Work Text:
Akhir-akhir ini, Jaehyun itu ikut disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang pernikahan. Namun itu bukanlah pernikahannya sendiri, melainkan pernikahan sahabatnya, Doyoung.
Kenapa bisa begitu?
Jaehyun itu selalu ada di setiap Doyoung mendapatkan momen mengesankan dalam hidupnya. Seperti momen pertama kali Doyoung bisa mengayuh sepedanya, momen saat Doyoung mendapatkan pernyataan cinta dari salah satu orang yang disukainya, dan juga momen di saat Doyoung mendapatkan kabar diterimanya dia di salah satu perusahaan besar idaman banyak orang. Jaehyun hampir tak melewatkan masa-masa bahagia itu.
Maka dari itu, Jaehyun tentu bersedia untuk mencurahkan segala waktu luangnya untuk membantu Doyoung mempersiapkan pernikahan. Karena tentu kali ini dia tidak akan mau melewatkan momen penting itu.
Seperti saat dia mengantarkan Doyoung untuk melakukan test food menu katering.
Seperti saat dia ikut melihat gedung pernikahan yang akan disewa oleh Doyoung.
Dan lagi, seperti saat dia mengantarkan Doyoung untuk melakukan revisi desain tuxedo yang akan dikenakannya di altar.
Pertanyaannya adalah, kenapa Doyoung tidak pergi dengan calon suaminya sendiri? Jawabannya adalah karena orang itu sangat sibuk, hingga untuk meluangkan waktu mempersiapkan pernikahan saja dia serahkan semua pada Doyoung. Dan Doyoung-pun tidak ada masalah dengan hal itu.
Bisa dibilang Doyoung di sini tidak mau mengambil pusing karena dia tahu dan paham dengan kesibukan kerja sang calon suami.
"Jaehyun, udah lah. Kenapa sih lo suka banget ngerepotin diri? Udah gue bilang biar kak Gongmyung aja yang nyupirin gue hari ini."
Ujar Doyoung, mengintip dari luar pintu mobil yang dibukanya sedikit. Sementara Jaehyun sudah terduduk dengan santainya di belakang roda kemudi.
"Siapa yang repot? Orang gue juga pengen potong rambut." Kata Jaehyun, dengan tangan yang siap menyalakan mesin mobil yang akan dikendarainya.
"Tumben??? biasanya juga lo potong rambut di tempat langganan lo?" Doyoung menyatukan kedua alisnya sambil memicing, sementara Jaehyun hanya mengangkat kedua pundaknya dengan tak acuh.
"Hadeh, suka-suka lo aja lah." Doyoung akhirnya masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang, tepat di samping Jaehyun berada.
Yah lumayanlah, lagi-lagi mendapat tumpangan gratis. Doyoung itu memang tidak bisa mengemudi mobil, jadi biasanya saat pergi bekerja dia mengandalkan dengan naik taksi online ataupun menumpang dengan kakaknya.
Pagi ini, Doyoung memang memberi tahu Jaehyun bahwa dia akan pergi untuk melakukan treatment rambutnya. Tetapi Doyoung tidak menyangka jika sebelas menit kemudian dia akan mendapati Jaehyun berdiri dengan gaya kasual di depan pintu rumahnya sendiri. Beberapa hari lalu dia memang sempat mengeluh tentang rambutnya yang sangat kering dan mudah rontok. Sehingga atas saran yang diberikan oleh Jungwoo, Doyoung pun memutuskan untuk pergi ke barbershop langganan lelaki penuh energi itu.
Ditambah dengan waktu yang sebentar lagi akan menjelang pernikahannya dilaksanakan. Dia juga ingin terlihat memukau dengan rambut yang membuatnya berkali-kali lebih menawan. Hari pernikahan adalah hari dimana kau harus tampil dengan begitu sempurna bukan?
"Hand cream lo nih, kemaren ketinggalan." Tangan Jaehyun melemparkan sebuah benda yang secara refleks ditangkap oleh Doyoung, dia terkesiap. Sedang menikmati pemandangan luar, malah dikagetkan begitu saja.
"Dih, bisa nggak sih nyantai aja ngasihnya? Untung refleks gue bagus. Tapi thanks deh, gue nyariin ini semaleman. "Nyatanya Jaehyun membalas dengan meniru ucapan Doyoung dengan gerakan bibirnya, Doyoung yang mungkin sedang lelah itu akhirnya hanya mendengus.
"Kok reaksinya gitu doang?" Jaehyun tidak puas dengan reaksi Doyoung yang menurutnya biasa saja, mobil mulai melaju, dan Doyoung memilih memperhatikan layar ponselnya yang sepi dengan notifikasi.
"Males gue nanggepin lo, mending gue tidur." Dimasukannya ponsel ke dalam tas kembali, dan dia bersiap untuk memejamkan mata. Kepala Doyoung sendiri sudah dia sandarkan pada kursi penumpang yang didudukinya.
"Enak aja tidur, gak ada tidur-tiduran ya!"
Jaehyun memprotes, lantas mengguncang tubuh Doyoung dengan satu tangannya. Boleh saja dia hanya memakai satu tangan, tapi itu cukup untuk membuat Doyoung terayun-ayun dengan kuatnya.
"Ish, please lah, gue abis begadang nih semalem." Tangannya menghempaskan tangan milik Jaehyun dengan kekuatan penuh. Tapi nyatanya tidak begitu berpengaruh, Jaehyun menarik sendiri tangannya sambil berdecih pelan.
"Siapa suruh begadang? pasti lo nonton drama lagi, iya kan?" Masalahnya Jaehyun tidak begitu suka saat Doyoung tidak menjaga pola tidurnya dengan benar. Tidak jarang Doyoung kehilangan fokusnya hanya karena kurang jam tidur, dan juga sifat lupanya itu, membuat benda miliknya sering kali tertinggal di suatu tempat. Seperti hand cream tadi.
"Enggak ya, gue tuh abis ngerjain laporan mingguan tahu-,"
"Kerjaan lo dibawa ke rumah?" Jaehyun tidak habis pikir, dia menoleh cepat bertepatan dengan mobil yang berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah.
"Ya gimana? Kan biar nanti gue bisa cuti dengan tenang." Alasan yang masuk akal, tapi tidak sepenuhnya bisa Jaehyun terima jika hal itu malah membuat lingkaran hitam mulai terlihat di area mata Doyoung. Jaehyun baru melihatnya dengan jelas saat ini.
"Ya gak gitu juga,"
"Udah ah, tuh lampunya udah ijo. Jalan gih!" Doyoung memperingati, dan karena sudah banyak yang membunyikan klakson, Jaehyun-pun menahan kalimatnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai pada tempat yang dituju. Salon khusus laki-laki yang cukup bagus jika dilihat dari luar. Dan dua jam kemudian, Doyoung langsung jatuh cinta dengan pelayanan yang diberikan. Di samping perawatan rambut, kepalanya juga dipijat secara halus sehingga dia merasa cukup rileks karena terbukti dengan dia yang sempat tertidur selama beberapa menit di atas kursi.
Kalau bukan karena suara Jaehyun, bisa-bisa dia tertidur lebih lama dari itu.
"Hah, apa Jaehyun? Lo bilang apa?" Doyoung mengerjap, mengembalikan jiwanya yang sempat terjun ke dunia mimpi.
"Habis ini nyari makan sekalian yuk? Laper nih gue." Jaehyun sudah selesai dengan proses menciptakan model rambut baru di kepalanya.
Untuk beberapa saat, Doyoung merasa terkesima dengan rambut two block milik Jaehyun. Tekstur dan layer di bagian atas rambut
serta aksen poni depan yang terjuntai natural nyatanya mampu membuat aura ketampanan sahabatnya itu menguar dan jelas itu tertangkap oleh matanya.
Sekian detik Doyoung tercenung, dia akhirnya tersadar dan merasa bodoh karena bisa mempunyai pikiran seperti itu. Bukankah calon suaminya itu adalah yang tertampan?
"Doyoung, mau gak?" Karena Doyoung tak kunjung menjawab, Jaehyun mengulangi ajakannya.
"Ah, i-iya. Mau deh. Mau makan apa?" Doyoung akhirnya mendapatkan fokusnya kembali.
Benar-benar, Doyoung memang butuh waktu tidur lebih banyak.
"Yakiniku?" Tanya Jaehyun.
"Oke. Kebetulan gue juga lama banget gak makan itu."
Jaehyun dan Doyoung akhirnya sampai pada resto masakan Jepang yang sering Doyoung kunjungi. Karena olahan daging panggang adalah memang salah satu makanan favorit Doyoung. Jaehyun tak dapat menyembunyikan tawanya ketika melihat mata Doyoung yang berbinar saat melihat daftar menu.
"Mau apa lagi?" yang ditanyai menunjukkan gambar salad dan juga Beef Teriyaki.
Jaehyun mengiyakan, tak lupa dia juga menuliskan menu minuman yang biasa diminum oleh Doyoung. Dia sudah hafal sekali. Hafal di luar kepala.
"Gue rasa, ini jadi waktu makan bareng kita yang terakhir deh." Mendadak Doyoung memecah keheningan yang sempat terjadi, berbagai makanan yang ada di depan mereka juga sudah habis disantap.
"Kenapa gitu?" Jaehyun menghentikan tangannya yang tadi merapikan letak alat makan. Menumpuknya menjadi satu agar memudahkan pelayan resto nanti.
"Gue mau jaga perasaan suami gue lah. Masa iya udah nikah tapi jalan sama orang lain?" Kata Doyoung dengan nada ringan. Dia tidak tahu bahwa apa yang dia katakan itu tidak disetujui oleh Jaehyun.
"Jadi, gue ini orang lain?" Jaehyun menaikkan alisnya, apa iya dua puluh tahun persahabatan mereka ini tidak ada artinya di mata Doyoung?
"Maksudnya, selain keluarga gue. Bisa aja nanti dia cemburu?"
"Alesan konyol, kalo dia percaya sama lo, tentunya dia gak bakalan ngerasa cemburu. Gue sama lo ini kenal bukan setahun dua tahun, masa cuma makan bareng aja gak bisa? Kali aja suatu saat pas dia sibuk lagi dan lo butuh temen makan, gue kan bisa nemenin-," kata Jaehyun setelah berhasil menyelesaikan kegiatan merapikan peralatan di depannya.
"Ya kan setidaknya-,"
"Udah ah, mending kita pulang aja. Udah kenyang juga kan?" Doyoung belum sempat menjawab, namun Jaehyun sudah beranjak untuk membayarkan makanan mereka.
Doyoung sendiri belum siap, karena barangnya belum dia masukkan semua ke dalam tasnya. Baru saja dia berhasil menyusul Jaehyun, lelaki itu sudah selesai dengan acara membayarnya. Menolak dengan cepat ketika Doyoung menanyakan jumlah uang yang harus dia bayarkan.
Doyoung baru menyadari bahwa ternyata Jaehyun sedang marah.
"Lo marah sama gue?" Tanyanya sesaat setelah keduanya berhasil memasuki mobil Jaehyun.
"Enggak." Jawab Jaehyun dengan tak acuh.
"Gue bayar kok gak boleh? Gak ada perjanjian traktir ya tadi!" Doyoung terus menanyai, sementara mobil sudah menjauhi pelataran resto.
"Udah gak usah."
Satu kalimat penutup, dan Doyoung terdiam menuruti.
Doyoung kira, hal tadi bukanlah sebuah masalah. Tapi ternyata, hingga pada satu hari sebelum hari pernikahannya dilaksanakan, Jaehyun tidak menghubunginya sama sekali. Bahkan mengirim pesan-pun tidak. Sepertinya Jaehyun benar-benar marah. Atau memang sedang sibuk?
Dengan tidak adanya kabar apapun dari sahabatnya itu, Doyoung tiba-tiba merasa seakan ada yang hilang.
Kemana perginya Jaehyun yang pagi-pagi sudah cerewet dengan pertanyaan ini dan itu, yang bahkan mengalahkan kecerewetan calon suaminya sendiri.
Hingga akhirnya lamunannya buyar karena ponselnya yang berbunyi dengan begitu kerasnya.
"Doyoung... Maafkan aku."
Satu kalimat yang menjadi pembuka, Doyoung mengerutkan keningnya.
Itu adalah suara calon suaminya yang besok akan berubah status secara hukum dan agama.
Itu adalah suara yang begitu dia hafal selama kurang lebih setengah tahun menjalani masa pacaran.
Itu suara yang akhir-akhir ini menyapa telinganya ketika dia akan tidur di malam hari.
Tapi dengan nada yang terdengar dalam kalimat itu, membuat Doyoung seketika merasakan perasaan tidak enak yang merasuk dalam hatinya.
"Kenapa, kak? Kok suaranya gitu?"
Hening melanda, jawaban yang Doyoung tunggu tak kunjung dia dapatkan. Hampir lima menit lamanya calon suaminya itu terdiam, dan kemudian satu isakan menyapa telinga Doyoung.
"Maaf, Doyoung, maaf." Lelaki itu menangis.
Dan Doyoung tidak mengerti.
Doyoung sungguh tidak paham dengan situasi yang dia alami ini.
Kalimat berikutnya yang dia dengar nyatanya mampu membuat dunianya seakan runtuh tak tersisa.
Maaf,
hamil,
dan,
pembatalan pernikahan.
Tiga hal yang terngiang-ngiang berulangkali di kepalanya.
Kenapa?
Satu pertanyaan hadir.
Kenapa? dan kenapa?
Doyoung tidak tahu harus menunjukan pertanyaan itu kepada siapa. Doyoung juga tidak tahu harus memprotes hal ini kepada siapa.
Kenapa hal itu harus terjadi kepadanya?
Seharusnya besok adalah hari bahagianya. Tetapi yang dia dapatkan adalah sebuah kabar bahwa ada orang lain yang sedang butuh pertanggungjawaban dari calon suaminya.
Seharusnya Doyoung paham dengan keanehan yang sempat dia rasakan beberapa minggu belakangan ini. Setiap kali meminta waktu, calon suaminya akan beralasan bahwa sedang ada kesibukan dengan dinas terbangnya. Doyoung harusnya tahu, seorang pilot rute internasional memang tidak bisa pulang ke rumahnya setiap hari. Tapi ini hampir satu bulan lamanya mereka tidak pernah bertemu, apa memang tidak pernah ada hari libur?
Harusnya ada, tetapi Doyoung malah mengabaikan itu. Dia memilih untuk percaya dan tidak memprotes apapun lagi. Katakanlah dia bersikap naif, dia memilih untuk tidak banyak bertingkah dan memutuskan untuk berpikir secara sederhana.
Pacar sekaligus calon suaminya sibuk, dan dia harus mengerti.
Tetapi pengertiannya kini telah disalahgunakan. Dia merasa tidak dihargai. Bagaimana bisa calon suaminya itu menghamili orang lain, dan itu baru dia ketahui sehari sebelum pernikahannya dilaksanakan.
Bagaimana bisa? Kini pertanyaan lain hadir dan dia hanya bisa terdiam diri di dalam kamarnya tanpa melakukan apapun. Ketokan pintu dari ibunya-pun tidak dia indahkan. Sudah pasti ibunya kini telah mengetahui bahwa pernikahannya dibatalkan. Sudah pasti begitu bukan?
Doyoung lelah, menangis dalam diam nyatanya mampu menguras seluruh energi sampai pada titik terlemahnya. Hingga ketukan dia dengar lagi, dia tetap memilih untuk tidak membukanya.
Kali ini adalah suara Jaehyun.
Sang sahabat yang beberapa hari ini tidak ditemui dan didengar suaranya. Bukankah dia sedang marah?
"Doyoung, buka pintunya." Ketukan itu semakin keras, tetapi dia tetap tidak bergeming.
Biarkan saja.
Biarkan saja dia sendiri.
Doyoung tidak siap jika harus berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mau mendapatkan raut wajah kasihan ditunjukkan padanya, mau ditaruh mana wajahnya ini?
Doyoung sangat malu.
Malu pada diri sendiri yang sesumbar karena sempat menertawakan Jaehyun yang memilih untuk tidak menikah dalam waktu dekat. Sebuah lelucon konyol yang dia lakukan dengan Jaehyun tentang siapa yang akan menikah lebih dahulu, maka yang kalah harus mau menuruti segala permintaan yang menang.
Baginya yang ada kini adalah Doyoung yang telah kalah.
Ponselnya yang berkedip dia biarkan. Terpampang nama Jaehyun beserta profil picture yang memenuhi layar.
Sebuah panggilan video.
Apa-apaan Jaehyun itu? Bagaimana mungkin Doyoung mau menampakkan wajah kacaunya saat ini?
Hingga pada panggilan yang mungkin ke-tujuh kalinya, entah karena Doyoung sendiri sebenarnya tidak menghitung. Doyoung-pun memilih menggulir tombol hijau. Karena kali ini hanyalah sebuah panggilan suara.
"Doyoung, buka kuncinya ya?" Suara Jaehyun terdengar khawatir.
"Nggak."
"Please, jangan bikin gue khawatir begini!" Suara Jaehyun kali ini dibarengi dengan ketukan pintu.
"Lucu banget ya hidup gue?" Sebuah isakan lirih dapat Jaehyun dengar.
"Hey, maksudnya apa?"
"Undangan udah disebar, semua udah siap, bahkan semua sepupu gue udah dateng dari kemarin malem. Mereka udah bela-belain dateng dari luar negeri, Jaehyun."
"Doyoung-,"
"Mau ditaruh dimana muka gue?"
Helaan nafas terdengar, dan Jaehyun kembali mengetuk pintu.
"Buka dulu pintunya, gue mau ngomong."
"Ini kita kan udah ngomong?" Doyoung terkekeh dalam tangisannya.
"Bukan lewat telfon begini, Doyoung." Jaehyun tidak suka dengan cara Doyoung menertawakan dirinya sendiri.
"Males banget gue, gue mau tidur aja. Lagian besok gue males ketemu sama wajah orang-orang yang ngetawain gue."
Doyoung menelungkupkan diri dengan selimut di sampingnya yang terbuka berantakan.
"Gak ada yang bakal ngetawain lo. Gue jamin itu."
"Ck, gak mungkin. Semuanya batal, Jaehyun! Batal! Semuanya sia-sia. Lo pikir gue bisa ngehadepin itu semua besok?" Doyoung kali ini sedikit berteriak, melampiaskan kekecewaannya yang sedari tadi dia tahan.
"Gue bakal temenin... lo diketawain? Gue pukul orangnya? lo dicemooh? Gue hajar kalo perlu. Lo tau sendiri kan, gue gak bakal bisa ngebiarin lo hadepin semuanya sendiri. Gue yang bakal temenin!" Jaehyun berkata dengan tak kalah kerasnya, keningnya dia sandarkan pada pintu kamar Doyoung yang masih tertutup rapat.
"Harusnya besok gue nikah, Jaehyun. Harusnya gue itu nikah!" Doyoung berkata lirih, tangisnya kembali hadir diiringi dengan senggukan.
"Tapi calon suami brengsek lo itu udah milih orang lain!" Jaehyun kali ini tidak bisa menahan umpatannya.
"Seharusnya gue besok nikah, Jaehyun. Seharusnya..." Seperti sebuah kaset rusak, kalimat itu terus menerus Doyoung ucapkan.
"Lo ini, beneran mau nikah sampai segitunya?"
"Seharusnya gue nikah, Jaehyun." Doyoung berucap lagi, tenaganya sudah hampir habis hanya karena menangis.
"Yaudah, besok ayo kita nikah!"
"Seharusnya... eh-apa? Lo barusan bilang apa?" Doyoung merasa salah mendengar akan sesuatu. Mendadak energinya datang lagi karena kalah dengan rasa penasaran.
"Kalo mau denger, buka dulu pintunya."
Dan benar saja, karena rasa penasarannya, Doyoung akhirnya membuat kunci pintu itu terbuka. Tidak butuh waktu lama, Jaehyun pun masuk dan langsung memeluk Doyoung yang penampilannya sudah kacau tidak karuan. Kali ini, bukan hanya momen mengesankan yang Jaehyun saksikan, tetapi juga momen menyedihkan.
"Lo barusan, bilang apa?" Doyoung berkata di sela-sela isakan tangisnya.
"Gue temenin lo ke altar, gue temenin lo pake tuxedo couple yang gue ambilin seminggu lalu. Gue temenin lo buat ngejalanin sisa hidup lo. Lo mau nikah kan? Ya udah ayo!" Jawab Jaehyun dengan begitu yakin, menatap tepat pada kedua manik mata yang juga sedang menatapnya dengan tidak percaya.
"Jangan bercanda-," kata Doyoung sambil terkekeh. Lagi. Dan Jaehyun sungguh tidak suka dengan pemandangan ini.
"Gue nggak bercanda." Tak ada gurauan yang Doyoung rasakan, sama sekali tidak ada.
Itu artinya Jaehyun memang serius dengan pernyataannya.
Masalahnya adalah, bagaimana mungkin Jaehyun bisa semudah itu berkata demikian?
Pernikahan itu bukan main-main, Apa bisa menjalani pernikahan tanpa adanya perasaan?
"Menikah itu buat orang yang saling mencintai-"
"Gue udah cinta sama lo, gue hanya perlu bikin lo jatuh cinta balik sama gue." Kata Jaehyun dengan begitu lugasnya.
Satu alasan yang akhirnya mampu membuat Doyoung kehilangan kata-kata. Juga kata-kata itu yang mampu membuatnya linglung tidak terkira. Hingga sampai saat Jaehyun memberitahukan kepada ibunya, Doyoung hanya termenung dan mengangguk dengan begitu bodohnya.
Sampai saat pernikahannya benar-benar dilangsungkan, Doyoung tetap berada dalam fokus yang tidak ada pada tempatnya. Boleh saja tubuhnya berada di acara besar itu, tetapi pikirannya melalang buana.
Bagaimana mungkin Jaehyun bisa mengatakan jatuh cinta dengan begitu mudahnya?
Begitu linglung-nya dia sampai-sampai Doyoung tidak menyadari bahwa kini nama Jung telah dia sandang di belakang namanya. Dia baru menyadari itu saat membaca nama Jung Jaehyun yang tertera dalam dokumen pernikahan yang ditandatanganinya.
Semuanya berlangsung dengan cepat. Tidak sampai satu hari, Jaehyun berhasil mengganti nama mantan calon suami Doyoung dengan namanya.
"Jaehyun..." Ucap Doyoung untuk pertama kalinya, dia tatap lengannya yang terselip di sela-sela lengan Jaehyun.
"Kenapa? Butuh sesuatu?" Tanya Jaehyun, dengan berbisik.
"Gue belum bisa bales perasaan lo. Gue masih kaget." Kata Doyoung pada akhirnya.
"Gapapa, gue akan sabar nungguin itu."
Keduanya lalu tersenyum, menatap ke arah tamu yang mulai berjalan menghampiri mereka. Mengucap selamat atas pernikahan yang baru saja terlaksana dengan baik. Cuaca cerah menjadi pendukung resepsi bertemakan garden party yang Doyoung pilih.
Mengabaikan sang mantan yang sudah hilang entah kemana. Mau pergi ke laut-pun Doyoung sudah tidak perduli lagi. Dia hanya perlu menatap masa depan baru yang kini ada di hadapannya, di sampingnya, dan sisi hidupnya untuk selamanya.
Siapa sangka, jika keterlibatan Jaehyun di setiap proses persiapan pernikahan nyatanya adalah untuk dijalaninya sendiri. Bukan sebagai saksi, tapi sebagai pengantin atau tidak lain adalah pasangan Doyoung sendiri.
***
BONUS!
Satu tahun kemudian:
Percakapan sepasang suami yang sedang berbelanja bulanan (nemu di pinterest 😭🤧)
END.
Thank you for reading guys 🫰
