Work Text:
Heeseung tanya ke saya, Kalau saya mati bunuh diri, apa kamu mau datang ke makam saya?
Dari sepuluh orang yang saya kenal, sembilan orang bilang seniman itu akan bunuh diri. Kreativitas mungkin membunuh manusia perlahan-lahan, Heeseung juga mungkin akan kena batunya. Kala ia bertanya seperti itu, saya tidak menjawab. Heeseung justru tertawa. Sepuluh teman saya tadi, yang bilang seniman panjang umur hanya satu orang. Orang itu Heeseung. Sungguh hipokrit seniman ulung tersebut.
Lima tahun lalu, saya belum lama mengenal Heeseung. Waktu itu, pikiran saya hanya dipenuhi asumsi: jika Heeseung mati karena pola hidupnya yang hancur lebur, tidak akan ada yang terkejut (kecuali Lee Heeseung sendiri). Sekarang, mungkin Heeseung sudah sadar jadi dia mau mati bunuh diri.
Bunuh diri? Saya tanya.
Iya.
Mau pakai cara apa?
Hening. Heeseung lalu tertawa terjungkal-jungkal. Benar juga, saya harus bunuh diri dengan skenario seperti apa supaya Jongseong mau menjenguk mayat yang kesepian?
Saya hanya bilang, mati karena begadang saja. Tidak perlu bunuh diri. Nanti akan saya bawakan mie instan dengan rasa berbeda setiap Minggu pagi—untuk sarapan. Mungkin kalau lelah, saya datang dua minggu sekali, atau lebih jarang. Tapi saya pasti datang. Meninggal seperti itu tidak buruk untuk kamu.
Lalu nanti kamu tidak akan datang lagi untuk duduk bersila di samping makam saya setelahnya, kan? Pertanyaan Heeseung mengambang di udara. Saya menolak menangkap pancingan itu.
Mungkin betul, ujar saya sambil menyeruput mie kuah instan, juga mengaku kalah. Belum tahu bagaimana akhirnya.
Di pandangan saya, Heeseung tertawa lagi. Bahagia juga, ya, kamu sekarang. Heeseung mengangguk. Mulutnya membentuk huruf A yang ditahan lama-lama dan menjadi panjang lalu bernada aaaAAAAaaA! Khas Heeseung dan suara magisnya yang langka.
Mie itu saya sendok beserta sedikit kuah. Karena tidak tahu tujuannya bagaimana, saya menumpahkannya di nisan Heeseung.
Heeseung bodoh, gerutu saya. Kamu mati bunuh diri pun, saya pasti datang ke makam kamu.
