Actions

Work Header

『好きだから』 I Like You

Summary:

Kau tidak perlu menjadi keren sebab aku menyukaimu bukan hanya karena kau itu keren.

Kau tidak perlu menjadi cantik sebab aku menyukaimu bukan hanya karena kau itu cantik.

Notes:

Disclaimer:
-Cerita ini hanyalah fiksi semata dan bersifat gratis, penulis tidak mengambil keuntungan apa pun.
-Karakter atau tokoh yang digunakan dalam cerita ini adalah milik Hajime Isayama (Mangaka of Attack on Titan).
-Gambar lain pada mood board diperoleh dari pinterest.
-Cerita ini dipersembahkan untuk semua orang yang menyayangi Mikasa Ackerman dan Eren Jaeger, dan secara khusus dipublikasikan pada event #AOTFFWeek2023 yang diselenggarakan oleh @aotficfess, dengan prompt DAY 1: High School / College.
-Inspired by song: 好きだから。(Sukidakara) by ユイカ(Yuika).

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



 

♥♥

Please be a hero just for me 

♥♥

 

SEIRING bertambah usia, entah mengapa aku merasa ada hal yang begitu membingungkan di dalam dada. Lebih tepatnya ketika aku melihat sosoknya. Sosok lelaki yang bisa dibilang bertetangga denganku sejak kecil. Sosok lelaki yang memiliki fitur wajah bulat dengan dagu sedikit meruncing, bola mata keabuan, dan rambut berwarna hitam. Sosok yang terkadang bersikap dingin di depan orang lain dan sering menjadi bahan ejekan karena dianggap sok pintar. Dan, sosok yang kini tinggi badannya telah jauh melampaui tinggi badanku, entah sejak kapan.

Menyangkut perasaanku yang tidak menentu ini, aku juga tidak tahu kapan tepatnya aku merasakannya.

Apakah karena aku yang berumur tujuh tahun hampir diculik oleh seseorang, dan dengan nekatnya dia yang bersembunyi di balik tembok mulai menghidupkan suara sirene mobil polisi dari mainan yang dia bawa ke sekolah sehingga membuat penculiknya panik serta meninggalkanku begitu saja? 

Apakah karena aku yang melihatnya tersenyum cerah di hadapan anak kucing dalam perjalanan menuju ke sekolah, sementara dia selalu bersikap cuek terhadap siapa saja?

Apakah karena dia yang memberiku syal ketika aku kedinginan sebab orang tuaku tak kunjung datang untuk menjemputku pulang dari tempat les?

Aku tidak tahu.

Aku telah menghabiskan waktu dalam momen yang kebetulan sama … bersama dengannya, selama hampir 12 tahun lamanya. Hanya saja, kami tidak pernah benar-benar mengobrol. Rasanya malu sekali. Mengirim pesan di LINE saja aku tidak berani jika bukan untuk urusan yang penting.

Kini aku dan dia berada di tingkat terakhir sekolah menengah atas. Berdasarkan undian, dia duduk di depan dan aku di belakangnya. 

Apakah ini kebetulan? Lagi-lagi aku tak mempunyai jawaban. Hanya saja, aku akan menganggap ini sebagai keajaiban.

Perasaanku yang tidak keruan terhadapnya ini pun telah membuatku melakukan banyak hal hanya demi mendapatkan secuil perhatiannya.

Sejak aku nyaris diculik, aku meminta kepada ayahku untuk didaftarkan dalam kelas bela diri seperti yang dilakukan oleh sepupuku, Levi. Yang awal mulanya hanya ingin bisa melakukan pertahanan diri, justru beberapa kali aku jadi mengikuti kompetisi. Dia pun selalu hadir tanpa pernah aku minta.

Sejak aku tahu dia menyukai kucing, aku selalu menyelipkan makanan kucing kemasan saset di tempat bola bulu itu selalu berkumpul di jalan menuju ke sekolah. Dari kejauhan, aku dapat melihatnya tersenyum sumringah. Dan, terkadang aku menemukan pesan yang dituliskan di secarik kertas berbunyi: “Terima kasih karena sudah mau peduli pada kucing-kucing ini”. Tentu saja hal itu membuat aku senang bukan kepalang dan aku menyimpan semua kertas dengan tulisan tangannya itu di laci meja belajarku di rumah.

Sejak aku diberikan syal olehnya, kukira aku harus mengembalikannya setelah mencuci bersih syal itu. Namun, dia berkata padaku untuk menyimpannya saja sebab syal itu lebih cocok bila aku yang memakai, katanya. Lantas aku selalu membawa syal berwarna merah tersebut ke mana-mana, dan memakainya terutama saat musim dingin tiba.

Akan tetapi, masih banyak pula hal-hal yang menurutku cukup bodoh untuk kulakukan dan lebih baik aku pendam sendiri. Misalnya saja aku yang memakai parfum sampai aku terbatuk, hanya demi dia menyadari kehadiranku. Aku yang selalu mengintip di jendela kamarku saat hari libur tiba, hanya demi melihat wajahnya yang tersenyum sambil menggendong kucing piaraan di halaman rumahnya. Aku yang selalu membatin “Sampai jumpa!” untuk melepaskan kepergiannya bersama teman-teman klub basketnya. Aku yang selalu membayangkan akan meneleponnya dan mengajak bicara sampai tertidur, namun kenyataannya aku tidak memiliki keberanian. Dan, aku yang sering melakukan simulasi untuk menyatakan perasaanku yang sesungguhnya, tetapi selalu berakhir dengan “Mungkin belum waktunya”.

Eren Jaeger … aku menyukaimu.

Aku ingin kau menyadari perasaanku.

Aku ingin kau selalu melihat ke arahku.

Aku ingin kau menjadi milikku.

Aku ingin kau menjadi satu-satunya pahlawan untukku.

Kau tidak perlu menjadi keren sebab aku menyukaimu bukan hanya karena kau itu keren. Justru kau menjadi keren karena aku yang menyukaimu. Kau menjadi terlihat keren karena kau adalah seleraku. Kau menjadi sangat keren karena kau berhasil mencuri hatiku.

Ah, aku benar-benar tidak bisa berhenti menyukai Eren.

Bagaimana ini? Mengapa rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan padanya bahwa aku suka?

Dan, kuharap kau tidak salah paham dengan pertanyaan secara implisitku perihal bagaimana caranya membuat seorang laki-laki itu paham jika ada sosok perempuan yang tertarik padanya. Sebab sepertinya lelaki itu selalu menampilkan wajah yang datar, meskipun sifatnya terkadang membuat perasaan lawan bicaranya menghangat.

 


 

♥♥

Won't you be a heroine just for me?

♥♥

 

PERNAH aku mendengar bahwasanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu hanya segelintir saja yang benar-benar tulus dilandasi niat bersahabat. Lantaran sebagian besar salah satunya akan memendam rasa yang berbeda, bahkan bisa saja keduanya yang merasakan hal serupa. Namun, sayangnya tak semua kisah sahabat jadi cinta akan berakhir bahagia, ‘kan?

Aku tak tahu kapan tepatnya hatiku merasakan perasaan yang berbeda tatkala melihatnya. Terkadang dia terlihat begitu mungil dan menggemaskan sehingga aku ingin sekali memasukkannya ke dalam saku, padahal dulu dia lebih tinggi dariku. Terkadang dia terlihat begitu manis, apalagi saat dia tersenyum dan menunjukkan deretan giginya yang putih serta rapi. Dan, seringnya dia terlihat cantik dengan rambut hitam yang terkadang dibiarkannya terurai, sesekali dikepang, sesekali diikat seperti ekor kuda, dan terkadang dibiarkan menutupi seluruh bagian wajahnya saat dia habis menangis karena tak ingin terlihat matanya membengkak.

Pertemuanku dengannya terjadi saat aku berada di sekolah dasar. Dia hampir saja diculik oleh seseorang karena diiming-imingi sebuah permen tangkai berukuran besar. Aku yang selalu diingatkan oleh ibuku untuk tidak pernah menerima pemberian orang tidak dikenal lantas berinisiatif mengerjai sang penculik dengan suara sirene mobil mainanku. Kebetulan, ayah baru saja membelikannya dari luar kota dan suara sirenenya memang persis suara sirene mobil polisi sungguhan. Aku saja terkejut saat pertama kali memainkannya. Setelah sang penculik berlari terbirit-birit, aku menghampiri dia yang wajahnya sudah dipenuhi air mata. Aku pun merebut permen dari genggamannya, melemparkannya ke tanah, serta menginjak-injaknya. Kemudian aku menunggu sampai dia selesai menangis. Dia menggumamkan terima kasih dengan suara yang sangat halus sekali, nyaris saja aku tidak mendengarnya. Lalu aku menawari untuk mengantarkannya pulang. Anehnya, jalan menuju ke rumahnya sama persis dengan tujuanku yang seharusnya. Sebab ternyata, keluarganya menempati rumah yang sudah lama kosong di dekat rumahku.

Uniknya lagi, kami selalu berakhir bersekolah di tempat yang sama pula. Terkadang sekelas, terkadang terpisah kelas. Namun, sesungguhnya kami tidak pernah benar-benar mengobrol. Paling-paling hanya membahas tugas atau membahas kegiatan sekolah yang melibatkan banyak orang layaknya festival musim panas ataupun acara tukar hadiah yang dilakukan di malam natal.

Pernah suatu hari aku tanpa sengaja memergokinya menyelipkan makanan kucing di dekat pohon tempat kucing-kucing biasa berkumpul di sepanjang jalan menuju ke sekolah. Aku mengintipnya dari kejauhan. Dia pun menoleh ke kanan dan kiri seakan tidak ingin ada orang lain yang melihat. Dan, menurutku itu lucu sekali. Alhasil, setelah kepergiannya aku mencoba meninggalkan secarik kertas yang kulipat sedemikian rupa agar tidak terbang terbawa angin. Karena aku berharap dia akan menemukannya.

Kembali lagi ke masa sekolah dasar, tepatnya di akhir musim gugur. Angin berembus dengan begitu kuatnya dan aku melihat dia sedang berdiri menunggu dijemput orang tuanya di depan tempat les matematika sambil menggosok-gosok tangan mungilnya serta meniup dengan mulutnya. Dia terlihat kedinginan karena tidak menggunakan syal dan sarung tangan. Aku yang melihatnya dalam kondisi seperti itu merasa kasihan. Akhirnya, aku melepaskan syalku dengan terburu-buru dan melilitkan di lehernya sebisaku sambil berjinjit karena aku harus segera menaiki bus jemputan khusus yang sudah menunggu di pinggir jalan. Aku tidak mengingat jelas apa yang dia ucapkan saat itu karena aku sudah berlari sekuat tenaga untuk menembus udara dingin. Dan, beberapa hari kemudian dia menyambangi mejaku untuk mengembalikan syal tersebut. Namun, aku menolaknya dengan berkata bahwa syal itu lebih cocok digunakan olehnya. Aku sudah terlanjur berbohong pada ibu jika syal itu hilang, rasanya aneh jika benda berwarna merah itu tiba-tiba kembali. Aku harus berbohong dengan cara apa lagi? Pikirku.

Sejak saat itu, dia justru terlihat sangat menyukai syal pemberianku dan membuat hatiku berdesir tatkala melihatnya. Namun, aku tidak begitu mengerti dan tidak ingin ambil pusing. Hanya saja, seiring bertambahnya usia, perkembangan pola pikir manusia ikut berubah juga, ‘kan? Semuanya dilandasi dengan ilmu atau pengetahuan, mendengar berbagai kisah pengalaman orang lain, serta mulai merasakan sendiri perbedaan cara pandang terhadap lawan jenis, dan mulai mempertanyakan sebenarnya aku dan dia ini benar berteman atau tidak? Bersahabat atau tidak? Apakah hanya aku sendiri saja yang menganggapnya lebih dari sekadar kenalan atau tetangga?

Dia tampak cuek-cuek saja saat aku memandang ke arahnya, meskipun setelahnya dia akan cepat membuang muka. Dia tampak mudah tertawa bersama teman lainnya, padahal saat berada di dekatku dia akan bersikap agak canggung. Dia tampak seperti gadis tomboi yang kuat dan tak mengenal takut, namun anehnya aku beberapa kali mendapati dia menangis di tangga seorang diri.

Tetapi, sayangnya aku mendadak bingung untuk harus mengambil tindakan yang bagaimana.

Mengapa aku tidak bisa seperti diriku yang dulu dan membantunya tanpa memikirkan beban perasaanku terhadapnya?

Ah, rasanya aku nyaris gila.

Aku sangat menyukainya.

Aku sangat menyukai Mikasa.

Tetapi, aku tak tahu bagaimana caranya untuk bisa mengungkapkan perasaan suka yang berkembang bak tanaman diberi pupuk ini.

Yang bisa kulakukan setiap harinya di kamarku adalah melakukan simulasi dengan membayangkan dirinya ada di hadapanku.

Mikasa Ackerman … aku sangat menyukaimu.

Aku ingin kau menyadari perasaanku.

Aku ingin kau selalu melihat ke arahku.

Aku ingin kau menjadi milikku.

Aku ingin kau menjadi heroine di dalam hidupku.

Kau tidak perlu menjadi cantik sebab aku menyukaimu bukan hanya karena kau itu cantik. Justru kau menjadi cantik karena aku yang menyukaimu. Kau menjadi terlihat cantik karena kau adalah seleraku. Kau menjadi sangat cantik karena kau yang mencuri hatiku.

Aku selalu ingin memamerkan kepada semesta bahwa dia adalah pacarku. Aku selalu ingin mengajaknya berkencan. Aku selalu ingin mengajaknya menonton film bersama. Aku selalu ingin menggenggam tangannya. Aku selalu ingin tertawa bersamanya dan mengucapkan “Bye bye” tatkala harus berpisah untuk mengikuti kegiatan klub masing-masing. Aku selalu ingin masuk dalam cerita hidupnya. Dan, aku ingin menjadi satu-satunya yang menghapus air matanya saat dia menangis. Bahkan sebisa mungkin aku tak ingin melihatnya menangis lagi.

Akan tetapi, mengapa rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan perasaanku padanya? Mengapa selalu saja aku sampai pada kesimpulan, “Nanti sajalah. Jangan sekarang.” dan berakhir dengan aku yang berguling-guling di dalam futon.

Hal itu pun disebabkan oleh kebingunganku yang tempo hari dihampiri olehnya, dan tiba-tiba saja dia bertanya tentang lelaki lain. Ya, aku berpikir bahwa sepertinya ada orang yang sedang dia dekati, namun lelaki itu tidak menyadari perasaannya.

Dalam hati aku menjerit tidak keruan. Rasanya sangat tidak rela sekali.

Hei, Mikasa … tolong jangan menyukai orang lain.

Tolong jangan jatuh cinta dengan orang lain.

Kau tahu … aku selalu berusaha menunjukkan penampilan terbaik agar kau dapat memperhatikanku. Bahkan aku rela merapikan rambutku dengan memakai gel rambut hingga akhirnya terasa lengket di sore hari.

Hei, Mikasa … aku mencintaimu.

 

 

Fin.

Notes:

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan cerita ini.
Silakan tinggalkan kritik dan saran atau apa pun yang kalian pikirkan tentang cerita ini di kolom komentar, ya.

Terima kasih banyak <3