Work Text:
***
Menjadi orang tua tunggal bukanlah sesuatu yang bisa Jaehyun pilih. Tidak pernah terbayangkan dalam 32 tahun hidupnya, dia akan membesarkan seorang anak yang kini berada dalam gendongannya seorang diri. Bayi yang menangis keras entah karena sebab apa, Jaehyun tidak tahu. Dan sudah hampir setengah jam tangis itu tidak juga berhenti.
Tetapi bukannya mencoba untuk menghentikan tangis itu, Jaehyun malah termenung dengan pikiran kosong hingga suara tangisan yang sangat keraspun tak mampu menyadarkannya.
Katakanlah Jaehyun gila. Bagaimana bisa dia mengabaikan anaknya tanpa ada niat sedikitpun untuk membuat bayi itu tenang. Tangisan itu belum juga berhenti hingga akhirnya ibu Jaehyun datang dan mengambil alih sang cucu. Menggendongnya dengan penuh rasa iba. Menimangnya hingga bayi mungil itu bisa berhenti dari tangisnya.
"Jaehyun, sadarlah. Apa kamu gak kasihan dengan Jeno?" Suatu perkataan yang mampu menghantam isi pikirannya. Sekaligus membuat Jaehyun tersadar jika dia sudah jahat karena telah mengabaikan sang anak. Bayi sekecil itu sudah harus ditinggal pergi oleh orang yang melahirkannya, sekaligus suami dari Jung Jaehyun sendiri, yaitu Kim Doyoung.
"Jeno, maafkan ayah."
Jaehyun menangis, air matanya yang terhenti kini kembali keluar lagi. Dan terus mengalir sampai berkali-kali Jaehyun berusaha untuk menyeka air matanya itu, pipinya lagi-lagi basah.
Sudah tujuh hari berlalu sejak kepergian Doyoung. Tetapi rasanya seperti baru kemarin dia bercanda gurau dengan penuh tawa. Berjalan beriringan dengan kebahagiaan terpancar karena akan menyambut hari lahirnya buah hati mereka. Namun ternyata, kebahagiaan itu harus terenggut ketika dia mendapati Doyoung yang menutup mata usai menjalani operasi kelahiran anaknya. Mata itu tertutup erat, dan sekeras apapun Jaehyun berusaha memanggil, tetap tidak berhasil membuat mata Doyoung terbuka lagi.
Jaehyun tentu sangat terpukul.
Segala hal yang direncanakan bersama sang suami harus berantakan begitu saja.
Rencana tentang Doyoung yang akan berhenti bekerja dan fokus ingin mengurus sang anak.
Rencana tentang dirinya dan Doyoung yang akan pindah ke rumah baru mereka ketika Jeno bisa dibawa pulang dari rumah sakit.
Juga rencana tentang Doyoung yang ingin membuat kebun kecil di halaman belakang rumah barunya nanti.
Semuanya berantakan. Bagaimana bisa dia bisa mewujudkan rencana itu dengan rasa bahagia jika tidak ada Doyoung di sampingnya?
Doyoung itu adalah kebahagiaannya.
Suami tercintanya telah pergi dan dia merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk menjalani sisa hidupnya. Buat apa dia hidup jika belahan jiwanya sudah tidak ada di dunianya lagi?
Pemikiran bodoh yang sempat singgah itu berhasil dia tekan, saat keinginan itu sirna ketika dia menyadari bahwa ada sosok kecil yang butuh rengkuhan tangannya.
Sosok kecil tidak berdosa yang harusnya dia limpahi dengan cinta yang besar. Sebuah hadiah yang Doyoung tinggalkan untuknya. Karena tepat saat hari kelahiran Jeno adalah sama dengan hari kelahirannya sendiri. Sekaligus hari dimana Doyoung pergi jauh meninggalkannya bersama sang buah hati.
Jaehyun akhirnya tersadar, bahwa dia harus terus menjalai hidup demi sang buah hati. Jung Jeno, setidaknya demi Jung Jeno saja.
***
"Jaehyun, ibu mau ke pasar sebentar. Jaga Jeno dulu, ya!"
"Iya, ibu." Baru saja Jaehyun selesai dengan kegiatan mandinya, lalu tanpa menunggu lama dia hampiri bayi kecil yang sedang tertidur dengan begitu damai di dalam box tempat tidurnya.
Jaehyun pandangi wajah Jeno yang terlihat damai dalam tidurnya. Wajah itu memang sebagian besar mewarisi bentuk wajahnya. Tetapi ada satu yang membuatnya ingat dengan sang mendiang suami. Hidung Jeno, mengingatkan Jaehyun ketika hidung Doyoung yang sering memerah ketika dia tertidur. Bukan karena sakit atau apapun itu, tetapi itu memang sudah menjadi ciri khas Doyoung yang biasanya juga akan hilang sendiri ketika bangun.
Ah, Jaehyun jadi rindu lagi dengan Doyoungnya.
Jaehyun rindu dengan segala hal yang ada pada diri Doyoung.
"Seandainya kamu ada di sini. Kembali ke sini bersamaku dan Jeno." Jaehyun bergumam pada dirinya sendiri, mengungkapkan suatu harapan yang jelas sangat mustahil untuk terjadi.
Dia melirik ke arah foto yang terbingkai di atas dinding kamar itu. Foto Doyoung dan dirinya saat baru pertama kali mendapatkan kabar tentang kehamilannya.
Di hari liburnya ini, Jaehyun berniat ingin menghabiskan dengan bermain dengan Jeno sepanjang hari. Bersama Jeno, yang saat ini tertidur usai dimandikan oleh omanya. Sedangkan opanya sendiri ikut mengantar sang oma yang hari ini memilih untuk berbelanja di pasar tradisional dibanding supermarket langganan mereka.
Karena lelah memandangi Jeno sekaligus menyelami kenangannya bersama Doyoung, Jaehyun-pun memilih duduk di sofa panjang yang biasa digunakan ibunya untuk membaringkan Jeno ketika ingin mengganti pakaian bayinya. Sofa yang terletak tepat di sebelah box bayi Jeno.
Dengan terlalu sunyinya suasana kamar bayi itu, membuat Jaehyun terkantuk-kantuk, mungkin akibat dari dia yang terjaga sampai lewat tengah malam kemarin, sehingga Jaehyun-pun tertidur dalam posisinya yang kurang nyaman. Jaehyun tidur dalam posisi duduknya.
"Jaehyun, bangun! Kamu gak tahu udah jam berapa ini?"
Suara itu, Jaehyun mulai terbangun ketika mendengar suara yang begitu dia rindukan selama satu minggu ini. Suara Doyoung.
"Doyoung? ini benar kamu? Kim Doyoung?" Jaehyun bangun dengan begitu cepat, dia guncang bahu sang suami yang kini menatapnya dengan raut penuh keheranan.
"Bukan, Anda salah orang." Seketika Jaehyun melepaskan pegangannya, apakah ini seperti di sinetron yang sering ditonton ibunya itu? Apakah orang di depannya ini hanya mirip dengan mendiang suaminya?
"Yang benar itu Jung Doyoung. Bagaimana sih?" Sambung orang yang ada di depan Jaehyun. Bibirnya mengerucut, seperti orang yang merajuk karena tidak terima namanya salah disebut. Maksudnya, marganya yang telah berubah itu. Jaehyun lupa menyebutnya.
Dan kini Jaehyun seperti orang linglung. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bingungnya yang menguasai.
Apa maksudnya ini?
Bukannya Doyoungnya itu telah... Ah, Jaehyun tidak sanggup mengatakannya.
"Aku akui, memang baru satu minggu kita menikah. Tapi ya masa kamu lupa sih?" Doyoung merajuk, dan sukses membuat Jaehyun semakin dibuat pusing.
"Doyoung?" Dia coba meraih Doyoung untuk dia sentuh, tetapi Doyoungnya menjauh. Padahal dia ingin memastikan jika orang yang ada di depannya ini nyata ataukah hanya sekadar khayalannya semata.
"Jangan sentuh-sentuh! kamu tuh belum mandi! Gih sana udah hampir jam delapan malah masih molor. Ini kan hari pertamamu bekerja setelah cuti menikah, Jaehyun." Doyoung pergi, dengan setelan kerjanya yang biasa dipakai ketika dia bekerja. Doyoung dengan pinggang yang terlihat begitu ramping dari arah belakang itu, sangat terlihat nyata. Sama seperti saat dia belum hamil.
Oh, apa itu tadi? Satu minggu menikah?
Jaehyun raih kalender yang berada di meja nakas tempat tidurnya. Bahkan dia sendiri lupa jika saat sebelum tertidur tadi, dia berada di kamar anaknya. Jaehyun seketika panik, diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan dia tidak menemui keberadaan Jeno. Jenonya beserta box tempat tidur bayi itu tidak ada. Kamarnya ini juga adalah kamar yang ada di rumah lamanya.
Jika memang ini seperti yang ada dalam pikirannya, maka itu berarti dia kembali ke masa lalu.
Saat dia baru saja menikah,
itu artinya dia baru saja mundur selama satu tahun sebelum Doyoungnya pergi. Sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
"DOYOUUUUNG!" Tanpa pikir panjang, dia berlari keluar kamar dan menyusul Doyoung yang saat itu sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dia raih Doyoung ke dalam pelukannya dengan begitu erat. Begitu eratnya itu sampai-sampai Doyoung hampir kehabisan nafas karena kuatnya pelukan itu. Dan pelukan itu akhirnya terlepas ketika Doyoung menginjak kaki Jaehyun dengan sangat kuat. Jaehyun seketika mengaduh.
"Hummh, ya ampun Jaehyun! Kamu mau aku mati huh?"
Satu kata keramat yang mampu memukul Jaehyun telak.
Tidak! Tidak! Tentu saja dia tidak mau kehilangan Doyoung untuk yang kedua kalinya.
Jaehyun sungguh tidak mau.
"JANGAN SEBUT-SEBUT KATA MATI! Aku gak mau kamu pergi." Jaehyun kembali terisak tanpa sadar, yang langsung mengakibatkan Doyoung merubah raut wajahnya menjadi khawatir.
"Kamu kenapa? Gak biasanya begini. Aneh banget tahu gak!?" Doyoung membimbing Jaehyun untuk duduk, lalu memberi suaminya itu minum. Dia tunggu hingga Jaehyun mersa sedikit tenang. Tangisannya sudah reda dan kini Jaehyun kembali memperhatikan wajah suaminya.
"Kamu habis mimpi buruk? Jangan lihat kayak gitu ah! aku jadi takut!"
Doyoungnya mengadu, karena sungguh dia takut dengan tingkah Jaehyun yang sangat aneh itu. Bahkan Doyoung juga hampir tidak pernah mendapati Jaehyun menangis, kecuali saat mainannya diambil. Oke, yang ini hanya bercanda. Jaehyun-pun hanya membalasnya dengan senyum tanpa bisa terbaca oleh Doyoung tentang apa yang dia rasakan di dalamnya.
"Iya, aku mimpi buruk. Sangat buruk sekali sampai-sampai aku gak bisa mengukur seberapa buruknya."
Jaehyun kini berubah menjadi seperti anak ayam yang tidak bisa jauh dari induknya. Mengikuti kemanapun Doyoung pergi. Bahkan ketika Doyoung yang harus berangkat bekerja-pun Jaehyun tahan.
"Hari ini bolos saja ya?" Ucap Jaehyun sambil mendusalkan kepalanya ke arah leher Doyoung yang sedang berdiri untuk mencuci piring bekas sarapan mereka.
"Mana bisa begitu! Bisa-bisa aku dapat surat peringatan kalau sampai bolos."
Doyoung berusaha melepaskan diri, namun percuma karena Jaehyun enggan sekali menjauh dari dirinya.
"Gampang itu, nanti biar aku yang bicara dengan Johnny. Ayolah, ya? ya? ya? Ini kan hari ulang tahunku."
Kalau sudah begini, Doyoung akhirnya hanya bisa pasrah. "Kamu sendiri? Bolos juga?" Tanya Doyoung ketika dia selesai mengganti pakaiannya menjadi lebih santai.
"Bolos sekali-kali pasti tidak akan ada masalah." Doyoung menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinnya suaminya itu memang sedang kerasukan arwah anak ayam.
"Setidaknya mandi dulu, Jaehyun!" Jaehyun-pun menyengir seperti tak mempunyai dosa.
Seharian penuh dia benar-benar menjadi seperti induk ayam yang bahkan ketika dia akan pergi ke kamar mandi-pun Jaehyun tetap mengikuti.
Oh, ayolah! Doyoung hanya ingin buang air kecil.
Masa dia bisa buang air sambil diperhatikan begitu? Doyong bergidik, dan akhirnya baru bisa merasa lega ketika Jaehyun berhasil dia bujuk.
Yah, walau harus dengan iming-iming hadiah ciuman sebanyak berapapun yang Jaehyun minta.
"Doyoung, mau kemana?"
Oh, astaga! Jaehyun masih berada dalam mode anak ayam super menyebalkan ternyata.
"Aku mau mandi, Jaehyun. Ya ampun kamu ini! Gemas sekali rasanya." Doyoung yang akan beranjak kembali ditahan oleh tangan Jaehyun.
"Hehe. Ikuuut!" Dan jadilah mereka berdua mandi bersama.
Selepas makan malam, Doyoung kembali berniat membersihkan alat makan mereka. Dan lagi-lagi anak ayamnya menempel di belakang tubuhnya.
"Sekalian bantu bisa? Masa dari tadi gangguin terus sih!" Jaehyun lalu tertawa, tanpa banyak bicara dia membantu Doyoung untuk membilas semua yang sudah dia cuci sampai selesai. Tidak butuh waktu lama karena memang hanya mereka berdua saja yang makan.
Hingga malam mulai larut, Jaehyun tetap berada dalam mode menyebalkan di mata Doyoung. Sudah puluhan topik dibicarakan, dan juga permainan yang dimainkan Jaehyun bersama dengannya. Entah itu obrolan dari yang penting sampai yang tidak begitu penting, dan juga dari beberapa permainan wajar sampai aneh yang Jaehyun dapatkan dari internet itu. Semuanya Doyoung turuti. Karena kalau tidak dituruti, Jaehyun akan terus mengusili Doyoung dengan menempelnya seperti perangko.
Dari yang bermain kartu, bermain ular tangga, bermain truth or dare, bermain tebak-tebakan khas jokes bapak-bapak juga sudah mereka mainkan. Sampai akhirnya Doyoung mulai merasa mengantuk karena meladeni segala hal yang diminta Jaehyun.
"Jaehyun, ayo tidur."
Jaehyun yang merasa kasihan-pun menyudahi semua permainan itu. Mata Doyoung sudah terlihat memerah karena menahan kantuk sampai jam menunjuk pada pukul 12 malam.
Doyoung sudah siap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan Jaehyun berbaring bersandar pada kepala ranjang tempat mereka tidur. Dia pandangi Doyoung yang mulai memejamkan matanya itu.
Sungguh, kalau bisa, Jaehyun tidak mau tidur.
Padahal dirinya sendiri sebenarnya juga sudah mulai mengantuk. Tetapi karena tidak mau waktunya terbuang sia-sia maka dia berusaha keras membuat banyak kenangan bersama Doyoungnya. Karena Jaehyun terlalu takut.
Jaehyun tidak mau jika saat terbangun di esok hari, dia akan kehilangan sosok Doyoungnya lagi.
"Jaehyun, banguuuuun!"
Jaehyun sungguh terperanjat. Dia bangun dan terduduk dengan sangat tiba-tiba karena kejutan suara itu.
Suara Doyoung.
Ah, dia lega sekali.
Doyoungnya ternyata tidak hilang, jadi yang kemarin itu dia tidak bermimpi kan?
Tetapi beberapa saat kemudian dia merasa sedikit aneh.
Tangannya yang memeluk perut suaminya itu merasakan sesuatu yang menggembung. Itu adalah perut Doyoung.
Hah? Tunggu!
"Jaehyun bangun ih! Baby mau ayam panggang... Huhuhu."
Mata yang semula mengantuk, seketika terbuka lebar. Jaehyun tatap suaminya yang ada di pelukannya itu, yang juga sedang menatapnya dengan tatapan khas anak anjing yang minta dikasihani.
Lebih tepatnya mode menangis ingin meminta sesuatu.
"Doyoung? Kamu..." Perkataannya terputus, dia kembali memperhatikan perut Doyoung yang ukurannya begitu besar. Seperti orang yang sedang hamil.
Dan jika tidak salah tadi Doyoung menyebut kata 'baby' yang itu artinya adalah, Doyoung memang sedang hamil.
Jaehyun yang terduduk, menelusuri segala isi ruangan yang sama seperti saat dia sebelum jatuh tertidur setelah bermain semalam dengan Doyoung.
Ruangan yang sama, namun letak meja dan kursinya saja yang berbeda. Dan kalender di atas meja itu, menunjukkan waktu enam bulan setelah dia terakhir kali melihat kalender yang sama.
Apa ini?
Jaehyun terbangun dalam waktu yang melompat begitu jauh. Setengah tahun lamanya dan dia mendapati Doyoung kini merajuk karena menginginkan sesuatu.
Kalau sedang hamil, berarti benar dugaannya jika Doyoung saat ini sedang mengidam. Dia teringat dengan ayam panggang yang pernah dia beli pada waktu tengah malam itu.
"Ayah dengerin aku gak?" Guncangan pada lengannya menyadarkan Jaehyun bahwa kini Doyoung itu menunggu reaksinya sedari tadi. Ternyata memang benar, dia lirik jam yang menunjuk pada angka dua belas malam.
"Ah, iya sayang. Aku cari ya sekarang. Kamu tidur aja dulu, kalau udah dibeli nanti aku bangunin."
Jaehyun tentu ingat saat Doyoung yang saat itu membangunkannya tengah malam hanya untuk menyuruhnya membeli ayam panggang. Dan begitu dia berhasil mendapatkannya, dia tidak tega untuk membangunkan Doyoung yang tertidur dengan boneka penguin di pelukannya.
"Rasanya sudah tidak sama lagi, Jaehyun. Kamu menyebalkan sekali. Jangan dekat-dekat, hush!"
Ternyata keputusannya untuk tidak membangunkan Doyoung malah berujung dengan dia yang didiamkan selama seharian penuh keesokan harinya. Hanya karena tidak dibangunkan.
Jaehyun mulai bisa menarik suatu pemikiran dalam dirinya.
Jika ditarik dengan ingatan masa lalunya. Hari kemarin yang mana saat pertama kali dia terbangun dari tidurnya saat menunggu Jeno, seharusnya adalah hari dimana saat Doyoung mengalami suatu kecelakaan kecil. Dia ingat sekali saat sore hari pulang dari kantor, Doyoung mendapatkan perban di tangan kirinya akibat dari tertimpa rak yang ada di kantornya. Ulang tahun yang seharusnya dirayakan dengan suka cita, malah berakhir dengan Jaehyun yang merawat Doyoung yang sedang terluka. Doyoung kesulitan melakukan segala aktivitas, sehingga dia juga tidak bisa memasak maupun mengurus rumah.
Jaehyun baru memahami, ada untungnya saat dia yang menahan Doyoung untuk pergi bekerja kemarin. Hal itu pula yang bisa mencegah Doyoung mengalami kecelakaan itu.
Jaehyun memiliki kemungkinan dapat memperbaiki masa lalunya.
Dan kembali pada malam ini. Jika Jaehyun mengambil keputusan yang sama dengan masa lalu. Saat dia membiarkan Doyoung tertidur dan membuat suaminya itu merajuk, maka yang terjadi keesokan harinya ada Doyoung akan mengalami kram perut dengan penanganan yang sedikit terlambat. Itu terjadi karena Doyoung yang mengunci dirinya di dalam kamarnya sehingga Jaehyun baru bisa membuka pintu itu ketika dia mendengar rintihan Doyoung. Walaupun pada akhirnya tidak terjadi sesuatu hal yang fatal, namun itu cukup membuat jantungnya seakan lepas dari tempatnya.
Jaehyun tidak mau itu terjadi. Maka dengan sedikit rasa tega, dia bangunkan Doyoung yang sedang hamil itu, untuk memakan ayam pesanannya yang masih terasa hangat.
"Jaehyun! Terimakasih! Ayamnya enak sekali!" Suara tawa Doyoung adalah suatu hal yang begitu dia sukai. Doyoung yang senang. Doyoung yang bahagia. Dan juga Doyoung yang tidak merajuk lagi.
Jaehyun sungguh menyukai itu.
Dua kejadian yang membahayakan Doyoung akhirnya berhasil Jaehyun cegah.
Semalaman suntuk Jaehyun menunggu Doyoung yang tertidur dengan senyuman di wajahnya.
Jaehyun kali ini tidak merasa mengantuk sama sekali. Dia hanya takut, jika tertidur nanti maka kejadian buruk apakah yang akan menimpa Doyoung setelah dia bangun. Jaehyun berpikir banyak sampai pagi hari datang dan selama itu pula Jaehyun belum juga menemukannya.
Dia menjalani hari itu dengan penuh rasa was-was. Takut-takut jika saja Doyoung akan mengalami kram perut seperti waktu dulu.
Namun ternyata, sampai malam datang, Doyoungnya baik-baik saja. Ternyata suasana hati Doyoung yang baik mampu mempengaruhi keadaan janinnya. Hari liburnya Jaehyun habiskan dengan memanjakan Doyoung seharian penuh. Dari permintaan kecil sampai permintaan besar-pun Jaehyun turuti. Termasuk permintaan Doyoung yang mengajaknya untuk melakukan kegiatan panas. Tentunya hal itu sangatlah Jaehyun sambut dengan suka hati. Trimester pertama yang sudah Doyoung lewati itu mampu memunculkan hormon yang memicu gairah seksualnya. Hingga sampai keduanya lelah. Menghabiskan satu sesi percintaan yang seakan sudah lama sekali tidak Jaehyun lakukan, Jaehyun salurkan rasa rindu yang begitu dalam pada Doyoung yang sangat dicintainya itu.
Jaehyun-pun tertidur dengan Doyoung yang berada dalam pelukannya.
"Jaehyun! Ayo bangun." Kali ini bukan suara teriakan ataupun rengekan yang Jaehyun dengar.
Jaehyun terbangun dengan keadaan tubuh polos, mendapati Doyoung dengan perut yang lebih besar daripada sebelum dia menutup mata untuk tidur.
Doyoungnya kali ini sudah terbangun dalam keadaan yang sangat segar. Perutnya begitu besar seperti orang yang hamil sembilan bulan. Dan benar saja. Saat Jaehyun melihat kalendernya, waktu menunjukkan bulan dimana hari perkiraan lahir anaknya akan datang.
Jaehyun kembali melompati waktunya selama enam bulan lamanya.
Jika ditarik kesimpulan, hari ini adalah tepat satu hari sebelum Doyoungnya pergi -seperti masa lalu- untuk selamanya.
Jaehyun tentu saja seketika itu merasa panik. Jaehyun baru bisa mengingat tentang kecelakaan yang akhirnya mampu membuat hari lahir anaknya datang lebih awal daripada hari perkiraan. Hari dimana dia melihat Doyoung yang terserempet oleh mobil ketika berada di depan rumahnya sendiri saat akan mengambil pesanan makanan di depan pintu gerbang rumahnya. Padahal Jaehyun sendiri sudah melarang Doyoung yang sedang hamil besar itu untuk keluar. Jaehyun begitu terkejut dengan musibah yang tiba-tiba datang itu.
Seharusnya dia tidak membiarkan Doyoung yang bersikeras ingin melayani Jaehyun yang berulang tahun itu.
Seharusnya Jaehyun lebih tegas untuk melarang Doyoung mengambil pesanan itu.
Seharusnya Jaehyun bisa menahan diri untuk tidak ke kamar mandi ketika tahu makanan pesanannya sebentar lagi akan datang.
Ya, seharusnya begitu.
Maka, kesempatan yang datang kali ini harus bisa Jaehyun manfaatkan dengan baik.
"Jaehyun, jangan melamun!! ah! Oh iya, besok kan ulang tahunmu. Kamu mau hadiah apa?" Doyoung yang kini duduk di tempat tidur, menghadapkan tubuhnya ke arah Jaehyun.
Jaehyun memainkan tangan Doyoung yang semula mengusap kepalanya.
"Aku cuma mau kamu."
Doyoung tersipu hanya karena ucapan yang menurutnya sangat cheesy itu. Tapi lain hal dengan Jaehyun. Dia tidak berniat menggombal ataupun menggoda Doyoung sama sekali.
"yang bener aja....."
Oh, astaga Doyoung. Asal kau tahu itu adalah murni isi hati Jaehyun yang sesungguhnya.
"Lho, tentu aja bener. Aku cuma mau kamu, Doyoung. Aku mau kamu selamanya ada di sisi aku. Jangan pergi tanpa seijinku ya."
Saat Doyoung mengangguk saat itu pula Jaehyun bisa merasa sedikit tenang. Ya, setidaknya sedikit.
"Iya, tapi kamu sekarang bangun dulu. Mandi karena badan kamu bau." Ujar Doyoung mengajak Jaehyun bercanda.
Hari yang sangat ditakuti Jaehyun akhirnya datang. Hari yang mana bertepatan dengan hari ulang tahunnya sendiri. Dan sejak kemarin pula Jaehyun tidak tidur sama sekali. Tentu saja lagi-lagi karena dia takut untuk melewatkan hal penting yang sejak kemarin memenuhi pikirannya.
Benar memang jika Jaehyun sudah melarang Doyoung untuk keluar.
Tetapi tetap saja, dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Doyoung benar-benar aman.
Pesanan makanan sudah Jaehyun hilangkan dari daftar agendanya. Dia menggantinya dengan memasak sendiri masakan yang bisa dia masak. Dia tidak ingin membuat Doyoung lelah. Dan sebenarnya Jaehyun itu juga pintar memasak, namun memang selama ini Doyoung yang ingin bersikeras untuk memasakkan Jaehyun makanan sehari-hari.
Dan untuk hari ini, Jaehyun telah berubah menjadi chef yang sangat mengesankan di mata Doyoung.
"Kamu yang ulang tahun, tapi malah kamu sendiri yang memasak." Doyoung sebagai penonton, duduk begitu tenang dengan tangan yang menyangga dagunya.
"Ya memangnya kenapa? tidak ada masalah kan?" Jawab Jaehyun dengan menampakkan lesung pipi yang mampu membuat Doyoung terpana untuk sekian juta kalinya.
Siang itu-pun dapat dilalui tanpa adanya hal membahayakan yang menimpa Doyoung.
Jaehyun merasa lega luar biasa.
"Jaehyun... Kapan kamu mau bangun, heum?"
Suara itu.
Lagi-lagi Jaehyun merasa de javu.
Ada apa ini? Sayup-sayup Jaehyun dapat mendengarkan suara Doyoung yang memanggilnya dengan nada begitu putus asa.
Bukankah seharusnnya hal yang ditakutkannya sudah terlewati? Ya, seharusnya memang begitu.
Doyoungnya kini benar-benar aman kan? Ya, seharusnya memang begitu.
Tapi kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjalnya?
Jaehyun-pun memutuskan untuk bangun. Tetapi ternyata, itu sangat sulit. Untuk membuka matanya saja rasanya berat sekali.
Jaehyun sudah berusaha keras untuk menyahut panggilan Doyoung, tapi dia tidak bisa membuka mulutnya sedikit-pun.
Kenapa ini?
Kenapa bibirnya terasa berat sekali? Jangankan bibir, seluruh tubuhnya saja tidak bisa Jaehyun gerakkan.
"Ibu, Jaehyun kapan bangun?"
Suara Doyoung lagi.
"Sebentar lagi, Doyoung harus selalu sabar oke? Ingat bayi dalam perutmu ya sayang. Jangan terlalu banyak pikiran."
"Bagaimana bisa gak ada pikiran, sementara Jaehyun sendiri udah tiga hari gak bangun-bangun. hiks."
Apa itu tadi?
Dirinya tertidur?
Apa dia tidak salah dengar?
"Jaehyun... aku dan Jeno selalu nunggu kamu. Ayo bangun!" Tangan Jaehyun digenggam erat oleh Doyoung.
Dan saat itu pula akhirnya Jaehyun bisa menggerakkan anggota tubuhnya, walaupun hanya jari saja. Namun itu bisa membuat Doyoung dilanda kelegaan luar biasa karena akhirnya Jaehyunnya kini kembali.
"Jaehyun!!! Akhirnya kamu bangun! Ibu! Tolong panggilkan dokter!" Teriak Doyoung, yang saat itu baru bisa dilihat dengan jelas oleh Jaehyun. Jaehyun yang baru berhasil membuka matanya.
***
"Jadi, aku koma?" Jaehyun yang sudah sadar seratus persen itu baru bisa diajak berbicara.
Doyoung mengangguk dengan tangan setia tertaut dengan tangan Jaehyun yang bebas dari infus.
Tiga hari sebelumnya dia baru saja berhasil melewati masa kritis akibat kecelakaan yang dialaminya. Doyoung bilang bahwa saat sore hari setelah mereka merayakan ulang tahun Jaehyun, Jaehyun mengalami kecelakaan saat akan menemui Johnny yang waktu itu sedang mampir ke rumahnya.
Secara tiba-tiba ada sebuah mobil dengan pengemudi mabuk yang menabrak pagar rumah Jaehyun hingga masuk ke pekarangan rumahnya. Jaehyun yang saat itu sedang berbicara dengan Johnny menjadi korban satu-satunya yang terkena imbas cukup parah.
Beruntung karena ada Johnny, Jaehyun bisa selamat karena dibawa ke rumah sakit dengan begitu cepat.
Hingga akhirnya sekarang dia bisa melewati masa kritisnya dan bertemu kembali dengan Doyoungnya. Doyoung yang saat ini masih ada bersamanya, dengan perut yang masih berukuran besar, yang tentunya sebentar lagi akan melahirkan anaknya yang sudah mereka panggil dengan sebutan Jeno.
Kelegaan yang sungguh membuatnya dapat bernafas dengan tenang.
Tapi kemudian berubah menjadi panik karena Doyoung yang tiba-tiba mengalami kontraksi. Nyatanya Jeno-nya itu benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat dunia.
Dengan duduk di atas kursi roda, Jaehyun melihat bayi yang masih berwarna sangat merah itu berada dalam gendongan sang ibu. Sedangkan Doyoungnya sendiri masih berada dalam ruang pemulihan pasca operasi.
Jaehyun bahagia, karena akhirnya keluarganya kini utuh.
Jaehyun bahagia, karena Doyoungnya kini dalam keadaan baik-baik saja.
Dan Jaehyun juga bahagia, karena Jenonya tidak benar-benar hilang sejak saat dia tertidur di kamar sang anak pada masa itu. Ya, walaupun tetap pada akhirnya dia harus merasakan rasa sakit terlebih dahulu. Asalkan Doyoung baik-baik saja, Jaehyun tentu tidak keberatan.
"Hey, bagaimana bisa sih dia diberi kesempatan seperti itu?" Ujar sosok tak kasat mata yang sedang memandang ke arah Jaehyun dan anaknya.
Satu sosok yang lain menjawab, "Ya bisa, ini kehendak Tuhan asal kau tahu."
END
