Actions

Work Header

Nightmare (Indonesia)

Summary:

One-Shot BakuDeku. Aku mendapatkan ide ini karena aku tidak bisa tidur. Cerita ini ada disaat chapter Katsuki Bakugou 'meninggal'.

Terimakasih sudah membaca. Karakter hanyalah milik Hori-sensei. Aku hanya memiliki jalan ceritanya. Maaf jika ada salah kata.

Aku sangat menyukai ship BakuDeku. Kalau kau tidak menyukainya, kau bisa untuk tidak membaca ini.

Kuharap yang membaca menyukai ini!

 

DoubleAgent

Work Text:

Izuku berdiri tepat di samping Katsuki yang berlumuran darah terbaring di tanah. Izuku menatap Katsuki dengan pandangan kosong. "Kacchan, kamu tidur? Buka matamu dan berdiri. Kamu ingin bercanda denganku?! Ini tidak lucu, Kacchan. Hey, bangun. Aku bilang bangun!" 

Suara All For One terdengar, "Dia itu mati karena salahmu. Kau sangat lambat untuk datang kesini dan lihatlah hasilnya. Sekarang kau itu lemah dan tidak bergu—"

"Diam! Kacchan akan bangun! Kau tidak tahu apa-apa. Dia pasti bangun. Kacchan! Ayo, buka matamu. Kita harus mengalahkan All For One bersama-sama. Kacchan! Katsuki!" Izuku terus menerus berteriak dan menangis. Berharap Katsuki membuka matanya. Tapi, itu semua sia-sia. Sedangkan, All For One tertawa melihat Izuku yang kehilangan cahaya harapannya.

"Kacchan, kumohon buka matamu. Aku bahkan belum sempat mengatakan kalau aku menyukaimu, tidak, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Kacchan. Dari kecil, kita selalu bersama dan aku sangat mengagumimu. Kumohon, jangan tinggalkan aku, Katsuki. Buka matamu, bodoh! Katsuki!" Izuku berteriak seperti orang gila. Tetapi, tidak ada yang terjadi.

Izuku mengangkat badan Katsuki yang dingin ke pangkuannya, lalu memeluk Katsuki dengan erat. Dia hanya bisa menangis. Tidak rela Katsuki pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Kacchan, kumohon. Buka matamu. Jangan pergi sendirian. Aku sangat membutuhkanmu. Kita saja belum berbicara dengan normal. Aku bahkan belum berterima kasih saat kamu menyelamatkanku dari Shigaraki. Kacchan! Kacchan!" 

Secercah cahaya menggapai Izuku menariknya pergi meninggalkan tempat itu.


Izuku terbangun dan dengan secara langsung duduk di kasurnya, menyadari bahwa dia baru saja mendapatkan mimpi buruk. Bahkan, menangis dalam tidurnya. Air mata masih turun membasahi pipinya. Dia mengelapnya dengan baju yang dia pakai, meraih ponsel miliknya untuk melihat jam. Ponselnya menyala dan memperlihatkan Izuku bahwa sekarang adalah pukul dua dinihari. Izuku lalu berdiri, membuka pintu kamar dan berjalan menuju kamar Katsuki.

Tayangan dari mimpinya tadi masih terputar dalam pikirannya. Dia ingin melupakan mimpi buruknya. Dan, jika itu tadi hanyalah mimpi buruk, dia harus melihat Katsuki. Memastikan apakah dia benar-benar baik-baik saja. 

Sampai di depan pintu kamar Katsuki, dia tidak peduli jika saja Katsuki akan meledakkan quirknya. Dia hanya ingin berada di dekat Katsuki. Izuku mengetuk pintu kamarnya sambil menangis terisak-isak. Satu kali. Tidak ada jawaban. Dua kali. Masih tidak ada. Tiga kali. Terdengar suara langkah kaki, berhenti didepan pintu, dan membuka pintunya.

Tampaklah Katsuki yang mengenakan tank top hitam dan celana panjang hitam yang biasa dia pakai. Mata Katsuki masih setengah terbuka, menandakan dia terbangun dari tidurnya karena ketukan pintu. 

"Apa mau mu jam dua dinihari dan mengganggu tid— Izuku, ada apa? Hey, kenapa kau nangis?" Mata Katsuki langsung terbuka lebar karena melihat Izuku menangis di hadapannya. 

"Kac— chan, ma— af mengga— nggu tidur mu. Aku tid— ak bisa te— nang jika tid— ak melih— atmu." Izuku menjawab Katsuki sambil tersedu-sedu. 

Katsuki tidak mengerti apa yang dikatakan Izuku, tetapi, dia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin Izuku sampaikan padanya. Katsuki menarik pelan tangan Izuku untuk masuk kedalam kamarnya. Menutup dan mengunci pintu kamarnya. Katsuki masih menggandeng tangan Izuku membawanya ke kasur dan menyuruh Izuku untuk duduk. Izuku menurut. Katsuki duduk disamping kanan Izuku. 

Izuku masih menangis. Dia ingin berhenti, tetapi tayangan mimpi itu masih terputar. Membuatnya ketakutan dan marah pada dirinya sendiri. Itu hanya mimpi. Dia berusaha melupakannya.

Katsuki di sisi lain dengan sabar menunggu Izuku untuk tenang, meletakkan tangan kirinya di punggung Izuku, dengan lembut membelainya. Guna menenangkan Izuku. Itu berhasil. Tangisnya perlahan berhenti.

Katsuki bertanya, "Sudah lebih baik?" Izuku menganggukkan kepalanya. Izuku merasa lebih tenang. Izuku mendongakkan kepalanya untuk melihat Katsuki. Menatap matanya langsung. 

Katsuki membalas menatapnya. Hatinya sakit melihat Izuku menangis entah kenapa. Walaupun menurut Katsuki, Izuku adalah anak cengeng. Tapi, Katsuki tidak pernah melihat Izuku menangis seperti ini. 

Melihat matanya yang bengkak, tangan kanan Katsuki membuat rencananya sendiri, menempatkannya di pipi kiri Izuku. Secara lembut mengelus pipinya. Izuku terhanyut dengan sentuhan Katsuki di pipinya. 

"Izuku, kenapa kau ada di depan kamarku dan menangis? Ada sesuatu yang mengganggumu?" Suara Katsuki memecahkan keheningan. Izuku langsung menatap lantai. Untuk sesaat ia lupa kenapa dia datang ke kamar Katsuki. Izuku tidak tahu apa dia harus memberi tahu Katsuki yang sebenarnya atau berbohong saja. Tapi, Izuku tidak bisa berbohong padanya. Tidak setelah Izuku berbohong tentang quirk One For All. Beberapa saat dia memikirkan antara jujur atau berbohong. Dia memilih untuk memberi tahu yang sebenarnya. 

"Kacchan, maafkan aku, aku datang karena mimpi buruk. Aku takut kalau itu menjadi kenyataan jadi aku datang kesini. Aku tidak ingin itu. Kacchan, mimpi itu menakutkan. Aku tidak bisa menahan diri untuk berdiam di kamar saja. Karena, Kacchan—, Kacchan—" Izuku mengingat kembali mimpinya. Bulir air mata meleleh keluar. Dia tidak sanggup mengatakannya.

Katsuki menggunakan tangan kanannya untuk mengangkat dagu Izuku agar dia bisa melihat wajahnya. Secara naluri, jari tangan Katsuki membuat jalannya sendiri dan menghapus air mata yang mengalir dari wajah Izuku. Sedangkan tangan kirinya mengelus punggung Izuku lagi. 

"Jangan mengatakannya kalau kau tidak sanggup, Izuku. Aku tidak akan memaksa mu." Katsuki berusaha menenangkannya kembali. Izuku menggelengkan kepalanya. 

"Aku ha— rus mengata— kannya pada— mu, Kacchan." Izuku mengambil dan mengeluarkan nafasnya berulang-ulang. Ia memutar tubuhnya 90° ke kanan menghadap Katsuki. 

Karena Izuku mengubah posisinya, Katsuki memindah tangan kirinya ke kasur dan tangan kanannya masih di pipi Izuku. Naluri untuk menenangkan Izuku membuat keangkuhannya menghilang.

Izuku menggenggam ujung bawah tank top Katsuki. Air mata kembali turun tetapi Izuku tidak tersedu-sedu. 

"Perang saat itu. Aku melihatmu. Kacchan terbaring di tanah. Darah. Aku datang untuk Kacchan. Berteriak agar Kacchan bangun. Tapi, Kacchan tidak membuka mata. Bahkan tidak bernapas. All For One mengatakan Kacchan tidak bangun itu semua karena salahku. Aku terlalu lambat.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berteriak memanggil namamu. All For One bahkan tertawa melihatku. Aku takut, Kacchan. Takut karena aku tidak bisa melihatmu lagi. Tidak bisa menjadi pahlawan bersamamu. Aku tidak bisa, Kacchan. Kumohon jangan tinggalkan aku sendirian. Aku ingin bersama Kacchan. Aku tidak ingin Kacchan pergi. Aku mencintai Kacchan. Kumohon, jangan pergi."

Izuku memohon. Terus memohon. Air matanya kembali mengalir. Dia mengungkapkan perasaannya. Padahal dia tidak ada rencana untuk itu. Alam bawah sadarnya mengambil alih untuk mengatakannya saja. Dan dia sendiri tidak meralatnya. Karena, dia ingin jujur pada Katsuki. Izuku mengalihkan pandangannya dari Katsuki dengan pipinya yang basah dan matanya yang bengkak. Tetapi, tidak menepis tangan Katsuki yang masih menempel di pipinya. 

Katsuki sangat terkejut mendengar itu. Tidak menyangka karena dia yang membuat Izuku mimpi buruk. Dan, yang lebih penting lagi, Izuku mencintainya! Katsuki merasakan wajahnya memerah. Dia tidak menyangka Izuku akan menaruh rasa cinta setelah apa yang sudah ia lakukan pada Izuku. Dia mengakui, dulu dia terlalu brengsek pada Izuku. Hingga menyuruh Izuku 'membunuh dirinya sendiri dengan terjun untuk mendapatkan quirk'. Tapi, sekarang, Katsuki berusaha berubah. Dan, fakta mereka saling mencintai, ya, Katsuki juga mencintai Izuku, membuatnya semangat merubah karakternya. Walaupun tidak sepenuhnya. 

Kembali mengingat sisa dari penjelasan Izuku padanya. Izuku mendapat mimpi saat dia 'meninggal'. Jika, Katsuki berada di situasi sama dengan apa yang ada di mimpi Izuku. Lalu, melihat Izuku terbaring tidak bernyawa. Katsuki pasti akan bertingkah sama seperti Izuku saat ini. Dia tidak akan bisa menerima kenyataan. 

Katsuki mendekat ke arah Izuku dan memeluknya erat, tidak ingin membiarkan Izuku pergi. Izuku membalas pelukannya dan menangis di pelukan Katsuki. 

"Shh, shh. Izuku, lihat, aku baik-baik saja. Itu hanya mimpi buruk, Izuku. Kau tidak salah apa-apa. Kau akan selalu melihatku. Kita akan menjadi pahlawan bersama-sama! Jangan khawatir. Kau bahkan tidak akan bisa memalingkan wajahmu dariku. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Kau akan terjebak denganku selamanya. Aku tahu aku sudah meminta maaf padamu, tapi, maafkan aku di masa lalu, Izuku. Aku menyesali semua kalimatku dan perbuatanku padamu. Aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu. Kau tidak akan lepas dariku. I love you, Izuku." Katsuki berkata sambil menangis. Dia ingin terhubung dengan Izuku. Untuk segala waktu yang dia buang karena meninggalkan Izuku dibelakang. Dia tidak akan mengulangi itu lagi. Izuku akan berlari bersamanya. 

Izuku yang mendengar kalau Katsuki membalas cintanya. Dia bahagia. Sangat bahagia. Dia tidak pernah merasa kebahagiaan ini sebelumnya. Mendapatkan quirk memang membuatnya bahagia, tapi jika cintanya terbalaskan. Demi All Might, Izuku tidak bisa berkata-kata. Izuku mengeratkan pelukannya.

"Aku sudah memaafkan mu, Kacchan. Aku tidak sabar untuk menjadi pahlawan bersama dengan Kacchan. Aku tidak sabar saat Kacchan menjagaku. Terima kasih sudah ada untukku, Kacchan. I love you too."

Katsuki dan Izuku tersenyum. Walau tidak bertatapan, mereka tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka merasa tenang. Mereka saling memiliki satu sama lain. 

Katsuki menarik pelan Izuku untuk berbaring bersamanya di kasur. Dua teman masa kecil atau bisa kita katakan sebagai sepasang kekasih ini saling berpelukan. Tidur dengan posisi yang nyaman. Mereka akan selalu bersama. Tidak peduli keadaan dan masalah apapun. Mereka selalu menyelesaikannya sendiri. Inilah keindahan dari hubungan mereka. 

 

 

End