Actions

Work Header

A Ticket to The Endless

Summary:

Kematian yang tidak pasti membuat Shoko harus menunggu tiketnya sampai entah kapan demi bisa berkumpul lagi dengan Satoru dan Suguru

Notes:

Disclaimer: semua chara milik Gege Akutami. Saya tidak mengklaim kepemilikan chara ataupun mengambil profit dari fanfic ini

Ada penjelasan tambahan di akhir narasi

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sore itu bandara lengang. Hanya terlihat beberapa orang saja—jumlahnya kira-kira tidak lebih dari sepuluh orang—yang berlalu-lalang di ruang tunggu. Shoko yang berada di sana tidak mendapati orang lain di kursi tunggu selain dirinya sendiri, Satoru, dan Suguru yang berada di samping kanan dan kirinya.

Mereka kini sedang saling diam. Sebelumnya terjadi percakapan ringan antara ketiganya, sampai ketika Suguru mengatakan sesuatu ke Shoko. Setelah itu, Shoko diam melamun, tenggelam dalam pikirannya yang sibuk memproses perkataan Suguru, sementara pandangannya terpaku ke arah jendela besar yang menampilkan langit jingga yang telah pudar awan-awannya karena terbenamnya matahari.

Beberapa saat kemudian, sebuah pesawat melintasi langit dan mengukir jejak asap putih di permukaannya. Suara jetnya memecah hening, bersamaan dengan Shoko yang kembali berbicara.

“Tadi kau bilang…reuni?” tanya Shoko.

“Iya, reuni,” jawab Suguru, "Kata Pak Yaga, setelah penerbangan ini, aku, Satoru, Pak Yaga, Nanami, dan Haibara akan mengadakan reuni. Kabarnya, Riko dan Kuroi juga ikutan. Kau ingat mereka berdua, kan? Dua cewek yang kita temui saat misi Wadah Bintang?

Shoko mengangguk. "Iya, ingat."

“Semoga si tua Toji itu tidak ikutan reuni juga.” Satoru menyela percakapan.

“Eh, apa yang kau bicarakan, Satoru?” tanya Suguru, "Dia kan tidak punya hubungan dengan kita. Tidak mungkin dia akan datang ke reuni.”

“Bisa jadi, Sug!” Satoru menaikkan intonasi suaranya, mengangkat jari telunjuk, bersikap dramatis. “Di dunia ini sudah tidak ada yang tidak mungkin. Bisa saja nanti dia datang ke reuni buat balas dendam ke aku. Masalahnya, aku tidak mau bertarung lagi.” Satoru lalu memasang wajah cemberut.

Suguru terkekeh. “Kenapa kau begitu yakin?”

“Karena aku berkeyakinan dia mendapatkan tiket sesuai ketetapan takdirnya.”

Suguru terdiam sejenak. Shoko menolehkan pandangan ke Satoru.

"Satoru, bagaimana kalau dugaanmu salah? Bagaimana kalau Toji aslinya meminta paksa tiketnya sebelum waktunya?" tanya Suguru. Mukanya berubah serius.

Satoru menjawab. "Kalau kau berpikir seperti itu, berarti sama saja dengan kau mengatakan kita berdua meminta paksa tiket kita. Coba cek tiketmu. Itu tiket pesawat dengan tujuan 'Yang Tidak Ada Akhirnya'. Orang yang mengambil paksa tiketnya tidak akan mendapat tiket seperti itu."

Suguru lalu merogoh sakunya, lalu mengambil sebuah tiket pesawat. Tiket itu berwarna putih dengan corak bunga bakung lelabah merah. Di permukaannya tertulis "Nama: Geto Suguru, tanggal kematian: 24 Desember 2017, asal: ‘Gerbang Awal’, tujuan: 'Yang Tidak Ada Akhirnya', selamat menikmati penerbangan!"

"Aku juga dapat tiket yang sama." Satoru menunjukkan tiketnya ke Suguru. "Tapi, Sug, nyatanya kematian itu tidak dan tidak akan pernah pasti. Bagaimanapun cara matinya, manusia tidak bisa menebak tiket apa yang akan mereka dapat. Kalau dapat tiket putih bercorak lelabah merah, syukur. Itu artinya akhir hidupnya sudah betul."

Suguru mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan di tiketnya. "Apa itu 'Yang Tidak Ada Akhirnya' dan 'Gerbang Awal'?"

"Itu sebutan orang sini. 'Gerbang Awal' adalah nama bandara ini. 'Yang Tidak Ada Akhirnya' itu sebutan sini untuk akhirat," jawab Satoru.

Suguru terkekeh. "Kenapa kau yang baru mati kemarin lebih tahu daripada aku? Kau...sudah sesiap itu untuk mati ya, Sat?"

Satoru hanya diam, tidak membalas pertanyaan Suguru, lalu mengalihkan perhatiannya ke orang-orang yang berlalu-lalang di ruang tunggu. Mereka kembali saling diam.

Kematian adalah perkara yang tidak pasti. Sampai kapanpun manusia tidak akan bisa menebak kapan, dimana, dan bagaimana matinya akan terjadi. Manusia hanya bisa menjalani hidup sembari menunggu kapan giliran masa hidupnya habis di dunia.

Tanda bahwa seorang manusia telah habis masa hidupnya adalah ketika mereka menerima tiket pesawat dengan tujuan ‘Yang Tidak Ada Akhirnya’, dengan ciri-ciri tiket berwarna putih dengan corak bunga bakung lelabah merah. Tiket ini diterima saat manusia menghembuskan napas terakhirnya.

Manusia punya banyak cara untuk mati. Entah itu mati karena sakit, mati karena terbunuh, mati karena usia tua, mati karena keracunan, dan lain sebagainya. Tapi, cara mati seseorang tidak bisa menentukan diterima tidaknya tiket lelabah merah ini olehnya, karena hal ini tergantung lagi dari apakah seseorang telah mati sesuai ketetapan takdirnya atau tidak.

Soal ketetapan takdir ini sama tidak pastinya dengan kematian. Manusia tidak tahu kapan akan menerima tiketnya dan bagaimana caranya agar bisa mati sesuai yang telah ditetapkan takdir agar bisa menerima tiket menuju ‘Yang Tidak Ada Akhirnya’ ini. Bahkan Satoru, Suguru, dan Toji yang mati terbunuh pun awalnya tidak tahu apakah kematian mereka sudah benar sampai mereka menerima tiket mereka. Hal ini menjadi masalah batin bagi sebagian orang, terutama para alim agama dan penyihir Jujutsu. Salah satunya adalah Ieiri Shoko saat ini.

Shoko merindukan keberadaan Satoru dan Suguru.

Rasa rindu yang selama ini Shoko selubungi dengan sikap datar dan tak acuhnya sejatinya sangat berat dia pendam. Sepuluh tahun mendambakan kebersamaan antara mereka sebagaimana halnya ketika mereka masih sekolah. Keinginan untuk kembali merasakan nikmatnya euforia masa muda, masa dimana mereka hanya memikirkan pembelajaran dalam kelas dan misi-misi kecil yang diberikan Pak Yaga. Shoko sadar diri kalau dirinya sedang berharap ke sesuatu yang mustahil untuk kembali. Namun, dia ingin menyembuhkan rasa rindunya yang menyakitkan, dan dia tidak menemukan cara selain berimajinasi.

Shoko iri kepada Satoru dan Suguru.

Beberapa saat lalu, Suguru memberitahunya kalau dia dan Satoru akan mengadakan reuni setelah penerbangan mereka dari “Gerbang Awal”. Mendengar itu, Shoko terdiam cukup lama. Kalau bukan karena suara jet pesawat yang tadi membuyarkan lamunannya, Shoko tidak akan ingat untuk membalas Suguru.

Shoko merasa sesak karena rasa iri yang mencekik. Shoko rindu Satoru dan Suguru. Sangat rindu, dan dia ingin sekali bergabung di acara reuni bersama mereka. Shoko telah lama tersiksa oleh kesepian, dan dia menginginkan keberadaan Satoru dan Suguru untuk menghilangkan kesepian itu. Namun, dia tidak bisa sebab kedua lelaki itu kini telah berbeda alam dengannya, yang karenanya mereka bertiga tidak bisa lagi saling "menyatu". Satu-satunya cara untuk kembali berkumpul bersama mereka adalah dengan mendapatkan tiket lelabah merah terlebih dahulu.

“Gojo. Geto,” panggil Shoko. Satoru dan Suguru mengalihkan perhatian mereka ke Shoko.

Shoko memberi jeda pada kalimatnya sejenak untuk menarik napas dalam, menyiapkan diri untuk jujur soal perasaannya pada Satoru dan Suguru. Dia mengedipkan matanya berkali-kali agar air matanya tidak jatuh. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dengan helai rambut cokelatnya yang panjang “Aku rindu kalian berdua. Aku ingin ikut reuni bersama kalian. Aku ingin…aku ingin berkumpul lagi bersama kalian. Tapi…tapi, aku belum dapat tiket seperti kalian.”

“Shoko….” Satoru memegang bahu Shoko sebagai bentuk simpati padanya.

“Gojo.” Shoko menoleh ke Satoru. “Tadi kau bilang kalau kematian itu tidak pasti, kan? Bagaimanapun cara matinya, manusia tidak akan pernah bisa menebak apakah dia akan dapat tiket lelabah merah atau tidak. Iya, kan?”

“Eh, iya,” jawab Satoru.

“Kalau begitu….” Shoko menjeda kalimatnya. Matanya yang berkaca-kaca memandang dalam dua mata biru Satoru, membuat remaja berambut putih itu kebingungan. Dia lalu memegang lehernya, sedikit mencekiknya. “...Bagaimana kalau aku ambil paksa tiketku? Mungkin aku bisa mendapatkan tiket lelabah merah dari tindakan ini.”

Suguru membelalakkan matanya, lantas mencengkeram tangan Shoko dan menjauhkannya dari lehernya. Tanpa dikatakan secara gamblang pun, Suguru tahu apa maksud dari perkataan perempuan dewasa itu. Suguru terkejut Shoko tiba-tiba punya keinginan dan keberanian untuk melakukan tindakan seperti itu.

“Shoko, jangan! Tolong jangan lakukan itu!” pinta Suguru.

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia. Kenapa kau begitu egois memintaku untuk bertahan di sana? Kenapa kau mau aku merasakan kesepian lebih lama lagi, Geto?!” Shoko menaikkan intonasi suaranya. Suaranya terdengar bergetar.

Teriakan Shoko atas namanya membuat Suguru seketika itu tersadar. Ternyata selama—jika dia tidak salah ingat—sepuluh tahun hidupnya, Suguru telah menyiksa Shoko dengan mengkhianatinya, meninggalkannya, dan menenggelamkannya ke dalam kesepian. Padahal dia sudah berjanji bahwa dia tidak akan menyakiti Shoko dan meyakinkan diri bahwa pembelotannya adalah demi kebaikan Shoko dan orang-orang terdekatnya yang lain di SMK Jujutsu. Tapi, ternyata dia salah.

“Shoko,” panggil Suguru pelan. Dia mengerutkan dahinya, cemas. “Maaf. Maafkan aku. Iya, aku sudah egois memintamu untuk bertahan di dunia. Tapi, Shoko, kumohon jangan pernah coba-coba untuk ambil paksa tiketmu. Aku takut kau tidak akan dapat tiket lelabah merah.”

“Kenapa begitu?”

“Karena kau akan melawan takdir, Shoko.”

Shoko terdiam di depan Suguru. Jarak wajah mereka berdua kini sudah setara panjang satu jari telunjuk. Shoko terpaku di hadapan remaja berambut hitam itu, sedikit merasa terintimidasi.

“Bahkan manusia yang matinya karena sakit sekalipun belum tentu dapat tiket lelabah merah, padahal kalau dipikir dengan logika kita, dia sudah mati sesuai ketetapan takdir. Kematian setidak pasti itu, Shoko. Aku pun tidak menyangka akan mendapatkan tiket lelabah merah dari riwayat hidup dan cara matiku. Satoru pun demikian. Jadi kumohon….” Suguru menggenggam satu tangan Shoko dengan kedua tangannya. “...Bertahan hiduplah sampai kau menerima tiketmu."

Ketidakpastian akan kematian membuat manusia hanya bisa menebak-nebak sembari menjalani hidup, sebab pada kenyataannya tiket lelabah merah tidak bisa diterima oleh semua orang. Manusia tidak tahu mati yang seperti apa yang sesuai ketetapan takdir. Apakah mati karena ikut di medan perang? Mati karena sakit? Ataukah mati karena bunuh diri? Masih dan akan terus menjadi misteri. Tapi, satu hal yang diyakini mayoritas orang adalah jika seseorang mengambil paksa tiketnya, yang mana berarti memutuskan sendiri kematiannya, maka kemungkinan besarnya ada dua: dia tidak akan mendapatkan tiket lelabah merah dan malah mendapatkan tiket pesawat dengan tujuan selain “Yang Tidak Ada Akhirnya”, atau dia tidak akan mendapatkan tiket sama sekali dan berakhir menjadi penunggu abadi di “Gerbang Awal”.

“Yang Tidak Ada Akhirnya” adalah sebenar-benarnya tujuan manusia setelah kematian, dan untuk bisa ke sana, manusia harus mendapat tiket lelabah merah terlebih dahulu. Jika dia tidak mendapat tiket tersebut, maka sudah pasti dia akan tersesat dan abadi dalam kesesatannya. Hal inilah yang diwaspadai Suguru. Dia tidak ingin orang sebaik Shoko tersesat dalam perjalanannya menuju “Yang Tidak Ada Akhirnya.” Satoru juga mewaspadai ini.

“Shoko,” panggil Satoru, “Tolong jangan akhiri hidupmu sendiri. Aku masih ingin terus bersamamu.”

Shoko mengernyitkan alis, kesal mendengar perkataan Satoru. Dia lalu memukul dadanya, sedikit mendorongnya menjauh darinya. Tangan Satoru yang semula ada di bahu Shoko terlepas. “Tidakkah kau sadar betapa tidak tahu dirinya kau berkata seperti itu di depanku?! Kau mati beberapa waktu lalu, meninggalkanku seorang diri di dunia,...dan sekarang kau melarangku untuk mengambil paksa tiketku…padahal kau sudah tahu aku tidak ingin kesepian lagi?”

Kalimat Shoko mulai terdengar rancu. Suaranya terdengar putus-putus. Dadanya sesak. Air mata membasahi wajahnya. Shoko tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dia sudah tidak sanggup untuk berbicara. Seluruh perasaannya yang dia pendam sudah dia keluarkan, menyisakan hatinya yang hancur terkoyak.

Satoru tergerak untuk mendekati Shoko dan membawanya ke dalam pelukan. Ini pertama kalinya Satoru melihat Shoko sesedih itu, dan hal itu membuat Satoru merasa bersalah. Detik ini dia hanya ingin memeluk Shoko untuk menenangkannya. Dia tidak akan balik marah karena Shoko menyebutnya tidak tahu diri. Malah, dia membiarkan Shoko jika dia ingin menjadikan dirinya sebagai tempat pelampiasan atas kekesalannya.

Satoru pikir Shoko akan baik-baik saja setelah kematiannya. Satu bulan sebelum pertarungannya di Shinjuku, dia berkata ke Shoko kalau mungkin dia tidak akan kembali lagi, dan meninggalkan beberapa pesan jika memang hal buruk akan terjadi padanya, lalu Shoko berkata bahwa dia sudah sangat siap dengan kemungkinan terburuk. Satoru saat itu lega mendengar balasan Shoko. Namun, setelahnya Shoko bilang kalau Satoru akan baik-baik saja karena dia yakin dia akan menang, dan hal inilah yang disesali Satoru sekarang. Dibalik kekuatan hatinya untuk ditinggal pergi, Shoko masih punya harapan besar Satoru akan kembali setelah pertarungan Shinjuku. Satoru menyesal karena baru menyadari ini sekarang. Dia menyesal karena baru memahami kesepian Shoko. Dia menyesal karena baru kepikiran akan sehancur apa Shoko kalau dia meninggalkannya sendiri.

“Maaf…maaf….” Satoru menangis di balik kacamata hitamnya. Dia mendekatkan wajahnya ke pucuk kepala Shoko untuk menciumnya di sana. Tangan kirinya mengusap-usap punggung perempuan itu. Dia tidak tahu harus berkata apa selain “maaf” karena terlalu banyak hal yang ingin dia mintai maaf dari Shoko saat ini. Sementara itu, Suguru di samping mereka terbawa suasana kemudian mendekat untuk memeluk Satoru dan Shoko.

Shoko membuka mata setelah beberapa menit menangis, dan mendapati Satoru dan Suguru sedang memeluknya, namun dia merasa aneh karena dia sama sekali tidak merasakan dirinya bersentuhan dengan mereka berdua, lalu tak lama dia teringat kalau sejatinya dia saat ini hanya sedang bermimpi bertemu Satoru dan Suguru. Dia terpisah dari kedua lelaki itu yang telah bersatu dengan alam orang mati. Shoko yang sekarang masih hidup dan tetap dalam wujud dewasanya tidak bisa bertemu dengan Satoru dan Suguru yang sudah mati dan kembali ke wujud remajanya. Tangis Shoko pecah untuk yang kedua kalinya karena menyadari hal ini.

“Shoko,” panggil Satoru, “Ruang antara realita dan mimpi adalah kutukan. Kau adalah realita, dan kita berdua adalah mimpi. Apa yang memisahkan kita saat ini adalah ruang yang disebut sebagai kutukan. Berapa kali pun kau mendatangi kita di mimpi, atau berapa kali pun kita menghampirimu di dunia, kita tidak akan pernah benar-benar bisa bertemu. Satu-satunya cara agar kita bertiga bisa bertemu adalah dengan mematahkan kutukan ini, yaitu dengan kau menerima tiketmu.” Satoru mencium Shoko lagi. “Oleh karena itu, Shoko, tunggulah tiketmu agar kita bisa bersama lagi.”

Shoko lalu mendongak kemudian mendapati Satoru yang tersenyum ke arahnya. Suguru di sampingnya juga tersenyum ke arahnya sembari mengusap air mata di pipinya. Hening sejenak di antara mereka bertiga.

Beberapa saat kemudian, terdengar pengumuman dari pengeras suara di bandara. “Perhatian, panggilan kepada penumpang pesawat udara [sensor] dengan tujuan penerbangan ‘Yang Tidak Ada Akhirnya’ dipersilahkan naik ke pesawat udara. Terima kasih.”

Suguru terkekeh. “Tidakkah nama ‘Yang Tidak Ada Akhirnya’ itu terdengar aneh, Satoru?”

“Sebenarnya aku juga merasa begitu,” balas Satoru. “Tapi kau tahu tidak kenapa akhirat di sini disebut seperti itu?”

Suguru berpikir sejenak. “Karena akhirat itu keabadian?”

“Benar,” balas Satoru lagi, “Karena di tempat tujuan kita ini segala halnya abadi. Umur, kesenangan, kebersamaan, dan lain sebagainya. Semuanya tidak memiliki akhir.”

Shoko menampilkan cerah pada wajahnya setelah mendengar perkataan Satoru. Dia mendapatkan secercah harapan setelah keputusasaannya yang berkepanjangan. Senyumnya merekah pada wajah sembabnya. Dia menarik napas dalam. Tangisannya berhenti.

“Gojo. Geto,” panggil Shoko, “Maaf karena aku tidak berpikir panjang dalam mengambil keputusan tadi. Aku hanya memikirkan diriku sendiri yang ingin menghapus kesepian dan rasa rindu, tanpa memikirkan kalau kalian peduli padaku. Aku akan pegang kata-kata kalian. Aku akan berjanji pada kalian untuk bertahan di dunia dan menunggu sampai aku menerima tiketku sesuai ketetapan takdir.”

Satoru dan Suguru kembali tersenyum ke Shoko.

“Aku akan menerima tiket lelabah merah. Setelah itu, kita akan bersama lagi. Selamanya. Tidak masalah jika kita berpisah sekarang. Tidak masalah jika aku harus menunggu bertahun-tahun. Aku akan memegang janjiku demi kebersamaan kita yang tiada akhir. Tapi sebelum itu semua, aku ingin bertanya satu hal.”

“Apa itu?” tanya Satoru dan Suguru bersamaan.

“Maukah kalian menungguku di sana? Sekalipun itu memakan waktu lama?”

Tanpa pikir panjang, Satoru dan Suguru langsung mengiyakan Shoko. “Tentu saja. Kita berdua merindukanmu, Shoko. Kita ingin merayakan reuni bersamamu. Kita menyayangimu,” kata Suguru.

"Sho, Jangan lupain kita di dunia, ya? Cukuplah fisik kita yang menghilang dari dunia. Kita tidak mau menghilang dari ingatanmu juga," pinta Satoru.

Air mata kembali menetes dari mata Shoko, namun kali ini dengan senyum bahagia terukir di wajahnya. Perempuan itu mengangguk. “Aku tidak akan lupa,” balasnya sambil menyeka air matanya.

Satoru dan Suguru lalu berjalan meninggalkan Shoko di belakang. Mereka bertiga saling melambaikan tangan, dan yang paling heboh adalah Satoru yang sampai mengangkat tinggi-tinggi tangannya dengan senyum lebar di wajahnya, seperti seorang anak kecil yang pamit ke temannya setelah selesai bermain di lapangan bola. Tak lama kedua lelaki itu hilang di tengah lalu-lalang orang-orang. Shoko yang berdiri sendiri di samping kursi tunggu sudah tidak lagi mendapati mereka sejauh mata memandang.


Sinar matahari sore menerpa wajah Shoko di saat Shoko perlahan membuka matanya. Perempuan itu lalu meluruskan badannya dan memperbaiki rambutnya yang acak-acakan akibat angin sepoi. Sepuntung rokok yang entah sudah berapa lama tersisip di mulutnya dia ambil karena membuat mulutnya terasa masam.

Shoko tertidur di balkon lantai atas gedung sekolah. Badannya tersandar pada pagar kayu selama pemiliknya terlelap karena angin sepoi nan sejuk memicu kantuknya. Shoko lalu melirik jam tangannya. Rupanya dia sudah tertidur selama 30 menit.

“Rasanya seperti tertidur seharian,” kata Shoko.

Dia lalu mengambil sepuntung rokok baru, membakarnya, kemudian menghisapnya. Kepalanya dia dongakkan ke arah langit jingga sembari melepaskan asap dari mulutnya. Matanya tak lama menangkap suatu objek yang muncul entah darimana. Itu adalah sebuah pesawat putih yang terbang melintas dan mengukir jejak asap putih di permukaan langit. Melihat itu, Shoko berhenti menghisap rokoknya. Sisa-sisa asap dari hembusan terakhir lalu dengan cepat hilang ditiup angin.

“Rasanya mimpiku tadi nyata sekali.”

Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Hari sebentar lagi akan gelap gulita. Shoko memeluk diri sendiri karena udara di luar mulai terasa dingin. Angin berhembus kencang. Masa bodohlah dengan rambut panjangnya yang berantakan lagi. Cahaya matahari yang menghangatkan badan Shoko semakin lama semakin redup.

“Harus mati dengan cara apa agar aku bisa mendapat tiket lelabah merah? Butuh berapa lama lagi aku harus menunggu?”

Tak lama kemudian, matahari tenggelam sempurna, menyisakan ruang biru tua di antara dua gunung. Ruang itu kosong, tak terlihat awan maupun bintang. Seperti hatinya Shoko yang kini terasa kosong setelah terbangun dari mimpi.

Notes:

Fanfic ini terlahir dari pengembangan konsep akhirat dari chapter 236 yang digambarkan sebagai bandara. Makanya ada pesawat dan tiket dalam cerita.

Sederhananya kalo di kehidupan nyata, kita manusia tidak tahu kapan kita mati, kan? Kita juga tidak tahu apakah akan masuk surga atau tidak. Jadi, kita hanya bisa menjalani hidup sambil berbuat baik dengan harapan bisa masuk surga dengan perbuatan baik ini, yang mana surga ini juga belum pasti kita dapatkan, dan tidak semua manusia akan mendapatkan surga.

Kurleb sama konsepnya dengan konsep tiket, pesawat, dan akhirat dalam fanfic ini