Work Text:
Waduh , padahal masih pagi-pagi, tapi Anton sudah ngos-ngosan. Dia lari ke sana kemari, kewalahan siap-siap mau bekerja tapi terlambat bangun.
Ya, salahkan klub sepak bola favorit Anton yang harus tanding lawan klub musuh bebuyutannya. Anton tidak mungkin melewatkan pertandingan legendaris seperti itu, dia juga tidak mau ketinggalan mengobrol soal bola sambil merokok sama bapak-bapak di rooftop kantor pada jam istirahat.
Padahal ketika Wonbin terbangun jam 2 pagi untuk mengambil air minum, lelaki itu langsung mengomeli suaminya, dia bilang, “Awas aja nanti kamu telat bangunnya.”
Yang malam itu cuma dibalas oleh Anton dengan, “Hmm, bawel.” Karena, dih, sok tahu banget, siapa juga yang bakalan telat bangun? Anton ini terhitung sebagai karyawan disiplin di kantornya. Bahkan dia pikir di antara dirinya dan si Ayang, Antonlah yang lebih disiplin soal apa pun.
Lagian kok bisa sih orang-orang bangun terlambat? Kan tinggal pasang alarm.
“Daddy …! Daddy …! Kukuruyuk …!” Suara si bungsu yang melengking memekakkan telinganya, bocah itu melompat-lompat antusias sambil menepuk-nepuk perut Anton.
Ketika dia membuka matanya, sinar matahari sempat membutakan pengelihatannya, langitnya kelihatan cerah—wait, kok langitnya cerah …? Kan sebelum matahari terbit, dia biasanya jogging dulu baru mandi setelahnya, makanya momen terbaik dari jogging pagi buta adalah Anton dapat menyaksikan matahari terbit dalam perjalanan pulang.
Anton spontan melenguh terkejut, dia melirik jam di dinding. Oh My God, sudah jam 7 pagi lebih.
Terus biasanya dia akan bangun di ranjang dengan Ayang Mbin dalam pelukannya, tapi kali ini Daddy Anton berbaring di sofa ruang televisi, kaus yang dikenakannya naik sampai ke dada, menunjukkan perutnya yang tadi ditepuk-tepuk sama si dedek.
“Daddy libur, yaaa?” Ucap si bungsu polos, masih cadel R-nya, dia kelihatan tidak sadar akan kepanikan yang muncul di raut wajah Anton.
Anton pun melirik ke Wonbin yang kini sedang memasak sesuatu, dari aromanya kayaknya nasi goreng lagi.
Anton membuka mulutnya hendak protes: Kok gak bangunin aku? Tapi giliran bicaranya keburu disambar Wonbin yang bilang, “Dari tadi dibangunin, bilangnya lima menit lagilah, sepuluh menit lagi—gitu aja terus.”
Oh …, hehe … he.
Anton cuma bisa mangap ketika disambut omelan Wonbin pagi-pagi. Oke, dia gak jadi protes.
Wonbin mungkin kesannya sok tahu, tapi nyatanya dia memang yang paling tahu soal suaminya sendiri. Penginnya Wonbin juga sekalian memberitahu suaminya, “Kan, aku bilang juga apa.” Tapi kasihan melihat suaminya panik pagi-pagi langsung lari ke kamar mandi sambil menggendong si bungsu, karena memandikan putra bungsu mereka merupakan tugasnya Daddy.
Ujungnya mereka mandi bersama seadanya.
Anton sempat kelepasan membentak putranya karena anak kecil itu malah masih ingin main air dan sabun di bathtub bersama ayahnya. Padahal ayahnya orang yang paling tenang sedunia, dimarahi seperti itu tentunya bikin si dedek syok. Jadi dalam keadaan belum berpakaian dan tubuh basah kuyup, anak kecil itu menangis, keluar dari kamar mandi untuk mengadu sama Papi Wonbin, katanya, Daddy jahat …, dedek dimarahin Daddy ….
Kemudian dari kejauhan, Anton dapat mendengar Wonbin mencoba untuk menenangkan si bungsu. Anak kecil itu sudah dibalut handuk, menangis dalam gendongan Papinya. Sesekali Anton dapat mendengar Wonbin mengomel padanya dari dapur.
Astaga, kacau balau semuanya. Anton memiliki gaya hidup yang disiplin sehingga dia tidak pernah seterlambat ini dalam hidupnya.
Anton memilih pakaian seadanya, gak pakai pikir, wewangian pun disemprotkan ke sembarang arah buru-buru.
Dan ketika Anton kembali ke dapur, dia melihat si bungsu sudah lengkap berpakaian, bocah itu duduk di lantai di samping kaki Wonbin sambil main mobil-mobilan.
Wah , Anton tidak tahu bagaimana caranya Wonbin mengurus anak-anak di situasi chaotic begini, apalagi Wonbin juga tidak pernah protes padanya soal bagaimana lelahnya mengurus kurcaci kecil mereka.
Kalau memang Wonbin lelah ataupun tertekan, dia tidak pernah mengungkapkan hal tersebut pada suaminya, selalu kelihatan tenang dan bisa diandalkan.
Anton bisa saja menghabiskan sisa waktu yang dimilikinya untuk siap-siap itu dengan sarapan, tapi dia memutuskan untuk fokus pada si bungsu yang masih keliahatan murung, anak kecil itu sesekali terisak-isak. Anton pun langsung menggendongnya.
Awalnya tentu saja anak kecil itu memekik histeris, kan lagi ngambek sama Daddy habis dimarahin karena main air dan sabun, padahal itu kan sudah jadi rutinitas mandi sama Daddy, tapi kok ayahnya marah-marah sih?
“Maaf tadi Daddy jahat marahin dedek, ya.” Kata Anton pada putranya yang langsung memalingkan wajah, Anton cuma bisa melihat pipi gembilnya dari belakang kepala putranya. “Dedek mau maafin Daddy, gak?”
Anak kecil itu diam saja, dia terus terisak-isak dalam gendongan si Daddy, kemudian terdengar suara kecilnya yang parau, “Daddy kenapa marah-marah sama dedek ….”
Hal tersebut sukses membuat hati Anton terenyuh, dia pun menghujani putranya dengan ucapan maaf dan kecupan basah di pucuk kepala dalam pelukan penuh kasih sayang.
Untungnya si dedek bisa berhenti menangis setelah disuapin sarapan sama Daddy sambil lihat-lihat ikan di kolam. Buah hatinya itu mulai kembali ceria, berlarian lincah di pinggir kolam ikan sambil mengayun-ayunkan pedang mainan kesayangannya.
Pada akhirnya yang menyuapi si dedek pun harus disuapi oleh Papi Wonbin, sedangkan yang sulung sibuk “belajar” di meja makan.
(Bukan belajar sih, lebih tepatnya mengerjakan tugas yang lupa dikerjakan untuk hari ini. Tapi nanti kalau ketahuan sama Papinya, bisa-bisa diamuk ….)
Pada akhirnya, main pedang-pedangan sambil disuapin di pinggir kolam mampu memperbaiki suasana hati dan hubungan si dedek sama Daddy. Sarapan si dedek belum habis, tapi anak kecil itu anteng ngemil di depan televisi karena acara kartun kesukaannya sudah tayang, serta ayahnya harus sesegera mungkin pergi bekerja.
Anton begitu overwhelmed dengan kekacauan pagi ini sampai tidak ngeh dari tadi dipanggil oleh Wonbin.
“Hm—hah? Kenapa, yang?” Tanya Anton sambil merapikan dasinya yang masih berantakan, dia benar-benar hendak pergi, pria itu sudah berdiri di ambang pintu.
“Kamu tuh kenapa sih selalu kelupaan ini terus?” Kata Wonbin dengan nada bicara yang Anton hafal kalau si ayang siap mengomeli lagi.
“Kelupaan apa maksudnya, yang?” Anton bertanya balik, jujur lagi gak mood tebak-tebakan. Dia terlambat banget nih.
Masih pagi tapi Wonbin sudah kelihatan lelah, rambutnya agak acak-acakan, lapisan tipis peluh menyinari keningnya. Bibir Wonbin agak manyun, kelihatan bete banget ….
Mata Anton refleks tertuju pada bibir Wonbin yang mengerucut, Anton tampak sedang berpikir untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berseru, “Oh, sorry, sorry! Maksudnya itu, ya—aduh, aku lupa melulu.” Kemudian meraih pinggang Wonbin, satu tangannya lagi menangkup pipi Wonbin lembut, Anton membungkuk sedikit, dan cup …!
Anton mencium bibir empuk si ayang.
Dicium begitu, Wonbin malah melongo. Dia mengerjapkan matanya, kelihatan kaget. Wonbin pun perlahan mengeluarkan sebuah tas kecil dari punggungnya dan berkata, “Maksud aku tuh kamu lupa makan siang kamu ….”
Oh.
Anton ikutan melongo. “Oh ….”
Melihat Wonbin yang salah tingkah setelah dicium begitu, perlahan sebuah senyum menghiasi wajah Anton. Wonbin spontan menunduk untuk menghindari pandangan suaminya, jarinya tidak mau diam dengan meremas-remas kain pakaiannya sendiri. Khasnya Park Wonbin kalau lagi gugup.
Lucu banget, berasa ABG lagi. Hal ini mengingatkan Anton kalau keduanya sudah lama enggak romantis-romantisan. Ah, mungkin sudah saatnya, mungkin nanti malem—
“Daddy, aku harus piket, ih!!!” Dari kejauhan Anton dapat mendengar si sulung berteriak bagaimana dia akan terlambat, dan jalanan pasti macet kalau mereka perginya lebih siang.
Anton pun mengambil tas bekalnya, dan merespon, “Okay, thanks. Aku pergi dulu.” Dengan senyum yang lebar, senyum itu menunjukkan gigi rapinya yang membuat dia kelihatan makin tampan.
Kalau menurut Wonbin, Anton itu makin tua makin ganteng, dia malu untuk mengakuinya. Jadi ketika diberikan senyum yang menawan begitu, Wonbin kan makin salting.
“Ehm—dedek …! Sini salim dulu sama Daddy!” Seru Wonbin.
Terdengar derap langkah kecil si bungsu yang mendekati mereka diiringi pekikan antusias, “Daddy!!!”
Wonbin sok-sokan biasa saja dengan mencoba mengalihkan perhatiannya pada si bungsu yang harus salim sama ayahnya. Papi Wonbin hendak pergi, tapi langsung ditahan sama Anton.
Pria itu tidak berkata apa-apa, cuma diam sambil menatap wajah manis si ayang, tapi Anton memberikan tatapan itu. Tatapan penuh arti yang Wonbin hafal betul suka diberikan Anton kalau malam-malam anak-anak sudah tidur, dan suaminya itu pengin …
“Yeee! Udah gila!” Wonbin langsung menoyor jidat Anton, eh, tapi pria itu malah ketawa-ketawa.
Momen mereka berdua diinterupsi oleh si bungsu yang kemudian salim sama ayahnya, anak kecil itu juga tidak lupa kiss pipi si Daddy dan mengucap kata pisah.
Pagi mereka diakhiri dengan si bungsu dalam gendongan Wonbin, anak kecil itu melambai-lambai pada mobil ayahnya yang perlahan pergi menjauh, dan meneriakkan, “Bye-bye, daddy!” Kemudian kiss-bye ke arah mobil yang sudah menjauh itu.
Wonbin baru sadar kalau dia sedari tadi melamun ketika dia merasakan pipinya dielus-elus oleh putranya, anak kecil itu kelihatan khawatir ketika bertanya, “Papi sakit, ya?”
“Hm? Enggak kok.”
“Tapi pipinya panash.”
Wonbin memegangi pipinya sendiri yang ternyata terasa hangat. Oh, ya …, habis kepikiran si Daddy sih tadi ….
“Papi harus minum obat!”
Wonbin terkekeh gemas karena gaya si bungsu mengomel mirip dirinya. “Papi enggak sakit, sayang.”
Soalnya kalau sakit yang begini sih cuma suaminya yang bisa menyembuhkan.
Disembuhkan nanti malam, mungkin ….
