Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-10-25
Words:
3,262
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
95
Bookmarks:
5
Hits:
1,991

Forever & Always

Summary:

Renjun adalah manusia penuh kasih sayang, Renjun adalah yang pertama dalam bingkai foto masa muda, Renjun adalah pemberi bahagia, Renjun adalah bunga dan semua kata-kata manis di seluruh dunia.

Work Text:

Ada satu pertanyaan yang pernah terlontar dari anonymous person sewaktu gue buka Q&A di Instagram. Kata-katanya gak menohok sampai ulu hati, sih. Tapi cukup untuk membuat mata terpejam sedangkan pikiran gue menelisik keberadaan jawaban yang entah bagaimana dan dengan cara apa gue menjabarkannya. Mungkin lo semua bertanya-tanya tentang pertanyaan tersebut, begini katanya;

“Dia, dimata kamu seperti apa?”

Dan pikiran gue melalang buana, menulusuri petak demi petak potongan adegan yang anehnya terasa nyata. Tidak seperti kaset kusut yang berputar, melainkan cahaya yang membantu gue menuju pada sosoknya.



Suara gemerisik yang datang dari dalam ruang klub bertuliskan “Kelas Ballet” menggelitik insting remaja dari kelas sebelah— yeah that boy is me. Gue menilik dari jendela yang tidak dilapisi gorden; a boy? gue mundur selangkah, bolak-balik memastikan apa benar ini kelas ballet. Namun bukan itu yang jadi fokus gue sekarang, melainkan anak laki-laki itu dengan lihai mengangkat salah satu kakinya ke udara, berputar pelan dengan kedua tangan membentang.

 

How Beautiful

Cara berdiri, ekspresi wajah, and the way he dances— like a perfect beautiful snowflake. Dan gue hampir tidak berkedip melihat apa yang ada di depan mata, menjadikan yang di ujung sana terperanjak kaget akan presensi gue yang diam-diam layaknya penguntit. Atau memang iya.

 

Bruk

Gue reflek. Reflek melepas dan membuang asal Sparring Gloves dan berlari ke dalam untuk membantu anak laki-laki itu bangun. Alih-alih menerima bantuan dengan sukarela, ia malah menangkis tangan gue pelan.

“Gue bisa sendiri.”

Gue mundur beberapa langkah dan menyisakan kedua tangan yang gue angkat asal ke udara menandakan gestur, Well it’s up to you, kalau gamau dibantu.

Dan gue terlampaui ingat, hari itu adalah pertengahan April. And we were sixteen.



Banyak hal yang tampak berbeda jika kita melihat sesuatu dari balik kaca, karena sejatinya kita tidak pernah mampu menggapai bagian-bagian terinci. Sulit untuk menggapai, menerka, dan mengerti, bahkan jika kita sudah mencoba mendekat dan mengenainya dengan dahi.

Setidaknya begitu yang gue rasakan bersama Renjun. Pernah ada satu momen dimana gue berpikir bahwa Renjun adalah anak laki-laki yang lemah dan rapuh seperti seekor anak kucing yang tersesat,

"Kak?"

 

Dua detik

 

Lima detik

 

"Kak," Dia mulai menarik-narik kecil punggung tas yang gue kenakan. Kan, I told you. Kayak anak kucing.

Gue berdeham sebagai jawaban ketika melihat anak kucing di sebelah gue ini merengut. Sengaja mempercepat beberapa langkah dan diikuti langkah besar lainnya dari si dia.

"Iya iya ini cerita deh," Nafasnya terengah. "Tapi jalannya jangan cepet-cepet dong."

"Kenapa hari ini gak mau latihan ballet? Kemarin enggak, dua hari lalu juga enggak." Diam lagi. Gue menunggu sampai Renjun menanggahkan kepalanya untuk membalas menatap.

"Katanya cowok gak pantes nari kayak gitu, cowok seharusnya ikut kelas boxing, cowok harusnya pake sepatu bola bukan pake sepatu tipis warna cewek. Cowok harusnya,"

"Siapa yang ngomong begitu? Biar gue tonjok."

"Gak perlu kak."

"Perlu lah, biar dia ngerasain ditonjok anak boxing."

"Gak usah, udah duluan gue yang tonjok."

Untuk sesaat gue tidak berkedip, gue melotot karena kaget bukan main orang ini benar-benar diluar pemahaman gue. Again, Renjun being renjun. And my heart grows prouder to watch him become something so great.

"Terus kenapa malah gak ikut kelas?"

"Mau liat lo latihan hehe"

Lagi-lagi gue tidak berkedip, intonasinya yang berubah drastis membawa gue untuk tersenyum. Satu telapak tangan gue lalu meraih pipinya, mengusap permukaannya dengan lembut. Kemudian mata kami beradu. Dan di detik selanjutnya, ada gue yang membawa tubuh mungil— dengan segudang keberanian di dalamnya ini untuk gue bawa ke dalam pelukan dengan impulsif.

"You did great, please keep doing what you want, ya."

"Bau keringet,"

"Hahaha, maaf. Nanti mampir temenin gue beli parfum dulu mau nggak?"

Anggukan sebagai jawaban. Dan kami bergegas ke toko parfum refill pinggir jalan di tengah bisingnya kendaraan. Si dia di depan counter sana terlihat antusias, mengabaikan gue yang notabenenya si orang yang mengajak, tapi dia malah asik berkonsultasi dadakan dengan pegawai sambil menyemprotkan beberapa parfum di seragamnya yang sekarang wanginya semerbak mengelilingi.

"Mau beli yang wangi apa?"

 

Ternyata masih inget ada gue disini

 

"Lo sukanya yang mana?"

"Yang vanilla ini enak tapi manis banget,"

"Yaudah yang itu aja."

"Lah kan lo yang mau pake kak, masa gue yang pilihin."

"Gapapa, biar lo suka pas lagi gue peluk."

"Ngaco ah."

Pun seseorang tidak dapat melihatnya, pegawai parfum juga sedang melayani pelanggan lain, tapi gue tau bagaimana ada senyum yang terbentuk diwajah laki-laki manis di hadapan gue. Semburat merah muda yang saling bermunculan, dan entah kenapa kedua pipi gue juga ikut memanas karena malu.

Dan saat itu juga gue sungguh tidak berniat untuk pergi kemanapun, karena menyusuri jalan setapak sambil menggenggam tangannya sudah cukup membuat damai dan membawa gue kembali ke rumah.

He was seventeen. And he was the centre of my world.



Hidup selamanya tidak akan pernah lurus atau tentram atau terus mengikuti apa yang kita inginkan. Karena ada saatnya hari dimana gue, Mark Lee yang sok kuat ini merasakan kekosongan. Gelap dan rapuh. Tapi di setiap hari-hari kosong itu, selalu ada sosok Renjun mengisi. Menghangatkan efek gigil yang tidak mampu gue beri seorang diri, yang ikut merasa dengan mata berkaca, dengan hati yang rela. Yang memberi penuh segala atensinya hanya untuk gue seorang.

Tapi pernah gak sih lo kepikiran, apakah ada masa dimana si manis gue itu melepas rengkuhannya?

Jawabannya tentu pernah; dan ada.

Lalu bisa nggak sih manusia sok kuat ini bertahan tanpa ada sosok manis yang mendekap erat tubuhnya?

Jawabannya hanya satu, tidak.

Karena gue pernah hampir tidak mengenali diri sendiri, tidak mampu menahan sakit, tidak kuasa menghadang jarum kecil yang menusuk. Padahal gue paham, satu-satunya yang bisa membuat gue kembali utuh dan bertahan dari segala kehancuran ini hanyalah dimaafkan.

Menjunjung nama ego setinggi-tingginya, membuat pihak lain merasakan sakit karena kata-kata tidak pantas terselip keluar dari bilah bibir gue sendiri karena hasutan orang sekitar. Namun gue tidak akan menyalahkan orang lain disini, karena itu murni pemikiran dangkal anak laki-laki yang baru memasuki fase dewasa.

’Cowok kalo temenan jangan terlalu deket. Nanti kalo orang-orang salah paham, susah loh diterima sama orang lain.’

Atau

'Nanti kamu susah dapet kerjaan kalo udah dicap suka cowok'


Dan kalimat-kalimat hina lainnya.

Sekali lagi, gue yang terpengaruh dan pikiran dangkal melahap habis sisa kewarasan yang gue punya. Membentak, menjauh, dan meninggalkan Renjun seorang diri. Tidak ada kami yang berangkat dan pulang sekolah bersama, tidak ada kami saling menunggu kelas hobby masing-masing. Tidak ada lagi senyum, tawa, dan hangat yang kami bagi. Dan semuanya terasa kosong. Ada yang tiba-tiba datang memberi api unggun yang membara, hingga gue bukan lagi merasakan hangat namun terbakar.

Dan sejak saat itu, gue tidak lagi peduli dengan omongan jahat sekitar. Tidak lagi memikirkan terlalu jauh masa depan seperti apa nantinya untuk kami berdua, dan hanya akan menikmati momen-momen manis yang kami ukir setiap hari untuk dikenang bersama; dengan jalan beriringan dan bergandeng tangan. Karena gue yakin, yang baik akan dibalas kebaikan.


“Udah marahnya?”

“Udah, marahnya.” Dan gue menyambut kedua tangan; so soft, like silk against my rough sand.


Being eighteen was a confusing time.


Come closer,

“Udah,”

“Masih jauh, siniii.” Gue merengut, tatapan mata sengaja gue buat sesedih mungkin untuk menarik simpati dari si manis.

Come on, come and sit here,”

on my lap.” Dan ada dia yang memutar matanya malas. Namun tetap melangkah dan duduk hati-hati ke dalam pangkuan. We have never done this before.

 

Hari itu minggu, dan matahari sedang tinggi-tingginya, namun kami malah memilih merapatkan tubuh satu sama lain. Karena saat itu adalah momen paling hectic dalam hidup yang pernah gue rasakan ketika menginjak dewasa. Mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk masuk Universitas. Kami sibuk dengan dunia masing-masing. Intensitas pertemuan kami-pun berkurang. Hanya sapaan singkat melalui pesan di malam hari dan ada gue yang baru menjawabnya di waktu pagi.

Bahkan gue tidak lagi latihan boxing di kelas hobby. Hanya buku-buku latihan soal dan kacamata menemani sepanjang hari. Dan itu sudah berbulan-bulan lamanya hingga gue sendiripun mau muntah setiap melihat buku berserakan di atas kasur atau meja belajar bahkan di dalam lemari.

"Panas gak kalo begini?"

"Suhu AC-nya aja yang diturunin kak."

"Siap. Kalo pegel bilang aja ya,"

"Emang kakak gak susah belajar sambil pegangin pinggang gue gini? Turun aja, nanti lagi."

Gue, diam-diam tersenyum menahan gemas. Merapatkan tubuh kami. Mendekatkan hidung tepat di sebelah tengkuk Renjun yang putih bersih dan membenamkan kepala lebih dalam ke ceruk leher si manis. I was wondering, sejak kapan ya wangi vanilla yang dulu menyebar dari balik seragam putihnya berubah menjadi wangi seperti ini. Wait, let me explain, gue mengendus lagi, ini wangi apa ya. Top notesnya tuh citrus dan woody, ada fruity sedikit sebagai heart notesnya.

"Ganti parfum ya?"

Si manis menoleh, dan kami bertemu tatap. Matanya mengedip dua kali lebih cepat, how cute.

"Iya, gak enak ya?"

"Kata siapa? You are more fragrant than roses."

Renjun kemudian menarik pandangannya menjauh, pun gue usaha mati-matian untuk menahan diri. Namun kami tetaplah anak muda dengan birahi yang meluap-luap. Entah setelah dehaman palsu yang keberapa kali, gue mengangkat Renjun untuk duduk berbalik menjadi saling menghadap.

Hari sudah sore, dan gue ingat dengan jelas tangan mungil itu menarik gorden di pojok ruangan tepat di sebelah kirinya. Kamar menjadi remang dengan pencahayaan minim dari sinar matahari yang mengintip dari balik gorden.

Bersamaan dengan telapak tangan gue yang menangkup rahang Renjun lembut dan ibu jari yang gue gerakkan halus untuk mengelus, ada ciuman kami yang lembutnya setengah mati. Entah karena ini adalah pengalaman pertama, rasanya kikuk bukan main.

Namun, Huang Renjun adalah segalanya yang magis. Magis pertama yaitu hangat bibirnya menjalar hingga ke tulang. Dan lagi-lagi ada si insting gila dalam diri gue yang menggebu-gebu untuk balas melumat. Magis kedua datang dari suara lenguhan yang saat ini menggema di ruangan berisikan kami berdua. Dan magis ketiga, ada Renjun yang memeluk erat-erat badan gue, malu.

Pun dirinya tak serta merta merengek saat gue gendong untuk merebah di atas kasur. Si manis sibuk mengeratkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya ke dalam mencari tempat teraman untuk sembunyi.

Butuh waktu hampir sepuluh menit untuk kami bertemu pandang tanpa atmosfer kikuk yang ada diantara kami. Gue pun sudah kembali fokus pada buku-buku pelajaran yang ada di meja belajar. Sebelum satu suara tiba-tiba mengalihkan pandangan gue pada sosok dirinya.

"Sekolah gak asik." Adalah hal yang dikatakan oleh Renjun saat dirinya merebahkan diri. Satu tangannya ia taruh diatas dahi; menutupi kedua matanya. 

"Kenapa gak asik?"

"Gak ada lo."

"Kan ada Donghyuck?" Eh, goblok salah ngomong

Renjun menyingkirkan lengannya dari dahi sebelum matanya membulat sempurna. Mempertanyakan banyak hal dalam satu waktu. "Kok kenal?"

"Nametagnya. Pernah papasan waktu itu, di depan rumah lo."

"Temen sekelas."

"Iya."

"Naik motornya gak ngebut."

"Iya."

"Pake helm, Donghyuck bawa dua."

"Iya."

"So what are we?"

"Iya?"

Ada jeda panjang sebelum gue menjawab pertanyaan yang Renjun ajukan;

"We're....."

"Friends, right?" Lewat tubuh mungilnya yang perlahan turun dari tempat tidur dan berdiri setelahnya. Pembicaraan tadi menjadi menggantung dan luntang lantung di udara.

Being nineteen would have been so much better if I had taken the chance.



Kota Bandung rasanya tidak akan pernah berhenti memberi pelajaran. Tentang perjalanan yang memberi banyak kesadaran. Tentang semua kegiatan dalam melerai pikiran-pikiran bertumpuk, yang terkadang membuat gue merasa tidak karuan.

 

Distance makes the heart grow.

 

Tentang kota Bandung sebagai pelarian. Tentang segala yang berkecamuk. Perjalanan ke kota Bandung tidak akan pernah menjadi penyesalan, karena dengan itu gue mulai menyadari seberharga itu keberadaannya dari apa yang gue sempitkan dipikiran.

 

“Chan, katanya yang patah tumbuh, tumbuh dimana?”

“Mark, katanya yang hilang berganti, kapan?”

Lah, malah adu nasib si bangsat Lee Chan ini

“Woy, Mark! Blocking kiri!”

“Iya gue liat,”

Ketukan sepatu beradu, suara pukulan bola voli di selingi teriakan bahkan umpatan menggema didalam aula latihan.

 

Priiiit

 

“Sampe sini aja latihannya, gue bakal kirim eval nanti di grup WhatsApp kayak biasa.”

“Siap, A’.”

Untuk sepersekon detik, aula latihan mendadak jadi tempat horror tak berpenghuni. ’Cepet amat orang-orang kabur’ batin gue. Namun asumsi barusan langsung ditampar fakta oleh sobat gue yang tiba-tiba berdiri di hadapan dengan badan penuh keringat dan botol air mineral di tangan kanan.

“Pulang sekarang gak?”

“Nebeng, motor masih di bengkel.”

“Yaudah ayo.”


Jalanan malam ini licin dan becek sehabis diguyur hujan seharian penuh. Bermodalkan kaos dan jeans belel yang dipakai, kami membelah jalanan malam kota dengan tangan gemetar sisa pukulan bola voli yang masih membekas di sendi-sendi tangan.

“Melipir dulu apa ya kita, tangan gue lemes banget bangke.”

Lee Chan. Bocah ini nih yang bikin kota Bandung tidak seasing dulu saat pertama kali kaki gue menginjak aspalnya. Barudaks Well yang selalu berisik dan punya banyak cerita untuk dibagikan.

“Mark, lu pernah gak naksir sama orang tapi takut buat bilang?”

Nah langsung dikasih contoh, kan. Tempat kami sudah bertukar, kali ini dia memandang jalanan basah tanpa mengedip. Jangan tanya kenapa gue bisa tau, ya karena gue bisa lihat dari kaca spion.

“Pernah,”

“Serius? Sekarang masih suka?”

“Eum….”

“Jujur aja nyet gak usah nahan-nahan gitu lah.”

“Masih. He was the only thing i had back then.”

“Sekarang?”

Always. Gak pernah berubah.”

“Kenapa gak bilang dah payah lu.” Pundak gue dipukul tiga kali berturut-turut. Ini kalo bukan motor dia udah gue turunin dipinggir jalan deh, serius.

“Takut, gue setakut itu kalo dia gak punya perasaan yang sama juga ke gue.”

“Oh begini ya cara pikir orang Jakarta.”

“Hahaha jangan dilabelin begitu jir, gak semua orang Jakarta sepengecut gue. Emang orang Bandung kaga?”

“Siapa tuh bang messi?”

“Lo lah ngehe.”

“Hahaha, iya.” Cicitannya pelan, bahkan hampir tidak bersuara kalau saja gue tidak duduk membelakanginya seperti ini.

Damn, iya?”

“Kakak kelas gue, gak berani soalnya gue cupu banget waktu SMA.”

“Chan, emang boleh ya pengecut main barengan gini?”

“Hahahahaha, monyet lu.”

Dan ada kami yang tertawa lepas di gelapnya jalanan kota. Menertawakan kebodohan, menertawakan apa saja yang kami anggap lucu, dan menertawakan takdir cinta kami yang sama-sama hancur menggerogoti hati.

No one had warned me that being twenty was a mystery and an adventure.



Pertanyaan berganti, jadi begini; "Kalau kamu dengar kata sampai jumpa lagi, kamu memandangnya sebagai apa?"

Dan gue terdiam beberapa saat sebelum notifikasi menunjukkan kalimat baru sekali lagi,

"Artpreneur Theater, 15.00."


Gue tadinya sedang asik ditelan nostalgia. Namun pertanyaan barusan mencambuk gue untuk sesegera kembali pada keadaan sesadar-sadarnya manusia.

It can be either happy or sad

Senang, karena akhirnya bisa bertemu lagi. Sedih, karena ya, belum tentu bertemu kembali.

"Chan,"

"Ya."

"Renjun,"

"Hah? Tau darimana lo kan itu anon?"

"Insting."

“Instang-insting tai kucing.”

“Serius, percaya sama gue.”

"Oke oke, mau samperin ke Jakarta? Bilang sesuatu sana. Jangan kayak mayat idup aja lo dimari."

"Is it okay?"

"Kenapa harus gak okay? takut?"

Anggukan kepala sebagai jawaban, dan ada Lee Chan yang memukul keras belakang kepala gue. "Katanya gak mau jadi pengecut lagi gimana sih lu. Siapa yang waktu itu bilang kalo "no one will ever be able to take him away from me. Always. Until the end of the world."

Pernyataan Lee Chan tadi diam-diam mengguncang mental gue, tapi, "Kurang nyet. Until the end of the world. Forever."

"Nah kan,"

"Thank you, bro."


I won't ask for anything more, Lee Chan, you deserve to be loved



Perjalanan menuju Jakarta entah kenapa terasa dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan gue tidak pernah membulatkan begitu banyak tekat di waktu yang singkat dalam perjalanan menuju Jakarta saat ini. Yang pertama dan yang paling sederhana mungkin meminta maaf sambil memeluk tubuh mungil si manis gue.

"Fuck, Jakarta emang gak pernah berubah ya."

Gue serta-merta mendengus, menghentak-hentakkan kaki gusar, dan ada telapak tangan gue yang berkeringat. Gedung pertunjukkan sudah mulai terlihat megahnya, kemacetan kecilpun perlahan dapat gue dan driver taxi online hadapi. Namun disini, kaki gue rasanya berat sekali melangkah.

Segera setelah kaki keluar menuruni mobil, gue bertekat untuk hilang dari pandangan. Namun sekali lagi, gue dicambuk mati-matian oleh presensinya, senyumnya, dan segalanya di dalam memori kepala. Gue melangkah lagi, memberanikan diri. Rasa-rasanya kaki ini menapaki jalanan yang licin, terkadang berkerikil, merasakan hawa dingin yang menusuk, mendengar suara kerumunan, mendengar suara hati yang berbicara pada diri sendiri.

Gue yang sekarang bukan lagi seorang pengecut di umur sembilan belas. Gue bukan lagi si manusia payah yang hanya bisa berharap tanpa pernah memulai.

 

Gue disini, hadir bak perangkai bunga; yang memulai dengan rasa berdebar, yang senantiasa menjaga keindahan kelopaknya. Dan akan ada hari dimana pengunjung tiba; opsinya hanya ada dua, biarkan tetap tergenggam dan mekar di taman si perangkai, atau terlepas untuk menghias kebahagiaan tangan si penerima.


Artpreneur; Gallery, Museum, Theater

Mata gue memindai, ternyata ada tiga bagian tempat di dalam sini. Dan gue hampir linglung kalau saja tidak mengekor banyak orang yang ingin menuju bagian Theater. Ruang pertunjukan megah ada di depan gue sekarang, ramai sekali orang dan pernak-pernik bertuliskan 'Giselle' yang gue bisa simpulkan adalah judul dari pertunjukan tersebut. Pertunjukan ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Italia dan Pusat Budaya Italia yang lagi-lagi bisa gue simpulkan dari begitu banyak banner mengelilingi.

"Scan dulu ya sebelum masuk." Gue tersadar dari kekaguman singkat barusan, mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan. Namun gue tidak sebegitu bodoh untuk tidak mengerti walau harus dikatakan dua kali.

"Gak punya,"

"Maaf ya, tidak bisa masuk kalau tidak punya E- ticket.”

Gue bolak balik melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Mengatur nafas yang entah kenapa rasanya seperti sedang dicekik. Sendi kaki juga rasanya hampir mati. “Kalo bayar bisa?”

Petugas di depan gue sekarang hanya tertawa pelan mendengar kalimat tanya retoris yang gue ucap. “Maaf gak bisa, karena pendaftaran memang gratis.”

Gue kalah.

Namun, pikiran gue kali ini terdistraksi dengan Donghyuck yang sedang berjalan kesini; ke arah gue.

Perawakannya jauh berbeda saat pertama kali bertemu. Orang itu memakai kaos hitam yang dimasukkan kedalam jeansnya. Santai namun tetap enak dipandang. Dia di depan gue, sekarang sudah melewati, dan dia tanpa tedeng aling-aling menunjukkan e-ticket yang gue idam-idamkan ke petugas.

Gue kalah, lagi.


“Sana masuk, he’s been waiting for you.”

Gue tidak bisa mencerna, dan gue tuli seketika. “Are you okay?

He was yours from the very beginning.”

Menepuk pundak yang lebih muda pelan, menyalurkan rasa lega, dan berterima-kasih. Mungkin kalau boleh jujur, gue bisa saja bertekuk lutut di hadapan Donghyuck saat ini juga. Namun dia sudah lebih dulu mendorong gue untuk masuk ke dalam hall yang megah bernuansa merah kecoklatan, cantik, dan sebentar lagi akan ada seseorang yang lebih cantik muncul dari balik tirai pertunjukan.


Gue dulu sekali pernah menganggap Huang Renjun adalah sosok laki-laki lemah dan rapuh. Namun saat ini gue sadar betul bahwa yang lemah disini adalah diri sendiri; Lee Mark. Karena gue bahkan tidak bisa berkutik saat kedua manik jatuh pada satu orang di atas panggung sana, seluruh jiwa dan raga gue rapuh karena jatuh bangun pencarian selama ini selalu Huang Renjun tempat gue pulang.

Renjun adalah manusia penuh kasih sayang, Renjun adalah yang pertama dalam bingkai foto masa muda, Renjun adalah pemberi bahagia, Renjun adalah bunga dan semua kata-kata manis di seluruh dunia.

Dan disini, gue merasakan hati dibawanya pergi sekali lagi.

Gue selalu suka cara Renjun menari, tubuhnya yang kecil bergerak dengan halus, berputar dengan mulus.

I love the way he dances, as graceful as a bird. There is nothing more beautiful in this world than watching him dance. It’s perfect. He’s perfect.


Di dalam ruangan megah, jam terus berdenting, dan ada kami yang terbaur menjadi satu dalam pelukan hangat bahkan saat tak ada satupun kata-kata terbentuk dan terangkai.

"Tau gak tadi ceritanya tentang apa?"

"Giselle,"

"Itu judulnya, ceritanya kaaak."

"Hahaha sorry, I was too busy being distracted by the beating of my heart to even know what the story was all about."

Pun tak dapat melihatnya, namun gue tahu bagaimana ada senyum yang terbentuk diwajah pria dipelukan. Entah masa depan apa yang ingin kami capai dari semua ini namun untuk sekarang, untuk saat ini, gue hanya ingin memeluknya sambil memejamkan mata dan merasakan hati ini berdesir sekali lagi.

"Renjun, makasih karena udah selalu memberikan banyak kasih sayang,"

"whenever you need someone to trust, I'm here. Forever and always.”