Chapter Text
♫♫♫
Telah kunyanyikan alunan-alunan senduku
Telah kubisikkan cerita-cerita gelapku
Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa kutakkan bisa sentuh hatimu
♫♫♫
SEWAKTU kanak-kanak, kepada semesta ia selalu berkata bahwasanya musim dingin adalah musim terbaik yang pernah ada. Namun, ketika tubuh mungil dengan hati yang rapuh itu tumbuh seiring berjalannya waktu, musim dingin adalah mimpi buruk dan inginnya segera berlalu. Musim dingin adalah belenggu. Musim dingin hanya memberi rasa pilu yang sialnya merangsek ke dalam kalbu.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya selalu menjadi pusat perhatian. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya selalu merasakan kengerian. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya selalu menjadi sasaran amukan, kekecewaan, hingga kebencian.
Begitu banyak luka yang tertoreh di hatinya tanpa bisa dengan seenaknya ia ungkapkan kepada dunia, memberitahukan kondisi yang sebenarnya bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Betapa depresinya ia, betapa jenuhnya ia, betapa lelahnya ia, hingga betapa inginnya ia lari dari kenyataan yang merenggut sebagian kewarasan.
Namun, ia tetap harus waras. Ia tetap harus kuat. Lantaran sekali mengeluh akan berujung pada sesi merangkai seribu kata permohonan ampun untuk diutarakan. Sekali mengeluh akan membuat dirinya bukan hanya bermandikan peluh, melainkan menghadapi terpaan gelombang emosi yang hanya mampu membuat tubuhnya bersimpuh.
Ia hanyalah manusia biasa. Seorang anak yang terlampau menghormati neneknya. Satu-satunya orang dewasa yang hidup bersama dengannya seperempat abad lamanya.
Tak pernah ia ketahui di mana keberadaan orang tuanya sebab sang nenek hanya berkata bahwa mereke telah kembali pada Maha Pencipta sejak dirinya baru saja bernapas di dunia.
Selama ini ia meyakini bahwa sang nenek hanya bersikap tegas kepadanya. Selama ini ia memaklumi bila sang nenek merasa kesal padanya. Selama ini ia memercayai bahwa segala yang neneknya lakukan adalah demi kebaikannya. Selama ini … bahkan mungkin selamanya.
Pola pikirnya seakan telah diprogram sedemikian rupa sehingga hanya bisa menerima segala perlakuan yang neneknya berikan. Meskipun pada akhirnya di setiap pergantian hari, sebelum tubuh dan jiwanya berkelana ke alam mimpi, sanubarinya tidak bisa mengkhianati.
Tetes demi tetes air mata mengalir membasahi wajah yang nyatanya sudah tampak lelah. Tetes demi tetes air mata seakan mewakili segala hal yang tak lagi bisa didefinisikan dengan kata-kata. Tetes demi tetes air mata menjadi bukti bahwasanya ada gejolak rasa yang bertentangan antara tindakan, ucapan, serta perasaan.
Setiap kali akan menyambut musim dingin, lagi dan lagi ia harus bersandiwara bahkan meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lagi dan lagi ia harus memenuhi ekspektasi meskipun dalam prosesnya penuh dengan caci maki. Bahkan lagi dan lagi ia harus bergerak sesuai dengan irama yang nyaris tak terdengar jelas di telinga karena di kepalanya penuh dengan suara sang nenek dari waktu ke waktu yang memintanya untuk begini dan begitu.
Tubuhnya hanya bergerak berdasarkan naluri, intuisi; yang membawanya melangkah ke sana kemari. Melompat, berjinjit, merentangkan tangan dan kaki, berputar, serta menumpu seluruh anggota badannya pada kaki berbalut sepatu kanvas beralaskan sol khusus.
Tubuhnya akan terus menerus mengulang gerakan yang sama, berkali-kali sampai sang nenek memintanya untuk berhenti. Ia tidak cukup punya nyali untuk berkata tak sanggup lagi. Ia tidak cukup berani apabila sang nenek kembali mengungkit-ungkit apa yang telah terjadi di sepuluh tahun lalu, sampai akhirnya semua beban secara keseluruhan diempaskan pada tubuh mungilnya.
“Mikasa Ackerman, fokus!”
“Lompatanmu kurang tinggi!”
“Ikuti ketukan musiknya!”
“Gerakanmu salah! Ulangi!”
“Sudah kubilang berulang kali, jangan sampai entakan kakinya tak sesuai! Apa kau tuli?!”
“Dasar anak tidak berguna! Begini saja kau tidak becus!”
“Jangan membungkuk kau anak sialan!”
“Sampai kapan kau akan mengecewakanku, hah? Sampai kapan?”
“Jangan membuatku malu, Mikasa! Jangan membuatku malu!”
Hampir setiap hari suara amukan tersebut akan menggema di seluruh ruangan. Amukan yang diberikan hanya untuknya, untuk Mikasa Ackerman. Amukan yang dilontarkan oleh sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik dari ‘Paradis Ballet Company’—Nyonya Azumabito, Nenek Mikasa.
Para pelatih balet lain pun tak pernah ada yang berani menginterupsi, bahkan Mikasa selalu latihan terpisah dari anak didik lain di perusahaan tersebut kecuali saat harus mempersiapkan penampilan di event besar dan membutuhkan partner.
Seperti beberapa waktu belakangan misalnya, ia harus mempersiapkan diri untuk dapat tampil di pertunjukan ‘A Winter Symphony of Love’ yang akan terlaksana mulai dari tanggal 25 Desember - 14 Februari setiap pukul 5 sore sampai dengan 9 malam. Pertunjukannya tidak dilaksanakan setiap hari, hanya pada hari Kamis - Minggu saja.
Dalam pertunjukan ini bukan hanya para penari balet yang turut serta. Namun, para aktor operet pun akan ambil bagian berdasarkan rangkaian acara yang telah ditetapkan.
Persiapan musim dingin rasa neraka sungguh telah dimulai, dan tak ada jalan untuk lari bagi gadis malang ini. Sejak akhir Agustus lebih tepatnya, latihan yang harus Mikasa jalani lebih keras dari yang biasa ia lakukan. Selalu saja dituntut kesempurnaan lantaran dirinyalah sang pemeran, sang penarik perhatian. Grand pas de deux adalah gerakan puncaknya. Dibutuhkan ketepatan waktu, kekuatan, keseimbangan, bahkan kepercayaan terhadap satu sama lain, terutama partnernya. Namun nahas, satu setengah bulan menjelang pelaksanaan ada sebuah kecelakaan yang tidak pernah diharapkan untuk kejadian.
Tubuh Mikasa tidak bisa berbohong jika telah mencapai batasnya. Tubuh Mikasa tidak bisa berbohong bila merasakan letih yang luar biasa. Tubuh Mikasa sungguh mewakili semua kata yang lagi-lagi tak bisa diucapkan lewat belah bibirnya. Bahkan sang partnernya pun mengalami hal yang serupa.
Pegangan tangan sang partner pada tubuh Mikasa yang seharusnya dijaga agar tak mendarat sebelum waktunya, terlepas begitu saja. Seakan kekuatan ototnya menghilang secara tiba-tiba. Gerakan menjadi tidak beraturan dan membuat sang partner terburu untuk menahan tubuh Mikasa kembali. Lantas begitu menyadari situasi yang terjadi, Mikasa pun panik melihat sang partner yang mengerang kesakitan di lantai panggung teater sebab tertindih oleh tubuhnya. Namun, Mikasa terlalu lemas bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri sehingga ia dibantu beberapa penari untuk menyingkir serta duduk menyaksikan para penari lainnya mengerubungi pria yang menjadi partnernya.
Seseorang terlihat sibuk menelepon ambulans dan beberapa di antara mereka mulai berbisik-bisik resah karena takut akan dijadikan kandidat pengganti partner Mikasa.
Mereka semua tahu bahwa latihan bersama Mikasa sama halnya dengan bunuh diri, meskipun pada akhirnya akan menjadi pemeran utama dengan nama yang dikenal banyak orang sebagai bonusnya. Mereka semua tahu, mereka semua ingin hal itu sebenarnya. Kendati demikian, nyali mereka tidak cukup besar untuk menerima tatapan yang tidak bersahabat dari Nenek Mikasa.
Mereka tidak sanggup untuk memenuhi kesempurnaan yang wanita itu inginkan, walaupun tak pernah pula diucapkan secara langsung kepada mereka, melainkan lewat pelatih lainnya atau makian yang wanita itu lontarkan kepada Mikasa sebagai gantinya.
Mereka pun cukup sadar dengan betapa beratnya beban yang Mikasa emban di pundaknya. Mereka sangat sadar, meskipun pada awalnya sempat salah menduga dan berpikir betapa diperlakukan istimewanya Mikasa dari yang lain sementang ia adalah cucu dari pemilik perusahaan.
Ketika evaluasi bulanan misalnya, seluruh penari akan berlatih di ruangan yang sama, sedangkan Mikasa di ruangan yang berbeda. Dan, mereka semua akan terpukau dengan gerakan yang Mikasa lakukan ketika hari penilaian telah tiba. Namun, satu-satunya orang yang tidak pernah merasa terpuaskan adalah neneknya sendiri. Sungguh mengherankan. Sejak saat itulah mereka semua tahu bahwasanya berkat siapa wajah Mikasa selalu diliputi senyum yang sendu.
Setelah partner Mikasa yang sebelumnya dilarikan ke rumah sakit, seorang pelatih bernama Alma mengumpulkan seluruh penari di tengah panggung dan menanyakan siapakah di antara mereka yang bersedia untuk menjadi partner Mikasa selanjutnya. Tetapi, tak satu pun dari mereka ada yang mengangkat tangan, bahkan mereka semua menunduk untuk menghindari mata yang bertatapan. Pelatih Alma mendengus kasar. Ia sangat memahami kekhawatiran para anak didiknya. Namun, pertunjukan ini tetap harus berjalan. Sungguh, ia frustrasi dibuatnya.
Di bawah panggung, tepatnya di kursi penonton, tim aktor operet duduk seraya berbisik-bisik membicarakan bagaimana kiranya nasib tim penari balet ke depannya jika tak segera menemukan pengganti. Kurang lebih waktu yang tersisa hanya satu setengah bulan dan mereka perlu berlatih lagi dari awal untuk menyatukan chemistry, koordinasi, serta menanamkan rasa percaya pada partnernya. Tentu tidak semudah itu untuk dilakukan. Namun, di tengah hiruk pikuk dan rasa frustrasi yang mengudara, nyatanya ada seseorang yang sedari tadi sedang menimbang-menimbang apakah lebih baik ia mengajukan diri atau tidak sebagai penari pengganti.
Tak perlu waktu lama untuk Nyonya Azumabito mengetahui apa yang terjadi di hari itu. Dari ruang kerjanya ia segera mengatur kursi roda otomatisnya menuju ke ruang teater. Mikasa yang semula telah dipindahkan untuk duduk di kursi penonton baris terdepan, seketika bersimpuh di lantai saat ia melihat sosok neneknya datang.
Satu tamparan mendarat tepat pada pipi tirusnya, menghadirkan warna kemerahan sesaat kemudian. Sorot kekecewaan dan kebencian terpancar jelas dari netra sang nenek, sedangkan Mikasa tetap dalam posisinya dan tidak menatap langsung ke wajah neneknya. Satu tamparan lagi pun mendarat di pipi lainnya. Jemari Mikasa yang tersimpan di atas paha seketika mengepal menahan rasa perih yang muncul di pipinya.
Semua yang ada di ruang teater bergeming di tempat masing-masing. Tetapi, akhirnya terdengarlah suara dari sesosok pria di tim aktor operet.
“Izinkan saya yang menjadi partnernya.”
Lantas semua orang menganga tak percaya.
♫♫♫
Pria dengan rambut dicepol tinggi itu, tiba-tiba saja meminta izin untuk menjadi partner menari Mikasa. Semua orang tidak memercayai apa yang telinga mereka dengar sebelumnya. Rasanya mustahil. Mereka … terutama sesama aktor bahkan mengatai dirinya sudah gila lantaran bertahun-tahun mengenal tak sekalipun pernah melihatnya secara khusus menari balet di pertunjukan teater mana pun.
Nyonya Azumabito akhirnya menoleh pada Pelatih Alma seakan berkata, “Kau urus kekacauan ini!”
Melihat hal tersebut membuat sang pelatih segera berlari ke bawah panggung untuk menghampiri sang pria, sementara Nenek Mikasa pergi meninggalkan ruang teater.
Sebelum pergi berdiskusi bersama Pelatih Alma, pria itu meminta izin sebentar untuk menghampiri Mikasa yang masih duduk bersimpuh di lantai dengan kepala yang menunduk. Dibawanya gadis malang itu untuk duduk di kursi.
Mikasa tidak menoleh sama sekali sehingga ia belum melihat wajah dari orang yang katanya ingin menjadi partnernya menari, sampai pria itu berjongkok di hadapannya sembari mengelus kedua pipinya.
“Apa pipimu masih sakit?”
Sewaktu telapak tangan pria itu menyentuh pipinya, ada perasaan terkejut selayaknya terkena sengatan arus listrik untuk sesaat yang kemudian berubah menjadi menghangat bahkan lambat-laun seperti terbakar, ditambah sang pria menanyakan kondisi pipinya dengan suara yang terdengar lembut. Mikasa tidak mengerti bagaimana perasaan ini bisa hadir dan menjalar di hatinya. Namun, ia masih belum memiliki kekuatan untuk menjawab pertanyaan pria tersebut dengan kata-kata. Alhasil gelengan kepala ia berikan sebagai jawaban.
“Minum air ini. Nanti aku akan kembali lagi,” ucapnya sambil menyerahkan botol minum yang sedari tadi ia kantongi.
Mikasa menerima botol minum tersebut dan ia pun menegakkan kepalanya untuk melihat ke mana sosok itu pergi setelahnya.
Semua orang di ruang teater kembali pada aktivitasnya masing-masing dan kali ini adalah giliran para aktor yang berlatih di panggung. Menit demi menit pun berlalu. Namun, Mikasa masih duduk di kursinya dan memperhatikan para aktor memainkan peran mereka. Hingga tak lama kemudian, dari arah belakangnya terulurlah sebuah sapu tangan berikut suara dari pemiliknya.
“Hai. Ini, buatmu.”
Tentu Mikasa merasa terkejut. Secara otomatis ia menoleh ke belakang dan juga tangannya bergerak untuk menerima apa yang diberikan. Berakhir netra mereka saling bertemu, bahkan pria yang ditatap pun tersenyum sambil melangkahkan kaki mengitari deretan kursi di ruang teater untuk menghampiri Mikasa tanpa memutus pandangan mereka barang sebentar.
Beberapa sekon kemudian, pria tersebut mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Mikasa. Dengan senyum yang tak pernah pudar, ia mengulurkan telapak tangannya seraya berkata, “Perkenalkan, namaku Eren Jaeger.”
Bagi Mikasa, situasi ini agak canggung lantaran ia tak tahu harus menunjukkan ekspresi yang bagaimana di hadapan pria yang baru ia temui di hari ini. Namun, ia akan tetap mengingat kata-kata sang nenek yang menyuruhnya untuk selalu bersikap sopan kepada siapa pun. Mikasa selalu ingat hal itu sehingga dengan tidak mengurangi rasa hormat, Mikasa secara perlahan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang pria.
“Saya Mi—”
“Mikasa Ackerman, ‘kan?” potongnya.
Mikasa membelalakkan matanya seraya melepas jabatan tangan. Namun, pria bermarga Jaeger tersebut justru memberikan senyuman secara cuma-cuma dan nyaris tertawa melihat ekspresi wajah Mikasa saat ini.
“Tak ada yang tak mengenalmu di negara ini, Mikasa … oh, atau haruskah kupanggil “Senpai”?”
“J-Jangan,” paniknya. “Cukup Mikasa saja.”
Lagi-lagi Eren tersenyum. “Baiklah, Mikasa. Omong-omong, bagaimana perasaanmu? Apakah sudah lebih baik?”
“Sedikit,” ujarnya pelan.
Dengan gerakan yang tiba-tiba, Eren meraih sapu tangan yang semula ada di genggaman Mikasa. Ia menggunakannya untuk menyeka sisa-sisa keringat di dahi serta bekas jejak air mata di sudut mata gadis cantik di hadapannya. Tentu saja Eren melakukannya secara perlahan.
Tindakan spontan Eren berhasil membuat Mikasa merasa gugup sebab jarak keduanya terlampau dekat. Ekspresi Eren pun sangat serius tatkala mengusap wajah Mikasa dengan sapu tangannya. Mikasa nyaris menahan napas dan rasanya ia juga ingin memerintahkan jantungnya agar tidak berdebar terlalu kencang.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Eren pun berkata, “Oh, sepertinya sebentar lagi giliranku. Aku tinggal latihan, ya. Ini … sapu tangannya kau simpan saja, tidak perlu dikembalikan.”
Seperti setengah sadar, Mikasa mengangguk saat melihat Eren bangkit dari kursi dan kembali menyisipkan sapu tangan dalam genggamannya.
Lantaran mulai teringat bahwa ia belum mengucap terima kasih sedari tadi, akhirnya Mikasa pun berujar, “Anu … Eren-san, terima kasih.”
Eren tersenyum untuk yang kesekian kali dan hal itu berhasil menghipnotis Mikasa lagi dan lagi.
Baru saja akan melangkah, tiba-tiba Eren kembali menoleh ke hadapan Mikasa. “Ah, hampir saja lupa. Biasanya kau pulang jam berapa? Karena sepertinya kita benar-benar harus latihan menari dari awal lagi.”
Mikasa pun tampaknya baru menyadari alasan mengapa sedari tadi ia duduk di kursi ini.
“Saya akan ada di sini sampai tengah malam.”
Eren kemudian mengangguk. “Jangan pakai “Saya”, cukup “Aku” saja, Mikasa. Dan panggil aku “Eren”, tidak perlu embel-embel apa pun.”
“T-Tapi, nenek bilang kalau—”
“Kalau harus sopan, kah?” Lagi-lagi Eren menginterupsi. “Tapi, kau tak perlu begitu kepadaku. Santai saja, karena aku adalah pasanganmu,” lanjutnya seraya tersenyum dan mengelus pucuk kepala Mikasa.
Sesaat kemudian Eren pergi meninggalkan Mikasa yang masih belum bisa mencerna dengan baik ucapan pria bersuara lembut tersebut.
Dari tempatnya duduk, Mikasa dapat melihat dengan jelas Eren yang tengah memainkan perannya sambil menyanyikan sebuah lagu. Suara Eren sangat merdu sekali, jernih, dan juga menenangkan hati. Bertahun-tahun Mikasa hidup di gedung teater dan menyaksikan begitu banyak pertunjukan opera, operet, atau musikal, baru kali inilah ia merasa terisap masuk ke dalam dimensi lain.
Dunia di sekitarnya seakan berhenti dan membuat pria di atas panggung sana terlihat lebih bersinar dari lampu sorotnya sekalipun.
Sepuluh menit berselang, kesadaran Mikasa seakan belum kembali ke permukaan, padahal latihan tim aktor telah benar-benar selesai.
♫♫♫
Di belakang panggung, Eren bergegas untuk berganti pakaian dan berlari menghampiri gadis cantik yang sejujurnya telah menarik perhatian sejak hari kedatangannya untuk menjadi aktor tambahan di tim “The Paradis’ Operet”. Gadis itu terlihat sangat indah, bahkan Eren sulit menemukan kata yang tepat untuk mendefinisikan keindahannya. Akan tetapi, Eren juga menyadari bahwa pada tatapan mata gadis bernama Mikasa itu tersimpan berjuta luka yang membuatnya ingin sekali menghapusnya.
Eren selama ini telah mengamati bagaimana perlakuan Nyonya Azumabito terhadap cucunya sendiri di depan umum. Setiap hari, ada saja yang selalu wanita itu koreksi dan cenderung memaki tanpa henti. Karena itulah mengapa akhirnya ia memberanikan diri untuk menjadi partner Mikasa menari. Eren merasa tertantang untuk bisa memenuhi standar sempurna dari Nenek Mikasa. Terlebih Eren memang berjiwa kompetitif dan selalu berpegang teguh pada keinginannya.
Kendati demikian, ada sedikit pemikiran bahwa dirinya terlampau nekat lantaran hanya memiliki bekal kemampuan menari yang tidak terlalu istimewa. Mungkin jauh dari kata sempurna. Tetapi, jika berlatih lebih giat maka ia pasti akan bisa melakukannya, begitulah pikirnya.
Kembali menuju ke ruang teater, Eren kini disuguhi pemandangan Mikasa yang tengah berlatih sendirian di atas panggung. Eren tahu bahwa itu adalah teknik épaulement yang mengkhususkan pola keseimbangan lewat pengaturan posisi bahu, kepala, dan leher. Kemudian dilanjut dengan 32 fouettés en tournant, gerakan yang membuat Mikasa harus berdiri dengan satu kaki, sedang kaki yang lain dilempar ke samping sehingga ia dapat membuat suatu putaran. Gerakan memutar tubuh tersebut harus Mikasa lakukan sebanyak 32 kali, sesuai dengan namanya. Gerakan itu pun dapat menjadi pembuktian seberapa ahli seorang penari balet dalam menunjukkan kekuatan, keahlian teknik, serta staminanya.
Eren pernah membaca hal tersebut di buku kuliahnya saat menjadi mahasiswa di Institut Seni Prancis serta mempraktikkannya sendiri di ruang teater kampusnya. Menurutnya, gerakan itu susah-susah gampang karena ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya secara konstan.
♫♫♫
Dalam setiap gerakannya, kepala Mikasa seakan tidak bisa berhenti berpikir tentang pria yang baru saja ditemuinya di hari ini. Aneh rasanya karena suara sang nenek yang biasanya menggema di kepala mendadak hilang begitu saja. Hingga akhirnya ia mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh di tengah panggung, barulah Mikasa menyadari bahwa dirinya tidak seorang diri di ruang teater ini sebab tiba-tiba saja pria yang memenuhi pikirannya sedari tadi datang menghampiri.
“Kau tak apa?” tanyanya dengan nada suara yang panik dan napas sedikit tidak beraturan, efek berlari dari bawah panggung. Secara spontan ia pun berlutut di hadapan Mikasa dan memegang bahu sang gadis, berusaha untuk memosisikan tubuhnya dengan baik.
Tak bisa dipungkiri bila Mikasa terkejut, bahkan ia refleks memundurkan tubuhnya dan membuat Eren langsung melepas pegangan tangannya di bahu Mikasa.
“Oh, maaf.”
Mikasa menggeleng kepala seraya tersenyum tipis.
Entah mengapa Eren rasanya ingin mengucap syukur pada semesta sebab untuk sesaat ia bisa melihat Mikasa tersenyum. Eren kemudian melihat jam tangannya untuk memastikan bahwa waktu makan malam belum terlewat. Dengan inisiatifnya, Eren pun berujar, “Mikasa, kau sudah makan malam? Bagaimana kalau kita makan bersama, baru setelahnya kita latihan?”
Mikasa menggelengkan kepalanya. “Maaf. Tapi, aku tidak biasa makan malam, Eren.”
Eren tak menduga akan mendapat jawaban seperti ini. Namun, saat itu juga ia tersadar dengan tingkah Mikasa yang terlihat cemas, seakan takut salah bicara.
“Oh, oke. Tapi, maukah kau menemaniku makan malam? Mungkin kita bisa sekalian membicarakan perihal koreografi untuk pertunjukan nanti,” ujarnya penuh harap.
Sambil menimbang-nimbang, akhirnya Mikasa pun mengiakan permintaan Eren dengan syarat tidak terlalu lama karena ia khawatir sang nenek akan tahu jika dirinya mengakhiri jam latihan sebelum waktunya.
Eren menyetujuinya. Pria itu ternyata hanya ingin makan di restoran sup yang berada di gedung seberang. Eren memesan Kenchinjiru atau sup yang dibuat dari rebusan dashi, soyu, dan ragam sayuran seperti kentang, wortel, jamur, serta umbi-umbian. Sedangkan Mikasa hanya memesan Jasumin Cha atau teh yang mengeluarkan aroma harum dari seduhan bunga melati dan memiliki kafein yang lebih rendah, mengingat dirinya tidak begitu gemar mengonsumsi kafein.
Entah ini adalah efek dari Jasumin Chanya atau memang karena ia merasa senang sebab baru kali ini bisa sedikit bersantai bersama orang lain, hati Mikasa pun terasa menghangat khususnya saat melihat Eren yang makan dengan lahap.
“Kenapa? Ada yang salah dari cara makanku?” tanya Eren yang menyadari dirinya tengah diperhatikan sedari tadi.
Sontak Mikasa mengangkat kedua tangan dan menggerakkannya. “Bukan, bukan. Aku … aku hanya merasa sudah lama sekali tak melihat orang yang makan dengan penuh semangat sepertimu. Mungkin terakhir kali saat aku … sekolah. Maaf kalau aku tidak sopan.”
Eren tersenyum sembari meletakkan sumpit dan sendoknya. “Ternyata kau bisa bicara lebih dari dua kalimat, ya?”
“Eh?”
“Hehe. Kau lebih sering pakai isyarat anggukan atau gelengan kepala kalau kuperhatikan. Tapi, sekarang aku sudah bisa menyimpulkan kalau kau mulai merasa nyaman berbicara denganku.”
Mikasa mengangguk ragu.
“Tuh! Benar, ‘kan?” respons Eren.
Seketika Mikasa merasa bingung harus bertingkah bagaimana. Akhirnya ia mulai mengalihkan pembicaraan dengan membahas koreografi yang akan mereka lakukan nantinya. Mikasa benar-benar menjelaskan dari awal sembari menunjukkan video latihan yang sempat direkam kemarin. Mikasa juga tidak menyangka bila akhirnya rekaman video ini akan digunakan sebagai panduan seperti sekarang.
Usai membayar makanan dan teh milik Mikasa, Eren mengajak Mikasa untuk kembali ke gedung teater, tentunya dengan sedikit perdebatan sebab Mikasa ingin membayar minumnya sendiri sebenarnya. Namun, Eren berhasil membujuk Mikasa agar tidak membuang waktu lebih banyak lagi.
Sesampainya di gedung teater, Mikasa menyerahkan sepatu balet yang telah ia persiapkan kepada Eren serta meminta pria itu untuk mengikuti dirinya melakukan pemanasan.
Ada perasaan aneh bagi Eren ketika mengenakan sepatu berbahan kanvas tersebut. Akan tetapi, ini juga bukan sesuatu yang benar-benar sulit untuknya lantaran ia sudah pernah mencoba banyak hal selama hidupnya.
Berjam-jam berikutnya Eren mengikuti semua arahan yang Mikasa berikan dengan sangat baik dan membuat Mikasa berujar, “Eren, kau harus jujur padaku. Sebenarnya kau bukan aktor, ‘kan? Kau penari balet sungguhan, ‘kan?”
Eren tertawa mendengarnya. “Aku aktor. Dan aku bisa memerankan banyak hal, Mikasa.”
“Tapi … bagaimana ….” Mikasa sungguh kehilangan kata-kata.
Eren bersedekap, memejamkan matanya sesaat, dan kemudian mengangguk. Seakan ia merasa memang harus memberitahukan ini kepada Mikasa.
“Orang tua asuhku seniman di Prancis. Selama tiga belas tahun aku belajar banyak hal. Menari, menyanyi, melukis, bermain alat musik; semuanya kulakukan. Mereka benar-benar membebaskanku untuk melakukan apa pun. Namun, hanya satu tempat yang bisa membuatku bebas memainkan segala emosi yang kupunya, yaitu akting. Dan, aktor yang baik adalah aktor yang bisa melakukan segala hal, bukan? Jadi … beginilah,” ucapnya panjang lebar dan diakhiri dengan senyum.
“Kau luar biasa sekali. Sungguh, aku iri mendengarnya. Kapan lebih tepatnya kau belajar balet? Tapi … tapi tak usah dijawab sekarang. Ini sudah lewat tengah malam. Aku harus segera pulang.”
“Oke. Kita sambung besok lagi, ya. Kau perlu kuantar pulang?” tanya Eren yang memperhatikan Mikasa tengah melepas sepatu kanvasnya.
Mikasa menggeleng cepat. “Tidak perlu. Sopir nenekku pasti sudah menunggu.”
“Oh, baiklah.”
“Aku pamit, ya. Sampai jumpa besok,” ucapnya terburu sambil membawa semua barang bawaannya dan berlari ke arah pintu keluar.
Lantas Eren berteriak, “Hati-hati di jalan. Selamat istirahat dan semoga mimpi indah, Mikasa!”
Untuk yang kesekian kalinya di hari ini perasaan Mikasa kembali menghangat hanya dengan sederet kata perpisahan sesaat. Bila boleh meminta kepada Yang Maha Kuasa, Mikasa ingin terus merasakan perasaan semacam ini untuk selamanya. Namun, semua rasa itu sepertinya tak akan bisa terus-menerus ia dapat, apalagi bila berhadapan dengan sang nenek yang selalu membuat dirinya tercekat.
Perjalanan menuju ke rumah membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga puluh menit. Namun, karena jalanan sudah cukup sepi di tengah malam hari ini, perjalanan menjadi lebih singkat dari estimasi waktu seharusnya.
Sesampainya di rumah, buru-buru Mikasa masuk ke dalam kamarnya lantaran takut berpapasan dengan sang nenek. Segera ia menanggalkan semua pakaiannya dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor. Ia berjalan menuju ke kamar mandi dan menyalakan shower yang mengeluarkan air hangat.
Mikasa membiarkan sekujur tubuhnya kuyup. Lantas diambilnya botol sampo dan digosokkannya cairan sampo di kepala hingga busanya keluar serta membilasnya sampai bersih. Kemudian dilanjut dengan menyabuni seluruh bagian tubuhnya, menggosoknya, dan juga membilas seluruh busanya.
Dalam pikirannya kini terlintas senyum dari pria yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya serta baru saja menghabiskan waktu latihan bersama dengannya.
“Eren Jaeger, sebenarnya kau itu siapa?”
♫♫♫
Keesokan harinya Mikasa merasa hati dan pikirannya lebih tenang. Entahlah, ia juga tak tahu mengapa dirinya merasa demikian. Pagi hari di rumahnya saat ini pun terasa damai karena sang nenek tampaknya sangat sibuk mengurusi persiapan pertunjukan A Winter Symphony of Love. Mikasa segera menghabiskan sarapan yang tersaji untuknya berupa greek yogurt bersama buah-buahan dan granola.
Selama ini, Mikasa memang selalu makan-makanan yang dianggap sehat oleh neneknya. Ia tidak pernah jajan sembarangan. Bila berat badannya bertambah sedikit saja, maka hidup Mikasa seakan berada di ambang kematian akibat terkena amukan atau tamparan dari sang nenek.
Setidaknya Mikasa masih merasa beruntung karena sang nenek tidak pernah bertindak kasar yang lebih jauh lagi selain menampar pipinya. Sebab bagaimanapun seluruh bagian tubuh dari penari balet adalah aset yang berharga sehingga benar-benar dijaga. Hanya saja, Mikasa tetap tidak memiliki keberanian untuk mengeluh saat merasa lelah, sampai akhirnya ia harus terluka terlebih dahulu dan membuat sang nenek memarahinya. Kendati demikian, tetap saja pada akhirnya sang nenek akan meminta bantuan dokter kepercayaan keluarga untuk mengobati cucunya.
Saat ini, Mikasa telah memasukkan pakaian untuk latihan ke dalam ranselnya. Tak lupa ia juga memakai mantel, syal, kaus kaki, dan juga sarung tangan. Ia pun sedikit terburu lantaran harus segera latihan sebelum para penari lainnya berdatangan.
Sesampainya di Paradis Ballet Company, Mikasa bergegas menuju ke loker dan berganti pakaian. Ia juga menjinjing sepatunya saat berjalan menuju ke tempat latihan yang kemarin. Tatkala pintu terbuka, Mikasa terkejut melihat Eren yang ternyata sedang berlatih di tengah panggung.
Mikasa terdiam di ambang pintu, sedangkan yang diperhatikan olehnya pun belum menyadari kehadirannya. Sampai akhirnya Mikasa bertepuk tangan ketika Eren telah selesai menarikan seluruh bagiannya.
Sontak Eren menoleh ke sumber suara tepukan dan ia melambaikan tangan sebagai isyarat agar Mikasa segera menuju ke arahnya.
“Kau sudah datang?”
Mikasa mendengus. “Harusnya aku yang bertanya, sebenarnya kau datang jam berapa ke sini?”
Eren menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Dari jam 7 pagi.”
Mikasa membelalakkan matanya tak percaya sebab mengira dirinya sudah menjadi yang paling pagi kemari. Tepat pukul 9 pagi.
“Sumpah? Kau pasti belum sarapan, ‘kan?”
“Aku sudah sarapan, kok. Tenang saja,” jawabnya seraya tersenyum. “Kau mau berlatih sekarang?”
“Iya, aku harus melatih koreo bagianku terlebih dahulu. Setelah itu kita latihan berdua, ya. Bagaimana?”
“Oke. Kalau begitu aku duduk di sana dulu,” ujar Eren sembari menunjuk kursi di bawah panggung.
Mikasa mengangguk dan segera mempersiapkan diri dengan melakukan berbagai pemanasan. Selanjutnya mata Mikasa terpejam seakan tengah menghitung tempo atau ketukan kapan ia harus mulai bergerak.
Lantas gerakan demi gerakan Mikasa lakukan. Melompat dengan tinggi, mendarat dengan mulus, dan berputar. Terus menerus Mikasa lakukan hingga membuat perasaan Eren semakin tidak keruan. Ia benar-benar terpana. Mikasa luar biasa. Ekspresi wajah Mikasa saat ini bahkan lebih baik daripada saat melihatnya berlatih bersama pria yang kemarin terluka.
Menit demi menit pun berlalu hingga Mikasa benar-benar usai melakukan tariannya. Seketika Eren berdiri dari kursinya dan secara refleks bertepuk tangan. Sungguh Mikasa adalah manusia paling sempurna yang pernah ia lihat. Lebih dari sekadar indah. Hingga Eren tak menyadari bahwa Mikasa sudah memanggil-manggil namanya sedari tadi.
“Eren … Eren!”
Eren mengerjap dan berkata, “Oh, ya. Maaf. A-Aku … kau indah, Mikasa.” Entah bagaimana akhirnya Eren menyuarakan isi kepalanya sendiri sehingga Mikasa sedikit terkejut mendengarnya.
“Hmmm … terima kasih. Jadi, bisa kita latihan berdua sekarang?” tanya Mikasa dengan pipi yang sedikit bersemu.
“Iya, bisa. Ayo!” respons Eren yang sedikit salah tingkah.
Mereka pun akhirnya terlarut dalam lantunan melodi yang terus membawa tubuh keduanya bergerak ke sana kemari, memancarkan aura dan keserasian yang luar biasa indahnya.
Hingga hari demi hari berlalu tanpa pernah berakhir dengan wajah yang sendu. Mereka saling menunggu, saling menemani, saling bercerita, berdua. Berdua saja, seakan eksistensi manusia lainnya dipertanyakan di dunia.
Rasanya sudah lama bagi Mikasa untuk berkeluh kesah dengan orang lain. Mikasa benar-benar tak mempunyai teman akrab karena sedari masa sekolah dulu ia selalu berakhir sibuk sendirian dengan jadwal latihan yang telah sang nenek tetapkan.
Ketika teman-temannya mengajak untuk bermain atau hanya sekadar makan bersama di restoran cepat saji dan sejenisnya, maka ia akan segera dihampiri oleh sopirnya.
Mikasa bagaikan hidup di dalam sangkar emas selama ini. Tak boleh begini, tak boleh begitu. Harus begini, harus begitu. Tetapi, Mikasa sempat memberontak, meskipun yang terjadi kemudian adalah bencana berkepanjangan.
Dahulu, di sepuluh tahun yang lalu atau tepatnya saat ia bersekolah di tahun terakhir sekolah menengah pertama, ia pergi mengikuti teman-temannya ke tempat karaoke. Ponsel telah Mikasa nonaktifkan dan ia pun menyelinap dari gerbang belakang sekolah yang sebenarnya terkunci. Adapun celahnya hanya bisa dilewati oleh orang yang bertubuh ramping, dan Mikasa bersama dua temannya berhasil melewati celah tersebut. Hal ini Mikasa lakukan lantaran ia mengetahui bahwa sopirnya sudah menunggu di gerbang depan.
Alhasil, sang sopir harus melapor kepada Nyonya Azumabito bahwa Mikasa tak ada di sekolah sebab tak kunjung terlihat, bahkan tak bisa ditemui di mana-mana. Nenek Mikasa langsung meminta sang sopir untuk kembali mencari Mikasa ke mana pun, dan dirinya juga turun tangan langsung menggunakan mobilnya sendiri.
Selama ini, sebenarnya Nenek Mikasa banyak menyimpan rapat rahasia tentang dirinya sendiri dari sang cucu. Salah satunya adalah perihal ia yang tidak bisa atau tidak boleh dibiarkan menyetir dalam keadaan panik.
Wanita itu jelas panik lantaran cucu satu-satunya menghilang. Pikirannya rumit. Antara takut cucunya dibawa kembali oleh kedua orang tua Mikasa yang sebenarnya belum meninggal, diculik oleh orang tak dikenal, atau bahkan kabur karena tak kuat dididik olehnya.
Pemicu panic attack yang dialami oleh Nenek Mikasa pertama kali adalah rasa terkejutnya saat mendapati anak semata wayangnya hamil di luar nikah dan harus meninggalkan cita-citanya untuk menjadi balerina dunia hanya karena jatuh cinta dengan Ayah Mikasa, yang kebetulan adalah seorang pekerja perawat gedung teater. Sampai akhirnya Mikasa dilahirkan di tempat yang sangat kumuh dan membuat sang nenek harus mengambil Mikasa dari orang tua kandungnya, serta mengirim mereka ke luar negeri untuk beternak sapi. Namun, orang tua Mikasa pun memohon agar setidaknya membiarkan Mikasa menggunakan nama pemberian mereka, sebagai ganti untuk tidak menemui Mikasa sama sekali selama hidup mereka.
Jauh di lubuk hati Nenek Mikasa, ia hanya ingin Mikasa menjalani hidup yang baik dan melanjutkan cita-cita keluarga sehingga ia merasa harus selalu menjaga Mikasa dan membuat sang cucu tak lepas dari pantauannya.
Lantas di musim dingin itu, Nenek Mikasa mengalami kecelakaan. Tidak fokusnya pikiran membuat dirinya menabrak pembatas jalan yang tertutup oleh salju.
Mikasa yang baru saja pulang ke rumah, masih dengan seragam sekolahnya, seketika menangis tersedu-sedu tatkala asisten rumah tangganya memberitahukan kondisi neneknya. Mikasa langsung meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit dan ditemani juga oleh sang asisten rumah tangga.
Setibanya di depan pintu kamar ruang rawat sang nenek, Mikasa membukanya begitu saja dan menangis sembari memeluk neneknya. Nenek Mikasa menatap sang cucu dengan tatapan yang tak bisa diartikan apa maksud sebenarnya. Benar-benar tak terbaca.
Beberapa menit sebelumnya, Nenek Mikasa harus menerima kenyataan pahit bahwasanya ia tak akan bisa lagi menari. Jangankan untuk menari, bahkan menopang tubuhnya sendiri pun ia tidak akan mampu. Dalam pikirannya, bagaimana dengan cita-citanya yang ingin menjadi pemilik Ballet Company sekaligus pelatih balet ternama di dunia? Rasanya semestanya runtuh hanya karena rasa panik dan takut kehilangan sang cucu. Rasanya dunia berhenti berputar dan harus segera menyaksikan namanya yang perlahan memudar. Tak akan ada lagi yang mengingatnya sebagai mantan balerina berbakat kelas dunia. Tak akan ada lagi kesempatannya untuk menjadi satu-satunya mantan penari balet di Jepang yang berhasil meraih kesuksesan.
Semua ini karena kesalahan cucunya. Semua ini karena kesalahan putri satu-satunya. Sehingga kalimat-kalimat tersebutlah yang selalu terlontar dari bibirnya. Terkadang Mikasa bingung karena ia pun tak mengetahui apa-apa tentang orang tuanya, terutama ibunya. Tetapi, jika terlampau emosi, sang nenek akan menyebut-nyebut betapa sial dirinya melahirkan dan membesarkan anak tidak berguna, bahkan kini harus mengasuh keturunannya.
Mikasa di masa sekarang, terhitung sejak hari sang nenek mengalami kecelakaan, mengubah perannya bukan untuk menikmati hidupnya sendiri, melainkan menjadi peran pengganti atas segala cita-cita yang belum sang nenek capai.
Mikasa tak tahu harus bersikap bagaimana saat itu lantaran rasa bersalah yang tertanam dalam hati dan pikirannya. Rasa bersalah yang membuatnya harus mengesampingkan apa ingin hatinya. Rasa bersalah yang membuatnya harus mengubur semua ambisi yang ingin diraih olehnya. Rasa bersalah yang terus menerus membuatnya lupa bahwasanya terlampau banyak hal terlewat di masa hidupnya.
Bagaimana rasanya mempunyai orang tua? Bagaimana rasanya dilimpahi kasih sayang oleh orang tua? Bagaimana rasanya mempunyai tempat tinggal yang suasananya hangat? Bagaimana rasanya mempunyai teman? Bagaimana rasanya mempunyai pacar? Bagaimana caranya bahagia? Semuanya hanyalah bagaimana yang selalu Mikasa tanya di dalam hatinya tanpa pernah terucap kepada siapa pun sebelumnya. Hingga akhirnya Eren datang, memohon izin untuk menawarkan bantuan dan berakhir dengan keduanya yang secara kasatmata seperti memulai suatu ikatan tak bernama.
♫♫♫
Akankah sama jadinya
Bila bukan kamu
Lalu senyummu menyadarkanku
Kau cinta pertama dan terakhirku
♫♫♫
BEBERAPA waktu belakangan Mikasa merasa sedikit bersyukur karena intensitas makian sang nenek mulai berkurang. Mungkin sang nenek telah mengakui usahanya bersama Eren untuk melakukan yang terbaik di pertunjukan A Winter Symphony of Love. Mungkin sang nenek telah lelah memaki dirinya dan ingin segalanya berjalan dengan tenang. Atau mungkin sebenarnya ini adalah tenang sebelum badai? Mikasa tidak tahu. Mikasa pun tidak mau memikirkan kemungkinan terburuknya, setidaknya di hari ini.
Lantaran di hari ini, tepat di hari natal, pertunjukan pun akan diselenggarakan. Mikasa telah mempersiapkan diri di belakang panggung bersama dengan Eren dan juga tim penari lainnya. Mikasa dan Eren mengenakan pakaian berwarna putih, sedangkan penari lainnya menggunakan pakaian berwarna hitam.
Dalam hati, Mikasa berdoa semoga pertunjukan perdana ini berjalan dengan lancar. Jangan sampai ada kesalahan terutama pada gerakan pas de deux. Ini adalah gerakan yang cukup krusial. Mikasa benar-benar memercayakan segalanya pada Eren, begitu pun Eren yang menginginkan Mikasa untuk fokus dan percaya saja padanya.
Akhirnya, waktu penampilan mereka tiba. Panggung telah didekorasi sedemikian rupa dan kini para penari pembuka mulai menaiki panggung serta menari mengikuti irama. Selanjutnya Mikasa dan Eren menaiki panggung dari samping. Lampu sorot lantas mengikuti ke mana pun mereka bergerak, sampai akhirnya mereka benar-benar bertemu di tengah panggung.
Keduanya menari dengan penghayatan tingkat tinggi. Aura yang terpancar benar-benar menyilaukan. Tampak mewah dan indah dalam satu waktu. Sungguh membuat kagum siapa pun yang menontonnya.
Tibalah waktunya bagi Eren untuk mengerahkan seluruh kekuatan dan ketepatannya saat hendak mengangkat serta menahan tubuh Mikasa dengan kedua tangannya. Tangan kiri ia letakkan di pinggang Mikasa dan tangan kanannya tepat di kaki kanan Mikasa. Sedikit berputar dan mendaratkan Mikasa secara halus di atas panggung kembali.
Dalam hati keduanya membatin, pas de deux akhirnya berhasil. Lantas terus saja mereka menari sampai gerakan terakhir dan ditandai juga dengan berakhirnya musik yang terlantun.
Formasi tarian penutupnya sangat sempurna sekali, tak ada satu pun penari yang terlambat atau bahkan melakukan kesalahan. Hingga akhirnya suara tepukan tangan dari penonton menggema di seluruh tempat pertunjukan.
Satu per satu penari turun ke belakang panggung, tak terkecuali Mikasa dan Eren.
Tirai pun perlahan menutup dan seluruh dekorasi panggung di tata ulang untuk menampilkan pertunjukan operet dari tim aktor. Mikasa dan Eren berjalan bersisian serta tersenyum terhadap satu sama lain.
Ketika mereka akan berpisah di ruang ganti, Mikasa berujar pelan, “Terima kasih.”
“Kalau kau merasa harus berterima kasih, berarti kau harus menonton penampilanku setelah ini.”
“Eh?” respons Mikasa bingung.
“Sampai jumpa, aku ganti baju dulu,” ucapnya berlalu.
Sepuluh menit kemudian satu per satu aktor mulai menaiki panggung untuk memainkan peran masing-masing. Mikasa telah berganti pakaian, saat ini ia memilih duduk di kursi tengah yang memang dipersiapkan oleh pihak penyelenggara bagi para penari atau aktor yang ingin menonton pertunjukan.
Mikasa memperhatikan bagaimana setiap aktor berdialog, menyanyi, menari, berakting atau menyesuaikan mimik wajah dengan dialognya. Hingga akhirnya pandangan Mikasa terfokus pada seorang pria yang sudah ia nantikan kemunculannya.
Padahal Eren bukanlah pemeran utama. Namun, Eren berhasil mencuri perhatian dengan betapa gagahnya ia mengenakan setelan jas serta wajah yang menunjukkan kesedihannya saat kehilangan sang pujaan hati.
Lantas alunan musik mulai terdengar dan nyanyian sendu perlahan merasuk ke dalam kalbu. Suara itu menjadi satu-satunya suara yang membuat Mikasa kembali merasa terisap ke dimensi lain. Mikasa berani bersumpah bahwa tak akan ada seorang pun yang tak merasa jatuh cinta saat mendengar suara Eren, serta betapa beruntungnya pasangan Eren di masa depan sebab akan selalu mendengar suara lembut itu setiap waktu.
Tak lama kemudian, suara tepukan tangan yang menggema di ruang pertunjukan membuat Mikasa tersadar bahwasanya semua rangkaian acara di hari ini telah usai.
Mikasa berlari ke belakang panggung untuk mencari Eren. Tepat ketika ia akan menginjakkan kaki ke arah ruang ganti tim aktor, Eren pun keluar dari balik pintunya. Keduanya sedikit terperanjat. Namun, berakhir tertawa bersama.
“Kau keren,” puji Mikasa.
“Terima kasih. Terima kasih karena telah menonton sampai akhir,” ucap Eren seraya tersenyum dan dibalas anggukan oleh Mikasa.
Di saat semua orang berlalu lalang serta bersiap untuk pulang, Mikasa dan Eren masih saling memandang satu sama lain.
Malam itu berakhir dengan mereka yang berjalan menuju ke taman di rooftop dan mulai mendudukkan diri di ayunan yang berada di sana. Mikasa menyembunyikan jari berselimutkan sarung tangan di saku mantelnya, sedangkan Eren membawakan dua gelas teh panas yang sebelumnya mereka buat di pantri. Keduanya sepakat meminum teh untuk menghangatkan diri malam natal ini.
Eren kemudian memberikan satu gelasnya kepada Mikasa dan yang diberi gelas pun menerimanya dengan baik. Secara bersamaan mereka menyesap teh di gelas masing-masing dan berakhir saling berpandangan.
Lantas Mikasa tertawa seraya berkata, “Ada yang aneh ya sama cara minumku?”
Eren menggeleng. “Déjà vu, ya? Aku juga pernah tanya hal serupa.”
Lagi-lagi keduanya tertawa dan dilanjutkan dengan mengobrol bersama. Mikasa bertanya tentang kehidupan Eren selama di Prancis, tentang usia Eren yang ternyata seusianya, dan berakhir pria bertubuh besar itu menceritakan segalanya termasuk pengalamannya melakukan seks.
Secara terang-terangan Eren berkata bahwa ia bukanlah pria baik-baik. Pertama kali dirinya mengenal seks ketika berusia 17 tahun, lebih tepatnya saat ia baru menjadi mahasiswa di Institut Seni Prancis. Itu semua murni karena rasa penasarannya untuk mendalami peran. Bersama wanita atau pria, menjadi yang memimpin atau dipimpin, Eren sudah mencobanya semua. Namun, Eren bersumpah hanya akan setia pada pasangannya saja apabila ia sudah menemukan sosoknya.
Eren juga bercerita bahwa di tiga tahun terakhir atau tepatnya setelah lulus kuliah, ia bergabung di suatu perkumpulan aktor yang berhasil membawanya melanglang buana dari satu teater ke teater lain. Hingga akhirnya ia mendengar kabar tentang pertunjukan operet di Jepang. Karena itulah ia mengikuti casting dan berakhir menjadi salah satu pemeran serta pasangan menari Mikasa. Ini adalah pengalaman yang hebat menurut Eren, dan juga ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki kembali di negara asalnya setelah tiga belas tahun lamanya berada di negara yang dijuluki The Hexagon.
Baru hitungan bulan ia dekat dengan Mikasa, tetapi Eren seakan mengerti, seakan mengetahui, serta dapat ikut merasakan segala kepedihan yang tertahan di dalam hati gadis cantik itu.
Ketika Mikasa begitu memuja betapa kerennya ia, betapa irinya Mikasa terhadap segala pengalamannya, Eren jadi merasa ingin sekali membagikan pengalaman itu secara nyata kepadanya.
Eren juga ingin Mikasa merasakan bahagia.
♫♫♫
Masih teringat jelas di ingatan Mikasa saat malam tahun baru, Eren meminta izin kepada neneknya untuk mengajak dirinya pergi bersama anggota tim aktor. Awalnya Mikasa sempat khawatir tidak diizinkan, serta berakhir ia dan Eren dimarahi habis-habisan. Namun, ajaibnya sang nenek memperbolehkan. Hanya saja dengan syarat yaitu tidak membuat Mikasa mabuk dan maksimal diantar pulang pukul 3 pagi. Karena bagaimanapun di tanggal 1 Januari mereka semua ada jadwal pertunjukan.
Tentu saja Mikasa merasa sangat bahagia kala itu, sebab di usianya yang akan memasuki angka 26 di tahun ini, baru sekarang ia merasakan pengalaman menghadiri pesta bersama seorang teman dan menyambut pergantian tahun di luar rumah.
Tak henti-hentinya Mikasa berterima kasih kepada pria yang ia mulai sadari memiliki kebiasaan untuk merapikan rambut setiap waktu.
Namun, Eren terus saja berkata bahwa ini bukanlah apa-apa. Bila Mikasa mau … apa pun akan ia wujudkan, katanya. Lantas Mikasa tertawa saja menanggapi ucapan Eren malam itu.
Setelahnya, pertunjukan demi pertunjukan pun terselenggara dengan baik. Mikasa jarang dimarahi di depan umum lagi oleh neneknya. Namun, ia saat ini sedikit sedih lantaran berat badannya bertambah dua kilogram. Mikasa juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana hal ini bisa terjadi. Lantaran setiap harinya ia hanya mengonsumsi makanan yang dipersiapkan oleh asisten rumah tangga atas pengawasan neneknya.
Sang nenek marah besar dan memintanya untuk terus berlatih, membakar kalorinya dengan berolahraga, bahkan melarangnya untuk pulang lebih dari jam sebelas malam.
Ketika Mikasa menceritakan hal tersebut kepada Eren, justru pria itu berkata, “Pernah dengar istilah kalau orang bertambah berat badan tandanya dia bahagia, tidak?”
Sontak Mikasa menggelengkan kepala karena memang ia tak pernah mendengar kalimat semacam itu sebelumnya.
Namun, di malam hari, saat Mikasa akan memejamkan mata, ucapan Eren terngiang-ngiang di kepalanya dan ia pun mempertanyakan apakah saat ini dirinya tengah merasa bahagia?
♫♫♫
Berada di Jepang hampir enam bulan membuat Eren tersadar bahwa ternyata hari yang ia lalui di sini tidaklah seburuk itu. Justru ia jadi bisa bertemu dengan sosok yang begitu menawan. Tetapi, sayangnya sosok tersebut belum sepenuhnya menyadari betapa indah dan layaknya ia untuk merasakan bahagia.
Bila boleh berbuat nekat, selesai pertunjukan di tanggal 14 Februari nanti rasanya Eren ingin membawanya pergi yang jauh dari sini, dan membantunya menemukan apa yang sebenarnya ingin gadis itu lakukan.
Salah satu cita-cita Eren adalah keliling dunia, dari satu tempat ke tempat lain dan tak pernah terikat. Mungkin hanya dua tempat yang bisa dijadikan tempatnya pulang, yaitu rumah orang tua asuhnya serta apartemen pribadinya di Prancis.
Sejak lulus kuliah, Eren merasa bisa bertanggung jawab atas segala pilihan hidupnya, bahkan orang tua asuhnya pun sangat menghormati keputusannya sehingga menambah satu nyawa lagi untuk menjadi tanggung jawabnya rasanya bukanlah hal yang berat lantaran Eren memiliki segalanya, kecuali cinta dari orang yang juga mencintainya apa adanya. Bukan cinta pada harta atau segala pencapaiannya. Sulit bagi Eren untuk menemukan sosok semacam itu di lingkungan ia tinggal atau mengenyam pendidikan. Alhasil, ada sedikit rasa penyesalan di diri Eren karena baru dekat dengan Mikasa menjelang musim dingin ini. “Kenapa tidak sejak lama saja aku dipertemukan dengan malaikat jatuh ini?” batinnya.
♫♫♫
Jika tak ingin merasakan baunya, maka jangan mencari tahu. Jika sudah terjatuh di kubangan, maka berendamlah sekalian. Mungkin kedua kalimat tersebut sangatlah relevan untuk menggambarkan keresahan yang Eren alami dalam beberapa waktu terakhir.
Eren seakan terjebak zona nyaman. Namun, siapa sangka bila sebenarnya pihak lainlah yang merasakan kenyamanan lebih dari apa pun?
Keduanya belum menyadari sepenuhnya perasaan yang saling mutual meskipun telah menghabiskan waktu hampir 12 jam bersama-sama di setiap harinya. Sudah cukup banyak momentum yang mereka ciptakan dari berlatih bersama, makan siang bersama, makan malam bersama, menonton film di bioskop saat telah selesai melakukan pertunjukan, bersepeda bersama di sekitaran sungai Arakawa, serta bercengkerama dan berandai-andai akan terjadi apa di masa depan, tepatnya setelah pertunjukan A Winter Symphony of Love ini berakhir.
Lantas bisa jadi hal tersebut menjadi akhir dari pertemuan mereka yang bersifat sementara ini. Padahal, di lubuk hati keduanya tak ada seorang pun yang ingin pertemuan mereka berlalu begitu saja, menjadi asing kembali, dan syukur-syukur bertemu lagi bila diberi kesempatan oleh Sang Pencipta.
Malam itu tanggal 3 Februari, Eren akhirnya mengajak Mikasa untuk pergi ke sebuah restoran hotel. Dandanan Eren rapi sekali. Ia mengenakan turtleneck berwarna eggplant yang dibalut dengan jas hitam dan juga celana berwarna serupa. Sejujurnya mereka tidak berjanjian sama sekali dalam menentukan warna pakaian. Namun, Mikasa nyatanya juga memakai pakaian berwarna eggplant. Sebuah sweatshirt berbulu dengan bagian dalamnya menggunakan t-shirt lengan panjang berwarna hitam serta sebuah pita berwarna senada yang dililitkan di leher sebagai tambahan aksesorisnya. Manis sekali.
Bagi Mikasa, segala sesuatu yang terjadi di malam itu berjalan begitu cepat. Setelah turun dari mobil, keduanya langsung disambut dan diarahkan oleh pramusaji menuju ke tempat yang telah direservasi atas nama Eren.
Di hadapan mereka kini tersedia sebuah meja berlapiskan kain berwarna hitam dan dipenuhi dengan lilin-lilin cantik, dua gelas wine, serta dua buah kursi untuk mereka duduki. Piring dalam posisi menelungkup, garpu, pisau, dan serbetnya pun tertata rapi di atas meja.
Meja tersebut berada di luar ruangan, berseberangan dengan sebuah kolam renang, serta menghadirkan langsung pemandangan langit malam. Sejenak Mikasa terpesona dengan segala yang memanjakan matanya. Namun, mendadak ia ingat bahwa Eren ternyata membohonginya. Lantaran pria itu berkata hanya ingin ditemani makan seperti biasa saja, yang artinya bukan di tempat semacam ini.
“Kenapa kita ke sini? Mewah sekali. Kupikir kau hanya ingin makan seperti biasa,” ujar Mikasa setelah keduanya duduk dengan posisi sempurna. “Ah, dandananmu juga tidak seperti biasanya. Aku jadi malu karena hanya memakai sweatshirt begini.”
Eren tak mampu lagi menyembunyikan senyumnya tatkala melihat Mikasa yang berbicara tanpa jeda. “Memangnya aku tak boleh berdandan selain untuk pertunjukan?”
“Bukan seperti itu juga maksudku. Hanya … kenapa?”
“Kata orang-orang, steak di sini enak. Jadi, aku ingin coba,” respons Eren masih dengan senyum manisnya. “Aku juga memesankan salad untukmu, karena malam ini aku tak ingin makan sendirian.”
Tentu saja Mikasa terkejut mendengarnya. Bukankah pria itu tahu bahwa baru seminggu yang lalu ia mengeluh akibat berat badannya bertambah sehingga dimarahi oleh sang nenek? Lantas kini di luar dugaan justru Eren seakan ingin membuat berat badan Mikasa bertambah kembali.
Seolah tahu apa yang Mikasa pikirkan, pria bermarga Jaeger itu pun berucap, “Jangan khawatir. Nanti kalau berat badanmu bertambah, aku akan menghadap langsung kepada nenekmu.”
“Cih. Tapi, kau benar-benar harus bertanggung jawab, ya!”
“Iya. Bertanggung jawab untuk menikahimu pun aku sanggup, Mikasa. Tenang saja.”
Mendengar hal tersebut membuat Mikasa langsung mencubit tangan Eren yang berada di atas meja. “Ck, bercandamu tidak lucu. Belum saja kau dimarahi langsung oleh nenek.”
Mikasa kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia memberengut lucu.
“Bagaimana kalau aku tidak bercanda?”
Usai mendengar pertanyaan Eren, Mikasa tidak memberikan respons apa-apa selain memperhatikan sang pria tepat pada matanya. Seakan mencari-cari sebuah alasan mengapa pria di hadapannya tampak berbeda dari biasanya dan sibuk mengucapkan kata yang di luar nalar.
Eren pun menatap Mikasa. Namun, pandangan mereka harus terputus sejenak lantaran seorang pramusaji datang untuk menuangkan wine ke dalam gelas mereka. Sedikit merasa kikuk, Mikasa segera meraih serbetnya untuk ia letakkan di atas pahanya.
“Mau bersulang?” tanya Eren setelah pramusaji itu pergi.
Mikasa mengangguk.
Keduanya kini meraih gelas masing-masing, meneguk wine secara perlahan, mencecap rasanya dengan lidah, dan kemudian meletakkan kembali gelasnya ke tempat semula.
“Bagaimana?” tanya Eren lagi.
Mikasa menaikkan sebelah alisnya. “Bagaimana, apanya?”
Oh, ini menarik pikir Eren. Alhasil, ia berujar, “Yang pertama. Bagaimana kalau aku tidak bercanda? Apa kau bersedia?”
“Kau …. Aku … aku tidak tahu.”
Eren kemudian meraih tangan Mikasa dan menggenggamnya. Ia juga mengelusnya secara perlahan hingga mereka berakhir saling bertatapan kembali.
Sungguh, Mikasa tidak tahu harus merespons bagaimana sebenarnya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan momentum semacam ini akan terjadi di dalam hidupnya. Mikasa pikir, ia hanya akan tua dan mati dengan statusnya sebagai pemeran pengganti. Mikasa pikir, ia hanya akan terus menjalani kehidupannya seorang diri. Mikasa pikir, segalanya terlalu mewah untuk terjadi sebab ini bukanlah sebuah mimpi.
Bisa menjadikan Eren sebagai teman saja rasanya sudah menjadi sebuah hadiah terindah yang Tuhan titipkan untuknya, walaupun hanya bersifat sementara. Bisa bercengkerama bersama Eren saja rasanya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri, meski kebanyakan hanya berupa luka yang ia bagi.
Setidaknya beberapa waktu terakhir hidupnya menjadi lebih berwarna, dan sedikit demi sedikit ia dapat melakukan kegiatan bahkan merasakan pengalaman yang mungkin menurut sebagian orang sangatlah biasa.
Sebenarnya bohong bila ia tidak menginginkan lebih. Mikasa sudah terlanjur nyaman bersama Eren. Sangat amat merasa nyaman, bahkan aman. Namun, Mikasa juga merasa takut jika ternyata semuanya hanyalah efek rasa penasaran belaka karena tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Mikasa juga merasa takut untuk menghadapi sang nenek bila wanita itu akhirnya mengetahui cucu satu-satunya mulai mengenal apa yang orang sebut dengan rasa suka, rasa cinta, bahkan rasa ingin memiliki yang begitu besarnya. Mikasa tidak tahu akan ada konsekuensi semacam apa di depan sana nantinya. Padahal mungkin pertemuannya dengan Eren saat ini tidak akan berlangsung selamanya. Hanya sebatas hubungan kerja sama hingga seluruh jadwal pertunjukan terlaksana semua.
“Kau tahu … saat jatuh cinta, pria biasanya cenderung ingin menunjukkannya dengan sebuah tindakan, bukan hanya dengan kata-kata belaka. Dan … di malam ini, aku sedang mencobanya, Mikasa. Aku sedang mencoba.” Eren menjeda untuk sesaat dan kemudian lanjut berkata, “Pertemuan kita memang singkat. Namun, kau sudah mendengar ceritaku seluruhnya, begitu juga denganku yang telah mengetahui kisah hidupmu bahkan melihatnya langsung dengan kedua mataku. Bukan tanpa alasan bila kita selalu bersama beberapa waktu terakhir ini. Aku memang tertarik padamu sejak pertama kali melihatmu. Setiap kali kulihat wajah sendumu, rasanya ingin sekali aku menangkup kedua pipimu dengan telapak tanganku. Tapi, saat itu kita masihlah sama-sama asing, belum berkenalan secara resmi. Lantas kini aku merasa tidak rela bila kita kembali menjadi asing, Mikasa. Aku sangat tidak rela.”
“Jadi … maksudmu?”
“Aku mencintaimu. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi … bersediakah kau menikah denganku, Mikasa?” ujar Eren sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin yang telah ia request dari sebuah toko perhiasan ternama. Eren hanya mengira-mengira ukuran lingkar jari manis Mikasa karena setiap hari mereka menari bersama. Katakanlah Eren gila, tetapi inilah yang bisa ia tunjukkan sebagai wujud keseriusannya.
Mikasa menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya, seakan tak percaya dengan segala yang terjadi di depan mata serta apa yang terdengar oleh telinganya.
“Kau gila, Eren. M-maksudku … ah, aku … tentu saja aku bersedia. Aku … aku juga mencintaimu,” ujarnya berantakan dan air mata pun mulai membasahi pipinya. Mikasa benar-benar terharu.
Ia kira musim dingin kali ini akan sama dengan musim dingin di sepuluh tahun belakangan. Ia kira musim dingin kali ini akan penuh dengan cerita dan tangisan yang tak pernah seorang pun turut mendengarkan. Ia kira musim dingin kali ini tak akan pernah mengenalkannya pada sebuah kebahagian. Namun, nyatanya ia pun tak pernah mengira bila harus menyambut akhir musim dingin kali ini dengan lamaran pernikahan. Sungguh, Mikasa tak pernah mengira bila Eren-lah orangnya. Sumber bahagianya. Jawaban atas segala doa-doanya.
Lantas malam hari itu pun keduanya tutup dengan penuh sukacita. Saling memasangkan cincin di jari manis setelah menikmati segala hidangan yang ada. Berjalan bersisian dan bergandengan tangan menuju ke parkiran, berpelukan, hingga berakhirlah dengan sebuah ciuman.
Ciuman mereka berlangsung tidak terlalu lama. Tidak menuntut, hanya ciuman manis yang mempertemukan dua bibir berbeda volume.
Awalnya Mikasa merasa malu, bahkan ia berakhir menyembunyikan wajahnya di pundak Eren. Namun, Mikasa sama sekali tidak menyesal bila ia baru merasakan ciuman pertamanya di usia yang sudah hampir melewati seperempat abad ini. Semuanya berkat Eren dan hanya Eren.
♫♫♫
Ada yang pernah bilang ketika seseorang tengah merasakan bahagia karena jatuh cinta, maka tahi kucing sekalipun mungkin akan terasa nikmat seperti cokelat. Inilah yang Mikasa dan Eren rasakan.
Sebenarnya Eren pusing karena orang tua asuhnya menelepon dan menanyakan kapan ia akan membawa Mikasa ke Prancis, sedangkan Mikasa kembali dimarahi lantaran berat badannya terus menerus bertambah. Namun, keduanya memilih untuk menjalani terlebih dahulu yang terjadi saat ini.
Hari-hari yang mereka lalui di gedung teater kini menjadi lebih membahagiakan dari biasanya. Keduanya seakan menunjukkan kepada seluruh manusia yang ada di sana bahwa hanya merekalah yang memiliki kekuatan cinta begitu besar di muka bumi. Mikasa menjadi lebih ceria dan itu cukup mengherankan bagi orang-orang yang telah lama mengenalnya di sana; bahkan sang nenek sekalipun diam-diam mengamati perubahan ekspresi wajah cucunya sendiri.
Sang nenek mengetahui bahwa cucunya berteman akrab dengan Eren. Seorang aktor muda yang telah mengukir nama lewat berbagai karya. Kemampuan aktingnya memang luar biasa, ditambah dengan kemampuan di bidang seni lainnya. Sempat ia pesimis dan merasa takut bila A Winter Symphony of Love akan berakhir menjadi pertunjukan gagal dari sederet event atau pertunjukan yang pernah ia selenggarakan. Meskipun segalanya berjalan lancar, tetap saja ia tidak begitu menyukai keberadaan Eren di sisi cucunya sebab Mikasa kini mulai sedikit membangkang, yaitu tidak bisa menjaga berat badannya seperti biasanya. Nyonya Azumabito benci bila segala sesuatunya tak sesuai dengan inginnya. Sayangnya, ia pun belum mengetahui bila sang cucu telah dilamar oleh sosok yang tidak begitu ia sukai tersebut.
Selama hampir dua minggu berat badan Mikasa belum juga turun, dan emosi sang nenek pun memuncak ketika di pagi harinya ia menemukan suatu hal yang dapat dijadikan sebagai bukti bahwa Mikasa telah melakukan pemberontakan. Sang nenek merasa sudah cukup sabar untuk tidak langsung memaki di teater sehingga ia melakukannya di rumah sepulang dari acara penutupan pertunjukan A Winter Symphony of Love, tepat di tengah malam.
“Sampah apa sebenarnya yang kau makan, hah? Kenapa berat badanmu belum turun juga?! Ini pasti karena kau bergaul bersama si Eren Eren itu! Kau harus bisa menjaga bentuk tubuhmu, Mikasa. Kau harus! Sejak bersamanya, kau jadi lebih sering bertingkah seenaknya!” cerca sang nenek.
Pada awalnya Mikasa masih diam seperti biasa karena ia pikir emosi sang nenek akan segera usai seperti yang sudah-sudah. Namun, nyatanya sang nenek kembali mengungkit masa lalu. Mengungkit betapa tidak bertanggung jawabnya Mikasa dan ibunya sebab telah merampas impiannya dengan membuat ia lumpuh seperti sekarang, hanya karena sang nenek sempat menemukan tiket pesawat keberangkatan ke Paris tertanggal 28 Februari.
“Eren tak ada sangkut pautnya, Nek. Ini bukan salah Eren,” jawab Mikasa dengan nada suara yang meninggi. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya berani menjawab omelan neneknya ini. Biasanya ia hanya diam saja untuk mencari aman dan berharap segalanya segera berlalu. Namun, tidak di malam terakhir pertunjukan A Winter Symphony of Love hingga tamparan keras itu mendarat di pipinya.
Mikasa segera menangkup pipinya sendiri dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya. Sang nenek masih saja berbicara tentang betapa panjangnya perjalanan Mikasa untuk menjadi penari balet nomor satu di dunia, betapa banyaknya hal yang harus Mikasa pelajari untuk menjadi penerusnya. Betapa sia-sianya waktu yang telah Mikasa buang hanya untuk bermain-main bersama pria yang esok hari akan pulang ke negara tempat tinggalnya.
Kini Mikasa mengubah posisinya dari yang semula berlutut menjadi berdiri, bahkan Mikasa akhirnya meneriakkan, “Aku benci Nenek. Aku benci. Bisakah Nenek tidak selalu membesar-besarkan suatu masalah? Bisakah Nenek mencari tahu apa sebenarnya yang kuinginkan? Aku sudah dewasa, Nek. Tolong. Tolong sudahi keegoisan Nenek ini.”
Rasanya emosi Mikasa benar-benar meledak. Dengan air mata yang bercucuran, Mikasa berlari menuju kamarnya. Ia meraih sebuah ransel, dimasukkannya dompet dan paspor, yang sebenarnya baru Mikasa perpanjang bersama Eren untuk sekadar berkunjung atau menemui orang tua Eren. Namun, siapa sangka bila akhirnya Mikasa akan memilih menggunakannya untuk melarikan diri dari rumah?
Mikasa pikir sang nenek sedikit banyaknya telah menerima kehadiran orang lain yang mencoba berteman dengannya. Mikasa pikir sang nenek sedikit banyaknya telah membuka hati dan pikirannya untuk memberi ia sedikit kebebasan serta kepercayaan. Mikasa pikir sang nenek telah berubah. Namun, ternyata Mikasa salah.
Nenek masihlah orang yang egois. Nenek masihlah menjadikannya sebagai pemeran pengganti. Nenek masihlah menganggap orang lain dapat memberi pengaruh buruk untuk dirinya dan keluarganya. Nenek masihlah orang yang begitu rumit dan tidak bisa Mikasa pahami apa isi hati dan pikirannya yang sebenarnya.
Sehingga di penghujung malam kasih hari kasih sayang ini, Mikasa memesan sebuah taksi yang mengantarkannya untuk pergi ke apartemen sang kekasih hatinya. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di wilayah apartemen Eren, Mikasa hanya pernah diberi tahu alamatnya. Namun, belum pernah ia berkunjung ke sana.
Tanpa mengabari lebih dulu. Tanpa memberi aba-aba. Mikasa datang hanya bermodalkan pakaian di badan serta tas ransel berisi benda yang sekiranya ia perlukan. Mikasa menekan bel sebanyak dua kali, dan tak lama kemudian pintu terbuka, serta Mikasa langsung menghamburkan tubuhnya kepada pria yang ia cinta.
Saat melihat dari interkom, sejujurnya Eren terkejut. Takut matanya terkena ilusi optik lantaran ia cukup sedih untuk menyadari bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di Jepang. Besok ia harus pulang kembali ke Prancis untuk mengurus rencana pernikahannya bersama orang tua asuhnya. Akan tetapi, ketika ia membuka pintu dan mendapati sosok yang dicinta langsung memeluknya, hal itu membuat Eren sadar bahwa ia tak akan bisa melepas Mikasa walau untuk sekejap saja.
Lantas Eren menggendong tubuh Mikasa, membawanya ke dalam, dan menutup pintunya. Eren mendudukkan Mikasa di atas meja makan, menghapus air matanya, dan mengecup kedua kelopak matanya.
Sang pemilik apartemen pun meninggalkannya sejenak untuk mengambil air hangat menggunakan sebuah gelas dan memberikannya kepada sang kekasih.
Mikasa menerima gelas tersebut dan meneguk isinya. Diserahkannya kembali gelas itu kepada Eren dan sang pria meletakkannya di sisi meja makan yang kosong.
Eren menatap dalam ke mata Mikasa sehingga yang ditatap pun melakukan hal yang sama.
Tak perlu banyak kata, Eren sudah paham bila kekasih hatinya tengah terluka. Mikasa kemudian melepaskan tas ransel dan juga mantelnya. Ia kembali memeluk Eren dan menempatkan kepalanya di bahu kanan sang pria.
Lantas Eren membalas pelukannya dan mengecup pucuk kepala Mikasa.
Eren menggendong tubuh Mikasa kembali serta membawanya ke dalam kamar. Ia memosisikan Mikasa untuk tidur di ranjang sebelah kiri, menyelimutinya, dan kembali mengecup keningnya.
Eren pun berdiri tegak seraya berkata, “Aku merapikan barang-barangku dulu, ya. Kau tidur saja. Nanti kalau perasaanmu lebih baik, baru kita bicara, ya?”
Mikasa mengangguk mengiakan. Kemudian matanya ia pejamkan dan Eren pun melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda.
Pada pukul 3 dini hari akhirnya Mikasa terbangun, dan ia melihat Eren yang tertidur di sisi sebelah kanan. Bila boleh jujur, Mikasa merasa sangat berdebar karena ini adalah kali pertamanya berada di atas ranjang yang sama dengan sang kekasih. Meskipun mereka hanya tertidur biasa, tetap saja rasanya berbeda. Aneh, tetapi nyata, begitulah kurang lebihnya.
Mikasa sedikit menggerakkan tubuhnya untuk menyamping dan menghadap persis ke arah Eren. Namun, nyatanya tindakan Mikasa membuat sang pria yang tengah tidur itu jadi berucap, “Ada yang aneh dari cara tidurku?”
Seperti déjà vu, pertanyaan dengan pola semacam itu tanpa sadar sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mikasa salah tingkah jadinya dan hendak mengubah posisi membelakangi Eren. Namun, ia kalah cepat dari Eren yang lebih dahulu menahan pinggang Mikasa dengan tangannya, serta membuat keduanya kini saling berhadapan.
“Kenapa tiba-tiba ubah posisi lagi? Malu? Nanti kalau sudah menikah, tiap hari juga kita akan saling melihat satu sama lain, loh!” ujar Eren dengan nada bercanda dan hal itu sukses membuatnya mendapat hadiah berupa cubitan di lengan kanannya.
Bukannya mengaduh atau melepaskan diri dari sosok yang mencubit, Eren justru memeluknya dengan erat dan mengecup pucuk kepalanya berulang kali. Mikasa pun akhirnya balas memeluk dan menenggelamkan kepalanya di dada Eren.
Saat keduanya sudah merasa nyaman, akhirnya Eren memulai obrolan. Ia bertanya mengapa tiba-tiba kekasih hatinya datang di malam terakhirnya di Kota Tokyo ini, padahal mereka sudah berjanji bahwa satu minggu lagi Eren akan menjemputnya untuk mengunjungi orang tuanya. Tetapi, nyatanya takdir berkata lain. Sepertinya sang kekasih memang harus ikut pergi dengannya secara langsung sehingga mungkin minggu depan mereka akan kembali lagi ke Tokyo untuk mengurus perpindahan Mikasa ke Prancis secara permanen.
Sejujurnya Eren juga tidak menyangka bila sang kekasih akan bertindak sejauh ini. Melarikan diri dari rumah. Eren tidak pernah membayangkan Mikasa akan berani melakukan itu. Tetapi, itu mungkin dulu saat kekasih hatinya belum berjumpa dengannya sehingga hati Eren sedikit tergelitik bila mengingat Nenek Mikasa mengatai dirinya membawa pengaruh buruk bagi Mikasa.
Lantas dalam hati Eren pun berucap, “Ya Tuhan, padahal aku tidak bermaksud membuat kekasihku menjadi cucu durhaka. Tapi, bila ini memang jalannya, tolong maafkan aku dan juga dia.”
♫♫♫
Di pertengahan bulan Februari, untuk pertama kalinya Mikasa pergi jauh meninggalkan negara asalnya tanpa pengawasan dari sang nenek. Biasanya Mikasa akan pergi bila harus menghadiri suatu event, perlombaan, dan sejenisnya. Namun, kali ini ia akan pergi untuk menggapai kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan.
Mikasa pergi bersama Eren. Seorang pria yang sejak hari pertama berkenalan sudah mengklaimnya sebagai pasangan. Rasanya Mikasa ingin tertawa bila mengingat hal itu. Tetapi, siapa sangka bila akhirnya ia memang menjadi pasangan Eren? Hanya tinggal menunggu waktu sampai ia secara resmi menyandang status baru, yaitu menjadi istri Eren. Sungguh, Mikasa sedikit malu bila harus mengucapkan langsung menggunakan bibirnya, “Perkenalkan, Saya Mikasa. Istri dari Eren Jaeger.”
Mikasa akui dirinya sedikit norak karena ia memang belum pernah merasakan pacaran, kemudian secara tiba-tiba dilamar dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.
Mikasa tak bisa untuk menyembunyikan rona merah jambu dari pipinya bila ia sedang membayangkan sesuatu yang membuat dirinya sendiri malu. Eren sendiri harus berpura-pura tidak tahu bila ingin terus memperhatikan tingkah lucu sang kekasih dalam waktu yang lama serta tak membuat kekasihnya merasa lebih malu lagi.
Kini keduanya bergandengan tangan untuk mencari letak kursi yang akan mereka duduki selama kurang lebih 18 jam lamanya, dari Haneda menuju ke Lille, Prancis.
Orang tua asuh Eren tinggal di Kota Lille, sedangkan Eren tinggal di Kota Paris. Kota Lille adalah kota yang ramai nan mewah dan terletak di bagian utara negara Prancis. Sungguh Mikasa tidak sabar untuk segera sampai di sana karena banyak sekali museum menarik yang ingin Mikasa kunjungi seperti Palais des Beaux-Arts de Lille, Hospice Comtesse, hingga Lille Métropole Museum of Modern, Contemporary and Outsider Art yang berlokasi di Villeneuve d'Ascq.
Eren berjanji bila akan membawa Mikasa ke mana pun ia mau. Tentu saja Mikasa senang mendengarnya. Dalam hatinya Mikasa berdoa semoga ia dan Eren diberikan umur yang panjang, kesehatan, dan juga kesempatan untuk mewujudkan semua impian atau hal yang ingin keduanya lakukan.
Mikasa benar-benar merasa beruntung sebab di kehidupan ini ia dipertemukan oleh manusia sebaik, selembut, dan seperhatian Eren. Mikasa benar-benar merasa bersyukur lantaran diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.
To be continue ….
