Chapter Text
Bunga Sakura yang merekah dimana-mana menandakan telah tibanya musim semi. Yoichi memandang guguran kelopak bunga Sakura yang beterbangan di luar jendela kelasnya. Matanya terlihat sendu. Bagaimanapun hari ini merupakan hari kelulusan untuk para kelas tiga. Yang artinya, pemuda itu tidak akan bisa lagi melihat senpai yang ditaksirnya selama hampir dua tahun terakhir ini.
Yoichi meraba saku seragamnya. Sebuah amplop berisikan kertas bertuliskan paragraf panjang terlipat rapi di dalamnya. Surat cinta. Ia berencana untuk menyerahkan surat itu pada kakak kelasnya nanti. Diterima atau ditolak dirinya tak akan memikirkan itu. Ia tak memiliki keyakinan bahwa perasaannya akan diterima. Bagaimanapun sedari dulu senpai yang ia sukai selalu dikelilingi siswa-siswi bertalenta dan memiliki fisik menarik. Berbeda dengannya yang hanyalah murid biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol dalam segala aspek. Jangankan mengetahui namanya, Yoichi yakin senpai-nya itu bahkan tak tahu jika dirinya ada dan bernafas serta menjalani kehidupan di dunia ini.
Pemuda bersurai biru gelap itu menggelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan pikiran negatif yang terus berputar dalam kepalanya. Yang pasti, ia hanya ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam selama dua tahun terakhir. Ya, itu saja. Ia tak berani mengharapkan lebih.
-
“Kepada perwakilan dari kelas tiga, Sae Itoshi, diharapkan menaiki panggung untuk menyampaikan pidatonya.”
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi gedung olahraga. Yoichi menyaksikan pemuda yang namanya dipanggil itu bangkit dari kursi dan berjalan naik menuju ke podium di tengah panggung.
Yoichi tak mendengarkan apa rangkaian kata-kata yang disampaikan oleh senpai-nya itu. Ia gugup tak karuan sedari tadi. Ditambah sekarang jantungnya berdegup dengan kencang. Seluruh inderanya seakan mati rasa. Hanya penglihatannya yang berfungsi. Ia menatap lekat-lekat wajah Sae Itoshi yang terpaut jauh di hadapannya. Mata dengan bola hijau laut berkilau yang selalu terlihat mengantuk, bulu mata lentik di bawah matanya, hidung mancung simetris, bibir tipis merah muda alami, kemudian rambut kemerahan dengan poni disisir ke belakang dan memperlihatkan jidatnya. Semua orang akan setuju betapa rupawannya seorang Sae Itoshi. Namun, tentu tak hanya itu yang membuat semua orang, termasuk Yoichi, tergila-gila dengannya. Seluruh warga sekolah tahu bagaimana pemuda bermarga Itoshi itu berprestasi di bidang sepakbola. Ia dengan permainannya berhasil membawa klub sepakbola sekolahnya hingga ke kancah nasional pada turnamen-turnamen antar sekolah menengah atas di penjuru negeri. Tak luput namanya yang selalu terpampang di sebelah angka satu di papan peringkat sekolah selama tiga tahun terakhir. Lalu sifatnya yang meski tergolong dingin tak acuh, namun selalu bertutur kata lembut dan sopan kepada setiap lawan bicaranya. Selain itu, bagi teman-teman sekelasnya, Sae merupakan ketua kelas dengan kepemimpinan yang baik serta bertanggung jawab. Ya, Sae Itoshi merupakan definisi dari siswa teladan dan sempurna di sekolah itu. Sementara Yoichi Isagi hanyalah salah satu dari sekian banyak yang terpikat pada pesonanya.
Memorinya terbang kembali ke masa lalu, hari dimana ia mula menaruh rasa pada senpai-nya itu. Kala itu terik musim panas yang memunculkan pening di kepala membuatnya sedikit menyesal mengiyakan ajakan kedua sahabatnya, Meguru Bachira dan Hyoma Chigiri untuk menonton pertandingan sepakbola sekolahnya yang berada pada final untuk memperebutkan posisi perwakilan prefektur. Yoichi berakhir tak dapat menyimak paruh pertandingan itu dengan baik akibat panas mentari yang membuat isi otaknya meleleh. Hingga ketika suara pengeras suara mengumumkan pergantian pemain milik tim sekolahnya, yang memicu riuh di antara para siswa-siswi lain. Hal tersebut membuatnya memperhatikan lapangan dengan seksama. Seorang berambut merah dengan nomor punggung sepuluh memasuki lapangan. Posturnya tegap, tingginya rata-rata untuk seorang atlet.
Orang itukah yang membuat penonton ribut? Yoichi berpikir dalam hati.
"Wah, Itoshi-senpai benar-benar populer, ya."
Yoichi mendengar Hyoma bergumam.
"Dia siapa?" Yoichi bertanya.
"Sae Itoshi, gelandang tim sepakbola sekolah kita. Aku tak paham mengapa dia baru dimasukkan ke lapangan saat ini." Meguru menjawab.
"Apa dia sejago itu?"
"Sangat. Dengar-dengar tim nasional sudah meliriknya."
"Selain itu, dia juga pintar dalam hal akademik. Bisa dikatakan, orang itu benar-benar sempurna." Hyoma menambahkan. "Maka dari itu dia cukup populer di antara para murid."
Yoichi hanya bisa mengangguk. "Kalian tahu banyak, ya..."
"Itu informasi yang umum, kok. Yocchan saja yang kudet!" Berikutnya terdengar kekehan geli dari kedua temannya itu.
Yoichi hanya melengos pada ejekan bercanda Meguru dan Hyoma. Selepas itu, kepalanya menjadi lebih jernih. Di paruh kedua pertandingan itu, entah mengapa mata biru Yoichi terus terpatri pada surai merah milik Sae Itoshi yang berlarian di tengah lapangan.
Setelah kejadian itu, Yoichi kerap kali merasa kalau ia sering berpapasan dengan sosok pemuda yang lebih tua itu. Entah di kantin, koridor, loker sepatu, serta di beberapa tempat lainnya di sekolah. Dan setiap kali berpapasan, mata pemuda bersurai gelap itu otomatis selalu menjatuhkan pandangannya pada sang senpai. Hal itu terus berlanjut berulang kali, hingga tanpa sadar jantungnya mulai berdetak lebih cepat tiap kali ia memandang Sae Itoshi.
Jangan bilang aku jatuh cinta padanya? Butuh waktu agak lama untuk membuat Yoichi menerima bahwa dirinya menyukai kakak kelasnya itu.
Yoichi merasa sudah memakai seluruh keberuntungan di hidupnya ketika ia naik ke kelas dua dan mengetahui ruang kelasnya sejajar dengan ruang kelas milik Sae Itoshi di gedung sebelah. Lebih-lebih, ketika ia mendapatkan tempat duduk baris kedua dari belakang tepat di samping jendela yang menghadap langsung ke kelas milik Sae. Jantungnya berdegup tak sabar.
Mungkin aku bisa melihat Itoshi-senpai dari sini… begitu pikirnya.
Entah dewa memang baik atau sedang menjahilinya. Ketika ia iseng menengok ke kelas di gedung seberang itu, lalu mendapati senpai pujaannya duduk di dekat jendela yang menghadap kelasnya dan menempati tempat duduk baris paling belakang. Ia hampir saja terlonjak kaget ketika mengetahuinya. Untunglah Yoichi pandai dalam menahan dan menyembunyikan perasaannya. Sehingga hal memalukan, seperti berteriak spontan di tengah kelas yang tenang, tidak terjadi tidak akan menjadi bahan bualan setahun kedepan oleh teman-teman kelasnya. Sudah cukup ia teringat peristiwa memalukan di awal tahun pertamanya. Ketika ia terlambat masuk kelas gara-gara pergi ke toilet dan terpisah dengan rombongan kelasnya sementara ia belum hafal denah sekolah. Tersesat di sekolahnya sendiri dan berujung terlambat masuk kelas. Terima kasih kepada seorang kakak kelas yang telah membantunya menunjukkan jalan untuk ke kelasnya.
Dengan begitu, dimulailah hari-hari seorang Yoichi Isagi mengamati sang pujaan hati, Itoshi Sae.
Berdasarkan pengamatan yang ia lakukan diam-diam (Yoichi tak mau ditegur oleh guru karena ketahuan melirik ke luar kelas), Sae merupakan murid yang tekun dan matanya tak pernah luput dari gurunya. Ketika istirahat tiba, kakak kelasnya itu seringkali meninggalkan kelas. Namun tak jarang juga ia tetap di kelas. Dan ketika itu terjadi, meja tempat duduknya akan penuh dikerubungi oleh teman-teman kelasnya, baik perempuan atau laki-laki.
‘Pengamatan’nya itu berlanjut hingga di tahap ia hafal dengan jadwal kelas milik senpai-nya itu. Yoichi bisa mengetahuinya dari guru yang mengajar, sampul buku cetak yang terkadang terlihat dari kelasnya ketika ada siswa yang mengangkat bukunya, dan detail-detail kecil lainnya.
Tunggu. Jika seperti ini bukankah aku tak ada bedanya dengan penguntit? Yoichi tak ingin berubah menjadi penguntit mesum, maka ia sedikit menurunkan intensitas pengamatannya.
Sejauh ingatan Yoichi, interaksinya yang paling lama hanyalah ketika Sae meminta bantuannya di perpustakaan. Hari itu merupakan gilirannya untuk menjaga perpustakaan. Pustakawan sekolah merupakan perwakilan sukarela siswa dari masing-masing kelas. Dan Yoichi salah satu siswa yang mengajukan dirinya untuk menjadi relawan dari kelasnya. Waktu itu, ia tengah menikmati bekal makan siangnya secara diam-diam selagi perpustakaan sepi pengunjung. Dirinya tak memperhatikan keadaan sekitarnya dan berujung tersedak ketika seseorang memanggilnya.
“Halo, permisi.”
“Uhuk-ya, bisa dibantu?” Yoichi tak percaya melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Sae Itoshi.
“Aku mencari buku-buku ini. Beberapa sudah kutemukan, namun satu buku ini belum. Sudah ku telusuri rak-rak yang sekiranya memuat buku ini, namun tak ada.” Jelas pemuda bersurai merah itu sembari menyodorkan secarik kecil kertas yang berisikan buku-buku yang ia maksud.
“Oh, uh, maksud saya, baiklah. Mohon tunggu sebentar.” Yoichi gelagapan namun tetap berusaha tenang.
Pemuda itu mengemas bekalnya, kemudian berdiri dan pergi menelusuri jajaran rak tinggi satu persatu. Mata birunya mencoba membaca satu persatu judul buku yang ada. Setelah melacak beberapa rak, matanya menangkap judul yang familiar. Ketemu. Buku yang dimaksud berada di rak paling ujung dan di tingkat tertinggi. Yoichi berjinjit berusaha menggapainya, namun tidak bisa. Kurang sedikit saja. Saat dirinya terpikir untuk mencari bangku yang biasanya digunakan untuk menggapai buku di rak tinggi, sebuah tangan terulur dari belakang tubuhnya, mengambil buku yang hendak ia raih.
“Ah, disitu rupanya. Pantas sukar ditemukan.” Sae Itoshi berujar dengan ekspresi datar. Seolah-olah tak mempedulikan bagaimana posisi mereka saat ini. Dadanya bersentuhan dengan punggung Yoichi. Dan karena Yoichi yang terkejut dan spontan menolehkan kepalanya ke belakang, maka kini wajah mereka teramat dekat.
Apa-apaan adegan klise ala manga romansa ini? Pemuda bermata biru itu tak bisa bereaksi selain terdiam. Ia tak bisa berpikir jernih. Tak pernah dirinya bayangkan bahwa dirinya dapat memandang pujaan hatinya sedekat ini. Yoichi yakin wajahnya kini pasti semerah tomat.
“Ah, maaf. Aku pasti mengejutkanmu.”
“Uh, eh, tidak apa-apa senpai. Um, senpai akan meminjamnya, kan? Mari ke meja depan agar dapat saya pindai.”
Yoichi ingat jika ia tak bisa tidur di malam harinya setelah momen tak terlupakan di perpustakaan itu. Selepasnya, tak pernah ada lagi kesempatan untuknya berinteraksi lebih lama dengan Sae Itoshi, meski beberapa kali pemuda yang lebih tua itu pergi ke perpustakaan lagi. Yah, Yoichi sudah puas dengan interaksi minim mereka saat ini.
-
Lamunannya terputus ketika suara tepukan tangan dengan riuh memenuhi ruangan olahraga. Sae yang telah selesai dengan pidatonya turun dari panggung dan kembali ke tempat duduk. Setelah itu rangkaian acara kelulusan kelas tiga terus berlanjut. Dan selama itu, Yoichi mati-matian berusaha untuk tidak melirik kakak kelasnya yang duduk di deretan depan.
-
Sekali lagi, Yoichi memandangi bunga sakura yang berguguran. Sudah sedari tadi ia termenung disini, di bawah pohon Sakura di lapangan utama sekolahnya. Rangkaian acara dalam gedung olahraga telah usai. Menyisakan agenda dan sesi-sesi foto pribadi para siswa. Yoichi tengah menunggu Sae hingga sendirian untuk kemudian ia hampiri dan menyerahkan surat yang masih tersimpan rapi di sakunya. Namun, sepertinya menunggu Sae sendiri akan membutuhkan waktu lama, mengingat betapa populernya pemuda itu. Tiap kali Sae selesai berbicara dengan seorang siswa, maka siswa lain akan langsung menghampirinya dan mengajaknya berbincang. Untunglah ia sendiri kenal beberapa senior yang lulus dan mengajak mereka berbincang untuk mengisi waktu.
Tanpa ia sadari, matahari sudah melewati titik tengahnya dan mulai beralih ke arah barat. Tak ingin menunggu lebih lama lagi dan kehabisan waktu, Yoichi membulatkan tekad untuk menghampiri Sae Itoshi. Senpai-nya itu terlihat masih berbincang dengan seseorang, namun Yoichi berniat untuk menyela mereka dan meminta izin untuk menyita waktunya sejenak. Tetapi, ketika hendak melangkahkan kakinya, terdengar seseorang memanggil namanya.
“Isagi-kun! Syukurlah kau masih disini.” Oh, tidak. Yoichi berfirasat buruk ketika melihat guru yang ia kenali sebagai kepala pustakawan memanggil namanya sambil berjalan mendekat.
“Aku minta maaf, tapi boleh aku meminta bantuanmu sebentar?”
Yoichi dilema. Jika tidak sekarang, mungkin ia akan kehilangan kesempatan ini. Tapi tentu saja ia tidak enak menolak permohonan dari seorang guru. Setelah melakukan pertimbangan kilat, akhirnya dengan berat Yoichi mengiyakan permintaan kepala pengurus perpustakaan tersebut.
“Baik, sensei. Apa yang bisa saya bantu?”
-
Cahaya jingga sang mentari sudah menembus jendela perpustakaan ketika Yoichi menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya. Ternyata terdapat beberapa kesalahan dalam data mengenai peminjaman buku yang tercatat pada komputer perpustakaan. Selain itu, banyak pula buku yang tidak sesuai tata letaknya dengan kategorinya. Sebagai salah satu pengurus perpustakaan, maka dirinya tentu tak bisa menolak permintaan sang kepala pustakawan itu.
Yoichi menghela napas. Sepertinya ia harus membuang jauh-jauh niatnya yang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Sae Itoshi. Yah, mungkin lebih baik seperti ini saja. Mungkin memang begitu takdirnya. Biarkan perasaannya itu terkubur dalam-dalam. Toh seiring waktu ia akan membuatnya lupa akan perasaan cinta monyetnya ini.
“Maaf ya, Isagi-kun. Harus merepotkanmu di hari seperti ini.”
“Tak apa, sensei. Saya juga sedang luang.”
“Kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya, Isagi-kun! Kau boleh pulang sekarang. Juga, ini sedikit imbalan untukmu.” Gurunya itu menyerahkan sebuah tas kertas berisikan kotak kardus dimana tergambar logo dari sebuah toko wagashi yang terkenal di kotanya.
Ugh, ia paling tidak bisa menolak manisan. Maka Yoichi pun menerima bingkisan kecil itu, sebelum akhirnya berpamitan dan pergi keluar dari perpustakaan. YaH, setidaknya bingkisan kecil dari sensei-nya itu berhasil memperbaiki suasana hatinya meski hanya sedikit.
-
Surai kebiruan Yoichi tampak berkilau memantulkan cahaya jingga yang menembus jendela di sepanjang koridor gedung sekolahnya. Ekspresi sendu sudah terpasang di wajahnya sedari tadi, segera setelah ia keluar perpustakaan dan menengok kondisi sekolahnya yang sudah lengang tanpa ada seorangpun yang menampakkan batang hidungnya.
Tentu saja semuanya sudah pulang! Termasuk Itoshi-senpai! Kau ini berharap apa Yoichi…
Yoichi menghela nafas entah kesekian kalinya hari ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kelasnya. Iseng saja. Setidaknya ia ingin mengenang momen indah selama ia menduduki bangku keberuntungannya itu selama setahun belakangan.
Srekk
Suara pintu geser yang terbuka menggema di koridor sepi depan kelasnya itu. Ia segera menghampiri tempat duduknya. Ia memposisikan dirinya seperti ketika di kelas. Duduk tenang menghadap ke papan tulis. Jika ia ingat-ingat lagi, meski diberikan kesempatan besar untuk mengamati paras rupawan senpai-nya itu, Yoichi masih harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Ia pernah ditegur oleh gurunya ketika sedang asyik memandangi si kakak kelas. Padahal selama ini, ia merasa sudah berhati-hati untuk tak banyak melayangkan pandangannya ke luar kelas. Mungkin hari itu sedang hari sialnya saja, gurunya kebetulan menengok padanya ketika ia asyik mengamati senpai-nya. Beruntunglah guru yang mengajar saat itu datang dengan dugaan dirinya hanya sebatas melamun memandangi suasana di luar tanpa mengetahui bahwa sebenarnya ia diam-diam mengamati seseorang di seberang gedung.
Yoichi terkikik geli mengingatnya. Semenjak itu dirinya jadi lebih hati-hati dalam mencuri pandang ke Sae Itoshi. Alasannya yang lain, juga karena ia tak ingin ada seorang pun yang tahu mengenai perasaan sukanya ke senpai-nya itu. Walaupun ia yakin jika teman-temannya akan menganggapnya wajar, karena, hei, siapa yang bisa menolak pesona dari seorang Sae Itoshi? Meskipun begitu, Yoichi tetap merahasiakannya dari siapapun, bahkan Meguru dan Hyoma yang merupakan sahabat terdekatnya.
Kurasa ini terakhir kalinya aku duduk disini. Walaupun kisah cintaku berakhir dengan menyedihkan, tapi tetap saja kenangan-kenangan dimana aku duduk di bangku ini, memperhatikan penjelasan sensei, sambil sesekali mencuri pandang ke kelas seberang, tetap menjadi kenangan yang menyenangkan untukku.
Ia memandangi papan tulis kosong di hadapannya. Biasanya ia akan mulai mengalihkan pandangannya ketika mulai jenuh dengan apa yang dijelaskan di depan. Kini Yoichi membayangkan papan kosong itu dipenuhi oleh untaian rumus dan simbol yang tidak ia pahami. Maka perlahan melipat kedua tangannya di depan dada dan menumpukannya di atas meja. Kepalanya perlahan berputar ke arah samping, menuju dimana sang pujaan hati berada. Biasanya ketika Yoichi mengarahkan matanya ke kelas seberang, maka akan nampak kepala yang dihiasi rambut merah itu anteng menghadap ke depan dimana papan tulis berada, mata hijau lautnya menatap memperhatikan gurunya. Ya, biasanya begitu. Namun, kini Yoichi dengan nafasnya tercekat, tak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Kini, di seberang sana terlihat sosok yang ia pikirkan dengan hati sendu sedari tadi. Sae Itoshi. Tengah berdiri di depan jendela dan memandangi ke arah kelasnya. Mata birunya berseteru dengan sepasang titik kehijauan di kejauhan.
Yoichi spontan meraba surat di saku celananya. Dalam otaknya terbesit, sekarang atau tidak sama sekali…
Ia bangkit dari bangkunya dengan kasar, hingga mengeluarkan suara berderik menggema di ruang kelas kosong itu. Matanya tetap tak lepas dari Sae Itoshi. Ia bergegas membalikkan badannya ketika melihat senpai-nya itu menunjukkan gestur akan berbalik pergi. Yoichi pun berlari meninggalkan kelasnya untuk ke gedung seberang. Ia berlari menelusuri koridor dan menuruni puluhan anak tangga. Nafasnya hampir habis ketika ia akhirnya sampai di lantai dasar setelah berlari kencang dari lantai tiga dimana kelasnya berada. Kini ia berjalan tergesa-gesa menuju lorong yang menghubungkan gedung kelasnya dengan gedung sebelah.
Dewa seakan-akan memberikan kejutan menyenangkan setelah kemalangan beruntun Yoichi sepanjang hari ini. Di ujung lorong yang menempel dengan bangunan yang ia tuju, kini sesosok Sae Itoshi berdiri. Dadanya naik turun tak karuan. Apakah dia juga berlari dari atas ke bawah. Tapi untuk apa? Menemuinya? Menemuiku?
Jantung Yoichi semakin berdetak dengan ritme kacau saat ini. Ia seakan terhipnotis ketika mata biru malamnya bersitatap dengan netra pirus layaknya laut di tepi pantai, milik Sae Itoshi. Yoichi bisa melihat senyum tipis yang terukir di wajah kakak kelasnya itu. Menyiratkan kelegaan akan perjumpaan ini. Pemuda bersurai kebiruan itu bisa merasakan matanya seakan berair. Perasaan aneh membuncah di dalam dadanya. Bahagia? Khawatir? Bersemangat?
Perlahan ia menarik nafas panjang. Kakinya mulai melangkah menghampiri sosok yang berada di seberang. Begitu pula sosok itu, yang ikut berjalan mendekatinya. Yoichi memanjatkan doa dalam hati. Oh Dewa… bolehkah aku berharap jika Itoshi-senpai mencariku…
Kini jarak mereka hanya terpaut satu langkah saja. Dengan perbedaan tinggi yang tak terlampau jauh, Yoichi bisa memandang sejajar ke wajah milik Sae Itoshi. Ah, setelah sekian lama, akhirnya ia bisa kembali memandang wajah senpai-nya itu sedekat ini. Bagaimanapun, selama ini pemuda yang selalu melabeli dirinya sebagai siswa biasa yang tak menonjol itu hanya bisa memperhatikan sosok kakak kelasnya yang berbeda 180 derajat itu layaknya benda pajangan di museum. Ya, hanya dari jauh. Tapi sekarang, aku bisa melihatnya sedekat ini lagi…
Yoichi teringat dengan tujuannya mencari Sae, yaitu untuk menyerahkan surat cintanya. Ia merogoh saku celana seragamnya. Mengambil lembaran kertas itu, lalu menyerahkannya kepada Sae Itoshi.
“Itoshi-senpai.” “Yoichi Isagi.”
Yoichi terkejut kakak kelasnya mengetahui namanya. Seorang Sae Itoshi mengetahui nama dari seorang siswa biasa-biasa saja sepertinya. Lebih-lebih lagi ketika ia mendongak dan mendapati bahwa tak hanya tangannya yang terjulur untuk menyerahkan sesuatu, namun juga senpai dihadapannya. Tangan kanan Sae menggenggam sesuatu di dalamnya, yang sepertinya berniat untuk diserahkan pada Yoichi. Ketika Sae Itoshi membuka genggaman tangannya, bisa terlihat perubahan ekspresi yang kentara di raut wajah pemuda bersurai kebiruan itu. Matanya kini beralih memandang sosok di hadapannya. Mulut kakak kelasnya itu hendak mengatakan sesuatu.
Suara desiran angin sore yang bergesekan dengan dahan dan ranting seolah-olah berusaha menjadi musik pengiring bagi keduanya. Bunga sakura yang berguguran akibat tertiup angin, menandakan bahwa musim semi sudah berlangsung. Namun bagi Yoichi, sepertinya musim semi baru akan dimulai.
