Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-11-08
Words:
4,600
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Bookmarks:
1
Hits:
223

Cruel Summer

Summary:

Ethan sudah mengenal cinta sedari pemuda itu genap lima; pertamanya ia diberi tahu cinta bisa serupa kurva cembung pada bibir tipis teman sepermainan. Berikutnya; cinta beritahu Ethan ia bisa jadi merupa bentuk pengorbanan diri. Terakhirnya; cinta ajarkan si Libra bahwa ia wujudnya sebanding arti memberi tanpa pamrih. Semua bentuknya Ethan hafal tanpa kesulitan berarti, sampai patah hati jejali ia lara yang begitu nyeri berkali-kali.

Notes:

Hi. I have a gift for my beloved friend, Ejan. This is all about love that Heeseung can’t hold and understand how to manage. Enjoy!

Work Text:

Cruel Summer.

Ada sekiranya satu dua hal tak terduga kita jumpai dalam perjalanan menuju roma. Ethan mendapati satu diantara dua itu hari ini, di rumah sakit tengah kota lima kilometer dari tempat ia bekerja. Sejauh yang dapat kepalanya ingat, Ia sedang menjelaskan materi pada slide presentasi sialan yang dibuat dengan hampir mempertaruhkan nyawa saat tiba-tiba pandangannya berputar liar sebelum berakhir menjadi gelap total, disuarai jeritan beberapa teman sejawat serukan namanya.

————

Pernah ada sebuah gagasan; kita adalah wujud dari apa yang pernah orang-orang terdekat tinggalkan. Awalnya Ethan anggap hal itu tidak masuk akal karena; memangnya bisa ya orang-orang menjadi sejauh itu setelah sebelumnya mereka bahkan sedekat darah dan nadi? Riuh kepalanya ribut menolak fakta kala itu, sedang bilah ranumnya mengocehkan banyak paham perihal manusia dan empati di hadapan teman-teman kolega yang menatapnya penuh minat.

Persetan dengan teori. Ia kini hampir mempercayai bahwa kontemplasi asal-asalan itu memang betul nyata di dunia. Wujudnya ada dalam banyak rupa; seperti satu aplikasi game online yang masih bertengger pada ponsel bahkan setelah hampir satu bulan seorang teman yang mengenalkannya pergi mengejar cinta ke negeri orang; atau pada dua bungkus kantong plastik nasi goreng hangat pada malam minggu berangin bahkan setelah empunya kamar sebelah tidak lagi ada presensinya; juga bisa saja sewujud kesukaannya pada minuman bersoda yang mendingin berhari-hari di dalam lemari es kos, setelah masa indah berkasih telah kandas di tengah jalan. Bajingannya, semua ini terasa setelah Ethan mencicipi apa yang orang-orang sebut dengan patah hati.

Banyak emosi yang bisa manusia rasakan dalam satu waktu, dan itu adalah naluriah. Pun, patah hati bagi Ethan adalah secarut-marutnya isi tempurung dapat ia redam. Semua terasa jadi lebih berat; Raganya mungkin berfungsi, tapi tidak dengan sistem motorik yang hanya bisa andalkan ingin. Satu bulan penuh dihantui amarah, laki-laki dua puluh tujuh itu akhirnya berhasil meretas cerebrum dalam kepala untuk kembali beroperasi normal. Tentu saja kinerjanya tidak sama fantastik seperti yang lalu-lalu, karena semua ia kerjakan seadanya; sekiranya yang dapat ia ingat, dan sebisa yang raganya sanggup lakukan. Kendati serpihan waras itu dapat ditarik kembali cuilnya, tetap tidak menutupi lebam pada organ vital di balik rusuk. Karenanya, disinilah Ethan berada.

Mungkin Tuhan masih sayang pada nyawa kecilnya.

Netra jelaga lelaki kelahiran Oktober itu menatap kosong pada udara. Untungnya, hidup cuma satu kali; so there's no harm on making mistakes. But it would be a shame if it happened twice. Kendati demikian, dua kesalahan tidak semata-mata buatmu lulus memahami cinta. Ia seabsurd sebutannya. Ratusan kesalahan tidak serta merta jadikan kamu ahli. Ethan sudah mengenal cinta sedari pemuda itu genap lima; pertamanya ia diberi tahu cinta bisa serupa kurva cembung pada bibir tipis teman sepermainan. Berikutnya; cinta beritahu Ethan ia bisa jadi merupa bentuk pengorbanan diri. Terakhirnya; cinta ajarkan si Libra bahwa ia wujudnya sebanding arti memberi tanpa pamrih. Semua bentuknya Ethan hafal tanpa kesulitan berarti, sampai patah hati jejali ia lara yang begitu nyeri berkali-kali.

Ethan tidak pernah merasa gagal dalam memberi. Ia sanggup mencintai di keadaan seburuk dan sepayah yang mafhum ia pijaki. Cintanya besar dan banyak. Memberi dan mengasihi. Melindungi dan mengayomi. Bahkan cara-cara itupun tidak juga mampu buat cintanya menetap. Entah ini sudah kali keberapa, tapi seingatnya; Ethan tidak akan pernah terbiasa.

Pikirnya kalut. Berbagai dugaan mulai merayap, beranak pinak dan mengakar pada celah kosong di sudut kepala lahirkan cabang lain yang tidak ada habisnya. Barangkali, cintanya terlalu banyak. Barangkali, cintanya terlalu menuntut. Barangkali, cintanya terlalu mengikat. Barangkali, cintanya alami cacat. Atau mungkin pula, cintanya memang tidak pantas terima balas.

Ethan ahli dalam nobatkan diri sebagai yang paling salah.

“You good?” Sebuah pertanyaan retoris lemparkan Ethan kembali pada realita. Sepasang mata rusanya bergulir pada pintu yang terbuka setengah, mempertontonkan postur tinggi seorang teman dengan jas putih berlogo rumah sakit pada saku.

“Guess, better than ever.” Jawab Ethan yang lebih seperti bualan.

Kekehan ringan kemudian menggema. Ada sosok bersurai magenta pudar dengan snelli melingkar di leher yang kemudian mendekat pada tempat tidur Ethan. Dua tangannya dimasukkan kedalam saku sedang manik almond seindah permata miliknya mengedar pada seraut wajah pucat Ethan. “Bed rest inimah.”

Kalimat diagnose itu Ethan balas dengusan ringan. Nyaris terdengar seperti ringisan di telinga. “Yah, cuti dong gue.”

“Exactly.” Balasannya datang setelah 2 menit penuh dihabiskan sang dokter meraba-raba dada Ethan. Menempelkan snelli pada bagian kiri rongga nafasnya.

“Perlu gue bikinin surat dokter gak?”

“Boleh, kalo ga ngerepotin.”

Si manis menyungging senyum tersinggung. “Sumpah kayak sama siapa aja.”

Ethan hampir menampar dirinya sendiri. “Ya emangnya siapa?”

Kerlingan genit Ethan terima, disusul senyum yang kandungan gulanya mampu Ethan takar hanya dengan satu kedipan mata. “Mantan kan?”

Dan hari ini akan Ethan tandai jadi yang paling enggan ia ingat.

————

Selasa pagi ini dinaungi oleh bentang lembayung abu disertai gerimis kecil. Pandangan Ethan mengedar pada jalanan basah yang hasilkan becek dimana-mana. Satu tangannya genggam stir fortuner yang membelah kota dengan gagah, sedang satu lainnya diletakkan santai pada gigi mobil. Hening menjadi teman sementara sebelum dering pesan singkat dari ponsel pintarnya buyarkan muram dalam raut lelaki Libra.

From: JAY

I give you 1 week. Go use your fucking money on your own, stupid.

[1 attachment]

Suara panjang klakson lantang buat Ethan berjengit. Jantungnya berdetak sekencang genderang perang. Kepalanya menoleh asal untuk kemudian ia keluarkan umpat pada diri sendiri. “Goblok.”

Lampu lalu lintas baru saja berubah hijau.

Memutuskan untuk menepi demi membalas pesan singkat teman terdekatnya, Ethan dibuat terkejut kala layar benda pipih dalam genggaman tampilkan tiket pesawat menuju destinasi dengan jarak ribuan mil. Tidak hanya sampai disana, jemari panjangnya berhenti menggulir layar begitu melihat daftar tour yang akan dia ikuti.

“This mother fucker.” Umpat Ethan kemudian.

To: JAY

What the fuck?

Where do you think I am going, you moron.

From: JAY

Korea, yes.

I set you on tour. Be thankful.

Ethan baru akan mengetik balasan ketika satu bubble chat lain menyusul, hasilkan geraman tertahan dari rahang tegas bungsu Keluarga Lee.

If you can’t get the homies, go fuck some foreign. It won’t hurt your little dicky, dude.

————

Ingatkan Ethan untuk memukul kepala Jay setelah ia kembali dari perjalanan ‘bisnis’ dadakan ini. Ternyata deritanya tidak surut hanya sampai disitu; waktu penerbangan yang dijadwalkan berada pada puncak tabel Flight Information Display System dan seakan itu semua belum cukup, tanggal penerbangan akan dilangsungkan besok—atau lebih tepatnya hari ini—. Agaknya orang gila pun enggan jika diminta menyambangi negeri orang dengan persiapan yang hanya kurang dari dua belas jam. Sekeras apapun Ethan membohongi diri, ia tidak dapat sembunyikan uap panas di atas kepala dengan imaji nama Jay terputar berulang.

Helaan nafas berat lolos dari bibir lelaki seratus delapan puluh tiga sentimeter itu. Lengan kirinya ia angkat posisikan tiket di tangan kanan, lantas ayunkan tungkai ke arah gate yang dituju.

Semesta mungkin punya rencana hancurkan hari Ethan. Pemberitahuan keberangkatan sudah bergaung penuhi ruang tunggu dari lima menit yang lalu, tapi Ethan belum juga temukan gate tujuannya. Panik mulai menyerang lelaki bertopi hitam itu. Iris jelaganya mulai mengedar, bermunajat dalam hati semoga saja ia dapat tangkap nomor gate sesuai tiketnya sebelum ditinggal pergi. Panggilan terakhir diserukan, bertepatan dengan mata rusa Ethan temukan labuh.

‘Gotcha!’

Ada waktu dimana sial memang mendominasi sepanjang hari. Ethan sedang berjalan santai menuju gate saat tiba-tiba dadanya merasakan panas terbakar. Semua terjadi dalam hitungan detik tanpa bisa ia sendiri proses runtutnya. Sambil meringis, lelaki Oktober itu menoleh dan temukan seorang pria lebih pendek sedang menatapnya penuh penyesalan.

“Maaf, Mas.” Cicit lelaki itu seraya meraba kantong celana, mengeluarkan sapu tangan bergaris, dan mengarahkannya pada dada Ethan yang fabriknya berubah menghitam.

Gerakan tangan si kecil gesit, sampai beberapa detik kemudian Ethan menangkapnya berjengit, diikuti bola mata coklatnya yang bergetar halus. Ethan edarkan padang, temukan sepasang tangan menangkup tidak senonoh pada bokong yang lebih kecil, meremat penuh damba pada bongkahan sintal pemuda bangir di hadapannya. Ethan lantas menangkap tangan si mesum, mencengkram keras pergelangan penuh bulu si pelaku tindak kejahatan seksual itu dari balik punggung empu sapu tangan.

“This is a public space. Please keep your hands to yourself, dear Sir.” Katanya tajam. Ethan memicingkan mata, gemeletuk dari balik bibir lelaki itu cukup keras untuk ditangkap telinga yang lebih kecil, beritahu dia bahwa pria yang kaos-nya baru saja ketumpahan kopi itu sedang marah untuknya.

Lelaki mesum berdecak tanggapi amarah Ethan, sebelum kemudian memilih meninggalkan keduanya seraya menebar senyum genit beberapa detik usai putar badan ke arah berlawanan. Ethan menghela nafas berat, ada saja kejadian tidak jelas hari ini.

Satu hembusan nafas kembalikan fokus Ethan. Obsidiannya bergulir menatap setangkup wajah berkeringat yang jaraknya hanya beberapa centi dari batang hidung.

“You good?”

“Yeah. Thanks to you.”

Sadar bahwa jarak mereka tidak pantas untuk ukuran orang yang tidak saling kenal, Ethan menjauhkan diri, lantas pandangi kaos putihnya yang kini meninggalkan noda dengan tatapan kesal.

“Mau ganti baju saya, Mas?” Tawaran itu datang dalam getar rasa bersalah.

“Oh, no, it’s fine. Saya hampir ketinggalan pesawat.”

Menyelesaikan kalimatnya, Ethan bergegas menarik koper menuju gate.

“Loh? Saya sudah gak apa-apa, Mas. Nggak perlu repot-repot.” Kata Ethan saat mendapati lelaki kecil tersebut mengikuti langkahnya.

“Jake.” Sergahnya disertai senyum tipis. “—dan tujuan saya memang ke gate depan sana.”

Ethan bungkam. Telinganya memerah sempurna, malu. Ia akhirnya putuskan untuk mengangguk sopan sambil mempercepat langkah.

“Sebentar, Mas.” Seru Jake keras. Kakinya berlari kecil menyamakan Langkah besar Ethan. “Terima Kasih udah nolongin.”

“Lain kali, hati-hati.”

“I will.”

“Tonjok aja kalau masih ada yang begitu.” Nasihat Ethan sembari dua tangannya sibuk memisahkan lembar tiket dan kartu identitas. Tersenyum singkat pada petugas, dan melenggang masuk ruang tunggu.

“Itu udah mau saya tonjok. Tapi Mas nya lewat di samping kanan saya dan malah ketumpahan kopi.” Sambung Jake, buru-buru melepas jaket denim yang ia kenakan untuk diletakkan pada box pemeriksaan.

Ethan tanggapi lelaki itu dengan anggukan, memasang kembali jam tangan serta jas yang baru saja keluar dari alat pemindai.

Langkahnya kemudian terhenti di ujung pintu ruang tunggu. “Maaf.”

Jake tersenyum, kali ini lebih lebar, hampir membuat seluruh gusi pemuda itu menyapa Ethan yang berdiri diam mengawasinya.

“It’s fine, really.” Jake mendorong koper ke arah yang sama dengan Ethan. “It feels nice when someone stands up for me.”

Canggung, Ethan mengalihkan pandang, tolah-toleh mencari hal lain yang bisa dijadikan focus selain lelaki bersurai pirang disampingnya.

“Mas-nya mau ke Korea juga?”

Ethan menoleh cepat. “Jake juga?”

“Yes!”

————
Ethan piawai kenali luka. Karenanya, ketika temukan dua obsidian Jake menatap penuh pada celana panjang bahan yang dia kenakan, Ethan tau ada gelombang sendu disana. Bibir bawah lelaki yang lebih kecil digigit keras, Ethan pikir itu adalah caranya untuk menahan buliran air di pelupuk mata.

“Is it okay?” tanya Ethan. Kepalanya sedikit ditundukkan demi sejajarkan pandang pada dua bola mata yang lebih muda.

Merasa seperti tertampar, Jake mengedipkan matanya yang masih tinggalkan getar halus. Fokus retina si kecil dilabuhkan pada sepasang manik jelaga Ethan. “Gak apa-apa, Mas. Kekecilan gak?”

Ethan menggeleng. Menatap kaki jenjangnya sambil menggoyang-goyangkan tungkai. “Surprisingly, it fit me just fine.”

Jake tersenyum getir. “It supposed to be. Tinggi kalian hampir sama kok.”

Ethan mengernyit, “Ini bukan celana kamu?”

Alih-alih menjawab, Jake justru berjongkok di depan terumbu karang. Meraih kembali alat cungkilnya, dan mulai menyibukkan diri pada pekerjaan yang mulanya tertunda.

“Harusnya hari ini saya bulan madu.” Cicit si kecil sambil memukul karang di hadapan. Getar pada telapak tangan yang tertutup sapu tangan kain itu tertangkap oleh Ethan. Kalau dipikir-pikir memang ada yang aneh dengan tour ini.

“Tahun lalu harusnya saya udah jadi suami orang.” Kalimat itu usai bersamaan dengan berhentinya gerakan tangan Ethan.

“Tour ini sebenarnya punya temen tunangan saya. Kita dikasih tiket bulan madu ke korea gratis.” Kekehan pelan melayang. “Hadiah pernikahan, katanya.” Jake berhenti sebentar, lantas melanjutkan, “Ini tour khusus buat survival gitu deh. Yang punya bikin tour ini buat seneng-seneng aja sebenernya. Tema nya juga bukan jalan-jalan, tapi survival, like i said before. Ide tunangan saya. Katanya, cara mengenal suatu tempat gak harus dengan jalan-jalan.”

Jadi ini. Apa yang membuat Ethan mengosongkan kepalanya sehari setiba ia di negeri ginseng adalah jadwal tour yang hampir bikin naik pitam. Bayang-bayang kejadian kemarin kembali memenuhi otaknya. Tour ini TIDAK menyediakan hotel. Mereka menyewa satu buah rumah kuno ukuran setengah hektar untuk ditempati 12 orang peserta selama kurang lebih sepuluh hari. Memberikan mereka fasilitas rumahan siap pakai, sayur-sayuran siap masak BUKAN makanan siap saji, dan beberapa petak ruang kosong yang Ethan sendiri tidak mengerti apa fungsinya.

Dan ngomong-ngomong, celana yang ia kenakan sekarang adalah hasil pinjam dari Jake, karena siapa yang pernah berpikir mengikuti tour luar negeri bisa membuat dia berjongkok di pantai mencungkil kerang untuk dimasak dan disajikan pada waktu makan malam? Ethan sempat mengumpat kemarin. Menyadari sebagian besar pakaian yang dibawanya adalah setelan formal-semi formal dengan bayangan kegiatan yang bukan mencungkil kerang. Hasratnya untuk memukul kepala Jay semakin naik menyentuh barometer paling maksimal.

Ethan tidak pernah tahu ada tour yang menawarkan pengalaman hidup sebagai warga korea selokal ini. Mereka tinggal di rumah korea kuno, memasak makanan khas korea secara mandiri, berbagi; tawa, cemas, juga cinta pada satu ruangan yang khas oleh wewangian korea bersama orang asing yang juga ingin menjadi warga korea. Bagi Ethan, semua jadwal ini terlalu domestik untuknya yang baru saja dilanda patah hati.

Lima menit berlalu tanpa cakap. Hanya suara angin disertai beberapa sahutan tawa yang memenuhi ruang hirup Jake dan Ethan. Keduanya memilih untuk diam sambil melanjutkan kegiatan mencari kerang. Terutamanya Ethan, kepala lelaki itu kini terasa kopong. Banyak yang berkelebat dalam tempurung namun tersangkut pada belah bibir tanpa bisa ia vokalkan.

Jake membuka mulutnya, sudah akan mengucapkan beberapa kalimat ketika sebuah pekikan nyaring membuyarkan fokusnya pada terumbu karang.

“Please!! Please help!!”

Ethan menoleh kilat. Tungkainya bergerak setara kecepatan cahaya ketika mata rusa lelaki itu menangkap entitas yang kepalanya hampir tertelan ombak. Refleks, si Libra melempar sepatunya tanpa arah, bersiap melepas jaket sebelum sepuluh jemari panjang mencengkram lengan atasnya. Menoleh, Ethan dapati Jake sedang menatapnya dengan wajah kelabu. Kepala yang lebih muda menggeleng ribut, matanya bergetar tidak kalah kalut ketika tahu Ethan punya niat untuk menolong.

“Jake?”

Gelengannya semakin kencang. Cengkraman pada lengan atas Ethan tidak lagi terkendali, meninggalkan perih pada sang empu. Ethan memandang jemari Jake yang gemetar hebat, kemudian matanya naik pada sekumpulan perempuan tua yang berteriak histeris. Entah apa yang sekarang sedang ada dalam kepala kuning yang lebih kecil, apapun itu Ethan merasa perlu beri Jake pengertian.

“Jake sorry. I have to go.” Pelan, Ethan singkirkan jemari yang tertancap bagai cakar pada lengannya. Mata rusanya memandang pupil lelaki bertopi nelayan di hadapan. “It’s okay. i will come back,”

Tidak ada tanda Jake akan melepaskan genggamannya. Tanpa pikir, Ethan lantas tangkup wajah kelabu si kecil. Diberinya wajah itu tatap meyakini. “I will come back, Jake,” Satu tarikan nafas dilepas. “—alive.”

Jemari yang tertutup sarung tangan itu naik, timpakan diri pada telapak Ethan di sisi rahangnya. Jakun Jake naik turun gelisah. Usahanya meredam cekat hanya berhasil bawa cicit penuh kemelut. “You promise?”

“I promise, Jake. Please.” Satu kaki Ethan sudah bersiap meluncur. Perlahan, jemari itu mengendur beri Ethan izin.

Tidak pernah dalam dua puluh tujuh tahun hidupnya Ethan berlari secepat ini. Pahami situasi, lelaki bersurai hitam itu jatuhkan diri pada birunya laut. Gelombang besar sambut ia tanpa ampun. Pandangnya kabur tertutup pasir, hidungnya perih luar biasa tersapu ombak. Sepuluh detik pertama Ethan habiskan membiasakan diri pada gelombang laut, jadikan tubuhnya mengapung tanpa melawan arus demi kenali keadaan. Setelah merasa tubuhnya sudah mengapung, Ethan berenang pelan ke arah telapak tangan yang ia yakini pemiliknya sudah nyaris hilang kesadaran.

Mengandalkan ilmu yang ia terima dari sosialisasi bertahun-tahun lalu, Ethan berenang dengan sudut 45 derajat memotong arus, meraih tangan yang hampir nihil tenaga tersebut, kemudian menariknya dalam sekali hentak. Detik berikutnya Ethan habiskan untuk tenangkan korban, tuntun orang itu agar perlahan mengambil nafas.

Sekali lagi, mereka terombang-ambing di tengah volume ombak besar yang keruh. Ethan memutar otaknya, memaksa diri berpikir keras cari solusi, sampai sebuah ban karet mendarat tepat di hadapannya. Ia lantas menangkap benda terapung itu tanpa jeda berarti. Bergerak gesit, satu tangannya menggeser korban mendekati ban karet. Telaten, diletakkannya benda apung itu membungkus korban yang sudah semakin lemas. Pekikan kembali terdengar, bersamaan dengan ombak dalam jumlah lebih besar bersiap melahahap di belakang mereka. Ethan pikir, menyelamatkan orang tenggelam bukan perkara sulit, sebab ia lihai taklukan air. Tapi sepertinya itu tidak berlaku ketika yang menjadi lawannya adalah lautan. Membuka mulut, Ethan raup udara sebanyak yang paru-parunya sanggup tampung, sebelum akhirnya menenggelamkan diri.

Lima menit berikutnya berjalan seperti neraka. Kaki jenjangnya menggores karang beberapa kali. Paru-parunya hampir meledak menahan karbon, dan matanya nyaris dipenuhi pasir seluruhnya. Adegan penyelamatan tersebut disertai teriakan panik berisi panjatan do’a. Sambil menarik benda karet di tangan kiri, lelaki Oktober itu terus bawa kakinya ke tepi, diam-diam menyatu pada ombak, meraba dengan telapak kaki gundukan pasir yang jadi tanda bahwa mereka semakin dekat dengan tepi. Habiskan hampir dua puluh lima menit kuasai arus laut, Ethan mendarat selamat membawa satu nyawa yang berhasil dia tarik dari kematian. Orang-orang lantas mengerubungi, memberinya handuk (entah dari mana asalnya, dan milik siapa), menanyakan kondisinya, lantas bergegas memeriksa keadaan korban setelah yakin bahwa Ethan tidak begitu memerlukan banyak bantuan.

Semesta mungkin beri dia hari-hari sial. Tapi Tuhan masih sayang nyawa kecilnya.

He made it. He comes back.

Jake merapal kalimat itu berkali-kali di dalam kepala. Patrikan pada benak bahwa figure tinggi yang kuyup dari ujung kepala hingga kaki itu benar tepati janjinya untuk kembali;

—dalam keadaan hidup.

Satu pasang tatap nanar menghujam Ethan, hantarkan gelenyar aneh pada pompa jantungnya yang perlahan mulai stabil. Ada langkah terseok yang kemudian mendatangi si Libra, pelan dan begitu berat seolah ada ribuan ton muatan yang membelenggu pergelangan kaki si empunya langkah.

Jake menangkap bahu Ethan usai langkah penuh bebannya terhenti lebih kurang tiga puluh senti di depan lelaki yang masih kuyup sepenuhnya. Sapu tangan yang lelaki itu kenakan sudah tanggal, sajikan sepuluh jemari lentik pucat dengan buku-buku jari memutih pada pelupuk mata yang lebih tinggi.

Ethan diam seribu kata. Dua netra jelaganya selaraskan tatap pada bola mata Jake yang hilang arah. Meremas bahu Ethan beberapa kali, mulutnya terbuka, untuk kemudian dia tutup kembali tanpa ada patah kata yang mencapai rungu. Perlahan, Jake menurunkan tangannya yang bergetar penuh hingga ujung jari. Jake merasa dia akan muntah sekarang juga. Yang lebih kecil memejamkan mata sejenak merasakan pening luar biasa pada tempurung kepala akibat akumulasi emosi yang memuncak.

“There’s—“ Jake membuka mulut, meraup seluruh oksigen yang bisa paru-parunya hirup. Hidungnya merah pekat, kembang kempis dalam usaha keras hembuskan karbon. Genangan air mulai mengambil alih manik coklat terangnya yang bergetar kepalang kalut. “There’s this man in my life that I—” Putus sudah usahanya menahan raung. Jake jatuhkan tubuhnya pada dada Ethan. Bahu lelaki November itu naik turun dalam tempo paling brutal yang pernah Ethan lihat, penuhi gendang telinga yang lebih tua dengan tangis pilu.

“Sttt, Jake, please take a breath.” tuntun Ethan pelan. Dua telapak tangannya ia daratkan pada punggung Jake yang semakin menggigil.

“Please, Kak Ethan.” terbata, ia remas kaos putih Ethan yang kuyup. “Please don’t– don’t do that ever again.”

***

Tepukan halus pada pundak tarik Jake kembali ke kenyataan. Rentetan penyesalan rembesi kepala begitu figur Ethan tertangkap retinanya. Sisa hari yang hanya tinggal 20 persen Jake habiskan dengan berdiam diri di teras penginapan sambil sesekali sesap coklat panas yang sengaja ia seduh untuk temani diri merenung, sebelum pusat renungannya justru menghampiri dan mengambil tempat tepat di samping kanan Jake.

“Mikirin apa sih?” Ethan sesap kopinya satu kali, gulirkan tatap pada langit malam yang kosong di atas kepala.

Mengikuti arah pandang Ethan, Jake menggeleng samar. Sudut bibirnya digigit gelisah. Kepalanya sudah kepalang penuh buat Jake bahkan tidak mampu rangkai frasa untuk diutarakan pada lelaki berhati baik di sebelahnya.

Tiba-tiba Ethan ulurkan kepalan tangan ke hadapan Jake, timbulkan tanya dalam benak yang lebih kecil.

“I can throw away the bad thoughts in that little head of yours, you know.” Ujarnya kemudian sambil membuka kepalan tangan.

Jake pandangi telapak tangan besar Ethan. Terpekur cukup lama sebelum dia lemparkan tanya paling dasar pada yang lebih tua. “How?”

Tanpa menoleh pun, Jake bisa rasakan sudut bibir Ethan yang terangkat. “Just grab it. You’ll find out.”

Ragu-ragu, Jake mengangkat telapak tangan. Ia tidak lantas turuti titah lelaki Oktober itu. Matanya melirik sekilas pada kembar jelaga Ethan, sampaikan tanya tersirat pada sorot teduh di sampingnya. Kantongi anggukan, Jake perlahan menurunkan telapak tangan, meletakkannya tepat di atas milik Ethan yang halus dan sedikit lebih rendah temperaturnya.

“Shout it out, now.” adalah perintah lanjutan yang Ethan berikan usai Jake meremas pelan telapaknya.

“Shout what?! I–”

“Shout your bad thoughts out, Jake.” Potong Ethan cepat sebelum Jake sempat lontarkan protes. Alisnya naik dan senyum paling damai dia berikan, hantar rasa aman pada si pirang. “Now.”

Apa yang harus Jake keluarkan? Kepalanya terlalu gaduh untuk bahkan dia sendiri pahami. Anak-anak argumentasi mulai menyebar, mengakar pada sudut-sudut kepala buat Jake kesulitan memilah kata untuk dia vokalkan.

“Aku kangen.” Bisiknya kemudian.

Ethan diam mengamati. Netranya fasih hafalkan lara; ada rindu terpupuk di pelupuk mata si manis yang buahnya akan dapat dituai tidak lama lagi.

Perlahan, buliran air jatuh satu-persatu sapa tangan mereka yang masih tertaut. Ethan kenal rasa sakit kehilangan, tapi ia tidak familiar pada yang bersifat selamanya. Lembut, diusapnya telapak tangan yang kini beri sensasi dingin dengan getar samar itu. Sabar Ethan menuntun Jake untuk serukan lebih banyak lagi, tumpahkan segala isi kepalanya yang terlihat lebih berat dari batu karang.

Sepasang mata Jake pandangi telapak mereka yang saling tindih. Matanya basah, lehernya sakit menahan cekat yang tertancap di kerongkongan.

“Acil, aku kangen kamu.” Genggaman jemarinya pada telapak Ethan mengerat. “Hari ini ada orang baik yang nolongin korban tenggelam, sama seperti kamu waktu itu.”

Semua kantuk yang tadi sambangi Ethan terpangkas habis saksikan Jake yang hampir kehilangan ritme nafasnya sendiri.

“Breath, Jake.”

Sejak pertemuan pertama, Jake tau Ethan bukan jenis orang yang kantongi sifat diktator. Tapi entah apa yang rusak dalam saraf motoriknya, segala perintah lelaki yang lebih tua itu selalu Jake turuti titahnya, lugas dan tanpa pikir.

“Hari ini aku kangen dan marah. Kenapa Mas Ethan bisa pulang dari laut dengan selamat sedangkan tunanganku nggak bisa.” Jake membuang napas keras-keras, “Aku merasa dunia gak adil buatku. Aku masih butuh Acil. Aku janji sama Acil bakal kasih dia lebih banyak, bukan cuma taunya terima dari dia aja. Aku mau kasih apa yang belum pernah aku kasih ke Acil. Sayangku buat Acil masih banyak, semuanya udah aku tabung buat Acil. Kalau sekarang sayangnya sudah penuh, harus aku tumpahkan ke mana?”

“Acil, maaf kalau aku kangen. Harusnya aku nggak usah ikut tour ini. Aku cuma mau tepati janji bapak sama ibuk buat bahagia lagi tanpa kamu. Maaf kalau aku capek.” Jake akhiri kalimatnya dengan satu tarikan nafas panjang.

“Sudah?” Tanya Ethan sesaat setelah genggaman jemari Jake pada telapaknya terlepas.

“Hm.”

Lima detik Ethan habiskan untuk tatap wajah sendu teman satu kelompoknya. Kelopak mata cowok itu bengkak dan merah. Hidung bangirnya gagah tantang langit malam dalam balutan warna serupa.

Sadar dipandangi, Jake menoleh. Dahinya berkerut dalam dapati yang lebih tua menaruh perhatian lebih pada mata basahnya. “Mana? Katanya bisa dibuang?”

“Ke saya aja Jake.”

Kerutan di dahi yang lebih muda semakin dalam. “Apanya, Kak?”

Tidak langsung menjawab, Ethan kepalkan telapak tangan yang tadi menampung seluruh resah si surai terang. Ditiupnya kepalan tangan itu tiga kali sambil berbisik “Please don’t come back”, lantas dilemparkannya seluruh isi pikiran Jake ke arah semak belukar di balik dinding bata.

“Sudah saya buang pikiran jeleknya.” Lapor Ethan seraya bawa bokongnya kembali duduki tempat di kanan yang lebih muda. “Tumpahkan sayangnya ke saya aja, Jake.” tambah Ethan setelah berhasil betulkan posisi menghadap Jake.

“Pardon?”

Ethan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Bagaimana cara memulainya? Sejak awal bertemu Jake, ada gelenyar yang Ethan sendiri tidak pahami maknanya. Kadang hadir, kadang hilang. Kadang dia terasa begitu pekat naik ke permukaan, kadang pula hanyut layaknya arus lautan dalam. Gilanya lagi, perasaan yang acap kali sita fokusnya itu dia sadari baru saja; Di waktu yang sama ketika Ethan menatap sepasang iris coklat terang Jake yang simpan banyak luka dan kehilangan.

“Sayangnya kamu, bisa dibuang ke saya aja.” Adalah apa yang berhasil Ethan rangkum dari kusutnya isi kepala. Lelaki jangkung itu kemudian menambahkan, “Oh, panggilnya boleh Kak saja mulai sekarang.”

“Aku gak tau.” Menjadi balasan yang paling sering Ethan dengar selama dua puluh tujuh tahun karir percintaannya.

“Aku gak tau bisa sayang sama orang lagi atau engga, Kak.”

“Gak apa-apa. Saya siap terima apa aja yang mau kamu kasih.”

Jake menoleh cepat, sedikit kaget dengar pengakuan barusan. “Won’t it hurt you even more?”

Yang lebih tua mengangkat bahu, lantas sesap kopinya dua kali. “Saya sudah sakit berkali-kali padahal sudah beri banyak. Saya cuma pingin tau rasanya menerima.”

Untuk ukuran laki-laki dewasa, Ethan punya fitur wajah yang bisa kelabui umur. Jake pandangi rahang tegas Ethan lamat-lamat. Jakunnya yang naik turun menahan gelisah, kemudian naik pada belah ranumnya yang agak kering dikecup udara dingin, sedikit lebih ke atas, ia temukan hidung bangir Ethan yang kemerahan keluarkan asap, dan yang paling memesona dari semua itu; dua netra jelaga serupa mata rusa yang simpan begitu banyak hangat. Fitur ini, adalah apa yang orang-orang sebut sempurna wujudnya.

Jake pernah terima segala sesuatu yang berlimpah takarnya. Berkelakar tentang besaran cinta sudah jadi hal lumrah, karena Jake sejahtera hidup dalam rengkuh tunangannya bertahun-tahun hingga jadikan dia entitas yang tidak akrab dengan konsep memberi. Karena itu, sejak kehilangan Acil, hal pertama yang memenuhi kepalanya adalah penyesalan; ia tidak sempat memberi Acil lebih banyak. Jake tidak pernah sediakan bahu untuk Acil berkeluh kesah, sebab orang baik itu selalu jadi yang paling pertama tanyakan keadaannya sampai Jake luput beri yang lain perhatian.

Menyandang status tunangan Acil menjadikan Jake jumawa. Euphorianya awet hingga bertahun-tahun, lumpuhkan hampir seluruh indera perasa yang dia punya. Bersama Acil, Jake tidak pernah merasa kurang. Bersama Acil, Jake temukan dirinya terlena dibalut segala yang ditumpahkan Acil buatnya. Sayangnya, perhatiannya, cintanya, materinya, pun telinga dan hangat bibir si manusia berhati lapang itu, Jake rampas semua.

Acil tidak pernah beri dia peringatan. Acil senang memberi, sebab itu memang bentuk cinta si lelaki Desember buat Jake –yang ini Jake ketahui dari ibuk di hari ke-7 kematian Acil–.

Kini, lencana itu perlahan memudar eksistensinya; genap satu tahun enam bulan titel sebagai tunangan Acil tidak lagi disandang Jake. Padahal, semua orang yang mengenal mereka sepakat akui dua sejoli itu tetap terikat. Jake tetap jadikan Acil tunangannya, begitupun Bapak, Ibuk, dan Adik perempuan Acil. Meski tetap saja, lencana itu sedikit demi sedikit mulai hilang presensinya, tinggalkan kosong pada semua orang yang kehilangan, terutamanya; Jake.

Ethan punya energi serupa Acil, bubuhkan perasaan was-was pada yang lebih muda; peringati dia untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang baik lainnya. Karena itu, Jake memilih menundukkan kepala sambil memainkan sepuluh jarinya yang saling bertaut.

“Aku—aku gak bisa beri kamu yang sama besarnya, kak.”

Ethan mengangkat alis. “Saya bahkan belum beri kamu apa-apa?”

Jake berjengit. Tersentak mendengar jawaban Ethan yang menyentil telinganya.

“Aku gak akan sanggup.” koreksi Jake beres menyadari kesalahan.

Ada hening yang kemudian menyelimuti keduanya. Ethan menggenggam mug-nya erat, berusaha keras susun klausa untuk patahkan pemikiran si pirang.

“Anggap aja ini latihan.”

Panggil Ethan si gila. Tidak pernah dalam dua puluh tujuh tahun hidupnya ia sengotot ini. Tidak bahkan dalam urusan perebutan tender bernilai milyaran. Telinganya merah sempurna tanpa dia sadari.

Jake mengangkat kepala. Tatapnya mengunci figur Ethan lama. “Kakak tuh memang orangnya sebaik ini ya?”

Kekehan ringan mengudara. Ada kerling yang kemudian Jake tangkap dari sepasang mata teduh Ethan. “Saya cuma penasaran.” Jemari Ethan bergerak mengelus mug putih di tangan. “Setiap putus, yang saya dengar cuma ketidakmampuan saya dalam menerima. Rasanya nggak adil aja buat saya.”

Jake mengangguk-angguk sok paham. Matanya sudah kering, sisakan warna kemerahan yang cukup mengkhawatirkan.

“Kalau gitu..” Kalimatnya berhenti secepat Jake daratkan telapak tangan pada dahi Ethan yang dihinggapi nyamuk. “Please considering it as a gift karena sudah berhasil tepati janji ke aku ya, Kak Ethan.”

Harusnya Ethan merasakan sakit karena dahinya dipukul cukup keras. Tapi apa yang kemudian menjalar dari telapak tangan Jake tidak membuat Ethan meringis alih-alih buat dia menarik sudut bibir suguhkan senyum dari telinga ke telinga.

“Okay.”

—-