Chapter Text
Paru-paru Gilbert nyaris meledak karena meronta minta oksigen. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia bisa mati kapan saja. Tubuhnya memberontak, melawan logikanya, dan secara naluriah menarik napas dengan bunyi yang keras. Erzsi langsung membekap hidung dan mulutnya, di tengah kegelapan Gilbert masih bisa melihat amarah di matanya. Diam atau mati. Dia menggeleng putus asa.
Derap kaki masih terdengar dari bawah. Suara-suara itu, Gilbert bisa memahami dengan jelas. Tidak di sini. Mereka mungkin sudah kabur lewat pintu belakang.
Tidak, cari di lemari.
Gilbert melirik pada Erzsi. Beberapa menit yang lalu Erzsi mengusulkan lemari, tetapi Gilbert memaksa untuk memanjat ke langit-langit.
Menit, atau jam? Waktu berlalu dengan lambat sekali di sini, di tengah-tengah pengejaran Tentara Merah, yang telah mengendus jejak mereka berdua sejak arus perang mulai berbalik menikam Jerman. Dua orang itu menghilang sejak hari penyusunan strategi. Temukan mereka, hidup atau mati. Feliks meneruskan pesan tersebut dalam kode resep sup di balik sebuah bungkus rokok, ketika mereka sampai di Gdańsk untuk mengisi perbekalan, karena mereka melarikan diri dari markas Moskow tanpa membawa apapun. Seorang letnan telah mencurigai gerak-gerik mereka, dan ketika perang semakin meluas ke barat, ke rumah Gilbert, mereka tidak ingin ambil risiko.
Langit-langit, yang sekarang menjadi lantai mereka, berderak karena kayu-kayu yang rapuh. Getaran dari bawah, dobrakan pintu-pintu, hentakan kaki, membuatnya semakin menggeletar. Gilbert tahu lantai ini akan runtuh kapan saja.
Cepat, cepat, pergilah, bedebah.
Wajah Erzsi tak kalah pucat. Kekejaman perang menjadikan tubuh wanita sebagai korban paling menyedihkan. Mereka adalah dokumentasi berjalan kisah perang, dan cerita-cerita bawah tanah adalah porsi terbesar dari informasi yang mereka kumpulkan. Tidak sedikit cerita tentang para prajurit yang menghabisi harga diri wanita sebelum menghabisi nyawanya. Di posisi ini, nasib Erzsi bisa jauh lebih buruk daripada dirinya. Wanita sipil bisa mendapatkan kekejaman yang luar biasa keji, apalagi wanita dengan peran besar seperti Erzsi.
Orang-orang bertopeng dua tak pernah mendapat perlakuan yang baik jika jatuh ke tangan yang keliru.
Rasanya seperti selamanya sampai keheningan akhirnya mengisi kembali rumah itu.
“Sekarang?” bisiknya.
Erzsi mengernyitkan kening. Ia menggeleng.
“Sudah sepi.”
“Mereka belum jauh.”
Gilbert menunggu beberapa saat, kemudian dengan gelisah berbisik lagi, “Sekarang?”
Erzsi tak menjawab, membuatnya menganggap itu adalah persetujuan. Gilbert mengambil napas dalam-dalam, sebelum mulai merangkak ke arah belakang. Menyusupi kerangka atap yang berdebu dan penuh sarang laba-laba, aroma busuk membuatnya kembali menahan napas.
Mereka tiba di sebuah jalan buntu. Gilbert menarik paksa papan penutup, dan melihat cahaya. Mereka sudah berada di ujung rumah, Gilbert pun membongkar lebih banyak papan untuk membuat ruang yang cukup untuk mereka meloloskan diri.
Dia terjun lebih dulu, mengawasi sekitar. Erzsi kemudian turun, dan mereka pun berlari menerjang semak.
“Itu mereka!”
Gilbert membelalak. Jantungnya berpacu secepat pesawat penyerbu. Sebuah tembakan peringatan dilepaskan, hanya membuatnya semakin cepat berlari. Erzsi mengimbangi langkahnya, dan dengan sigap dia meraih tangan Erzsi. Mereka menembus semak-semak yang tinggi, kemudian memasuki hutan. Gilbert hanya mengandalkan nalurinya ketika melewati pepohonan yang jarang-jarang, membuat jalur meliuk, menikung untuk mengecoh, dan mengandalkan batang-batang besar untuk melindungi diri jikalau ada tembakan lagi.
Mereka semakin dekat. Gilbert bisa mendengar desing peluru. Dadanya terasa terbakar, kakinya terlalu ringan sampai-sampai bobot tubuhnya seakan melayang ketika berlari.
Sebuah rasa seperti menusuk menyerang lengan atasnya, dan begitu Gilbert menoleh, dia melihat sekilas seorang tentara mengacungkan senjatanya. Rasa sakit itu mulai mengakar, seperti denyut yang membara. Dia mendesis, tak membiarkan rasa sakit menghentikannya. Tembakan itu hanya semakin mempercepat larinya, membuatnya mengambil lebih banyak tikungan dan mengecoh dengan manuver menyesatkan. Dia tumbuh di pedesaan berhutan Jerman, jangan pernah remehkan aku, pikirnya.
Derap kaki pengejar tidak lagi terdengar, barangkali karena detak jantungnya sendiri membuat telinganya berdenging. Genggaman tangan Erzsi seperti cengkeraman.
Mereka melompati sebuah batang pohon rebah, dan melihat kota. Sebagian besar bangunan terbakar, dan Gilbert tak berhenti. Napasnya sudah pendek-pendek, tetapi lebih baik napas yang singkat daripada nyawa yang singkat. Dia sudah familier dengan kota ini. Di depan sana, ada sebuah jalur kereta.
Mereka berhenti sebentar di belakang sebuah gedung. Mengambil napas, mengawasi sekitar. Kota itu setengah hidup, orang-orang mencari pengharapan di antara puing-puing. Gerobak-gerobak mengangkut anak-anak dan wanita, sebagian lagi barang yang dibungkus dengan kain-kain sprei. Tidak ada tentara, sejauh ini. Dengan orang-orang yang berlalu-lalang, mereka bisa melakukan kamuflase. Gilbert melepaskan jaket cokelatnya, menyobek bagian lengannya, dan membuang keduanya secara terpisah. Satu di dekat bekas gedung yang terbakar, dan satu lagi agak jauh, pada sebuah gerobak yang penuh barang-barang separuh terbakar seperti sepeda, lemari, dan kursi. Dia berusaha membuang rasa sentimental yang melekat pada jaket itu saat melemparkannya; sebuah pemberian adik angkat masa perangnya, Alfred, yang selalu tahu caranya membuat paspor palsu dalam hitungan jam.
Gilbert berjalan cepat, menyeret tangan Erzsi bersamanya. Mereka berdua masih berada di sekitar Frankfurt an der Oder, kurang lebih seratus dua puluh kilometer dari Berlin. Tentara Merah menduduki kota ini sejak kemarin, dan kecepatan pendudukan mereka rata-rata tiga puluh sampai empat puluh kilometer per hari. Soviet belum menduduki Berlin, setidaknya sampai hari ini.
Dia mulai memutar otak, mencari cara untuk pulang melalui jalan memutar dan tidak mengikuti arah penyerangan yang ditetapkan. Mereka akan mencapai Berlin, tetapi menyapa kantong Sekutu dulu di sebelah Barat. Gilbert harus memastikan keberadaan adiknya dulu di Berlin, atau jika mereka beruntung, adiknya telah lebih dulu mengambil posisi di markas Sekutu di daerah perbatasan barat.
Namun, bagaimana?
Mereka berlari kecil melintasi rel yang kosong. Di seberang sana, rumah-rumah masih cukup banyak yang utuh, dan Gilbert secara acak menjatuhkan pilihan pada sebuah rumah berwarna kecokelatan, dengan bekas gosong ledakan pada sisinya, tetapi tak sampai melubangi dindingnya.
Gilbert mengetuk pintu dengan keras, tak ada jawaban. Pintu terkunci, dan ia berpandangan dengan Erzsi. Erzsi menoleh ke sekeliling, matanya tajam seperti elang. Ia segera berisyarat, masuk saja!
Dengan sekali dobrak, pintu tersebut terbuka. Tidak ada siapapun, dan dengan cepat mereka mengembalikan pintu ke bingkainya, membuatnya seolah tak pernah ada apa-apa, mencari ruangan di dalamnya.
Mereka menemukan sebuah kamar, sepertinya milik anak-anak, terabaikan dengan barang-barang yang berantakan. Kotak musik yang patah, boneka yang kotor, baju-baju yang dikeluarkan paksa dari lemari. Erzsi mengecek sekeliling, dan memungut selembar selimut.
Mereka berpandangan. Erzsi mengedikkan dagu ke arah tempat tidur. “Duduk.”
Gilbert mengernyit.
“Duduk, kubilang.”
Gilbert menuruti, dan Erzsi pun menyobek selimut tersebut. Ia mengangkat lengan Gilbert, membuat pria itu meringis. Adrenalin membuatnya lupa akan rasa sakit, dan setelah semuanya mereda, dia baru benar-benar merasakannya.
Erzsi membebatkan sobekan kain tersebut ke luka Gilbert. “Ceroboh,” gumamnya. “Seandainya kau bisa menunggu sedikit lagi sampai mereka jauh.”
“Tapi kau lihat, langit-langit itu akan runtuh.”
Erzsi hanya mendengus, dan menyelesaikan lilitan perban daruratnya. “Lain kali kau harus lebih sering mendengarkanku.”
“Tsk. Iya, iya.” Gilbert tidak ingin cari masalah. Perdamaian sudah sulit dicari, setidaknya dia berusaha untuk menciptakannya sendiri untuk mereka berdua. Pandangannya menyapu sekeliling. “Kita istirahat di sini dulu. Soal cara pergi ke Berlin, kita akan tahu nanti.” Dia memegangi lengannya, mengamati hasil kecerobohannya sendiri yang telah ditangani Erzsi.
Dia sungguh tak bisa memikirkan hidupnya tanpa wanita itu. Tanpa wanita yang meredakan ledakan emosinya, menenangkan tidur malamnya, dan mengerem tindakan tergesanya.
Gilbert menarik napas dalam-dalam—
—dan langit-langit pun runtuh.
