat masuk kelas (yang sepenuhnya percuma karena Gyuvin akan memakai seluruh waktu luangnya mencari pekerjaan sampingan dan berakhir dengan jam tidur yang berantakan), sang pemuda juga memberi ruang bagi mamas dan Mae untuk lebih leluasa berada di rumah setelah mereka menikah tahun lalu.

Jadi Ricky, sebagai saksi bisu Gyuvin yang berjungkir balik dalam mengurus dirinya sendiri kemudian menawarkan sebuah ide: gimana kalau… kita ngekost bareng? Yang dibalas Gyuvin dengan maksudnya lo mau ngekost dekat kampus juga? Dan dijawab kembali oleh Ricky dengan engga Vin, bareng. satu rumah. Gyuvin harus menanyakan kepada pemilik kost apakah hal tersebut diperbolehkan, dan sang pemilik hanya mengatakan bahwa mereka harus membayar ekstra. Jadi setelah membuat kesepakatan bahwa biaya kost akan mereka tanggung berdua, Ricky dan Gyuvin kini tinggal di dalam sebuah kamar yang luasnya tak seberapa.

Ricky perlu beberapa waktu sampai akhirnya mampu beradaptasi dalam segala domestifikasi yang terjadi di dalam kamar kecil itu setelah jantungnya yang selalu hampir meledak karena selalu terlalu cepat berdetak. Bulan demi bulan berlalu, dan Ricky kini dengan santai berani melirik Gyuvin yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan handuk yang melilit pada lingkar pinggangnya sebelum lanjut merengek frustasi ketika memikirkan harus dimulai dari mana latar belakang makalah yang harus selesai sebelum lusa.

Maka dengan segala latihan pengalaman yang membuatnya kebal akan segala Gyuvinisasi yang menjajah isi kepalanya ketika dirinya tahu ada nama sahabatnya dengan gambar hati merah dalam satu diary yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, Ricky sama sekali tak bergeming ketika Gyuvin yang duduk di bangku meja belajar itu memeluk pinggangnya erat ketika Ricky tengah melepas jam tangannya.

Sebuah modus operandi: siapapun (terutama Ricky) hatinya akan pilu ketika melihat tatapan anjing kecil yang sedang menggerayangi Gyuvin dan matanya. Lengan panjangnya itu kini melingkar disana seerat mungkin, dan sesungguhnya amarah dari janji yang entah sudah berapa kali gagal ditepati itu menjadi perlahan-lahan menghilang. Lagi pula amarahnya tidak akan pernah bisa berada dalam level yang lebih tinggi dari ini untuk segalanya yang menyangkut Gyuvin.

“Kayaknya lo harus… berhenti ikut syuting sinetron yang jadwalnya gak masuk akal itu deh Vin. Peran lo bahkan gak penting-penting amat? Kenapa pembuat skenarionya mikir kalau sahabat dari pemeran utama itu selalu bego dan bisa di babuin? What year is this, 2010?

I know.” Gyuvin yang kala itu tengah menenggelamkan wajahnya di ceruk perut Ricky, mengeluarkan sebuah tawa yang teredam. Ricky tergoda untuk mengusap puncak kepala dan menyisir rambut yang ada dalam radius pandangannya, tapi pertama-tama Gyuvin harus tahu kalau dia sedang tidak bercanda.

Ricky juga sempat tergoda untuk langsung menembak pertanyaan selanjutnya dengan kalimat why are you doing this to yourself, Vin? tetapi kemudian mengurungkan niat ketika mengingat keadaan sedang benar-benar gak memihak pada dia. Pada mereka berdua. Kalau dulu Ricky akan ditertawakan teman-temannya ketika tidak mengenal artis cilik yang tengah naik daun dengan nama Kim Gyuvin, sekarang Ricky yang akan ditertawakan seumpama mengenalkan Kim Gyuvin sebagai seorang artis terkenal. This industry works so fast in a specifically cruel way.

Belum lagi rasa malu yang harus ditanggung ketika Gyuvin tak pernah menyerah dalam melakukan audisi dan peran yang selalu dipandang sebelah mata. Menanyakan mengapa pemuda itu melakukan ini kepada dirinya sendiri adalah tindakan kriminal, karena Gyuvin hanyalah seorang pemimpi yang berusaha untuk mencari penghidupan dari kerja kerasnya. Jiwoong yang sudah punya Matthew sebagai tanggungan hidup barunya juga mau tak mau membuat Gyuvin berusaha tahu diri dengan mencari pemasukan untuk dirinya sendiri. Diantara semua orang di sekitar Gyuvin, Ricky seharusnya menjadi yang paling paham tentang usaha dan perjuangannya.

“Ky?”

“Hm?”

“Kalau ada jalan pintas dimana kita gak usah capek-capek jadi figuran yang bahkan kadang penonton gak sadar ada kita disana, apa lo masih akan memandang dunia akting kayak dulu?”

Dengan dulu, Ricky yakin yang dimaksud Gyuvin adalah masa dimana dia dengan senang hati dan sukarela melakukan segala hal bersama-sama. Ketika muncul kesempatan, maka kesempatan itu adalah milik mereka berdua untuk diselebrasi. Namun semakin banyak kesempatan yang melayang tanpa jejak, semakin besar pula semangat dan motivasi yang terkikis. Dan sebelum Ricky sempat berkedip prioritasnya dalam menjalani hidup ditentukan dalam skala jaminan yang berpusat pada rumus mengutamakan pendidikan artinya jaminan pekerjaan dengan gaji yang stabil di salah satu perusahaan dengan kontrak kerja jenjang karir. Dan gaji yang stabil artinya kehidupan yang layak.

“Mungkin? It would hurt less.

Yeah… It would hurt less.” Gyuvin dan desahan pesimistisnya mengumandangkan sebuah bukti bahwa rasa lelah dari percobaan dan kegagalannya selama ini selalu ada disana dan tidak pernah pergi kemana-mana. “Ada recruitment yang akan dibuka buat tahun depan. Akademinya bilang, pelatihan ini nanti benefit nya kita bisa ikut ke Amerika dan coba casting disana.”

Kalau boleh jujur Ricky beserta attachment issue bodohnya berakhir dengan tubuh yang membeku di tempat dalam beberapa sekon. Karena jika yang selanjutnya keluar dari bibir Gyuvin adalah permintaan untuk Ricky sabar menunggu sampai nanti dia pulang, Ricky akan segera menyembunyikan dirinya di balik selimut sebelum menangis sejadi-jadinya.

“Oke…?” Ucapnya dengan suara tenang yang dibuat-buat. “Terus?”

“Lo mau coba gak? Ke Amerika sama gue.”

Ah, okay, so that’s how it is. 

Ricky baru akan membuka mulutnya untuk merespon ketika Gyuvin memotong dengan tubuhnya yang bangkit dari kursi sehingga kini wajah mereka berada pada level yang sama dan ujung hidung yang saling menempel. Ricky mengurungkan niat untuk mengambil satu langkah ke belakang ketika Gyuvin dan tangan besarnya menahan ceruk pinggangnya untuk tetap diam di tempat.

“Lo gak perlu jawab sekarang kok. There’s still plenty of times sampai kita lulus dulu. Gue bakalan berhenti untuk coba casting dan perbaikin IPK, lo masih bisa pikirin dan minta izin ke mama sama papa. Gue tahu ini keputusan yang besar san gak gampang.”

Yeah… that’s a whole definition of faraway.

Ricky ingin segera menodong konsekuensi dibalik jawaban dari pertanyaan kalau gue gak mau gimana, Vin? apa itu artinya lo akan pergi jauh dan ninggalin gue sendirian disini? Namun Ricky adalah seorang pengecut yang lebih baik memendam dan memikirkan sebuah solusi sebelum harus repot-repot dimakan kenyataan.

Dan dia muak dengan pembahasan masa depan. Atau rumah tinggal sepetak dengan jarak satu jengkal antara satu sudut dan sudut lain. Atau mereka yang harus bertengkar tanpa tahu siapa dan apa yang harus disalahkan. Jadi dengan deru napas masing-masing yang masih menerpa wajah satu sama lain, Ricky membisikan sebuah kalimat dengan lirih. “I’m going to kiss you.

Fun fact: ini bukanlah sebuah momentum sakral dimana Gyuvin dan Ricky mengambil tindakan yang sepenuhnya baru dan akan merubah definisi hubungan di antara keduanya. Ciuman pertama mereka terjadi bertahun-tahun lalu di atas ranjang kamar Gyuvin berukuran 90x120 cm yang kuwalahan menampung dua remaja dengan tinggi di atas rata-rata. Semua berawal dari Gyuvin dan insekuritasnya dalam ironi yang berbunyi gue belum pernah ciuman Ky, gimana caranya gue bisa percaya diri ikut casting yang jelas-jelas akan ada adegan ciumannya?

Lalu Shen Ricky, dengan dunianya yang hanya berisikan Gyuvin, Gyuvin, dan Gyuvin itu sukarela menjadi samsak latihan. Bukan sebuah awal dari bagaimana dia ingin segala khayalan yang tertulis di dalam diarynya menjadi kenyataan, namun setidaknya jalan pintas ini membawa Ricky dan Gyuvin kepada sebuah kasualitas dalam ranah intimasi. Gyuvin bisa menautkan jemari mereka dalam setiap okasi yang memungkinkan, Ricky bisa memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Gyuvin ketika dunia memutuskan untuk menjadi bajingan, dan mereka bisa bersembunyi di balik selimut dengan punggung Ricky yang menempel pada dada Gyuvin sepanjang akhir pekan tanpa harus mempertanyakan untuk apa dan kenapa.

Jadi ketika sebuah argumen yang dimulai pada kantin kampus berakhir dengan Ricky yang mengukung tubuh Gyuvin di atas tempat tidur, itu artinya cekcok mereka akan segera menemukan resolusinya. Gyuvin bilang, benefit dari mengambil keputusan untuk tinggal bersama adalah Jiwoong yang tidak akan tiba-tiba memergoki Ricky dan jemari lentiknya yang tengah terburu-buru menurunkan ritsleting celana Gyuvin (sudah pernah terjadi sebelumnya dan rasanya amat sangat luar biasa memalukan, terima kasih banyak). Peristiwa traumatis itu membuat Matthew mendudukan mereka di ruang tamu dalam rangka melakukan pembicaraan serius tentang pentingnya consent dan juga pengaman karena Jiwoong enggan melakukannya. 

Gyuvin juga bilang, benefit dari berada dalam dinamika yang mereka miliki (Gyuvin dengan sisi emosionalnya dan Ricky dengan impulsivitasnya) adalah mereka yang tidak perlu berpikir berlebihan saat melakukan sesuatu. Ketika menginisiasi sebuah lumatan yang akan melibatkan sebuah pertarungan antar lidah, Gyuvin akan lalu membangun situasi romansanya sendiri dengan meraba kulit yang ada di balik kemeja Ricky. Atau menyandarkan dirinya pada headboard agar dapat memandangi Ricky di atas pangkuannya. Atau menunggu Ricky melingkarkan lengannya pada leher Gyuvin dan membawanya mendekat untuk membubuhi sang leher dengan bercak merah padam dan kekuatan remasan pada setiap helai rambutnya akan bergantung pada seberapa nikmat Ricky merasa.

Mungkin malam ini mereka akan membuat satu sama lain orgasme. Mungkin di malam berikutnya mereka hanya akan saling melumat sampai kelelahan. Mungkin di malam setelahnya memeluk dan merasakan ritme tarikan napas satu sama lain akan membuat mereka tidur nyenyak. Malam apa pun itu, Ricky akan selalu paham bahwa menimbang situasi dimana segalanya yang ada di benua seberang sana masih sepenuhnya tak pasti membuat dia setengah mati ketakutan.

Ricky membuat Gyuvin berantakan pasca melakukan dry humping di atas kepunyaanya yang mengeras dan Gyuvin membuat tubuh Ricky melengkung dengan indah setelah memainkan kepunyaan di dalam mulut. Ada perasaan yang sukar untuk dijelaskan tentang seberapa besar Ricky merasakan hangat dan aman acap kali Gyuvin perlahan semakin mengeratkan pelukannya, menggenggam kedua sisi lekuk pinggang seraya berbisik dengan sensual pinggang kecil begini biar apa sih, Ky? biar gampang gue gendong kemana-mana, kah? dan Ricky akan berkamuflase dalam amuknya yang lagi-lagi menonjok keras Gyuvin beserta lengannya.

Shut up, adalah apa yang keluar dari bibirnya dalam rangka melakukan pembelaan diri. Keep praising me and don’t ever dare to stop, adalah apa yang ada di dalam lubuk hatinya.

 

Sebuah janji yang Gyuvin tanamkan erat-erat kepadanya sebelum mereka menarik selimut dan tidur malam itu adalah, “We’re gonna be on Hollywood, Ky. I’ll promise you that.



***



PHASE II: out and about.

 

Keberanian Gyuvin mengasumsikan banyak hal di dunia sebetulnya bisa dikategorikan dalam golongan naif. Gyuvin adalah dia yang menginterpretasi kutipan penyemangat sebagai mantra yang mujarab, Gyuvin adalah dia yang percaya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil, Gyuvin adalah dia yang percaya bahwa berbuat baik artinya dunia bebas dari segalanya yang jahat, dan Gyuvin adalah dia yang percaya ada ikatan yang kuat antara harapan dan keajaiban.

Berada di kota Los Angeles dengan celemek terikat di depan tubuh sambil menerima pesanan makanan dengan kostumisasi berbunyi no pickle please, and please give it a lot of mustard sama sekali tidak ada hubungannya dengan harapan atau pun keajaiban, dan usahanya dalam memberikan senyum terbaik jelas tak mendapat balasan yang setimpal. Namun, sisi baik dari kesabarannya yang diuji acap kali melayani pelanggan adalah pada hari setelahnya dimana dia bisa menyusuri Beverly Hills dan melihat papan HOLLYWOOD dari kejauhan dan berpura-pura berada dalam simulasi era kejayaanya dalam sepatu lusuh yang harus segera diganti dengan yang baru.

So yeah, City of Angels, baby.

Dia dan Ricky tinggal di asrama yang disediakan akademi pada enam bulan pertama semenjak kedatangan. Dibandingkan dengan usaha keras yang harus dirinya lakukan untuk menjadi sosok yang relevan dalam segalanya yang berhubungan dengan dunia akting, mendengar keluh kesah Ricky tentang teman sekamarnya yang punya libido tinggi dan diam-diam bermansturbasi di balik selimutnya bahkan ketika Ricky ada disana tampak lebih menyiksa. And it's a small room. Quietly, a very small one. It makes Gyuvin’s head boiling mad.

Mungkin pada dasarnya Gyuvin memang terlalu peduli pada Ricky dan melihatnya berpenampilan lengkap dengan kantung mata hitam di bawah kelopak matanya ikut membuat Gyuvin uring-uringan. Atau mungkin pada dasarnya segalanya yang membuat Ricky merasakan ketidaknyamanan adalah beban baginya. Gyuvin bisa saja mencoba menaklukan California dengan membanting tulang dari pagi hingga bertemu pagi lagi, tetapi Ricky—yang boleh terjadi kepada Ricky, hanyalah segalanya yang baik. Dan kalau Ricky tidak baik-baik saja setelah menyetujui ajakan Gyuvin untuk merantau sejauh ini, maka beban ini akan menggerogotinya sampai mati.

"Lo bisa ke kamar gue aja mungkin tiap roommate lo lagi aneh-aneh?"

Ricky tidak serta-merta menolak sarannya. Tetapi dari bagaimana tangannya bekerja semakin lambat dalam membuka aluminium foil yang membungkus sandwich nya membuat Gyuvin yakin bahwa idenya tidak akan membawa banyak perubahan. California hari itu cerah seperti hari-hari biasanya. Pun pertanyaan bagaimana cerah disini tidak pernah ekuivalen dengan Jakarta dan panasnya yang mematikan, mencari sebuah taman yang sepi dan menghabiskan waktu makan siang mereka dengan mengobrol selalu menjadi waktu yang Gyuvin nantikan.

Ricky mendapatkan sebuah pekerjaan di perusahaan fashion design sebagai asisten dari asistennya asisten. Jika dijabarkan dalam bahasa The Devil Wears Prada, Ricky sama sekali bukan Anne Hathaway yang bekerja dibawah Emily Blunt yang bekerja di bawah Meryl Streep. Dia hanyalah seorang intern, yang kerjanya jauh dari hal yang berhubungan dengan fashion dan lebih banyak memastikan kopi pesanan bosnya tersedia di ruangan sebelum meeting dimulai. Ironis memang, bagaimana setelah tiba disana mereka telah melakukan berbagai hal kecuali berakting. Keduanya masih terus meluangkan waktu setiap harinya untuk pergi ke akademi dan berlatih dari mulai bernyanyi, menari, sampai mempelajari beberapa spesifikasi alat musik. Namun sisanya tetap bergantung kepada seberapa pintar mereka dalam mencari info casting yang sedang membutuhkan sebuah peran. Dan selagi menunggu satu-satunya hal yang dapat keduanya lakukan hanyalah bertahan hidup dari gaji yang dikumpulkan lewat pekerjaan paruh waktu.

Situasi Ricky dan kantornya membuat satu-satunya cara sahabatnya bisa beristirahat dari semua kegilaan yang ada dengan menyantap makan siang dalam persembunyian. Gyuvin menyusun sebuah jadwal dimana berlari selama dua puluh menit dari tempat kerjanya bukan hal yang sulit jika artinya Ricky tidak harus makan sendirian. Terkadang dengan finansial yang terbatas mereka hanya akan berkunjung ke 7-11 terdekat. Terkadang bekal yang mereka siapkan dengan bereksperimen di dapur asrama membuat mereka tersenyum puas. Dan terkadang Gyuvin akan membawakan sandwich dari tempat kerjanya ketika bosnya sedang baik hati (yang estimasinya adalah setiap hari Rabu karena episode serial TV favoritnya nanti malam akan tayang).

"Gak segampang itu Vin, dia masturbasi bukan bawa temen ke kamar dan having sex di depan gue. Gimana gue bisa tahu kapan dia mau ngelakuin itu.” Ricky akhirnya melakukan gigitan pertamanya. "I just–i wish i bought some earphone with a better noise canceling. Gue gak mau ikutan dengar desahan dari video porno yang lagi dia tonton."

Bahu Gyuvin yang sepenuhnya turun itu adalah bukti nyata dari kefrustasian yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Gyuvin dan selera makannya juga tidak berteman baik hari itu karena dalam sekejap merasa alih-alih menyantap makanan membawa Ricky pergi dari kamar sesak itu adalah hal yang secepatnya harus dia dilakukan.

"Atau kita bisa tukeran kamar? Roommate gue gak pernah berisik kecuali urgent. Dan urgent dalam konteks ini adalah kalau di dalam kamar mandi kita tiba-tiba ada mayat."

Ricky disampingnya memutar bola mata dengan malas dan memberi pandangan khas Ricky yang jika disuarakan bunyinya adalah can you stop being silly and be serious for once? "Lo seyakin itukah gue akan ngijinin lo satu kamar sama roommate gue? With that kind of libido?"

Gyuvin cepat-cepat memalingkan pandangannya kemanapun asalkan bukan Ricky. Alam bawah sadarnya memerintahkan sang otak untuk memikirkan aspek yang akan segera membuat rona merah jambu di pipinya menghilang. Kalau Gyuvin bukan orang yang payah mungkin pertanyaan berbunyi lo khawatir juga ya Ky sama gue? yang ada di ujung bibirnya akan dengan gampang diutarakan, namun rasa takutnya sudah jauh lebih dulu memukulnya hingga babak belur.

"Gue akan coba ajuin lagi ke akademi supaya kita bisa satu kamar.”

Ricky terdiam cukup lama setelahnya. Gyuvin dan ekspektasinya telah bersiap untuk Ricky lagi-lagi menolak pertolongannya dengan ocehan yang biasa sahabatnya lakukan. Tetapi alih-alih dimarahi, Ricky yang mengulur sebagian waktunya dengan mengunyah makanannya di dalam mulut membuat Gyuvin akhirnya berinisiatif untuk menoleh dan bertemu pandang dengan sisi wajahnya. Di depan sana, tepat di bawah pohon rindang yang berjarak beberapa meter dari mereka sekumpulan burung tengah memenuhi jalan setapak di sekitar taman.

Ricky kemudian ikut menolehkan kepalanya sehingga mereka kini bisa saling bertemu pandang. "You don't need to feel responsible of me all the time, Vin."

"Lo emang responsibilitas gue, Ky. Gue yang bawa lo kesini.”

Berada bersama Ricky gak pernah adalah hal yang sulit. Gyuvin dan reputasinya sebagai sosok yang melihat banyak hal dari sisi positif mungkin adalah apa yang membawanya menutup kemungkinan yang berkebalikan dari itu, tetapi Gyuvin di mata Ricky sepenuhnya hanya Gyuvin, dan segala naik turun yang dialaminya dalam hidup tidak akan merubah pandangan yang dibentuknya selama berusaha belajar untuk saling mengerti. Gyuvin bisa melakukan hal yang sama untuk Ricky. Gyuvin akan melakukan hal yang sama untuk Ricky walaupun artinya setara dengan meraih bulan. Namun manusia punya tendensi untuk sukar merasakan puas, yang artinya membahagiakan Ricky mau sebesar apa pun usahanya tidak akan membuat Gyuvin berhenti.

"You know it takes two people to make it happen. Gue ada disini karena gue menyetujui, dan itu artinya ada tanggung jawab yang harus lo bagi karena gue juga ambil andil dalam keputusan ini. Seriously Vin, i am fine. Gue tahu di dunia ini gak ada yang instan, and i’m not ashamed of us. Of anything. So please stop trying too hard and give yourself a rest. Baby steps."

Baby steps, rapalnya kemudian di dalam hati bagaikan mantra. “Gue akan cari cara supaya lo bisa tidur nyenyak, Ky.”

 

Gyuvin masih tidak tahu bagaimana dan dengan cara apa, namun pada suatu ketika Sung Hanbin berakhir menjadi pahlawan dalam sebuah ide paling brilian yang pernah ada di alam semesta.

 

Gyuvin dan Ricky bertemu Sung Hanbin sebagai dance instructor di akademi tempat mereka berlatih. Berbeda dengan instruktur lain yang kebanyakan menerapkan strata yang jelas terhadap kesenioritasan, Hanbin merangkul seakan Gyuvin dan Ricky adalah dua bocah yang akan tersesat jika lepas dari pengawasannya. Hanbin juga adalah orang dewasa pertama disana yang membuat Gyuvin merasakan kehadiran Jiwoong walaupun mamas berada pada bagian benua lain, dan bisa dibilang itu adalah hal yang saat ini Gyuvin butuhkan. Hanbin selalu dengan senang hati memperkenalkan Gyuvin dan Ricky kepada teman-temannya. He is genuinely a wholesome and cool guy, dan itu secara otomatis membuat mereka ikut menjadi salah satunya. Gaya hidup orang-orang disana mungkin terlalu mahal untuk digapai dua pekerja serabutan seperti dia dan Ricky, namun Hanbin membuat pengalaman mereka di kota itu menjadi lebih beragam.

Hanbin malam itu mengundang Gyuvin dan Ricky untuk datang ke salah satu club. Pesan berisi keterangan alamat dan diikuti dengan peringatan berbunyi wear tux or something like that itu bukan sesuatu yang akan ditulis setiap mereka pergi bermain, namun Ricky yang lebih bersemangat dari apa pun berakhir mendandani Gyuvin dengan jeans, kaos putih, dan blazer yang mereka temukan dari thrifting.

Dan jika keduanya tahu bahwa di dalam sana ada Zhang Hao dan penampilan solo violin nya yang diperuntukan pada pembukaan club yang dia dan Taerae rencanakan semenjak entah kapan, Gyuvin dan Ricky akan menyisihkan waktu untuk memilih baju yang lebih pantas.

Okay i’m panicking.

Dude, chill.” Gyuvin menarik pinggang Ricky karena tubuhnya yang perlahan semakin menjauh. “Yang datang pasti kita-kita aja. Lagian it’s not that bad.

We’re wearing jeans and converse.

It’s called semi-formal.

Ricky memelototinya. “I’m not gonna talk about fashion with you ever again.

Gyuvin membalasnya dengan cekikikan. “Itu billboard gede di depan sana bakalan majang muka gue beberapa tahun lagi, Ky.”

Yeah yeah, goodluck with that kalau kita gak dicekik kak Hao dan kak Taerae duluan malam ini karena telat dan pakai sepatu lusuh ke acara penting mereka.”

Jika Zhang Hao mendengar impresi pertama Gyuvin terhadap dirinya berbulan-bulan lalu mungkin pria itu akan langsung menertawakannya habis-habisan (Gyuvin pernah mengajak Hanbin berbicara empat mata hanya untuk sekedar menanyakan Zhang Hao beneran cowok lo? gak ngerasa beban kah kak pacaran sama dia? cukup menjadi rahasia antara dia dan Hanbin). Kenyataan bahwa ada masa dimana Zhang Hao pernah disandingkan bersama kata mengintimidasi versus bagaimana dinamika hubungannya dengan Gyuvin sekarang mungkin akan menjadi hiburan tersendiri bagi pria itu.

In Gyuvin defense, ada beberapa aspek dalam diri Zhang Hao yang sempat membuatnya ketakutan dan sebagian besar disebabkan oleh level kepercayaan diri yang tidak akan pernah Gyuvin miliki serta caranya dan keberaniannya dalam membela orang-orang terdekat. 

Kekhawatiran terbesarnya semenjak tiba disana adalah tidak akan ada orang yang dia percayakan untuk menjaga Ricky selain dirinya sendiri, namun semua itu berubah semenjak satu kejadian ketika Zhang Hao dengan senyuman mematikan di wajahnya berhasil menonjok hidung seorang pemuda yang menepuk bokong Ricky sebagai bercandaan. Mereka berenam (Gyuvin, Ricky, Hanbin, Hao, pemuda itu, dan satu temannya) berakhir di kantor polisi dan kemudian dipulangkan dalam kurun waktu dua jam setelah petugas menganggap kejadian tersebut sebagai pertengkaran biasa. Jika Gyuvin bersyukur karena mempunyai Hanbin di sampingnya, dia juga akan ikut bersyukur karena Ricky selalu punya Zhang Hao (with the additional Kuanjui and Taerae) di belakangnya.

Gyuvin punya satu pertanyaan besar di dalam benaknya acap kali mendedikasikan waktunya untuk menonton series western yang belum pernah benar-benar mendapat jawabannya. Ricky bilang kalau sebuah tayangan berisikan anak sekolah menengah atas berlatarkan Amerika Serikat tidak akan terlalu membantunya dalam mempelajari sebuah metode akting yang spesifik, tetapi Gyuvin menontonnya lebih kepada perbedaan pengetahuan budaya yang ingin dikoleksinya. Pada akhir episode Euphoria season pertama pertanyaan besar itu kembali muncul di dalam benaknya: is American high school really this fucked up? does the daily party really happen? dan diantara semua kenalannya disana, Kuanjui mungkin adalah yang paling berjasa dalam menjawab rasa penasaran itu.

Kuanjui tinggal bersama keluarganya yang memiliki satu restoran di Chinatown. Pria itu juga merupakan salah satu dance instructor di akademi bersama dengan Hanbin, namun bedanya Kuanjui tidak benar-benar mengincar gajinya. Dia ada disana karena kecintaan pada menari dan obsesinya pada film Step Up, dan kalau ada orang yang selalu punya waktu luang serta membuat sebuah acara agar bisa mengumpulkan teman-temannya maka Kuanjui adalah orangnya.

Sang pemilik acara tidak berakhir dengan mencincang mereka hidup- hidup, tetapi Zhang Hao memberinya sebuah tatapan menghakimi hingga Gyuvin berakhir dengan kedua tangannya yang diangkat ke udara dan serangkaian pembelaan diri. “Sumpah, kak Hanbin ngga bilang ini acara penting! Gue kira ya main kayak biasa aja??!!!!"

Zhang Hao yang baru turun dari panggung dan menduduki singgasana di atas pangkuan Hanbin itu melirik pacarnya penuh skandal. Lalu Hanbin, mengetahui bahwa segala pembelaanya tidak akan pernah menang meluluhkan tatapan itu lewat sebuah kecupan bibir. “My bad.

You know what? I think we need to go shopping.

Ada sebuah paduan suara berbunyi NO! yang datang dari Gyuvin dan Hanbin karena mereka adalah korban dari Zhang Hao dan rezim kekejamannya ketika berbelanja, dan YES! yang datang dari Kuanjui, Taerae, dan juga Ricky.

Hanbin segera meremas lekuk pinggang kekasihnya dengan penuh desperasi. “No babe, anything but shopping.

Zhang Hao mengabaikan Hanbin yang kembali akan melumat bibirnya dengan kerlingan mata penuh sarkas dan pandangan yang beralih ke arah Gyuvin dan Ricky. “Do you guys have class tomorrow?

Kinda?” Ricky menjawab ragu-ragu, dan Zhang Hao dengan mudah menangkap intonasi suaranya. It’s Sunday tomorrow, dan kecuali ada kelas pengganti mereka seharusnya bebas seharian.

What do you mean kinda?

“Aku sama Gyuvin kayaknya besok mau coba tanya lagi ke pihak akademi supaya bisa change roommate. If it didn’t work… mungkin kita mau gambling aja cari-cari flat murah?”

Taerae adalah orang pertama yang bereaksi beberapa detik setelah Ricky menyelesaikan kalimatnya. Kedua bola mata pria itu membulat sempurna, dan ada sebuah animasi kasat mata berbentuk lampu bohlam di atas kepala bersamaan dengan pandangannya yang melirik kepada Zhang Hao lalu berpindah pada Hanbin.

“Bin?” Ucap Taerae dengan maksud yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua, dan Hanbin bersama dagunya yang tengah bertengger di bahu Zhang Hao itu perlahan bereaksi.

Uh… anyone fancy starting a family with me?

Ajakan itu adalah awal dari bagaimana Gyuvin dan Ricky berakhir menempati satu kamar pada apartemen Hanbin yang dulunya ditempati Taerae dan membagi uang sewa menjadi tiga bagian karena Ricky mengancam Gyuvin dengan menolak pindah jika Gyuvin bersikeras untuk melarang (“Tapi kan kamarnya cuma satu Ky, kita nempatinnya berdua.” “Justru itu, kita pakai berdua bukan cuma lo sendiri. Bisa bahasa Indonesia gak sih Vin?”). Taerae memberitahu mereka bahwa kepindahannya didasari keputusan untuk tinggal bersama pacarnya, dan Zhang Hao walaupun sering ditemukan di dalam kamar Hanbin ternyata punya apartemen sendiri jauh dari sebelum dia dan Hanbin saling mengenal. Jadi, yah, bisa dibilang mereka mendapatkan jackpot dari mulai harga sewa murah sampai efisiensi waktu.

Ricky menghabiskan sepanjang hari Minggu dengan menyeret Gyuvin mengunjungi sebuah garage sale yang dilihatnya beberapa pekan lalu dalam perjalanan menuju akademi. Gyuvin sama sekali gak melihat urgensi dimana mereka harus membeli rak buku dan sofa, namun Sung Hanbin yang baik hati mengatakan akan membagi apartemen mereka menjadi dua teritori dan mereka bisa mendekorasi setengah wilayah dengan bebas dan sekarang Ricky terobsesi melakukan bedah rumah seakan-akan mereka punya ruang berhektar-hektar alih-alih beberapa petak. Sebagai gantinya, Gyuvin kini sedang menggotong sebuah meja rias berbahan maho yang didapatkan Ricky dengan harga cukup murah untuk diletakan di dalam kamar mereka.

“Ky, ini berat.”

“Geser kanan Vin.”

Digesernya meja itu ke kanan. “Gini? Udah?”

“Hmm… kayaknya harus rada ke kiri deh.”

Napasnya dihembuskan dengan dramatis sebelum kembali mendorong sang meja sesuai perintah. “Udah belum? Ini berat Ky seriusan.”

Ricky mengabaikan protes barusan dengan mengomandokan perintah selanjutnya. “Coba dorong sedikit lagi ke kanan Vin, sedikit aja tapi.”

Gyuvin bersama dengan matanya yang membelalak dan giginya yang menggertak itu mungkin tengah mencoba terlihat sangar, namun pada akhirnya tangannya tetap mendorong meja itu lagi sebelum berjalan menghampiri Ricky dan memberi sebuah kecupan kilat di pipinya dengan bunyi muah! yang sengaja dikencangkan untuk mengolok-olok kemudian menjatuhkan wajahnya ke atas tempat tidur dengan kaki yang setengahnya menggantung di pinggir.

Ricky yang jelas tak memprediksikan kecupan itu sontak meneriakan VIN! ke arahnya, walaupun desibel dari berteriak versi Ricky tidak akan pernah bisa disebut berteriak. He’s just too much of a soft person. He’s lovelicky.

“Kardus yang di depan pintu masih belum dimasukin.”

Gyuvin mengabaikan dengan gumaman yang terendam. “Mmm.”

“Harus diberesin sekarang Vin.”

“Iya.”

Gyuvin.”

“Oke, oke.” Tubuhnya kembali bangkit, dan dalam langkahnya melewati Ricky sebelum keluar dari kamar Gyuvin menangkup kedua sisi pipi si dia dengan gemas. “Bossy.”

Ricky menggigit bibir bawahnya sebelum menyisir beberapa helai rambut Gyuvin yang mencuat. “You like it.

Kekehannya keluar bersamaan dengan sebuah dengusan dan realisasi memalukan. “Yeah.

Dulu sewaktu mereka masih duduk di bangku SMP, Gyuvin pernah berlumuran oli ketika mencoba untuk membenarkan rantai sepeda Jiwoong yang rusak setelah diam-diam dipakai oleh Ricky. Sahabatnya itu menarik ujung hoodie Gyuvin dan memerintahkannya kesana- kemari agar sepeda itu bisa cepat kembali seperti semula sebelum mamasnya pulang, dan Gyuvin bersama waktu tidur siang yang terganggu setelah semalaman di lokasi syuting itu dihabiskan di garasi rumah dengan muka cemong dan mata merah. Kalau dipikir-pikir dia bisa saja memberikan saran untuk Ricky pergi ke bengkel depan kompleks rumahnya, tetapi pada saat yang bersamaan Gyuvin juga gak mau Ricky ketakutan sendiri.

At the end of the day Gyuvin dapat dengan berani mengatakan bahwa dia adalah bukti nyata dari korban perbudakan sukarela. Punggungnya luar biasa sakit, dan ada beberapa bercak lebam pada jarinya hasil dari paku yang kini berhasil menempel di dinding tempat Ricky akan menaruh beberapa sketsa lukisan. Gyuvin juga masih menyempatkan pergi ke cafe terdekat untuk membelikan si dia milkshake boba strawberry so, yep, Ricky is indeed bossy but Gyuvin kept on spoiling for free anyway.

No, minum punya lo sendiri.” Ricky mendorong tubuh Gyuvin menjauh ketika mencoba untuk ikut menyisip minumannya. Bukan benar-benar ingin, tetapi menjadi usil dan menyentil kesabaran Ricky adalah perilaku natural bagi seorang Gyuvin. Dan lucunya, Ricky tidak pernah pelit soal urusan makanan kecuali jika itu melibatkan strawberry. Again, lovelicky.

Mereka kini duduk di atas karpet bulu yang ada di ruang tengah, Gyuvin dengan punggung yang bersandar pada sofa dan Ricky yang bersila di depan kotak pizza bersisakan tiga potong. Televisi berukuran 21 inci yang menggantung di dinding tengah memutar Fresh Off the Boat season pertama atas ide Gyuvin karena dia selalu menganggap slice of life sebagai metode terbaik dalam mempelajari seni berakting, dan Gyuvin juga selalu menyukai tontonan yang mempunyai genius comedic timing. Ricky disampingnya menurut dengan malas karena Gyuvin telah berulang kali menontonnya dan tidak mengerti mengapa sahabatnya itu memilih untuk menonton sesuatu yang alurnya sudah dihapalnya di luar kepala alih-alih memulai sesuatu yang baru.

“Lo kan janji mau mulai binge watch The Fear Street, Vin. It’s American horror. In America. This is America.”

Gyuvin mengusap beberapa remahan roti yang ada di ujung bibirnya dengan punggung tangan tanpa menoleh ke arah Ricky. “Ini juga tentang Amerika kok. Eddie Huang. Asian kid adjusting in American culture. Kita orang Asia. It’s literally us. We are learning.

Bola matanya lagi-lagi berputar malas. “You know, lo tuh punya several cases of getting scared to start something new. Itu tuh ada penelitian psikologinya tahu.”

Babe, it’s called a comfort movie.

Yea, whatever.” Ricky menaikkan kedua kakinya ke atas pangkuan Gyuvin yang tanpa bersuara otomatis memijatnya asal, sedangkan sang empunya memindai seisi apartemen dengan ekspresi yang sulit Gyuvin asumsikan. “Vin.”

“Hm?”

“Makasih.”

Kedua alisnya terangkat naik. “Buat?”

“Karena udah bawa gue ke tempat dimana akhirnya gue bisa tidur nyenyak?”

Technically, Hanbin yang bawa lo kesini. Dan gue gak yakin kita masih bisa tidur nyenyak kalau kak Hao lagi nginep. Lo udah pernah jadi saksi betapa berisik dia kalau lagi ngewe.”

Ricky menonjok perutnya, Gyuvin dengan dramatis mengaduh, dan ada keos yang terjadi dimana mereka saling menggelitik satu sama lain. Namun Gyuvin diam-diam mengerti terjemahan dari apa yang Ricky berusaha sampaikan: makasih udah khawatir, makasih udah berusaha, makasih udah nepatin janji. Diantara mereka berbicara dalam teka-teki memang sudah menjadi keahlian, dan dalam setiap janji itu selalu Gyuvin selipkan keinginannya untuk menyediakan tempat tinggal yang nyaman untuk Ricky. Walaupun masa berlaku apartemen ini sepenuhnya menjadi kepunyaan mereka akan berakhir setelah Hanbin pulang dari sesi mengajarnya, but this will do.

“Lo ada audisi kan hari Senin besok?”

Pijatannya sedikit mengeras ketika pertanyaan itu muncul. “Iya.”

Okay.”

Gyuvin tersenyum kepada Ricky. “Okay.”

Dan Ricky tersenyum pada Gyuvin.

Pada pukul empat sore telepon seluler nya berdering dengan sebuah pesan masuk dari Hanbin yang mengatakan kelasnya akan berlangsung sampai malam hari. Yang artinya, rumah ini masih akan sepenuhnya menjadi milik mereka dan keduanya memutuskan untuk merapikan isi lemari pendingin sekaligus memasak makan malam. Ricky mahir di dapur jika instruksi yang menjadi pegangannya jelas, Gyuvin hanya akan memasak jika ada instruksi dari Ricky. They make a great pair.

Perutnya yang kekenyangan pasca satu porsi besar Lasagna itu membuatnya terkapar lemah di atas sofa. Matanya mengarah kepada punggung Ricky yang tengah berdiri di depan wastafel dan mencuci beberapa alat makan, dan ada sesuatu yang meremas dadanya ketika disuguhkan sebuah pemandangan dimana sahabatnya itu berada dalam balutan piyama satin abu-abunya, rambut yang masih setengah basah, dan dinamika domestik diantara mereka yang seakan-akan telah mereka lakukan sepanjang hidup.

It was such a beautiful sight and Gyuvin wouldn’t dare to ask more.

Malam itu Ricky tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, dan Gyuvin jelas tahu itu karena dia berada tepat disampingnya. Ricky ada disana, berada begitu dekat, dan beban yang menggerogoti pundaknya perlahan demi perlahan mulai terangkat. Gyuvin membubuhi pelipis Ricky dengan sebuah kecupan sebelum ikut menarik selimutnya dan menjelajah dunia mimpi.

 

They’re gonna be okay.



***



Gyuvin menerima kabar bahwa dirinya mendapatkan callback setelah casting dua minggu lalu ketika panggilan telepon itu masuk pada jam tersibuk restoran. Gadget yang kembali ia simpan di loker itu lagi-lagi terbengkalai, gerak kakinya mulai menghentak tak sabaran ketika pelanggan terakhirnya pada shift hari itu adalah seorang pria lanjut usia yang lupa membawa kacamatanya dan Gyuvin harus dengan sabar mendikte daftar menu satu-persatu.

Gyuvin’s out of his mind already. He wants to tell Ricky. He needs to tell Ricky. He’s gotta be the first to know.

Tepat pukul enam sore tubuhnya melayang begitu cepat dari balik kasir, melepas celemek dan melipatnya asal ke dalam loker, menarik tasnya dan mengalungkannya seraya mengunci lokernya kembali. Rekan kerja yang akan melanjutkan shift nya telah bersiaga dan tengah me refill beberapa condiment ketika Gyuvin berteriak dibalik pintu masuk yang setengah terbuka. “I’m off!

Okay. See you tomorrow, Gyu!

See ya!

Dalam perjalanannya menuju apartemen Gyuvin mencoba menelepon Ricky. Los Angeles hari itu cukup mendung dari biasanya, dan Gyuvin merapatkan jaket varsity nya sambil memegang handphone di samping telinga. Percobaan ketiga, dan dia akhirnya menyerah lalu kembali mengantongi handphone itu di saku jaket.

Hanbin tengah duduk dengan macbook nya yang terbuka di atas meja dan jemari yang saling bertaut di bawah dagunya ketika Gyuvin masuk dan kembali mengunci pintu di belakangnya. Sang pemilik rumah lalu mendongakan kepalanya untuk bertemu pandang dengan Gyuvin, dan senyumnya perlahan bermekaran. “Baru balik Vin?”

“Iya kak.” Kakinya melangkah masuk setelah sepatunya tertata dengan rapi di atas rak. “Lo tumben amat jam segini di rumah?”

“Tadi pagi gue buru-buru terus ternyata laptop ketinggalan. Ini gue niatnya cuma ngambil terus balik lagi ke akademi, cuma mau ngirim satu email dulu.”

Gyuvin menjatuhkan tubuhnya yang lelah pada jarak tepat di sebelah Hanbin. “Ooh… Kak Hao ada ngabarin lo atau apa gitu gak?”

Pertanyaan tadi membuat Hanbin sedikit terkekeh dan menoleh ke arahnya. “Nope.”

Gyuvin mengerang pasrah dengan wajahnya yang diusap frustasi dibalik telapak tangan. “Gue kira mereka bercanda soal aturan gak boleh main handphone.”

“Lo kan tahu sendiri Hao gimana,” Hanbin kini ikut merebahkan kepalanya pada bagian belakang sofa, pandangannya bertitik pada langit-langit. “Gue juga kangen sejujurnya.”

It’s been two days. Pada hari Kamis kemarin Ricky bercerita sebelum tidur bahwa dia akan ikut serta dalam ritual sleepover yang diadakan Zhang Hao, Kuanjui, dan Taerae. Hanya mereka berempat yang mengetahui tujuan dari sesi menginap ini serta apa saja isi dari rundown acaranya, namun ada sebuah aturan dimana mereka dilarang untuk menghubungi siapapun selama ritual berlangsung. Kalau ini bukan ide seorang Zhang Hao mungkin Gyuvin akan bersikeras menolak dan melarang, namun Hanbin meyakinkannya kalau agenda ini sudah berlangsung setiap beberapa bulan sekali dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi. But it’s Sunday night already, dan belum ada satu notifikasi di layarnya yang berasal dari Ricky.

“Ini tuh menurut gue jadi kayak… penculikan.”

Hanbin serta-merta mendengus dan terbahak. “Well, i think Zhang Hao is perfectly capable of that.

Gyuvin kembali meraung. “Gue mau mandi terus tidur.”

Pria di sebelahnya ikut menyetujui rencana tersebut sebagai keputusan terbaik lewat anggukan mantapnya. “Good idea.

Tangannya menepuk pundak Hanbin untuk terakhir kali sebelum berjalan masuk ke kamar. Dan ketika Gyuvin kembali keluar dengan handuk yang melingkar di leher dalam langkah menuju kamar mandi, Hanbin sudah menghilang dari tempatnya tadi.

Matanya luar biasa mengantuk pasca menghabiskan satu kaleng beer dan mencoba membaca beberapa naskah untuk persiapan callback nya, dan tubuhnya tanpa sadar terbaring dengan sendirinya.

Beberapa jam kemudian Gyuvin tersentak kaget ketika handphone yang berada di samping kepalanya berdering dengan keras. Dengan insting dan mata yang setengah tertutup ia menggeser ibu jarinya di atas layar, berharap telah menyentuh tombol yang benar. Gadget yang kini menempel pada telinganya itu mengumandangkan sebuah suara yang begitu dikenalnya.

“Hey.”

Gyuvin mulai merasakan darahnya sedikit demi sedikit terpompa ke atas kepala. “Ricky?”

“Lagi bobo ya?”

Diintipnya sang layar handphone sejenak untuk memastikan nama yang ada disana beserta jam di pojok kanan atas. Pukul dua pagi. “Iya. Lo dimana Ky?”

“Udah deket. Mungkin bakalan sampai apartemen jam… lima?”

Gyuvin mengangguk dan kemudian sadar bahwa Ricky tidak akan bisa melihatnya. Suaranya mengeluarkan sebuah gumaman serak. “Oke… Kok bisa telepon gue? Emang dibolehin?”

“Engga sih, cuma kita lagi isi bensin dan gue izin ke toilet. Kak Hao juga diem-diem facetime sama kak Hanbin beberapa jam lalu.”

Melanggar aturan yang dia buat sendiri, that’s sounds like Zhang Hao.

Ricky kembali bersuara setelah hening yang berlangsung cukup lama di antara mereka. “Vin?”

“Hm?”

It’s…” Ricky kembali terdiam, Gyuvin menunggu. “...nevermind.”

“Kenapa Ky?”

“Nanti aja.”

“Seriusan?”

“Mhm. Gonna be home in a few hours anyway.

“Oke.” Kepalanya tiba-tiba teringat akan sesuatu. The callback. “Gue juga nanti mau kasih tahu lo sesuatu.”

Alright.” Si dia dengan cepat menjawab. “I gotta go.

Drive safe?

Will do.

Ada kalimat i miss you yang menggantung di ujung lidahnya yang dikalahkan oleh Ricky yang menutup sambungan telepon dengan lebih cepat. Kalimat itu kini berakhir melayang di udara, di tengah kamarnya yang dingin dan gelap, dan suara sirine ambulance serta kendaraan lain berlalu-lalang dari kejauhan.

Gyuvin kembali memejamkan matanya.

Ada setitik cahaya matahari yang menyelinap dari balik jendela ketika Gyuvin membuka mata untuk kedua kalinya pagi itu. Instingnya mengatakan bahwa masih terlalu pagi untuknya keluar dari balik selimutnya yang nyaman, dan sebuah tubuh yang baru saja jatuh tepat di belakangnya membuat tempat tidur itu berdecit pelan. Gyuvin membiarkan sang jemari lentik memeluk pinggangnya, merapatkan dada pada punggungnya, menghembuskan napas di bawah telinganya, menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.

Walaupun ada sebuah kain penutup yang memenjarakan matanya untuk dapat melihat dunia Gyuvin akan selalu tahu bahwa dia adalah Ricky dari ritme napasnya, Gyuvin akan selalu tahu bahwa dia adalah Ricky dari harum tubuhnya, Gyuvin akan selalu tahu dia adalah Ricky dari hangat tubuhnya, dan Gyuvin akan selalu tahu dia adalah Ricky dari perasaan nyaman yang menyebar ke seluruh sendinya ketika dia tahu Ricky telah sampai dengan selamat dan kembali ke dalam pelukannya. Gyuvin akan selalu tahu jika itu adalah tentang Ricky.

Dia menarik lengan itu mendekat untuk mengikis semua jarak sebelum kembali menarik selimut, memejamkan mata, dan menuju alam mimpi lagi untuk beberapa jam kedepan.

Ricky telah menghilang dari pelukannya ketika Gyuvin sepenuhnya terbangun. Jam pada meja disampingnya menunjukan angka delapan pagi, dan dia hampir terlonjak kalau saja tidak teringat giliran shift nya hari ini adalah di malam hari dan kelasnya di akademi diundur menjadi besok. Dia melihat pantulan di cermin sebelum melangkah keluar dari kamar, dan menemukan Ricky di depan mesin kopi tengah memegang segelas cangkir.

Dengan rambutnya yang berganti warna menjadi blonde. Dan sebuah tato di samping lehernya bertuliskan ROLEMODEL dalam gothic font. What the fuck.

What the fuck.

Ricky dan mata bulatnya mendongakan kepala ketika mendengar Gyuvin dan suaranya yang menggema. Tangannya dengan kikuk menggantung di udara sebelum menggaruk tengkuk leher. “Hey?”

“Ricky.” He’s blonde. You’re blonde.

Yes he is. Yes i am.

And have a tattoo.He definitely is.

I guess?

Kedua sisi keningnya mulai berdenyut hingga kepalanya merasakan sakit luar biasa. “Okay.”

Ricky memalingkan mata menghindari Gyuvin dengan melanjutkan racikan kopinya. “Want some?

Gyuvin masih dengan pikirannya yang mengawang di udara dan titik pandangnya pada leher Ricky menjawab dengan asal. “Yeah…

“Kak Hao bilang gue butuh a change of look.” Ucap Ricky ketika sedikit berjinjit untuk mengambil cangkir kedua. Kaos putih yang dikenakannya ikut terangkat dan menunjukan sejumput kulit pada pinggangnya yang ramping, dan Gyuvin harus dengan susah payah menelan saliva bersama tenggorokannya yang terbakar. “Kak Taerae ngewarnain rambut gue di villa yang kita sewa, dan hari Sabtu setelah surfing kak Jui ngajak gue ke tattoo studio langganannya.”

Gyuvin sadar ini adalah gilirannya untuk berbicara setelah tak ada lagi suara yang terucap dari bibir Ricky selama beberapa detik. “Oh.”

You… didn’t like it?”

Dadanya terasa nyeri ketika mendengar intonasi kecewa Ricky dan asumsinya yang salah besar. Namun Gyuvin bukan apa-apa selain segalanya yang bodoh jika itu menyangkut tentang mengutarakan apa yang lubuk hatinya rasakan jika itu menyangkut Ricky. Jadi alih-alih mengklarifikasi jawabannya, Gyuvin hanya membuka bibirnya sejenak sebelum menutupnya kembali. “Uh.”

Ada beberapa milimeter dari bahu Ricky yang merosot turun ke bawah setelah mendengar perkataannya barusan dan isi perut Gyuvin kembali terasa dikocok dan membuatnya mual. This is hard.

“Jelek ya Vin? Gue maksudnya. Um. Yang jelek. Gue jelek.”

Is Ricky messing up with him? Is this a test? Because no, absolutely fucking not. He’s the most beautiful person Gyuvin ever encountered in life, dan kakaknya adalah seorang Kim Jiwoong. A freaking Kim Jiwoong dan beberapa artis papan atas yang pernah bekerja bersama Gyuvin, dan dia tetap akan mengatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mendekati level seorang Shen Ricky. Pemuda itu mungkin mendominasi isi lemarinya dengan kemeja hitam dan eyeliner yang membuatnya terlihat seperti keluar dari remaja depresi dalam salah satu video musik Avril Lavigne, tetapi Gyuvin selalu tahu bagaimana Ricky akan menyalurkan kecantikannya.

Gyuvin tidak tahu caranya mengungkapkan semua itu tanpa harus terdengar seperti lumba-lumba yang sedang tersedak. Dan sebelum dia bahkan sempat mengatur isi kepalanya untuk kembali waras, Ricky berjalan ke arahnya dengan membawa masing-masing cangkir pada genggaman tangannya.

“Vin are you okay?” Kalau boleh jujur? Gak terlalu. Ricky segera menyadari itu ketika melihat bulir keringat yang perlahan menuruni pelipis Gyuvin dan– “Oh.”

Kepalanya menunduk untuk mengikuti arah pandang Ricky yang berada di antara kedua selangkangannya. Gyuvin punya beberapa episode dalam hidupnya yang bisa dia nobatkan untuk menjadi sebuah pengalaman memalukan; yang pertama adalah ketika kabur dari hadapan wartawan dalam sesi wawancara pertamanya karena terlalu gugup, yang kedua adalah ketika Jiwoong memergokinya dan Ricky hampir berciuman di kamar, dan yang ketiga mungkin adalah ketika sahabatnya itu menjadi saksi dari penisnya yang mengalami ereksi karena rambut blonde dan tato di ceruk lehernya.

You have a boner.

Gyuvin tersedak salivanya sendiri. Matanya membelalak tak berkedip, tubuhnya sepenuhnya membeku di tempat. “Engga tuh.”

“Kak Hanbin udah jalan ke apartemennya kak Hao dan bilang kalau malam ini bakalan nginep disana.”

“Ky.” Gyuvin mengeluarkan sebuah rintihan bersama tubuhnya yang panas dingin. “You can’t just say things like that.

Well.” Ricky menaruh cangkir berisikan kopi milik Gyuvin sebelum mengangkat kedua bahunya tak acuh, menenggak sisa minumannya, dan berjalan balik menuju wastafel untuk mencuci cangkirnya. Shen Ricky. Dengan kaos oversized putih dan celana boxer yang bahkan kini tenggelam dibaliknya. Shen Ricky. Dengan jemari lentiknya yang membersihkan sisa-sisa sabun di sekitar gagang cangkirnya. Shen Ricky. Dengan kulit di bagian lekuk pinggangnya yang lagi-lagi terpampang dan Gyuvin mencoba sekuat tenaga untuk memalingkan kepala tetapi dikhianati tubuhnya sendiri.

Shen Ricky. Dengan rambut pirangnya yang begitu ingin Gyuvin raup diantara jemarinya. Shen Ricky. Dengan leher putih jenjang yang tak sabar Gyuvin bubuhkan bercak merah di atasnya.

And Gyuvin just–Gyuvin hanya gak mau Ricky berpikir kalau dia itu sekedar objektivitas dari apa pun fantasi mesum di dalam kepala Gyuvin. He’s more than that. Ricky is never that low in Gyuvin’s eyes.

Oke, opsi pertama dan paling aman adalah memikirkan hal sebaliknya yang akan membuat sang penis turun dan melemas. Bloopers salah satu filmnya dimana Gyuvin tidak bisa berhenti tertawa dan harus mengulang adegan berkali-kali dan membuat beberapa kru kelelahan menunggu. Yujin yang menangis tersedu-sedu ketika mengantarnya ke bandara. Kaki anjing peliharannya di rumah yang harus dioperasi karena patah. Taerae dan piyama bebeknya.

Okay. It’s down.

Dan sekarang tinggal bagaimana caranya Gyuvin meminta maaf.

Sendinya yang masih melemas itu kini bangkit dari tempatnya duduk sebelum menghampiri Ricky yang memunggunginya, mempergunakan lengannya yang panjang untuk memeluk erat pinggang si dia (what does the freaking small waist is for really?), dan menaruh dagunya di atas pundak kanan Ricky.

Hey.”

Yang dipeluk ikut menangkup lengan Gyuvin yang berada di depan ceruk perutnya. “Hey.”

“Cantik banget, Ky. Blonde suits you well. And i’m sorry.

For getting aroused?

Gyuvin menggigit kulit yang berada tepat dibalik kaos bagian bahu Ricky. “For saying it too late.

It’s not too late. Um. Thank you.

Okay.”

And the tattoo? Tatonya gimana, Vin?”

Alam bawah sadarnya ingin dengan lantang mengatakan oh it turns me so fucking on, tetapi Gyuvin sadar dirinya bisa lebih bermartabat dari itu dan berakhir dengan memberi jawaban sekenanya. “It’s… emo.

Ricky menolehkan kepala sehingga kini netranya dan Gyuvin bertemu. Bola mata itu kembali diputarkan dengan penuh sarkas. “Really.”

“Ya lo maunya gue bilang apa, Ky?” Rengek Gyuvin dengan segala pertahanan tersisa di dalam dirinya. Ricky’s really driving him mad at this point. Why does acting suddenly seem easier than the real deal?

Alih-alih menjawab pertanyaanya, Ricky kini sepenuhnya membalikan badan untuk menghadapi Gyuvin. Dari jarak sedekat ini Gyuvin dapat dengan jelas melihat setiap helai rambut berwarna putih itu. Dalam beberapa bulan bagian akarnya mungkin akan menghitam, namun saat ini disana hanya ada Ricky dan hasil mahakarya yang Taerae ciptakan. Matanya lalu diam-diam melirik pada ceruk leher dimana sang tulisan gothic berada bersama seluruh hasrat yang ditahannya untuk membelai setiap inci dari bagian kulitnya, dan Ricky menyadari itu karena hal selanjutnya yang Gyuvin tahu adalah telapak tangannya yang dituntun untuk menangkup Ricky serta lehernya.

It’s a form of consent the other gave for him; you can touch, it’s okay.

Gyuvin kemudian mulai membelai dan memetakan kulit itu dengan ibu jari. Sang empunya perlahan memejamkan mata bersama bibir bawahnya yang digigit, dan dalam sekejap apartemen ini terasa panas.

Gyuvin masih terus memetakan ibu jarinya disana; alurnya kini mulai mengikuti satu persatu huruf yang tercetak, membuat Ricky sesekali tersentak karena rasa geli. Gyuvin memindahkan genggaman tangan kanannya untuk menahan pinggang Ricky ketika pemuda itu mulai banyak bergerak dan kesusahan berdiri di atas kakinya sendiri.

Pada satu titik mungkin Ricky menganggap bahwa Gyuvin memasang laju yang cukup lama dalam permainannya karena Ricky kemudian menjadi orang pertama yang memajukan wajah dan melumat bibirnya. Ada konfidensi dimana Ricky mengetahui bahwa saat ini Gyuvin lebih banyak membutuhkan dia daripada Ricky membutuhkan Gyuvin, dan itu dibuktikan dengan Ricky yang menaikan ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah seringai. Ricky mengeluarkan serangkaian rintihan ketika Gyuvin semakin merapatkan tubuh dan membuat kepunyaan mereka di selangkangan sana sama-sama bergesekan. And they’re in the kitchen. Hanbin’s going to kill them both.

Gyuvin bukannya mau pamer (or maybe he did) tetapi mengangkat tubuh Ricky dan membawanya di dalam gendongan bukanlah sebuah hal yang sulit. Telapak tangannya menahan masing-masing sisi bokong Ricky, dan dalam perjalanan singkat mereka menuju kamar ada lengan Ricky yang melingkar di lehernya dan memeluk Gyuvin begitu erat seakan hidupnya bergantung disana. It’s like he put so much trust into the hug, and Ricky wanted Gyuvin to use it well. Dan momen sakral itu hampir membuat Gyuvin meneteskan air mata.

Gyuvin tidak tahu apakah Zhang Hao pernah menanyakan hal yang sama kepada Ricky, tetapi Gyuvin pernah dihadapkan kepada sebuah situasi dimana Hanbin bertanya tentang hubungan mereka dan sampai mana dia dan Ricky pernah menjadi berani. It’s never more than a kissing, a cuddle, and a mutual jacking off session, actually. Ricky mungkin bisa berubah menjadi orang termanja ketika menghabiskan hari Minggunya di atas tempat tidur bersama dengan Gyuvin, tetapi sahabatnya itu hampir tidak pernah menunjukan ketertarikan pada seks . Mungkin libidonya memang tidak setinggi itu. Atau mungkin sebagaimana Gyuvin, Ricky hanya berusaha menggambar batasan antara hubungan mereka agar tetap sesuai porsinya.

Ricky yang hari ini–yang terbaring di bawah kukungannya bersama bibir ranum merah jambu yang habis dilumati, tampil dengan jauh lebih berani ketika menggerayangi jemarinya pada lekuk dada Gyuvin. 

Dan Gyuvin seketika juga ingin menjadi seberani itu. “Do you want to do this?

Dibandingkan sebuah jawaban Ricky memberinya usapan dengan ibu jari pada beberapa titik permukaan pipinya. Jemarinya juga menyisir rambut Gyuvin yang menutupi mata, sebelum lagi-lagi menyeringai dan membalas pertanyaannya. “Doing what, exactly?

Gyuvin meraung frustasi dan menjatuhkan kepalanya pasrah ke atas bahu Ricky. “You’re killing me.

“Yang lagi dikurung di atas tempat tidur itu gue.”

Ricky.”

“Vin, gue percaya sama lo. Dan lo tahu gue gak sembarangan kasih kepercayaan itu ke semua orang.”

Gyuvin tahu. Dia adalah orang yang paling tahu, dan itulah mengapa ini menjadi sesuatu yang istimewa karena meskipun mereka berada di dalam negara dimana berhubungan intim bukanlah sesuatu yang tabu, Gyuvin didn’t think he'll ever do it with anyone other than Ricky. This is as much as important to him as anything else.

Giginya menggertak dan jemarinya meremas sprei pada kedua sisi kepala Ricky dengan kekuatan yang seluruhnya dikerahkan, menerima kenyataan bahwa menghirup oksigen kini menjadi sebuah hal yang butuh usaha ekstra ketika pikirannya tengah bercabang menjadi seribu bagian. Shen Ricky will absolutely be the death of him.

Segera setelah kesadarannya kembali dan realisasi bahwa ada sebuah tubuh indah yang tengah terbaring di bawahnya Gyuvin did the thing that he supposed to do. Kecupan-kecupan kecil itu mulai dibubuhi dari permukaan paha Ricky hingga ke bagian dalam, stimulus sederhana itu membuat Ricky mengejang dan melengkungkan tubuh ke udara penuh desperasi. Gyuvin lalu mengambil kesempatan itu untuk mengunci pinggang ramping Ricky dengan genggamannya agar tetap diam di tempat dan Ricky dengan pasrah menurutinya walaupun dia harus merayu agar Gyuvin terus melakukan hal yang sedang dia lakukan dengan memberikan sebuah pandangan memohon lewat matanya yang kini sayu dan wajah lemasnya dan bibir merah mudanya yang mungkin bahkan mampu menghipnotis Gyuvin untuk berlutut dan memborgol dirinya sendiri tanpa sadar.

It all happened so fast and slow at the same time, karena mau bagaimanapun ini adalah kali pertama untuk mereka berdua dan ada sebuah pengertian bahwa baik dia maupun Ricky hanya mampu meraba dan memperkirakan cara yang benar. Gyuvin lalu memutuskan untuk menginisiasi dengan menanggalkan kaos kebesaran yang Ricky kenakan. It's one of his rare-white t-shirt with a cute unicorn logo yang dibeli dengan alasan the magic is calling me, dan dia hanya akan menggunakannya di dalam rumah dimana Gyuvin adalah satu-satunya orang yang dapat melihatnya. He’s always been serious about his gothic persona.  

Ada sebuah consent yang Gyuvin sinyalkan lewat sorotan matanya yang jika disuarakan kira-kira bunyinya adalah can i suck your nipple? dan telepati itu sampai pada Ricky terbukti dari dia yang mengangguk penuh antusias lalu kemudian melenguh segera setelah lidah Gyuvin menyapu disana. Gyuvin terus melakukan itu hingga desahan Ricky perlahan berubah parau. Hingga bahkan dia sendiri tak sadar bahwa Gyuvin tengah bermultitasking dengan menggerakan tangannya untuk menurunkan celana yang masih Ricky kenakan sebelum melingkarkan jemarinya pada kepunyaan Ricky, memberikan friksi yang nikmatnya bukan main. Hingga semua benang yang menutupi tubuh Ricky kini hilang. Dan mungkin Ricky merasakan ketidakadilan karena Gyuvin serta-merta membuka kaosnya dengan menariknya ke depan melewati kepala dari bagian belakang dan menyisir rambut dengan jemari, semua dilakukan tanpa melepas netranya dari Ricky.

Dan pemandangan tersebut membuat sesuatu di antara selangkangan mereka kini sepenuhnya mengeras dan berdiri tegak.

Dan lalu keduanya kembali membubuhkan lumatan-lumatan manis. Kembali perlahan menata cara agar nikmat ini bisa menjadi simbiosis yang sifatnya mutual. Kembali diberikan persetujuan ketika Gyuvin meminta izin untuk meraba lubangnya dengan jemari yang sudah dilumuri lubrikan. Kembali menahan bibirnya tepat di atas kening Ricky dan menghujaninya dengan sejuta kecupan-kecupan kecil yang memancarkan rasa hangat. Kembali mengucapkan kalimat reasurasi bagaikan mantra berharap agar rasa sakitnya pergi menjauh ketika Gyuvin memaju-mundurkan tubuhnya. Sedikit lagi ya, Ky... I need to prep you. Sakit kah? Maaf ya.. Pinter banget, cantik banget indah banget... Sabar ya, sayang... Nanti sakitnya aku bantu hilangin, aku bikin jadi enak. Oke, Ky? Sama-sama ya… I’m here.

Dan mungkin emosionalitasnya berhasil membuat matanya berkaca-kaca walaupun hanya Gyuvin yang mengetahui hal itu dan dengan cepat menyingkirkan bulirnya dari pipi sebelum tertangkap basah oleh Ricky. Yang menjadi penting kala itu menurutnya, adalah memberikan nikmat kepada satu sama lain sebagai perwujudan dari penyaluran kasih sayang dimana tak ada satupun penyesalan di dalamnya. And Gyuvin thinks they nailed it.

Hal pertama yang Ricky lakukan segera setelah adrenalin orgasmenya berakhir adalah menjadi manusia paling manja dan mengistirahatkan kepalanya di atas lengan Gyuvin yang terbentang dan diperuntukan untuk menyambut. Gyuvin lalu membalasnya dengan membawa tubuh itu semakin mendekat pun lagi-lagi sudah tidak ada jarak yang dapat mereka kikis, namun Gyuvin bersikeras membungkusnya dalam sebuah pelukan dan membelai puncak kepala Ricky ditemani dengan suara napas yang saling beradu dan menerpa satu sama lain.

 

They kept the silence in each other’s embrace in order to recover, and somehow it was okay.

 

“Ky, boleh tanya sesuatu?” Gyuvin mengutarakan kalimat yang sudah mengganjal di dadanya pada tiga puluh menit terakhir. Kepalanya sekarang terbaring tepat di atas perut Ricky sementara sahabatnya membelai rambutnya dengan malas. Tubuh yang masih tak berbusana itu hanya mengandalkan selimut untuk menangkal dingin.

Sure.”

“Pas di telepon… tadinya mau bilang apa?”

Gyuvin tidak yakin Ricky ingat momen mana yang dia maksud, tetapi dari jemarinya yang sempat berhenti sejenak sebelum lanjut membelai membuat Gyuvin berasumsi bahwa dia tengah mereka ulang adegan panggilan telepon jam dua pagi mereka di dalam kepalanya.

“Hmm…” Dehaman pelan itu membuat kepala Gyuvin ikut merasakan getaran. “...gak apa-apa sih. Cuma mau bilang kangen kamu?”

Gyuvin tidak pernah lebih bersyukur dari posisi berbaringnya yang menutup akses untuk Ricky dapat dengan jelas melihat seluruh fitur pada wajahnya. Karena bukan hanya karena pipinya perlahan berubah merah padam atas pengakuan barusan, tetapi juga karena panggilan baru yang Ricky ucapkan untuk merujuk dirinya.

Jantungnya berdetak dengan nyeri hingga rasanya benar-benar akan copot dan jatuh ke dasar perut. “Oh gitu… sama sih.”

“Sama apa?”

“Ya sama… kangen kamu juga.” Seluruh alam bawah sadar di dalam tubuhnya tengah melompat dan menjerit kegirangan seakan remaja yang sama-sama tengah mengalami cinta monyet anak SMP.

Ricky berdeham pelan. “Um. Good to know.

Dan Gyuvin membalasnya dalam sebuah tawa yang meledak. “Jujur gue gak terbiasa banget sama ini.”

Sahabatnya itu dapat dengan sempurna mengerti apa yang dia maksud tanpa Gyuvin harus repot-repot mengelaborasi. “Ugh, same. I'm gonna pass out from embarrassment.

There’s a reason why labels are never their thing: yang pertama karena baik Gyuvin dan Ricky merasa status tidak akan merubah dinamika yang telah ada di antara mereka, yang kedua karena keduanya selalu bergerak terlalu hati-hati hingga sukar dalam bertindak. Gyuvin karena dia tidak ingin mengikat Ricky dalam sesuatu yang akan memberinya distraksi dalam menjalani hidup juga meraih mimpi-mimpinya, dan Ricky–

"I think we're soulmates."

Gyuvin diam-diam mengepalkan tangannya. "Meaning?"

"Kemarin sewaktu lagi berdua sama kak Hao dia tiba-tiba tanya what you are to me," Ricky memberi jeda pada kalimatnya. "Tapi aku gak bisa jawab. Um, lebih ke... not sure enough. Atau aku sebenernya yakin, tapi takut cuma aku aja yang ngerasain itu."

Wait what? "Aku gak ngerti, Ky."

Sebuah tarikan napas yang baru saja Ricky lakukan membuat kepala Gyuvin ikut turun sebelum kembali naik. "I think i love you."

Untuk pertama kalinya setelah mereka berada dalam posisi ini, Gyuvin memberanikan diri untuk memandang Ricky tepat di wajah demi mencari secercah petunjuk. Namun Ricky dan konsistensi jemarinya yang tak berhenti bermain pada setiap helai rambutnya itu tengah memasang wajah tanpa emosi walaupun Gyuvin hampir tersedak pasca pernyataanya barusan.

"You think?" Tanyanya kemudian dengan suara parau. "Ricky, jangan bercandain gue. Ini gak lucu sama sekali.”

"I'm not–

Sebelum Ricky punya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya Gyuvin membiarkan tubuhnya menuntun dengan sendirinya dalam menangkup kedua sisi pipi Ricky sebelum kembali mencium bibirnya. Ricky kembali memiringkan kepalanya, kembali meremas rambutnya, dan kembali mengambil napas dengan susah payah. Lalu pada usahanya untuk melanjutkan kalimat Gyuvin kembali menahannya dengan lumatan yang membuat Ricky dan tubuhnya tak lagi menapak di lantai bumi. Ketika akhirnya Ricky sepenuhnya menyerah, barulah Gyuvin menarik wajahnya menjauh dan menginspeksi mahakarya yang telah dilukisnya pada Ricky.

So.” Gyuvin memalsukan sebuah dehaman. “Soulmates.”

Ricky kehabisan kata-kata dan yang mampu dilakukannya hanyalah menampar pelan wajah Gyuvin bersama alisnya yang menggoda naik dan turun dengan usil. Namun bukan Gyuvin namanya kalau mengalah begitu cepat. Sore hari itu, Ricky dan pipinya kembali dicubiti dengan gemas dan dia yang terus berusaha menghindar dari telapak tangan besar Gyuvin. “Don’t get so full of yourself.

“Lah kenapa engga? Siapa coba yang gak senang dan bangga kalau dibilang soulmates sama pacar sendiri?”

Ricky membelalak dengan begitu lebar sampai Gyuvin berakhir terbahak hingga rahangnya pegal dan perutnya nyeri. But Ricky being Ricky, yang senjata andalannya dalam menangkal rasa malu adalah dengan mengalihkan pembicaraan.

Whatever.”

Gyuvin takes that as a yes, dan sebuah anggukan kepala dengan bangga kemudian ia lakukan. “Kim Ricky i love you so so much my boyfriend, my soulmate, my gothic emo princess, you are my favorite person in the whole world?????

Ricky, entah untuk yang keberapa kalinya hari itu mengerlingkan bola matanya dengan malas. Terkadang meladeni seorang Kim Gyuvin sama artinya dengan mengajarkan bocah berumur lima tahun caranya mengeja. “Get rid of that stupid face and kiss me.

Gyuvin memberikannya seringai dan pandangan penuh cinta paling geli sedunia. “Anything the princess wants.

 

But yeah, boyfriends.



***



Kalau boleh menjabarkan kesan pesannya tentang hari ini, Gyuvin akan dengan senang hati menjawab it was shitty. Semua bermula dari teman kerja yang menyiksanya dengan mengatakan bahwa anjingnya tersangkut di balkon jendela di lantai lima dan sama sekali tidak mau turun sehingga Gyuvin terpaksa harus menggantikan shift yang bukan gilirannya. He had a callback to attend in the afternoon, dan kalau sampai siang nanti anjing itu masih juga tidak mau turun dia harus memilih antara membatalkan casting atau meninggalkan restoran tanpa supervisi. Pilihan pertama adalah yang paling masuk akal jika Gyuvin masih ingin makan bulan depan nanti.

Belum selesai dirinya berkontemplasi di antara dua pilihan, Gyuvin masih harus dihadapkan dengan permasalahan terlambatnya supplier karena Los Angeles memutuskan untuk menjadi menyebalkan dan menciptakan tabrakan beruntun di tengah kota sehingga semua pengiriman bahan makanan akan terhambat. He really wasn't in the right state of mind for any of this, to be honest. Jadi ketika temannya datang tepat pukul dua siang, Gyuvin hampir menangis dan bersujud di kakinya. Callback nya akan berlangsung tepat satu jam lagi.

Jiwoong pernah bilang kalau Gyuvin adalah seorang optimistis yang selalu menyanggupi tantangan apa pun bentuknya. Satu hari dia adalah bocah yang diolok-olok karena inkapabilitasnya dalam mengendarai sepeda roda dua, seminggu kemudian dia telah menggoes sepeda itu di depan teman-temannya dengan beberapa bekas luka di lutut. Satu hari dia menjadi tidak percaya diri karena kurang mahir dalam menguasai bahasa Inggris, hari-hari berikutnya dihabiskan Gyuvin untuk mendedikasikan waktu pulang sekolahnya dengan rajin datang ke tempat kursus. Satu hari dia melihat sepatu impiannya pada etalase toko di mall, beberapa bulan kemudian hasil tabungannya sudah cukup untuk membeli barang tersebut secara tunai. Mamasnya kemudian mengambil kesimpulan bahwa satu-satunya hal yang tidak mampu dan adiknya benci lakukan adalah menunggu, dan Gyuvin harus selalu melewatinya setiap menunggu giliran casting.

Termasuk hari ini. Terutama hari ini.

It was a disaster, his audition. Seorang petugas yang membawa secangkir kopi masuk ke dalam ruangan ditengah-tengah percobaanya menyampaikan dialog duka, dan air matanya yang hampir jatuh dari kelopak mata harus kembali masuk ketika sang petugas tak sengaja tersandung lalu menumpahkan kopi panas tersebut ke atas lantai dan juga bajunya. Ketiga orang yang bertugas menilai penampilannya mengatakan kalau mereka sudah merasa cukup dengan apa yang Gyuvin sampaikan, tetapi dibanding siapa pun dia tahu betul bahwa ini akan jadi situasi lainnya dimana tidak akan ada lagi panggilan telepon masuk yang mengatakan bahwa Gyuvin berhasil mendapatkan peran.

Dirinya berakhir dengan ikut menaiki lift untuk turun, lalu kembali naik, lalu kembali turun selama sepuluh menit penuh karena tenggelam dalam lamunan dan mendapat teguran dari seorang cleaning service. Gyuvin tidak ingin bertemu Ricky. Atau kalau boleh diperjelas, dia tidak ingin bertemu siapa-siapa. Kedua kakinya melangkah dalam otomatisasi dan membawanya sampai ke gedung akademi, dan setelah mengingat bahwa Hanbin hari ini sedang libur Gyuvin memutuskan untuk bersembunyi di dalam salah satu ruang latihan dan menguncinya rapat-rapat.

It’s always goes like this: another audition, another failure, another regrets, another doubts. Mungkin ketakutannya selama ini memang benar adanya. Mungkin Gyuvin gak lebih dari si naif yang bermimpi besar. Mungkin sudah saatnya dia mengajarkan diri sendiri untuk menjadi realistis. Mungkin Los Angeles memang gak akan pernah memberikan kejayaan yang sama seperti awal karir ciliknya dulu.

Ada sebuah cincin plastik berwarna biru tua yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Tadinya di atasnya ada sebuah permen manis yang kini sudah habis digigiti, namun cincin itu tidak akan pergi dari jemarinya dalam waktu dekat. Ricky memberikannya pada sesi mengobrol mereka pasca tragedi rambut dan tato setelah mereka mandi dan membersihkan diri. Ricky yang entah sudah keberapa kalinya mengatakan i’m happy for you setelah Gyuvin menceritakan tentang panggilan callback itu segera membongkar koper yang dibawa ketika diculik kemarin sebelum mengeluarkan cincin permen itu dari dalam paper bag souvenir dengan logo surfboard di bagian tengahnya.

 

“This, for your lucky charm.”

“Permen?”

“I mean the ring, dumbass.”

“Ugh, my sexy bossy boyfriend.”

“Get off me, Vin! You’re heavy!”

 

Bagaimana cara Gyuvin menjelaskan kepada Ricky bahwa jimat keberuntungannya sama sekali tidak bekerja?

“Mamas gak bilang kamu salah langkah, tapi seharusnya disaat-saat kayak gini bukan waktunya kamu sendirian atau menghindar dari orang-orang di sekitarmu terutama Iky. Dibales dulu coba chat nya biar anaknya gak khawatir.” Papar Jiwoong di telepon ketika pada satu titik Gyuvin merasa akan menuju gila jika tidak berkomunikasi dengan orang lain. Kakaknya adalah pilihan paling aman. Satu hal tentang mamas yang prinsipnya adalah solid, Jiwoong merupakan orang paling netral yang pernah dia kenal. He’s the exact problem solver that Gyuvin needed right now.

Dan hal itu sudah terbukti dari cara sang kakak melempar nasihat pembukanya. “Kok mamas tahu chat nya Iky belum aku bales?”

“Jadi kakak kamu bukan pekerjaan yang baru mamas lakuin baru-baru ini, Vin.” Jawab Jiwoong di antara kekehannya. “Mamas hafal dan paham watak kamu kayak gimana.”

God, he really misses home. “Yang lain apa kabar mas?”

“Mama sama papa baik. Mae…” Sang kakak menjeda kalimatnya. “Dia waktu itu sempat ngajak mamas ngobrol dan nanyain soal posibilitas adopsi anak.”

Mata Gyuvin membelalak. “Seriusan? Terus mamas jawab apa?”

“Ya jawab mau aja kalau dia memang mau. Tapi akhirnya Mae yang malah gak pernah ungkit masalah ini lagi.”

“Hah… kenapa mas?”

Sang kakak bergumam pelan. “Hmm… mungkin Mae sendiri juga sadar kalau finansial kita belum bisa sampai kesana. Bisa, tapi gak berlebih. Dan Mae terlalu pintar untuk memilih hidup pas-pasan cuma karena hasrat sesaat. Analisa mamas sejauh ini begitu sih.”

Gyuvin dan bibirnya kini terbungkam sepenuhnya. Selain perasaan malu karena lagi-lagi harus melakukan reuni dengan kegagalan, dia masih harus disentil oleh perasaan bersalah karena kontribusi nol besarnya dalam membantu keluarga. “Maaf kalau Gyuvin belum bisa kirim uang banyak ya mas.”

Kekehan yang baru saja Jiwoong lontarkan adalah nada yang Gyuvin kenal betul; kakaknya ingin dia tahu, bahwa omongan asal bunyi yang acap kali keluar dari bibir Gyuvin terkadang begitu sulit untuk dianggap serius oleh Jiwoong. “Bukan kewajiban kamu, Vin.”

“Kewajiban aku lah, sekarang mamas jadi kesusahan karena harus nanggung biaya double buat keluarga mamas sama papa dan mama juga. Harusnya itu bisa dibagi dua sama aku. Harusnya Mae gak harus berpikir dua kali untuk sesuatu yang dia mau perkara urusan finansial. Harusnya aku juga gak impulsif segala ngejar-ngejar mimpi sampai kesini dan cari kerja yang bener aja di Indonesia.”

Gyuvin.” Kalau intonasi kekehan Jiwoong tadi Gyuvin hapal betul di luar kepala apa maksudnya, empasisi dari namanya yang digerakkan sang kakak juga tidak susah untuk dielaborasi: berhenti nyalahin diri sendiri dan bikin orang lain juga ikutan merasa bersalah.

Ada sebuah teori yang sedari dulu selalu menggelitik rasa percaya dirinya: katanya, setiap orang yang punya karir sukses sebagai artis cilik namanya akan dipastikan selalu redup di masa depan kecuali ada sebuah keberuntungan yang mendatanginya. Sebagian dari diri Gyuvin tidak ingin mempercayai stereotip yang hanya tersebar dari mulut ke mulut, tetapi sebagian lagi dari dirinya mulai percaya setelah melihat nasibnya. Maybe all these failure were meant to be.

“Payah gak sih mas kalau Gyuvin bilang kangen rumah?”

Dia bisa membayangkan Jiwoong menggelengkan kepalanya. Dia bisa membayangkan tepukan bahu yang akan kakaknya berikan jika jarak mereka lebih dekat dari ini. “Gak payah dek, manusiawi. Tapi mamas harap kamu sadar kalau terkadang definisi rumah itu gak cuma satu. Mungkin untuk sekarang ada yang lebih dekat, yang tinggal kamu datengin aja.”

Gyuvin gak perlu mamasnya untuk repot-repot menjelaskan agar bisa memahami teka-tekinya, karena segera setelah panggilan telepon itu berakhir Gyuvin dan jarinya otomatis membuka satu ruang chat yang sedari tadi sengaja ia hindari.

 

cuddle session tonight?

Balasannya muncul tidak lebih lama dari lima menit kemudian.

absolutely yes.



***



Tititk balik nasib hidupnya dan Ricky terjadi dalam sebuah kejadian paling jenaka yang ada di muka bumi. Setelah satu tahun merantau dan pasrah menghabiskan sisa masa kontrak di akademi dengan bekerja paruh waktu, casting lainnya, ajakan main dari teman-temannya, casting lainnya, lalu mengulang lingkaran itu sedari awal, ada sebuah perputaran poros yang datangnya tiba-tiba dan tanpa diduga.

Kuanjui dan ide piknik yang telah dirancangnya selama dua minggu terakhir akhirnya terjadi hari ini. Gyuvin akan selalu ingat tips pertama yang pria itu sampaikan kepadanya dalam intonasi yang biasa mama gunakan ketika mendikte kedua anak laki-lakinya agar tak membakar seisi rumah selagi beliau pergi: “if both of you are the Venice or even worse Santa Monica kind of guy, please don’t. Let me tell you that the water is nasty. we are sticking on Malibu, okay?”

Dan itulah alasan fundamental dari Gyuvin yang tengah duduk di atas pasir dengan punggung Ricky di hadapannya dan ocehan yang tak kunjung berhenti tentang betapa pentingnya meratakan sunblock jika mereka tidak mau berakhir dengan kulit yang belang. Dan Gyuvin, si pasrah terhadap apa pun jika datangnya dari Ricky hanya patuh dan terus membalurkan lotion itu di punggung (ditambah dengan kecupan kecil yang sesekali Gyuvin bubuhkan di antaranya). Dari sudut matanya Gyuvin dapat melihat Hanbin dan Hao yang setelah beberapa kali perdebatan akhirnya setuju untuk melakukan skinny dipping, Taerae yang menyemangati pacarnya bersama daging yang tengah dipanggangnya, dan Kuanjui dengan dahinya yang berkerut fokus memilih filter untuk foto yang akan diunggahnya di media sosial.

It’s been a fun experience, being his bestfriend’s boyfriend. Gyuvin masih selalu membuat Ricky emosi dengan usil menampar bokongnya, Ricky masih bersemangat dalam membalas tiga kali lipat lebih keras, and at the end of the day mereka masih tetap akan kembali ke pelukan satu sama lain. Gyuvin masih tidak akan mengakui kalau eyeliner yang Ricky gambar pada matanya membuatnya terlihat seribu kali lebih cantik, Ricky masih tidak akan mengatakan makasih ya pinter banget deh setelah Gyuvin memperbaiki laptopnya yang rusak, and at the end of the day cekikan pada leher yang Ricky berikan pada Gyuvin setelah enggan diajak berbicara serius akan berakhir dengan perut mereka yang nyeri karena terlalu banyak tertawa.

Gyuvin masih akan selalu mempertanyakan mengapa dia rela melayani Ricky dengan segala macam suasana hatinya yang naik turun, Ricky masih akan selalu mempertanyakan mengapa dia selalu mempercayai segalanya pada Gyuvin, and at the end of the day mereka sama-sama tahu akan seperti apa mengerikannya untuk hidup berpisah.

And really, there’s nothing in between.

Kalau ada sesuatu yang berbeda mungkin hanya Gyuvin yang tidak perlu lagi kelelahan untuk menginterpretasi perasaan membuncah yang dadanya rasakan terhadap Ricky dan bisa dengan mudah menyebutnya sebagai rasa sayang, dan Gyuvin menyayangi Ricky.

Sehari setelah secara tidak langsung meresmikan status hubungan, Zhang Hao membuat Gyuvin tersedak minuman sampai tidak mampu menghentikan batuk selama dua menit penuh. “You guys have this… after-sex glow.

Isi pernyataanya memang tidak salah, yang salah adalah aliran darah yang mengkhianati mereka berdua dengan merubah warna wajah dan telinga mereka menjadi mirip kepiting rebus. Kabar baiknya mereka tidak lagi perlu repot-repot membuat sebuah pengumuman dengan spanduk bertuliskan HEY, WE’RE DATING NOW! karena seperti bagaimana Taerae mengatakan dan Gyuvin mengutipnya: “yang sebelumnya juga juga udah kayak pacaran so please spare me from all the bullshit formality.”

“Vin.”

“Yep?”

Do you ever feel like… coming back?

Sulit untuk melihat ekspresi wajah Ricky ketika kekasihnya itu tengah memunggunginya, namun Gyuvin lebih dari siapa pun pasti paham bahwa hipotesis atau pun tidak pertanyaan semacam ini selalu akan menjadi valid untuk mereka berdua. 

“Maksudnya pulang ke rumah?”

I guess…” Ricky perlahan menghembuskan napasnya, dan Gyuvin mencoba sebisa mungkin memprioritaskan sang kekasih dan juga kegundahannya alih-alih merengek mengiyakan.

Is everything okay at work?” Walaupun sudah berjalan hampir setahun, Gyuvin tahu bahwa perlakuan semua rekan kerja Ricky masih sama seperti dulu. Dari bagaimana Ricky selalu terkapar kelelahan setelah sampai di rumah lalu menangis ketika sedang menyikat gigi di depan kaca adalah bukti bahwa lelah yang dirasanya sudah tidak lagi menyerang fisik tetapi juga mental. Dan Gyuvin selalu akan merasa menjadi orang paling payah sedunia karena satu-satunya hal yang bisa dia tawarkan hanya pelukan dan tempat untuk berkeluh-kesah namun tidak pernah solusi. Apalagi disaat bidang pekerjaan ini adalah sesuatu yang Ricky sukai dengan gaji yang juga lumayan.

Better than Gyuvin dengan celemek bertuliskan The Halal Guys yang terikat pada tubuhnya setiap hari.

No, not really. Itu tadi cuma hypothetical question aja.”

Botol lotion itu cepat-cepat ditutupnya sebelum membalikan tubuh Ricky agar bisa menghadap ke arahnya. “Maaf ya Ky…”

Si dia meresponnya dengan sebuah kekehan. “Kamu tuh harus berhenti minta maaf setiap kita lagi ngobrol atau diskusi tentang sesuatu, Vin.”

“Bolehnya apa dong? Langsung ciuman aja?”

Lengannya mendapat hantaman dari ujung siku yang bahkan sama sekali tidak terasa sakit. “You’re stupid and impossible.

And i love you.” Timpal Gyuvin bersemangat.

"I know, silly.” Melawan dinamika yang biasanya mereka mainkan, Ricky mendahului Gyuvin menangkup kedua pipinya sebelum lalu membubuhkan kecupan di bagian bibirnya. “Me too.

Lovebirds!” Gyuvin dan Ricky menoleh perlahan ke arah sumber suara dan menemukan Kuanjui berjalan ke arah mereka dengan tangan yang bertolak di pinggang. It usually means bad news, apalagi melihat ekspresi di wajah Kuanjui yang selalu digunakannya ketika anjing kesayangannya mogok makan atau ketika menemukan fakta bahwa ada limit yang bisa digunakan dalam kartu kreditnya.

Sebuah layar handphone disodorkan ketika Kuanjui akhirnya sampai di depan Gyuvin dan Ricky. Tangannya masih betah bertolak di pinggang, namun kali ini ditambah dengan hentakan kaki selagi mereka berdua mencoba memahami apa yang terjadi disana.

“Ricky, babe, you’re kinda famous.

Dramatis adalah nama tengah Kuanjui, jadi Gyuvin gak pernah terlalu ambil serius dengan omongannya. Tetapi apa yang sedang matanya lihat, yang sedang terputar di layar sana adalah benar Ricky–di depan toilet kaca yang mungkin milik kantornya, tengah memperagakan sebuah adegan impresi salah satu bosnya ketika sedang memerintah. Ricky berlagak manis. Lalu tenang. Lalu kesal. Lalu marah. Lalu mengatur napas dan emosinya. Lalu kembali tersenyum. Lalu jatuh dalam tangis penuh kefrustasian dan tubuh serta mental yang luar biasa lelah. Orang yang merekam–si pemilik video yang sudah dipastikan adalah temannya–mengatakan bahwa dia merasa tidak enak karena tertawa diatas Ricky dan mental breakdown nya, namun Ricky berhak mendapatkan Oscar untuk semua split personality yang baru saja ditampilkannya dalam satu waktu.

Dan Gyuvin setuju. Dan video itu kini terunggah di Tiktok. Dan sudah ditonton oleh puluhan juta orang. Dan mendapat jutaan likes. Dan baik Gyuvin atau pun Ricky sepenuhnya mematung di tempat sebelum menolehkan kepala pada satu sama lain.

That’s…” Gyuvin mencoba memulai sebelum Ricky memotongnya.

“Sewoon yang ngerekam ini d-dan kita cuma lagi saling curhat? Gak ada maksud buat–”

Okay yeah whatever God bless Sewoon but Ricky honey, you are famous holy shit.” Ucap Kuanjui lagi dengan menggebu-gebu.

Well…” Kedua bahunya terangkat malu-malu ke arah Kuanjui, karena lagi pula apa yang bisa dilakukannya dengan sebuah keviralan Internet yang sifatnya sementara?

Ricky melirik Gyuvin tepat di sebelah, matanya diam-diam mengirim sinyal yang hanya dimengerti oleh mereka. Gyuvin lalu mencoba menggenggam lebih erat ketika Ricky berpegangan pada pergelangan tangannya dengan gemetar. Ketakutan dalam tubuhnya begitu mudah Gyuvin baca tanpa harus repot-repot membuka kamus:

My boss is gonna kill me.

Belum sempat Gyuvin melakukan sesuatu Zhang Hao, Hanbin, dan Taerae ikut menghampiri mereka lalu menanyakan ada apa, dan pada akhirnya mereka semua memutuskan kembali ke rumah Kuanjui untuk berkumpul di ruang tengah. Zhang Hao adalah orang pertama yang kemudian berani membuka suara. “I mean yeah, that’s one way to look at it. Satu-satunya hal negatif yang akan muncul dari kejadian ini adalah they’re gonna fire Ricky ASAP.

Air mata Ricky hampir menetes sebelum kembali masuk ke pelupuk ketika Kuanjui dengan cepat angkat bicara. “But don’t worry! I’m not gonna let you be homeless. And we can always go for a new job.

“Jui bener Ky, walaupun you losing your job seems like the main problem we’ll stay beside you . Jadi untuk sekarang mungkin kita lihat dulu aja what’s gonna happen?”

Itu masalahnya: Ricky terlalu takut untuk tahu apa yang akan terjadi setelahnya, dan dia juga terlalu malu untuk menampakan wajahnya di kantor hari Senin besok.

It’s a dead end.

Telapak tangan Gyuvin yang menyelinap di pinggang Ricky membuat pemiliknya segera menoleh ke arahnya. Gyuvin memberikan reasurasi lewat sorotan matanya dan berharap Ricky menangkapnya. “What do you want to do? Kak Hao bener, we’re here anyway.

“Aku…” Ricky menggigit bibir bawahnya gugup. “...akan tetep datang ke kantor seperti biasa?”

Okay.” Balas Gyuvin dengan mantap walaupun yang dia rasakan adalah sebaliknya. Dia pikir jika Ricky sudah membulatkan tekad untuk menjadi berani, hal yang dapat Gyuvin lakukan adalah memberi energi yang sama besar. “Let’s do that.

 

Mereka menutup diskusi sore hari itu dengan Ricky yang enggan meninggalkan sisi Gyuvin barang sedetik dan yang lain membiarkan mereka bersembunyi di balkon rumah Kuanjui hanya berdua.

 

Kantor Ricky tidak serta-merta memecatnya ketika dia tetap datang ke kantor pada hari Senin. Seisi departemen sudah dipastikan menonton videonya, dan satu-satunya hal baik yang setidaknya Ricky dapatkan adalah pujian atas opera sabunnya di toilet tempo hari dari seorang karyawan yang tak dikenalnya. Bosnya jelas memberikan Ricky cold shoulders bersamaan dengan serangkaian tugas yang semakin lama semakin dibuat-buat, dan Ricky bukan orang bodoh yang tidak bisa menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah bentuk dari balas dendam.

Dua minggu setelah kejadian itu, pihak akademi menjadwalkan Ricky untuk bertemu dengan seseorang yang kemudian Gyuvin tahu adalah casting director. Pada akhir bulan Ricky memberikan surat one month notice kepada kantornya dan sebulan setelahnya Ricky punya sebuah lampiran di dalam kotak masuk email berisikan jadwal script reading yang dilanjutkan dengan segala tetek-bengek produksi pembuatan film dimana dia adalah pemeran utamanya.

It all happened so fast and flashes before their eyes, hal selanjutnya yang Gyuvin ketahui adalah dia dan Ricky berada di dalam sebuah kehidupan yang sistematisasinya jauh berbeda.

Gyuvin dulunya adalah salah satu siswa tertinggi dari seluruh murid yang ada di sekolah menengahnya. Katanya kebanyakan pertumbuhan anak laki-laki itu baru terjadi ketika mereka berumur tujuh belas, dan anak perempuan secara fisik dan mental akan dewasa lebih dahulu daripada anak laki-laki. Jadi ketika kebanyakan temannya kesusahan untuk merasa percaya diri dengan tinggi badannya, Gyuvin adalah kebalikannya. Dia akan selalu menjadi salah satu cowok ganteng tinggi yang menjadi pembicaraan hangat di antara teman-temannya, dan si anak SMP Kim Gyuvin kepalanya selalu berada di atas langit.

Kepercayaan diri itu mungkin pupus untuk pertama kalinya ketika Gyuvin bertemu dengan Ricky yang sewaktu itu menggenggam kotak makan Frozen kepunyaanya dengan sisa beberapa potong roti tawar meses dan juga selai strawberry. Secara general mereka punya tinggi badan yang sama. Secara objektif Ricky dan fitur wajah beserta jawline nya yang tajam akan terlihat lebih atraktif dibanding Gyuvin dilihat dari berbaga sisi. Secara personal Gyuvin merasa sekeras apa pun dirinya berusaha, alih-alih memantaskan diri Gyuvin tidak merasa bahwa dia berhak menjadi pantas untuk Ricky. Dan bisa dibilang seluruh ketakutannya akhirnya terwujud ketika apa yang selama ini hanya menjadi kapabilitasnya untuk merayakan fakta bahwa Ricky adalah segalanya yang indah kini tidak hanya secara eksklusif dinikmati oleh Gyuvin seorang. Saingannya adalah seluruh dunia, dan Gyuvin mulai ketakutan.

Mereka sama-sama punya manajemen waktu buruk dalam mengatur waktu untuk melakukan bare minimum seperti mengobrol dan juga meng update satu sama lain tentang hal yang terjadi dalam keseharian mereka akhir-akhir ini. Ricky karena dia tidak punya waktu secara harfiah, dan Gyuvin karena ego yang mengontrol alam bawah sadar dan memerintahkannya untuk menghindar. Akhir-akhir ini dia merasa apa yang akan diceritakannya tidak akan setara menariknya dengan apa yang Ricky alami dengan pertemuannya bersama banyak nama besar dalam industri film, dan secara tidak sadar mereka mulai tertidur dengan saling memunggungi satu sama lain.

And in a blink of an eye, they’re running out of the honeymoon phase.

Walaupun selalu mencoba untuk menutupi tetapi Ricky adalah sosok yang punya banyak ruang untuk meromantisasi hari-harinya. Dia adalah sosok yang memutar The Weeknd pada setiap sesi mandi dan apartement clean day, namun dia juga adalah orang yang sama yang akan meneriakan lirik New Romantics dari Taylor Swift dibalik airpods dalam perjalanannya berangkat bekerja dan membayangkan bahwa seluruh langkah kakinya adalah panggungnya untuk berdansa.

Ricky dan sisi sentimentilnya juga mengkategorikan bahwa menunggu antrian di taman bermain sebelum menaiki sebuah wahana sebagai hal yang romantis. Gyuvin mengetahui fakta tersebut ketika diam-diam mengambil fotonya dari samping ditengah-tengah mereka yang tengah menunggu untuk menaiki Pacific Wheel. Ricky dan wajahnya berubah  begitu merah ketika Gyuvin menunjukan hasil foto itu dan menolak untuk memandang Gyuvin tepat di matanya selama sepuluh menit kedepan. Kini, skenario yang seharusnya romantis itu berubah menjadi horror ketika begitu banyak orang dalam radius beberapa meter dari mereka mengenali siapa Ricky lalu entah mengajak berfoto bersama atau mengambil foto mereka secara diam-diam.

Waktu lowong yang mereka punya juga tidak selalu sepenuhnya menjadi milik mereka. Selalu ada Ricky dan timnya dalam ruang obrolan yang membuat kekasihnya sibuk membalas pesan tiap sepuluh menit sekali bahkan ketika Ricky tengah berada di atas pangkuannya dan Gyuvin yang membubuhkan bercak merah pada ceruk lehernya dengan menggebu-gebu.

Lalu pada akhirnya setelah waktu yang terbuang sia-sia itu Gyuvin akan kembali lagi pada celemek dengan logo The Halal Guys dan melayani pelanggan dengan menu pilihannya yang plin-plan, casting lainnya, kelasnya di akademi, casting lainnya, dan apartemen yang tanpa Ricky di dalamnya.

Gyuvin menyukai Hanbin karena pada beberapa poin dirinya merasa mereka punya banyak kesamaan. Hanbin selalu mampu menempatkan Gyuvin kembali ketika kontrolnya mulai hilang kendali, dan Gyuvin banyak menjadikan Hanbin sebagai panutan dalam melakukan sesuatu atau caranya mengambil keputusan. Namun di antara semua dan yang tidak pernah berani Gyuvin sampaikan, itu adalah kesamaan mereka dalam memandang orang yang mereka cintai.

Zhang Hao likes travelling. Gyuvin tidak pernah sebelumnya bertemu dengan seseorang yang sudah banyak pergi ke satu benua lalu benua lain dengan alasan bertualang karena hal itu hanya biasa terjadi di dalam buku atau film, namun kemudian datanglah Zhang Hao sebagai perwujudan aslinya. Hobinya itu membuat sang pria berakhir dengan begitu sering meninggalkan Hanbin untuk menunggu kepulangannya. Terkadang bisa tepat waktu, terkadang bisa lebih lama dari yang telah dijanjikan. Luar biasanya, Hanbin akan menunggu. Tidak pernah ada satu perintah larangan yang keluar dari bibirnya yang memaksa Zhang Hao untuk tinggal, dan itulah yang membuat Gyuvin tidak habis pikir.

Dia juga kemudian tahu alasan bahwa Zhang Hao gak pernah berniat untuk tinggal pada satu apartemen yang sama dengan Hanbin adalah karena kebiasaanya dalam melakukan perjalanan impromptu. Dan jika hal tersebut bukan salah satu dari banyak pertanda, maka Gyuvin tidak tahu dengan sudut pandang apa cara kepala Sung Hanbin bekerja.

“Gimana lo bisa yakin kalau kak Hao akan selalu balik? Maksudnya kan kita gak pernah tahu apa aja yang akan terjadi di luar sana. Dia gak punya obligasi untuk balik kalau udah ketemu sesuatu yang bikin dia lebih nyaman daripada disini.”

Jawaban yang Sung Hanbin berikan pada rasa penasaran Gyuvin sewaktu itu, hanyalah sebuah senyum yang diikuti dengan kalimat pasti balik, diucapkan dengan penuh ketulusan dan keyakinan.

Gyuvin ingin seperti itu. Dia ingin mempercayai bahwa ini hanyalah sebua fase, bahwa akan ada pelangi setelah hujan, dan bahwa di antara semua pendatang baru yang silih berganti di dalam hidup Gyuvin and Ricky would still be each other’s favorite person. Gyuvin tetap ingin memegang utuh prinsip bahwa menjadi iri dengki dengan apa yang berhasil Ricky capai sama artinya dengan Gyuvin dan usahanya dalam menyakiti. Dan menyakiti Ricky, tidak pernah ada apalagi tertulis di dalam kamusnya.

 

Mungkin untuk sementara waktu satu-satunya keyakinan teguh yang dapat dipegangnya hanya berpura-pura menjadi seyakin Sung Hanbin dalam menaruh kepercayaan kepada sosok yang dicintainya.



***



Akhir-akhir ini Gyuvin lebih tidak menyukai Ricky yang berada di rumah di waktu yang sama dengan dia daripada sebaliknya. Alasannya tidak lain adalah karena menyatukan mereka berdua di dalam suatu ruangan ketika sedang tidak dalam kondisi terbaik selalu berakhir dengan malapetaka, dan Gyuvin sedang tidak punya tenaga untuk mengerahkan usahanya dalam mengais permintaan maaf. Gyuvin juga menemukan kesulitan untuk menemukan sisa-sisa dari Ricky yang terasa familiar. Dia mati-matian mencari letak kesalahannya, semua selalu berakhir dengan titik temu dimana keduanya enggan menjadi jujur kepada satu sama lain.

Gyuvin juga tidak menyukai fakta bahwa Ricky melewatkan pesta ulang tahun Zhang Hao yang sudah Hanbin rancang dengan susah payah, dan Ricky tidak menyukai fakta bahwa dia harus menjelaskan alasannya karena siapa pun dapat melihat bahwa waktu yang Ricky punya sudah bukan lagi sepenuhnya menjadi kepemilikannya.

Namun tidak ada satu pun yang berusaha untuk terbuka tentang itu.

“Gyuvin.”

“Ya?”

“Kamu hari ini shift jam berapa?”

Dari tempatnya berdiri dia melirik jam yang menggantung di dinding, diam-diam berjengit ketika Ricky baru berani menyapanya setelah Hanbin keluar apartemen tiga puluh menit lalu. “In… three hours?

Okay.” Gumam Ricky dengan kepala menunduk dan mulutnya yang tengah mengunyah beberapa potong buah. “That should be enough.

Gyuvin mulai perlahan berjalan menghampiri Ricky dibalik kitchen island. “Kenapa Ky?”

Yang ditanya menggeleng ragu-ragu. “No, nothing. It’s just… maybe we can cuddle sebelum kamu berangkat?”

Dia sudah pernah bilang kan kalau kapabilitasnya dalam memahami Ricky itu di atas rata-rata? Gyuvin tahu kalau alasan sebenarnya dibalik pertanyaan tadi adalah lebih dari itu, tetapi alih-alih meminta sebuah konfirmasi rasa rindunya lebih dulu mengkhianati dengan memaksanya untuk melangkah lebih dekat hingga kini kedua telapak tangannya menangkup kedua sisi pipi Ricky sebelum lumatan itu kemudian dibubuhkan bersama kelopak matanya yang ditutup rapat.

Just like they used to do it.

Ricky menerima lumatan itu dengan begitu pasrah dan terbuka hingga seakan-akan dirinya akan meleleh di atas lantai bumi jika Gyuvin tak menopangnya. Mereka berdua sama-sama menginginkan dan juga merindukan, namun entah mengapa rasanya begitu nyeri dan sakit di saat yang bersamaan.

“Kangen banget, anjing.”

Ricky terkekeh bersama dengan genggaman jarinya pada ujung kaos Gyuvin yang terus mencoba untuk menariknya mendekat walau sudah tidak ada lagi jarak yang bisa mereka kikis. “You have no idea.

“Aneh banget sumpah.”

“Siapa?”

“Ya kita.” Dadanya diam-diam teremas ketika mengucapkan kata itu dengan lantang. Kita. “How are you?

Well…

Well…?” Gyuvin membeo, kedua alisnya bergerak naik lalu kembali turun untuk menggoda sang kekasih.

“Kamu tahu gak masa ya dua minggu yang lalu aku sama timku makan malam di restoran yang sama kayak Justin Bieber. Maksudnya dia juga lagi makan disitu.”

Ricky mungkin menceritakannya seakan yang ditemuinya adalah salah satu dari teman mereka semasa kuliah, tetapi Gyuvin dan rahangnya yang terus menggantung lebar menganggap sebaliknya. “Bercanda lu.”

“Kita gak interaksi sama sekali.” Jemari Ricky dengan telaten menyisir helai rambut Gyuvin satu-persatu. Sorotan matanya hangat, seakan tak ada hal yang dia inginkan lebih dari obrolan sederhana dengan Gyuvin di dapur yang bercahayakan lampu redup dari dalam lemari pendingin. “Cuma dari tempatku duduk kelihatan ada dia sama Hailey.”

“Wow.”

Ricky mengerlingkan matanya sebelum menyilangkan lengannya di belakang leher Gyuvin dan memberikan bibirnya kecupan kilat. “And how are you?

“Kamu gak mikir bakalan ada artis Hollywood yang makan di tempat aku kerja kan?”

Not that, silly.” Ada cubitan kecil yang mampir pada Gyuvin dan lekuk pinggangnya. “Kamu, Vin. Apa kabar?”

Bagaimana caranya menjelaskan kepada Ricky kalau semakin hari semakin ada sebuah perasaan mengerikan dimana rasa kecintaanya terhadap seni berakting kini perlahan berubah menjadi rasa benci?

“Biasa-biasa aja sih.” Bohongnya, yang kalau dipikir-pikir bukan juga sepenuhnya kebohongan. “Cuma rada sepi datang ke kelas di akademi gak sama kamu. Kemarin aku diajarin kak Hanbin koreografi bikinan dia gitu, it was fun.

“Oh ya?”

Gyuvin mengangkat kedua bahunya. “I guess.

Sang kekasih memberi anggukan kecil sebelum menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya kemanapun selain Gyuvin. There’s only one meaning for that.

Hey, is everything okay?

“Yep?”

No it’s not. “Yakin?”

Ricky membawa kedua telapak tangannya untuk mengusap wajahnya dengan frustasi. “I need to talk to you about something, Vin.”

Okay…?

“Janji gak akan marah?” Yeah, famous last word.

“Aku harus tahu konteksnya dulu sebelum janji-janji sesuatu, Ky.”

“Oh iya,” Ricky memalsukan tawanya. “Iya sih bener.”

“Ya ngomong aja sih lagian? Sama aku ini.”

But it’s–” Ricky mendorong tubuh Gyuvin sedikit menjauh, seakan itu adalah satu-satunya cara agar pikirannya bisa kembali jernih. “We need to move to New York very soon?

“Kita?” Lucu bagaimana kata kita yang terucap tepat di awal obrolan mereka bisa berubah menjadi sebuah hal yang menyenangkan lalu menyakitkan dalam kurun waktu hanya beberapa menit.

“Aku harus syuting disana selama sepuluh bulan.”

Now that’s a time. “Lalu…?”

“... I think maybe moving out is the only option.

Gyuvin mulai merasa keputusan Ricky untuk memberi jarak pada tubuh mereka adalah strategi yang benar. “Kamu mau aku ikut sama kamu kesana?”

Ada sebuah guratan pada bola mata Ricky yang muncul lalu hilang begitu cepat seakan pertanyaan Gyuvin telah menyinggungnya secara personal tetapi Ricky mencegah Gyuvin melihat itu. “Memangnya ada opsi kamu gak ikut sama aku?”

“Sebentar Ky, bukan kesana arah ngobrolnya.” Telapak tangan Gyuvin bertolak pada kedua sisi pinggangnya bersamaan dengan tarikan dan hembusan nafas panjang. “Kamu mutusin semuanya seakan-akan aku gak punya andil buat beropini.”

What do you mean?” Ucap Ricky sama bingungnya. “Aku ambil keputusan ini berdasarkan kamu?”

“Apanya yang berdasarkan aku? Kamu ada jadwal syuting sepuluh bulan aja gak diskusi apa-apa dulu kok. Tiba-tiba ngajak pindah, tiba-tiba menyimpulkan semuanya sendiri.”

Because it wasn’t my decision to make! Kamu tahu waktu aku udah bukan sepenuhnya milik aku lagi. What am i supposed to do? What do you want me to do about it?

I don’t know?! We don’t even have time to talk anymore karena kamu terlalu sibuk.”

You’re blaming me because i’m busy?” Untuk pertama kalinya pada sore hari itu, Ricky membiarkan Gyuvin untuk melihat seberapa besar kalimat Gyuvin telah menyakitinya. “Vin, this is what we ever wanted. This is the reason why we’re here in the first place. It’s what we’ve been waiting for. Now you expect me to drop it just so i’m not busy anymore and spare some time to talk to you and your whiny ass?

Gyuvin dan air mukanya berubah menggelap. “My what?

Your fucking whinny ass!” Ricky menjerit dan menggertakan giginya. Ingat tentang sebuah teori dimana seberapa besarpun Ricky berusaha mengubah personalitinya menjadi sesuatu yang baru he’ll just ended up being even more Lovelicky? This wasn’t so lovelicky of him. “Kamu pernah minta aku ikut sama kamu ke tempat dimana kamu mau kejar mimpi-mimpi kamu. Why can’t i ask for the same?

That’s a whole different thing, Ky!

It’s the same, Vin!

“Kamu bilang it takes two people to decide, sekarang kenapa malah jadi kayak aku yang maksa-maksa kamu buat setuju ikut kesini? I remembered that i gave you choices.

It is, and you’re assuming things.” Satu bulir air matanya mengalir di atas pipi tanpa permisi. “Ikut kamu kesini sepenuhnya keputusan aku but it’s because you don’t know how scared i was that you’re gonna leave me. So i took the chance. This is exactly the same situation and i want you to take your chance instead. Atau dari awal masalahnya memang beda? Atau kamu sebenernya gak setakut itu ninggalin aku?”

Fuck, sekarang lo yang malah berasumsi dan nuduh-nuduh gak jelas.”

Bagian paling menyakitkan dari konversasi mereka yang disfungsi itu sebetulnya bukan ego yang harus dilempar kesana-kemari bagaikan bola tennis, bagian paling menyakitkannya adalah Gyuvin yang harus menahan hasrat untuk melupakan segala argumen sialan ini agar dapat mengusap air mata Ricky dan menariknya ke dalam pelukan. But he can’t. Dia tidak bisa karena Gyuvin adalah si keras kepala yang gak akan mundur sebelum fakta dan datanya tervalidasi.

“Bisa ngobrol baik-baik kayak orang normal gak, Vin? You’re really hurting me...

Fuck, fuck, fuck, fuck, Gyuvin really wants the ground to just swallow him whole.

“Kamu mau aku ngapain disana, Ky?”

We’ll figure it out. Aku gak masalah kalau kamu mau istirahat dulu sampai nanti dapat kerjaan di New York, Vin. Yang penting kita disana bareng. I can cover for both of us. It wasn’t so hard, isn’t it?

Now that’s funny. “Aku gak akan pergi kemana-mana.”

“Hah?” Jika dihitung dengan sepuluh jemari, semua akan habis jika digunakan untuk menghitung berapa lama waktu yang sudah Gyuvin punya untuk mengenal Ricky. Tetapi ekspresi horor yang saat ini ada di wajah si dia, adalah ekspresi yang baru pertama kali Gyuvin lihat.

“Di New York itu kan kerjaan kamu Ky, kalau aku gak punya urusan apa-apa disana. I will look stupid.

“Kamu tahu cara menyimpulkannya bukan begitu, Vin.”

Well, i said it.” Gyuvin mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda bahwa dia menyerah terhadap kelanjutan pembicaraan ini. “I’m not going anywhere.

You’re kidding me.

He really did hurting Ricky and there’s no stopping now. “Bagian mana yang menurut kamu aku bercanda?”

“Sepuluh bulan itu lama, Vin.” Ucap Ricky penuh desperasi. “Do you want us to seperate that long? I really can’t… i’’ll die.

“Aku gak tahu, Ky.” Balas Gyuvin tak kalah frustasi. Jemarinya menjambak rambut hingga kulit kepalanya berdenyut sakit. “Terlalu banyak hal yang harus aku pikirin tapi yang pasti pindah dari sini bukan salah satunya.”

Ricky bukan tipe orang yang suka berargumentasi apalagi sampai harus memenangkan argumennya. Kebanyakan waktu dia bahkan tidak berkemampuan untuk menaikan suaranya ketika berteriak, atau bahkan membuat kata yang diucapkannya menjadi terdengar jahat. Shen Ricky secara general adalah dia yang selalu membungkus kata-katanya dengan lembut dan hati-hati dalam huruf kecil, dan pada akhirnya menyetujui apa pun yang bentuknya kesepakatan bersama.

Gyuvin adalah tipe orang yang gemar berargumentasi. Kebanyakan waktu apa yang menjadi pembelaanya adalah karena kesalahpahaman membuatnya kesal, dan dia tidak akan berhenti sampai kebenaran dapat terungkap. Gyuvin secara general akan membawa fakta dan data yang kemudian dilemparkan kepada audiens, dan waktu dimana dia bungkam adalah bentuk kekecewaan.

Saat ini yang Ricky dan Gyuvin butuhkan bukan menjadi diri masing-masing. Mereka butuh untuk berteriak di depan muka satu sama lain. Mereka butuh untuk saling menunjuk dengan ibu jari dan menggila bersama pekikan yang akan didengar oleh seluruh dunia. Mereka butuh mengkonversi emosi dan amarah menjadi pengakuan dan permintaan maaf. Dan mereka butuh kata sepakat yang isinya tidak berat sebelah.

Namun pada akhirnya tak ada satupun dari mereka yang melakukan itu. Gyuvin dan egoisnya yang ingin Ricky dengan sendirinya sadar dimana letak kesalahannya, dan Ricky dengan pengertiannya yang beranggapan kata tidak dari Gyuvin artinya adalah mereka yang sudah lagi tidak pada jalur dan rasa yang sama.

Membuang sisa buah yang telah dipotongnya adalah yang kemudian Ricky lakukan. Kakinya dengan tergesa-gesa menuju ke kamar untuk mengambil satu tas beserta hoodie abu-abunya yang dipenuhi dengan jejak aroma tubuh Kim Gyuvin, memakai sepatu yang paling dekat dengan pandangan matanya, membuka lebar pintu apartemen dan menutupnya tanpa suara hingga rasanya tidak pernah ada yang pernah melangkah keluar dari sana.

 

Rather did Gyuvin knows, hari itu menjadi hari terakhirnya bertemu dengan Ricky dalam jangka waktu yang cukup lama.



***



PHASE III: right where you left me.

 

Sebuah pengertian yang selama ini sulit Ricky pahami namun kini begitu mudah untuk dimengerti adalah ketika Zhang Hao menjelaskan hipotesis dibalik mengapa dia menolak untuk tinggal bersama dengan Hanbin. Menurut Ricky keputusan yang pria itu ambil terkadang selalu berat sebelah dan hanya menguntungkan dirinya, dan Ricky tidak mengerti mengapa Hanbin selalu menyetujui semuanya dan akan tetap memandang Zhang Hao dengan binar penuh cinta yang sama.

Ricky akhirnya dapat mengerti sudut pandang itu dalam pengalaman satu bulannya tinggal bersama Zhang Hao. Mungkin cara paling mujarab untuk mengenal dan melihat sifat asli seseorang memang adalah dengan tinggal bersama atau bepergian bersama, dan ironis bagaimana Ricky sudah pernah melakukan keduanya bersama Gyuvin dan disinilah mereka pada akhirnya berada sekarang.

See? It’s beneficial. Bayangin kalau gue itu tinggal bareng Abin, lo mau kabur kemana coba Ky?”

Ricky mengerlingkan matanya walaupun Hao yang tengah menaruh roti ke dalam toaster itu tak bisa melihatnya. Dia tahu ada filosofi yang lebih pantas untuk dijadikan penjelasan daripada gurauan sang kakak barusan, namun Ricky sedang tidak dalam mood untuk sekedar menimpalinya dan memilih jawaban sederhana berbunyi i don’t know, rumah kak Rui? yang membuat Zhang Hao segera membalikan badan dan menekuk bibirnya kesal.

Alasan sebenarnya dibalik pasangan bahagia itu dan prinsipil yang mereka terapkan adalah, Hanbin dan Hao sama-sama paham bahwa belum ada satupun dari mereka yang siap mengambil keputusan untuk settle down. Keduanya masih punya visi dan misi yang berbeda, dan selagi mencoba meraih hal tersebut dengan caranya masing-masing mereka berjanji akan menyempatkan waktu untuk sesekali bertemu di tengah lalu beristirahat.

Berbeda dengan Ricky dan Gyuvin, yang sedari awal selalu merasa punya tanggung jawab atas satu sama lain sehingga beranggapan jika yang satu berbelok ke selatan ketika yang satunya berbelok ke timur maka itu artinya sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Dan semua bertambah runyam ketika tidak ada yang bisa disalahkan, tidak ketika mereka sama-sama punya usaha yang keras untuk berada di tempat dimana mereka berada sekarang.

“Kak.”

“Hm?”

Do you think this is meant to be?

“Meaning?

“Ya maksudnya ini memang udah jalannya gitu… Gue sama Gyuvin berantem dan pisah, itu udah bagian dari skenario cerita hidup gue dan dia. Atau, sebetulnya gue masih harus berusaha untuk perbaiki?”

Zhang Hao yang tadinya sedang menunduk untuk mencari sesuatu di dalam lemari pendinginnya sejenak terdiam. Napasnya ditarik dalam- dalam sebelum kembali dihembuskan, dan kakinya membawa pria itu untuk perlahan membalikan tubuh dan berjalan mendekati Ricky.

Sometimes–eventhough it’s cliche, gue selalu percaya dengan apa yang katanya what comes around comes back around. ”Kedua bahunya kini digenggam erat oleh sang kakak. “So for now, i’m just gonna believe that this is meant to be. Hell, romanticizing it all you want if you want to look from a different perspective. Will New York hold you? Who knows. But first, what you gotta do is try.

Ricky memberikan sang kakak sebuah senyum yang menandakan pengertiannya terhadap analogi tadi. “Okay.”

 

So, yeah, guess it’s Ricky’s turn to chase the fake highs in the Upper West Side.

 

Duduk manis dan menggunakan waktu senggangnya untuk menonton ulang Fresh Off the Boat sebetulnya adalah sebuah saksi dari betapa masokisnya seorang Shen Ricky. Tidak hanya dari bagaimana series itu sudah dihafalnya di luar kepala, tetapi juga kenangan-kenangan yang ada di baliknya. Katanya hal paling kejam yang bisa satu botol parfume lakukan adalah membiarkan seseorang untuk ikut hidup di dalamnya–namun bagi Ricky, menikmati sebuah film sama artinya dengan bunuh diri karena semuanya dalam otomatisasi akan menjadi tentang Kim Gyuvin.

Fresh Off the Boat juga kembali mengingatkannya mengapa memiliki orang tua Asia adalah hal baik dan buruk disaat yang bersamaan. Pada panggilan telepon antara Ricky dan mamanya suatu pagi, sang mama dengan berapi-api menjelaskan kontribusinya dalam membasmi segala haters yang berani memberikan komentar negatif dalam konten kolom komentar yang berhubungan dengan Ricky. Dan yang terakhir kali dia tahu, sang mama adalah penentang nomor satu atas perantauannya.

Ricky juga yakin pada salah satu instingnya yang kuat mamanya dapat mencium bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada dia dan Gyuvin. Pesan sang mama yang dibungkus lewat teka-teki sederhana sewaktu itu kurang lebih berisikan nasihat bahwa jika jalan pulangnya terlalu membingungkan, beliau akan membantu membimbing Ricky hingga sampai tujuan. Dan itu sudah cukup menjadi bekal untuknya bertahan selagi meneruskan apa yang sedang dijalaninya.

New York was… to be perfectly honest, it’s cold. Pertukaran dari langit Los Angeles yang selalu cerah pada Manhattan yang terlalu sering berawan membuat Ricky agak kesusahan beradaptasi. Beruntungnya dia tidak punya waktu sebanyak itu untuk berdiam sendirian di dalam apartemen yang sepi dan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya. Mungkin harus, tetapi Ricky menolak untuk memikirkannya.

Terdapat angka satu juta pada layar sosial media Instagramnya yang menunjuk jumlah followers yang dipunyainya saat ini. Pada bagian feeds terdapat sebagian foto dimana dirinya berpose dengan beberapa produk yang berbeda, dan saldo pada ATMnya tidak lagi membuat Ricky harus repot-repot membagi uang sewa dengan seseorang walau harga tempat tinggal di setiap sudut kota New York terkadang tak masuk di akal.

Dalam sebuah konversasinya dulu bersama dengan Gyuvin, pun masih dalam kurun angka puluh ribuan Ricky selalu menanyakan apakah tidak menjadi masalah jika Gyuvin sering memamerkan Ricky baik pada story atau pun feeds Instagramnya, dan Gyuvin bilang dirinya belum serelevan itu untuk dengan ketat menjaga postingan. Namun Ricky selalu melihat Gyuvin membalas dengan senang hati setiap pesan yang masuk satu-persatu, karena katanya apresiasi itu seperti apa pun bentuk dan asalnya adalah motivasi. Dan mungkin kini Ricky mengerti maksudnya karena telah mengalaminya sendiri. Yang tidak bisa dirinya lakukan, adalah membalas kebaikan pemuda itu dengan juga memamerkan kepada dunia sesuatu yang bunyinya he’s mine, he’s mine, he’s mine.

 

Because Gyuvin wasn’t anymore.

 

Satu bulan pertamanya berubah menjadi tiga bulan kemudian dalam satu kedipan mata. Pertemuan terakhirnya dengan Zhang Hao adalah ketika sang kakak ikut membantu memindahkan barang-barangnya ke apartemen baru bersama Kuanjui dengan alibi New York misses us anyway. Hanbin bilang akhir-akhir ini Gyuvin lebih sering menginap di akademi, dan bahkan seorang Hanbin pun sudah jarang bertemu dengannya karena Gyuvin sedang mengerjakan sesuatu yang belum diceritakannya kepada satu pun teman-teman mereka.

 

Pada bulan keenam Ricky menerima panggilan masuk dari Jiwoong dan mereka mengobrol selama total waktu satu jam di telepon. Awalnya mamas hanya memutar obrolan seputar memberi selamat untuk filmnya sebelum kemudian menanyakan kabar, namun nama Gyuvin yang sama sekali tidak keluar dari bibir sang kakak malahan membuat Ricky merasa hal itu disengaja. And it’s just kind of sad.

How about the kid? Mamas sama Mae…” Ricky ingin mengatakan terakhir kali aku ngobrol sama Gyuvin, dia cerita soal kalian yang mau adopsi anak namun segera mengurungkan niatnya dan berharap Jiwoong dengan sendirinya mengerti kemana arah pembicaraan ini.

“Kita udah mutusin buat batalin rencananya.”

“Oh.” Gumamnya serta merta, mencoba mencerna segalanya. Kenapa? ucap batinnya yang kemudian kembali diurungkan. “Oke.”

“Iky.”

Dadanya seketika merasakan nyeri. It’s been so long since someone called him with that nickname. “Ya?”

Goodluck ya dek, dimana pun dan kapan pun.”

Ricky mengabaikan semua pesan dan telepon masuk lainnya kemudian menangis di balik selimut selama sisa hari itu.

 

Pada bulan kesembilan, Ricky membulatkan keputusan untuk menetap di New York for good. Jadwal promosi filmnya begitu padat dan masih membuatnya tidak punya begitu banyak waktu untuk menyendiri, dan ada tawaran script film selanjutnya yang menunggu untuk dia setujui.

 

Pada bulan kesepuluh, Ricky pertama kali melihat Gyuvin pada salah satu ads placement besar di New York Times Square untuk salah satu brand fashion clothing terkenal. Iklan yang muncul sekilas sebelum digantikan dengan gambar lain itu membuat kepalanya menoleh dari dalam mobil yang sedang melaju, dan semakin jauh mobil itu melaju maka semakin pudar pula ingatan tentang apa yang tadi dilihatnya.

 

Pada bulan kesebelas, Ricky menanggung semua biaya agar dapat memboyong kedua orang tuanya untuk datang kesana dan berkunjung. Ide itu diperkarai oleh rasa rindu rumahnya yang sudah kelewat akut, dan sudah tidak ada lagi Gyuvin disampingnya agar dapat mengurangi rasa sesak. Jadi jika Ricky tidak memiliki ketersediaan waktu untuk pulang, maka rumah yang akan menghampirinya. Di malam itu Ricky memberanikan diri untuk pertama kalinya mengatakan kepada sang mama sebuah kekhawatiran yang telah lama bersarang di dada: bahwa terkadang Ricky sulit mengerti apa yang benar-benar dia inginkan. Bahwa ingatannya tentang kehidupan di masa lampau perlahan mulai mengabur. Bahwa enam dari tujuh malamnya terisi dengan agenda menangisi dan merindukan Kim Gyuvin.

 

Pada bulan kedua belas dan liburan satu minggu yang datang bagaikan keajaiban, Zhang Hao menginap di apartemennya. Ricky merancang seluruh susunan acara untuk melakukan hal-hal yang dalam beberapa bulan terakhir tidak dapat dirinya lakukan, dan salah satunya adalah berkemah. Jadi dengan tenda yang mereka bangun di ruang tengahnya itu Ricky dan Zhang Hao berbaring bersebelahan dengan pencahayaan remang pada lampu kecil yang menggantung di tengah tenda.

I’m going to Phuket next month.

Instingnya mengatakan untuk menanyakan is Hanbin okay with that? tetapi kalau dipikir-pikir kesempatan bertanya itu akan menjadi percuma dengan jawaban yang sudah amat jelas. “Berapa lama?”

“Satu bulan, mungkin? Gue mau napak tilas ke semua lokasi syuting I Told The Sunset About You.”

Ricky terkekeh geli. “Sounds like a Zhang Hao’s plan.

“Tadinya Taerae ngamuk karena dia jadi harus keep up di bar sendiri, cuma gue bilang kalau gue masih bisa remotely do the accounting from anywhere.

“Hmm,” Gumamnya. “Kak Taerae terlalu baik sama lo.”

Pria di sebelahnya sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum Ricky merasakan tubuh Zhang Hao menegang seiring dengan kalimat yang  selanjutnya dia ucapkan. “Gue sebenernya sempet ngajak Hanbin, but he refused.

Ricky menggigit bibirnya sebelum merespon. “He did?

“Mhm… Abin bilang katanya mau nungguin gue aja disini seperti biasa. He said i’ll come home anyway.

Will you?” Saliva yang perlahan menuruni tenggorokannya terasa menyangkut dan enggan turun. “Um. Come home.

I guess?” Zhang Hao yang tanpa ragu menjawabnya membuat Ricky dan sesak di dadanya yang tertahan perlahan menghilang. Entah, mungkin ditempatkan pada romansa yang hancur lebur dan paham betul rasa sakitnya membuatnya tak ingin orang-orang terdekatnya juga ikut merasakan hal yang sama. Terutama orang sebaik Hanbin. That guy always wears his heart on his sleeve.

It’s… good then?

I think i love him, Ky.

“Siapa?”

Hanbin.” Lagi-lagi Ricky dan dadanya yang terasa bagaikan diremas. Cara pria di sebelahnya mengucapkan nama Hanbin bagaikan sebuah mantra membuat Ricky merindukan satu sosok yang semua orang bisa tebak siapa. Zhang Hao kemudian bergumam begitu pelan dan Ricky tak akan menangkapnya jika tidak mendengarkan dengan seksama. “I really love him. So i’ll come back.

Ada rasa mual yang saat ini sedang mengocok Ricky dan perutnya.

“Lo tahu gak kak hal paling lucu dari gue yang putus sama Gyuvin?” Zhang Hao menyimak, Ricky melanjutkan. “Kita berdua pernah iseng nonton akting Sadie Sink dan Dylan O'Brien di music video All Too Well, dan bahas adegan sewaktu mereka berdebat di dapur. Gue bilang sama Gyuvin that’s what gaslighting is all about, Gyuvin bilang improvisasi dialog di adegan itu terlalu realistis sampai rasanya kayak lagi nontonin pasangan berantem beneran. Years later gue sama dia mereplikasi adegan itu, also in the kitchen. Dan bagian terparahnya adalah gak pernah benar-benar ada kata putus yang keluar sewaktu itu. It was purely me and Gyuvin’s ego yang gak mau diajak bermediasi abis itu udah. And if you didn’t know Gyuvin enough, salah satu sifat jelek dia yang paling gue gak suka adalah he solves problems by giving people a silent treatment.

Do you expect him to apologize first?

No.” Jawabnya cepat-cepat tanpa ragu. “Gue berharapnya dia kasih penjelasan apa dan dimana bagian yang dia gak suka.”

Zhang Hao next question caught him off guard Ricky doesn’t have time to prepare himself. “Gyuvin masih ada gak Ky?”

“Di…mana maksudnya?”

Sang kakak memiringkan tubuhnya hingga bertumpu pada lengannya, dan Zhang Hao dengan perlahan menyentuhkan jemarinya tepat di atas dada Ricky–begitu dekat dengan dimana hatinya berada. “Disini.”

Waktu khidmat yang Ricky pergunakan untuk memejamkan mata dan berpikir sejenak itu sebetulnya sia-sia, karena tanpa harus menyontek dia adalah orang yang paling hafal jawabannya di luar kepala. Namun Ricky tetap melakukannya. Tetap enggan menolehkan kepala dan bertatapan secara langsung dengan si pemberi pertanyaan karena dia adalah seorang pengecut. Masih dengan lapisan-lapisan tebal yang menyelimuti batasan pertahanannya. Lalu tanpa disadari bibirnya kemudian berucap, “Kalau orangnya gak pernah pergi gimana bisa ada pertanyaan masih ada atau engga, kak?”

 

Dan jawaban tersebut–dalam lima tahun kedepan, nyatanya masih akan selalu relevan.



***

 

Bagian terberat dari memutuskan hubungan dengan seseorang yang berada dalam satu lingkaran pertemanan dengannya adalah membuat keputusan apakah salah satunya akan berbesar hati untuk mengalah dan menjadi yang terasingkan. Dalam kasusnya bersama Gyuvin jelas Ricky memiliki benefit dengan harus berada jauh dari teman-teman lamanya, dan tanpa harus terang-terangan berkorban dirinya tetap akan menjadi orang yang perlahan mengasingkan diri.

Hanbin kemungkinan membuat group chat lain tanpa Ricky karena group chat lama mereka kini tidak pernah sekalipun berdering dan Hanbin terlalu baik hati untuk menendang Ricky keluar. Di antara tahu diri dan sakit hati, dia lebih merasakan sedih karena kini hanya bisa menjadi silent watcher dari setiap postingan pada kegiatan yang teman-temannya lakukan setiap akhir pekan. Zhang Hao, Kuanjui, dan Taerae masih sesekali mengunjunginya di New York ketika Ricky membuat pengumuman ketika jadwalnya senggang. Bagian tersedih lainnya mungkin mereka yang terkadang terlihat seperti berjalan di atas cangkang telur dan seringkali tertangkap basah menggigit lidah setiap menyadari tak sengaja membawa Gyuvin ke dalam percakapan.

Jadi ketika Zhang Hao di telepon dengan santainya mengatakan lo gak perlu dateng sih Ky kalau memang gak sempat pada sebuah undangan berkonteks hari pernikahannya dengan Hanbin, Ricky dengan begitu lantang mengutarakan kekecewaannya.

"Do you guys want to get rid of me that much?"

"NO!" Zhang Hao menjerit dari seberang telepon. "Maksud gue–oh for fuck sake you know what i meant! Is it necessary for me to explain?"

Ricky tanpa sadar mengigiti bibirnya. Teasing the older guy is fun and all, sampai dirinya tersadar konteks pembicaraan mereka melibatkan Gyuvin dan kemungkinan dalam skala berukuran seratus persen bahwa pemuda itu juga akan ikut hadir disana.

"Well." Ricky memberi jeda pada kalimatnya. "But it's your fucking wedding. It would be the stupidest thing to decide not to come.

Ricky mendengar Zhang Hao membisikan kalimat fuck yeah it make sense dari kejauhan dan meninggalkannya dalam keheningan selama beberapa detik sebelum kembali bersuara. "Are you sure?"

"So sure." Balasnya dengan mantap.

Yang membuat Ricky begitu yakin to be perfectly honest, bukan sepenuhnya diprakarsai oleh pernikahan yang wajib dihadiri. Alasan memalukan di baliknya adalah dia yang merindukan Los Angeles lebih daripada dirinya merindukan tanah airnya sendiri dan juga ingatannya tentang hari-hari yang dihabiskan di kota itu perlahan mulai memudar. Ricky tengah merasakan panik yang luar biasa dan akan menuju gila jika tidak segera diizinkan untuk bernapak tilas.

 

So that’s how he stepped on the city after a perfect round of five years.

 

Ricky dengan cepat menilai perjalanan itu sebagai pengalaman bintang satu dari bagaimana kilas balik terus-menerus menyerangnya hingga muncul rasa sesak yang tak tertahankan. Not being with Gyuvin makes everything hard enough karena segala sesuatunya mengingatkan Ricky tentang dia bahkan dari hal sesederhana minuman boba, dan Ricky selalu berakhir dengan pesanan dalam kostumisasi angka dua agar setidaknya bisa menipu diri sendiri lewat perasaan bahwa masih ada kata kita di antara keterpurukannya. His Gyuvin-adrenaline sometimes is out of his mind and Ricky thinks it’s not even healthy. Jadi ketika langkah kaki membawanya sampai pada sebuah taman dimana dia dan Gyuvin dulu sering menghabiskan makan siang pada salah satu bangkunya, setengah dari sisi otak Ricky serta-merta mati fungsi.

Taman itu masih terlihat seperti bagaimana dia mengingatnya terakhir kali. Perbedaannya hanya pada tanaman yang dulu menjadi salah satu titik pandangnya kini telah menghilang, serta jalan setapak yang sudah diaspal dengan lebih baik. Burung-burung yang biasa berkumpul di bawah pohon sebagian tengah hinggap di ranting pohon tinggi, Ricky bersama kedua tangannya yang bersembunyi dibalik kantung celana mengadah ke atas dan membenteng matanya dari sinar matahari dengan telapak tangan.

Pada salah satu sudut dari taman itu terdapat sekumpulan rombongan pertunjukan jalanan yang sedang menampilkan medley dari lagu-lagu yang sedang digandrungi. Ricky tanpa banyak pikir mulai berjalan ke arah sana, diam-diam menyadari bahwa kakinya ikut menghentak sesuai dengan irama dari bait lirik how could my day be bad when i’m with you, you’re the only one who makes me laugh.

Vokalis dari band busking itu punya proporsi yang luar biasa sempurna untuk menjadi seorang model alih-alih menggengam mikrofon di antara gengggamannya. Tubuhnya cukup besar namun bulky dan juga ideal, kakinya yang panjang mengamil 75% dari porsi tingginya, rambutnya berwarna hitam legam, dan daya tariknya mungkin datang dari pipi gembul dan senyumnya yang luar biasa manis. When i went to the park i recognized you at a glance, face to face, we just smiled–we already know that we’ll be together, sang pemuda bernyanyi seraya tersenyum kepada seluruh audiensnya saat itu.

Dan lalu Ricky menolehkan kepalanya ke kiri hanya untuk berakhir dengan menemukan Gyuvin berdiri di sampingnya. Yang dipandang ikut menoleh dan menangkap basah Ricky bersama ekspresi yang tak kalah kaget. Ricky lalu dengan begitu terburu-buru memalingkan pandangannya kemanapun asal bukan kepada sang sahabat. Gyuvin mungkin juga melakukan hal yang sama, karena pada tahap ini mereka hanyalah sekedar orang asing yang tengah berpapasan dan kebetulan pernah saling mengenal. Atau setidaknya Ricky dan juga asumsinya berformulasi sampai dengan sejauh itu. Entah. Jantungnya berdegup terlalu kencang untuk dapat memfungsikan otaknya dengan benar.

Mereka sama-sama menunggu sang lagu pertama hingga selesai lalu berlanjut pada lagu kedua sebelum sama-sama kembali menoleh dan bertemu pandang.

“Hai.” Having Gyuvin in front of him is surreal enough Ricky feels like he’s in a deep, deep sleep.

Hey.

Here for the wedding?

Yeah.” Tenggorokannya kesusahan dalam menelan. “Yep.”

Menyakitkan bagaimana relasi satu-satunya dari kunjungannya ke kota ini tidak akan lagi pernah berasosiasi dengan Gyuvin, dan pemuda itu juga dengan cepat menyimpulkan hal yang sama.

“Lagi ada waktu lowong?”

Ricky kesulitan mendengar pertanyaan barusan di antara musik yang keras, jadi telinganya kemudian dimajukan lebih dekat dengan bibir si dia. “Apa tadi Vin? Sori gak kedengeran.”

“Jalan-jalan kesini, lagi ada waktu lowong?”

“Oh.” Ricky membetulkan posisinya kembali menjauh. “Kinda.”

“Udah makan? Wanna grab something to eat?

Ricky mempersiapkan dirinya dengan satu tarikan napas yang dalam dan panjang. “Sure.”

Alright. Shall we?

Okay.” Dia tersenyum kepada Gyuvin.

Okay.” Dan Gyuvin tersenyum kepadanya.

Ricky masih ingat dengan jelas salah satu pengalaman Los Angeles pertamanya yang tidak akan mungkin dia lupakan. Sewaktu itu mereka baru dua minggu berada disana dengan banyak adaptasi yang masih harus dilakukan, namun Gyuvin tak henti merajuk untuk mengajak Ricky ke suatu tempat yang selalu ingin dikunjunginya dari semenjak agenda merantau ini masih sekedar rencana. So here they are, sitting in the famous LAX In-N-Out, memilih tempat duduk tepat di samping jendela dengan langit yang perlahan berubah oranye. He doesn’t think he’s ready for any conversation involving Gyuvin, tetapi untungnya pemuda itu berinisiatif untuk lebih dulu memulai.

“Kulit kepalanya gak sakit Ky retouch rambut terus?”

“Um. Ini aneh tapi engga… malah jadi lebih kuat rambutnya?”

“Hah? Bisa gitu.” Nothing’s more depressing than hearing Gyuvin’s laugh that sounds exactly like it was five years ago. “Tapi cocok sih warna rambut ini buat film kamu yang kemarin itu.”

Pandangan Ricky yang berpura-pura fokus pada burgernya berpindah pada Gyuvin dengan secepat kilat. “You watched my movie?

Mata Gyuvin ikut membelalak seakan merasa ketakutan karena sudah mengatakan hal yang salah. “Emangnya… gak boleh?”

“Bukan.” Kepalanya digelengkan dengan panik. “It’s just–kak Hanbin bilang you rarely associate yourself with any movies related anymore.

“Oh. Well… when you put it like that.” Gyuvin meraih satu kentang gorengnya tanpa benar-benar berniat memakannya. “Apa kabar Ky?”

Apa kabar surprisingly, is a strange form of bonding. Atau mungkin menjadi aneh terutama ketika Gyuvin adalah yang menanyakannya. Because no matter how things been going on his life, it wouldn’t fucking matter karena Ricky merasa hidupnya terhenti pada lima tahun lalu di dapur apartemen Hanbin. “I’m… just as you see. Kamu–so you do modeling now?

I guess? It pays the bill.

“Oh. Um,” Kamu udah nyerah sama mimpi-mimpi kamu, Vin? “Tapi kamu masih sering coba any casting lately?

No.”

Why not?

“Karena aku udah gak punya lagi cukup cinta untuk itu, Ky.”

Tak sengaja bertemu dengan Gyuvin setelah sekian lama mungkin adalah pemicu dari asam lambungnya hari ini, tetapi jawaban yang baru saja dia katakan was the cherry on top. “Gimana maksudnya kamu udah gak punya lagi cukup cinta untuk akting, Vin? That was the reason why we are here in the first place.

Yang ditanya bahkan tak membutuhkan jeda yang lama untuk sekedar mengangkat kedua bahunya sebagai tahapan pertama dari respon selanjutnya. “I’m just falling out of love with it.

Right.” Ricky diam-diam mencubit pahanya sendiri dari bawah meja dan menggunakan rasa sakitnya untuk membuat dirinya tetap berpijak di tanah. “You just did.

“Maafin aku ya, Ky.”

“Buat apa?”

Because my insecurities ended up hurting you. Dan cara mencegah aku buat gak ngelakuin hal-hal bodoh lain adalah dengan menjauh dari kamu. Sejauh-jauhnya. It hurts a lot when you said you can cover for both of us at that time because i’m the one who promised you things. Tapi aku juga tahu seharusnya aku gak ngerasa begitu karena that’s just straight up superiority. Aku seharusnya bersyukur alih-alih tersinggung. I know very well that it’s my fucking ego talking so that’s why i walked away. I guess kalau aku gak mencoba seberani itu dulu i wouldn’t ever be able to let you go. Aku terlalu sayang sama kamu.”

Oh Ricky wants to fucking die. He’s gonna pass out.

“Gyuvin–”

Sebelum Ricky sempat menyelesaikan kalimatnya, ada sesuatu yang tertangkap oleh pandangannya dan membuat Ricky membungkam bibirnya. The familiar sight happened to be the gummy smile vocalist, walking towards them on his converse and jeans and white t-shirt over leather jacket. Dan Ricky dibuat kebingungan setengah mati ketika pemuda itu berakhir dengan merangkul Gyuvin tepat di pundaknya.

“Tok. Tok.”

Yang dirangkul menoleh seraya perlahan-lahan melebarkan kelopak matanya. “Lah kok cepet?! Lari ya lo?”

“Sedikit.” Ada tanda peace yang dibentuk dari jemarinya bersama kedua alisnya yang dinaik turunkan dengan sengaja.

Alih alih merasa kesal, Gyuvin mengutarakan kegemasannya dengan  mengacak-acak rambut sang pemuda sehingga yang tadinya tertata rapi kini menjadi mencuat ke berbagai arah (Ricky mencubit pahanya lebih keras lagi ketika melihatnya melakukan itu). Gyuvin kemudian kembali menoleh ke arah Ricky dan memperkenalkan mereka. “Ky, ini Gunwook. Dia–”

“–penyanyi yang tadi.”

“Bingo.” Again, the gummy smile and the puffy pinkish cheeks and the way he looks so innocent so friendly despite the buffy figure. Holy shit you’re THEE Ricky.”

Ricky tersenyum malu-malu. Isi kepalanya mungkin sedang luar biasa keos, namun setidaknya usahanya dalam lima tahun terakhir berhasil mendapatkan pengakuan yang valid . “I guess?

Gunwook membisikkan yayaya lo beneran kenal Ricky dan gue kalah taruhan di telinga Gyuvin segera setelah Ricky menjawabnya, dan ada sebuah insting yang muncul dalam benaknya tentang siapa Gunwook dari gerak-gerik Gyuvin tanpa Gyuvin harus mengatakannya keras- keras karena Ricky pernah berada di posisi itu. Ricky pernah menjadi lawannya dalam melakukan sebuah taruhan bodoh. Ricky pernah dengan sengaja membuat Gyuvin mengakui kekalahannya dan membangkitkan sang wajah tengil ketika Gyuvin meredam amarah. Ricky pernah adalah yang diacak-acak rambutnya ketika Gyuvin mengutarakan kegemasan. Dan Ricky pernah berdiri di sampingnya alih-alih duduk di depan Gyuvin di dalam sebuah restoran cepat saji dengan segenap perasaan asing.

Beberapa bulan yang lalu Taerae sempat memperkenalkan Ricky kepada salah satu sahabat dekatnya yang ternyata juga sedang bekerja di New York. He was a nice guy with a boring office job and arranging time with him to come by Ricky’s apartment only if Ricky had the time was easy because he understands Ricky’s position. Jeonghyeon memperlakukannya bagaikan gelas kaca dalam cara paling culun dan terkadang sulit dipercaya. Pemuda itu memang definisi dari segalanya yang kikuk dan kuno, tetapi dia melakukan itu untuk mengistimewakan Ricky dan Ricky merasa teristimewa. By the time they’re about to have sex Ricky decided that he cannot do all of that simply because Lee Jeonghyeon is not Kim Gyuvin.

Why does this keep happening to him? Mengapa di sosial medianya Ricky bisa melihat teman sekolahnya menikah dan punya anak, teman sekolahnya meninggal karena penyakit, tetapi segalanya tentang Ricky tetap selalu berpusat kepada Gyuvin?

Mengapa selebritas di sekelilingnya berkali-kali terlibat skandal hubungan romansa sedangkan tidak ada satupun dari wartawan dan paparazzi itu yang tahu pernah ada Gyuvin di dalam hidup Ricky?

Why the fact that Ricky is a fucking famous movie star with millions of followers and lots of money doesn’t make his life seems moving because as soon as he goes inside his apartement it’s all dusted?

Di dalam kepalanya, Gyuvin mengiyakan ajakannya untuk pindah ke New York lima tahun lalu. Di dalam kepalanya, Gyuvin dengan antusias membawa Ricky bernapak tilas mengunjungi berbagai lokasi syuting film berlatarkan Manhattan. Di dalam kepalanya, mereka akan membelah lautan manusia hanya agar dapat berciuman ditengah-tengah Times Square ketika jam menunjukan pukul dua belas di malam tahun baru. Di dalam kepalanya, mereka akan sesekali duduk pada salah satu bangku di Central Park dan saling mendengarkan lagu dari earphone yang bagian kanannya dipasangkan pada telinganya dan bagian kirinya dipasangkan pada telinga Gyuvin. Sometimes Ricky would do silly things like running away from his manager and put on his undercover jacket and mask and go to the New York City Subway and wait until the train door open dan dia akan menyambut Gyuvin dengan tangan terbuka ke dalam pelukan. Di dalam apartemen mereka yang nyaman, Ricky akan menceritakan tentang outfit yang dipakainya pada sebuah pemotretan dan Gyuvin akan menyumpahi bosnya yang tidak tahu terima kasih hingga bibirnya berbusa. Of course Gyuvin would messing up with him at some point just because he’s Gyuvin and they’ll running around the house while tickling each other’s waist and Gyuvin would still call him his boyfriend, his soulmate, his gothic emo princess, his favorite person in the whole world and they would kiss each other until running out of breath,

because Gyuvin is still, for Ricky.

Namun pada kenyataanya, sudah ada Gunwook di samping Gyuvin dan Ricky masih terjebak di tempat terakhir Gyuvin meninggalkannya dan Gyuvin tidak pernah benar-benar memberikan pilihan tentang bagaimana caranya agar dia bisa pergi.

“Aku sama Gunwook mau pick up tuxedo buat besok tapi sehabis itu kita mau dinner. Do you wanna crash in? If you have time, of course.

Nah.” Ricky tidak pernah menggeleng dengan begitu cepat di dalam sepanjang hidupnya. Tentu trik yang sedang dilakukannya adalah berbohong, dan Ricky punya banyak waktu luang untuk sepanjang sisa hari namun Gyuvin tidak perlu tahu itu. “Rain check?

Sure, i know you’re busy anyway.” Konfirmasi yang Gyuvin berikan bukan berada dalam nada kekecewaan, tetapi dengan nada yang tulus dan penuh pengertian. Dan Ricky tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis ketika menanggapinya. “It was nice meeting you, Ky. I’ll see you at the wedding.

Yeah…” Kelopak matanya terasa luar biasa panas. “You too.

Gyuvin perlahan membalikan badan bersama dengan jemari Gunwook yang berada di dalam tautannya. Punggungnya terus menjauh dan menjauh dan menjauh dan Ricky tak memalingkan pandangannya dari sana bahkan untuk sekedar berkedip. Ketika punggung itu akhirnya sepenuhnya menghilang dari balik pintu, sebuah pesawat terbang melewati atap restoran tepat sebelum langit oranye berubah hitam.

 

And Ricky is still frozen–alive, but barely.

 

 

Notes:

Twitter