Work Text:
“Ini. Untukmu.”
Wolfwood terbangun dari lamunannya setelah Vash secara tiba-tiba menyodorkan tangan prostetiknya ke depan wajahnya. Dia lalu mengambil sebuah bungkusan kecil dari tiga jari logam teman blondenya itu. “Uh, makasih,” balasnya.
Wolfwood mengarahkan bungkusan kecil pemberian Vash ke arah sinar matahari, mengintip isinya dari bagian transparan bungkus tersebut. Di dalamnya ada semacam potongan batu kecil berwarna merah. Objek itu tembus pandang sehingga memperlihatkan bulir-bulir air yang membeku di dalamnya. Penasaran, dia lalu membuka bungkusan itu untuk mengambil objek mirip batu tersebut. Kedua jarinya terasa lengket begitu memegang permukaannya.
Wolfwood sebenarnya sudah tahu kalau yang ada di genggamannya sejak awal adalah sebuah permen. Dia biasanya menemukan camilan itu dijual di beberapa toko di Kota July. Namun, untuk permen dengan penampilan seperti yang dipegangnya saat ini, dia belum pernah melihatnya. Dia jadi penasaran dengan rasanya.
“Rasa apa ini?” tanya Wolfwood.
“Rasa stroberi. Coba saja,” jawab Vash.
“Stroberi?”
Wolfwood belum pernah mendengar kata itu seumur hidupnya. Apa itu stroberi? Sejenis minuman? Buah? Sayuran? Atau perisa sintetik? Namanya, entah kenapa, terdengar futuristik, seperti nama dari suatu penemuan sains terbaru di planet Nomansland. Meskipun dalam hati bertanya-tanya, Wolfwood tidak ragu untuk memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Dia percaya Vash tidak akan meracuninya—ayolah, tidak mungkin si blonde yang sangat baik hati ini mencelakai teman sepetualangannya. Selain itu, mengapa seseorang yang kesehariannya mengosumsi serangga Worm harus takut dengan sebuah permen, terlepas dari bagaimanapun penampilannya?
Wolfwood mengulum permen itu pelan-pelan untuk mengecap rasanya. Tak lama gerakan mulutnya terhenti. Permen itu kini berdiam di atas lidahnya. Pandangannya terpaku pada tiga jarinya yang masih lengket, tenggelam dalam renungan. Vash yang duduk di samping sembari menunggu komentar soal permen pemberiannya melihat pria berkacamata hitam itu keheranan.
“Wolfwood?”
"Eh, uh, apa? Kenapa?" Wolfwood tersentak, dengan cepat menoleh ke arah Vash.
"Harusnya aku yang bertanya begitu."
Wolfwood terdiam sejenak. "Permen ini…" Dia kembali mengecap permen di mulutnya. "Aku pernah memakan permen ini sebelumnya.”
Vash mengangkat alisnya. “Benarkah?”
“Iya.” Wolfwood menatap balik mata biru kehijauan Vash yang terbelalak. “Kenapa reaksimu begitu?”
Vash menggaruk kepalanya. “Ah, tidak. Bukan apa-apa, kok.” Tawa kecil keluar dari senyum canggungnya. “Omong-omong, permennya enak, tidak?”
“Enak,” jawab Wolfwood pendek.
Wolfwood menghanyutkan diri dalam pikiran sembari mulutnya mengecap permen stroberi yang masih utuh, mencoba untuk mengingat kapan dia pernah memakan camilan tersebut. Satu sisi dalam dirinya ragu dengan alasan mungkin itu hanyalah rasa yang mirip dengan rasa permen yang dulu pernah dia makan. Namun, rasa penasaran terus mendorongnya untuk mencoba mengingat. Saking seriusnya berpikir, dia sampai mengabaikan kehadiran perampok gurun yang beraksi di depan matanya. Vash sudah mengguncang tubuhnya untuk mengajaknya menghentikan para perampok gurun itu, tapi dia hanya menolak singkat. “Tidak. Nanti saja.”
Beberapa menit berlalu, Wolfwood akhirnya teringat. Rupanya, dia pernah memakan permen itu saat masih tinggal di panti asuhan pada kira-kira umur enam tahun. Sudah lama sekali. Namun, entah bagaimana dia masih mengingatnya. Permen itu memang memiliki rasa manis yang khas, rasa manis yang tidak didapatkan dari permen apapun yang dijual di seluruh penjuru Nomansland. Kekhasan rasanya membekas dalam ingatannya tanpa dia sadari.
Wolfwood mengingat momen dimana dia pertama kali memakan permen stroberi itu. Saat itu, dia sedang bermain di halaman depan panti asuhan bersama teman masa kecilnya, Livio. Lalu, seorang pria dewasa yang entah darimana datang menghampiri mereka berdua dan menawari dua permen berwarna merah. Sisi anak-anak mereka kegirangan. Keduanya langsung menerima permen pemberian orang tersebut tanpa sedikit pun takut dan curiga kalau dia adalah orang asing dari luar panti yang bisa saja berniat jahat.
Sekarang rasa penasaran Wolfwood telah terjawab. Dia sudah tahu kapan dia pernah memakan permen stroberi pemberian Vash. Meskipun begitu, satu pertanyaan baru muncul dari mengingat masa kecilnya barusan. Dia merasa kalau pertanyaan itu tidak penting untuk diketahui jawabannya mengingat momen itu sudah terjadi belasan tahun lalu. Toh, permen yang dulu dia makan tidak meracuni dirinya dan Livio. Namun, dia tetap penasaran. Adanya waktu luang juga mendukung untuk lanjut merenung.
Siapa orang asing yang dulu memberi permen stroberi?
Wolfwood kembali menghanyutkan diri ke dalam memori masa kecilnya dimana dia dan Livio bermain di halaman panti asuhan. Samar-samar dia mengingat penampilan fisik orang asing yang mendatanginya belasan tahun itu. Beberapa saat setelah berusaha menyusun keping-kepingan memori, Wolfwood hanya bisa mengingat dua hal darinya, yaitu jaket panjang berwarna merah yang sangat kontras dengan warna pasir gurun dan tangan prostetik berwarna hijau tembaga. Orang asing berjaket merah itu memberinya dan Livio dua permen stroberi dengan tangan prostetik hijau tembaga. Perlahan Wolfwood mengangkat kepalanya, bangun dari renungannya. Pandangannya tertuju ke hamparan gurun yang luas dan tandus. Di sana, sebuah pusaran angin menghambur pasir ke udara, berputar-putar seperti jaket merah dan tangan prostetik hijau tembaga di pikirannya saat ini.
Wolfwood familiar dengan kilasan masa kecilnya itu. Si jaket merah memberi permen stroberi dengan tangan prostetik hijau tembaga, batinnya. Baru beberapa menit lalu dia mengalami skenario itu. Dia perlahan menoleh ke kanan. Vash di sampingnya tengah asik memakan potongan-potongan pizza yang tersisa di kotak.
Sadar Wolfwood tengah melihat ke arahnya, Vash berhenti mengunyah, balas memandang pria berkacamata hitam itu. “Ada apa, Wolfwood?” tanyanya dengan mulut yang penuh dengan pizza.
Wolfwood menggulirkan mata, menelaah penampilan Vash dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Seumur hidupnya berbaur dengan orang-orang Nomansland, hanya teman blondenya itu yang berpenampilan seperti orang asing di ingatan masa kecilnya, sekaligus menjadi orang dengan penampilan paling mencolok yang pernah dia lihat di seluruh penjuru gurun. Dia mengusap pelan bagian bawah wajahnya. Keyakinannya bertambah, meskipun refleksi wajah Vash tidak tampil di ingatannya seperti pada lensa hitam kacamatanya. Namun, keraguan masih tersisa dalam hatinya. Jika benar pria dewasa yang memberinya permen stroberi saat masih kecil adalah Vash, tidakkah seharusnya fisiknya terlihat lebih tua?
Perasaannya mendadak aneh, sulit dijelaskan.
“Wolfwood?”
Wolfwood tertegun memandangi asal panggilan atas namanya, Vash, teman blondenya yang berjaket merah dengan tangan kiri prostetik hijau tembaga dan wajah yang sangat muda.
"Serius... itu kau?" Wolfwood bertanya dengan suara rendah
"Hah? Apa maksudmu?" Vash memiringkan kepala, mengukir senyum miring.
"Kau ini sebenarnya siapa, Vash?"
“Eh?”
Vash menggaruk kepalanya, tertawa canggung. Dia selalu gugup jika ditanya mengenai identitasnya. Dia bingung mendengar pertanyaan Wolfwood. Lebih tepatnya, tidak ingin menjawab. Dia berpikir belum saatnya Wolfwood tahu lebih dalam soal dirinya.
