Work Text:
"Bulannya indah, ya, Bu?"
Seorang wanita tua mengalihkan pandangannya dari langit setelah mendengar pertanyaan dari seorang pria tua yang merupakan suaminya. “Iya, cerah sekali,” balasnya.
“Tapi, tidakkah itu terlihat menyeramkan?” Si pria tua bertanya lagi. Dia memandang istrinya yang duduk di sampingnya. “Cahaya bulan itu berwarna merah. Tidak seperti bulan yang biasa kita liha — ”
“Kau ini bicara apa?” celetuk wanita itu, “Cahaya bulan akan selalu berwarna biru. Langitnya saja yang merah.” Dia lalu kembali memandang langit yang merah gelap. Tidak ada sama sekali rasa takut tergambar pada ekspresinya. Tatapannya hampa, begitu pula dengan perasaannya.
Si pria tua mengganti gaya duduknya. “Suasananya jadi semakin gelap. Kita hampir tidak bisa melihat apa-apa.” Dia lalu mendongak. “Sebentar lagi, bulan yang sangat kau sukai itu akan kehilangan cahayanya. Mungkin saja malam ini. Aku heran kenapa kau sama sekali tidak takut akan hal itu.”
Si wanita tua menghela napas. “Biarlah.” Matanya tertuju ke bulan purnama di langit. “Setidaknya aku masih bisa melihat cahaya biru bulan itu sebelum aku mati.”
Kenyataannya, cahaya bulan sudah kehilangan warna birunya. Kini sang purnama berwarna merah darah, dan dari detik ke detik cahayanya semakin redup. Istrinya hanya sedang mengkhayal.
Malam itu benar-benar gelap.
Ini sudah hari kedua sejak Ryomen Sukuna, Sang Raja Kutukan, bangkit. Makhluk itu akhirnya mendapatkan kekuatan penuh dan wujud aslinya. Penampakannya seseram gambaran orang-orang dalam cerita mitologi. Kebangkitan Sukuna membangkitkan kutukan-kutukan kuat yang sudah tertidur selama ratusan tahun, menciptakan dunia terkutuk yang gelap gulita. Yang menjadikan malam abadi, dan yang menjadikan dada sesak akan energi negatif.
Pasangan renta itu selalu kepikiran setiap kali mereka duduk berdua di teras rumah. Saat ini, ratusan penyihir Jujutsu pasti sedang bertarung mati-matian demi menaklukkan Ryomen Sukuna dan para kutukan lain yang dia bangkitkan. Ketika keduanya memandang keluar gerbang, mereka terbayang akan kengerian di medan tempur. Setiap kali bayangan itu muncul, mereka bersumpah untuk tidak melangkah keluar.
“Bu,” panggil si pria tua, “Masuk, yuk. Hujannya semakin deras.”
Yang dipanggil hanya diam. Dia menolak untuk meninggalkan teras. Tatapannya lekat ke arah kegelapan di depan gerbang. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Si pria tua lalu menggoyangkan sedikit tubuh renta istrinya yang sedari tadi bergeming di atas lantai kayu. Namun, istrinya tidak merespon.
“Bu,” panggilnya lagi, “Masuk saja, yuk! Hujannya semakin deras. Situasi di luar juga semakin buruk. Aku bahkan bisa mendengar suara-suara jeritan manusia dari sini.” Pria itu memegang tangan istrinya yang sama kurusnya dengan miliknya. “Ayo kita ikut berdoa bersama anggota klan lain di kuil.”
“Tidak mau,” jawab si wanita tua pelan, “Aku mau tetap di sini.”
“Jangan bilang karena mau liha — ”
“Bukan,” celetuk wanita itu, “Ini bukan soal bulan biru.”
Diam sejenak, si pria tua lalu menyelidiki wajah istrinya. Ada goresan kesedihan yang begitu dalam pada gambaran ekspresi datar wanita tua itu. Dia memikirkan apa yang sebenarnya membuat istrinya ingin terus duduk di teras. Dia sudah duduk di sana sejak dua hari yang lalu, di posisi yang sama yakni di depan gerbang, seperti sedang menunggu seseorang.
“Aku menunggu Satoru pulang,” katanya.
“Kau ini!” Si pria tua berdecak, tiba-tiba berseru kesal. “Kan sudah aku bilang. Jangan panggil dia ‘Satoru’! Panggil dia ‘Gojo-sama’! Tidak sopan, tahu! Bagaimana kalau ada yang mendengarmu mengatakan itu saat ini?” Dia melihat ke arah istrinya yang hanya diam tertunduk mendengar teguran keras darinya. “Patuhi aturan klan! Kau sudah berulang kali melanggar aturan ini. Meskipun dia anak kita, tapi dia adalah seorang kepala klan. Kita tidak berhak merasa sejajar dengannya sekalipun kita orang tuanya. Paham?”
“I…iya,” jawab si wanita tua lirih, “Aku…menunggu Gojo-sama pulang.” Dia berkedip berulang kali untuk menahan air matanya jatuh.
“Lagipula…” Si pria tua kembali duduk di samping istrinya. “…memangnya dia akan pulang? Apalagi sekarang terjadi perang. Dia pasti memprioritaskan diri untuk melindungi penghuni sekolah.” Kalimatnya terjeda oleh helaan napas. “Dan juga, apakah kau yakin dia masih hidup? Saranku, kau jangan terlalu berharap di situasi seperti ini.”
Si wanita tua menjawab, “Aku yakin,” lalu menoleh ke suaminya dengan senyum tipis. “Anak kita kan Yang Terkuat. Kau lupa, ya?”
“Bukan begitu. Lawannya ini Sukuna.”
Di saat mereka saling pandang satu sama lain, seseorang muncul dari kegelapan. Dia berjalan melewati gerbang. Kedatangannya mencuri perhatian pasangan tersebut. Mereka lantas terkejut, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Lelaki itu, yang memakai setelan kimono berwarna hitam, melihat dari balik lensa kacamata hitamnya. Wajahnya samar-samar karena terhalang rambut putih dan bayangan payung yang dia bawa. Meskipun begitu, pasangan renta itu mengenali siapa lelaki yang tiba-tiba datang ke perumahan Klan Gojo di saat peperangan sedang berlangsung di luar sana. Tangan mereka gemetar. tatapan tajam dari sepasang mata biru langit yang cerah membuat jantung berdegup kencang. Pasangan renta itu dibuat tunduk oleh auranya. Mereka berusaha untuk menjaga pandangan dari lelaki berpostur tinggi yang kini berdiri di halaman rumah itu. Batin keduanya, mereka harus hormat.
Sang Kepala Klan telah datang.
Si wanita tua berucap, dengan bisikan yang sebisa mungkin tidak terdengar oleh suaminya.
“Satoru,” panggilnya.
Tidak ada yang menyalakan lentera di dalam kuil besar itu. Gelap, ditambah dengan suara hujan yang menghantam atap dan berkas cahaya merah yang masuk dari celah-celah membuat suasana di dalam terasa horor. Puluhan orang itu bersimpuh dengan melakukan gestur namaste. Kepala mereka tertunduk, sementara lisan mengucapkan doa-doa yang membuat diri tenggelam dalam khusyuk. Baik itu para pemuda dan pemudi ataupun para sesepuh, semuanya diam seperti patung. Mereka mengabaikan perang dan langit yang semakin kehilangan cahaya angkasanya. Orang-orang itu, dengan wajah penuh takut, memaku pandangan ke depan, membelakangi pintu kuil.
Mereka sudah pasrah. Hidup dan mati kini diserahkan sepenuhnya kepada Sang Dewa. Mereka menangisi dosa dan meminta ampun kepada Yang Kuasa. Setiap kata dalam doa melahirkan sebutir air mata. Setiap butir air mata mengandung harapan untuk dilindungi dalam rengkuhan tangan sakti-Nya. Mereka sudah kehilangan kekuatan. Klan Gojo yang dahulu dikenal sebagai klan yang agung dan terhormat kini telah kehilangan jati diri. Mereka diam atas insiden Shibuya, Permainan Pemusnahan, dan sekarang kebangkitan Sukuna. Entah sudah berapa banyak nyawa yang tidak diselamatkan. Mereka memilih untuk menghindari perang dan tinggal di rumah, tidak lagi menjunjung tinggi kehormatan mati di medan perang.
Karena sang pewaris Mata Enam tidak ada. Selama ratusan tahun, bayi yang terlahir dengan sepasang mata biru langit di Klan Gojo selalu berhasil dibunuh. Pihak lawan yang menyewa pembunuh bayaran, juga pengguna kutukan yang menyusup ke rumah, adalah dua skenario yang paling Klan Gojo waspadai. Namun, mereka tidak pernah bisa menghentikannya. Para pengguna kutukan berusaha keras agar keseimbangan tidak tercipta di dunia Jujutsu. Jika pengguna Mata Enam lahir, maka habis sudah. Betapa kuatnya Sang Mata Biru langit ini. Bahkan pihak musuh pun menaruh takut dan hormat.
Tapi kasus kali ini berbeda. Sang pengguna Mata Enam berumur panjang, namun pergi meninggalkan klannya, akibat mereka mengurungnya terlalu rapat di dalam sangkar. Jadi, sang pengguna Mata Enam berontak dan menghancurkan penjara logam itu, terbang jauh mencari kebebasan. Itu salah mereka karena tidak memanusiakan manusia. Lagi-lagi, Klan Gojo ditimpa keterpurukan. Orang yang telah mereka angkat jadi kepala klan sejak remaja itu, yang harusnya memimpin dan melindungi mereka sekarang, kini hilang entah kemana. Mereka menganggap ini sebagai hukuman, dan itu pantas.
“Setidaknya, kita masih bisa mendapatkan kehormatan dari mendekatkan diri kepada Dewa.” kata seorang sesepuh yang duduk di depan para anggota klan lain untuk memimpin agenda kultus.
Seorang pria tua dengan yukata abu-abu membuka pintu kayu dua sisi, menyadarkan semua orang di kuil dari alam bawah sadar. Mereka lalu menoleh ke belakang, menaruh perhatian ke pria tua yang datang bersama istrinya. Pasangan renta itu hanya diam tertunduk dengan wajah yang terlihat tegang, sementara ratusan pasang mata sedang melihat mereka. Salah seorang anggota klan pun bertanya.
“Kenapa kalian tidak ikut berdoa bersama kami?”
Namun keduanya tidak menggubris. Pasangan renta itu lanjut berjalan di jalur tengah pada lantai kuil. Para anggota klan lain semakin heran dengan tingkah laku mereka yang datang tanpa mengucapkan satu kata pun. Sampai mereka menyadari kalau pasangan renta itu ternyata membawa orang lain masuk.
Ratusan mata berusaha untuk mengingat rupa fisiknya. Pastinya dia dari Klan Gojo, sebab warna rambutnya putih seperti milik mereka. Tapi siapa? Pakaiannya adalah setelan kimono berwarna hitam, yang menunjukkan keresmian. Pastinya dia adalah orang penting. Tapi siapa?
Sampai lelaki itu menegakkan pandangannya, menampakkan mata biru langitnya. Para anggota klan lain, yang karena melihat sepasang mata itu bersinar di kegelapan, begitu terkejut. Lirik lelaki itu tajam ke arah wajah-wajah manusia yang putus asa, membuat seisi kuil merasa takut akan kehadirannya.
Mereka akhirnya menyadari eksistensinya di belakang pasangan renta itu. Mereka akhirnya mengenali lelaki itu, si empunya mata biru langit yang selama ini mereka kenal dengan sebutan Mata Enam. Mereka akhirnya mengenali wajahnya, wajah anak kecil yang dulu mereka kurung dalam sangkar, yang selama ini menghilang demi dapatkan kebebasan.
“Itu…bukannya…Gojo Satoru?”
“K…kau benar! Dia Gojo Satoru!”
“Sulit dipercaya! Dia kembali!”
“Mata itu…kalian mengenali mata itu, kan? Itu Mata Enam!”
“Tidak salah lagi.”
“Kenapa kalian ini?! Tidakkah kalian lihat kepala klan sudah datang?!”
Suara-suara gaduh dari kehebohan mereka seketika diredam oleh sang sesepuh pemimpin doa. Ratusan anggota Klan Gojo di dalam kuil itu serentak membagi rombongan menjadi dua untuk memberi jalan kepada sang kepala klan. Bersimpuh, lalu menunduk dalam sebagai wujud dari rasa hormat yang besar, kepada sang pewaris Mata Enam.
“Selamat datang, Gojo-sama!!!” Seruan ratusan anggota Klan Gojo menggema di dalam kuil yang semula sunyi. Satoru berjalan di tengah ratusan manusia yang tunduk padanya. Aura lelaki itu mengintimidasi, membuat mereka mematung dalam sujud.
Sang Kepala Klan telah kembali.
Pasangan renta itu bergabung ke dalam barisan, mempersilahkan Satoru untuk naik ke atas panggung. Satoru berdiri menghadap para anggota klan, bagaikan seorang jenderal di hadapan para tentaranya. Dia memandang jauh sampai pintu kuil. Dilihatnya ratusan manusia itu masih sujud kepadanya.
“Angkat kepala kalian!” perintah Satoru yang kemudian disusul dengan beberapa orang perlahan bangkit dari sujud. “Lihatlah aku!”
Salah satu tata krama yang diajarkan di klan besar Jujutsu ini adalah wajib menundukkan pandangan di depan sang kepala klan. Karenanya, para anggota klan merasa ragu. Mereka diperintahkan untuk mengangkat kepala, tapi di sisi lain tata krama itu masih erat mengikat. Mereka takut salah tindakan, juga malu untuk melihat wajah pemimpin mereka.
“Lihatlah wajahku!” perintah Satoru sekali lagi. Akhirnya para anggota klan memutuskan untuk patuh. Semuanya kembali ke posisi duduk bersimpuh. Dilihatlah oleh mereka wajah rupawan sang kepala klan. Tatapannya tegas. Mereka melihat wajah Satoru dengan perasaan takut dan ragu karena telah melanggar tata krama.
“Di sini kepala klan kalian, Gojo Satoru, berbicara,” ucap Satoru. Lelaki tinggi itu menunjukkan wibawanya di depan ratusan manusia. Mereka yang menyaksikannya di atas panggung berdebar-debar menunggu kalimat selanjutnya.
“Raja Kutukan era Heian, Ryomen Sukuna telah bangkit. 20 jari terkutuk yang disegel oleh penyihir Jujutsu terdahulu telah diserap semua olehnya dan membangkitkannya dari tidur panjang selama 1000 tahun. Kutukan-kutukan lain yang sudah tertidur ribuan tahun juga ikut bangkit bersamanya. Mereka, dan Ryomen Sukuna, merayakan kebangkitan dengan mendeklarasikan perang kepada manusia. Perang antar manusia dan kutukan pun tak dapat terelakkan. Kematian dan ketakutan ada dimana-mana.”
Satoru diam sejenak, memandang beberapa pasang mata yang terpaku ke arahnya. “Kalian tahu ada perang di luar. Itulah sebabnya kalian berkumpul di kuil untuk berdoa. Kenapa kalian tidak ikut bertarung? Kenapa kalian malah tinggal di sini?”
Sang sesepuh pemimpin doa memberanikan diri untuk menjawab untuk mewakili para jemaatnya. “Maaf atas kelancanganku, Gojo-sama. Sejak anda pergi, Klan Gojo kehilangan kekuatan. Kami terpuruk dalam ketakutan besar akan kematian. Karena itu, Klan Gojo tidak lagi menjunjung tinggi kehormatan mati di medan perang. Jadi, kami memutuskan untuk tinggal saja di sini dan mendekatkan diri kepada Dewa. Ini semua salah kami. Anda meninggalkan Klan Gojo adalah kesalahan kami. Kami memohon kepada Dewa penebusan dosa atas perlakuan kami kepada anda. Dan juga, memohon ampun karena kami tidak menyelamatkan ratusan nyawa di luar sana. Klan Gojo sudah lemah. Klan Gojo bukan lagi klan terkuat di dunia Jujutsu seperti 1000 tahun lalu. Kami semua sudah takut mati. Kami hanya ingin tetap hidup.”
Ratusan manusia tertunduk dalam, takut melihat wajah Satoru. Meskipun bahasa sang sesepuh pemimpin doa sudah sangat sopan, tapi jawabannya terkesan sangat berani dan tidak pantas, seolah dia menyalahkan sang kepala klan atas ketakutan dan kehilangan kekuatan Klan Gojo. Satoru diam beberapa saat, membuat para anggota klan berekspektasi kalau Satoru marah pada mereka. Ratusan manusia itu semakin takut. Jantung mereka berdegup kencang dan leher mereka basah akan keringat dingin. Tubuh mereka beku dalam simpuh.
Tak lama, Satoru memecah keheningan. “Lalu, kenapa kalian masih diam di sini?” tanyanya. Ratusan anggota klan kembali mengangkat kepala sebagai respon. Mereka memandang sang kepala klan dengan mengharap penjelasan karena ketidakpahaman mereka akan pertanyaan barusan. Satoru lalu lanjut berbicara. “Aku ada di depan kalian sekarang. Aku sudah kembali ke Klan Gojo. Apa lagi alasan kalian untuk tidak bertarung?”
Ratusan manusia itu diam membisu.
“Dengar! Sadarkah kalian kalau dengan keputusan ini, kalian mencemarkan nama baik para leluhur dan semua keturunannya, termasuk kalian sendiri? Kalian telah mencederai mereka yang meyakini kehormatan mati di medan perang. Kalian telah mencederai mereka yang telah mati mengorbankan diri demi Klan Gojo.”
Tangan ratusan manusia itu gemetar mendengar nada bicara Satoru yang terdengar gusar. Mereka kembali menunduk. Wajah-wajah itu kaku karena tak ada keberanian untuk berekspresi, bahkan untuk berekspresi takut sekalipun.
“Tidakkah kalian berpikir? Memutuskan untuk tetap hidup dalam situasi seperti ini justru akan membuat kalian makin terpuruk karena dihantui oleh kematian ratusan penyihir Jujutsu di medan perang sana. Karena kalian tidak menyelamatkan mereka. Kalian membiarkan mereka terbunuh, di saat mereka mengharap bantuan dari kalian. Itu sama saja dengan kalian membunuh mereka.”
Para anggota klan itu paham kalau mereka tidak akan pernah bisa luput dari yang namanya dosa, tapi mereka tidak akan pernah melakukan dosa membunuh sesama manusia—kecuali perang melawan musuh dan eksekusi terhadap para pengkhianat. Itu adalah seburuk-buruknya dosa, dan mereka sudah bersumpah tidak akan mengotori tangan mereka dengan perbuatan keji seperti itu. Sekali lagi, untuk menjaga harga diri keluarga.
Tapi, sekarang Satoru menyamai tindakan manusia-manusia itu untuk bertahan hidup dengan membunuh sesamanya. Mereka menganggap kalimat sang kepala klan adalah benar, jadi kalimat itu terasa sangat menohok. Kecuali sang sesepuh pemimpin doa yang masih membantah. Dia kembali mempertaruhkan dirinya. Kali ini dengan menyela kalimat Satoru. “K…kami tidak membunuh mereka, Gojo-sa — ”
“Kalian membunuh mereka,” balas Satoru tegas membungkam sang sesepuh, “Kalian melalaikan tanggung jawab dari kekuatan yang telah dianugerahkan kepada kalian. Kalian mematahkan harapan ribuan penyihir yang mengharap bantuan kalian. Kalian diam di sini dan membiarkan ribuan penyihir itu terbunuh, sementara mereka masih menyimpan percaya pada kalian. Sungguh tidak tahu diri. Sungguh tidak tahu malu.”
Dalam diam, mereka menerima hinaan yang dilontarkan Satoru. Mereka mengakui kalau mereka tidak tahu diri. Mereka juga mengakui kalau mereka tidak tahu malu. Mereka telah egois karena mengedepankan keselamatan sendiri dan bersembunyi di kuil. Keegoisan yang terbentuk dari rasa lemah dan takut tak beralasan, yang membuat mereka terlihat semakin menjijikkan untuk bahkan menyematkan nama “Gojo” di depan nama panjang.
Mereka mulai mempertanyakan keputusan mereka. Apakah mereka akan terus bertahan dengan rasa malu sebesar itu seumur hidup? Apa kata para penghuni langit yang mungkin tengah melihat mereka tertunduk putus asa sekarang? Mereka tidak yakin para penghuni langit membela keputusan mereka. Apalagi yang perlu dibela? Apa lagi yang perlu disanjung? Kekuatan? Kehormatan? Keduanya telah dijatuhkan oleh mereka sendiri, para keturunan Klan Gojo, yang memalukan. Sanggupkah mereka bertahan dari rutukan-rutukan para penghuni langit sampai mereka mati membusuk di rumah?
Pidato Satoru mulai membuka hati mereka perlahan.
“Selain itu…” Ratusan manusia itu memberanikan diri untuk kembali mengangkat kepala mereka karena mendengar suara Satoru yang melembut. Mereka melihat wajah Satoru yang berubah sejuk, juga tatapan matanya yang meneduh. Eksistensinya kini menenangkan. Tidak ada lagi aura intimidatif. Sosoknya seketika menjadi sangat dekat, yang membuat perasaan mereka menjadi lebih rileks. Hening, suasana di dalam kuil menjadi terasa damai, meskipun di luar tengah terjadi pertumpahan darah.
Satoru menunjuk ke langit-langit. “…Dewa tidak akan suka dengan keputusan kalian ini. Dosa-dosa kalian tidak akan ditebus. Mustahil kalian akan diampuni dengan cara seperti ini. Malah, Dewa akan mengutuk kalian karena telah membiarkan ribuan manusia mati di luar sana. Satu-satunya cara untuk menebus dosa kalian adalah berperang dan junjung kembali kehormatan mati di medan perang.”
Rasa amarah, benci, dendam, sedih, dan perasaan negatif lain yang tercipta dari kekecewaan para penyihir yang bertarung adalah kutukan bagi para anggota Klan Gojo. Mereka yang kepercayaannya telah dipatahkan mengundang amarah Sang Dewa untuk membalaskan dendam dan melampiaskan kecewa kepada klan tersebut. Itu adalah seburuk-buruknya kutukan. Manusia masih bisa lari dari kutukan sesama manusia lain, tapi tidak dari kutukan Dewa. Tidak ada jalan keluar jika Yang Kuasa telah murka. Sekuat apapun anugerah kekuatan Klan Gojo, mereka tidak akan pernah bisa menandingi kesaktian-Nya. Mereka terkutuk, juga tidak mendapatkan pengampunan. Maka, benarlah perkataan sang kepala klan. Untuk saat ini, kehormatan bukan didapatkan dari mendekatkan diri kepada Dewa, tapi dengan ikut berperang. Jika mereka masih hidup setelah itu, mereka akan kembali mendapat kedudukan tinggi di dunia Jujutsu. Jika mereka mati setelah itu, mereka akan mendapat kehormatan mati di medan perang.
“Jadi, apakah kalian masih mau bersembunyi di sini? Di tempat dimana kalian tidak akan mendapat apa-apa selain penghinaan?” tanya Satoru.
Beberapa dari ratusan manusia itu menggeleng.
“Jika kalian tidak keluar dari kuil ini, kalian akan kehilangan tempat baik itu di sisi Dewa maupun manusia. Aku yakin kalian sudah paham.”
“Iya, kami paham! Kami ingin keluar! Kami ingin kekuatan Klan Gojo diakui lagi! Kami ingin semua dosa kami diampuni! Kami tidak ingin menjadi aib di dunia Jujutsu!” kata sang sesepuh pemimpin doa tegas dengan suara gemetar. Dia lalu membungkuk, diikuti oleh ratusan manusia di belakangnya. “Kami mohon kepada anda, Gojo-sama. Bantu kami keluar dari keterpurukan ini. Tarik kami keluar dari kuil ini. Jika anda mau, hinalah kami dengan lisan dan katana sampai kami mau melangkah ke medan perang.”
Mendengar perkataan sang sesepuh pemimpin doa, Satoru teringat masa kecilnya. Saat dimana dia dikurung di dalam sangkar oleh para anggota klannya. Saat dimana dia kehilangan masa kecilnya akibat dipaksa untuk memenuhi peran sebagai dewa bagi umat manusia. Saat dimana dia dituntut untuk menghilangkan segala perasaan alamiah yang mengantarkan pada kelemahan demi menjadi entitas yang sempurna. Saat dimana tidak ada yang mendengarkan suara hatinya kala tubuh ringkihnya dipenuhi luka. Masa yang sangat menyakitkan untuk diingat. Satoru bisa saja membalas dendam atas perlakuan tidak pantas yang dulu dilakukan para anggota Klan Gojo terhadapnya. Dia bisa menghina mereka sepuasnya, juga menghukum mereka dengan katana sekarang. Toh mereka juga yang meminta untuk diperlakukan seperti itu. Tapi Satoru tidak mau melakukannya.
“Bangkit!”
Ratusan manusia itu lalu mengangkat kepala ketika mendengar perintah Satoru tersebut. Mereka diam sejenak sembari memandang kebingungan ke arah wajahnya.
“Aku bilang bangkit!”
Perintah kedua itu membuat mereka semua tersentak.
“Berdiri! Bangun dari sujud kalian! Berdiri!”
Satu per satu orang mulai bergerak meninggalkan sujud. Mereka mengangkat kaki setelah lama bersimpuh. Mereka berdiri setelah lama merendahkan diri di depan sang kepala klan. Perintah-perintah Satoru menciptakan sensasi menggebu-gebu dalam sanubari, yang membuat mereka merasa seperti sedang digerakkan ibarat wayang-wayang yang digerakkan oleh dalangnya.
“Angkat kepala kalian!”
Mereka lalu menegakkan kepala, juga tubuh mereka untuk menyamakan posisi dengan Satoru yang tengah berdiri tegak di atas panggung. Pandangan mereka lurus ke wajah Satoru yang tegas ke arah mereka.
“Dimana malu kalian?! Dimana kehormatan kalian?! Dimana jati diri kalian?! Dimana nama besar yang selama ini kalian agung-agungkan itu?! Bukannya kalian ingin keluar dari keterpurukan? Bukannya kalian tidak ingin menjadi aib di dunia Jujutsu?”
Beberapa anggota klan menjawab pelan. “Iya, anda benar.”
Satoru mengeraskan suaranya. “Dimana suara kalian semua?!”
“IYA!!!” Semua manusia di dalam kuil menjawab pertanyaan Satoru serentak, dengan nada tegas bak balasan para tentara terhadap perintah jenderal mereka, membuat dinding dan permukaan kuil bergetar akibat gema yang diciptakannya.
“Maka dari itu, bangkit dan cari nama besar itu lagi! Tanamkan kembali malu dalam diri kalian, dan raih kembali jati diri dan kehormatan yang telah hilang! Murnikan semua kutukan di luar sana! Beranikan diri kalian sampai kalian tidak lagi peduli apakah masih hidup atau mati di hari esok!”
Ratusan manusia itu terdiam mendengar seruan Satoru. Jantung mereka berdebar-debar sehingga mereka harus menarik napas berkali-kali untuk meredakannya. Namun, kali ini debaran itu tidak disebabkan rasa takut, melainkan gelora semangat yang berapi-api. Semangat untuk meraih kembali kehormatan dan jati diri yang hilang akibat bersikap pecundang. Mereka jadi tidak sabar untuk menginjakkan kaki mereka di atas medan perang.
“Bertekadlah! Ambil baju zirah kalian! Ambil senjata kalian! Bersiaplah! Kita akan berperang malam ini!”
Ratusan manusia itu serentak berseru lantang, membuat Satoru tersentak. Dia tidak menyangka para anggota klannya akan seantusias itu menyambut seruannya. Pikirnya, mereka tidak bisa lagi diselamatkan karena telah jatuh terlalu dalam ke jurang. Ternyata, mereka masih bisa keluar. Bukan karena mereka berhasil meraih uluran tangannya, namun karena mereka masih punya hasrat untuk hidup.
Mereka lanjut berseru untuk membuktikan semangat dan dedikasi mereka di depan sang kepala klan. Mereka tidak lagi peduli, juga tidak lagi takut dengan keadaan di luar. Suara petir yang menggelegar kalah oleh suara-suara seruan yang menggema di kuil. Cahaya merah bulan kalah oleh cahaya harapan yang dibawa Satoru. Mereka menangis sembari lisan mengucap seru. Itu bukan karena takut mati, melainkan sebagai wujud terima kasih kepada sang kepala klan karena telah membantu mereka keluar dari keterpurukan.
Satoru tersenyum menyaksikan pemandangan di depannya.
Ratusan anggota Klan Gojo berlari-lari di teras menuju halaman perumahan untuk membentuk formasi barisan di sana. Dengan mengenakan baju zirah serta membawa senjata, baik itu para pria atau wanita, semuanya terlihat tangguh. Tidak ada lagi ketakutan yang tercetak di wajah mereka seperti saat mereka mengurung diri di dalam kuil beberapa saat lalu.
Semua bersiap untuk maju ke medan tempur, kecuali satu pasang suami-istri renta, yang di tengah-tengah persiapan perang berjalan ke belakang rumah. Mereka tidak membawa senjata, juga tidak mengenakan baju zirah. Tubuh kurus keduanya hanya ditutupi yukata berwarna pudar.
Mereka mendatangi satu ruangan. Saat si wanita tua membuka pintu ruangan itu, dia dan suaminya mendapati Satoru yang tengah berganti pakaian. Sadar akan kehadiran lelaki itu, mereka langsung berlutut dan membungkuk. “Gojo-sama!” panggil si wanita tua, “Apakah perlu kami mengambilkan anda baju zirah?”
“Tidak, terima kasih. Aku pakai ini saja,” jawab Satoru yang tengah mengganti kimono-nya dengan seragam Jujutsu sembari menghadap ke cermin yang setinggi dirinya, “Seragam Jujutsu juga memiliki pertahanan terhadap kutukan, jadi aku akan baik-baik saja dengan seragam ini. Baju zirah hanya akan mempersulit pergerakanku nanti.”
“Baik,” balas si wanita tua. Setelah itu hanya menyisakan suara hujan dan gemuruh petir di tengah keheningan. Beberapa menit pasangan renta itu bertahan dalam posisi bersimpuh di depan pintu ruangan sampai Satoru selesai berganti pakaian.
Satoru tak lama menoleh ke pintu. “Masuk!” perintah Satoru kepada pasangan renta itu. Tanpa berlama-lama, mereka langsung masuk ke ruangan, lantas kembali bersimpuh. Satoru memantau kondisi di luar sebentar, lalu menutup pintu dari kejauhan dengan teknik Biru.
Kini hanya ada mereka bertiga di ruangan gelap itu.
Satoru beralih dari cermin, menghampiri pasangan renta yang tengah bersimpuh di depannya itu. “Ayah. Ibu,” panggilnya. Dia diam sejenak memandang pasangan renta yang merupakan kedua orang tuanya itu. “Apakah kalian ingat ketika aku bermain di teras depan kamarku ini saat masih kecil?”
Pasangan renta itu mengernyitkan dahi, mencoba mengingat momen yang dimaksud Satoru.
“Saat itu adalah pertama kalinya aku melihat makhluk kutukan. Makhluk itu mencoba menyerangku saat aku sedang bermain boneka kayu di teras. Saat itu aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis karena melihat rupanya yang mengerikan.” Satoru jeda kalimatnya sebentar. Dia lalu menatap telapak tangannya. “Aku ragu untuk menyerang balik karena aku takut. Tapi tak lama, Ibu dan Ayah datang untuk menenangkanku. Aku masih ingat sekali Ayah menembakkan Merah untuk membunuh kutukan itu, sementara Ibu memelukku untuk menenangkanku.”
Kerutan di dahi kedua suami-istri itu memudar. Mereka mulai ingat momen masa lalu yang diceritakan Satoru.
“Aku ingat pada saat itu, Ibu bilang ke aku, ‘Anda tidak boleh takut, Gojo-sama. Anda harus jadi orang yang pemberani. Sebab anda adalah pewaris Mata Enam, kekuatan turunan keluarga kita. Anda adalah pemimpin. Anda adalah Yang Terhormat. Anda harus jadi kuat karena anda adalah perlindungan dan harapan bagi umat manusia. Jika anda takut, maka anda akan menjadi lemah.’”
“Aku sudah ingat,” kata si wanita tua.
“Aku juga,” susul si pria tua.
“Dulu aku tidak paham dengan perkataan Ibu, tapi kini aku paham. Aku bahkan mengalaminya sekarang. Aku menjadi Yang Terkuat, dan seluruh penyihir Jujutsu menghormatiku. Aku menjadi kepala Klan Gojo menggantikan Kakek. Aku berpidato di depan kalian dan ratusan anggota klan lain di kuil tadi. Aku menyelamatkan kalian dari keterpurukan. Aku membawakan kembali harapan untuk umat manusia. Demi aku melindungi mereka seperti yang telah dititahkan kepadaku lewat anugerah Mata Enam. Semua perkataan Ibu waktu itu menjadi kenyataan.” Satoru menarik napas dalam, diam sejenak.
Jeda lelaki itu membuat si pria tua penasaran. Dia lalu memberanikan diri untuk mendongak. “G…Gojo-sama?” panggilnya, dan dilihatnya Satoru yang tengah tertunduk.
“Tapi, hanya satu yang tidak menjadi kenyataan,” lanjut Satoru.
Di saat orang tuanya bertanya-tanya dalam diam, Satoru mendekati mereka hingga tidak ada lagi jarak antara dia dan orang tuanya. “Ayah. Ibu,” panggil Satoru. Mendengar panggilan Satoru, pasangan renta itu mengangkat pandangan. Mereka terkejut setelah menyadari Satoru berdiri sangat dekat dari mereka. Pasangan renta itu jadi khawatir dengan apa yang mungkin Satoru akan lakukan terhadap mereka karena mereka mengira telah berbuat kesalahan.
Tiba-tiba, Satoru menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan orang tuanya. Pasangan renta itu terkejut melihat tindakan sang kepala klan yang tak disangka-sangka itu, sekaligus merasa tidak enak karenanya.
Mereka tidak berhak menjadi sejajar hanya karena mereka adalah orang tua Satoru.
Pernyataan itu sudah ditanamkan dalam diri sejak Satoru lahir ke dunia. Jadi, mereka ingin berdiri untuk menciptakan jarak, namun Satoru yang berhasil membaca gelisah orang tuanya menahan tangan keduanya agar tidak beranjak dari tempat bersimpuh. Akhirnya pasangan renta itu mengalah.
“Aku takut,” ucap Satoru pelan sembari matanya memandang lekat wajah orang tuanya yang telah dimakan usia, “Dari kecil sampai sekarang, aku masih penakut.”
“Gojo-sama,” panggil si pria tua mencoba bersimpati.
“Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas kebangkitan Sukuna, karena aku telah memberikan kesempatan hidup seorang anak yang menjadi wadahnya. Jadi, aku sendiri yang harus melawannya. Aku sendiri yang harus mengalahkannya. Demi menyelamatkan nyawa anak itu dan juga umat manusia.”
Saat mendengar kalimat Satoru tersebut, pasangan renta itu menyadari satu hal. Sejak lahir, anak mereka sudah menanggung beban yang sangat berat. Beban tanggung jawab kepada manusia untuk menjadi pemimpin dan pelindung bagi mereka yang mengharap padanya karena anugerah Mata Enam yang bahkan Satoru tidak pernah memintanya. Dengan tubuh kurusnya, Satoru mengangkat beban itu sendirian sampai dia dewasa. Pasangan renta itu kagum anak mereka masih bisa berdiri tegak. Tapi ternyata, Satoru tidak sekuat itu.
“Tapi, aku takut. Kekuatan Sukuna jauh melampaui kekuatanku. Aku takut tidak bisa mengalahkannya.” Satoru lalu membungkukkan badan. Suaranya bergetar. “Ayah, Ibu, sungguh anakmu ini lemah karena masih punya ketakutan dengan kutukan. Aku takut melawan Sukuna meskipun aku sudah tahu sejak lama kalau saat ini akan datang.”
“Gojo-sama.” Si wanita tua mengusap punggung Satoru yang mulai terisak untuk menenangkannya, khawatir dengan apa yang dirasakan anaknya itu saat ini.
“Ayah, Ibu, sungguh anakmu ini hanyalah seorang manusia biasa. Aku tidak sekuat itu untuk disamakan dengan Dewa. Berbeda dengan-Nya, aku hanyalah jasad yang terkutuk. Sejak kecil, manusia-manusia sudah menaruh ekspektasi kepadaku. Aku berusaha keras untuk mewujudkannya. Aku pikir aku sudah mewujudkan semuanya, tapi nyatanya tidak. Aku gagal memenuhi ekspektasi orang tuaku sendiri, yaitu menjadi pemberani.”
“Ayah. Ibu.” Satoru menarik tangan kedua orang tuanya, lalu menyentuhkannya ke wajahnya. “Maafkan aku karena belum menjadi pemberani. Maafkan aku karena belum menjadi sekuat ekspektasi kalian.”
Pasangan renta itu tertegun mendengar kalimat Satoru.
Orang yang kini membungkuk di depan mereka tidak sama dengan yang mereka lihat di depan gerbang beberapa waktu lalu. Dia bukan orang yang sama dengan yang tadi tampil gagah berpidato di depan ratusan manusia. Dia bukan orang yang sama dengan yang tadi bersuara tegas dan lantang menyuarakan semangat dan harapan untuk membangkitkan kembali klannya. Dia tidak sama dengan yang selama ini dielu-elukan sebagai Yang Terhormat dan Yang Terkuat. Karena sebenarnya orang yang kini membungkuk di depan mereka itu, yaitu sang kepala klan, hanyalah seorang manusia yang dipaksa untuk melampaui batas. Seorang manusia yang diharapkan menjadi pengampu bagi yang lemah kala dia sendiri tidak punya pengampu di saat jatuh. Seorang manusia yang sejatinya rapuh bak kayu yang dimakan rayap, yang terus bertahan untuk mempertahankan bentuknya agar semua yang disangganya tidak ikut roboh.
Pasangan renta itu jadi merasa bersalah karena telah menempatkan Satoru ke dunia yang penuh ketidakadilan dan kenistaan, dan semakin merasa bersalah saat mereka merasakan air mata Satoru menetes di tangan mereka.
“Tapi meskipun begitu, aku tidak takut mati.” Satoru lalu mengangkat tubuhnya, kemudian memandang wajah kedua orang tuanya dengan senyum tipis dan mata sembab. “Aku hanya takut kematianku sia-sia karena tidak berhasil mengalahkannya. Aku ingin mengalahkan Sukuna karena aku sudah lelah. Tidak peduli jika itu harus mengorbankan nyawa. Aku hanya ingin istirahat dari dunia terkutuk ini. Tidak apa-apa mati jika itu demi dunia yang lebih baik. Aku sudah siap.”
Mendengar perkataan Satoru, pasangan renta itu menitikkan air mata.
“Ayah. Ibu,” panggil Satoru lembut, “Sebentar lagi, komandan akan memanggilku untuk ikut serta dalam pasukan perang. Jadi, sebelum aku pergi, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian.”
“Anda mau menyampaikan apa?” tanya si wanita tua.
“Keinginanku. Aku ingin kalian mendengar keinginanku, dan aku juga ingin kalian melakukannya sebelum aku berangkat.”
“Apa itu?”
Satoru diam sejenak, tersenyum. “Aku ingin kalian memanggilku dengan ‘Satoru’”
Tangis si wanita tua pecah. Emosinya meledak mendengar keinginan anaknya tersebut.
Sejak kecil, kedua orang tua Satoru tidak pernah memanggilnya dengan namanya, kecuali pada saat pemberian nama setelah kelahiran, dan itu adalah satu-satunya. Satoru tidak marah, sebab orang tuanya hanya diatur oleh aturan klan, yaitu tidak memanggil para atasan, termasuk pewaris Mata Enam, dengan nama mereka. Karena aturan itu juga, Satoru tidak pernah dianggap sebagai seorang anak oleh mereka, melainkan sebagai seorang “dewa” sebagaimana anggota klan lain. Namun, meskipun orang tuanya tidak pernah menganggapnya sebagai anak, Satoru tetap menganggap mereka sebagai orang tuanya. Menurut aturan klan, sekalipun pasangan renta itu adalah orang tua Satoru, mereka tidak berhak memanggil Satoru dengan namanya. Mereka tidak berhak mendekatkan diri kepada Satoru. Mereka tidak berhak berada di posisi yang sejajar dengan Satoru, apalagi lebih tinggi darinya. Namun semua itu dilanggar oleh Satoru sendiri. Dia bersimpuh di depan orang tuanya, membungkuk di rengkuhan keduanya, dan sekarang dia menyuruh mereka untuk memanggilnya dengan namanya.
“Aku tidak tahu apakah setelah peperangan ini aku masih hidup atau tidak. Tapi, jika tidak, aku ingin mendengar kalian menyebut namaku untuk yang pertama dan terakhir kali. Aku ingin kalian menganggapku sebagai anak kalian sebelum aku mati. Apakah bisa?”
Si wanita tua tidak mampu menjawab sebab tangisnya begitu menyesakkan. Sebagai gantinya, dia langsung meraih badan Satoru dan membawanya ke dalam pelukan erat. Si pria tua juga ikut memeluk lelaki berpostur tinggi itu. Mereka tidak bisa lagi menahan tangis setelah mendengar keinginan Satoru. Begitu pula Satoru sendiri, tidak bisa lagi menahan tangisnya ketika mendengar tangisan orang tuanya menderas.
Sudah lama sekali mereka ingin melakukan ini, terutama si wanita tua. Sudah lama sekali dia ingin memeluk anaknya. Sudah lama sekali dia ingin mendengar curahan hatinya. Sudah lama sekali dia ingin memanggilnya dengan namanya. Dan Satoru mewujudkan keinginannya malam ini. Setelah 28 tahun menahan diri, akhirnya dia bisa mendekatkan diri kepada anaknya. Memeluknya, mendengar keluhannya, dan menganggapnya sebagai seorang anak.
“Maafkan Ibu, Satoru. Ibu minta maaf karena sudah membuatmu menderita begini. Ibu minta maaf karena tidak pernah menganggapmu sebagai anak. Ibu minta maaf karena tidak pernah menyayangimu selama ini. Maaf…maafkan Ibu yang tidak pernah menemanimu.”
“Maafkan Ayah juga yang selama ini selalu menekanmu dan menyakitimu untuk menjadi sesuai ekspektasi orang lain. Ayah sangat menyesal. Sekali lagi, Ayah minta maaf,” kata si pria tua juga ikut meminta maaf.
Si wanita tua lalu memukul punggung Satoru. “Bicara apa kamu tadi, Nak? Jangan sembarangan ngomongin mati! Jaga mulutmu! Jangan buat Ibu takut! Ibu tidak mau kehilanganmu. Ibu menyayangimu, Satoru.”
“Kau selalu saja tidak berpikir sebelum bicara. Jangan buat ibumu khawatir!” kata si pria tua.
Satoru tidak pernah diperlakukan seperti itu selama 28 tahun. Dia diam membungkuk, sementara ibu dan ayahnya mengomel kepadanya, memarahinya, dan memukul-mukul punggungnya. Dia tidak marah, sebab dengan perlakuan seperti itu menandakan bahwa dia tidak lagi diperlakukan sebagai “dewa”, melainkan seorang manusia biasa yang juga bisa mendapat marah dari orang lain. Jauh dalam lubuk hatinya, Satoru senang. Dia ingin diperlakukan seperti itu selamanya. Sang kepala klan adalah penyihir terkuat dan terhormat di dunia Jujutsu, namun dia begitu rendah dan rapuh di depan kedua orang tuanya.
Satoru mengangkat tubuhnya, lalu dipandangnya wajah kedua orang tuanya lagi sembari tersenyum. “Ayah, Ibu, terima kasih. Perasaanku lebih baik sekarang. Aku sudah tidak takut lagi. Aku menyayangi kalian.”
Beberapa saat setelah tangisan ketiganya mereda, terdengar seseorang mengetuk-ngetuk pintu, juga suara langkah-langkah kaki yang mendekat. Itu adalah seorang komandan dan beberapa prajurit lain yang datang untuk memanggil Satoru untuk bergabung ke pasukan perang.
“Gojo-sama. Formasi sudah siap. Kami mengharap kehadiran anda untuk memimpin pasukan,” kata sang komandan dari luar.
Mendengar dirinya dipanggil, wajah Satoru seketika berubah serius. Dia lalu berdiri, kemudian membuka pintu ruangan itu dengan Biru. Sang komandan dan para prajurit yang berdiri di depan ruangan terkejut melihat Satoru tengah bersama orang tuanya.
Sang komandan berkata canggung. “Eh…Gojo-sama, maaf kalau kami mengganggu waktu anda. Jika anda belum selesai dengan urusan anda, maka tidak apa — ”
“Tidak, aku sudah selesai,” celetuk Satoru, “Aku akan bergabung ke pasukan sekarang. Kalian, bersiaplah!”
“Baik!” balas sang komandan dan para prajurit serentak.
“Aku juga harus bersiap untuk perang,” kata si pria tua.
“Aku juga,” susul si wanita tua, “Permisi, Satoru. Aku dan Ayah mau pergi ke kamar du–”
Pasangan renta itu terkejut melihat Satoru tiba-tiba merentangkan tangan kanannya dan menghalangi jalan mereka. Keduanya mendongak, menatap mata Satoru kebingungan.
“Jangan ikut berperang,” kata Satoru.
“Ke…kenapa?!” tanya si wanita tua.
Satoru tidak ingin dua pasang mata yang sedang dia tatap tegas itu tidak bisa lagi dia lihat warnanya besok. Satoru tidak ingin dua tubuh renta yang sedang dia halangi untuk tidak melangkah keluar kamar itu tidak bisa lagi dia lihat wujudnya besok. Satoru tidak ingin dua pemilik suara yang telah memanggilnya dengan namanya tidak bisa lagi dia dengar suaranya besok. Satoru tidak ingin kehilangan orang tuanya karena melibatkan diri dalam peperangan yang dia ciptakan sendiri.
“Tetaplah di sini. Jaga rumah kita dan anak-anak kecil di dalamnya. Berbahaya meninggalkan mereka sendirian saat peperangan berlangsung.”
Tidak terima dengan larangan Satoru, si wanita tua melawan. “Tapi, semua anggota klan ikut berperang. Kami ingin ikut. Bukannya kau bilang kita harus menjunjung tinggi kehormatan mati di medan perang? Kenapa kau malah melarang kami?”
“Jangan melawan!” seru Satoru tegas mengagetkan kedua orang tuanya, “Keputusanku sebagai kepala klan adalah mutlak. Tidak boleh ada yang menentang. Bukankah sudah seperti itu aturan Klan Gojo?”
Satoru lalu menunjuk dua dari para prajurit yang datang kepadanya “Aku ingin kalian tinggal di sini dan menjaga mereka berdua. Jangan biarkan mereka keluar perumahan.”
“Siap, Gojo-sama!” Balas dua prajurit itu. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan, kemudian memegang tangan pasangan renta itu, menahan mereka.
“Lepaskan kami!” seru si wanita tua berontak. “Kami ingin ikut perang!”
“Maaf, tapi ini perintah dari Gojo-Sama. Kalian dilarang untuk ikut.”
“Aku tidak peduli! Satoru, jangan begini. Perintahkan dua prajurit ini untuk membebaskan kami! Izinkan kami ikut berperang bersamamu!”
“JAGA MULUTMU, WANITA TUA!” bentak salah satu prajurit. “Apa hakmu memanggil dia dengan namanya?! Apa hakmu untuk memerintah kepala klan?! Siapa kau baginya?!”
“AKU IBUNYA! AKU ADALAH ORANG YANG MELAHIRKANNYA KE DUNIA TERKUTUK INI! TANPA AKU, TIDAK AKAN ADA PEWARIS MATA ENAM!” Suara si wanita tua bergetar karena berteriak sambil menangis. Dia sudah kelewat marah. “DAN AKU SEBAGAI IBUNYA BERHAK UNTUK MEMANGGILNYA DENGAN NAMANYA. AKU JUGA BERHAK UNTUK MEMERINTAHNYA! KALIAN LAH YANG BUKAN SIAPA-SIAPANYA!”
“DIAM KAU! JANGAN MERASA TINGGI HANYA KARENA KAU ADALAH ORANG TUANYA!” Dua prajurit itu lalu mendorong paksa pasangan renta itu menjauh dari Satoru. Namun, si wanita tua kembali berontak. Dia paksa dirinya untuk kembali mendekat ke Satoru hingga dia berhasil menggenggam tangannya.
“Hei, kau! Lepaskan! Dasar kurang ajar!” perintah salah satu prajurit sembari menahan tubuh wanita tersebut.
Si wanita tua tidak mendengarkan perintah prajurit itu. Dia tetap menggenggam erat tangan Satoru yang membelakanginya. “Satoru,” panggilnya, “Tolong pikirkan lagi keputusanmu. Kami ingin ikut berperang dan meraih kehormatan mati di medan perang bersamamu. Jadi, izinkanlah kami untuk menjemput ajal bersamamu. Lebih baik Ibu ikut mati daripada harus hidup dengan kehilangan anak semata wayangku.”
Satoru hanya diam.
Dia mempertegas keputusannya atas orang tuanya. Larangan itu dimaksudkan untuk menyelamatkan mereka. Mereka sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan peperangan ini, bahkan dengan ratusan anggota Klan Gojo sekalipun. Peperangan ini hanyalah antara dia dan Sukuna. Sebagai yang mengemban tanggung jawab, dia sendirilah yang harus mengakhirinya. Larangan itu juga dimaksudkan sebagai wujud terima kasih Satoru kepada orang tuanya, karena telah memanggilnya dengan namanya, menganggapnya sebagai anak, dan memperlakukannya sebagai manusia. Meskipun tidak lama.
Satoru lepas genggaman erat ibunya dengan paksa, lalu melangkah keluar kamar tanpa melihat ke arahnya dan ayahnya lagi.
“SATORU!” panggil si wanita tua lantang, “SATORU, KEMBALI!”
Namun, Satoru tidak membalas panggilan itu. Dia terus melangkah sembari memerintah pasukannya. Berkali-kali si wanita tua berusaha untuk memalingkan perhatian anaknya dengan meneriaki namanya, namun Satoru tidak acuh dan terus melangkah menjauh. Berkali-kali dia memberontak untuk meraih tangan Satoru lagi, namun prajurit selalu berhasil menahannya. Dia sudah terlalu lemah. Tubuhnya begitu kurus dan tua.
“Sudahlah, Bu. Jangan memberontak lagi. Biarkan Satoru pergi,” kata si pria tua sambil terisak. “Kita harus patuh pada kepala klan…jangan melanggar lagi.”
Si wanita tua menggeleng. “Tidak, tidak mau! Satoru, tolong jangan pergi lagi. Selama bertahun-tahun, Ibu menunggumu pulang di teras rumah. Kumohon tinggallah lebih lama lagi di sini.” Wanita itu terlalu keras memberontak, sehingga dia terjatuh ke lantai karena prajurit tak dapat lagi menahan tubuhnya.
“Satoru, berjanjilah pada Ibu untuk pulang setelah perang! Satoru, jawab ibumu ini!” Tangis si wanita tak terbendung. Suaranya sudah parau. Dia tidak bisa lagi berteriak. “Satoru, pulang, nak!”
Si wanita tua tetap menyuruh untuk pulang walaupun dia sudah tidak melihat Satoru di depan ruangan lagi. Lelaki itu, yang beberapa saat lalu datang membawakan harapan dan jati diri kepada Klan Gojo yang putus asa demi melawan Sang Raja Kutukan, kini telah berangkat ke medan perang bersama ratusan prajuritnya.
Sang Kepala Klan telah pergi.
Maafkan aku, Ayah, Ibu. Tapi, aku tidak berjanji untuk pulang. Jika aku mati malam ini, maka berbahagialah. Sebab, anakmu ini telah berhasil meraih kehormatan, dan aku harap semoga kita bisa bertemu dan berkumpul lagi di surga nanti, sebagai keluarga kecil yang bahagia.
