Actions

Work Header

tuan hakim, tuan duke dan dua cangkir teh

Summary:

Sang Iudex mendapati jadwalnya hari itu selesai lebih awal dan memutuskan untuk mengunjungi sang Duke Meropide.

Notes:

Selamat hari Minggu~

Fic ini dibuat dengan pemikiran 'ceritanya sebelum mulai bangun Wingalet, si tuan Duke sempat kirim proposal ke meja kantor tuan Iudex. Tapi tuan Iudex belum sempat liat kapalnya samsek'.

Work Text:

 

 

 

 

 

Disclaimer :

Genshin Impact © HoYoverse ( miHoYo)

 

Warning :

OOC, headcanons, typos.

 


 

 

 

Bertentangan dengan imajinasi banyak orang, Benteng Meropide tidak memiliki jam kerja 24 jam dalam 7 hari.

Peraturan resmi yang mengatur waktu kerja daerah dengan otonomi mandiri itu tertera dalam sebuah dokumen perjanjian dengan Court of Fontaine. Dari para anggota Maison Cardinalice hingga Maison Gestion, semuanya mengetahui hal tersebut. Apalagi Maison Gestion, mereka lebih mudah lagi untuk menghafal— sama persis seperti mereka, yakni pukul delapan pagi hingga jam lima sore. Segala jenis aktivitas pengadilan akan diusahakan selesai sebelum matahari terbenam, memberi waktu bagi pertunjukan atau kegiatan berikutnya yang sudah diterima dan diproses formulirnya oleh Maison Gestion.

Perkara jam kerja tadi terlintas dalam benak sang Iudex, ketika semua pekerjaan yang ia tangani hari ini selesai lebih cepat.

Jadwalnya yang selesai lebih awal seperti ini, kadang-kadang saja terjadi. Kasus hari ini kebanyakan dipegang oleh Maison Ordalie, terhitung juga sebagai pelatihan bagi mereka yang baru bergabung di dunia judisial Fontaine. Sedene juga menyapa dengan mata berbinar ketika ia melangkah keluar dari kantornya. Sang Melusine mengulang kembali dengan antusias bahwa jadwalnya hari itu sudah selesai.

Hal ini membuat Neuvillette merenungkan apa yang sebaiknya ia lakukan dengan waktu luang pribadinya yang bertambah.

Keluar dari pintu belakang Palais Mermonia, langkahnya berhenti di samping Muirne.

“Selamat sore, Monsieur Neuvillette.” Seperti biasa Muirne menyapanya, sebelum kembali menatap permukaan air dengan penuh minat. “Apa anda mau merenung bersama lagi?”

Mau tak mau mulutnya membentuk sebuah senyuman, mengingat yang terjadi terakhir kali mereka memandangi air dan tiba-tiba kerumunan orang ikut menatapi bersama mereka dengan penuh kebingungan.

“Selamat sore, Muirne.”

Pandangannya menyapu pegunungan dan barisan rapi aquabus jalur Callas.

Pikiran kalut akan berbagai laporan kasus yang sampai di mejanya hari ini, perlahan digeser akan ingatan mengenai benteng besi. Terngiang di telinganya sebuah tawa dan dokumen non-formal yang diserahkan secara langsung padanya.

Sekilas muncul sebuah rasa kerinduan akan suara itu.

Dentang bel yang menandakan waktu sore hari tak akan terdengar hingga dasar laut, tetapi Neuvillette tahu pria itu sangat menghargai perbedaan jam kerja dan waktu pribadi.

Neuvillette sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan waktu luangnya kali ini.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi setelah ini aku akan mengunjungi Duke Meropide.”

 

🌢🌢🌢

 

Ia mengingatkan dirinya sendiri agar tak terlihat terburu-buru.

Neuvillette menanggalkan jubah formal, menyampirkannya di tangan bersama bingkisan set makanan Hotel Debord. Ia membiarkan pintu besi di belakangnya tertutup, menaiki anak tangga melingkar… dan mengerjapkan mata.

Ah, pantas saja ada sesuatu yang kurang. Selain kursi yang kosong, tak ada alunan lagu yang biasanya terdengar dari gramofon yang empunya kantor. Sang Duke Meropide sedang tak ada di ruangannya.

Ia berusaha mengingat lagi… Hanya ada Monglane dan beberapa penjaga yang matanya melebar sesaat melihat kedatangannya di area kedatangan. Sigewinne yang ia datangi lebih dahulu masih ada di ruang klinik. Area Kantin Bersama juga sudah sepi. Apa pria itu ada di ruangan pribadinya? Rasanya tak sopan jika ia langsung membuka pintu dan tangga rahasia di balik lemari buku itu…

[“Aku dengar pintunya terbuka, siapa itu?”]

Sebuah suara netral teredam muncul dari arah belakang meja.

“...Yang Mulia Duke?”

Terakhir kali ia berkunjung, belum ada sistem seperti ini. Karena pengeras suara itu muncul dari arah ukiran tiga kepala serigala, ada sebuah visualisasi dalam benak Neuvillette yang membuatnya tersenyum kecil.

[“...Oh? Monsieur Neuvillette, langsung saja ke bawah.”]

Sang Iudex yakin kalau bukan dirinya yang datang, suara sang Duke tak akan santai seperti itu. Tetapi memang hanya mereka berdua saja yang memiliki akses langsung untuk membuka tangga rahasia di bawah kantor sang Duke. Selama beberapa saat hanya ada suara langkah kakinya beradu dengan tangga besi. Lalu ia melewati pintu besi lagi dan pintu rahasia pengamanan ekstra tempat ini, hingga bertemu asal suara perkakas beradu di balik kaca gelap.

“Saya pikir jam kerja Yang Mulia Duke sudah selesai.”

Pada geladak yang masih menyambung dengan tembok besi, ada sebuah area terbuka kecil dengan pipa dan sebuah model kapal kecil berpendar hijau-kuning mengambang di atas meja. Neuvillette merasakan dirinya ikut tersenyum ketika Wriothesley menoleh dan tertawa pelan pada pernyataan itu. Sama seperti dirinya, sang Duke Meropide sudah berpenampilan lebih kasual. Hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan sisa oli melumuri pipi.

“Hanya maket untuk percobaan skala kecil, bukan pekerjaan resmi. Anggap saja saya sedang mencari hobi baru, Monsieur.” Wriothesley menatap gerakan telunjuk sang Iudex yang menunjuk pipi, lalu menyeka wajahnya sendiri dengan handuk yang melingkari leher. “Dan panggil saja saya Wriothesley, kalau hanya ada kita berdua.”

Benar, sang Duke pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Hal yang menandakan kedekatan di antara para manusia. Neuvillette mengingatnya, tapi tata krama yang ditempa selama ratusan tahun dalam otak dan gerak-geriknya keluar lebih dulu.

“Baiklah, Wriothesley. Kamu juga, panggil aku dengan Neuvillette saja.”

Ia bergerak menjauhi meja ketika Wriothesley memberikan gestur untuk mengikutinya.

“Apa aku boleh bertanya tentang sistem baru di kantormu tadi?”

“Ah, soal pipa suara? Itu juga hasil karya Jurieu. Dia dan Lourvine, asistennya, biasa masuk lewat klinik— suster kepala kita menjaga pintu masuk itu dengan sangat baik. Kadang saja mereka langsung masuk lewat tangga kantor. Kalau aku tak ada di atas seperti tadi, aku bisa mendengar siapa pun yang masuk.”

Mereka menyusuri geladak bawah tanah, bahtera raksasa yang hanya ia baca dari laporan pribadi sang Duke kini menjulang tinggi di hadapannya.

Lalu tangan pria itu tiba-tiba muncul di depan matanya.

Ketika Wriothesley mengulurkan tangan, butuh waktu beberapa saat bagi Neuvillette untuk mengerti apa yang ingin dilakukan oleh pria itu— dan tanpa sadar tangannya yang kosong bergerak lebih dahulu, menerima tangan terbuka itu.

Giliran Wriothesley yang terdiam sejenak, sebelum tawa pelan familiarnya terdengar.

“Saya mau bantu membawa bingkisan karena tangan anda tampak penuh, Monsieur.” Wriothesley melemparkan pandangan ke arah bingkisan, tongkat dan jubah luar yang dibawa Neuvillette. “Tapi seperti ini boleh juga.”

Sang Duke memutar ibu jarinya di atas tangan sang Iudex, tak menunjukkan niat untuk melepaskan genggamannya.

Neuvillette merasa napas tertahan yang ia keluarkan terdengar sangat keras bagi dirinya sendiri. Omongan Wriothesley setelah itu nyaris tak ia dengar.

“...kadang suster kepala harus berpegangan juga karena jarak kayu geladak bagian sini tidak sama rata. Tolong perhatikan langkah anda.”

“Terima kasih.” Neuvillette akhirnya menemukan suaranya kembali. “Tentang Jurieu, aku ingat membaca namanya dalam laporanmu. Dia yang membantumu dengan proyek Wingalet?”

Wriothesley berhenti berjalan dan menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Neuvillette balik menatapnya, berharap sirat kebingungan yang ia rasakan terbaca.

“Anda benar-benar datang berkunjung untuk melihat proyek ini.”

“Tentu saja, karena kamu sendiri yang mengundangku langsung.”

Wriothesley mengeluarkan suara ‘hm’ pelan.

“Ya, Jurieu. Dia yang memimpin proyek ini.” Wriothesley melemparkan senyum penuh arti ke arah bahtera raksasa itu. “Aku hanya mengelola semua sumber daya yang ada.”

Neuvillette ingin segera membantah ucapan pria itu.

“Jangan merendah seperti itu, Wriothesley.”

Namun, saat ini ia hanya bisa melemparkan kata-kata tersebut.

Deretan Clockwork Meka menyambut mereka di area geladak kayu yang melebar lagi. Mirip seperti rekan-rekan mereka yang menyambut di lorong masuk Benteng Meropide, perbedaannya hanya lebih banyak tipe Specialist Meks. Saat ini semuanya sedang dalam mode tidak aktif. Disamping para Meka, ada deretan lempeng besi dan bahan komposit lainnya. Salah satu bahan besi yang sudah membentuk bagian baling-baling kapal yang belum terpasang.

Jika mengingat gaya Wriothesley dalam mengelola ekonomi tempat ini, pasti dia menawarkan pekerjaan bagi beberapa penjaga atau napi dengan imbalan Kupon Khusus. “Apa kamu membayar orang untuk mengawasi saat para Mekas bekerja?”

“Beberapa, yang bisa kupercaya saja. Tak sampai hitungan jari tangan.”

Wriothesley menjelaskan dengan singkat mengenai pembangunan Wingalet, mulai dari bagian dasar tempat pintu masuk yang mereka lewati hingga tujuan akhir mereka untuk saat itu yakni bagian geladak. Ada banyak hal yang Neuvillette akui tak terpikirkan olehnya— mungkin karena ia bukan manusia normal, tak terbesit dalam pikirannya mengenai skenario sejumlah besar orang melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari setelah evakuasi dijalankan.

Mengingat bahwa ia masih belum mengerti sepenuhnya tentang kehidupan manusia, meski sudah hidup diantara mereka selama ratusan tahun, selalu membuat sang Iudex menghela napas.

Tampaknya Wriothesley yang tak sengaja memperhatikan hal ini, menginterpretasi tindakannya ini sebagai hal lain.

Ketika mereka sampai di area geladak, sang administrator benteng mempersingkat penjelasannya mengenai bagian anjungan yang masih pada tahap pembangunan. Berbagai perkakas dan bahan besi bertebaran, sehingga pria itu menuntunnya ke sisi kanan tepi geladak.

“Bagaimana pendapat anda sejauh ini, Monsieur Neuvillette?” Wriothesley pergi sesaat untuk menggeser dua buah kursi dan meja kayu, menyingkirkan skema dan kertas cetak biru agar Neuvillette memiliki tempat untuk menaruh semua bawaannya. “Meski saya sendiri berharap ramalan itu tak terjadi, saya jamin Wingalet ini akan siap jika saat itu datang.”

“Tidak ada yang perlu dikomentari. Aku percaya semua keputusanmu akan memberikan hasil yang terbaik.” Ia tak ahli memoles kata dengan hiperbola, sehingga Neuvillette sangat tulus saat mengucapkan pendapatnya saat ini. “Tolong langsung sampaikan lewat Nona Marette, Nona Imena atau Aeife jika kamu memerlukan bahan tambahan atau lainnya. Aku bisa… bantu mempercepat proses penyalurannya.”

“Itu hal terbaik yang saya dengar hari ini.” Pria itu tertawa lepas.

Gerakannya menata meja dengan isi bingkisan terhenti sesaat.

“Hal terbaik yang terjadi padaku hari ini adalah kepercayaanmu untuk memberitahu mengenai proyek ini.”

Dari sekian banyak warga Fontaine, dari mereka yang mengalami sistem pengadilan tak sempurna ini, dari semua orang yang mencicipi pahitnya kehidupan; pria yang ia lihat dari masih pemuda hingga dewasa inilah yang pertama kali mendatanginya dan memberikan ide proyek Wingalet ini.

“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Wriothesley.”

Ketika ia menatap balik sang Duke, entah bagaimana ia tahu bahwa pria itu seakan tertawa— meski wajah hanya diam saja tanpa mengangkat sudut mulutnya. Sirat mata Wriothesley terlihat menyala jenaka.

“Kalau anda benar-benar berterima kasih, menemani saya minum teh sudah menjadi imbalan terbaik. Apalagi anda sudah membawakan makan malam seperti ini. Atau sebenarnya Iudex kita akan lembur setelah ini?”

Wriothesley memberikan gestur pada bingkisan yang dibawa Neuvillette.

Pria ini benar-benar memanfaatkan dengan baik waktu istirahat Benteng Meropide dan kedatangan Neuvillette setelah jam kerja selesai. Tampaknya alasan ‘tak ingin membuat sang administrator kewalahan kalau kehadiran sang Iudex dilihat para narapidana’ tidak dapat ia pakai.

Dan memang ia sendiri yang memanfaatkan waktu ini, jadi…

“Aku tidak lembur,” tawa kecil yang keluar dari mulutnya membuat cengiran sang Duke semakin melebar. “Sebuah kehormatan bisa menemani sesi minum teh anda, Wriothesley.”

Pada hari itu, sang Iudex mendapati dirinya menghabiskan waktu di Benteng Meropide— menemani sang Duke menutup hari dengan dua cangkir teh.