Work Text:
pertama kali hanbin sadar pandangannya tidak lagi terfiksasi pada layar megah yang melekat pada panggung utama, apalagi pada wajah sang pemateri yang dengan lafal membaitkan jalinan kalimatnya di luar kepala, adalah ketika sudut netranya menangkap figur di ujung kiri yang sedari tadi tak berhenti berlarian pada pangkal ruangan menuju pangkal lainnya dengan rima jauh dari konstan. terburu-buru, beradu dengan waktu.
sung hanbin hampir tak pernah menggubris ataupun peduli pada cuplikan okasi yang berada di sekitar jarak pandangnya—terutama ketika saat ini ia memang tidak mempunyai urusan apapun dengan keadaan di antara.
jika pertanyaan tentang mengapa saat ini otaknya enggan menyerap materi yang sudah mahal-mahal ia bayar, sung hanbin juga tak punya ide akan jawaban. yang pasti, lelaki yang kini terkalung dalam nametag bertagar “committee (officer)” dan “zhang hao” dalam satu bait yang sama, ia tuding menjadi satu-satunya alasan logis mengapa sekarang setengah isi kepalanya malah dipenuhi dengan pria tersebut. bagaimana perpaduan antara oxford shoes dan celana hitam yang sebenarnya biasa saja, dapat terbenam sebegitu berlebihannya dalam otak hanbin yang juga sudah penuh dengan lembar-lembar kerjaan.
aneh. tapi ada sisi dari sudut bibirnya yang sangat ingin ia sunggingkan ke atas tanpa alasan tatkala melihat sepatu oxford berumur tersebut berulang kali masuk dan keluar ruangan yang sama, dengan wajah pemiliknya yang sudah jauh dari kata segar.
dan sung hanbin menulis catatan pada diri sendiri bahwa ia akan menemukan jawaban dan alasannya di perpotongan waktu makan siang nanti.
cukup prestisius, pikir hanbin, ketika di depannya kini telah terantuk sepotong pan-seared trout pada sebuah piring putih dan orange juice yang melengkapi di sisi kiri. mengingat ini hanyalah sebuah seminar bisnis yang diadakan oleh salah satu perusahaan (cukup ternama) di kota, seharusnya aman-aman saja jika hanya bermain dengan ayam fillet atau nasi goreng mentega yang hambar karena rancangan biayanya ternyata sudah mentok untuk membayar pemateri yang gagal ditawar.
tetapi masuk akal juga, jika melihat pemandangan seluruh panitianya yang acak-acakan di balik layar; ada harga yang dibayar untuk sebuah acara mahal yang sukses dalam pelaksanaannya. dan terkadang, hal tersebut datang dalam bentuk eksploitasi para pekerjanya. ya, setidaknya ia berharap siapapun yang bekerja kelewat keras untuk keberhasilan ini, dibayar dengan harga yang cukup setimpal juga.
atau siapapun-nya bisa direduksi dengan hanya satu subjek saja.
atau zhang hao, maksudnya.
bukan apa-apa, tapi hanbin rasa, dari semua lautan manusia di sini, ada yang bergerak dalam kesibukan lebih dari manusia lainnya yaitu officer dengan nametag zhang hao dan zhang hao saja.
jadi saat dengan tidak sengaja matanya menangkap sosok yang dimaksud ketika piring kudapannya ia taruh pada rak kotor di ujung ruangan, hanbin tidak tahu apa yang merasuki mulutnya sampai ia berani meneriakkan nama sang lelaki yang sedari tadi memenuhi pikiran hingga ia berhenti berlari dan menoleh.
“zhang hao!”
“iya...?”
dan yang tadi itu keluar dari alam bawah sadar hanbin yang paling dalam, sehingga ia tidak mengharapkan adanya jawaban karena jelas panggilannya tidak direncanakan. tapi dengan menjadi kaku dan berdiam diri ketika si panitia menatapnya keheranan juga sangat sangat bukan bagian dari rencana. sejujurnya, tengkuk yang digaruk dalam kebingungan jadi satu-satunya gestur penanda bahwa sung hanbin pun tidak mempunyai ide tentang kenapa dan apa yang harus terjadi selanjutnya.
“ah... enggak... anda sudah makan siang?” hanbin terbata.
rasa-rasanya respon dahi dan alis yang menyatu dari lelaki yang dipanggil sudah cukup menggambarkan bahwa pertanyaan yang keluar dari bilah hanbin adalah kekonyolan. kenal pun tidak.
“haha... belum. nanti saya makan siang kalau pekerjaan saya sudah selesai.”
hanbin mengangguk retoris. idenya sudah habis sejak meneriakkan nama zhang hao lebih keras dari yang seharusnya sehingga saat ini kelu lidahnya yang menang. hanbin merutuki kelistrikan otaknya yang seakan putus—ini terang saja bukan saat yang tepat.
“oh—“
“saya sadar anda dari tadi memperhatikan saya,” zhang hao memotong ucapan hanbin yang saat ini tengah membulatkan matanya penuh. “kalau memang mau berbasa-basi, nanti bisa saya ladeni, tapi setelah seminar ini selesai ya.”
kalimatnya hao tutup dengan senyum jenaka seakan ia tidak baru saja menjatuhkan bom tepat di perut sung hanbin hingga membuatnya mual luar biasa. bahkan telapak hanbin masih ia letakkan di tengkuk walaupun gatalnya tidak pernah muncul, membeku di tempat. namun yang berkalung identitas zhang hao hanya berlalu sembari tidak lupa untuk melepaskan tatapan menukik pada hanbin dari sudut mata dan sejurus punggungnya, ujung bibirnya naik—puas.
sementara hanbin? aman kalau bilang saat ini ia lebih memilih untuk pulang saja. persetan dengan pan-seared trout dan orange juice mahal itu.
tapi hanbin tidak pulang. pengecutnya ia kubur dalam-dalam dua jam lalu saat lagi-lagi netranya menangkap si panitia dari kejauhan dengan sekuens yang berbeda; karena kali ini yang ditatap balas menatap dengan tanpa sipu. jadi ketika penutupan acaranya telah berakhir 30 menit lalu, hanbin masih mendiami pintu keluar gedung itu, menunggu kedatangan zhang hao karena katanya pembubaran panitia baru akan dilakukan 30 menit setelah acara selesai dan hanbin bersumpah; ia tidak bertanya. informasi itu zhang hao sampaikan sendiri melalui bisik saat dengan sengaja berjalan kelewat dekat menuju formasi duduk sung hanbin di tengah-tengah materi yang sedang berlangsung.
agak gila, tapi kita sedang bicara tentang laki-laki yang juga sudah menjadi kausa sung hanbin hampir memilih untuk putar arah ke rumahnya saja siang tadi.
“nunggu lama?” heningnya dipecah saat suara tapakan sepatu oxford yang sangat familiar hari ini berhenti di sebelahnya. yang disapa menoleh cepat, sedikit terkejut namun dengan sigap kembali meraih komposurnya.
“30 menit,” hanbin tersenyum menjawab sambil melihat jam tangannya sebagai formalitas. seakan ia tidak memperhatikan waktu yang melingkar di tangannya tersebut setiap lima menit sekali sebelumnya, “sesuai kata anda tadi, 'kan.”
“drop the formalities, aku udah bukan panitia. acaranya udah selesai.” zhang hao belum membawa tubuhnya untuk menghadap langsung pada hanbin, semua kalimatnya ia keluarkan dengan keduanya masih menatap pemandangan yang sama. padahal tidak ada yang menarik dari parkiran mobil yang mulai sepi dan langit yang bergradasi merah jingga.
hanbin mengangguk, membawa sudut-sudut bibirnya turun dan alisnya naik dalam gestur persetujuan, “fair,” lalu dilanjutkan dengan mengeluarkan batangan nikotin dari balik kantung jas hitamnya yang sudah mulai serampang karena dipaksa menemani seharian. “mau rokok?”
zhang hao menoleh, kepalanya ia bawa menggeleng satu detik kemudian, “thanks, tapi aku gak ngerokok.”
“wow,” balasan hanbin keluar sebagai respon otomatis. gulungan nikotinnya ia masukkan kembali ke kantung jas, enggan jika hanya menikmatinya sendirian. “prinsip?”
“kurang lebih.” zhang hao membawa kepalanya mengangguk.
“let me guess, kamu gak minum alkohol juga?”
zhang hao tersenyum komikal. kerlingan matanya ia bawa untuk menatap sung hanbin di sebelahnya, ada seringai yang sengaja ia selipkan di sana, “yes, but i can make an exception for certain occassions.“
yang dibalas hanbin dengan senyum yang tidak kalah culasnya. “and those occassions would be...?“
“like right now?“
sudut-sudut bibir hanbin merekah membentuk parit senyuman dengan kedua matanya. yang terjadi setelahnya adalah tangan kanan yang diangkat untuk diberikan pada subjek di depan, menunggu sambutan dari lengan lelaki satunya, “sung hanbin, ngomong-ngomong.”
maka telapak hanbin digenggam dalam sebuah jabatan perkenalan kelewat ramah, “zhang hao, tapi kayaknya kamu udah tau.”
hanbin bersumpah, seringai lawan bicaranya terselip kembali dalam sepersekian detik dari seluruh sekuens ramah tamahnya.
dan sore itu masih berupa seutuh-utuhnya dua puluh tujuh derajat, tapi keduanya setuju untuk mengguyur badan mereka dengan alkohol yang lebih panas. tidak lebih dari dua puluh persen, itu perjanjian yang hao buat kala pertama mereka menginjakkan kaki pada sebuah bar temaram di sudut kota—yang dibaca hanbin sebagai sebuah sinyal bahwa malam ini tidak akan ada batas yang dilampaui keduanya.
percakapannya dimulai dari bagaimana zhang hao merasa ini lucu. susah payah hanbin mencoba untuk bermain sembunyi dengannya di sepanjang seminar bisnis tersebut berlangsung, yang tentu saja dipatahkan langsung kepercayaan dirinya oleh zhang hao yang menikam dengan kalimat “kamu gak se-smooth itu, sih. terlalu jelas ngeliatinnya.” sementara hanbin hanya bisa tertawa sambil menahan merah yang mulai merayap di pipi dan seluruh wajahnya. pada pukul delapan malam juga, hanbin mengetahui fakta baru bahwa zhang hao itu berumur 24, satu tahun lebih tua dari dirinya. ia juga berzodiak leo—hal yang terakhir ini hanbin tanam lamat-lamat di kepala karena; tentu saja ia leo.
pertemuan pertama mereka adalah empat jam penuh obrolan kasual yang diakhiri dengan informasi bahwa zhang hao tidak merokok ataupun meminum alkohol (kecuali pada okasi tertentu—dan okasi tertentu itupun dapat ditulis sebesar-besarnya dengan ejaan “sung hanbin” di jidatnya) bukan karena pilihan, justru jauh lebih tepat jika dibilang ia tidak punya pilihan. yang dibalas hanbin dengan kernyitan di dahinya, yang cepat-cepat ditepis kembali oleh zhang hao dengan retaliasi bahwa hal yang tadi ia katakan tidak usah dipikirkan.
***
“terus, papa kok bisa langsung naksir ayah?”
subjek yang baru saja dipanggil “papa” tersebut menyunggingkan senyum. sebongkahan balok bertuliskan angka-angka yang jadi favorit lelaki kecil di sebelahnya, ia bawa masuk kembali menuju kotak penyimpanan ketika dilihatnya sang anak sudah tidak tertarik lagi pada mainan-mainan tersebut. saat ini penasaran si kecil jatuh pada “papa” yang tengah menapak tilas memori-memori menjadi satu untaian imaji utuh dari pertanyaan yang baru saja dilontarkan.
“karena ayah kamu lucu. awalnya sih cuma kasian karena ngeliat dia capek banget gitu ngurusin acaranya, lama-lama diperhatiin terus jadi makin menarik.” laki-laki yang dewasa merancang kalimat sambil diingat secara hati-hati seluruh cuplikan kejadiannya. sudah sebelas tahun lalu, seharusnya wajar jika ia lupa barang satu atau dua detil, tapi ia bersumpah bahkan noktah di bawah mata kanan seseorang yang disebut “ayah” itu juga akan ia ingat walaupun tahunnya dikali seratus.
“ih, papa genit duluan ya pasti!” lelaki berusia tujuh tahun itu memberikan ekspresi menggoda lugu yang tanpa aba-aba.
“eh, yujin belajar dari mana ngomong kayak gitu?” rambut anak laki-laki tersebut diacak halus, rasa sayang dan hangatnya terhantar dari telapak yang menyentuh permukaan surai hitamnya secara langsung, “papa genit duluan, tapi ayah juga ternyata udah naksir papa, tau, waktu itu.” dan selanjutnya, hamparan tawa menggema di ruangan berjendela tersebut.
karena itu hari minggu, dan sung hanbin memilih untuk membuka tirai rumah selebar-lebarnya agar cahaya yang menelusup masuk dapat langsung menyaksikan bahagia yang ia tukar bersama buah hatinya ketika notifikasi gawai ia bisukan. hari minggu adalah hari di mana ia akan berdedikasi untuk tidak mengasosiasikan dirinya dengan pekerjaan apapun; janji yang ia buat ketika zhang hao masih di sini.
“terus, waktu itu papa tau dari mana ayah sakit?”
jari-jari hanbin berhenti sejenak dari apa yang tengah dilakukan, dan kali ini mainan puzzle yang berserakan adalah korbannya. ia meremat salah satu potongan demi setidaknya membantu menahan sentimen apapun yang mungkin akan keluar jika kepalanya tidak mau berhenti untuk mengenang sedikit demi sedikit kejadian—tapi ia juga tidak ingin lupa.
jadi hanya keberanian yang membawanya untuk tersenyum di depan yujin yang menatap dengan binar, menunggu sang papa melanjutkan ceritanya.
“papa gak tau, ayah gak pernah ngomong.” adalah kalimat pertama yang keluar sebelum air liurnya ia telan bulat-bulat untuk menahan segala panas yang mencoba menyeruak dari sudut mata. “papa baru tau setelah menikah dengan ayah, di bagian dada kiri atas ayah ada benjolan dan bekas jahitan, yang ternyata itu tempat ditanam pacemaker, alat pacu jantung.”
anak laki-lakinya menautkan dahi, bibir kecilnya membentuk pola bergelombang saat ia bawa maju ke depan, “aku gak ngerti.”
tentu saja figur berusia hidup tujuh tahun kewalahan menerima informasi yang disampaikan. probabilitasnya adalah hanbin yang mengeluarkan kalimat tersebut untuk ia telan sendiri, karena pikirannya sudah berkonstelasi dengan semua yang terjadi ketika zhang hao masih di sini, lalu semua kenangannya ia tumpahkan begitu saja tanpa ada penyesuaian bahwa lawan bicaranya saat ini belum memiliki kemampuan bahasa atau pengertian emosional yang sebesar itu.
dan seakan sadar dari lamunannya, hanbin menggeleng, “maaf, papa tadi ngomong sambil ngelamun,” ia sempatkan menarik napas sebelum memulai kembali, “maksudnya, papa baru tau kalau ayah punya sakit jantung karena ternyata di badannya ada alat buat bantu jantungnya. kayak robot gitu, yujin.”
yang dipanggil yujin membulatkan matanya, bersemangat. kali ini seluruh mainan yang berserakan di lantai benar-benar sudah tidak ia anggap keberadaannya. “wow! ayah robot?”
dan saat ini, ada yang bergerumul ketika tubuhnya tak mau berkompromi dan lebih memilih untuk mengeluarkan segala sesaknya dalam bentuk air mata. semua sentimen yang hanbin tahan akhirnya pecah juga.
padahal berbanding terbalik dengan senyumannya yang merekah. di tengah seluruh berisik kepala dan hati yang menjerit, sung hanbin masih mencoba menyodorkan wajah paling bahagianya di depan sang anak. “iya, ayah robot. hebat, ‘kan,” hanbin mengusap wajahnya pelan untuk menghapus residu air yang masih membekas—gagal juga karena tumpahannya enggan berhenti mengalir.
“papa kenapa nangis? jangan nangis.”
itu tadi datang dari buah hatinya yang selama ini hampir tidak pernah menunjukkan kekhawatiran apapun pada hal-hal di sekitarnya. bahkan dua tahun lalu ketika pulpen kesayangan yujin dicuri oleh salah satu anak lain di sekolah, ia hanya mendengus sambil berkata “ambil saja.” dengan lantang—walaupun hal ini sukses membuat zhang hao hampir mencabut masker oksigen dan berlari dari rumah sakit ke sekolah saat itu juga untuk memberi pelajaran pada si anak nakal, yang tentu saja dihalau oleh sung hanbin dengan susah payah.
tapi kali ini, pertanyaan sang anak datang dalam bentuk sebesar-besarnya rasa khawatir.
dan rengkuhan hanbin sejatinya datang sebagai upaya untuk menyembunyikan wajah patetiknya dari yujin.
“papa gak apa-apa,” kalimatnya keluar dengan terbata dan penuh getaran. punggungnya sendiri naik turun aritmis dalam pelukan seraya membawa tangannya mengusap punggung yujin dengan gerakan sirkuler; seolah-olah saat ini yujin yang paling membutuhkan—nyatanya sebaliknya.
pupil sung hanbin membulat kontras ketika ia merasakan tangan yujin juga melakukan hal yang sama, menanamkan usapan halus pada punggungnya, selayaknya anak yang masih mengimitasi apa yang dilakukan orang tuanya. hal ini berhasil membuat sung hanbin mengeratkan rengkuhannya hingga ia mati rasa.
di semesta yang lain, sung hanbin akan tetap memilih untuk menitik beratkan seluruh pikiran dan pandangannya pada oxford shoes dan nametag zhang hao di seminar bisnis yang ia datangi sebelas tahun lalu tanpa merubah apapun dari keputusan dan prosesnya. sung hanbin juga akan tetap memberikan cincin permata yang ia sematkan pada jari manis zhang hao ketika pria tersebut berulang kali memprotes bagaimana seluruh halnya berlalu begitu cepat, secepat satu tahun saling mengenal, untuk pesta pernikahan yang diadakan setelahnya. sung hanbin akan tetap mengadopsi anak baik berumur tiga tahun yang bernama yujin dari panti asuhan tempat zhang hao selalu mampir setidaknya sebulan sekali untuk memberi bingkisan ataupun sekadar salam.
satu-satunya hal yang akan ia ubah dari riwayat kehidupan adalah ketika zhang hao dengan kurang ajarnya—menurut sung hanbin—menyatakan hal terbodoh yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
“maaf, aku gak pernah ngomong apa-apa soal penyakitku sebelum kamu mutusin buat selamanya sama aku. aku gak berpikir aku bakal pergi secepat ini.”
pada saat itu, gertakan gigi hanbin menjadi yang menyelimuti sunyi dalam ruangan rumah sakit. ia melafalkan kalimat-kalimat afirmasi bahwa zhang hao tidak akan pergi secepat itu, stop berbicara hal bodoh, juga tentang bagaimana seharusnya tidak ada kata maaf yang keluar. karena menurut sung hanbin, semesta lah yang harus meminta maaf kepada keduanya.
satu minggu kemudian, bunyi denting datar pada elektrokardiogram disusul dengan dokter yang memenuhi ruangan lalu mundur menjauh dari kasur tempat zhang hao terbaring menutup mata, adalah yang menandakan runtuhnya dunia sung hanbin saat itu juga.
“papa cuma kangen ayah,” hanbin kembali membuka suara ketika pelukannya akhirnya ia lepaskan dari sang anak. “tapi papa yakin, ayah masih ada di sini.”
sebelum zhang hao benar-benar pergi, ia pernah menitip pesan bahwa jika waktunya tiba nanti, ia tidak memiliki cita-cita dikremasi. zhang hao ingin tidur tujuh kaki di bawah tanah supaya sesekali keluarga kecilnya dapat mengunjungi.
“kapan mau ke ayah lagi, pa?” yujin tanpa sadar meremat lemah ujung kaos yang dipakai hanbin saat pertanyaannya keluar.
yang ditanya melirik jam dinding. pukul sebelas siang, hari minggu.
“sekarang, yuk?”
lalu yujin mengangguk, dibawanya kaki kecil itu menuju tempat handuknya menggantung dan dilanjutkan dengan pintu kamar mandi yang menutup. hanbin memperhatikan dari kejauhan bagaimana gerak-geriknya sangat mirip dengan zhang hao meskipun tidak ada hubungan darah secara langsung di antara keduanya.
jadi walaupun sementara, seakan semua skenarionya sudah diprogram oleh takdir yang mempertemukan ketiganya, hanbin tidak akan pernah mau menukar seluruh hal ini dengan apapun.
siang itu, keduanya menghabiskan waktu dengan menaruh bunga krisan pada lapisan tanah tempat zhang hao beristirahat. mereka dengan nyaman bercerita tentang kehidupan dan alam raya, yang tentu saja dibalas oleh kesunyian walaupun hanbin dan yujin sama sekali tidak keberatan.
“yujin nanyain gimana pertama kali aku ketemu kamu,” hanbin menaruh telapak tangan kanannya pada pundak yujin dalam sebuah rangkulan, sementara tangan kiri ia pakai untuk mengusap pelan butiran tanah yang menyelimuti suaminya. “aku jelasin aja, kamu naksir aku juga waktu itu.”
kalau zhang hao ada di sini, ia pasti sudah memukul torso sung hanbin keras-keras hingga ia mengaduh. jenakanya sung hanbin sudah jelas datang dalam cengiran yang membentuk kumis kucing di pelupuk mata, lalu skemanya akan berlanjut dengan keduanya yang terlelap dalam acara tidur siang yang tidak diperlukan—hanya sebagai alasan untuk menangkup wajah di ceruk leher masing-masing saja.
“coba ceritain di sini dong pa, gimana pertama kali papa ketemu ayah? biar papa gak bisa ngarang cerita.”
sung hanbin tertawa lagi, dicubitnya pipi anak laki-lakinya, gemas.
“jangan, kalau ayah denger nanti ayah ngomel,” sudut-sudut bibir hanbin naik, matanya beriring teduh, “biarin aja ini jadi rahasia kita berdua ya, yujin.”
bohong, karena akhirnya hingga gradasi langit berubah merah jingga seperti yang ia ingat sebelas tahun lalu, hanbin menghabiskan waktu dengan berceloteh tentang semua masa lampau. tentang pertemuan pertama dan cincin permata, juga tentang hari-hari memotong apel dan menonton drama picisan bersama di rumah sakit yang sudah menjadi rumah kedua. semuanya hanbin kemas tanpa air mata karena seluruhnya sudah habis ia tumpahkan. sementara yujin di sebelahnya hanya ingin mendengarkan.
dan semua kisahnya ditutup dengan sumpah sung hanbin bahwa di semesta yang lain, tidak peduli sekoyak apapun jalan yang dilewati, ia akan dengan sukarela melalui semua ceritanya satu kali lagi.
asal dengan zhang hao, asal dengan yujin.
