Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-11-12
Words:
591
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
18
Bookmarks:
3
Hits:
153

Senandung

Summary:

Pada siang hari di sebuah padang rumput, entah mimpi atau bukan, kedua sosok yang saling mencari kembali bertemu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Apa yang bisa ia lakukan ketika angin berhembus di antara rerumput padang bunga bersama dengan helaian hijau yang ia damba?

Ia terdiam; bukan karena halusinasi akibat kering hebat di tenggorokannya.

Ia terdiam; memastikan dengan jeli bahwa apa yang ada di hadapannya bukan tipu muslihat dewa-dewi untuknya lagi. Tidak, pikirnya, seakan  mengambil keabadian dari dirinya tidak lebih dari cukup.

Ia terdiam; terpana, membeku. Bahwa sosok di hadapannya adalah kenyataan yang mereka ambil darinya. Kenyataan yang membawanya pergi ke Dunia Bawah mencari cara untuk merebut kembali dari kematian.

Angin terus berhembus, cukup kencang sampai gemerincing perhiasannya menarik perhatian sosok jauh di sana. Ia tercekat—akhirnya menyadari bahwa yang ada di hadapannya kini menatapnya balik di antara tirai sinar mentari. 

Alkisah hidup seorang raja dan binatang buas. Mereka adalah setara yang diberkahi para dewa. Mereka berpetualang, berpesta, menaklukan alam bersama. Namun, para dewa tidaklah berkenan dengan tindakan Sang Raja dan memberikan hukuman kepada rekannya. Ia jatuh sakit, perlahan demi perlahan melayu, ia dimakan serangga, ia kembali menjadi debu. Ia menangis dalam kesakitan sampai kematiannya.

Sang Raja berkabung. Mereka mengambil nyawa dari selempeng tanah yang diberikan kepadanya. Lempengan tanah itu dulu adalah sahabatnya, senjatanya, belahan dirinya yang lain.

Kini, perang telah usai. Cawan Suci bukan lah barang yang mereka kejar mati-matian lagi.

Kini, mereka bertemu kembali di sebuah padang bunga entah di mana. 

Sang Raja masih terdiam ketika sosok di sana memberikan senyuman lembut yang ia rindukan. Ia adalah binatang buas dengan rupa seorang pelacur. Ia adalah rantai senjata yang dikirimkan untuk menyetarai Sang Raja. Ia adalah setengah dirinya yang direbut oleh para dewa.

Tanpa sadar ia mulai melangkah perlahan, semakin cepat, dan lari—ia berlari.

Sang Raja tidak mengerti. Ia menyaksikan setiap detik siksaan para Dewa di dalam dekapannya sendiri. Ketika tangan itu perlahan mengering dan menjadi debuan tanah bersama dengan isakan yang mengisi istana selama bermalam-malam. Mereka telah membawanya pergi, ia telah mencarinya ke seluruh penjuru dunia; tidak ada Dunia Bawah dan bukan pula di atas sana. Padahal, meski pun membutuhkan waktu bertahun-tahun, ia telah yakin mereka mengembalikannya kepada bumi. Sebab ia terlahir bukan sebagai manusia—Ia adalah binatang buas terbuat dari lempung.

Sang Raja tidak percaya. Yang ada di dalam dekapannya saat ini tidak berubah menjadi debu. Akan tetapi yang ia dapatkan adalah kehangatan sebagaimana sentuhan jemarinya mengingat. Ia mempererat rangkulannya. Aroma dari rumput segar dan cahaya matahari bersatu dalam sebuah rupa yang sangat ia kasihi. Semakin dalam ia menenggelamkan wajahnya pada helaian hijau itu, semakin kuat aroma yang ia damba.

'En...' Sang Raja berbisik. 

Sosok itu menggumam membalas, mengusap punggung sahabatnya dengan jemari eloknya. Senyuman masih tersimpul di wajahnya sembari ia menerima kehadiran Sang Raja, kelopak matanya menutup bola emasnya. Ia kemudian bersenandung dengan nada yang tidak seorang pun dapat menirunya. Dengan nada yang mengingatkan Sang Raja dengan lembabnya hutan cedar di malam hari, di pinggir sungai dengan bintang-bintang layaknya para dewa memerhatikan mereka.

Oh, puluhan bulan bahkan tahun telah berlalu semenjak mereka dipisahkan oleh takdir. Sang Raja tidak dapat melepas rangkulannya; ia menikmati seluruh sensasi yang mengingatkannya akan rumah ini.

Matahari menyinari kedua sosok di bumi yang akhirnya bertemu kembali. Tidak peduli apabila para dewa sedang menertawai mereka. Tidak peduli dosa-dosa yang telah mereka perbuat demi momen yang entah sampai kapan akan berlangsung ini. Mereka menikmati kehadiran masing-masing bersamaan dengan rangkulan, kecupan, dan bisikan yang mengisi siang itu. 

Mereka adalah dua belah sisi yang saling melengkapi. Mereka adalah belahan jiwa yang diciptakan oleh para Dewa sebagai sepadan. Mereka telah dipisahkan oleh kematian dalam waktu yang begitu lama; dengan perang dan sungkawa mengisi kepergian satu sama lain. 

Kini, mereka adalah sempurna.

Notes:

Ditulis di tahun 2021 untuk konsumsi pribadi sebetulnya hahaha
Aku sayang Gil dan En.