Work Text:
Blaze si pencari sensasi, meraup segala pengalaman selayaknya kobaran api. Ice tahu semua hal tentang saudaranya, kecuali bagian isi hati. Sewaktu-waktu Blaze melonjak, menukik, dan menerjang demi dirinya, alih-alih terharu, Ice yang biasanya mengalir tenang justru dilanda banjir tanda tanya.
"Sebenarnya kenapa kamu melakukannya?"
Nahas, Ice mempertanyakannya pada sosok kakak seperti kobaran api itu yang terbujur lemah di ruang berbau obat, pada garis kehidupannya yang nyaris terlintang lurus di monitor ICU.
-0o0-
"Ice, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?"
Gempa menanyakannya dengan hati-hati, takut kalau pertanyaannya dapat membuka luka di hati Ice. Tetapi ia berhak tahu, semua saudara berhak tahu karena mereka menyayangi keduanya. Tok Aba juga mau mengetahui alasan mengapa cucunya yang nyaris jarang sakit itu harus terbaring lemah di rumah sakit.
Suasana hening untuk sejenak. Bahkan Duri maupun Taufan memasang wajah cemas, tidak ada keceriaan di sorot mata mereka.
Ice mendengus dingin ketika mengingat kejadian sehari sebelumnya. Bayangan para penindasnya yang keterlaluan. Terlalu berlebihan. Ice tidak lemah, ia punya kekuatan untuk melawan. Blaze juga sama, bahkan saudaranya lebih kuat darinya.
"Aku ditindas..." Ucapnya lirih.
Hening. Semua pasang mata menatap Ice penuh perhatian. Siap untuk mendengarkan ceritanya.
"Maaf aku tidak pernah cerita. Aku ditindas oleh geng Adu Du. Mereka menganggapku gendut dan lemah, sering mencibirku. Awalnya aku membiarkannya, tetapi semakin lama mereka menindas secara fisik sekitar pertengahan semester dua di kelas sepuluh. Aku balas melawannya, mereka juga sering kalah dariku, makanya aku tak pernah cerita." Ice membuka pelan-pelan luka yang dialaminya.
Solar, si bungsu di antara tujuh kembaran, mengangkat tangannya, ingin berkomentar. Ice mengangguk mengizinkannya. "Geng Adu Du memang pengecut. Aku juga pernah diejek mereka,"
"Benar! Kak Hali juga pernah memukul mereka untukku dan Solar! Keren banget!" Seloroh Duri. Halilintar, si anak sulung, mendelik tajam ke adiknya yang bertopi hijau. Padahal kejadian itu sepakat menjadi rahasia mereka saja. Tetapi Duri menatapnya dengan mata hijaunya yang bulat, mengisyaratkan lewat tatapan kita-harus-mengaku-biar-Kak-Ice-tidak-merasa-sendirian.
"Ugh, iya! Geng Adu Du memuakkan! Mereka pernah membuat perangkap untukku di toilet sekolah, di lapangan kota, di taman! Walau aku selalu menang melawan mereka!" Halilintar angkat bicara dengan raut wajah kesal.
"Kalau geng Adu Du memang menyebalkan! Mereka pernah mengejek permainan skateboard-ku. Padahal mereka lebih payah, hahaha!" Taufan terkekeh riang teringat kejadian dimana dirinya bermain skateboard, lalu geng Adu Du mampir lewat mengejeknya. Waktu ditantang, ternyata laki-laki itu masih lebih payah darinya!
Gempa si sulung tampak ragu-ragu berkata, "Aku.... juga pernah diberi tatapan sinis mereka... Kamu tidak sendirian, Ice..."
Mata biru Ice membulat mendengar pengakuan saudara-saudaranya. Ah, dia memang tidak pernah sendirian. "Lalu kira-kira tiga minggu lalu, Adu Du bilang mau menantang kita semua melawan preman kota, Bora Ra."
"Sebentar, Adu Du tidak pernah bicara hal itu ke aku!" Sambar Halilintar emosi mendengarnya. Taufan mengangguk menyetujuinya.
Ice menatap lurus-lurus ke sepatunya. Menunduk. "Adu Du bilang, di antara kita bertujuh, dia hanya paling membenciku. Dia benci sifatku yang pemalas. Jadi dia akhirnya memilihku saja."
Memori Ice jatuh kepada di hari itu, hari dimana Probe memukulnya sepulang sekolah. Ice yang sewaktu itu sedikit flu, jadi tidak kuat menahan serangan Probe. Lalu Adu Du menantangnya melawan Borara. Adu Du tahu kalau dirinya tidak pernah cerita soal penindasan kepada siapapun. Itu membuatnya semakin puas ingin menghancurkannya.
"Setelah itu, aku berlatih diam-diam sepulang sekolah, mengasah kemampuan karate-ku. Agar aku bisa lebih kuat melawannya. Mungkin Kak Blaze curiga karena aku sering menghindarinya sepulang sekolah, akhirnya dia memaksa mengikutiku."
"Kak Blaze tanya, 'Kenapa?! Kenapa kamu berlatih karate lagi?!'. Dia sangat memaksaku, bahkan sampai di rumah pun dia menggangguku dengan pertanyaan itu di kamar. Dia tahu saja kalau aku mencoba menghindar dan mengarang cerita. Kak Blaze mau tahu cerita yang sebenarnya." Ice sedikit meringis, mengingat betapa Blaze menyusahkannya karena keingintahuannya.
"Sampai akhir, aku tidak memberitahu Kak Blaze. Tetapi Kak Blaze tetap mengikutiku sewaktu aku ditarik paksa oleh geng Adu Du untuk menemui Bora Ra. Bora Ra sendiri punya banyak kawan di geng-nya. Aku masih percaya dapat melawannya. Kak Blaze tiba-tiba muncul, dan Bora Ra memutuskan untuk mengganti rencananya melawannya, bukan melawanku."
Dan Ice tak dapat menahan air matanya. Dia ingat bagaimana dirinya diikat kuat, sementara Bora Ra dan kawanannya melawan Blaze sendirian. Mereka berada di tempat sebuah halaman gedung yang terbelangkai. Meski begitu, Blaze tetap berjuang sampai akhir, sampai ketika ternyata mereka membawa pistol dan menembak kaki Blaze. Sekitar sepuluh menit kemudian, polisi datang, tepat saat Ice akan dihajar.
"Blaze mengirimkanku pesan untuk menghubungi polisi." Gempa melanjutkan cerita Ice yang masih sesegukan dengan isak tangis. "Maaf aku terlambat membaca pesannya dua puluh menit. Kalau aku bergerak lebih cepat, mungkin Blaze tidak akan bernasib seperti itu..."
"Bukan salah Kak Gempa." Ungkap Ice cepat. "Ini jelas salahku. Aku.... benar-benar minta maaf karena selama ini tidak menceritakannya pada kalian. Maafkan aku..."
Tok Aba meraih tubuh Ice, memeluknya hangat. "Tidak apa-apa, Ice. Bukan salahmu. Bukan salah siapapun. Blaze kuat, buktinya dia masih hidup sampai sekarang. Dan akan bangun nanti. Kita doakan Blaze cepat sembuh."
Ice mengangguk lemah, membalas pelukan sang kakek. Melihat pemandangan itu, Duri tak tahan untuk ikut memeluk, disusul Taufan. Tangis pecah berhamburan. Gempa masih terisak-isak, Halilintar menunduk menyembunyikan tangis, sementara Solar hanya menatap nanar ke arah ranjang Blaze. Matanya kering, namun tangannya terkepal penuh emosi.
"Menurut ilmu kedokteran, orang yang sedang koma harus diajak bicara. Kita semua bisa memanggilnya untuk membangunkannya." Sahut Solar.
Sontak, semua mata memandang ke arah Blaze yang masih terpejam di ranjangnya. Berucap tak bersamaan, ada yang berteriak, ada pula yang berucap dengan nada biasa, namun semua mengharapkan hal yang sama.
"Kak Blaze, tolong bangun."
-0o0-
Ice jarang mengalami kesulitan tidur. Malah sepertinya hampir tidak pernah. Namun ketika Blaze terbaring koma di rumah sakit, Ice sering bermimpi buruk. Membuatnya menjadi terjaga sepanjang malam.
Sudah sebulan Blaze koma, Ice sudah tidak bisa menghitung berapa kali dirinya terkantuk-kantuk di sekolah. Bukan pemandangan aneh sebenarnya, dia selalu tidur di kelas, namun kali ini Ice terlihat sangat lelap sampai sulit dibangunkan. Dalam seminggu, Halilintar yang duduk tepat di belakangnya dapat menghitung bahwa Ice tertidur sepanjang hari selama 3-4 kali.
"Ice, kamu tidak apa-apa?" Gempa memutuskan izin dari rapat perwakilan kelas untuk acara ulang tahun sekolah. Selama Blaze tidak ada di rumah, Gempa yang menemani Ice di kamarnya. Namun Ice terlihat biasa saja, kecuali jam tidurnya yang kelihatan memburuk. Sekarang waktu petang, Ice yang biasanya membantu Tok Aba atau belajar, tetapi belakangan ini memilih tidur.
"Apanya Kak?" Ice menyahut malas, meringkuk di ranjangnya sembari memeluk boneka pausnya.
"Kalau ada yang membebani pikiranmu, kamu bisa coba ceritakan saja padaku. Terutama.... soal Blaze." Gempa menatapnya cemas, berucap ragu. Dia masih berdiri memerhatikan sang adik.
Ice bergeming, tidak menjawab. Gempa meraih selimutnya, berinisiatif menyelimutinya. Tiba-tiba ia merasakan tubuh Ice yang sedikit gemetar. "Ice? Kamu kenapa??"
"Kak..." Terdengar suara Ice, agak serak. Ia berdeham sedikit. "Aku mau menjenguk Kak Blaze lebih awal, boleh?"
Biasanya, Tok Aba mengajak mereka menjenguk Blaze setelah menunaikan sholat Maghrib. Bergantian. Ice memang diberi lebih banyak waktu bersama Blaze, namun sepertinya Ice masih ingin lebih lama. Gempa tercenung. "Boleh. Aku minta izin ke Tok Aba dulu,"
Sekitar setengah jam kemudian, Ice yang sudah diberi izin, ditemani Gempa, menjenguk Blaze. Matanya masih terpejam, masih memakai alat bantu pernapasan, tidak mengalami perubahan sejak sebulan yang lalu.
Ice menggenggam tangan kiri Blaze yang tidak diinfus. "Bangun Kak Blaze... Harusnya aku yang suka tidur, bukan Kakak. Memangnya Kak Blaze tidak lelah tidur terus? Padahal biasanya Kak Blaze tak tahan tidur terlalu lama, tukang pecicilan biang onar."
Gempa berusaha menahan tawa mendengarnya. Tangannya terulur mengelus lembut kepala Ice, mencoba menenangkannya. Ketika ia hendak angkat bicara, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Buru-buru diangkat teleponnya agar tidak mengganggu. Dia juga melangkah keluar ruangan. "Assalamualaikum, halo? Iya ini Gempa..."
Ice menunduk, menimbun kepalanya di pinggiran ranjang Blaze, memejamkan matanya. Kalau di dekat Blaze, Ice merasa lebih tenang. Padahal di rumah dia gelisah dan kepalanya terasa berat untuk tidur, namun sekarang semua bebannya sirna. Ice menguap lebar, membiarkan kedua tangannya menjadi bantal dan tertidur lima menit kemudian.
"Baik Tok, Gempa akan segera pulang. Wassalamu'alaikum," Gempa menutup teleponnya dan kembali melangkah masuk ke kamar rawat Blaze. "Ice, kita diminta pu..." Gempa menghentikan ucapannya melihat wajah damai Ice yang tertidur pulas di sisi ranjang Blaze.
Rasanya sudah lama ia tidak melihat Ice setenang itu. Gempa membiarkannya, melepas jaketnya sendiri, menggantikan tangan Ice dengan jaketnya sebagai bantal. Sesuai dugaannya, Ice tidak bergeming dari tidurnya meski posisi tangannya dipindahkan. "Selamat istirahat, Ice. Dan kamu, Blaze, tolong bangunlah. Aku belum meminta maaf dengan benar padamu."
Usai kepergian Gempa, tanpa diketahui siapapun, jemari kedua kaki Blaze sedikit bergerak selama sepersekian detik.
-0o0-
"BLAZE! BLAZE! BANGUN BLAZE!"
Blaze terduduk, termangu menatap sekitarnya. Gelap. Kosong. Tidak ada apapun dan siapapun, namun ia bisa mendengar suara saudara-saudaranya bergantian memanggilnya. Sebenarnya dia sedang ada dimana? Kenapa dia disuruh bangun? Bukankah sekarang ia sudah bangun?
Pemuda bermanik oranye membuka mulut, hendak berteriak bertanya, namun lidahnya kelu. Suaranya tidak keluar. Sudah lama Blaze seperti tersesat di ruang kosong gelap ini, tidak bisa berbicara, meski dia sudah berusaha berlari mencari ujungnya, namun sama sekali belum tampak di mata.
Rasanya ia melemah. Blaze menggeram kesal, tidak suka situasi ini. Seperti lorong setan tak berkesudahan yang menahannya untuk pergi keluar. Dan yang paling mengganggunya, Blaze bosan. Tidak ada hal menyenangkan di sini, semakin lama Blaze malah takut karena merasa jiwanya ditelan kegelapan.
Atau dirinya memang sudah ditelan kegelapan. Meski ia berusaha tetap ceria dan terkadang marah untuk orang tersayangnya, Blaze punya pemikiran yang menahannya untuk sepenuhnya bahagia. Prinsip Blaze, dia baru boleh bahagia setelah melihat Ice bahagia. Blaze benci melihat Ice tersakiti. Rasanya dia sulit memaafkan dirinya yang tidak menyadari perundungan yang dialami Ice selama ini.
Bagaimana tidak, bukankah mereka saudara? Blaze memang marah dan ingin memukul adiknya yang tidak membahas apa-apa padanya, tetapi dia lebih marah pada dirinya sendiri. Ini semua salahnya. Seharusnya Blaze bisa lebih berpikir dan peka akan perubahan Ice yang memburuk semenjak di bangku SMA.
Atau Blaze menyerah saja? Dia ingin menang, tapi dirinya sudah kalah sejak awal. Kalah sebagai saudara yang dapat diandalkan Ice. Kalah sebagai orang yang pengecut karena tidak mengetahui apa-apa soal saudaranya. Seperti orang bodoh saja.
"Sudah sebulan Blaze koma, tetapi belum ada perubahan apa-apa pada tubuhnya..."
Telinga Blaze menegak mendengar pernyataan dari suara asing yang bergema. Apa katanya?! Dia koma?! Koma yang bisa menidurkan orang lain seperti batu itu?! Blaze tidak suka kalau dirinya harus koma meski dirinya memang sudah kalah!
Blaze berdiri, mencak-mencak dengan dongkol. Mencoba berlari lagi ke arah sebaliknya, berputar selama dua puluh kali sampai dirinya kelelahan karena masih belum menemukan titik cahaya dari ruangan hampa tersebut.
Bagaimana cara dia bisa keluar dari lorong setan membosankan?! Bagaimana cara membuat perubahan pada tubuhnya di dunia nyata?! Padahal di sini ia sudah sangat kelelahan. Blaze memukul-mukul lantai, atau setidaknya ia anggap sebagai lantai, dengan frustrasi dan penuh amarah.
"Bangun Kak Blaze... Harusnya aku yang suka tidur, bukan Kakak..."
Blaze membeku mendengar suara itu. Ice berbicara padanya. Dan apa katanya?! Ice merasa ingin menukar posisinya yang sedang koma dengan dirinya?! Blaze menggeleng tidak setuju. Meski dia bosan setengah mati dan kesal akan lorong setan ini, tetapi Blaze tidak sudi kalau Ice harus tertidur terlalu lama dalam artian koma. Lebih baik dirinya saja yang menderita.
Benar, Blaze memang menyesali segalanya, kecuali komanya saat ini. Walau rasanya memuakkan, koma memang hukuman yang pantas untuknya karena selama ini ia tidak tahu menahu masalah Ice. Blaze tertunduk, meremas tangannya dengan geram.
"Selamat istirahat, Ice. Dan kau, Blaze, tolong bangunlah. Aku belum meminta maaf dengan benar padamu."
Apaaaa?! Bukankah itu suara Gempa, kakak ketiganya?! Ice baru bisa beristirahat katanya?! Memangnya selama dia koma, Ice si tukang tidur itu tidak bisa beristirahat dengan baik?! Lalu kenapa Gempa mau minta maaf padanya??
Blaze sekali lagi memukul lantai. Memohon-mohon agar dirinya bisa bangun. Tidak, dia harus bangun dari koma. Harus! Blaze tidak mau menambah beban bagi Ice. Sudah cukup, dia tidak boleh koma terlalu panjang! Ia harus menang melawan koma!
-0o0-
"Kak Ice, kamu paling mengenalnya. Kak Blaze orang yang seperti apa?"
Sepulang dari rumah sakit, Solar membuka percakapan di ruang keluarga. Menatap saudaranya yang memakai jaket biru, duduk memeluk lutut menatap layar TV, namun pikirannya seperti bukan ada di sana.
"Solar..." Gempa menyahut menegurnya dengan nada tegas. Jangan-mengungkit-kesedihan-Ice, kira-kira tatapannya bermakna seperti itu pada si bungsu.
"Aku cuma sedikit penasaran. Lagipula, Kak Blaze mungkin tidak tahu cara bangun dari koma." Ucap Solar sembari membela dirinya, mengejutkan seisi rumah yang mendengarnya.
"Apa maksudnya?! Beri tahu Duri!!" Saudaranya yang selisih lima menit di atasnya sudah merengek mengguncangkan tubuh adiknya. Solar merengut, memukul kepala Duri, membuka mulut menjelaskan.
"Sudah kubilang, kan, orang koma tetap bisa mendengar percakapan kita. Makanya kita harus tetap aktif memanggilnya. Kak Blaze mungkin sudah tahu dia koma, aku tidak paham isi pikirannya sampai belum bangun sebulan lebih seminggu. Mungkin juga dia tidak tahu cara bangunnya."
"Apa Blaze keasyikan dengan mimpi serunya? Memang caranya bangun itu sulit?" Taufan angkat bicara, merasa keheranan dengan pemikiran Solar.
Solar menyemburkan nafas kesal. "Tidak sebodoh dan sesederhana itu. Dan orang koma berada di antara hidup dan mati, kupikir tidak mungkin kalau Blaze bermimpi hal yang baik. Makanya, mungkin kamu tahu sesuatu soal dia." Ia kembali melirik Ice yang kini menatapnya.
Tidur.... Ice langsung teringat beberapa kali dirinya merasa sulit bangun dari tidur karena malas. Blaze bilang, dia tidak suka kalau dirinya terlalu malas-malasan di hari libur. Mungkin memang masuk akal kata Solar bahwa Blaze yang benci kemalasan tidak mungkin membiarkan dirinya koma. Atau...
"Ice.... Kamu baik-baik saja?" Gempa menatapnya cemas melihat raut wajah Ice yang berubah menjadi memucat.
"Atok! Aku boleh ke rumah sakit?!" Seru Ice sembari merapatkan jaketnya. Duri dan Taufan langsung menghujani si anak kelima dengan pertanyaan tentang Blaze. Tok Aba mengangguk, mengizinkannya pergi asalkan ditemani saudara.
"Aku akan mengantarmu." Halilintar yang sejak tadi menyimak, memutuskan bangkit membantu Ice. Dia sekalian ingin menjernihkan kepalanya yang juga mencemaskan Blaze. Ice mengangguk setuju. Tanpa banyak bicara, keduanya lari ke luar rumah dan tancap gas dengan motor.
Sepanjang perjalanan, memori Ice jatuh kepada beberapa tahun silam ketika ia dan Blaze masih duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu, Blaze kalah dari pertandingan persahabatan bola basket dengan anak SMP. Blaze menangis dan merengek padanya untuk membelikannya es krim karena merasa kesal akan kekalahan tersebut. Ice dengan ogah, terpaksa membelikannya es krim dengan sisa uang jajan mingguan terakhirnya.
"Enak! Kalau begini, tidak apa-apa aku kalah karena dapat es krim darimu!"
Ice masih kesal, diam tak meresponnya. Pikirannya masih terbayang nasib dompetnya yang sekarang kosong melompong, padahal masih ada hari esok.
"Ice, kamu mau tahu tidak?" Blaze menatapnya dengan tatapan bersinar cerah. "Kamu memang kalah kuat dariku, tetapi aku mau kalah untukmu! Makanya, lain kali aku akan membelikanmu es krim sewaktu kamu merasa terpuruk. Walau sebelumnya, akan kuberi pelajaran orang-orang yang bisa membuatmu terpuruk!"
"Ungkapan bodoh apa lagi itu?" Sahut Ice dingin, yang langsung diberi jitakan dan pukulan pelan oleh kakaknya.
Itu dia.... Ice sekarang paham mengapa Blaze masih terbaring koma. Ia paham perasaan Blaze yang awalnya dipertanyakannya.
Blaze selalu mau rela mati kebosanan dan melemah untuk dirinya. Blaze benci kalah, namun dia rela kalah demi dirinya. Blaze menganggap koma sebagai hukuman untuknya.... karena sang kakak tidak bisa menolongnya yang terpuruk. Blaze mungkin...
Ice menggeleng, masih tidak mau berbangga diri karena merasa belum sepenuhnya mendapat jawaban dari Blaze. Tepat saat itu, mereka sampai di rumah sakit. Halilintar menurunkannya lebih awal, sementara dirinya mau mencari tempat parkir dulu.
Dengan pikiran berkecamuk, Ice mencoba memikirkan kata-kata yang pantas diteriakkannya pada Blaze untuk membangunkannya. Sudah cukup selama ini dia menerima setiap perlakuan Blaze, kali ini Ice akan berjuang mengamuk.... untuknya.
Pintu ruang kamar rawat inap Blaze sedikit dibanting olehnya. Ice mendekati ranjang saudaranya, menghirup napas panjang. "DASAR KAKAK MENYEBALKAN, KAPAN KAMU MEMBAYAR UTANG ES KRIMKU WAKTU SD?! MENTANG-MENTANG KOMA, KAMU JADI LUPA BAYAR UTANG, HAH?!"
Keheningan sunyi menyergap. Beberapa perawat tergopoh-gopoh datang akibat teriakan Ice, lantas Ice menunduk meminta maaf pada mereka karena telah membuat keributan di rumah sakit.
"Hei Ice.... Utang zaman kapan itu?"
Ice menoleh, ternganga melihat Blaze yang kini membuka matanya, tersenyum kecut merasa bersalah mendengar perkataan saudaranya. "Lagi-lagi aku tidak tahu menahu soal kamu, ya. Aku tak ingat pernah utang es krim... Eh?! Jangan pergi!"
"DIAM! AKU MAU PANGGIL DOKTER." Bentak Ice emosi, namun air matanya perlahan mulai mengalir. Blaze terpaku dengan sikap saudaranya, akhirnya mengiyakan. Melihat air mata Ice, Blaze jadi semakin merasa bersalah karena tidak segera bangun.
Merasa tubuhnya kaku, Blaze merenggangkan tangannya ke depan dan memaksa dirinya untuk duduk meski kepalanya terasa berdenyut. Blaze baru saja hendak melemaskan otot-ototnya, tiba-tiba terdengar teriakan dari pintu. Halilintar, kakak pertamanya, langsung mengomelinya.
"BLAZE! JANGAN LANGSUNG BANGUN, TUBUHMU MASIH BERADAPTASI SETELAH TIDUR PANJANG!"
Blaze menghempaskan dirinya untuk kembali tidur, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kalian itu saudara yang kejam.... Masa teriak-teriak ke orang yang baru sadar koma?!" Semburnya jengkel. Meski senyumnya terukir karena dengan teriakan Ice-lah, dia bisa bangun dari komanya.
Ternyata benar, Ice adalah saudara yang akan selalu menjadi prioritas Blaze.
-0o0-
Tiga hari setelahnya, Blaze sudah boleh pulang ke rumah. Bagaimana tidak, pasien yang baru bangun koma sepertinya langsung memaksakan diri berolahraga ringan usai bangun, memukul Ice tepat di wajahnya, hingga Blaze memberontak ingin cepat-cepat pulang ke rumah karena bosan. Setelah dicek dengan teliti kesehatannya, akhirnya ia diizinkan pulang.
"Blaze, aku mau tahu mimpimu selama koma dong!" Taufan langsung menyambutnya dengan wajah penasaran dan riang. Blaze hanya terkekeh ketika Taufan mencoba memeluknya dari kursi roda. Ya, dirinya terpaksa harus menggunakan kursi roda karena kakinya masih belum cukup kuat.
Dari sisinya, Ice menatapnya dengan tenang, namun masih ada sorot kekesalan di matanya. Ice tidak menyangka pukulan Blaze sekuat itu sampai membuatnya mimisan.
"Aku mimpi di lorong setan!" Seloroh Blaze dengan senyum lebar. Namun mendengar kata 'setan', Duri dan Gempa menatapnya ketakutan dan cemas. Halilintar yang sedang memarkir motor, diam-diam bergidik merinding mendengarnya.
"HAHAHA! Aku bercanda, kok!" Tawa Blaze tersembur melihat Duri yang sudah lari ketakutan ke arah Solar yang duduk di sofa depan TV, di ruang keluarga. Ice menghela napas, mendorong kursi roda Blaze menuju ruang keluarga.
"Di lorong setan, kamu tidak apa-apa Blaze?" Namun Gempa menanggapinya dengan serius, menatapnya sekilas khawatir, lalu kembali fokus merapikan kotak obat milik Blaze.
Blaze tersenyum pahit. "Tidak... Aku berlari dan terus berlari. Tetapi semuanya gelap, kosong dan tak ada ujungnya. Seperti lorong setan yang tidak berkesudahan. Aku frustrasi. Kupikir aku akan terjebak di sana selamanya."
Ice meremas tangannya, menunduk. Tok Aba yang kembali dari kamar, lekas-lekas menghampiri Blaze dan memeluknya. Duri yang sempat ketakutan, kini mendekatinya dan memberikannya pelukan erat.
"Sampai ketika aku dengar bahwa aku koma sebulan. Aku mulai kebingungan, tak paham bagaimana caranya bangun. Karena aku merasa sudah bangun. Aku bahkan olahraga ringan karena merasa bosan di lorong setan." Blaze bercerita dengan nada kesal.
Duri dan Taufan menatap ke arah Solar dengan ekspresi takjub. Solar yang ditatap hanya menyeringai dan bersedekap seakan berkata apa-kubilang?
"Aku sudah hampir menyerah. Beberapa kali menyerah. Kupikir aku koma memang dihukum karena tidak tahu apa-apa soal masalah Ice. Padahal aku paling dekat dengannya, selalu bersamanya. Aku malah tidak tahu menahu." Blaze sudah mengepalkan tangan. Gempa buru-buru menghampirinya untuk menahannya memukul tangan sendiri.
Ice menutup wajahnya dengan tangan, topi birunya semakin merunduk. Menyembunyikan setitik air matanya yang menetes.
"Kak Blaze, kami juga tidak tahu apa-apa soal itu." Seru Duri menatapnya penuh perhatian.
"Benar. Lagipula, kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Mereka sudah membusuk di penjara." Halilintar angkat bicara. Blaze menoleh, menatapnya dengan sorot penasaran ingin tahu.
Halilintar pun menjelaskan bagaimana Ice memberi kesaksian pada polisi. Persidangan dibuka tiga minggu kemudian setelah dipaksa pihak keluarga penindas yang mencoba mempertahankan harga diri. Namun mereka yang berakhir menelan ludahnya sendiri. Penjara bagi remaja itu nyata adanya. Mereka diberi hukuman 3 tahun penjara.
"Lalu, bagaimana caramu bisa sadar dari koma?" Giliran Solar bertanya, merasa tertarik dengan cara Blaze keluar dari 'lorong setan' yang disebutnya.
"Aku dengar, Ice kesulitan tidur gara-gara aku, padahal aku tak bermaksud begitu! Setelah kupikir-pikir ulang, aku tidak boleh menyerah. Koma bukan hukuman untukku, melainkan cobaan untuk membuka mataku pada kenyataan soal Ice. Malah aku yang seharusnya memukul Ice yang tidak cerita. Aku kembali lari dan pelan-pelan menemukan cahaya. Dan.... Jeng jeng! Ada dua makhluk barbar yang mengomeliku!" Blaze tersenyum riang, tangan kanannya menunjuk Halilintar, tangan kirinya menunjuk Ice.
"Aku sudah dengar kamu bangun karena kepikiran utang es krim." Gempa menanggapinya sembari tersenyum menahan tawa. Mendengar itu, tawa Solar kembali tersembur. Dia juga sudah tertawa terbahak-bahak sebelumnya saat pertama kali mendengarnya. Duri dan Taufan ikut terkekeh riang.
"Habisnya, aku tidak ingat soal itu! Hei, kamu belum bilang itu utang zaman kapan?! Ice, jawab!" Blaze menggembungkan pipinya dengan kesal dan menatap tajam sang adik yang gemetar lantaran tertawa.
"Waktu SD kelas enam... Aku juga baru ingat hari itu saat kamu berhasil bangun." Jawab Ice enteng, duduk di sofa dan menatap Blaze di depannya yang menggunakan kursi roda.
Blaze terdiam, mengerutkan kening, terlihat mencoba mengingat-ingat. Namun nihil, tidak ada ingatan lama yang terpikir di kepalanya. "Ada 'clue' lagi?"
"Saat kamu melakukan pertandingan persahabatan dengan anak SMP, kamu..." Sebelum sempat Ice menyelesaikan kalimatnya, Blaze langsung menutup mulutnya. Menatapnya geram, melalui tatapannya seakan memintanya jangan membocorkan kejadian lama tersebut. Blaze sudah ingat, itu kejadian memalukan baginya. Cukup jadi masa lalu saja!
Tetapi Duri dan Taufan sudah mendorong Ice dengan rasa penasaran mereka. "Gimana?! Blaze kenapa?! Ceritakan dong! Aku penasaran!"
Solar bangkit dari sofa, kabur ke kamarnya, sudah tidak peduli dengan cerita Blaze. Gempa kembali menyibukkan dirinya dengan cucian piring, Halilintar membersihkan meja makan, sementara Tok Aba memutuskan kembali ke kamar menyetrika pakaian.
"... Kak Blaze kalah dan menangis. Ingusnya jorok banget dipeper ke aku. Terus dia..." Ice sengaja menambahkan detail memalukan, melempar seringai penuh kemenangan pada sang kakak yang wajahnya mulai memerah.
"ICE BISA DIAM TIDAK?!?!"
-0o0-
Malam yang senyap, Ice di ranjangnya sudah mulai disergap rasa kantuk, seketika terbangun saat Blaze memanggilnya. "Hei Ice..."
"Apa Kak Blaze?" Balas Ice cepat. Sedikit khawatir kalau-kalau Blaze mengeluh sakit lagi karena tadi sempat mengerang sakit di kepalanya. Walau sudah minum obat dan dicek ulang di rumah sakit, tetapi tidak menutup kemungkinan kondisinya memburuk lagi.
"Masih butuh jawaban itu? Yang kamu tanya soal kenapa aku melakukannya untukmu?" Lanjut Blaze.
Ice sedikit tercenung. Blaze benar-benar mendengarkannya hingga pertanyaan remeh yang keluar dari mulutnya di hari pertamanya terbaring koma. Air matanya merebak, menangis dalam diam, merasa cukup terharu.
Namun ternyata Blaze tidak membutuhkan respon Ice. Dia melanjutkan kata-katanya. "Karena kamu itu saudara yang paling kusayang! Dasar Ice bodoh, masa kau ini tidak paham?! Apa kau tidak sayang aku juga?! Makanya kau tak mau menceritakan soal penindasan padaku?!"
Blaze menusuknya dengan beragam tanda tanya. Ice sedikit tersentak, buru-buru menyeka air matanya dan terduduk, menoleh ke seberang ranjang. Ada Blaze yang menatapnya dengan raut wajah cemberut. Ice bisa melihatnya sekilas dengan bantuan cahaya lampu dari luar rumah.
"Aku sayang kau. Kakak tidak paham ya, aku malas cerita karena itu urusan menyusahkan, dasar bodoh." Ice akhirnya mengucapkan kata sayang meski sedikit geli dan malu. Untung lampu dimatikan, rona merah di wajahnya tidak terlihat.
"BODOH! AKU SELALU MAU SAJA MENGHADAPI HAL MENYUSAHKAN!" Blaze menatapnya dengan mata yang seakan berkobar-kobar penuh api amarah.
"KAU YANG BODOH, KAK! TERLALU GEGABAH MELAWAN MEREKA!" Ice membalas tatapannya dengan dingin yang menusuk bercampur emosi kesal.
Dan terdengar suara Gempa dari luar menegur mereka untuk tidak berisik. Dua bersaudara itu tertegun, lalu kompak tertawa ringan. Menertawakan kekonyolan mereka akan pertengkaran di malam hari.
"Maaf Kak Blaze... Aku tidak seharusnya begitu." Ice kali ini sepenuhnya duduk menghadap kakaknya, sedikit menunduk meminta maaf.
Blaze tersenyum simpul. Tidak bisa bangkit berdiri tetapi mengulurkan tangan kanannya. "Aku juga minta maaf Ice, sudah mencemaskanmu selama sebulan lebih koma."
Tangan Ice meraih tangan Blaze, mereka bersalaman kuat dan erat sekali. Bahkan Ice yakin tangannya bisa remuk kalau dia tidak menanggapi serius jabatan tangan kakaknya. Sakit ataupun tidak, Blaze tetaplah Blaze yang staminanya kuat.
Dan tetaplah seorang Blaze, saudaranya yang paling terhubung ikatan erat dengannya. Yang tak akan pernah Ice lupakan kalau ia saudara yang paling menyayanginya.
-0o0-
